You are on page 1of 21

GOLONGAN PUTIH DALAM PEMILIHAN UMUM

LEGISLATIF TAHUN 2014


Randy Kurniawan :
21030113130185
Xena Callista :
21030113140187
Yudy Wiraatmadja :
21030113120025
Reza Nur Rhamadhan :
21030113120032
Alin Elita Esther Sarajar :
21030113120036
A. Shani Maulana Tanjung :
21030113130128
Alien Abi Bianasari :
21030113130129

Pemilihan umum menjadi tolak ukur kadar demokratisasi suatu
negara.Golongan putih atau yang disingkat golput adalah istilah politik di
Indonesia yang berawal dari gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda
untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971 yang merupakan Pemilu pertama
di era Orde Baru.Golongan putih telah menjadi masalah yang sulit untuk
diselesaikan. Hal ini terbukti dengan masih adanya masyarakat yang tidak
menggunakan hak pilihnya dalam setiap pemilihan umum.Menurut CSIS dan
lembaga survei Cyrus Network, jumlah warga negara yang tidak menggunakan
hak pilihnya dalam pemilu legislatif tahun 2014 sebesar 24,8 % ; sedangkan
menurut Lembaga Survey Indonesia, jumlah golput pada pemilu legislatif
tahun 2014 sebesar 34,02 % dan diduga lebih tinggi dibandingkan pemilu-
pemilu sebelumnya, serta jauh mengungguli suara PDI Perjuangan (19,67
persen), Golkar (14,54 persen), Gerindra (11,86 persen), atau Demokrat (9,75
persen). Masyarakat Indonesia harus memiliki sifat peduli terhadap politik di
Indonesia.Masyarakat Indonesia juga harus memegang teguh prinsip
demokrasi, yaitu pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk
rakyat.Pemerintah harus bisa memfasilitasi warga negaranya yang tinggal di
pedalaman Indonesia dalam menggunakan hak pilihnya, karena bagaimanapun
juga mereka masih berkebangsaan Indonesia.
Kata kunci : golput, demokrasi, hak pilih, pemilu, politik, peduli

Pemilihan umum menjadi tolak ukur kadar
demokratisasi suatu negara.Demokrasi
menghendaki, kekuasaan tidak dipegang oleh
segelintir orang
Pemilu adalah gerbang perubahan untuk
mengantar rakyat melahirkan pemimpin yang
memiliki kemampuan untuk menyusun
kebijakan yang tepat, untuk perbaikan nasib
rakyat secara bersama-sama.
Oleh karena itu, Keterlibatan aktif
masyarakat dalam seluruh tahapan Pemilu
sangat dibutuhkan


. Golongan putih atau yang disingkat golput adalah
istilah politik di Indonesia yang berawal dari
gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda
untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971 yang
merupakan Pemilu pertama di era Orde Baru. Tokoh
yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief
Budiman. Namun, pencetus istilah Golput ini
sendiri adalah Imam Waluyo. Dipakai istilah putih
karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos
bagian putih di kertas atau surat suara di luar
gambar parpol peserta Pemilu bagi yang datang ke
bilik suara. Golongan putih kemudian juga
digunakan sebagai istilah lawan bagi Golongan
Karya, partai politik dominan pada masa Orde Baru.

Mengapa persentase penganut golongan putih
(golput) dalam pemilu di Indonesia
meningkat dari tahun ke tahunnya?
Bagaimana cara yang tepat untuk mengurangi
persentase golput dalam pemilu di Indonesia?
Mengetahui sebab peningkatan persentase
penganut golongan putih (golput) dalam
pemilu di Indonesia meningkat dari tahun ke
tahunnya
Mengetahui cara yang tepat untuk
mengurangi persentase golput dalam pemilu
di Indonesia
Pemilihan umum menjadi tolak ukur kadar
demokratisasi suatu negara. Menurut Menurut Eep
Saefullah Fatah, ada dua tipe pemilu.
Pertama, Pemilu berfungsi sebagai formalitas
politik, artinya pemilu hanya dijadikan alat
legalisasi pemerintahan nondemokratis.
Kedua, Pemilu berfungsi sebagai alat
demokrasi. Demokrasi menghendaki, kekuasaan
tidak dipegang oleh segelintir orang, tetapi
oleh kita semua dengan melakukan pengecekan
ulang dan perbaikan-perbaikan secara bertahap

Namun pemilu di mengalami permasalahan yang lain, di
mana warga negara penganut golongan putih meningkat
dari tahun ke tahunnya.
Hal ini dibuktikan dari grafik berikut :











Grafik jumlah golongan putih tahun 1955-2009

Ada tiga kesimpulan yang bisa didapatkan dari grafik
berdasarkan data mengenai fenomena mengingkatnya
angka golput tersebut.
Pertama, bahwa masyarakat Indonesia semakin
apatis. Sebuah kesimpulan sederhana yang bisa
dilihat dari naiknya angka golput tersebut. Dari
naiknya angka golput tersebut dapat dikatakan
bahwa saat ini masyarakat sudah semakin apatis
dengan bangsanya sendiri.
Kedua, golput menjadi bentuk kritik terhadap
pemerintah. Bisa dilihat saat ini kepercayaan
masyarakat terhadap pemerintah semakin
berkurang. Hal tersebut dapat terlihat dari
banyaknya kasus korupsi maupun kasus kejahatan
lainnya yang dilakukan oleh para pejabat Negara
saat ini.
Ketiga, masyarakat sudah muak dengan janji-janji manis
yang tidak ditepati ketika calon legislatif dan calon
presiden sudah terpilih. Para calon anggota legislatif
maupun calon Presiden pada masa kampanyenya
menjanjikan berbagai macam hal kepada masyarakat
dengan berbagai program yang didesain sangat baik dengan
dalih untuk mensejahterakan masyarakat, namun ketika
mereka sudah menduduki kursi kekuasaan yang terjadi
adalah mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi
(salah satunya untuk balik modal dana kampanye) daripada
kepentingan masyarakat yang banyak mereka janjikan saat
kampanye.
Hal ini cukup membuat banyak orang bertanya-tanya karena
Indonesia adalah negara demokrasi, dimana prinsip utamanya
adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat, serta pemilihan umum merupakan suatu sarana
demokrasi, sehingga masyarakat harus ikut serta dalam
memilih para perwakilan-perwakilan rakyat dalam
menjalankan pemerintahan

Banyaknya angka golput di Indonesia disebabkan oleh
beberapa faktor
Pertama, dorongan untuk memilih tidak hanya
didasarkan pada kemauan saja, tetapi faktor
pemahaman mengenai siapa yang akan dipilih dan
konsekuensi apa saja yang akan didapatkan
pemilih. Memilih yang benar haruslah berdasarkan
kecerdasan dan pemahaman politik yang benar,
serta harus mengetahui kriteria dan ciri-ciri dari
calon pemimpin dan calon wakil rakyat yang
berkualitas dan selain itu harus mengetahui mana
yang benar-benar berkualitas, mana yang benar-
benar tidak berkualitas menurut para pemilih.
Kedua, faktor lokasi tempat pengumutan suara.
Banyak masyarakat Indonesia yang bertempat
tinggal di pedalaman tidak difasilitasi oleh
pemerintah untuk memakai hak pilihnya karena
tidak terdapatnya fasilitas tempat pengumutan
suara di daerahnya. Kedua faktor tersebutlah yang
menjadi penyebab banyaknya angka golongan putih
di Indonesia. Menurut pengamat politik Eep
Saefulloh Fatah bahwa golput dikelompokkan ke
dalam empat golongan. Pertama, golput teknis,
yaitu karena kendala teknis seperti keliru menandai
surat suara atau tidak hadir ke TPS. Kedua, golput
teknis-politis, yaitu karena tidak terdaftar dalam
DPT.

Ketiga, golput politis, yaitu merasa tidak punya pilihan
dari kandidat yang tersedia atau tidak percaya bahwa
pemilu akan membawa perubahan dan perbaikan.
Keempat, golput ideologis yaitu tidak percaya pada
mekanisme demokrasi (liberal).
Namun sumber penyebab utama dari munculnya golongan
putih adalah masih kurangnya kesadaran dari tiap-tiap
individu mengenai betapa pentingnya satu suara yang
dapat membuat perubahan bagi Indonesia, padahal
pemerintah telah mengucurkan dana sekitar 17,7 triliun
untuk penyelenggaraan pemilihan umum legislatif tahun
2014, serta pemerintah telah memberikan hari libur
nasional pada hari pemilihan umum sehingga masyarakat
Indonesia dapat memilih dengan leluasa. Adanya
pemilihan umum belum tentu menjadikan negara itu
sebagai negara demokratis, tetapi hanya pemilu yang
demokratislah yang mampu membentuk negara
demokrasi. Agar negara dianggap demokratis, pemilu
harus dijalankan dengan cara yang demokratis, yaitu
pemilu dengan corak yang kompetitif.

Ciri-ciri pemilu dengan corak kompetitif yaitu
rekrutmen elit politik, kesiapan bagi perubahan
kekuasaan, Legitimasi politik pemerintahan koalisi partai,
representasi pendapat dan kepentingan para pemilih,
peningkatan kesadaran politik rakyat melalui kejelasan
problem dan alternatif politik, pendorong kompetisi bagi
kekuasaan politik, pembentukan suatu oposisi yang
mampu menjalankan kontrol, serta pemertautan lembaga
politik dengan pilihan pemilih. Dengan demikian
masyarakat Indonesia harus sadar akan pentingnya satu
suara yang dapat memberikan perubahan bagi Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Indonesia sendiri mempunyai Undang-Undang yang
mewajibkan negaranya untuk berpartisipasi dalam pemilu.
Hal ini menunjukkan bahwa warga negara yang tergabung
dalam golongan putih pada pemilu adalah warga negara
yang melanggar Undang-Undang Indonesia
Di dunia, juga terdapat negara yang mewajibkan
warga negaranya untuk mengikuti pemilu. Di antaranya
juga terdapat negara yang memberikan sanksi kepada
warga negaranya yang tidak ikut memilih.
Seperti misalnya denda dan penjara di Australia,
sulit membuat paspor dan surat izin mengemudi di Yunani,
dilarang mengambil gaji dari Bank di Bolivia atau bagi si
miskin di Peru akan kesulitan mendapat bantuan sosial.
Walaupun kebijakan-kebijakan demikian seharusnya
lebih dipertimbangkan lagi keefektifannya, namun
setidaknya Indonesia peraturan di Indonesia juga harus
memiliki beberapa ketentuan yang dapat mengikat warga
negaranya untuk berpartisipasi dalam pemilu
Jumlah golongan putih di Indonesia mengalami kenaikan
yang cukup signifikan sejak tahun 1999 hingga tahun
2014
Banyaknya angka golongan putih di Indonesia
disebabkan oleh kurangnya pendidikan mengenai
pentingnya pemilu dan masyarakat pedalaman kurang di
fasilitasi untuk menggunakan hak pilihnya. Namun
faktor utamanya adalah kesadaran dari tiap-tiap
individu mengenai pemilu.
Masyarakat Indonesia harus memiliki sifat peduli
terhadap politik di Indonesia.Masyarakat Indonesia juga
harus memegang teguh prinsip demokrasi, yaitu
pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk
rakyat.Pemerintah harus bisa memfasilitasi warga
negaranya yang tinggal di pedalaman Indonesia dalam
menggunakan hak pilihnya, karena bagaimanapun juga
mereka masih berkebangsaan Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_putih
Hadi, Fajar. 2014. Sulitnya Menyadarkan Mereka Para Kaum Golput.
http://politik.kompasiana.com. Diakses tanggal 25 April 2014
Pradana, Amri. 2014. Golput (Golongan
putih).http://politik.kompasiana.com.
Diakses tanggal 25 April 2014.
Saptohutomo, Aryo Putranto. 2014. Tingkat golput pemilu 2014 versi CSIS-
Cyrus
hampir 25 persen. http://www.merdeka.com. Diaksestanggal 25 Aprli
2014.
Trianita, Linda. 2014. Golput Pemenang Pemilu 2014, Bukan
PDIP.http://pemilu.
tempo.co.id. Diakses tanggal 25 April 2014.
Wisnu, Dinna. 2014. Mengurangi Golput dalam Pemilu. http://www.koran
sindo.com. Diakses tanggal 25 April 2014.
Zubaidi, Achmad dan Kaelan. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta
:
Paradigma