You are on page 1of 4

Sejarah nusantara adalah sejarah Bahari dan nenek moyang kita adalah pelaut.

Bincangkan
Konsep Nusantara.
PENGERTIAN NUSANTARA
o Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan
wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua.
o Orang yang pertama sekali menggunakan perkataan Nusantara ini
ialah Ki Hadjar Dewantara (1889-1959).
o Kata Nusantara itu sendiri merujuk kepada jangka masa tertentuketika
Indonesia dikuasai oleh Majapahit iaitu semasa kerajaan ini berada
dibawah kendalian patih besarnya, Gajah Mada.
1

o mencakup Filipina. Dalam pengertian terakhir ini, Nusantara
merupakan padanan bagi Kepulauan Melayu (Malay Archipelago),
suatu istilah yang populer pada akhir abad ke-19 sampai awal abad
ke-20, terutama dalam literatur berbahasa Inggris.
Nusantara dalam konsep kenegaraan Jawa Majapahit
Wilayah Majapahit
Dalam konsep kenegaraan Jawa di abad ke-13 hingga ke-15, raja adalah
"Raja-Dewa": raja yang memerintah adalah juga penjelmaan dewa. Kerana
itu, daerah kekuasaannya memancarkan konsep kekuasaan seorang dewa.
Kerajaan Majapahit dapat digunakan sebagai contoh teladan. Negara di
bawah naungan mahapahit ini dibagi menjadi tiga bahagian wilayah:
1. Negara Agung, merupakan daerah yang berada di sekeliling ibu kota
kerajaan tempat raja memerintah.
2. Mancanegara, adalah daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitar yang

1
Bernard H.M. Vlekke, Nusantara, Sejarah Indonesia, East India: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008,
hlm. 5
dimana budayanya seakan-akan sama dengan Negara Agung, tetapi sudah
berada di "daerah perbatasan". Dilihat dari sudut pandang ini, Madura dan
Bali adalah daerah "mancanegara". Lampung dan juga Palembang juga
dianggap daerah "mancanegara".
3. Nusantara, adalah daerah di luar pengaruh budaya Jawa tetapi masih
dianggap sebagai daerah taklukan: para penguasanya harus membayar
upeti.
Gajah Mada menyatakan dalam Sumpah Palapa:
Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada :
Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring
Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, samana ingsun amukti palapa.
Terjemahannya adalah: "Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin
melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara,
saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram,
Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik,
demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Kitab Negara kertagama mencantumkan wilayah-wilayah "Nusantara", yang
pada masa sekarang dapat dikatakan mencakup sebagian besar wilayah
modern Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian
Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya, sebagian Kepulauan Maluku, dan
Papua Barat) ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan sebagian
kecil Filipina bagian selatan. Dwipantara
Kini kebanyakan sejarawan Indonesia percaya bahwa konsep kesatuan
Nusantara bukanlah pertama kali dicetuskan oleh Gajah Mada dalam
Sumpah Palapa pada tahun 1336, melainkan dicetuskan lebih dari setengah
abad lebih awal oleh Kertanegara pada tahun 1275. Sebelumnya dikenal
konsep Cakrawala Mandala Dwipantara yang dicetuskan oleh Kertanegara,
raja Singhasari.[ Dwipantara adalah kata dalam bahasa Sanskerta untuk
"kepulauan antara", yang maknanya sama persis dengan Nusantara, karena
"dwipa" adalah sinonim "nusa" yang bermakna "pulau". Kertanegara memiliki
wawasan suatu persatuan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara di bawah
kewibawaan Singhasari dalam menghadapi kemungkinan ancaman
serangan Mongol yang membangun Dinasti Yuan di Tiongkok. Karena
alasan itulah Kertanegara meluncurkan Ekspedisi Pamalayu untuk menjalin
persatuan dan persekutuan politik dengan kerajaan Malayu Dharmasraya di
Jambi. Pada awalnya ekspedisi ini dianggap penaklukan militer, akan tetapi
belakangan ini diduga ekspedisi ini lebih bersifat upaya diplomatik berupa
unjuk kekuatan dan kewibawaan untuk menjalin persahabatan dan
persekutuan dengan kerajaan Malayu Dharmasraya. Buktinya adalah
Kertanegara justru mempersembahkan Arca Amoghapasa sebagai hadiah
untuk menyenangkan hati penguasa dan rakyat Malayu. Sebagai balasannya
raja Melayu mengirimkan putrinya; Dara Jingga dan Dara Petak ke Jawa
untuk dinikahkan dengan penguasa Jawa.
Pada tahun 1920-an, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan nama
"Nusantara" untuk menyebut wilayah Hindia Belanda. Nama ini dipakai
sebagai salah satu alternatif karena tidak memiliki unsur bahasa asing
("India"). Alasan ini dikemukakan karena Belanda, sebagai penjajah, lebih
suka menggunakan istilah Indie ("Hindia"), yang menimbulkan banyak
kerancuan dengan literatur berbahasa lain. Definisi ini jelas berbeda dari
definisi pada abad ke-14. Pada tahap pengusulan ini, istilah itu "bersaing"
dengan alternatif lainnya, seperti "Indonesië" (Indonesia) dan "Insulinde"
(berarti "Hindia Kepulauan"). Istilah yang terakhir ini diperkenalkan oleh

Eduard Douwes Dekker.
Ketika akhirnya "Indonesia" ditetapkan sebagai nama kebangsaan bagi
negara independen pelanjut Hindia-Belanda pada Kongres Pemuda II
(1928), istilah Nusantara tidak serta-merta surut penggunaannya. Di
Indonesia, ia dipakai sebagai sinonim bagi "Indonesia", baik dalam
pengertian antropo-geografik (beberapa iklan menggunakan makna ini)
maupun politik (misalnya dalam konsep Wawasan Nusantara).

Bukti Nusantara adalah Bahari.
Kerajaan Awal
o pemerintahan Republik Indonesia telah memperkenalkan bidang Hukum Laut
(maritime Law).
o Dalam keadaan ekonomi nusantara yang masih lagi bergantung kepada Belanda dan
Amerika, Pihak Indonesia sangat berani melakukan dekolonisasi hokum laut walaupun
mereka mendapat pelbagai tentangan daripada pihak Belanda dan Amerika.
o Indonesia telah mengeluarkan Deklarasi Djuanda pada 13 disember 1957.
o Dalam Deklerasi Laut ini bukan sahaja