You are on page 1of 5

CULI NARY TOUR: SOLUSI PENGEMBANGAN POTENSI MAKANAN

TRADISIONAL SEBAGAI BENTENG KETAHANAN PANGAN NASIONAL
Reni Ainun Jannah
Teknik Kimia – Fakultas Teknik – Universitas Negeri Semarang
reniainunjannah@gmail.com

Indonesia sebagai salah satu negara tropis terbesar dan terluas di dunia yang
memiliki cakupan wilayah darat yang membentang hingga 1,9 juta km
2
, dengan besaran
seperlima keliling khatulistiwa dunia, namun pada kenyataannya belum mampu memenuhi
kebutuhan pangannya secara mandiri. Anugrah Tuhan berupa iklim tropis yang kondusif,
tanah yang subur dan hamparan laut yang membentang hingga 5,8 juta km
2
, juga belum
bisa memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, dan masih bergantung pada sumber
pangan di dunia dengan cara mengimpor dari negara tetangga.
Berdasarkan data Bahan Ketahanan Pangan dan World Food Programme (WFP)
(2005) menyebutkan bahwa di Indonesia tahun 2005 terdapat kurang lebih 100 daerah yang
termasuk kategori rawan pangan dari 265 kabupaten yang di survei. Angka tersebut
diperkirakan akan bertambah jika survei dilakukan di seluruh kabupaten Indonesia, hingga
tahun tersebut telah memiliki kabupaten sebanyak 363 kabupaten (Prosiding The 4
th

International Conference on Indonesia Studies).
Mayoritas masyarakat Indonesia sangat kental dengan makanan tradisional. Meski
dapat dibilang kuno, ternyata cita rasa yang dihadirkan dari makanan kuno tersebut justru
tidak dapat hilang begitu saja dari ingatan penikmatnya. Jika hendak menilai betapa
makanan yang asli hadir dari budaya dan kreatifitas olah rasa, sejatinya makanan
tradisional tidak pernah akan lekang oleh waktu. Meskipun saat ini justru masyarakat sudah
sangat dibui dan dimanjakan oleh makanan siap saji (fast food) dan makanan instan yang
berbahaya lainnya, akan tetapi keberadaan aneka makanan tradisional masih saja layak
untuk dipertahankan, khususnya sebagai makanan pokok.

Paradigma Indonesia Krisis Pangan
Pencapaian konsep menuju kesejahteraan masyarakat Indonesia ternyata belum
tercipta, karena dari tahun ke tahun Negara ini masih dibilang krisis pangan. Padahal
banyak petani kita yang menghasilkan sumber makanan pokok yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Makanan pokok Indonesia yang sebenarnya,
sejak nenek moyang kita ada bukanlah hanya padi, tetapi umbi-umbianlah yang mereka
gunakan sebagai makanan pokok. Namun, sekarang banyak pejabat tinggi dan orang-orang
disekitarnya, bahkan rakyat pun mengatakan bahwa jika masih ada orang yang setiap
harinya memenuhi kebutuhan pangannya dengan memakan umbi-umbian, maka dikatakan
daerah tersebut masih krisis pangan. Akibatnya negara ini melakukan impor beras sebesar-
besarnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, karena tidak pernah cukup pangan
yang dihasilkan oleh petani sendiri. Padahal jika kita tinjau lebih lanjut, banyak wilayah
yang mengahasilkan makanan pokok asli Indonesia, seperti di Papua penghasil sagu, Jawa
penghasil singkong, Maluku penghasil kentan dan sagu, dan lainnya.
Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran pemerintah untuk mengembangkan
kearifan lokal masyarakat yang sebenarnya dapat dengan mudah dikembangkan.
Masyarakat mengetahui betul apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan
pangan sehari-hari, namun seiring perkembangan zaman masyarakat pun semakin menjauh
dengan makanan-makanan pokok tradisional yang telah menjadi bagaian hidup mereka.
Sehingga hanya beras saja yang diandalkan sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia,
kemiskinan pun merajalela karena tidak dapat memenuhi kebutuhan makan dengan
makanan pokok beras.
Penggalian Kearifan Lokal
Kearifan lokal mengandung norma dan nilai-nilai sosial yang mengatur bagaimana
seharusnya membangun keseimbangan antara daya dukung lingkungan alam dengan gaya
hidup dan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, kearifan lokal seharusnya menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari kebijakan anti kemiskinan. Kearifan lokal lahir dan berkembang
dari generasi ke generasi seolah-olah bertahan dan berkembang dengan sendirinya, dan
kelihatannya tidak ada ilmu atau teknologi yang mendasarinya. Kearifan lokal menjerumus
pada muatan budaya masa lalu dan berfungsi untuk membangun keberadaan nenek moyang
pada zaman dahulu, yang menjadi toggak kehidupan masa sekarang.
Kearifan lokal juga dapat digunakan sebagai jembatan yang menghubungkan masa
lalu dan masa sekarang (Tupan, 2011). Kearifan lokal sama sekali tidak diperoleh melalui
suatu pendidikan formal maupun nonformal, tetapi hanya bisa dipahami dari suatu
pengalaman yang panjang melalui suatu pengalaman yang panjang dan pengamatan
langsung. Kegunaan utama kearifan lokal yaitu dapat menciptakan keteraturan dan
keseimbangan antara kehidupan sosial, budaya dan kelestarian sumber daya alam.
Peran dunia usaha untuk memproduksi suatu komoditas tanaman tradisional yang
dihasilkan di Indonesia memang banyak, namun hanya wilayah-wilayah tertentu saja yang
mau mengembangkan dan hanya tanaman tertentu yang pilih. Karena alasan beberapa
factor mengapa hanya tanaman komoditas saja yang dijadikan peran dunia usaha, namun
kearifan lokal belum terjaga. Para petani pangan Indonesia memilah tanaman mana yang
perlu ditanam dan menghasilkan kentungan banyak. Sementara itu belum ada penyadaran
pada setiap petani maupun masyarakat lain bahwa menjaga atau mengolah tanaman
tradisional menjadi makanan pokok adalah sesuatu yang penting, mengingat bahwa
makanan pokok di Indonesia tidak hanya melulu pada beras. Selain itu dibarengi juga
peran pemerintah yang seharusnya mendukung kegiatan tanam menanam pangan tradional
dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Culinary Tour
Konsep Culinary Tour merupakan suatu konsep pemenuhan pangan lokal dimana di
seluruh wilayah Indonesia mampu untuk mengoptimalkan panganan tradisional yang
berbasiskan wisata kuliner tradisional. Tujuan dari Culinary Tour ini adalah meningkatkan
kearifan lokal dan mencegah terjadinya ketergantungan terhadap pangan impor yang
berlebihan, yang kini semakin meningkat. Culinary Tour dimulai dengan mengenalkan dan
menghapus paradigma nilai-nilai lama yang menempatkan palawija atau panganan
tradisional sebagai panganan masyarakat yang dinomor duakan. Selain itu dengan cara
mengangkat kembali potensi-potensi pangan lokal yang dimiliki oleh daerahnya masing-
masing.
Dari beberapa jenis palawija atau tanaman pangan lokal yang ada di Indonesia,
salah satunya yaitu jagung dan singkong. Kedua jenis pangan tersebut sangat mudah
ditemukan di seluruh pelosok negeri, bahkan cara penanaman dan pengembangbiakan
tanaman pangan tersebut juga mudah yang tidak memerlukan perlakuan khusus. Culinary
Tour ini tidak hanya diterapkan setiap daerah yang banyak memiliki banyak penhgasil
tanaman pangan lokal saja, namun juga di kota-kota besar bisa diterapkan konsep ini.
Karena Culinary Tour ini bersifat universal, sehingga dapat dijangkau masyarakat luar yang
berkeinginan untuk mengetahui asal panganan tersebut dan tidak harus berkunjung ke
daerah asalnya. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal tidak harus
daerah penghasil tanaman lokal saja yang mengkonsumsi makanan tersebut, namun
masyarakat luar juga berhak untuk menikmatinya. Selain menjaga kearifan lokal,
masyarakat juga dikenalkan asal usul makanan tradional tersebut, sehingga tidak hanya
sekadar mengetahui rasanya yang enak.
Culinary Tour disajikan dalam bentuk pameran di daerah perkotaan maupun
pedesaan. Pameran ini antara lain menyajikan kekayaan aneka ragam panganan lokal dan
cerita tentang makanan pokok nenek moyang yang mengolahnya dengan cara tradisional
dari kekayaan sekitar. Keahlian anak-anak muda bisa menghidupkan kembali panganan
tradisional dengan cara dan teknologi modern. Hal ini sangat efektif, karena secara tidak
langsung Culinary Tour ini menyatakan rasa kecewa terhadap makanan pokok yang telah
diganti dengan beras atau gandum, sehingga popularitas keanekaragaman yang
mencerminkan budaya bangsa serta keakraban penduduk dengan lingkungannya terganggu.
Adapun usaha-usaha yang perlu ditingkatkan untuk konsep Culinary Tour antara
lain: (1) pembangunan komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk melihat secara
sungguh-sungguh bahwa makanan utama daerah tetap menjadi makanan utama dan
sekaligus menjadi makanan alternatif bagi daerah lainnya. (2) Diperlukan kemasan yang
menarik, sehingga mampu bersanding secara terhormat dengan kemasan produk makanan
pokok pada umumnya, seperti singkong atau jagung dengan aneka macam olahan dan
macam sajiannya, serta makanan pokok tradisional lainnya dengan penampilannya yang
bervariasi dan mengundang selera. (3) Adanya penonjolan bahwa makanan pokok tersebut
tidak hanya disantap oleh orang desa, keluarga tradisional dan miskin, tetapi menjadi
idaman kaum elite, keluarga bupati, gubernur, dan menteri. (4) Subsidi dari pemerintah
yang diberikan kepada petani agar mampu bersaing dan akhirnya tidak miskin lagi, karena
dapat menghasilkan produk hasil pertanian yang cocok dengan alamnya serta dikonsumsi
secara besar-besaran oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara. (5) Pengolahan
pangan lokal perlu dipamerkan secara luas, seperti di tempat asal makanan tersebut agar
penduduk asli bisa mengolah makanan yang semula hanya digarap secara monoton,
menjadi olahan yang menarik dan menimbulkan rasa bangga serta mengundang partisipasi
yang menguntungkan.
Kesimpulan
Culinary Tour dimulai dengan mengenalkan dan menghapus paradigma nilai-nilai
lama yang menempatkan panganan tradisional sebagai panganan masyarakat yang dinomor
duakan, sehingga dapat meningkatkan kearifan lokal dan mencegah terjadinya
ketergantungan terhadap pangan impor yang berlebihan. Dengan adanya Culinary Tour ini
diharapkan pemerintah lebih bijak dan mengerti lagi terhadap keragaman jenis makanan
lokal yang dapat digunakan sebagai benteng ketahanan pangan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyanto, Sugeng Setya. Penguatan Kearifan Lokal Sebagai Solusi Permasalahan
Ketahanan Pangan Nasional. Prosiding The 4
th
International Conference on
Indonesia Studies: “Unity, Diversity and Future”
Haryono. 2011. Membudayakan Pangan Lokal. http://haryono.com diunduh pada hari
Senin, 28 April 2014 pukul 09.00
Muhammad. 2014. Mendut, Jajanan Tradisional yang Hampir Punah.
http://wisata.kompasiana.com diunduh pada hari Senin, 28 April 2014 pukul 10.15