You are on page 1of 9

UKURAN DAN TOLERANSI

METROLOGI INDUSTRI

A. Konsep Dasar
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mungkin melepaskan diri dari masalah
pengukuran. Walaupun anda sehari-hari hanya tinggal di rumah, apalagi anda yang bekerja
di bidang perindustrian, tentu akan menghadapi masalah pengukuran. Ada kalanya kita harus
memperhitungkan waktu bila bepergian, kadang-kadang harus menentukan suhu badan dan
tekanan darah seseorang, kadang-kadang kita harus menimbang sesuatu, mengukur panjang
dan tinggi sesuatu, dan sebagainya. Ini semua merupakan sesuatu rangkaian kecil dari proses
pengukuran yang memiliki karakteristik yang sangat luas. Dalam kehidupan sekarang ini
semua berjalan dengan cepat. Sudah selayaknya bila setiap orang dapat mengukur sesuatu
yang dikerjakannya agar tidak tertinggal dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
Saat ini untuk mengukur sesuatu tidaklah terlalu sulit karena adanya peralatan yang
serba lengkap. Semua negara di dunia ini berlomba-lomba untuk menghasilkan sesuatu yang
lebih unggul dari yang lain. Keadaan ini mereka ciptakan dari sektor perindustrian. Produk-
produk yang presisilah akhirnya yang menang. Untuk mendapatkan produk-produk yang
presisi ini tentunya tidak bisa lepas dari sistem dan proses pengukuran. Industri yang maju
juga memerlukan sistem dan proses pengukuran yang maju pula. Sistem dan proses
pengukuran tidaklah sesederhana seperti yang dibayangkan. Sifat atau karakteristik dari
pengukuran sebetulnya sangat luas sekali. Sudah barang tentu, untuk memberikan informasi
mengenai apa dan bagaimana pengukuran itu, maka harus ada disiplin ilmu tersendiri yang
membahasnya. Dengan adanya ilmu ini maka setiap orang dapat mempelajarinya untuk
memperoleh pengetahuan dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam dunia
pengukuran. Salah satu bidang ilmu yang banyak membicarakan masalah pengukuran adalah
metrologi.
Dari uraian diatas maka secara umum dapat dikatakan bahwa Metrologi adalah ilmu
yang mempelajari masalah pengukuran. Pengukuran di sini hanya yang berkaitan erat
dengan perindustrian. Dalam bidang perindustrian biasanya banyak melibatkan ilmu
pengetahuan keteknikan. Pengukuran di bidang keteknikan itu tidak hanya menyangkut
pengukuran panjang saja, tetapi juga menyangkut pengukuran suara/bunyi, getaran, tekanan,
tegangan, gaya, puntiran, usaha, kecepatan aliran zat cair dan temperatur. Modul ini tidak
akan membicarakan secara menyeluruh mengenai jenis pengukuran seperti yang telah
disebutkan diatas. Akan tetapi lebih dipersempit lagi pada masalah-masalah: geometris suatu
produk, pengukuran panjang dengan berbagai bentuk, pengukuran sudut dengan berbagai
bentuk. Karena penggunaan kata metrologi ini akan dikaitkan dengan masalah geometris
produk industri maka akan lebih tepat kalau disebut dengan istilah Metrologi Industri. Akan
tetapi, pengertian metrologi industri lebih mengkhususkan pada pengukuran geometris suatu
produk dengan cara dan alat yang tepat sehingga hasil pengukurannya mendekati
kebenaran dari keadaan yang sesungguhnya.
Untuk dapat melakukan proses pengukuran dengan tepat maka setiap orang, apalagi
mereka yang bekerja di bidang keteknikan diharuskan untuk mempelajari metrologi industri.
Yang dipelajari dalam metrologi industri tidak hanya menyangkut cara menggunakan alat
ukur saja, tetapi juga mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan erat dengan
masalah pengukuran.

B. Ukuran dan Toleransi
Dalam teknik bangunan dan mesin, untuk membuat segala peralatan atau komponen
haruslah direncanakan terlebih dahulu secara terperinci dan dibuat gambar pada gambar
perencanaan. Untuk melaksanakan pembuatannya, operator haruslah dapat membaca dan
mengerti apa yang dimaksudkan oleh gambar perencanaan tersebut. Namun, kadang
operator belum tentu mendapatkan hasil (terutama ukurannya) sesuai dengan yang tertera
pada gambar perencanaan.
Hasil kerja operator akan dapat memenuhi syarat seperti yang dikehendaki dalam
gambar perencanaan apabila operator telah memahami beberapa hal seperti dibawah ini:
1. Ukuran nominal
2. Ukuran sebenarnya
3. Ukuran batas
4. Toleransi
5. Penepatan/ Suaian

1. Ukuran Nominal
Ukuran ini biasanya disebut pula dengan ukuran dasar atau ukuran tetapan.
Maksudnya adalah harga ukuran yang tertera diatas garis ukuran pada gambar
perencanaan. Atau biasanya untuk masing-masing komponen berupa job pelaksanan
kerja. Sebagai contoh apabila suatu gambar kerja tertera ukuran Ø 15, maka suatu benda
yang harus dibuat dengan penampang berupa silindris dengan diameter nominal 15 mm.
2. Ukuran Sebenarnya
Ukuran sebenarnya adalah ukuran yang diambil dari benda kerja setelah dinyatakan
selesai dikerjakan oleh operator. Apabila kita perhatikan adanya penyimpangan antara
ukuran sebenarnya dengan ukuran nominal maka biasanya dalam pelaksanaan pada
batas-batas tertentu besarnya penyimpangan ini masih dapat diterima dan digunakan
dalam suatu rangkaian peralatan.
Mengenai penyimpangan dari ukuran sebenarnya terhadap ukuran nominal tadi
dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
a. Suhu dari lingkungan tempat bekerja dapt mempengaruhi suhu benda kerja
sehingga harga pengukuran tidak dapat sama dengan ukuran nominal setelah
suhu benda kerja itu dingin kembali.
b. Tidak sempurnanya alat ukur yang digunakan oleh operator.
c. Saat mengukur, operator tidak teliti.
d. Kondisi mesin yang digunakan tidak sama antara operator satu dengan yang lain.
3. Ukuran Batas
Ukuran batas adalah batas penyimpangan terhadap ukuran nominal paling jauh
yang diperbolehkan (penyimpangan atas paling jauh atau penyimpangan bawah paling
jauh yang diperbolehkan).
Harga penyimpangan ukuran pada komponen dari suatu rangkaian pada kegunaan
tertentu biasanya tidak selalu sama dan dimungkinkan keduanya dapat terjadi dibawah
(lebih kecil) dari ukuran nominal atau keduanya diatas (lebih besar) dari ukuran
nominal.
Gambar 1.1 Diagram penyimpangan
Keterangan:
1→Penyimpangan atas lebih besar dari pada ukuran nominal dan penyimpangan bawah
lebih kecil dari pada ukuran nominal.
2→Penyimpangan atas nol (= nominal) dan peyimpangan bawah (ukuran terkecil)
sejauh b dibawah ukuran nominal.
3→Penyimpangan atas sejauh a diatas ukuran nominal dan untuk penyimpangan bawah
nol (= nominal).
4→Penyimpangan atas sejauh a dibawah ukuran nominal dan untuk ukuran
penyimpangan bawah sejauh b dibawah ukuran nominal.
5→Penyimpangan atas sejauh a diatas ukuran nominal dan untuk penyimpangan bawah
sejauh b diatas nominal.
Dn→Diameter nominal
Dan untuk menunjukkan suatu penyimpangan lebih besar atau lebih kecil dari
ukuran nominal maka dibuat suatu kesepakatan bahwa semua penyimpangan yang
terletak diatas garis nominal dikatakan harga penyimpangannya positif dan diberi tanda
(+) dan apabila terletak dibawah garis nominal maka harga penyimpangannya negatif
dan diberi tanda (-).
Gambar 1.2 Harga penyimpangan
Keterangan:
1→Penyimpangan atas sejauh a bernilai positif (+) dan penyimpangan bawah sejauh b
bernilai positif (+).
2→ Penyimpangan atas sejauh a bernilai positif (+) dan penyimpangan bawah sejauh b
bernilai negatif (-).
3→Penyimpangan atas sejauh a bernilai negatif (-) dan penyimpangan bawah sejauh b
bernilai negatif (-).
Dn→Diameter nominal benda kerja.
Jadi penyimpangan atas maupun bawah dapt terjadi bernilai positif semua atau
negatif semua atau positif dan negatif yang nilainya tidak selalu sama antara dua
komponen walaupun akan dipasang satu sama lain.
4. Toleransi
Toleransi merupakan perbedaan harga antara ukuran batas terbesar dengan ukuran
batas terkecil dari penyimpangan ukuran yang diperbolehkan. Misalkan suatu poros
akan dipasangkan pada lubang dengan diameter sebesar Ø 20. Maksudnya adalah
diameter nominal porossama dengan diameter lubang yakni sebesar 20 mm. Tetapi
dalam rangkaian ini, diameter lubang sebenarnya boleh dibuat paling kecil Ø 19,9 dan
paling besar Ø 20, 1. Sedangkan untuk porosnya dapat dibuat paling besar Ø 20,05 dan
paling kecil 19,95. Pada rangkaian ini masing-masing toleransinya adalah:
Untuk lubang besarnya toleransi = 20,1 – 19,9 = 0,2 mm
Untuk poros besarnya toleransi = 20,05 -19,95 = 0,1 mm
Variasi ukuran yang sengaja dibuat ini sebetulnya ada tujuan-tujuan tertentu yang
salah satunya adalah untuk memperoleh suatu produk yang berfungsi sesuai dengan
yang direncanakan. Sudah tentu variasi-variasi ukuran ini ada batasnya dan batas-batas
ini memang diperhatikan betul menurut keperluan. Batas-batas ukuran yang
direncanakan tersebut menunjukkan variasi ukuran yang terletak diatas dan dibawah
ukuran dasar (basic size). Dengan adanya variasi harga-harga batas ini maka komponen-
komponen yang dibuat dapat dipasangkan satu sama lain sehingga fungsi dari satuan
unit komponen tersebut terpenuhi.
Besarnya toleransi merupakan selisih dari ukuran maksimum dan ukuran minimum.
Jadi, dari benda yang berbentuk poros mempunyai toleransi dan dari benda yang
berbentuk lubang juga mempunyai toleransi yang besarnya toleransi dari kedua benda
tersebut tidak selalu sama.
5. Penepatan/ Suaian
Penepatan/ suaian adalah keadaan atau hubungan yang terjadi pada dua komponen
yang disatukan (dirakit) yang disebabkan karena adanya perbedaan ukuran antara kedua
komponen sebelum kedua komponen tersebut disatukan.
Dalam pembahasan ini akan dianggap bahwa komponen yang dibuat berbentuk
silindris. Jadi, ada istilah lubang dan poros. Bila poros dan lubang ini dipasangkan satu
sama lain ada beberapa kemungkinan yang terjadi karena adanya perbedaan ukuran
antara keduanya. Kemungkinan-kemungkinan tersebut yaitu: ada pasangan yang
longgar, berarti masuk suaian longgar; ada pasangan yang pas, berarti masuk suaian pas;
dan ada pasangan yang harus dipaksa masuknya, ini dinamakan suaian paksa. Jadi,
paling tidak ada tiga suaian yang terjadi bila dua buah komponen disatukan yaitu: suaian
longgar, suaian pas, dan suaian paksa.
a. Suaian longgar (clearance fit)
Pada jenis ini biasa disebut dengan penepatan yang dapat bergerak. Jenis ini
memungkinkan rangkaian yang terpasang antar komponennya dapat bergerak
bebas. Keuntungan dari jenis ini adalah saat memasang maupun melepas
komponennya sangat mudah dan tidak merusak komponennya. Hal ini terjadi
karena daerah toleransi lubang selalu terletak di atas daerah toleransi poros.
Cara perakitan penepatan longgar adalah ukuran sebenarnya terkecil dari
lubang harus lebih besar dari pada ukuran sebenarnya terbesar dari poros.
Contoh penggunaan penepatan longgar misalnya pemasangan pena engkol
dengan batang torak.
b. Suaian pas (transition fit)
Jenis ini dapat juga disebut penepatan setengah longgar. Suaian ini dapat
menghasilkan kelonggaran atau kesesakan/kerapatan. Hal ini terjadi karena
daerah toleransi lubang dan daerah toleransi poros saling menutupi. Tetapi
pada saat memasang maupun melepas komponennya hanya memerlukan gaya
yang sedikit (kekuatan/ tarikan yang ringan) dan tidak akan meusak kedua
komponennya.
Cara pembuatannya adalah diameter sebenarnya dari poros dibuat sedikit
lebih besar dari pada diameter sebenarnya dari lubang.
Contoh penggunaan penepatan pas misalnya pemasangan pasak pada
alurnya.
c. Suaian paksa (interference fit)
Suaian paksa adalah suaian yang akan selalu menghasilkan kerapatan atau
kesesakan. Artinya, sebelum ataupun sesudah dua komponen dipasangkan
akan timbul kesesakan/kerapatan. Hal ini terjadi karena daerah toleransi
lubang selalu terletak di bawah daerah toleransi poros. Pada jenis ini, setelah
dalam keadaan terpasang komponennya akan menjadi kuat dan sukar untuk
dilepaskan. Apabila akan melepas komponen ini, biasanya harus merusak
salah satu ataupun kedua komponennya.
Cara perakitannya yakni dengan cara diameter sebenarnya dari poros harus
lebih besar dari pada diameter sebenarnya dari lubang.
Contoh penggunaan penepatan ini misalnya pemasangan pena engkol pada
pipi engkol.

Terjadinya suaian-suaian tersebut bukan karena kesalahan pada proses pembuatan,
tetapi disebabkan hal ini memang direncanakan mengingat fungsi dari komponen yang
dibuat tersebut. Dari ketiga macam suaian yang disebutkan di atas maka dapat kita
simpulkan bahwa untuk satu macam suaian dapat dibuat berbagi macam kombinasi.
Misalnya, suaian paksa dapat dicapai asal daerah toleransi lubang selalu terletak
dibawah daerah toleransi poros tanpa mempedulikan di mana letak daerah-daerah
toleransi tersebut terhadap garis nol. Untuk membatasi adanya berbagai macam
kombinasi ini maka ISO telah menetapkan dua macam sistem suaian yang bisa
digunakan yaitu: sistem satuan lubang dan sistem satuan poros.
a. Sistem satuan lubang (hole basis system)
Semua toleransi lubang ditentukan di daerah “H” tanpa memperdulikan
tingkatan suaian yang akan dibuat. Mengenai jenis penepatannya dapat dibuat
dengan jalan mengubah-ubah ukuran diameter porosnya.
Pembuatannya dengan cara ukuran batas terkecil dari lubang dibuat sama
dengan ukuran nominal (tidak boleh menyimpang lebih kecil lagi).
Gambar 1.3 Sistem satuan lubang (hole basis system)



b. Sistem satuan poros (shaft basis system)
Semua toleransi poros ditentukan di daerah “h” juga tanpa memperdulikan
tingkatan suaian yang dibuat. Untuk mendapatkan jenis penepatannya dapat dibuat
dengan jalan mengubah-ubah ukuran diameter lubangnya.
Pembuatannya dengan cara ukuran batas terbesar dari poros dibuat sama
dengan ukuran nominal (tidak boleh menyimpang lebih besar lagi).
Gambar 1.4 Sistem satuan poros (shaft basis system)

Untuk memberikan gambaran di mana letak atau posisi dari ketiga jenis suaian
(longgar, pas, paksa) pada kedua sistem suaian dapat dilihat pada Gambar 1.5 berikut
ini:

Gambar 1.5 Diagram skematis tiga jenis suaian
dalam sistem satuan poros dan sistem satuan lubang.
`