You are on page 1of 35

CAVING

“mengapa mereka mamasuki
gua?”

“ Adalah suatu kepuasan bagi
seorang penelusur gua bila lampu
yang dibawanya merupakan sinar
pertama yang mengungkapkan
sebuah pemandangan yang
menakjubkan di bawah tanah”.

Norman Edwin
AMALABERTA PALAS 2007
CAVING
Sebuah pengantar
Telusur Gua atau Caving berasal dari kata cave, artinya gua. Menurut Mc Clurg, cave
atau gua bearti “ruang alamiah di dalam bumi”, yang biasanya terdiri dari ruangan-
ruangan dan lorong-lorong.
Aktivitas Caving diterjemahkan sebagai „aktivitas penelusuran gua‟. Setiap aktivitas
penelusuran gua, tidak lepas dari keadaan gelap total. Justru keadaan seperti ini yang
menjadi daya tarik bagi seorang caver, sebutan untuk seorang penelusur gua.
Petualangan di lorong gelap bawah tanah menghasilkan pengalaman tersendiri.
Perasaan ingin tahu yang besar bercampur dengan perasaan cemas karena gelap total.
Ada apa dalam kegelapan itu ? membahayakankah ? adakah kehidupan di sana ?
Pertanyaan lebih jauh bagaimana lorong-lorong itu terbentuk ? Pertanyaan yang
kemudian timbul, kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang gua dan
aspeknya, termasuk misteri yang dikandungnya. Maka dikenal istilah “speleologi”.
Ruang lingkup ilmu pengetahuan ini tidak hanya keadaan fisik alamaiahnya saja, tetapi
juga potensinya; meliputi segi terbentuknya gua, bahan tambang, tata lingkungan,
geologi gua, dan segi-segi alamiah lainnya.
Kalau sebagian orang merasa enggan untuk mendekati “lubang gelap mengangga”,
maka para penelusur gua justru masuk kedalamnya, sampai berkilo-kilometer jauhnya.
Lubang sekecil apapun tak luput dari perhatiannya, jika perlu akan ditelusuri sampai
tempat yang paling dalam sekalipun.
Mc. Clurg mencatat, setiap penelusuran gua tidak menginginkan lorong yang
ditelusurinya berakhir, mereka mengharapkan di setiap kelokan di dalam gua dijumpai
lorong-lorong yang panjangnya tidak pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya.
Sehingga apabila orang bertanya, “ Mengapa mereka memasuki gua ?”, barangkali
catatan Norman Edwin adalah jawabannya, “ Adalah suatu kepuasan bagi seorang
penelusur gua bila lampu yang dibawanya merupakan sinar pertama yang
mengungkapkan sebuah pemandangan yang menakjubkan di bawah tanah”.

Sejarah Penelusuran Gua

• Sejarah penelusuran gua dimulai di Eropa sejak 200 tahun lalu. Eksplorasi pertama tercatat dalam sejarah adalah tanggal 15
Juli 1780, ketika Louis Marsalliers menuruni gua vertikal Fairies di Languedoc, Perancis. Kemudian pada tanggal 27 Juni 1888,
seorang ahli hukum dari Paris bernama Eduard Alfred Martel mengikuti jejak Marssalliers. Penelusurannya kali ini direncanakan
lebih matang dengan menggunakan peralatan lengkap seperti katrol, tangga gantung, dan perahu kanvas yang pada waktu itu
baru diperkenalkan oleh orang-orang Amerika. Bahkan telephone yang baru diperkenalkan digunakan untuk komunikasi di
dalam tanah. Usaha Martel ini dianggap sebagai revolusi di bidang penelusuran gua, sehingga ia disebut sebagai “Bapak
Speleologi Modern”.
• Prestasi Martel juga dalam hal memetakan gua yang merupakan kewajiban seorang penelusur guar ketika ia melakukan
eksplorasi gua ketika ia melakukan eksplorasi gua. Antara tahun 1888-1913, Martel telah banyak memetakan gua dalam setiap
penelusurannya, ini digunakan untuk kepentingan ilmiah, dan untuk merekam kedalaman serta panjang gua-gua tersebut.
• Ketika Perang Dunia II selesai, kegiatan penelusuran gua memunculkan kembali dua orang tokoh ; Robert de Jolly dan Norman
Casteret. De Jolly merupakan pembaharu di bidang peralatan peralatan penelusuran gua, seperti tangga gantung dari
aluminium dan perahu kanvas yang lebih sempurna. Penemuan ini mejadi standar bagi para penelusur gua sampai 50 tahun
kemudian. Sedangkan Casteret menjadi pioneer di bidang “cave diving”. Usahanya ini dilakukan pada tahun 1922, ketika
Casteret pertama kali menyelami lorong-lorong yang penuh air di gua Montespan tanpa bantuan peralatan apapun. Karangan-
karangan Casteret antara lain “My Cave” dan “Ten Years Under Ground”, yang kemudian menjadi buku pegangan bagi para
penggemar cave diving dan ahli speleologi.
• Kebanyakan penelusur gua memulai kegiatannya sebagai pemanjat tebing, karena memang kegiatan yang dilakukan hampir
serupa. Para pemanjat tebing pula yang memberi inspirasi bagi perkembangan penelusuran gua. French Alpine Club, sebuah
perkumpulan pendaki gunung ternama di Eropa telah mengadakan ekspedisi bawah tanah, dan untuk pertama kalinya
menggunakan tali sebagai pengganti tangga gantung. Kelompok ini pula yang mencipatakan rekor penurunan gua vertikal
sedalam 608m.
• Sejarah penelusuran gua sejalan dengan sejarah penelitian gua (speleologi), kedua kegiatan ini tak dapat dipisahkan satu
dengan lainnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Eduard Martel, Robert de Jolly, Norman Casteret dan banyak lagi penelusur gua
di seluruh dunia.
TERJADINYA GUA DAN JENISNYA
Dua unsur penting yang
memegang peran terjadinya gua,
yaitu rekahan dan cairan.
Rekahan atau lebih tepat disebut
sebagai “zona lemah”, merupakan
sasaran bagi suatu cairan yang
mempunyai potensi bergerak
keluar. Cairan ini dapat berupa
larutan magma atau air. Larutan
magma menerobos ke luar karena
kegiatan magmatis dan mengikis
sebagian daerah yang dilaluinya.
Apabila kegiatan ini berhenti,
maka bekas jejaknya (penyusutan
magma cair) akan meninggalkan
bentuk gua, lorong, celah atau
bentuk lain semacamnya. Ini
sering disebut gua lava, biasanya
di daerah gunung berapi.
proses terbentuknya gua
 Proses yang terjadi terhadap batuan yang dilaluinya, tidak hanya proses mekanis,
tetapi juga proses kimiawi. Karenanya, dinding celah atau gua, biasanya mempunyai
permukaan yang halus dan licin.
 Pembentukan gua lebih sering terjadi pada jenis batuan gamping, karst, dengan
komposisi dominan Kalsium Karbonat (CaCO3), disebut gua batu gamping. Batuan ini
sangat mudah larut dalam air, bisa air hujan atau air tanah. Oleh karenanya, reaksi
kimiawi dan pelarutan dapat terjadi di permukaan dan di bawah permukaan. Tetapi
sering kali ditemukan juga mineral-mineral hasil reaksi yang tidak larut di dalam air,
misalnya kuarsa dan mineral ‘lempung’. Lazimnya bahan-bahan ini akan membentuk
endapan tersendiri. Sedangkan larutan jenuh kalsium, di tempat yang tidak
terpengaruh oleh tenaga mekanis, diendapkan dalam bentuk kristalin, antara lain
berupa stalagtit dan stalagmit, yang tersusun dari mineral kalsit, dan variasi-variasai
ornamen gua lainnya yang menarik untuk dilihat.
 Air cenderung bergerak ke tampat yang lebih rendah. Sama dengan yang terjadi di
bawah permukaan. Sama dengan yang terjadi di bawah permukaan. Hal ini berakibat
daya reaksi dan pengikisan bersifat kumulatif. Tidak heran betapapun kecilnya
sebuah celah tempat masuknya air di permukaan dapat menyebabkan hasil
pengikisan berupa rongga yang besar, bahkan lebih besar di tempat yang lebih
dalam. Rongga yang terbentuk mestinya berhubungan pula, hal ini mungkin karena
sifat air yang mudah menyusup ke dalam celah yang kecil dan sempit sekalipun.
 Ukuran besarnya gua tidak hanya tergantung pada intensitas proses kimiawi dan
pengikisan yang berlangsung, akan tetapi juga ditentukan oleh jangka waktu proses
itu berlangsung. Sedangkan pola rongga yang terjadi di bawah permukaan tidak
menentu. Seandainya ditemukan pola rongga yang spesifik (mengikuti arah tertentu)
maka dapat diperkirakan faktor geologi ikut berperan, misalnya adanya sistim
patahan atau aspek geologis lainnya
gambar
Proses terbentuknya Gua









Gambar 1

Proses pembentukan
Stalaktik











Gambar 2
 Selain jenis lava dan batu gamping yang dapat
menyebabkan terjadinya gua, jenis batu pasir juga kadang-
kadang memungkinkan terjadinya gua, demikian pula
batuan yang membentuk lereng curam di tepi pantai.
Kedua jenis batuan yang terakhir ini, biasanya
mengakibatkan terjadinya gua yang tidak begitu dalam.
Tenaga yang mempengaruhinya adalah tenaga mekanis
berupa hantaman air atau hempasan ombak. Gua yang
terjadi di sini disebut gua laut.
 Di dalam proses pembentukan lorong ada banyak sekali
kemungkinan bentuk, termasuk juga pembentukan apa
yang kemudian kita sebut sebagai ornamen gua atau
speleothem, beberapa ornamen yang memiliki sifat sama
diberi nama; diantaranya;
Stalaktik
dan
Straw
ARAGONITE/ CRYSTALLINE
Terbentuk dari
CaCO3 jarang
dijumpai
Flowstone
Kalsit (Calcite) yang terdeposisi
(diendapkan) pada dinding lorong gua
Gours
Kumpulan kalsit yang terbentuk
di dalam air atau kemiringan
tanah. Aliran ini mengandung
banyak CO2, semakin CO2
menguap, kalsit yang terbentuk
semakin banyak
Helectite
Ornament gua yang
terbentuk atau timbul
dengan sudut yang
berlawanan dengan
gravitasi, biasanya
melingkar
Stalactite
Formasi kalsit
menggantung
Stalacmite
Formasi kalsit yang
tumbuh keatas,
dibawah atap stalactite
Straw
Seperti stalactite tapi
diameternya kecil,
sebesar tetesan air
Styalalite
Garis gelombang
yang terdapat pada
potongan batu
gamping
Pearls
Kumpulan batu kalsit
yang berkembang
dalam kolam dibawah
tetesan air , disebut
pearls karena
bentuknya mirip
mutiara
Curtain
Endapan yang berbentuk seperti
lembaran yang terlipat,
menggantung di langit-langin gua
dan dinding gua
Column
Rimstone
Pool
Berbentuk seperti bendungan yang terjadi karena
pengendapan air, CO2- nya menghilang dan
menyisakan kalsit yang bersusun-susun
ETIKA DALAM PENELUSURAN GUA
► Penelusuran gua merupakan kegiatan kelompok, karenanya dalam setiap penelusuran
tidak dibenarkan seorang diri. Jumlah minimal untuk sebuah eksplorasi gua adalah 4
orang. Hal ini didasarkan atas pertimbangan, jika terjadi kecelakaan pada salah seorang
anggota kelompok, satu orang dibutuhkan untuk menjaganya, sedangkan dua lainnya
mempersiapkan pertolongan (rescue), atau kalau tidak mungkin, cari pertolongan
kepada penduduk.
► Sebelum memasuki gua, hal yang harus dilakukan adalah meninggalkan pesan kepada
orang lain tentang : tujuan gua yang akan dimasuki, jumlah penelusur, lama kegiatan,
bagian gua yang akan dimasuki, dan lain-lain. Kemudian tinggalkan seorang pengamat di
luar gua. Orang ini akan sangat berguna untuk memberi peringatan, jika terjadi sesuatu
di luar gua, misalnya hujan lebat yang dapat mengakibatkan banjir dalam gua. Kalau
tidak mungkin, pelajarilah keadaan cuaca terakhir di daerah tersebut, juga disiplin waktu
yang disepakati.
► Hal lain yang harus diperhatikan, yaitu membawa makanan dan minuman. Paling penting
kondisi badan harus selalu fit di saat melakukan penelusuran gua. Sikap yang baik,
menyadari kemampuan diri sendiri dan tidak memaksakan diri untuk menelusuri gua, jika
kondisi atau kemampuan tidak memungkinkan.
► Satu hal yang harus diresapi dan disadari oleh setiap penelusur gua yaitu masalah
“konservasi”. Jangan mengambil apapun, jangan meninggalkan apapun dan jangan
bunuh apapun. Setiap buangan yang ditinggalkan akan merusak lingkungan biologis gua
yang sangat rapuh, misalnya sampah karbit. Bawalah semua sampah-sampah ke luar
gua dan buang ke tempat pembuangan sampah. Setiap kerusakan yang ditimbulkan oleh
penelusur adalah tindakan tercela, karena untuk merusakkan benda-benda dalam gua
misalnya stalagmit dan stalagtit hanya butuh beberapa detik saja, sedangkan proses
pembentukan benda-benda tersebut membutuhkan waktu ribuan bahkan jutaan tahun.
► Jika prinsip-prinsip di atas disadari dan dilaksanakan oleh penelusur gua, maka
semboyan: take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing
but time, terasa semakin berarti.
TEKNIK DALAM PENELUSURAN GUA

Penelusuran Gua Horisontal
► Pada dasarnya setiap penelusur gua, harus memulai perjalanannya dalam
kondisi tubuh fit . Malah dalam sebuah buku teks disebutkan , apabila badan
terasa kurang fit, sebaiknya perjalanan eksplorasi gua dibatalkan (etika
penelusuran gua). Hal ini disebabkan karena udara di dalam gua sangat buruk,
penuh deposit kotoran burung dan kelelawar, ditambah kelembaban yang
sangat tinggi. Mudah sekali dalam kondisi demikian seorang penelusur gua
terserang penyakit paru-paru, beberapa pioneer penelusur gua menghentikan
kegiatan eksplorasinya karena terserang penyakit ini.
► Selain memerlukan kondisi tubuh yang baik, seorang penelusur gua sedikit
banyak harus harus memiliki kelenturan tubuh dan yang terpenting tidak cepat
menjadi panik dalam keadaan gelap dan sempit. Bentuk tubuh juga
mempengaruhi kecepatan gerak seorang penelusur gua. Penelusur Gua ideal
adalah yang memiliki badan relatif kecil meskipun belum tentu menjadi
jaminan akan menjadi penelusur handal.
► Dalam penelusuran horisontal, kita lakukan gerak, jalan membungkuk,
merangkak, merayap, tengkurap, dan kadang terlentang, menyelam serta
berenang. Dengkul dan ujung siku merupakan sisi penting buat seorang
penelusur atau caver.
► Medan pada gua horisontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang
dapat dengan mudah di telusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik
khusus untuk dapat melewatinya.
1. Lumpur.
Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Tapi dalam
kondisi lumpur setinggi lutut bahkan sampai setinggi perut, kita tidak mudah untuk melaluinya.
Untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini akan
lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.
2. Air.
Untuk kondisi lorong gua yang berair. terutama gua yang belum pernah di masuki kita tidak
mengetahui kedalaman air dan kondisi di bawah permukaan air, untuk itu kita harus mengetahui
prosedur dan mempunyai fasilitas pendukung.
Syarat utama untuk melewati lorong yang berair adalah harus bisa berenang. Tetapi dengan
kondisi lorong yang serba terbatas, teknik berenang dalam gua berbeda dengan berenang di kolam
renang. Di sini kita memakai pakaian lengkap, sepatu bahkan mungkin membawa beban yang
cukup berat.
Pembagian team juga harus di sesuaikan, untuk leader ia tidak boleh membawa beban berat,
karena leader harus membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan.
Dalam kondisi tertentu kita menggunakan pelampung, perahu karet terutama untuk lorong yang
panjang dan berair dalam.
Ada juga lorong yang hampir semua di penuhi oleh air hanya ada ruangan sedikit yang tersisa.
Untuk melewatinya kita harus melakukan DUCKING ( kepala menengadah). Kadang-kadang kita
harus melepas helm untuk menambah ruang gerak kepala. Dalam kondisi tertentu kita melakukan
ducking dengan jongkok, bahkan dengan berbaring kalau badan tidak dapat masuk seluruhnya.
Diving, adalah teknik penyelaman dengan alat bantu pernafasan dan pakaian khusus. Teknik ini di
lakukan pada lorong yang seluruh bagiannya tertutup oleh air (sump, siphon). Untuk perbandingan
resiko kematian di cave diving adalah 60% tewas. Sedang resiko caving 15 %. Dengan melihat
perbandingan resiko kematian yang besar ini kita di tuntut untuk ekstra hati-hati, seyogyanya tidak
meneruskan penelusuran jika tanpa alat pendukung yang standart.
3. Climbing.
Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai
adanya water fall ataupun lorong yang terletak di atas kita.
Untuk dapat meneruskan penelusuran kita harus
menggunakan teknik-teknik Rock Climbing. Seperti
memasang pengaman sisip dan bor tebing untuk
pembuatan lintasan, yang melakukan adalah leader dan
kemudian anggota yang lain melewatinya dengan SRT.
Teknik rock climbing harus bisa di lakukan pada kondisi
medan seperti :
* Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui
kedalamannya.
* Gua yang berbentuk celah dan menyempit bagian
dasarnya
* Sungai besar atau danau yang dalam.
* Pemasangan rigging pada waterfall.
* Menghindari calcite floor atau oolith floor.

2 Penelusuran Gua Vertikal
►Untuk menelusuri gua-gua vertikal diperlukan
beberapa teknik pendukung antara lain :
► 1. SRT
►SRT hanya menggunakan satu tali tunggal, dan
menggunakan prinsip pemindahan beban ketika
menaiki tali tersebut, sehingga menggunakan dua
alat naik.
►Single Rope Technique (SRT) adalah teknik yang
dipergunakan untuk untuk menelusuri gua-gua
vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai
lintasan untuk naik dan turun medan-edan
vertikal.
► 2. Rigging
► Rigging adalah :
► Teknik pemasangan lintasan tali untuk gua-gua vertikal
dengan syarat-syarat tertentu.
► Syarat-syarat rigging yang baik :
► 1. Aman dilewati oleh semua anggota team.
► 2. Tidak merusak peralatan.
► 3. Dapat dilewati oleh semua anggota team, dengan
mudah.
► 4. Jika dibutuhkan untuk menjadi lintasan rescue, dapat
langsung dipergunakan atau dengan sedikit perubahan
saja.
► Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebelum
memulai pembuatan sebuah lintasan vertikal, yang
nantinya akan membantu untuk dapat mencapai syarat-
syarat rigging yang baik.
► . KEMUNGKINAN KECELAKAAN YANG TERJADI


► Sebagian besar kecelakaan yang terjadi di dalam gua, berasal dari kesalahan si
penelusur sendiri. Dalam keadaan yang sangat gelap sering kali seorang
penelusur melakukan kesalahan dalam menaksir jarak, sehingga sebuah
lubang yang cukup dalam, terlihat dangkal. Tipuan ini menyebabkan ia merasa
mampu untuk meloncat ke dalam lobang tersebut. Etikanya tidak
diperkenankan melakukan lompatan apapun di dalam gua.
► Tertimpa batu, merupakan kejadian yang sering terjadi, karena runtuhan alami
akibat rapuhnya dinding gua atau akibat ketidaksengajaan si penelusur gua
yang menyebabkan jatuhnya batuan dan menimpa penelusur lain. Helm
menjadi wajib dikenakan untuk melindungi kepala.
► Jenis kecelakaan yang lain, akibat buruknya atau tidak memenuhi syarat
perlengkapan yang dipakai, misalnya tali putus, ascender tidak berfungsi. Oleh
karena itu perawatan dan pemeliharaan alat-alat setelah digunakan mutlak
dilakukan. Jangan ragu-ragu untuk memotong tali pada bagian yang terkoyak
akibat gesekan, misalnya.
► Bahaya banjir merupakan faktor penyebab utama kecelakaan lainnya.
Demikian pula faktor suhu udara yang dingin, perlu diperhatikan terutama
pada saat melakukan eksplorasi di gua yang basah.
► Kejadian-kejadian di atas bukan tidak mungkin untuk dihindari, semuanya
tergantung dari persiapan dan pengalaman yang dimiliki oleh penelusur gua.
Tyrolean Traverse
Cave Rescue

Cave Rescue
Cave Dive
Fauna
Ayeless fish
Salamander
Kelelelawar
Mapping
Cave Map