You are on page 1of 5

Kali ini saya akan sedikit menyinggung tentang dasar2 rules of construction pada pressure vessel yang

dikonstruksi menurut ASME VIII. Saya akan coba sedikit paparkan tentang komponen2 utama PV yaitu
shell/head, support, pipe, flange/nozzle, fitting dan bolting.



Secara umum, base material dari masing2 part tersebut jenis/macamnya dapat dilihat dalam ASME VIII
subsection C dimana kurang lebihnya sbb:

- shell/head plate: SA 516

- support: SA 516 grade 60/70, SA 285 grade C, SA 283 grade C/D atau SA 36

- flange: SA 105

- pipe: SA 106 seamless

- fitting: SA 234

- coupling; SA 105

- bolting: SA 193 grade B7, SA 194 grade 2H, ASTM B766 class 8 type II dan SS 316





*******



Head untuk pressure vessel harus mempunyai dimensi cembung, dikonstruksi dari satu piece plate
(tanpa sambungan las) dan bisa dipilih mau pake detil bentuk ellipsoidal/semi ellipsoidal dengan rasio 2:1
(apabila diameternya lebih dari 24") atau model torisphrical. Untuk high pressure vessel biasanya
menggunakan hemispherical head.



Shell, yang merupakan body dari suatu PV umumnya menggunakan spesifikasi thickness sbb:

- dia < 60" menggunakan plate dengan thickness ¼ "

- dia 60 s/d 90" menggunakan plate dengan thickness 3/8 "

- dia > 90" menggunakan plate dengan thickness ½ "



Spesifikasi thickness tersebut juga applicable untuk head.



Selain pelat, pipa juga dapat dipake untuk material dasar dari shell. Untuk PV dengan diameter kecil
(maksimum 24"), pipa seamless SA 106 Grade B sering dipake untuk konstruksi shell, setelah
mempertimbangkan nominal thicknessnya, mill tolerance dan internal corrosion allowance-nya.



Terkadang kita juga menemukan saking besarnya diameter suatu PV atau saking panjangnya, sehingga
shell harus dikonstruksi secara berangkai dari kesatuan beberapa plates. Nah untuk yang begini ini,
jumlah sambungan las pada shell dan head suatu PV sedapat mungkin mesti diminimalkan. Untuk
diameter sampai dengan 2800 mm, umumnya tidak diperbolehkan apabila terdapat lebih dari satu
sambungan longitudinal weld.



Sedangkan untuk sambungan yang circumferential weld, berikut data perbandingan antara
panjang/keliling lingkaran PV dengan maksimum circum weld yang diperbolehkan.



<= 2400 mm - tidak diperbolehkan ada circum weld

<= 4800 mm - maksimum 1 circum weld

<= 7200 mm - maksimum 2 circum weld

<= 9500 mm - maksimum 3 circum weld


> 9500 mm - setiap 2500 mm diperbolehkan ada 1 circum weld




Jumlah circum weld diatas tidak termasuk circum weld pada joint shell dengan head. Namun pengalaman
saya di lapangan mengatakan, masing2 user tidak selalu sama dalam menentukan batasan/range keliling
ini.



Mengelas tidak sekedar berarti menyambung satu bagian dengan bagian lain. Ketika kita melakukan
pengelasan PV, mesti dipertimbangkan weld layout/arrangement-nya. Konfigurasi dari sambungan las
harus diatur sedemikian rupa sehingga

- memungkinkan untuk dilakukan visual inspection pada bagian internal

- tidak ada nozzle reinforcing pads/saddle bearing plate/wear plate yang menutupi longitudinal ataupun
girth weld

- tidak terjadi jarak yang terlalu mepet antara sambungan las yang satu dengan yang lain

- dll



Longitudinal joint, circum joint dan joint2 yang ikut menahan tekanan PV harus di design secara double
sided butt weld sesuai dengan UW-12 dari ASME VIII part 1 tentang joint efficiency. Apabila tidak
memungkinkan di design secara double sided butt weld, dapat menggunakan single butt weld yang
ekivalen dengan double butt weld (UW-12 type 1) dalam arti bisa diinspeksi secara visual pada backside
sambungan lasannya. Keadaan yang tidak memungkinkan ini bias terjadi pada circum closing joint pada
PV yang memunyai diameter kecil atau pada pipe/fitting butt welds.



Support/penyangga untuk PV yang di design dan beroperasi secara horizontal umumnya di sangga oleh
2 sisi penyangga dimana masing2 penyangga tersebut diletakkan sedekat mungkin dengan head.
Penempatan support harus diback-up juga dengan perhitungan engineering untuk mengkalkulasi stress
dan deformasi untuk selanjutnya ditentukan perlu atau tidaknya diinstall penguat/reinforcement atas PV.
Jarak centerline saddle support sebaiknya lebih kecil dari atau sama dengan ½ x outside diameter PV
dengan minimum sudut arc contact sebesar 120 deg.



Thickness wear plate support tidak boleh melebihi thickness shell plate. Tell tale holes sebaiknya dibuat
dengan diameter ¼" pada saddle wear plate, dialokasikan pada titik terluar dimana tidak ada interfere
dengan sadle serta ditutup dengan silicone sealant untuk menghindari terjadinya proses korosi.
Penggunaan grease untuk menutupi hole ini sebaiknya dihindarkan.



Sedangkan support untuk PV yang di design dan beroperasi secara vertikal umumnya di sangga oleh
conical/cylindrical skirt (tanpa guys/brace). Apabila dibutuhkan tailing lugs, penempatannya harus diinstall
pada skirt base ring dan tidak boleh diinstall di body PV.



Skirt access opening biasanya menggunakan perbandingan2 sbb:



<16" OD menggunakan1 skirt opening 4" ID

16 s/d 48" menggunakan1 skirt opening 8" ID

48 s/d 72" menggunakan1 skirt opening 18" ID


>72" menggunakan 2 skirt opening 8" ID




Skirt, leg and saddle support pada umumnya menggunakan thickness minimum ¼"



Selanjutnya tentang PV opening. Kebanyakan, opening dari PV menggunakan sistim flanged, terutama
yang diperuntukkan pada hydrocarbon services. Jenis flanged pun typically weld neck flange atau long
weld neck flange dengan mengacu kepada ASME B16.5 untuk diameter s/d 24" dan ASME B 16.47 seri
A untuk diameter diatas 24". Beberapa PV yang beroperasi pada tekanan rendah, dimungkinkan
menggunakan flange klas # 150 (slip on flange) mengacu kepada ketentuan ASME B 16.30. Penggunaan
sistim opening berulir tidak diperbolehkan, termasuk juga meng-connect threadolet secara langsung
dengan shell maupun head suatu PV.



Perangkat sistim opening lainnya yaitu manhole umumnya hanya terdapat pada PV dengan diameter
lebih dari 32" (ada juga yang mempersyaratkan 34 dan 36"). Untuk PV yang berdiameter kurang dari 32"
menggunakan 2 buah handholes yang lazimnya berdiameter 6 atau 8". Dimensi manhole juga
kebanyakan circular (tidak boleh berbentuk bujur sangkar apalagi segitiga...J). Trus, manhole mesti
dilengkapi dengan blind flange, bolting, gasket dan davit/hinges. Jangan lupa, penempatannya tidak
boleh berada pada daerah seam lasan.



Spesifikasi thickness yang umum dipake untuk nozzle adalah sbb

- NPS s/d 3" menggunakan sch 80

- NPS 4 s/d 10" menggunakan sch 40

- NPS >12" menggunakan thickness 3/8 "



Pemilihan fitting seperti elbow, reducer, caps, dll harus memperhitungkan kecocokannya (kompatibel),
strength dan karakteristik kimiawi dengan material lain dimana fitting akan dikoneksi secara pengelasan
terutama untuk alloy fittings.



Selanjutnya, bolting. External bolting sebaiknya menggunakan cadmium plated alloy steel stud bolts
sesuai dengan SA-193 Grade B7 untuk aplikasi design temperature -20 s/d 900 deg F. F. Sedangkan
nut-nya menggunakan cadmium plated alloy steel sesuai dengan SA-194 grade 2H. Untuk internal bolting
menggunakan SS 316. Studbolt haruslah mempunyai ulir/thread yang penuh (dari ujung sampe dengan
pangkalnya) dengan panjang yang diperhitungkan sehingga memungkinkan untuk dilakukan bolt
tensioning.



Terakhir, ada persyaratan2 khusus yang mesti dipenuhi untuk komponen2 PV yang merupakan duplex
stainless steel baik berupa plate, pipa, fitting dll haruslah memenuhi persyaratan charpy impact sesuai
ASTM A370 atau BS EN 10045.



Jangan lupa...semua material2 tersebut haruslah baru (bukan bekas) dan traceable data2nya. Traceable
maksudnya ya mesti ada mill cert-nya, kalo masih utuh (plat yang belum terpotong) mesti ada detail
stencil stamp-nya dan kalo sudah dalam bentuk potongan mesti ada kejelasan data heat/serial number
dsb.



Demikian semoga berguna.



Rgds/

Hasanuddin

Moderator KBK Mekanikal



Ref:

ASME VIII div 1

Self experiences

Modul kursus ASME VIII PV Engineering (Irridia)

Modul kursus sertifikasi ASME VIII PV Inspector (PPT MIGAS)

Modul kursus AK3 Boiler & PV Inspector (Depnaker)