You are on page 1of 22

1

BAB I
STATUS PASIEN

1.1 Identitas Pasien
Nama : An. Z
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 9 bulan
Agama : Islam
MRS : 30 Oktober 2013
Dokter yg merawat : dr. Yulia, Sp. A
1.2 Anamnesa (Alloanamnesa)
Keluhan Utama :
 Demam sejak 4 hari SMRS (Sabtu, 26 Oktober 2013)
Keluhan Tambahan :
 Anak tidak mau makan
 Anak tidur terus

Riwayat Penyakit Sekarang:
Anak demam sejak 4 hari SMRS. Sebelumnya, ± 1 minggu yang lalu anak mengalami
batuk-pilek disertai demam, batuk tidak berdahak, dan anak diberikan obat warung
kemudian anak sembuh
± 2 hari (Sabtu, 26 Oktober) setelah sembuh dari batuk pilek anak mengalami
demam. demam dirasakan tinggi mendadak dan terus-menerus, demam hanya turun
saat diberikan obat penurun panas saja tapi beberapa 1 jam kemudian anak kembali
2

demam. anak tidak mau makan tapi masih mau minum seperti biasa, tidak ada muntah,
BAB/BAK seperti biasa.
± 3 hari kemudian (Selasa, 29 Oktober, jam 10.00 wib) anak masih demam sehingga
orangtua membawa anak berobat ke Bidan setempat. Dari bidan anak mendapat terapi
obat puyer dan obat penurun panas melalalui anus. Kemudian anak tidur terus sampai
jam 11 malam sehingga untuk makan dan minum saja anak harus dibangun, orang tua
sempat mambangunkan anak beberapa kali untuk memberikan minum, tetapi tidak
banyak, pada tangan dan kaki anak mulai keluar bercak kemerahan berwarna merah.
Pada jam 12 malam anak mulai merengek/rewel terus dan anak mulai demam lagi, BAB
encer 1x
Esok harinya (Rabu pagi, 30 Oktober) orang tua merasa kaki-tangan anak teraba
dingin, BAK sulit di nilai karena anak menggunakan pampers. Karena khawatir, orangtua
membawa os ke Poliklinik RSIJ, dari hasil Laboratorium didapatkan trombosit anak 53
ribu sehingga anak langsung dirawat di PICU RSIJ

Riwayat Penyakit Dahulu : Belum pernah sakit seperti ini sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada yang sakit seperti ini
Riwayat Alergi : Alergi obat dan makanan disangkal
Riwayat Pengobatan : Os sudah diberikan obat penurun panas dan sudah di
bawa berobat ke bidan tapi tidak ada perubahan
Riwayat Kehamilan :Ibu os rutin berobat ANC ke Dokter setiap bulan, tidak
pernah sakit selama hamil
Riwayat Persalinan : Anak lahir SC karena Letak Lintang
BBL: 2200 gr
PBL: 48 cm
Riwayat Imunisasi : BCG 1x
3

Hepatitis B 3x
Polio 4x
DPT 4x
Campak : - ..karena anak demam
Kesimpulan : Imunisasi dasar tidak di lengkap

Riwayat Tumbuh Kembang:
 Motorik kasar
 Mulai tengkurap sejak usia 3 bulan dan duduk saat usia 7 bulan
 Motorik halus
 Memegang benda dan membenturkannya usia 6 bulan
 Bahasa
 Mulai mengoceh saat usia 4 bulan
 Personal sosial
 Takut pada orang lain usia 6 bulan
KESAN: Tumbuh kembang sesuai usia

Riwayat Makanan:
 SUSU FORMULA
 Sejak lahir
 Makanan keluarga
 Makan nasi dan sayur 3x/hr sejak usia 7 bulan
Anak selalu makan nasi lengkap dengan lauk dan sayuran, anak paling suka
megkonsumsi sayur bening
Kesan : kuantitas dan kualitas makan anak dalam batas normal


4

1.3 Pemeriksaan Fisik

KU : Tampak Sakit Berat
Kesadaran : Apatis
TTV:
TD : Tidak dilakukan
Suhu : 35,9
0
C
Pernapasan : 45x/menit, thorako-abdominal
Nadi : 140x/menit, lemah
SP02 : 100%, terpasang O2 nasal 1 lt/mnt
Kesan : keadaan umum dan tanda-tanda vital masuk ke tanda-tanda syok
Antropometri:
Berat badan : 7,7 kg
Tinggi Badan : 68 cm
Status gizi :
BB/U = 7,7 / 9,2 x 100 % = 83,69 % (gizi baik)
TB/U = 68 / 72 x 100 % = 94,4 % (baik)
BB/TB = 7,7 / 8 x 100 % = 96,25 % (gizi baik)
Kesan Gizi : Gizi baik



5

Status Generalisata:
Kepala
Bentuk : normochepal , Lingkar Kepala : 43 cm
Ubun-ubun : sudah menutup, cekung (-)
 Mata
 Reflex pupil (+), isokor
 Sklera ikterus (-)
 Konjungiva anemis (-)
 Hidung
 Deviasi septum nasi (-)
 Pernafasan cuping hidung (-)
 Sekret (-), epistaksis (-),
 Lidah dan Mulut
 Sianosis (-)
 Mukosa bibir kering (+)
 Perdarahan gusi (-)
 Terpasang NGT
 Kulit dah KGB
 Bercak kemerahan (+)
 Tidak terdapat pembesaran KGB axilla & inguinal

 Leher
 Pembesaran KGB (-)
 Retraksi Supra sternal (-)
Kesan : kepala dalam batas normal



6

Thoraks : Normochest
Inspeksi
Dada : simetris kanan kiri
Retraksi : -/-
Palpasi
Vocal premitus : simetris kanan kiri
Dada tertinggal : -/-
Nyeri tekan : -/-
Massa : -
Perkusi paru : Sonor +/+
Auskultasi : Vesikuler
Wheezing : -/-
Ronki : -/-
Jantung : BJ I dan II normal, murmur (-), gallop (-)
Kesan : thoraks dalam batas normal
Abdomen :
Inspeksi : distensi abdomen (+)
Auskultasi : bising usus (+)
Palpasi : turgor kembali lambat (-), hepatomegali sulit di nilai
Perkusi : timpani, asites (-)
Kesan : inspkes, auskultasi dan perkusi abdomen dalam batas normal, sedangkan
palpasi hepatomegali sulit di nilai
7

Ekstremitas :
atas bawah
Sianosis : -/- -/-
Akral : dingin dingin
Oedem : -/- -/-
Petekie : +/+ +/+
RCT > 3 detik
Kesan : akral dingin dan RCT memanjang (tanda-tanda syok)

1.4 Laboratorium
Pemeriksaan tanggal 30/10/2013....Pagi/ di Poliklinik
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hematologi Rutin
Haemoglobin
Jml Leukosit
Hematokrit
Jml Trombosit
Eritrosit
MCV/VER
MCH/HER
MCHC/KHER
H14,7
12,79
43
L53
H6,23
L69
24
H34

g/dL
ribu/μL
%
ribu/μL
10^6/ μL
fL
pg
g/dL
10,5 - 12,9
6.00 – 17.50
35 – 43
217 – 491
3.60 – 5.20
74 – 106
21 – 33
28 - 32

8

Tgl 30/10/2013 jam 17.00
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
Hematologi Rutin
Haemoglobin
Jml Leukosit
Hematokrit
Jml Trombosit
GDS
Natrium
Kalium
Klorida
H13,4
8.46
39
L48
85
135
5.3
98

g/dL
ribu/μL
%
ribu/μL
mg/dL
mEq/L
mEq/L
mEq/L

10,5 - 12,9
6.00 – 17.50
35 – 43
217 – 491
70 – 200
135 – 147
3,6 – 5,8
94 - 111


1.5 Resume
An. ♂ 9 bulan, Demam sejak 4 hari SMRS. Sebelumnya anak batuk-pilek tetapi sudah
sembuh. 2 hari kemudian anak demam, disertai BAB encer 1x, anak tidak mau makan
dan minum, anak tidur terus. Dari pemeriksaan fisik didaptkan:
Pemfis: KU: tampak sakit berat, Kesadaran: Apatis
T : 35,9
o
C
RR : 45 x /mnt
HR : 140 x/ mnt, lemah
Ekstremitas : Akral dingin, Ptekie (+)
Laboratorium:
Hb : 14,7 g/dL
Ht : 43%
Trombosit : 53 ribu/μL
9

1.6 Assesment
- Febris
- Gangguan tingkat kesadaran
- Gangguan hemodinamik

1.7 Diagnosis
D. Imunisasi : Imunisasi Dasar Belum Lengkap
D. Tumbuh kembang : Tumbang Sesuai Usia
D. Gizi : Gizi baik
D. Klinis : DHF Grade III

1.8 Diagnosis kerja
DHF Grade III

1.9 Rencana terapi
Oksigenisasi  O2 lembab 1 L/menit
IVFD:
RL/Asering : 80 cc / jam (habis dalam 2 jam) ...Selanjutnya 16 tts/mnt
Ceftriaxone 1 x 600 mg
Probi 2 x1 sch
Tempra dropp 3 x 0,8 ml
Diit bubur nasi tanpa santan 800 kalori

1.10 Rencana pemeriksaan penunjang
Cek HHTL / 6 jam


10

FOLLOW UP
Tgl/Jam S O A P
31-10-13
08.00 WIB
Demam (-),
mimisan (-),
bintik merah
berkurang, BAK
lancar, kembung
(+)
HR : 120 x/menit
RR : 30 x/menit
S : 36,0
o
C
Petekie berkurang
Cairan NGT coklat
Balance: +992,5
h/ lab tgl 31-10-11
Hb : 13,6 g/dL
Lksit : 11,10
Trbsit : 34
Ht : 39

DHF grade
III sakit hari
ke-5
-Cek HHTL / 6 jm
-Aped 250 cc/hr
(10 cc/jam)
-Asering 450cc/hr
(18,7 cc/jam)
-Inj Rantin
2x10mg
-Eks lasix 2x10
mg
-R/ pindah
ruangan
01-11-13
08.00 WIB
(os sudah di
Bangsal Badar)
Anak msh tidak
mau makan
HR : 120 x/menit
RR : 26 x/menit
S : 36,6
o
C

h/ lab tgl 1-10-131
Hb : 10,9 g/dL
Lksit : 7,07
Trbsit : 32
Ht : 32

DHF grade II
sakit hari ke-
6 dengan
perbaikan
-Cek HHTL/12jm
-Inf RL 10 tpm
-Ceftriaxone iv
1x600 mg
-Rantin stop
-Lasix stop
-Ma/mi bebas

Ringkasan Follow Up
Tgl Jam Hb Ht Trombosit Leukosit
30/10/13 15.00 13,4 39 48.000 8.400
21.00 13,6 39 34.000 11.100
31/10/13 03.00 13,2 38 28.000 11.700
09.00 12,8 40 24.000 9.900
15.00 11,7 35 40.000 8.300
21.00 11,0 32 31.000 6.200
1/11/13 04.00 10,2 32 32.000 7.010
09.00 10,2 32 20.000 7.700
18.00 10,1 30 28.000 7.400




11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. INFEKSI VIRUS DENGUE
Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat
hampir di seluruh pelosok Indonesia.
Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spectrum manifestasi klinis
yang bervariasi antara penyakit paling ringan (mild undifferentiated febrile illness),
demam dengue, demam berdarah dengue (DBD) sampai demam berdarah dengue
disertai syok (dengue shok syndrome = DSS). Gambaran manifestasi klinis yang
bervariasi ini memperlihatkan sebuah fenomena gunung es, dengan kasus DBD dan DSS
yang dirawat di rumah sakit sebagai puncak gunung es yang terlihat di atas permukaan
laut, sedangkan kasus dengue ringan merupakan dasarnya.
Perbedaan patofisiologik utama antara DD/DBD/DS dan penyakit lain ialah adanya
peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan perembesan plasma dan gangguan
hemostasis. Demam berdarah dengue ditandai oleh 4 manifestasi yaitu demam tinggi,
perdarahan, terutama perdarahan kulit, hepatomegali, dan kegagalan peredaran darah.

B. EPIDEMIOLOGI
Istilah haemorrhagic fever di Asia Tenggara pertama kali digunakan di Filipina
pada tahun 1953. Di Jakarta kasus pertama dilaporkan pada tahun 1969, pada saat ini
DBD sudah endemis di banyak kota-kota besar, bahkan sejak tahun 1975 penyakit ini
talah berjangkit di daerah pedesaan. Berdasarkan jumlah kasus DBD, Indonesia
menempati urutan kedua setelah Thailand. Sejak tahun 1968 angka kesakitan rata-rata
DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968), menjadi 8,14 (1973), 8,65 (1983)
dan mencapai angka tertinggi pada tahun 1998 yaitu 35,19 per 100.000 penduduk
dengan jumlah penderita sebanyak 72.133 orang.
Morbiditas dan mortalitas DBD yang dilaporkan berbagai Negara bervariasi
disebabkan beberapa faktor, antara lain status umur penduduk, kepadatan vector, tingkat
penyebaran virus dengue, prevalensi serotype virus dengue dan kondisi meteorologis.
Pada awal terjadinya wabah di sebuah Negara, pola distribusi umur memperlihaatkan
12

proporsi kasus terbanyak berasal dari golongan anak berumur < 15 tahun (86-95%).
Namun pada wabah selanjutya, jumlah kasus golongan usia dewasa muda meningkat.

C. ETIOLOGI
Virus dengue termasuk group B arthropod bone vius (arboviruses) dan sekarang
dikenal sebagai genus flavivius, famili Flaviviridae, yang mempunyai 4 jenis serotipe
yaitu den-1, den-2, den-3, den-4. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan
antibodi seumur hidup terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak ada
perlindungan terhadap serotipe yang lain.
Di Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di
beberapa rumah sakit menunjukan bahwa keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi
sepanjang tahun. Serotipe den-3 merupakan serotipe yang dominan dan banyak
berhubungan dengan kasus berat.


D. PATOGENESIS
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi, hemodinamika, dan biokimiawi
DBD belum diketahui secara pasti karena kesukaran mendapatkan model binatang
percobaan yang dapat menimbulkan gejala klinis DBD seperti pada manusia. Hingga
kini sebagian besar sarjana masih menganut the secondary heterologous infection
hypothesis yang menyatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah
terinfeksi virus dengue pertama kali mendapatkan infeksi kedua dengan virus dengue
serotipe lain dalam jarak waktu 6 bulan sampai 5 tahun.
13

Secondary heterologous dengue infection
Replikasi virus Anamnestic antibody respons
Kompleks virus-antibodi
Aktifasi komplemen
Anafilatoksin (C3a, C5a)
Komplemen menurun
Histamin dalam urin
Permeabilitas kapiler meningkat
Perembesanplasma
Hipovolemia
Syok
Meninggal
Asidosis
Anoksia
Ht meningkat
Natrium turun
Cairan dalam
rongga serosa
30% kasus
syok



E. MANIFESTASI KLINIK

Demam berdarah dengue ditandai oleh 4 manifestasi yaitu demam tinggi,
perdarahan, terutama perdarahan kulit, hepatomegali, dan kegagalan peredaran
darah.fenomena patofisiologi utama yang menentukan derajat penyakit dan membedakan
DBD dari DD ialah peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya
volume plasma, trombositopenia, dan diathesis hemoragik. Perbedaan gejala antara DBD
dan DD tertera pada tabel berikut :

DD GEJALA KLINIS DBD
++ Nyeri Kepala +
+++ Muntah ++
+ Mual +
++ Nyeri otot +
++ Ruam kulit +
14

++ Diare +
+ Batuk +
+ Pilek +
++ Limfadenopati +
0 Obstipasi +
+ Uji turniquet + ++
++++ Petekie +++
0 Perdarahan sal cerna +
++ Hepatomegali +++
+ Nyeri perut +++
++ Trombositopenia ++++
0 Syok +++
Keterangan : (+): 25%, (++):50%, (+++):75%, (++++):100%

Pada DBD terdapat perdarahan kulit, uji tourniquet positif, memar dan perdarahan
pada tempat pengambilan darah vena. Petekia halus yang tersebar di anggota gerak,
muka, aksila seringkali ditemukan pada masa dini demam. Sedangkan pada masa
konvalesens seringkali ditemukan eritema pada telapak tangan/telapak kaki.
Pada DBD syok, setelah demam berlangsung salama beberapa hari keadaan umum
tiba-tiba memburuk, hal ini biasanya terjadi pada saat atau setelah demam menurun,
yaitu diantara hari sakit ke 3-7. Pada sebagian besar kasus ditemukan tanda kegagalan
peredaran darah, kulit teraba lembab dan dingin, sianosis sekitar mulut, nadi menjadi
cepat dan lembut. Anak tampak lesu, gelisah, dan secara cepat masuk dalam fase syok.


15

Patokan diagnosis DBD (WHO) berdasarkan gejala klinis dan laboratorium
 Klinis
Demam tinggi mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari
1. Manifestasi perdarahan, minimal uji tourniquet positif dan salah satu bentuk
perdarahan lain (petekia, purpura,ekimosis,epistasis,perdarahan gusi),
hematemesis dan melena.
2. Pembesaran hati
3. Syok yang ditandai nadi lemah dan cepat disertai tekanan nadi menurun
(≤20mmHg), tekanan darah menurun (tekanan sistol ≤80mmHg) disertai kulit
yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung , jari dan kaki, pasien
menjadi gelisah, dan timbul sianosis disekitar mulut.

 Laboratorium
Trombositopenia (≤100.000/ul) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari
peningkatan nilai hematokrit ≥20% dibandingkan dengan nilai hematokrit pada masa
sebelum sakit atau masa konvalesen. Ditemukannya dua atau tiga patokan klinis
pertama disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk klinis
membuat diagnosis DBD. Dengan patokan ini 87% kasus tersangka DBD dapat
didiagnosis dengan tepat, yang dibuktikan olah pemeriksaan serologis, dan dapat
dihindari diagnosis berlebihan.

WHO (1975) membagi derajat penyakit DBD dalam 4 Derajat yaitu :
1. Derajat I
Demam di sertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji tourniquet +.
2. Derajat II
Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan/ perdarahan lain
3. Derajat III
Ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut, Tekanan nadi
menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab,dan pasien
menjadi gelisah.
4. Derajat IV
16

Syok berat, nadi tdk teraba dan TD tidak dapat di ukur.




F. KRITERIA DIAGNOSIS
 Kontak dengan penderita DBD atau DSS
 Kriteria WHO
- Gejala klinis
a. demam tinggi mendadak 2 – 7 hari
b. manifestasi perdarahan
- Hepatomegali
- Tanpa atau dengan gejala renjatan
 Laboratorium
- Trombositopenia (<100.000/ul)
- Hemokonsentrasi (Ht ≥20%)

Diagnosis klinis ditegakkan bila didapatkan >2 gejala klinis dan satu dari riteria
laboratorium (atau hanya peningkatan hematorit) cukup untuk menegakkan diagnosis
DBD.


Kurva panas pada DBD
17

Pemeriksaan Penunjang
• Darah perifer
• NS1
• Uji serologi
• Elektrolit
• Tubex TF  untuk membedakan dengan demam tifoid
• Foto thorax

G. PEMERIKSAAN SEROLOGIS
Setelah satu minggu tubuh terinfeksi virus dengue, terjadi viremia yang diikuti
oleh pembentukan IgM-antidengue. Pada kira-kira hari ke lima infeksi terbentuklah
antibodi yang bersifat menetralisasi virus (neutralizing antibody). Setelah antibody NT,
akan timbul antibodi yang mempunyai sifat menghambat hemaglutinasi sel darah merah
angsa (haemaglutination inhibiting antibody= HI). Antibodi yang terakhir, yaitu
antibodi yang mengikat complement (complement fixing antibody= CF), timbul pada
sekitar hari keduapuluh.
Pada dasarnya diagnosis konfirmasi infeksi virus dengue ditegakkan atas hasil
pemeriksaan serologic atau hasil isolasi virus. Dasar pemeriksaan serologis adalah
membandingkan titer antibody pada masa akut dengan konvalesen. Teknik pemeriksaan
serologi yang dianjurkan WHO ialah pemeriksaan HI dan CF.


H. PENATALAKSANAAN
Demam :
1. Antipiretik (parasetamol) 10-15 mg/kgBB/x :3-4
2. Pemberian cairan
3. Penggantian volume plasma

Kebutuhan cairan rumatan:
100ml/kgBB (BB 10 kg), + 50 ml/kgBB (BB > 10 kg)
Jenis cairan: kristaloid (RL, RLD, RA, RAD, NaCL 0.9%) dan koloid.
18

a. Tatalaksana Demam Dengue
Sebagian besar anak dengan Demam Dengue dapat dirawat di rumah dengan
memberikan nasehat perawatan kepada orang tua anak. Berikan anak banyak minum
dengan air hangat atau larutan oralit untuk mengganti cairan yang hilang akibat
demam dan muntah. Berikan parasetamol untuk demam. Jangan berikan asetosal atau
ibuprofen karena obat-obatan ini dapat merangsang perdarahan. Anak harus dibawa
ke rumah sakit apabila demam tinggi, kejang, tidak mau minum atau muntah terus
menerus.

b. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue tanpa syok
Anak dirawat di rumah sakit
 Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah atau air sirup atau susu
untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma, demam, muntah atau
diare
 Berikan parasetamol bila demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen karena
obat-obatan ini dapat merangsang terjadinya perdarahan
 Berikan infuse sesuai dengan derajat dehidrasi sedang
 Berikan hanya larutan isotonic seperti Ringer Laktat atau Asetat
 Kebutuhan cairan parenteral :
- Berat badan < 15 kg : 7 ml/kgBB/jam
- Berat badan 15-40 kg : 5 ml/kgBB/jam
- Berat badan > 40 kg : 3 ml/kgBB/jam
 Pantau tanda vital dan dieresis tiap jam, serta periksa laboratorium : HHTL tiap
6 jam
 Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik, turunkan jumlah
cairan secara bertahap sampai keadaan stabil. Cairan intravena biasanya hanya
19

memerlukan waktu 24-48 jam sejak kebocoran pembuluh kapiler spontan
setelah pemberian cairan
 Apabila terjadi perburukan klinis, berika tatalaksana sesuai dengan
tatalaksaa syok terkompensasi (compensated shock).

c. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue dengan syok
 Perlakukan hal ini kegawatdaruratan. Berikan Oksigen 2-4 liter/menit secara
nasal
 Berikan 20 mg/kgBB larutan kristaloid seperti Ringer Laktat atau Asetat
secepatnya
 Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20 ml/kgBB
secepatnya, maksimal 30 menit, atau pertimbangkan pemberian Koloid 10-20
ml/kgBB/jam, maksimal 30 ml/kgBB/24 jam
 Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan Hemoglobin menurun,
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi, berikan transfuse
darah/komponen
 Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler & perfusi perifer mulai
membaik, tekana dahi melebar. Jumlah cairan dikurangi hingga 10 ml/kgBB/jam
dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam sesuai kondisi klinis
dan laboratorium
 Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 26-48 jam.


20


Tatalaksana DBD derajat II dengan
peningkatan Ht >20%
Cairan awal 6-7ml/kgBB/jam
Tetesan dikurangi
5ml/kgBB/jam
3ml/kgBB/jam
Stop dalam 24-48jam
Monitor tanda vital
Hb,Ht,trombo tiap 6-12jam
Perbaikan
Gelisah
Distres nafas
Frek nadi naik
Ht tinggi
Tek nadi <20mmHg
Diuresis kurang
Evaluasi 15 menit
Tidak ada perbaikan
Tetesan dinaikkan
10-15 ml/kgBB/jam
Tanda vital tidak stabil
Tatalaksana DSS
Tidak gelisah
Nadi kuat
Tek drh stabil
Ht turun
Diuresis 1ml/kgBB/jam


DBD derajat I dan II tanpa peningkatan HT
Gejala klinis: demam 2-7 hari, uji
tourniquet + / perdarahan spontan

Lab: HT tdk meningkat
Trombositopenia ringan
Pasien tidak dapat minum
Pasien muntah terus menerus
Pasien masih dapat minum
Beri minum1-2 L/hr
Jenis minuman:air putih,teh manis,
sirup,jus buah,susu,oralit
Bila suhu >38,5
0
C beri parasetamol
Bila kejang beri obat antikunfulsif
Pasang infus NaCl 0,9%:
dekstrosa 5%(1:3)
Periksa HHTL 6-12 jam
HT naik / TR turun
Monitor gejala klinis dan Lab
Perhatikan tnd syok
Palpasi hati setiap hari
Ukur diuresis setiap hari
Awasi prdrhn
Periksa HHTL 6-12jam
Infus ganti RL
Perbaikan klinis n lab
Pulang
21

DBD syok
O2 2-4 l/menit
Penggantian Vol cairan plasma :
RL/NaCL 0,9% : 20ml/kgbb/jam
secepatnya (bolus dalam 30 menit)
Evaluasi 30 menit, syok telah teratasi? ( pantau tanda
Vital tiap 10 menit ).
Ya
Tidak
Tetesan sesuaikan
10mg/kgBB/jam
Evaluasi ketat
Tanda vital, Diuresis,tanda perdarahan
HHTL
Stabil dlm 24 jam/Ht< 40
Tetesan 5 ml/kgBB/jam
Stop cairan tidak >48 jam
setelah syok teratasi
Lanjutkan cairan
20mg/kgBB/jam + Dekstran/FPP 10-
20ml/kgBB/jam ( max 30 )
Koreksi asidosis
Evaluasi 1 jam
Tidak teratasi Teratasi
Ht
turun naik
Koloid
20ml/kgBB
Transfusi darah segar
10 ml/kgBB diulang
Sesuai kebutuhan


Kriteria memulangkan Pasien:
• Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
• Nafsu makan membaik
• Klinis perbaikan hematokrit stabil
• Trombosit > 50.000/ul dan cenderung meningkat
• Tidak dijumpai distres pernapasan
• 3 hari setelah syok teratasi

I. PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu
nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan
22

Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain
rumah. Sebagai contoh:
- Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
- Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
- Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
- Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan
lain sebagainya.

2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik
(ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
- Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna
untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
- Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air
seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M Plus”, yaitu menutup,
menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara
ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur,
memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang
obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.