You are on page 1of 8

1.

Aktiva tetap adalah aktiva (kekayaan) yang dimiliki perusahaan yang


diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih dahulu, sifatnya
permanen dan digunakan dalam kegiatan normal perusahaan untuk jangka
panjang serta mempunyai nilai cukup material.

5. Metode dalam menghitung penyusutan aktiva tetap yang dapat digunakan
adalah :
Metode garis lurus
Metode Jumlah Unit Perodoksi
Metode Jam Penggunaan
Metode Saldo Menurun
Metode Jumlah Angkah Tahun
3.
1. Pembelian tunai.
Penentuan cost tetap adalah harga faktur dikurangi potongan tunai ditambah
beban-beban yang dibayar sampai dengan aktiva tersebut siap dipakai.
Contoh :
PT. Maju jaya membeli aktiva tetap seharga Rp. 20.000.000,- dengan beban
angkut Rp.5.000.000,- maka jurnal nya adalah sebagai berikut:
Aktiva tetap Rp. 25.000.000,-
Kas Rp. 25.000.000,-

2. Pembelian secara kredit atau angsuran
Penentuan harga perolehan aktiva tetap adalah harga tunai ditambah dengan
beban-beban yang dikeluarkan sampai aktiva tetap tersebut siap pakai. Untuk
bunga tidak dimasukan kedalam unsur harga perolehan melainkan dimasukan
kedalam beban bunga.
Contoh :
PT Kawan membeli mesin untuk produksi pakan ternak dengan kredit
seharga Rp 20.000.000,-
Sedangkan harga tunai mesin tersebut Rp 18.500.000,- Dibayar beban angkut
Rp 40.000,-
beban pasang Rp300.000,- beban percoban Rp 75.000,
Jurnal yang dibuat oleh PT Kawan adalah :
Mesin pakan ternak Rp 18.915.000,-
Beban bunga Rp 1.500.000,-
Hutang Rp 20.000.000,-
Kas Rp 415.000,-
( mencatat pembelian kredit mesin pekan ternak )

3. Pembuatan sendiri
Biaya perolehan aktiva biasanya sama dengan biaya memproduksi aktiva
untuk dijual. Jadi perolehan aktiva tetap yang dibuat sendiri adalah seluruh
beban yang dikeluarkan untuk membuat aktiva tetap sampai siap untuk
dioperasi.
Contoh:
PT Cemara hotel membuat kolam renang untuk melengkapi prasarana yang
telah ada dengan beban-beban yang dikeluarkan sebagai berikut.
Matrial Rp 19.000.000,-
Beban TKL Rp 7.600.000,-
Beban TL (overhead) Rp 1.800.000,-
Jumlah seluruh beban Rp 28.400.000,-
Jurnal yang dibuat oleh PT Cemara hotel adalah
Matrial Rp 19.000.000,-
Beban TKL Rp 7.600.000,-
Beban TL (overhead) Rp 1.800.000,-
Kas Rp 28.400.000,-
(mencatat pembelian matrial dan pembayaran upah dan beban overhead).

4. Pertukaran
Jika aktiva tetap diperoleh dari pertukarkan, maka penentuan harga
perolehan adalah berdasarkan harga pasar aktiva tetap tersebut .
Contoh :
PT Permata untuk memiliki tanah seluas 1.000 m2 terletak di Jl. Kosmea 15
Malang dengan menukarkan 100 lembar saham nilai nominal saham @ Rp
500.000,- sedang harga pasar Rp 540.000,-
Jurnal :
Tanah Rp 54.000.000,-
Modal saham biasa Rp 50.000.000,-
Agio saham biasa Rp 4.000.000,-
(mencatat pertukaran 100 lembar saham dengan tanah )

5. Pemberian
Aktiva tetap diperoleh dari pemberian dari pihak lain , harga perolehan
berdasarkan harga pasar atau nilai taksir yang wajar.
Contoh :
Perusahan menerima hadiah dari pemerintah berupah tanah untuk alokasi
usaha yang ditaksir seharga Rp 15.000.000,- Beban balik nama dan
pematangan tanah Rp 2.000.0000,- dibayar tunai.
Jurnal :
Tanah Rp 17.000.000,-
Modal pemberian Rp 15.000.000,-
Kas Rp 2.000.000,-
(mencatat peneriman hadiah tanah dengan membayar beban baliknama dan
pematangan tanah Rp 2.000.000,-)




4.
a. Aktiva Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)

Sangat mungkin salah satu atau lebih dari aktiva tetap yang telah dibukukan
hilang (tercuri). Dalam hal ini aktiva yang hilang tentunya harus dihapus dari
buku (catatan) perusahaan. Pengahapusan buku dilakukan atas dasar bukti
Surat Lapor Kehilangan kepada pihak kepolisian.

Kasus:
Pada tanggal 19 April 2008, PT. XYZ kehilangan Handycam merk SONY yang
dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2008 dengan harga perolehan Rp
16,000,000. atas kehilangan tersebut pihak PT. XYZ telah melaporkannya
kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 120/IV/SLK/POLRI/2008
tertanggal 19 April 2008.
Catatan: Dalam menghitung penyusutannya, PT. XYZ menggunakan metode
garis lurus. Umur ekonomis handycam diperkirakan 4 Tahun, PT. XYZ tidak
memperhitungkan salvage value (nilai residu).

Prosedur penghapusannya sederhana saja:

Step-1: Update Buku Aktiva Tetap (Handycam)

Upadate buku dengan menghitung penyusutan handycam dari tanggal
perolehan hingga tanggal hilangnya handycam.

Penyusutan 01 Maret 19 April 2008:
Penyusutan = 2/12 x (16,000,000/4) = Rp 666,667
(catatan: handycam telah dipergunakan 2 bulan)

Akui penyusutan tersebut dengan jurnal:

[Debit]. Depreciation = Rp 666,667
[Credit]. Accum Deprec = Rp 666,667

Jurnal diatas untuk:
- Mengakui Biaya Penyusutan sebesar Rp 666,667
- Mengakui Accum Deprec dengan nilai yang sama.

Dengan demikian, maka Nilai Buku Handycam per 19 April 2008:

Perolehan Handycam = Rp 16,000,000
Accum Deprec = (Rp 666,667)
------------------------------------------------
* Nilai Buku = Rp 15,333,333
Step-2: Hapus Aktiva Tetap (Handycam) yang hilang

Aktiva tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal:

[Debit]. Accum Deprec = Rp 666,667
[Debit]. Rugi Kehilangan Aktiva = Rp 15,333,333
[Credit]. Aktiva Tetap (Handycam) = Rp 16,000,000

Kesimpulan : Kerugian diakui sebesar Nilai Buku Aktiva Tetap yang hilang.




b. Aktiva Tetap Rusak (Fatal Damaged) & Terbakar (Fire Loss)

Kerusakan aktiva tetap bisa disebabkan oleh:

[a]. Kelalaian pihak perusahaan sendiri (oleh pemilik, atau pegawainya)

Kelalaian itu ada berbagai macam kemungkinanya, yang paling sering terjadi
adalah:

[-]. Salah mengoperasikan, jika ini yang terjadi biasanya yang bertanggung
jawab adalah operator (yang menggunakan mesin/peralatan) dan
supervisornya, tentunya juga tergantung policy perusahaan. Tanggung jawab
diwujudkan dalam bentuk penggantian kerugian.

[-]. Salah instalasi, jika ini yang terjadi maka yang bertanggung jawab adalah
technician atau electrician, jika menggunakan jasa tehnisi dari luar
perusahaan (out-sourcing) tentu yang bertanggung jawab (ganti rugi) adalah
pihak yang menyediakan jasa.


[b]. Force Majeur (kerusakan akibat bencana alam)

Bentuknya bisa bermacam-macam: Kebakaran (Fire), Banjir (Flood), Gempa
Bumi (Earthquake), bahkan badai, atau yang paling popular belakangan ini
adalah Tsunami. Untuk melindungi asset dari kemungkinan kerugian atas
force majeur biasanya perusahaan menggunakan asuransi (insurance) untuk
loss coverage.
Kasus:

Pada tanggal 18 April 2008 Gedung PT. DEF yang diperoleh tanggal 15
Oktober 2004 senilai Rp 500,000,000 mengalami kebakaran, beruntung
gedung telah dilindungi oleh asuransi dan memperoleh uang pertanggungan
pada tanggal 19 April 2008 sebesar Rp 400,000,000

Catatan:
- PT. DEF menggunakan metode garis lurus dalam menghitung penyustan
gedungnya.
- Gedung diperkirakan memiliki umur ekonomis 30 tahun.
- Posisi Aktiva Tetap Gedung per tanggal 31 December 2007 adalah sebagai
berikut: Perolehan Gedung = Rp 500,000,000 dan Accum Deprec Rp
52,777,778.

Step-1: Up-date Buku Aktiva Tetap Bangunan

Penyusutan 01 Jan 18 April 2008:

Penyusutan = 4/12 x (Rp 500,000,000/30) = Rp 5,555,556

Akui penyusutan dengan jurnal:

[Debit]. Depreciation = Rp 5,555,556
[Credit]. Accum. Deprec = Rp 5,555,556

Dengan jurnal diatas, maka Accum. Deprec per 18 April 2008 menjadi:

Accum Deprec per 31 Dec 2007 = Rp 52,777,778
Accum Deprec 01 Jan- 18 Apr 2008 = Rp 5,555,556
-------------------------------------------------------------- (+)
* Accum Deprec 18 April 2008 = Rp 58,333,333

Sehingga Nilai buku gedung per 18 April 2008 menjadi:

Perolehan = Rp 500,000,000
Accum Deprec = (Rp 58,333,333)
-----------------------------------------
* Nilai Buku = Rp 441,666,667


Step-2: Hapus Aktiva Tetap Gedung

Pada tanggal 18 April 2008, Aktiva Tetap Gedung yang terbakar dihapus
dengan jurnal:

[Debit]. Accum. Deprec = Rp 58,333,333
[Debit]. Fire Lost = Rp 441,666,667
[Credit]. Aktiva Tetap Gedung = Rp 500,000,000

Step-3: Pengakuan Claim Asuransi

Pada tanggal 19 April 2008, penerimaan pembayaran atas claim asuransi
sebesar Rp 400,000,000 dicatat dengan jurnal:

[Debit]. Cash = Rp 400,000,000
[Credit]. Fire Lost = Rp 400,000,000

Dengan jurnal diatas, maka Saldo Fire Lost per tanggal 19 April 2008 tinggal
Rp 41,667,000 saja.