You are on page 1of 18

ISLAM DAN DUNIA

KONTEMPORER
Iis Islamiyah B1J013092
Weni Rahayu Putri B1J013094
Reza Pratama Nugraha B1J013096
Mufti Rahayu B1J013098
Annisa Dwi Septiani B1J013100
Erni Purwati B1J013104
Afrizal B1J013106

Kelompok 12
Dunia Islam saat ini memiliki dua tantangan, tantangan dari dalam diri sendiri
(internal) dan tantangan yang datang dari luar (eksternal ).
LATAR BELAKANG
Globalisasi ini dapat berpengaruh pada penggencetan, penekanan, dan
pelemahan dunia Islam. Oleh sebab itu guna menekan efek dari globalisasi yang
merupakan tantangan eksternal, dapat diawali dari upaya mengatasi
TANGTANGAN DARI DALAM DIRI SENDIRI (internal).
RUMUSAN MASALAH
Apakah dunia kontemporer Islam itu?
Bagaimana pandangan dalam Islam tentang adanya isu-isu
kontemporer?
Apa saja contoh isu-isu kontemporer?
DUNIA KONTEMPORER ISLAM
Dunia kontemporer Islam atau dunia pembaruan Islam adalah upaya-upaya untuk
menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang
ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern.

Di era modern dan post-modern sekarang ini, pemikiran dan kebudayaan Barat
mengungguli kebudayaan-kebudayaan lain, termasuk peradaban Islam. Namun
tradisi pinjam-meminjam yang terjadi telah bergeser menjadi proses “adopsi”,
yakni mengambil penuh konsep-konsep asing, khususnya Barat, tanpa proses
adaptasi atau integrasi. Apa yang dimaksud dengan konsep di sini bukan dalam
kaitannya dengan sains dan teknologi yang bersifat eksak, tetapi lebih berkaitan
dengan konsep keilmuan, kebudayaan, sosial, dan bahkan keagamaan.





Dalam konteks pembangunan peradaban Islam sekarang ini, proses adaptasi
pemikiran merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Namun sebelum
melakukan hal itu diperlukan suatu kemampuan untuk menguasai pandangan
hidup Islam dan sekaligus Barat. esensi peradaban Islam dan kebudayaan
Barat. Dengan demikian, seorang cendekiawan dapat berlaku adil terhadap
keduanya.
Dengan demikian Islam kontemporer merupakan gerakan pemikiran Islam di kalangan
intelektual Islam dalam menafsirkan kembali pemikiran Islam klasik dengan situasi
modern.
ISU-ISU KONTEMPORER
Islam dan Musik
Islam dan Gender

a. Berdasarkan firman Allah:

َ
هِ م
َ
َ
ِ
سب
َ
ىلا ه
َ
م ي
ِ
ر
َ
ت
ْ
ش
َ
ٌ
َ
ُ
ْ
ٍَل ِثٌِ د
َ
حْلا
َ
لِ ض
ُ
ٍِل ه
َ
ع
ِ
لٍ
ِ
ج
َ
س ِ ًَللا
ِ
ر
ْ
ٍَ غ
ِ
ث

مْلِ ع ب
َ
ٌَ رِ خ
َ
ت
َ
ٌ
َ
َ اً َ
ُ
ز
ُ
ٌ
َ
كِئَلَ
ُ
أ
ْ
م
ُ
ٍَل

ةا َ ر
َ
ع

هٍ
ِ
ٍُ م
“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan
manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang
menghinakan.” (Qs. Luqmân [31]: 6)
b. Hadits Abu Malik Al-Asy‟ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).”
[HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590].
c. Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-
kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih].
d. Hadits dari Ibnu Mas‟ud ra, Rasulullah Saw bersabda:
“Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits
mauquf].
e. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda:
“Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul
tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” [HR. Ibnu Abid Dunya.].
f. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan
seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan
merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).”
DALIL-DALIL YANG
MENGHARAMKAN NYANYIAN
a. Firman Allah SWT :
ب
َ
ٌ ب
َ
ٌٍُ
َ
أ
َ
هٌ ِ رَلا ْاُ
ُ
ى
َ
مآ َل ْاُ
ُ
م
ِّ
ر
َ
ح
ُ
ت ِتب
َ
ج
ِّ
ٍَط ب
َ
م
َ
ل
َ
ح
َ
أ
ُ
ًّللا
ْ
مُ كَل َل
َ
َ ْاَ
ُ
د
َ
ت
ْ
عَت َ ن
ِ
إ َ ًّللا َل ُ تِ ح
ُ
ٌ
َ
هٌ ِ د
َ
ت
ْ
ع
ُ
مْلا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu
melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
b. Hadits dari Nafi‟ ra, katanya:
Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya
dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak.
Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-
Baihaqi].
c. Ruba‟i Binti Mu‟awwidz Bin Afra berkata:
Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa
orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang
Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi
kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda:
“Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari
Aisyah ra].

d. Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda:
“Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari].
e. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi‟ir di masjid. Maka
Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata:
“Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal.
485].


DALIL-DALIL YANG MENGHALALKAN
NYANYIAN

Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). Ada hukum lain,
yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al-ghina’). Dalam bahasa Arab, ada
perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’). Mendengar
nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar, tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir
dalam proses menyanyinya seseorang. Sedangkan istima’ li al-ghina’, adalah lebih dari sekedar
mendengar, yaitu ada tambahannya berupa interaksi dengan penyanyi, yaitu duduk bersama
sang penyanyi, berada dalam satu forum, berdiam di sana, dan kemudian mendengarkan
nyanyian sang penyanyi (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-
Nas, hal. 104). Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah,
sedang mendengar-menghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah.
Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif, dan nyanyian serta kondisi yang
melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka
orang itu boleh mendengarkan nyanyian tersebut.
Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan
nyanyiannya adalah nyanyian haram, atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada
ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, maka aktivitasnya itu adalah
haram (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104).
Allah SWT berfirman :

ْ
م
ُ
ٍُلْ ث
ّ
ِ م اً ذ
ِ
إ
ْ
مُ ك
َ
و
ِ
إ ِ ي
ِ
ر
ْ
ٍ َ غ

ثٌِ د
َ
ح ًِف ْاُ
ُ
ضُ
ُ
خ
َ
ٌ ى
َ
ت
َ
ح
ْ
م
ُ
ٍ
َ
ع
َ
م ْاَ
ُ
د
ُ
عْ ق
َ
ت َلَ ف
“Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang
lainnya.”(Qs. an-Nisâ’ [4]: 140).

HUKUM MENDENGAR NYANYIAN
SECARA INTERAKTIF (ISTIMA’ AL-
GHINA’)

Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. Sebab memang
ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-
ghina’). Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya
wajib terikat dengan hukum syara‟ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). Sedangkan mendengarkan
lagu, termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah, yang hukum asalnya mubah. Af-‘âl jibiliyyah adalah
perbuatan-perbuatan alamiah manusia, yang muncul dari penciptaan manusia, seperti berjalan,
duduk, tidur, menggerakkan kaki, menggerakkan tangan, makan, minum, melihat, membaui,
mendengar, dan sebagainya.
Demikian pula mendengar. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan jibiliyyah, sehingga hukum
asalnya adalah boleh. Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Sekedar mendengarkan
nyanyian adalah mubah, bagaimanapun juga nyanyian itu. Sebab mendengar adalah perbuatan
jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Tetapi jika isi atau syair nyanyian itu mengandung
kemungkaran, kita tidak dibolehkan berdiam diri dan wajib melakukan amar ma‟ruf nahi munkar.
Nabi Saw bersabda:
“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan
fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya
(dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu
Dawud dan Ibnu Majah].

HUKUM MENDENGARKAN NYANYIAN
(SAMA’ AL-GHINA’)

Bagaimanakah hukum memainkan alat musik, seperti gitar, piano, rebana, dan
sebagainya? Jawabannya adalah, secara tekstual (nash), ada satu jenis alat musik
yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam hadits, yaitu ad-duff atau al-
ghirbal, atau rebana. Sabda Nabi Saw:
“Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” [HR. Ibnu
Majah] ( Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam
bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 52; Toha Yahya Omar, Hukum
Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 24).
Adapun selain alat musik ad-duff / al-ghirbal, maka ulama berbeda pendapat. Ada
yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Imam Ibnu Hazm dalam
kitabnya Al-Muhalla, juz VI, hal. 59 mengatakan:
“Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul -Nya tentang sesuatu yang kita
perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat -alat musik], maka
telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak. ” (Dr. Abdurrahman al-
Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57).
Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum
dasarnya. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu
suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan,
kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah.

HUKUM MEMAINKAN ALAT MUSIK

• Kesetaraan Gender Dalam Al Qur’an
Gender adalah pandangan atau keyakinan yang dibentuk masyarakat
tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan atau laki-laki bertingkah
laku maupun berpikir. Gender merupakan jenis kelamin sosial yang dibuat
masyarakat, yang belum tentu benar. Berbeda dengan Seks yang merupakan
jenis kelamin biologis ciptaan Tuhan.
• Apakah Al-quran mengatur tentang kesetaraan Gender?
(QS: Al-Isra ayat 70)“ Allah SWT telah menciptakan manusia yaitu laki-
laki dan perempuan dalam bentuk yang terbaik dengan kedudukan yang paling
terhormat”. Dihadapan Allah SWT, lelaki dan perempuan mempunyai derajat dan
kedudukan yang sama, dan yang membedakan antara lelaki dan perempuan
hanyalah dari segi biologisnya.

ISLAM DAN GENDER
• Tentang hakikat penciptaan lelaki dan perempuan
Allah SWT telah menciptakan manusia berpasang-pasangan yaitu lelaki dan
perempuan, supaya mereka hidup tenang dan tentram, agar saling mencintai dan
menyayangi serta kasih mengasihi, agar lahir dan menyebar banyak laki-laki dan
perempuan serta agar mereka saling mengenal.
(QS: Ar-rum ayat 21, An-nisa ayat 1, Hujurat ayat 13)
• Tentang kedudukan dan kesetaraan antara lelaki dan perempuan
Allah SWT secara khusus menunjuk baik kepada perempuan maupun lelaki
untuk menegakkan nilai-nilai islam dengan beriman, bertaqwa dan beramal. Allah SWT
juga memberikan peran dan tanggung jawab yang sama antara lelaki dan perempuan
dalam menjalankan kehidupan spiritualnya. Dan Allah pun memberikan sanksi yang
sama terhadap perempuan dan lelaki untuk semua kesalahan yang dilakukannya.
(QS: Ali-Imran ayat 195, An-nisa ayat 124, An-nahl ayat 97, Ataubah ayat 71-72, Al-
ahzab ayat 35)
1. Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Sebagai Hamba
Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56), (ditulis alqurannya dalam buku argumen kesetaraan gender hal
248) Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba
ideal dalam Qur‟an biasa diistilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa (mutaqqun), dan
untuk mencapai derajat mutaqqun ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku
bangsa atau kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al -Hujurat (49:13)

1. Perempuan dan Laki-laki sebagai Khalifah di Bumi
Kapasitas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al’ard) ditegaskan dalam Q.S.
al-An‟am(6:165), dan dalam Q.S. al-Baqarah (2:30) Dalam kedua ayat tersebut, kata
„khalifah" tidak menunjuk pada salah satu jenis kelamin tertentu, artinya, baik perempuan
maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan
mempertanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi.

PRINSIP KESETARAAN
• Dunia kontemporer Islam atau dunia pembaruan Islam adalah upaya-upaya
untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru
yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern.
• Isu-isu kontemporer Islam seperti melantunkan nyanyian, memainkan alat
music, dan mendengarkan music. Adapula tentang kesetaraan gender laki-
laki dan perempuan.
• Pandangan islam terhadap isu-isu kontemporer di atas berdasarkan ayat Al-
Qur‟an maupun dari beberapa perkataan Nabi muhammad saw serta
pendapat para ulama.

KESIMPULAN
• Perempuan dan Laki-laki Menerima Perjanjian Awal dengan Tuhan
Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian
awal dengan Tuhan, seperti dalam Q.S. al A‟raf (7:172) yakni ikrar akan keberadaan
Tuhan yang disaksikan oleh para malaikat. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam
tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-
sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur‟an juga menegaskan bahwa
Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaann jenis kelamin. (Q.S.
al-Isra‟/17:70

• Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Berpotensi Meraih Prestasi
Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan
dan laki-laki ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran
/3:195; Q.S.an-Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep
kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual,
baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh
satu jenis kelamin saja
• “Kesempurnaan yang hakiki sejatinya hanya milik Alloh SWT
semata ”