You are on page 1of 18

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl.Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk - Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT DALAM FK UKRIDA
Hari/ Tanggal Ujian/ Presentasi Kasus :
SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT: Rumah Sakit Imanuel

Nama: Elisa Husin Tanda Tangan:
Nim : 11 2013 084
Dr.Pembimbing/Penguji: dr. Haryono, Sp.PD
dr.Fajar Raditya, Sp.PD


I. Pendahuluan
Pada kesempatan ini akan diajukan sebuah kasus: Seorang wanita berusia 68 tahun yang
memiliki riwayat tekanan darah tinggi, datang ke rumah sakit dengan keluhan pusing berputar
disertai keringat dingin. Pasien diberi obat dan dirawat di rumah sakit selama 2 hari. Pada hari
yang ke-3 pasien dirujuk ke rumah sakit lain agar mendapatkan penanganan dari dokter saraf.


Pertanyaan pada kasus ini adalah:
1. Bagaimana pendekatan klinis hipertensi?
2. Bagaimana pendekatan klinis pusing berputar?
3. Apa itu hipertensi emergency dan hipertensi urgency?
4. Apa saja komplikasi hipertensi?
5. Bagaimana penatalaksanaan hipertensi?



II. Laporan kasus
IDENTITAS PASIEN
Nama: Ny. NSM nomor RM: 13 52 32
Usia: 68 tahun Pekerjaan: ibu rumah tangga
Alamat: Jl. Danau Laut Tawar Suku: Jawa
Agama: Islam Pendidikan: SMP
Status Pernikahan: Menikah

Anamnesis secara Autoanamanesis

Keluhan Utama: pusing berputar memberat sejak 4 jam yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 3 hari yang lalu, pasien merasa pusing. Pusing dirasakan seperti berputarnya
lingkungan sekitar. Pusing berputar hilang timbul, timbul setelah kepala digerakkan ke kanan
atau ke kiri, atau apabila pasien sedang berbaring dalam posisi terlentang kemudian miring ke
samping kanan/kiri. Rasa pusing berputar hilang dengan sendirinya setelah kira-kira 20 menit.
Jika rasa pusing berputar datang, pasien merasakan mual yang hebat sehingga pasien selalu
muntah. Muntah berisi makanan dan cairan. Pasien tidak demam, tidak merasakan nyeri atau rasa
penuh pada telinganya, tidak merasa berdenging, juga tidak disertai penurunan pendengaran.
Riwayat terbentur pada kepala atau leher tidak ada. Empat jam sebelum masuk rumah sakit,
keluhan pusing berputar bertambah parah. Pusing dirasakan selama empat jam ini tidak kunjung
membaik dan muntah-muntah semakin parah.
Pasien memiliki riwayat stroke 2 bulan yang lalu. Pasien dirawat beberapa hari di RS dan
setelah mengalami stroke, pasien merasa bagian tubuh kanannya menjadi lebih lemas.
Pasien memiliki riwayat tekanan darah tinggi sejak 3 tahun lalu, namun tidak dikontrol
obat. Pasien mengatakan bahwa dulu tekanan darahnya tidak terlalu tinggi, hanya 140/90 mmHg,
sehingga ia tidak terlalu memperdulikan darah tingginya. Namun saat pasien dirawat karena
stroke, tekanan darahnya sempat mencapai 230/140 mmHg. Pasien sering merasa sakit kepala
berdenyut yang hilang timbul dan rasa pegal di tengkuk. Pasien tidak lapar walaupun banyak
makan, tidak haus walaupun banyak minum, dan tidak sering berkemih. Pasien tidak pernah
merasakan rasa nyeri menusuk mendadak pada dada kiri/ nyeri dada kiri yang menjalar ke lengan
kiri atau ke dagu. Penglihatan pasien tidak menjadi lebih kabur dan pasien tidak pernah
mengalami kejang. BAK tidak ada keluhan, BAK sekitar 3-4x, volume sekitar 1-1.5 gelas aqua,
tergantung banyaknya air yang diminum hari itu. Pasien tidak merasakan adanya tangan yang
gemetar, rasa berdebar-debar di dada, merasa lebih cemas, atau banyak berkeringat pada suhu
normal.

Riwayat Sosial
Pasien tidak merokok dan tidak minum minuman yang beralkohol.
Pasien senang makan makanan yang digoreng dan tidak terlalu suka sayuran
Pasien tidak pernah berolah raga

Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat stroke 2 bulan yang lalu
Riwayat tekanan darah tinggi sejak 3 tahun lalu, tidak terkontrol.
Riwayat kolesterol diketahui 2 bulan lalu (saat dirawat karena stroke), tidak terkontrol
Tidak memiliki riwayat kencing manis.

Riwayat Keluarga
Ibu pasien menderita diabetes mellitus. Ayah pasien menderita hipertensi.

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( -)Bisul (- )Rambut (-)Keringat malam
(- )Kuku ( - )Kuning/ikterus (-)Sianosis
(- )Lain-lain
Kepala
(-) Trauma (-) Sakit kepala (+)pusing berputar
(-) Sinkop (-) Nyeri pada sinus
Mata
(-) Nyeri (-) Radang
(-)Sekret (-) Gangguan penglihatan
(-)Kuning/ikterus (-) penurunan ketajaman penglihatan

Telinga
(-)Nyeri (-) Gangguan pendengaran
(-)Sekret (-) Kehilangan pendengaran
(-)Tinitus
Hidung
(-)Trauma (-)Gejala penyumbatan
(-)Nyeri (-)Gangguan penciuman
(-)Sekret (-)Pilek
(-)Epistaksis
Mulut
(-)Lidah selaput
(-)Gangguan pengecap
(-)Stomatitis
Tenggorokan
(-)Nyeri tenggorokan (-)Perubahan suara
Leher
(-)Benjolan (-)Nyeri leher
Dada (Jantung/Paru)
(-) Nyeri dada (-) Sesak napas
(-) berdebar (-) Batuk darah
(-) ortopnoe (-) Batuk
Abdomen(Lambung/Usus)
(-) Rasa kembung (-) Wasir
(+) Mual (-) Mencret
(+) Muntah (-) Tinja darah
(-) Muntah darah (-) Tinja berwarna dempul
(-) Sukar menelan (-) Tinja berwarna ter
(-) Nyeri perut di epigastrium (-) Benjolan
(-) Perut membesar
Saluran kemih/Alat Kelamin
(-) Disuria (-) Kencing nanah (-) Stranguri
(-) Kolik (-) Poliuria (-) Oliguria
(-) Polakisuria (-) Anuria (-) Hematuria
(-) Retensi urin (-) Kencing batu (-) Kencing menetes
(-) Ngompol (tidak di sadari) (-) Penyakit prostat
Saraf dan otot
(-) Anestesi (-) Sukar mengingat
(-) Parestesi di ujung kaki dan tangan (-) Ataksia
(+) Otot lemah (-) Hipo/Hiper-esthesi
(-) Kejang (-) Pingsan
(-) Afasia (-) Kedutan(„tick‟)
(-) Amnesia (+) Pusing (vertigo)
(-) Lain-lain (-) Gangguan bicara (Disarti)
Ekstremitas
(-) Bengkak (-) Deformitas
(-) Nyeri (-) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata(Kg) : 68 Kg
Berat tertinggi (Kg) : 68 Kg
Berat badan sekarang(Kg) : 67 Kg
(Bila pasien tidak tahu dengan pasti)
Tetap (-) Turun (+) Naik (-)


PEMERIKSAAN FISIK : dilakukan tanggal 20 Mei 2014, jam 12.30 di ruang bangsal wanita.
 Keadaan umum: tampak sakit sedang
 Kesadaran: compos mentis
 Status hidrasi: normohidrasi
 Tinggi badan= 151 cm. Berat badan = 67 kg. IMT= 29.38  obesitas. Habitus: piknikus
 Tekanan darah (tangan kanan)= 210/130 mmHg. Tekanan darah (tangan kiri)= 200/120
mmHg. Suhu tubuh= 36
o
C. Nadi= 92x per menit, regular, volume cukup. Respiratory Rate=
20x/menit, regular
 Kulit: turgor kulit baik, tidak tampak lesi kulit atau bekas operasi
 Kepala: bentuk kepala normosefalus. Bentuk kepala simetris. Rambut berwarna hitam
distribusi merata dan tidak mudah dicabut.
 Wajah: pergerakan otot wajah tidak simetris, wajah tidak moon face
 Mata: exopthalmus (-), sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, nistagmus (+)
 Mulut: bibir dan mulut tidak tampak kering, mukosa mulut dan faring tidak hipermis, tonsil
T1/T1, lidah: deviasi ke kiri
 Telinga: Bentuk telinga luar kanan-kiri normal, tidak ada fistel freauricular/postauricular,
tidak terdapat tophi/benjolan lain. Tidak ada nyeri tekan tragus. Liang telinga tampak lapang,
tidak terdapat furunkel, terdapat sedikit serumen kuning, tidak ada sekret. Refleks membrane
timpani +/+
 Leher: trakea di tengah, kelenjar getah bening (preauricular, postauricular, submentalis,
submandibularis, sternocleidomastoideus superficialis dan profunda, supraclavicular, dan
infraclavicular) tidak teraba membesar. Kelenjar tiroid tidak teraba benjolan/membesar.
JVP=5+2 cmH
2
O
 Thorax
o Inspeksi toraks anterior: bentuk pectus pectinatum, jenis pernapasan torakoabdominal,
simetris kanan dan kiri, pergerakan simetris, tidak tampak retraksi sela iga atau benjolan.
Toraks posterior: bentuk punggung kifosis, simetris kanan dan kiri
o Palpasi: tidak ada nyeri tekan, tidak ada retraksi sela iga. vocal fremitus kanan dan kiri
simetris pada toraks anterior dan posterior
o Perkusi: sonor seluruh lapang paru
o Auskultasi: vesicular +/+ seluruh lapang paru toraks anterior dan posterior,
wheezing -/-, ronkhi -/-
 Cor
o Ictus cordis tidak terlihat
o Batas kanan jantung pada linea sternalis kanan, batas kiri pada 3 cm media dari
linea midclavicularis kiri.
o Auskutasi: BJ1 dan BJ2 murini, regular. gallop -/-, murmur -/-
 Abdomen
o Inspeksi: bentuk perut datar, simetris, umbilicus di tengah, tidak menonjol ke luar, tidak
tampak pelebaran pembuluh darah, tidak tampak benjolan/massa, tidak tampak gerak
peristaltik usus, tidak tampak striae keunguan
o Palpasi: turgor kulit baik, tidak teraba nyeri tekan pada seluruh lapang perut, tidak teraba
adanya tumor/massa. Hepar, lien, dan ginjal tidak teraba.
o Perkusi: timpani. Nyeri ketuk CVA -/-
o Auskultasi: bising usus 15x per menit. Bunyi bruit pada ginjal -/-, bunyi bruit aorta
abdominal -, bunyi bruit arteri karotis -.
 Ekstermitas: sianosis (-), clubbing (-), udem (-). Sendi MTP1 dextra udem dan tampak
merah, capillary refill time = 1 detik.
 Punggung: bentuk tegap, tidak scoliosis, tidak ada buffalo hump.
Reflex Tangan kanan Tangan kiri
Reflex bisep + lemah ++
Reflex tricep + lemah ++

Reflex Kaki kanan Kaki kiri
Reflex patella + lemah ++
Reflex achiles + lemah ++

Diagnosa Klinis
Vertigo perifer
Hipertensi emergency
Hemiparesis dextra e c sequele stroke
Arthritis gout



Pemeriksaan Penunjang :
EKG tanggal 20 Mei 2014 pk 15.00 tidak ada kelainan pembesaran ruang jantung/ kelainan
pembuluh darah jantung

Hasil lab 20 Mei 2014 pk 16.34
HEMATOLOGI
CBC
Hemoglobin 16,5 g/dl
Hematokrit 49 %
Eritrosit 6 juta/ul
Trombosit 250 ribu/ul
Leukosit 9800 /ul
Segment 63 %
Limposit 30 %
Monosit 4 %
Eosin 3 %
MCHC 34 g/dl
MCH 28 pg
MCV 83 fl
MPV 9 fl
Gambaran eritrosit NORMAL
Trombosit CUKUP

Kimia Darah
Diabetes Glukosa sewaktu 102 mg/dl
Ginjal-Hipertensi Urea 36 mg/dl
BUN 17 mg/dl
Creatinin 1,08 mg/dl
Asam urat 8,54 mg/dl
Lemak Cholesterol Total 350 mg/dl
HDL 38 mg/dl
LDL direk 250 mg/dl
Trigliserid 102 mg/dl


CT Scan tanggal 21Mei 2014
Dilakukan CT scan kepala potongan axial dengan ketebalan 3x10 mm. scanning tanpa kontras.
 Sulci dan gyri corticalis tampak dalam batas normal
 Tampak lesi hipodens bulat kecil di daerah genu corpus callosum sinistra
 Sistim ventrikel tampak dalam batas normal, tidak tampak midline shift
 Tidak tampak bayangan lesi hipo/hiperdens patologis di daerah serebelum dan pons.
Kesan: Suspek infark cerebri a/r genu corpus callosum sinistra.

Diagnosis Kerja
Vertigo perifer
Hipertensi emergency
Hemiparesis dextra e c infark serebri
Arthritis gout
Dislipidemia

Usulan Pemeriksaan
Echocardiografi
Funduskopi: melihat kelainan pada mata
Pemeriksaan elektrolit Kalium, Natrium

Penatalaksaan
 Non – Farmakologis
Diet lunak
Pantau terus tekanan darah
Epley maneuver
 Farmakologis
o Infus asering 500 cc / 12 jam
o Captopril 3x25 mg
o Amlodipine tab 1x 10 mg
o Betahistine maleate 3x 6 mg
o Flunarizine 2 x 5 mg malam hari
o Odansentron iv 2x8ampul

Follow Up
Tanggal Data Klinis
Pemeriksaan
Penunjang
Diagnosis dan
Tindakan
21 Mei 2014 S: badan lemas, kepala masih pusing
berputar, mual dan muntah
O: KU: tampak sakit sedang,
kesadaran CM
TD: 170/100 mmHg. T=36,5
0
C.
nadi= 84x/menit, regular, kuat
angkat. Nafas= 16xmenit, regular,
torakoabdominal
Pemeriksaan fisik lain tidak ada
perubahan
CT scan kepala

Diagnosis kerja:
o Vertigo perifer
o Hipertensi urgency
o Hemiparesis dextra e
c infark serebri
o Arthritis gout
o Dyslipidemia
Therapy lanjutkan:
Atorvastatin 1x 20 mg


22 Mei 2014 S: badan lemas, kepala masih pusing
berputar, mual dan muntah
O: TD: 170/100 mmHg. T=36,8
0
C.
nadi= 80x/menit, regular, kuat
angkat. Nafas= 20 x/menit, regular,
torakoabdominal.
Pemeriksaan fisik lain tidak ada
perubahan
Ginjal-Hipertensi Urea 36 mg/dl
Urea 44 mg/dl
BUN 20 mg/dl
Creatinin 1,43
mg/dl BUN 17 mg/dl
Creatinin 1
Diagnosis kerja:
o Vertigo perifer
o Hipertensi urgency
o Hemiparesis dextra e
c infark serebri
o Arthritis gout
o Dyslipidemia
Therapy lanjutkan:
Furosemide 1x2ampul
Pasien dirujuk ke RS lain
agar mendapat
penanganan segera
dr.saraf

II. RINGKASAN/ RESUME
Seorang wanita usia 68 tahun datang ke rumah sakit karena merasa pusing berputar
hilang timbul. Timbul setelah kepala digerakkan ke kanan atau ke kiri atau apabila pasien sedang
berbaring dalam posisi terlentang kemudian miring ke samping kanan/kiri. Rasa pusing berputar
hilang dengan sendirinya setelah kira-kira 20 menit. Rasa pusing berputar disertai rasa mual dan
muntah yang hebat. Pasien memiliki riwayat stroke 2 bulan yang lalu dan sejak itu bagian tubuh
kanannya menjadi lemas. Pasien memiliki riwayat darah tinggi tidak terkontrol.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 210/130mmHg dengan bentuk tubuh
piknikus. Pasien tampak sakit sedang. pada wajahnya otot wajah tampak tidak simetris. Pada
mata terlihat nistagmus. Pada pemeriksaan reflex, ekstremitas kanan terlihat lebih lemah dari
ekstremitas kiri. Pemeriksaan laboratorium didapati nilai asam urat 8,54 mg/dl; nilai kolesterol
total 350 mg/dl; HDL 38 mg/dl; LDL direk 250 mg/dl. Pemeriksaan CT scan memberikan hasil:
suspek infark cerebri a/r genu corpus callosum sinistra.
Pasien dirawat, selama dirawat pasien masih mengalami pusing berputar, mual dan
muntah, namun frekuensi mual dan muntah berkurang.

IV. PERTANYAAN PADA KASUS
Bagaimana pendekatan klinis hipertensi?
Hipertensi diklasifikasikan menjadi hipertensi esensial/primer, hipertensi sekunder, dan
hipertensi yang naik secara mendadak.
a. Hipertensi esensial/primer. Tidak memiliki pencetus yang mendasari. 90-95% hipertensi
merupakan hipertensi esensial
b. Hipertensi sekunder
1. Renovaskular. Hipertensi yang disebabkan karena dysplasia fibromuskular (biasa
pada wanita 20-30 tahunan) dan atherosclerosis (biasa pada laki-laki lebih dari 50
tahun)
2. Aldosteronism primer. Hipertensi dengan hypokalemia
3. Cushing‟s disease. Penemuan klinis: moon face, obesitas sentral, striae keunguan,
buffalo hump, hirsutism, kulit mudah lebam. Alkalosis hipernatremi dan hipokalemi
sering terjadi
4. Pheochromocytoma. Biasanya berupa hipertensi periodic. Sering berhubungan
dengan diaphoresis, palpitasi, dan sakit kepala.
5. Koartasio aorta. Perlu diwaspadai pada penderita hipertensi usia muda. Tekanan
darah di tangan kanan jauh lebih tinggi dan arteri femoral kadang tidak teraba.
6. Penyakit renal primer
7. Hipertiroid yang menyebabkan hipertensi sistolik
8. Hipotiroid yang menyebabkan hipertensi diastole.
9. Obat-obatan
a. Estrogen
b. Obat-obatan; amfetamin, kokain yang stop mendadak
10. Postoperative. Hipoksia, nyeri, cemas, volume overload, dan pengoban
11. Hiperparatiroid
c. Penyakit lain. Penyakit yang menjadi sebab/akibat tekanan darah tinggi yang tidak
terkontrol.
1. Cerebrovascular accident. Jika pasien menderita stroke dan tekanan darahnya menjadi
naik, dokter tidak akan cepat-cepat menurunkan tekanan darahnya. Penurunan
tekanan darah yang mendadak pada stroke akan memperpanjang stroke itu.
2. Perdarahan subarachnoid. Pasien mengeluh nyeri kepala yang sangat hebat
3. Diseksi aorta. Perasaan nyeri seperti terobek di dada yang menjalar ke punggung,
biasanya didahului oleh riwayat hipertensi
4. Akselerasi hipertensi. Peningkatan tekanan darah tanpa disertainya masalah yang
mengancam jiwa.
5. Hipertensi maligna. Peningkatan tekanan darah disertai hipertensi encephalopati,
angina, infark miocard, diseksi aorta, penyakit cerebrovascular, proteinuria,
hematuria, dan adanya protein sel darah pada urinnya.
1

PEMBAHASAN
Kasus di atas merupakan hipertensi akselerasi. Hipertensi akselerasi pada kasus ini mungkin
terjadi akibat hipertensi sekunder (renovaskular), atau hipertensi primer. Tingginya kadar LDL
dan menjadi pertimbangan adanya aterosklerosis yang menyumbat pembuluh darah renal
sehingga menyebabkan tingginya pembuluh darah. Hipertensi primer juga masih mungkin terjadi
pada kasus ini mengingat 90-95% kasus hipertensi adalah hipertensi primer.

Bagaimana pendekatan klinis pusing berputar?
1. Bukan vertigo: presinkop dan disequilibriu
a. Presinkop: sensasi yang berhubungan dengan perasaan “mau pingsan” yang ditandai
dengan kepala berat, pandangan abu-abu, kabur, atau gelap. Perasaan ini berlangsung
cepat, beberapa detik sampai menit, namun pada akhirnya keluhan mengilang dengan
sendirinya
b. Disequilibrium: sensasi kehilangan yang biasanya muncul pad asaat seseorang berjalan.
Penyebabnya bersifat multifactorial, sering ditemukan pada usia lanjut dengan gangguan
penglihatan,neuropati perifer, penurunan fungsi propioseptif dan masalah
musculoskeletal yang menyebabkan instabilitas saat melangkah.
2. Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV). Merupakan bentuk vertigo yang paling
sering ditemukan, berupa sensasi berputar yang dipicu oleh gerakan kepala tiba-tiba atau
gerakan kepala pada salah satu arah tertentu. Dix-Hallpike maneuver akan memicu terjadinya
vertigo.
3. Obat-obatan: aminoglikosida, klorokuin, furosemide, quinine
4. Infeksi
a. Herpes Zooster oticus
b. Labrinitis: inflamasi telinga dalam yang menyebabkan timbulnya vertigo disertai
kehilangan pendengaran.
c. Neurosifilis
d. Otitis media
e. Vistiblar neuronitis
5. Meniere‟s disease terdiri dari 3 gejala: episode vertigo, episode telinga berdenging dan hilang
pendengaran.
6. Multiple sclerosis. Pada penyakit ini serangan vertigo berlangsung cepat, pemeriksaan mata
memperlihatkan ketidakmampuan mata untuk bergerak melewati garis tengah hidung.
7. Serangan panic
8. Trauma
a. Labyrinthine contusion
b. Perilymphatic fistula
c. Fracture tulang temporal
d. Rupture membrane timpani
9. Tumor
a. Neuroma akustikus. salah satu tumor yang menyebabkan vertigo. Vertigo timbul disertai
hilangnya pendengaran dan suara berdenging pada satu telinga
b. Tumor serebellopontine angle
10. Vascular
a. Basilar artery migraine
b. Cerebellar artery infarction
c. Cerebellar hemorrhage ditandai nyeri kepala, kesulitan berjalan, ketidakmampuan
melihat ke sisi tempat otak yang mengalami perdarahan. Gejala kelainan batang otak
yang menyertai: diplopia, disartira, atau mati rasa
d. Vasculitis
e. Vertebrobasilar insufficiency
11. Sebab lain
a. Autoimmune ear disease
b. Cholesteatoma
1

PEMBAHASAN
Pada kasus Ny. NSM, vertigo dapat terjadi apabila tekanan darah tinggi menyebabkan
perdarahan pada pembuluh darah anterior/posterior cerebellum (arteri serebelaris posterior atau
arteri serebelaris posterior), atau disebabkan karena adanya otolith/ kotoran pada telinga dalam
sehingga menyebabkan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV).
Pada Ny. NSM, pusing berputar terjadi setiap kepala digerakkan ke kanan atau ke kiri, atau
apabila pasien sedang berbaring dalam posisi terlentang kemudian miring ke samping kanan/kiri.
Ini menunjukkan bahwa vertigo pada pasien disebabkan karena BPPV. Karena rasa pusing
berputar terjadi akibat perubahan posisi. Di sisi lain, pada pasien sudah dilakukan CT scan
dan tidak ada hasil yang memberikan gambaran adanya infarct atau perdarahan pada daerah
basilar artery, dan cerebellum artery.
Apakah hipertensi emergency dan hipertensi urgency?
Hipertensi emergency adalah hipertensi berat dengan tanda-tanda kerusakan organ (terutama
otak,sistim kardiovaskular, dn ginjal). Diagnose ditegakkan berdasarkan pengukuran tekanan
darah, EKG, urinalisis, dan kadar kreatinin-BUN darah. Penatalaksanaan ialah dengan segera
menurunkan tekanan darah melalui obat-obatan intravena (nitropruside, beta-bloker, hydralazine)
Hipertensi urgency adalah tekanan darah yang sangat tinggi (diastole > 120mmHg) tanpa adanya
kerusakan organ (kecuali retinopati grade 1-3). Pada hipertensi urgency, penurunan tekanan
darah secara cepat tidak diharuskan, namun bagaimanapun juga pasien memerlukan evaluasi
ketat.
2

PEMBAHASAN KASUS
Pada kasus di atas, pasien termasuk hipertensi emergency karena tekanan darah diastole 210/130
mmHg dan peningkatan kreatinin serum yang akhirnya melampaui batas normal (1,43 mg/dl)
yang menunjukkan mulai terjadinya kerusakan organ.

Apa saja komplikasi hipertensi?
Komplikasi hipertensi dapat berupa penyakit jantung coroner, miokard infark, hipertrofi
ventrikel kiri, disaritmia, stroke, PVD (peripheral vascular disesase), renal insufficiency, renal
failure, CKD, retinopati
3

PEMBAHASAN KASUS
Pada kasus Ny.NSM, komplikasi yang terlihat adanya renal insufficiency, dan stroke

Bagaimana penatalaksanaan hipertensi?
Penatalaksaan bagi pasien yang hipertensi adalah dilakukannya diet rendah garam
Dan pemberian obat-obatan. Obat yang dapat diberikan ialah: diuretic, beta bloker, ACE-
inhibitor, Calsium Channel Bloker, dan golongan lain seperti obat-obatan central sympatholytics,
vasodilator, dan peripheral adrenergic inhibitor.
Diuretic bekerja dengan menurunkan volume plasma dan cardiac output
Beta blocker bekerja dengan cara menurunkan frekuensi jantung, menurukan cardiac output, dan
menghambat vasokonstriksi perifer.
ACE-inhibitor digunakan untuk memblok pembentukan angiotensin 2 sehingga menghambat
retensi Natrium dan air
Calsium Channel Blokers yang memberikan efek vasodilatasi perifer.
1


Indikasi yang memaksa ialah: penyakit stroke sebelumnya, adanya riwayat sakit jantung
(MI, Penyakit jantung coroner, gagal jantung), dan adanya penyakit ginjal kronik.

Guideline Penatalaksaan Hipertensi Emergency
 Kurangi tekanan darah secepatnya dengan obat-obat intravena dan pantau terus secara
berkala (lebih baik pasien dirawat di ICU
 Pertimbangkan menggunakan obat tersebut:
o Vasodilator: sodium nitroprusside, nicardipine, fenoldopam mesylate, nitrogliserin,
enalaprilat, hydralazine
o Adrenergic blocker: labetalol, esmolol, phentolamine
 Jangan menggunakan nifedipin kerja cepat karena akan menurunkan tekanan darah terlalu
mendadak
 Tujuan: penurunan tekanan darah 25% dari nilai mean arterial blood pressure (MAP) dalam
waktu hitungan menit sampai maksimal 1 jam, kemudian lihat, apabila pasien stabil 
kurangi tekanan darah sampai 160/100-110 mmHg selama 2-6 jam dan kembalikan tekanan
darah ke tekanan normal dalam 24-48 jam.
4


PEMBAHASAN KASUS
Pada kasus di atas, yang merupakan kasus hipertensi emergency, pemberian obat-obatan mutlak
segera diberikan. Pasien sudah pernah menderita stroke, sehingga pasien masuk ke dalam
indikasi memaksa. Obat-obatan diberikan secara intravena. Terapi lini pertama: nitropruside,
fenoldopam, nicardipim, dan labetalol.

Tekanan darah Ny.NSM ialah 210/130 mmHg.
MAP = (Sistole + 2x diastole)/3 = (210+ (2x130))/3 = 156,67
Target penurunan tekanan darah: 25% dari MAP
Target MAP baru = MAP – 25%MAP = 156,67 – (25% x 156,67) = 156,67 – 39,17 = 117,5
mmHg
Anggap tekanan diastole 100 mmHg
Maka tekanan systole yang baru?
MAP = (systole + 2distole)/3
MAP x 3 = systole + 2diastole
117,5 x 3 = systole + 2x100
352.5 – 200 = systole
Systole =152,5 mmHg
Maka, tekanan darah ibu NSM harus diturunkan menjadi 152/100 mmHg dalam menit-maksimal
1 jam








DAFTAR PUSTAKA
1. Setiati S, Sari DP, Rinaldi I, Ranitya R, Pitoyo CW, editor. Lima puluh masalah kesehatan di
bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Indonesia; 2008. h.27-30,34-8
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h.1003-15.
3. Beers MH, Porter RS, Jones TV, Kaplan JL, Berkwits M. Hypertensive emergencies. 11
th
ed.
New York: Elsevier; p.617-20.
4. National Heart, Lung, and Blood Institute. The seventh report of the Joint National
Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pressure: The
complete report. May 2003. Diunduh dari http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/
tanggal 29 Juni 2014.