You are on page 1of 5

Prinsip Induksi Matematika

Aleams Barra
Institut Teknologi Bandung
14 November 2000
Abstract
Kita akan membahas prinsip induksi matematika, suatu prinsip matem-
atika yang meskipun sederhana tapi merupakan suatu alat yang cukup
berguna untuk menyelesaikan beragam masalah matematika. Akan di
paparkan pula beberapa varian dari prinsip induksi matematika ini.
Induksi matematika adalah salah satu penalaran matematika yang paling
mendasar. Ia berlandaskan aksioma aritmatika yang sifatnya mendasar tapi
jarang diformulasikan secara eksplisit.
Teorema 1 Prinsip Bilangan Terkecil. Setiap himpunan bagian takkosong M
dari himpunan bilangan bulat positif N memiliki unsur terkecil.
Cukup mengejutkan bahwa ternyata prinsip ini sangat aplikatif untuk menye-
lesaikan beragam soal.
Masalah 2 Buktikan bahwa kita dapat memperoleh air sebanyak n 8 liter
dengan hanya menggunakan alat ukur berkapasitas 3 dan 5 liter saja.
Solusi. Misalkan bahwa pernyataan pada masalah diatas tidak benar dan
terdapat bilangan bulat positif m 8 sehingga m tidak dapat diperoleh dengan
menggunakan ukuran 3 dan 5 liter. Dengan prinsip bilangan terkecil (PBT)
terdapat bilangan bulat positif terkecil s yang bersifat seperti m. Jelas bahwa
s bukan 8, 9, atau 10 karena 8 = 3 + 5, 9 = 3 + 3 + 3, dan 10 = 5 + 5. Dengan
demikian s −3 8 dan karena s minimal maka haruslah s −3 dapat dihasilkan
dari ukuran 3 dan 5 liter. Akan tetapi dengan menambahnya lagi dengan 3
liter maka kita dapat menghsilkan s dari ukuran 3 dan 5 liter, yang merupakan
suatu kontradiksi.
Masalah 3 Buktikan bahwa sebarang bilangan positif N dapat dinyatakan se-
bagai jumlah dari bilangan pangkat 1, 2, 2
2
, 2
3
, ..., 2
n
, ... yang berbeda.
Solusi. Misalkan M merupakan bilangan terkecil yang tidak dapat diny-
atakan seperti yang kita inginkan. Maka M terletak diantara 2
k
< M < 2
k+1
untuk suatu k. Karena M minimal, bilangan M −2
k
dapat dinyatakan sebagai
M −2
k
= 2
i
1
+ 2
i
2
+... + 2
i
s
,
1
dengan i
1
< ... < i
s
. Karena M − 2
k
< 2
k
, jelas bahwa 2
k
> 2
i
s
. Dengan
demikian
M = 2
i
1
+ 2
i
2
+... + 2
i
s
+ 2
k
merupakan representasi dari M sebagai jumlah dari bilangan 2 berpangkat yang
berbeda. Kontradiksi ini membuktikan pernyataan kita.
Terdapat beberapa variasi dari Prinsip Induksi Matematika, yang semuanya
dapat dibuktikan dengan menggunakan PBT. Kita hanya akan membuktikan
hanya jenis yang pertama, yang lainnya dapat dibuktikan secara serupa.
Teorema 4 (Prinsip Induksi Matematika) Misalkan kita hendak membuktikan
keberlakuan A, yakni bahwa
A
k
, A
k+1
, A
k+2
, ...
merupakan barisan dari proposisi-proposisi yang benar.
Misalkan bahwa
1. A
k
benar (dapat dibuktikan)
2. A
m
=⇒ A
m+1
, untuk setiap m k, yang berarti bahwa kita dapat mem-
buktikan A
m+1
dengan menggunakan A
m
yang sudah kita asumsikan be-
nar.
Maka semua proposisi pada barisan tersebut benar, dan A benar.
Bukti. Pandang himpunan M, himpunan semua m sehingga A
m
tidak
benar. Menurut PBT M ini mempunyai unsur terkecil, sebut ia m
o
. Karena
menurut kondisi 1, A
k
benar, maka haruslah m
0
−1 k. Karena m
0
−1 < m
0
maka dengan keminimalan m
0
haruslah A
m
0
−1
benar. Tapi menurut kondisi 2
hal ini akan mengakibatkan A
m
0
juga benar, suatu kontradiksi.
Masalah 5 Suatu fungsi f didefinisikan pada selang [0, 1] . Diketahui bahwa
fungsi tersebut bernilai tak-negatif dan f (1) = 1. Diketahui pula bahwa untuk
setiap x
1
0, x
2
0 sehingga x
1
+x
2
1 berlaku ketaksamaan
f (x
1
+x
2
) f (x
1
) +f (x
2
) .
Buktikan bahwa f (x) < 2x.
Solusi. Kita punyai
1 = f (1) 2f

1
2

,
atau f

1
2

1
2
. Dengan menggunakan induksi akan kita buktikan bahwa
f

1
2
n

1
2
n
.
Jika hal ini benar untuk suatu n, maka
1
2
n
f

1
2
n

= f

1
2
n+1
+
1
2
n+1

2f

1
2
n+1

2
dan
f

1
2
n+1

1
2
n+1
.
Lebih lanjut, fungsi f ini monoton naik karena jika x
1
x
2
, maka
f (x
1
) = f ((x
1
−x
2
) +x
2
) f (x
1
−x
2
) +f (x
2
) f (x
2
)
karena nilai f tak pernah negatif.
Terakhir, kita ambil sebarang x dan misalkan bahwa
1
2
n+1
< x
1
2
n
.
Karena f monoton naik kita peroleh
f (x) f

1
2
n

1
2
n
< 2x.
Berikut ini adalah salah satu contoh yang menggambarkan kepada kita
bahwa kita jangan terlalu berharap bahwa kita dapat menerapkan PIM secara
langsung untuk menyelesaikan suatu masalah.
Masalah 6 Buktikan bahwa
1
1
2
+
1
2
2
+... +
1
n
2
< 2.
Solusi. Nyatakan ruas kiri ketaksamaan dengan F (n) . Kita mempun-
yai barisan pernyataan A
1
, A
2
, ..., A
n
, ... untuk dibuktikan, dengan A
n
adalah
F (n) < 2, dan kita akan menggunakan PIM untuk membuktikan semuanya.
Pernyataan A
1
adalah
1
1
2
< 2
yang jelas kebenarannya. Sekarang kita harus menurunkan validitas A
n+1
dari
kevalidan A
n
, yakni untuk membuktikan bahwa
F (n) < 2 mengakibatkan F (n) +
1
(n + 1)
2
< 2.
Perhatikan bahwa kita tidak mungkin dapat membuktikan pernyataan terahir
ini, karena yang kita ketahui hanyalah F (n) < 2, kita tidak tahu seberapa dekat
F (n) dengan 2 dan apakah masih tersisa ruangan untuk
1
(n+1)
2
. Apa yang harus
kita lakukan?
Secara mengejutkan, ketaksamaan yang lebih kuat
1
1
2
+
1
2
2
+... +
1
n
2
2 −
1
n
dapat dibuktiakan dengan mulus. Jelas bahwa A
1
benar, karena
1
1
2
= 2 − 1,
dan
F (n) 2 −
1
n
mengakibatkan F (n) +
1
(n + 1)
2
2 −
1
n + 1
merupakan pernyataan yang benar karena
1
(n + 1)
2
<
1
n(n + 1)
=
1
n

1
n + 1
=

2 −
1
n + 1

2 −
1
n

.
3
Teorema 7 Misalkan bahwa barisan i
1
, i
2
, i
3
, ... mengandung semua bilangan
bulat positif dan setiap bilangan hanya muncul satu kali di dalamnya. Misalkan
juga bahwa
1. A
i
1
benar,
2. Untuk setiap m pernyataan A
i
m
=⇒A
i
m+1
benar
Maka semua proposisi di barisan A
1
, A
2
, ...., A
n+1
, ... haruslah benar, dan A
benar.
Sebagai contoh, jika kita dapat membuktikan bahwa
1. A
1
benar,
2. Untuk setiap m benar bahwa A
m
=⇒A
2m
,
3. Untuk setiap m benar bahwa A
m
=⇒A
m−1
.
maka kita dapat membuktikan A dengan menggunakan pengaturan bilangan
bulat positif kedalam barisan:
1, 2, 4, 3, 6, 5, 10, 9, 8, 7, 14, 13, 12, 11, 22, 21, 20, ...
Misalkan fungsi f (x) pada selang [a, b] disebut cekung ke atas jika untuk
setiap x
1
, x
2
∈ [a, b]
f

x
1
+x
2
2


f (x
1
) +f (x
2
)
2
,
dan cekung ke bawah jika untuk setiap x
1
, x
2
∈ [a, b]
f

x
1
+x
2
2


f (x
1
) +f (x
2
)
2
.
Masalah 8 Buktikan bahwa:
1. Untuk setiap fungsi yang cekung ke atas pada selang [a, b]
f

x
1
+x
2
+... +x
n
n


f (x
1
) +f (x
2
) +... +f (x
n
)
n
untuk setiap x
1
, x
2
, ..., x
n
∈ [a, b] .
2. Untuk setiap fungsi yang cekung ke bawah pada selang [a, b]
f

x
1
+x
2
+... +x
n
n


f (x
1
) +f (x
2
) +... +f (x
n
)
n
untuk setiap x
1
, x
2
, ..., x
n
∈ [a, b] .
Solusi. Kita hanya akan menyelesaikan bagian pertama saja.
1. Untik n = 1 pernyataan jelas benar.
4
2. A
m
=⇒ A
2m
. Dengan menggunakan definisi cekung ke atas dan kondisi
pada A
m
kita dapatkan:
f

x
1
+x
2
+... +x
2m
2m

= f

x
1
+x
2
+... +x
m
2m
+
x
m+1
+x
m+2
+... +x
2m
2m


1
2

f

x
1
+x
2
+... +x
m
m

+f

x
m+1
+x
m+2
+... +x
2m
m


f (x
1
) +f (x
2
) +... +f (x
2m
)
2m
Teorema 9 Misalkan kita ingin membuktikan kebenaran dari tak berhingga
barisan proposisi matematika A
1
, A
2
, A
3
, ... yang bersama-sama membentuk propo-
sisi umum A. Misalkan bahwa
1. A
1
benar (dapat dibuktikan)
2. A
1
&A
2
&...&A
m
=⇒ A
m+1
, yakni kita dapat membuktikan A
m+1
dengan
menggunakan A
1
, A
2
, ..., A
m
yang telah ditetapkan kebenarannya.
Maka semua proposisi yang ada di barisan benar, dan A benar.
Masalah 10 Misalkan a suatu bilangan real sehingga a+
1
a
suatu bilangan bulat.
Buktikan bahwa a
n
+
1
a
n
juga suatu bilangan bulat untuk setiap bilangan asli n.
Solusi. Jelas A
1
benar karena kita ketahui bahwa a +
1
a
suatu bilangan
bulat. Sekarang dari kebenaran A
m−1
dan A
m
kita peroleh
a
m+1
+
1
a
m+1
=

a +
1
a

a
m
+
1
a
m

a
m−1
+
1
a
m−1

.
Dengan demikian A
m+1
juga benar dan akibatnya a
n
+
1
a
n
merupakan suatu
bilangan bulat untuk setiap bilangan asli n.
Teorema 11 Misalkan bahwa kita mempunyai barisan takhingga proposisi matem-
atika
A
1
, A
2
, A
3
, ...
dan ingin menetapkan kebenaran semua proposisi berindeks ganjil. Misalkan
bahwa
1. A
1
benar,
2. Untuk setiap m ≥ 1 benar bahwa A
2m−1
=⇒A
2m+1
.
Maka semua proposisi yang ada dibarisan dengan indeks ganjil haruslah
benar.
5