You are on page 1of 11

NAMA : TRY FEBRIANI SIREGAR

NIM : 04111001086
KELAS : PDU REG 2011
MATA KULIAH : MKDU- ISBD


1. Berdasarkan data nasional bahwa Sumatera Selatan termasuk urutan ke-5 terkaya di
Indonesia. Akan tetapi berdasarkan data sensus 2013, rakyat Sumsel menempati urutan
ke-10 termiskin di Indonesia. Buat analisis mengapa hal tersebut terjadi.

Jawab:
Saat ini, Sumatera Selatan merupakan provinsi terkaya ke 5 di Indonesia. Sebagai
provinsi terkaya ke-5 di Indonesia, kekayaan potensi alam Sumatera Selatan sangat besar
mulai dari minyak bumi, gas alam (metan), batubara hingga panas bumi. Sumber
batubara di Sumsel tersebar di delapan kabupaten yaitu Kabupaten Musi Banyuasin,
Lahat, Musi Rawas, OKU, OKU Timur, OKI, Muara Enim dan Kota Prabumulih. Potensi
sumber daya alam yang melimpah ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi masuknya
investor ke Sumatera Selatan.
Saat ini pemerintah Sumatera Selatan telah membangun Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang.
Sumsel pun menjadi pemasok listrik dan gas terbesar bagi kawasan Jawa maupun
Singapura. Karena hal tersebut Sumsel pun dinobatkan sebagai Lumbung Energi.
Lumbung energi yang dimiliki Sumatera Selatan dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah
daerah dan diolah untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional dan internasional terhadap
konsumsi batubara. Selama ini pemerintah melalui kebijakannya memperbolehkan suatu
perusahaan untuk melakukan konsesi terhadap batubara di Sumatera Selatan dengan
tujuan menambah pendapatan daerah dan perusahaan dapat memanfaatkan lumbung
energi yang ada dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan sosial.
Di bidang perekonomian Sumatera Selatan mengalami kemajuan yang pesat.
Sejak tahun 2008 hingga sekarang, pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan makin
meningkat. dengan rata-rata tertua 5,5% pertahun. Akses pembangunan terus di perluas
demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, pemerintah membuat Program
Berobat Gratis dan Sekolah Gratis untuk meningkatkan mutu di bidang pendidikan dan
pelayanan kesehatan
Akan tetapi pada kenyataanya, masih banyak rakyat Sumatera Selatan yang
miskin. Hal ini terbukti dengan hasil data sensus 2013 yang menempatkan rakyat
Sumatera Selatan berada di urutan ke-10 provinsi termiskin di Indonesia. Adapun yang
menjadi dasar penentuan kategori miskin di sini adalah pendapatan per penduduk, akses
kesehatan, akses pendidikan, sarana prasarana dan infrastruktur.
Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), menurut evaluasi Departemen Dalam Negeri
(Depdagri), masih memiliki sejumlah daerah yang tergolong tertinggal dengan sejumlah
warga yang juga masih berkategori miskin. Dari hasil evaluasi Depdagri masih ada enam
dari 15 kabupaten/kota di daerah ini masuk kategori tertinggal, dan masyarakatnya yang
tergolong miskin masih cukup banyak. Padahal, daerah tersebut kaya akan minyak dan
bahan tambang.
Menurut Dirjen Pembangunan Daerah (Dirjen Bangda) Depdagri Syamsul Rivai
Arief di Sumsel masih terdapat 1,3 juta jiwa (19,5 persen) masyarakat miskin dari total
penduduk Sumsel yang mencapai tujuh juta jiwa. Selain itu pendapatan per kapita
masyarakat Sumsel masih tergolong rendah, hanya Rp 617.000 per bulan atau masih di
bawah rata-rata nasional Rp 624.000/bulan. Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Sumsel berada pada peringkat 13 secara nasional. Di Sumsel, angka pengangguran
terbuka mencapai 9,34 persen, dan masih tergolong di atas rata-rata angka pengangguran
nasional.
Ironisnya, Sumatera Selatan disebut sebagai Lumbung Energi Nasional, namun
berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) di Sumsel masih
banyak terdapat desa yang belum dialiri listrik.
Jika kita tinjau atau analisis lebih dalam ketimpangan ini dapat diakibatkan oleh
beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
 Pemerataan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana yang belum merata
dan optimal.
 Kegiatan ekonomi yang cenderung berkutat di wilayah perkotaan atau ibukota,
sehingga yang mengalami kemajuan yang pesat adalah wilayah-wilayah
perkotaan sementara wilayah lain jauh tertinggal, terutama wilayah pedesaan.
 Pengolahan sumber daya alam yang belum optimal terutama hasil tambang yang
merupakan sumber daya alam terbesar di Sumatera Selatan.
Selama ini hasil tambang batubara yang dijual bernilai sangat murah di
pasaran karena diekspor dalam bentuk mentah sehingga tidak ada nilai tambah
terhadap batubara itu sendiri. Akibatnya pemerintah tidak mencapai tujuannya
untuk pembangunan berkelanjutan melalui pengelolaan lumbung energi yang
dilakukan perusahaan setempat.
Selain itu kegiatan konsesi batubara yang selama ini dilakukan tidak
memberikan kontribusi lebih terhadap keadaan lingkungan dan sosial, baik dalam
bentuk pendapatan daerah, perbaikan infrastruktur, dan kesejahteraan masyarakat.
Yang terjadi adalah perusahaan konsesi batubara di Sumsel cenderung ingin
menguasai lumbung energi yang ada dan meraup keuntungan sebesar-besarnya
tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang akan terjadi.
Dapat kita bayangkan, batubara yang selama ini diekspor ke pulau Jawa
dan Bali mampu menerangi dan mencukupi kebutuhan listrik di daerah tersebut.
Negara sekecil Singapura pun dapat mencukupi kebutuhan listrik di negaranya
dengan memanfaatkan ekspor batubara Sumsel. Kebutuhan listrik negara lain
dapat terpenuhi sedangkan kebutuhan listrik daerah sendiri tidak dapat terpenuhi,
bahkan masih banyak masyarakat miskin yang belum merasakan listrik sekalipun
 Program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah belum optimal
 Adanya kesenjangan pendapatan antara penduduk golongan bawah dan penduduk
golongan menengah ke atas, terutama pada penduduk yang tinggal di daerah
dengan sumber daya alam yang potensial dan infrastruktur yang memadai
dibanding dengan penduduk yang tinggal di wilayah daerah tertinggal.
Hal ini tentunya menjadi perhatian serius bagi pemerintah Sumsel. Dibutuhkan solusi dan
langkah konkrit untuk memecahkan permasalahan di atas. Pemerintah harus terus
berupaya dalam meningkatkan pemerataan pembangunan baik sarana infrastruktur,
pelayanan kesehatan, pendidikan serta penurunan jumlah pengangguran dan angka
kemiskinan. Terkait pengolahan sumber daya alam yang selama ini masih belum optimal,
pemerintah perlu menggabungkan potensi SDA dan SDM. Banyak anak daerah yang
mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional, hal ini membuktikan sumber
daya manusia yang ada di Sumsel sudah mampu bersaing dan lebih maju. Pemerintah
harus dapat memberikan ruang khusus terhadap kaum intelektual di Sumsel untuk
mengembangkan inovasi teknologi dalam upaya optimalisasi lumbung energi yang ada di
Sumsel. Dengan memanfaatkan SDM yang ada, diharapkan sumber daya alam terutama
hasil tambang dapat dikelola sendiri dengan sedemikian rupa sehingga yang dijual bukan
lagi barang mentah tapi sudah menjadi barang jadi sehingga nilai jualnya lebih tinggi.
Maka, dengan pembangunan yang merata, pelaksaan program pemberantasan kemiskinan
yang tepat, dan optimalisasi pengelolaan sumber daya yang ada, baik SDA dan SDM,
diharapkan tercipta masyarakat sejahtera, kemajuan daerah dan tercapainya konvergensi
energi yang selama ini dicita-citakan Sumsel.





















2. Buatlah kamus kecil bahasa daerah masing-masing (minimal 10 kata perabjad).

Kamus Batak - Indonesia
Bahasa Batak Angkola (Padangsidimpuan)

A
Abang: panggilan untuk kakak laki-laki
Adong: ada
Aek: air, sungai
Aha: apa
Amang: ayah, bapak
Amangboru: panggilan untuk suami
dari saudari ayah; panggilan untuk ayah
mertua
Andigan: kapan. Andigan do ho ro?
Kapan kamu datang?
Anggi: adik
Anggo: kalau, tentang; manganggo:
mencium (berhubungan dengan indra
penciuman)
Ari: hari, keadaan cuaca; arian: pada
siang hari; sadarion: hari ini.
Au : (Ahu) aku

B
Baba: mulut, lubang, moncong (sering
dalam kata cacian)
Babiat: harimau, macan
Bada: berkelahi; marbada: berkelahi

Bagas: 1. rumah., marbagas
mempunyai rumah, menikah / berumah
tangga 2. dalam. di bagasan di dalam.
Bahat : banyak. Na bahat ma
hepengmu Banyak sekali uangmu.
Basu: cuci; mamasu: mencuci
Begu: roh yang mati; jin
Belek : kaleng
Bodat: monyet
Bondar: selokan, parit
Borngin: malam hari
Boru: anak perempuan, wanita; anak
boru: gadis; namboru saudari ayah;
amangboru suami dari namboru
Bou: (namboru) panggilan untuk
saudari ayah
Bujing: berpenampilan cantik (rajin
bersolek). Na bujingan anak boru i
Gadis itu berpenampilan cantik.
sibujing/ bujing-bujing: gadis
perawan
Bulung: daun
Burangir : daun sirih
Burju : baik hati, jujur, rajin
Butet : panggilan untuk anak
perempuan kecil
Butua: perut
C
Camin-camin: buah atau pohon
ceremai
Colak: celak. marcolak memakai celak
Congok: rakus, tamak
Copat: cepat
Cormin : cermin
Cungkil: (alat) yg dipakai untuk
mengorek; mengeluarkan sesuatu dari
lubang; melepaskan sesuatu yg melekat

D
Daganak : kanak-kanak, anak-anak
Dais: kena, tersentuh, terjamah,
Dalan: jalan
Damos: rapat (terkatup rapat), dekat
Danak: muda, belia, kekanak-kanakan
(sifat)
Dangdang: 1. denda, ganti rugi;
mandangdangi membayar ganti rugi 2.
Panci besar.
Dao: jauh
Datu: dukun, orang pintar
Denggan: baik
Dohot: dan, ikut, serta
Dolok: pegunungan, bukit
Dongan: teman, sahabat
Donok: dekat
Doras: deras
Durus: siram, tumpah, tercurah, tuang

E
Ebat: (mebat) berkunjung, mendatangi
Eda: panggilan seorang perempuan
terhadap istri saudara laki-lakinya
demikian sebaliknya panggilan seorang
istri untuk saudari suaminya; panggilan
kekerabatan antara sesama perempuan
beripar
Elek: bujuk. mangelek-elek
membujuk-bujuk
Eleng: (teleng) miring, menundukkan
miring, mendekatkan telinga untuk
mendengar
Eme: padi
Ende: lagu
Engge: (mangengge) merendam dalam
air; mengge: terendam
Ente: unggul. mangentei: mengungguli,
melebihi, melampaui
Enteng: ringan
Eser: (manggeser) menggeser
Etong: hitung; maretong: berhitung

G
Gabus: bohong; margabus berbohong;
pargabus orang yang suka berbohong
Gadung: ubi
Galas: gelas
Gaor : berisik, bising
Ginjang: tinggi
Giot: mau, ingin
Goar: nama. Ise do goarmu? Siapa
namamu
Godang: besar. bagas godang rumah
besar, rumah adat
Golap: gelap
Gorsing: kuning (warna)
Gulo: gula
Gule: gulai, lauk

H
Hais: kais. mangkais mengais
Halai: mereka
Hambeng: kambing
Hami: kami
Hamu: kalian
Hata: kata
Hepeng: uang
Ho: kamu (untuk sebaya/sesama teman
atau dari yang lebih tua ke yang lebih
muda)
Horbo: kerbau
Horja: pesta
Huting: kucing

I
Ias: bersih
Iboto: saudara laki-laki seorang
perempuan, saudara perempuan seorang
laki-laki
Ida: lihat. marnida melihat
Idi: maridi: mandi
Igung : hidung
Ihan : ikan
Ihur : (ikur) ekor
Indahan : nasi
Ingot : ingat; mangingot: mengingat
Ipon: gigi
Ise : siapa

J
Jae : hilir, arah atau daerah hilir
Jatjat: jelas
Jaung : jagung
Jeges : cantik, manis, rupawan
Jogal : keras kepala, susah di atur
Jolo : lebih dulu ; depan ; na jolo ;
dahulu
Jomur : jemur. manjomur menjemur
Jonjong:berdiri
Jotjot : sering
Julu : sebelah hulu, arah gunung

K
Kameja : baju kemeja
Kamis : hari Kamis
Kampak: kampak (alat untuk
memotong atau membelah kayu)
Kantang : kentang
Karosi: kursi
Karupuk: kerupuk
Kerek: kera
Kobun: kebun
Kudo: kuda
Kulambu: (hulambu) kelambu

L
Lading: parang
Lage: tikar
Lalo: gempa, bergetar
Landit: licin
Lanok: lalat
Lapan: delapan
Lasiak: cabai
Leleng: lama
Loja: capek
Lojong: lari. marlojong berlari
Lomang: lemang (makanan dari nasi
ketan yang dimasak dalam bambu)
Lumpat: (luppat) lompat

M
Male: lapar
Mangan : makan
Manuk: ayam
Marun: (arun) sakit
Menek: kecil
Mikim: senyum
Milas: panas
Modom: tidur
Mokmok: gemuk
Muko: muka, wajah

N
Naek: naik, panjat. manaek memanjat,
naik
Nakkin: (nangkin) tadi
Namboru: panggilan untuk saudari
ayah
Nantulang: panggilan untuk istri
tulang/paman
Ngali: dingin
Ngolu: hidup, kehidupan. mangolu
hidup
Ngot: 1. bangun (bangun tidur). Na
cepat ma ia ngot. Cepat sekali ia
bangun. 2. mau. Ngot sumbayang au
Aku mau sembahyang/sholat
Niang : kurus
Nipi: mimpi
Nipis: tipis
Nono: kantuk, mengantuk
O
Oban: bawa. maroban membawa.
Maroban aek sagayung Membawa air
segayung
Obuk: rambut
Olo: iya, ya
Ombun: embun
Omo: kerja, gaji, untung, laba
mangomo bekerja, mencari nafkah
Ompung: (oppung) panggilan untuk
nenek atau kakek
On: ini, yang ini. On mada na u
maksud: Inilah yang aku maksud
Onjap: sembunyi mangonjapkon
menyembunyikan
Onom: enam
Opat: empat
Otik: sedikit. Na otik mai Sedikit sekali

P
Paet: pahit. Na paet ma dongan kopi
na dibaen nia I Pahit sekali kopi yang
dibuatnya.
Pahompu: (pahoppu) cucu
Pasuo: berjumpa Dohot ise ho pasuo?
Dengan siapa kamu berjumpa
Pat: kaki
Pelor: peluru
Pinggan: piring
Pitu: tujuh
Podati: pedati
Podoman: tempat tidur
Poken: pasar pekan
Poso: muda; poso-poso: pemuda, anak
remaja laki-laki
Potang: petang
Pusot: pusar

R
Ra: mau. Ra do ho kehe? Maukah
kamu pergi?
Rabu: hari Rabu
Ramban : lempar. maramban
melempar
Raso : rasa
Rerak: (marerak) berserakan
Rittik: gila, tidak waras
Ro: datang. Andigan ho ro ? Kapan
kamu datang?
Roha: hati, perasaan
Rondam: rendam Marondam abit
Merendam kain
Rondang: makanan rendang
Rongit: nyamuk

S
Sada: satu
Sambilan: sembilan
Sarop: sampah
Sianggian: anak bungsu
Siangkaan: anak sulung
Siapor: belalang
Sikola: sekolah
Silalat: daun ubi/singkong. Silalat na
diduda Sayur ubi tumbuk (makanan
khas yang biasa disajikan sehari-hari)
Silua: oleh-oleh, buah tangan
Songon: seperti, bagai, begitu Songon
on? Seperti ini?
Soban : kayu bakar
Suo: sua, jumpa. marsuo berjumpa,
bersua, bertemu
Suping: telinga
Suri: sisir

T
Tabo: enak, nikmat, lezat
Tarutung: buah atau pohon durian
Tiop: pegang. maniop memegang.
Maniop payung Memegang payung
Tobang: tua. tobang-tobang lansia
Tobat: kolam, tambak. Tobat ihan
Kolam ikan
Tohuk: katak
Tolor: telur
Tolu: tiga
Torang: terang
Torung: terong
Tulang: 1. Panggilan untuk saudara
laki-laki ibu, paman 2. Tulang

U
Uas : haus. manguas haus, merasa haus
Uban : uban, rambut putih
Ubat : obat
Udan: hujan
Uji: uji. manguji menguji
Ulok: ular
Ulos: kain, kain hasil tenunan
tradisional
Ulu: kepala
Unto: unta
Utang: hutang marutang berhutang

W
Wakil: wakil. Parwakilan ngaen
adaboru Perwakilan dari pihak
perempuan
Wali : wali
Waringin : (baringin) pohon baringin
Warno: warna