You are on page 1of 26

BAB II

TINJAUAN TEORI


A. Konsep Nyeri
1. Definisi Nyeri
McCaffery (1980) menyatakan bahwa nyeri adalah segala sesuatu
yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja saat
seseorang mengatakan nyeri. Definisi ini menempatkan seseorang pasien
sebagai expert atau ahli dibidang nyeri, karena hanya pasien lah yang tahu
tentang nyeri yang ia rasakan. Bahkan nyeri adalah sesuatu yang sangat
subjektif, tidak ada ukuran yang objektif padanya, sehingga hanyalah
orang yang merasakannya yang paling akurat dan tepat dalam
mendefinisikan nyeri.
2. Karakteristik Nyeri
a. Onset dan durasi
Perawat mengkaji sudah berapa lama nyeri dirasakan, seberapa
sering nyeri kambuh, dan apakah munculnya nyeri itu pada waktu yang
sama.
b. Lokasi
Perawat meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa,
menetap atau terasa menyebar.
c. Keparahan
Perawat meminta klien menggambarkan seberapa parah nyeri yang
dirasakan. Untuk memperoleh data ini perawat bisa menggunakan alat
bantu, skala ukur. Klien ditunjukkan skala ukur, kemudian disuruh
memilih sesuai dengan kondisinya saat ini yang mana. Skala ukur bisa
berupa skala numeric, deskriptif, dan analog visual.



d. Kualitas
Minta klien menggambarkan nyeri yang dirasakan, biarkan klien
mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri.
Perawat boleh memberikan deskripsi pada klien, bila klien tidak mampu
menggambarkan nyeri yang dirasakan.
e. Pola Nyeri
Perawat meminta klien untuk mendeskripsikan aktivitas yang
menyebabkan nyeri dan meminta untuk mendemontrasikan aktivitas yang
bisa menimbulkan nyeri .
f. Cara Mengatasi
Tanyakan pada klien tindakan yang dilakukan apabila nyerinya
muncul dan kaji juga apakah yang dilakukan klien itu bisa efektif untuk
mengurangi nyeri.
g. Tanda lain yang menyertai
Kaji adanya penyerta nyeri, seperti mual, muntah, konstipasi,
gelisah, keinginan untuk miksi dll. Gejala penyerta memerlukan prioritas
penanganan yang sama dengan nyeri itu sendiri.
3. Karakteristik nyeri berdasarkan metode P, Q, R, S, T
Adapun karakteristik yaitu sebagai berikut.
a. Faktor pencetus (P: Provocate)
Perawat mengkaji tentang penyebab atau stimulus nyeri pada klien,
dalam hal ini perawat juga dapat melakukan observasi bagian-bagian
tubuh yang mengalami cedera. Apabila perawat mencurigai adanya
nyeri psikogenik maka perawat harus dapat mengeksplore perasaan
klien dan menanyakan perasaan-perasaan apa yang dapat mencetuskan
nyeri.
b. Kualitas (Q: Quality)
Kualitas nyeri merupakan sesuatu yang subjektif yang
diungkapkan oleh klien, seringkali klien mendeskripsikan nyeri dengan
kalimat-kalimat: tajam, tumpul, berdenyut, berpindah-pindah, seperti
tertindih, perih, tertusuk dll, dimana tiap-tiap klien mungkin berbeda-
beda dalam melaporkan kualitas nyeri yang dirasakan.
c. Lokasi (R: Region)
Untuk mengkaji lokasi nyeri maka perawat meminta klien untuk
menunjukkan semua bagian/daerah yang dirasakan tidak nyaman oleh
klien. Untuk melokalisasi nyeri lebih spesifik, maka perawat dapat
meminta klien untuk melacak daerah nyeri dari titik yang paling nyeri,
kemungkinan hal ini akan sulit apabila nyeri yang dirasakan bersifat
difus (menyebar).
d. Keparahan (S: Severe)
Tingkat keparahan pasien tentang nyeri merupakan karakteristik
yang paling subjektif. Pada pengkajian ini klien diminta untuk
menggambarkan nyeri yang ia rasakan sebagai nyeri ringan, nyeri
sedang atau berat. Namun kesulitannya adalah makna dari istilah-istilah
ini berbeda bagi perawat dan klien serta tidak adanya batasan-batasan
khusus yang membedakan antara nyeri ringan, sedang dan berat. Hal ini
juga bisa disebabkan karena memang pengalaman nyeri pada masing-
masing individu berbeda-beda.
e. Durasi (T: Time)
Perawat menanyakan pada pasien untuk menentukan awitan, durasi,
dan rangkaian nyeri. Perawat dapat menanyakan: “kapan nyeri mulai
dirasakan?”, “sudah berapa lama nyeri dirasakan?”, “apakah nyeri yang
dirasakan terjadi pada waktu yang sama setiap hari?”, “seberapa sering
nyeri kambuh?” atau dengan kata-kata lain yang semakna.
4. Penyebab Nyeri
Penyebab nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu
penyebab yang berhubungan dengan fisik dan berhubungan dengan psikis.
Secara fisik misalnya, penyebab nyeri adalah trauma (baik trauma
mekanik, termis, kimiawi, maupun elektrik), neoplasma peradangan,
gangguan sirkulasi darah, dan lain-lain. Secara psikis, penyebab nyeri
dapat terjadi oleh karena adanya trauma psikologis.
Trauma mekanik menimbulkan nyeri karena ujung-ujung saraf
bebas mengalami kerusakan akibat benturan, gesekan, ataupun luka.
Trauma termis menimbulkan nyeri karena ujung saraf reseptor mendapat
rangsangan akibat panas, dingin. Trauma kimiawi terjadi karena sentuhan
zat asam atau basa yang kuat. Trauma elektrik dapat menimbulkan nyeri
karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri.
Neoplasma menyebabkan nyeri karena terjadinya tekanan atau
kerusakan jaringan yang mengandung reseptor nyeri dan juga karena
tarikan, jepitan, atau metastase. Nyeri pada peradangan terjadi karena
kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau
terjepit oleh pembengkakan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nyeri oleh fisik
berkaitan dengan terganggunya serabut saraf reseptor nyeri, yang terletak
dan tersebar pada lapisan kulit dan jaringan tertentu yang terletak lebih
dalam. Nyeri oleh psikologis merupakan nyeri yang dirasakan bukan
karena penyebab organik, melainkan akibat trauma psikologis dan
pengaruhnya terhadap fisik.
5. Klasifikasi Nyeri
a. Berdasarkan sumbernya
1) Cutaneus/superfisial
Nyeri yang mengenai kulit/jaringan subkutan. Biasanya bersifat
burning ( seperti terbakar ). Contoh: terkena ujung pisau atau gunting.
2) Deep sonatic/nyeri dalam
Nyeri yang muncul dari ligament, pembuluh darah, tendon, dan syaraf,
nyeri menyebar dan lebih lama dari pada cutaneus. Contoh: sprain
sendi.
3) Visceral (pada organ dalam)
Stimulasi reseptor nyeri dalam rongga abdomen, cranium dan thorak.
Biasanya terjadi karena spasme otot, iskemia, regangan jaringan .
b. Berdasarkan penyebab
1) Nosiseptif
Terjadi akibat adanya kerusakan jaringan di luar sistem syaraf baik itu
kerusakan kulit, kerusakan sendi, kerusakan otot, kerusakan tulang
dan lainya. Nyeri nosiseptif ini tidak disertai gangguan fungsi saraf,
sehingga nyeri ini hanya menimbulkan gangguan fungsi karena
nyerinya semata .
2) Psikogenetik
Manifestasi nyeri yang di timbulkan tidak disebabkan karena adanya
kerusakan jaringan saraf maupun jaringan lainya di dalam tubuh. Hal
ini hanya karena faktor kejiwaan atau kecemasan, misal pada orang
yang stres.
3) Nyeri neuropatik/nyeri syaraf
Gejala penyerta yang di timbulkan akibat gangguan fungsi saraf itu
sendiri. Nyeri saraf itu akibat gangguan saraf penggerak otot,
misalnya akan mengakibatkan mulai dari kelemahan otot stimulasi
kontraksi otot, baik klonik (kontraksi otot menetap) atau kram.
Demikian juga halnya jika terjadi nyeri syaraf akibat gangguan saraf
perasa atau sensoris maka akan terjadi gejala nyeri yang disertai gejala
kehilangan rasa, kebas, sampai tidak terasa pada perabaan.
c. Berdasarkan lama/durasinya
Tabel I
Nyeri akut Nyeri kronik
 Terjadi segera setelah tubuh
terkena cidera
 Fungsi: sebagai pemberi
peringatan akan adanya cidera
 Lamanya dalam hitungan menit
 Daerah nyeri terlokalisasi
 Respon sistem saraf simpatis:
takikardia, peningkatan respirasi,
peningkatan TD, pucat, lembap,
 Nyeri konstan yang menetap
sepanjang suatu periode tertentu
 Lamanya sampai hitungan
bulan, > 6 bulan
 Daerah nyeri menyebar
 Fungsi fisiologi bersifat normal
 Respon sistem saraf
parasimpatis: penurunan TD,
bradikardia, kulit kering, panas,
berkeringat, dan dilatasi pupil
 Tingkah laku menggosok bagian
yang nyeri
 Penampilan klien tampak cemas,
gelisah, dan terjadi ketegangan
otot
dan pupil konstriksi
 Tidak ada keluhan nyeri
 Tidak ada aktifitas fisik sebagai
respon nyeri
 Penampilan klien tampak
depresi dan menarik diri

1. Mekanisme Terjadinya Nyeri
Ada beberapa teori yang menjelaskan mekanisme transmisi nyeri . Teori
tersebut di antaranya adalah the specificity theory, the intensity theory, dan the
gate control theory.
a. The Specificity Theory (Teori Spesifik)
Otak menerima informasi mengenai objek eksternal dan struktur tubuh
melalui saraf sensoris. Saraf sensoris untuk setiap indra perasa bersifat
spesifik. Artinya saraf sensoris dingin hanya dapat dirangsang oleh sensasi
dingin, bukan oleh panas.
Ada dua tipe serabut saraf yang menghantarkan stimulus nyeri yaitu
sebagai berikut.
Serabut Saraf Tipe Delta A Serabut Saraf Tipe C
 Daya hantar sinyal relatif cepat
 Bermielin halus dengan diameter
2-5 mm
 Membawa rangsangan nyeri yang
menusuk
 Serabut saraf tipe ini berakhir di
kornudorsalis dan lamina I
 Daya hantar sinyal lebih lambat
 Tidak bermielin dengan
diameter 0,4-1,2 mm
 Membawa rangsangan nyeri
terbakar dan tumpul
 Serabut saraf tipe ini berakhir di
lamina II, III, dan IV
b. The Intensity Theory (Teori Intensitas)
Nyeri adalah hasil rangsangan yang berlebihan pada reseptor. Setiap
rangsangan sensori punya potensi untuk menimbulkan nyeri jika
intensitasnya cukup kuat.


c. The Gate Control Theory (Teori Kontrol Pintu)
Teori ini menjelaskan mekanisme transmisi nyeri. Kegiatannya bergantung
pada aktivitas serat saraf aferen berdiameter besar atau kecil yang dapat
mempengaruhi sel saraf di substansia gelatinosa. Aktifitas serat yang
berdiameter besar menghambat transmisi yang artinya “pintu ditutup”,
sedangkan serat bsaraf yang berdiameter kecil mempermudah tranmisi
yang artinya “pintu dibuka”.
Tetapi menurut penelitian terakhir, tidak ditemukan hambatan presinaptik.
Hambatan oleh presipantik pada serat berdiameter besar maupun kecil
maupun besar hanya terjadi bila serat tersebut dirangsang secara berurutan.
2. Kebutuhan Dasar Manusia yang Terganggu Ketika Orang
Mengalami Gangguan Nyaman Nyeri
Menurut Abraham Maslow (1908-1970), kebutuhan dasar manusia dapat
digolongkan menjadi lima tingkat kebutuhan yaitu kebutuhan fisiologis,
kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan cinta dan dicintai,
kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Pemenuhan
kebutuhan tidak akan tercapai jika individu tersebut mengalami suatu
gangguan. Gangguan nyaman nyeri merupakan salah satu faktor
penghambat pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Kebutuhan dasar yang
terganggu akibat gangguan nyaman nyeri yaitu kebutuhan fisiologis dan
kebutuhan keselamatan dan keamanan. Orang yang mengalami gangguan
nyeri tidak dapat atau sulit untuk memenuhi kebutuhan fisiologis
diantaranya pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur serta penanganan
nyeri. Nyeri merupakan ancaman bagi tubuh yang dapat mengancam
keselamatan dan keamanan diri seseorang yang mengalami gangguan
nyeri.

B. Konsep Hipertensi
1. Definisi Hipertensi
Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu keadaan dimana tekanan
darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastole lebih dari 80
mmHg (Arif muttaqin, 2012).
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan
darah diastolik ≥ 90 mmHg yang terjadi pada seorang klien pada tiga kejadian
terpisah (Ignatavicius, 1994).
2. Klasifikasi
Hipertensi dikalsifikasikan menjadi hipertensi primer dan hipertensi
sekunder, berdasarkan ada tidaknya penyebab yang dapat di identifikasi.
Kebanyakan besar kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya (idiopatik)
dan disebut hipertensi primer atau essenesial. Apabila penyebab hipertensi
dapat diketahui dengan jelas disebut hipertensi sekunder (Elizabeth J. Corwin,
2009).
Tabel II
Kalsifikasi hipertensi pada klien berusia ≥ 18 tahun oleh the joint national comitte
on detection, evaluation, and treatment of high blood pressure (1988)
Batasan Tekanan Darah (mmHg)
Diastole Sistol
< 85 (tekanan darah normal) < 140 ( tekanan darah normal)
85-89 (tekanan darah normal-tinggi) 140-159 (garis batas hipertensi sistolik
terisolasi)
90-104 (hipertensi ringan) ≥ 160 (hipertensi sistolik terisolasi)
≥115 (hipertensi berat)
Sumber : Ignatavicius D, 1995 dalam keperawatan kardiovaskular Udjianti 2010





Tabel III
Klasifikasi hipertensi berdasarkan level tekanan darah
Tekanan darah sistolik dan diastolik
blood pressure (SBP dan DBP)
Normo tensi < 140 SBP dan < 90 DBP
Hipertensi ringan 140-180 SBP atau 90-105 DBP
Sub group : garis batas 140-160 SBP atau 90-105 DBP
Ssub group : garis batas 140-160 SBP atau < 90 DBP
Hipertensi sedang dan berat > 180 SBP atau > 105 DBP
Hipertensi sistolik terisolasi > 140 SBP dan 90 DBP
Sumber : Ignatavicius D, 1995 dalam keperawatan kardiovaskular Udjianti 2010
3. Etiologi
Etiologi yang pasti dari hipertensi esenssial belum diketahui,
namun, sejumlah interaksi energi homeostatik saling terkait. Defek awal
diperkirakan pada mekanisme pengaturan cairan tubuh dan tekanan pada
ginjal. Faktor hereditas berperan penting bilamana ketidakmampuan genetik
dalam mengelola kadar natrium normal. Kelebihan intake natrium dalam diet
dapat meningkatkan volume cairan dan curah jantung. Pembuluh darah
memberikan reaksi atas peningkatan aliran darah melalui kontriksi atau
peningkatan tahanan perifer. Tekanan darah tinggi adalah hasil awal dari
peningkatan curah jantung yang kemudian dipertahankan pada tingkat yang
lebih tinggi sebagai suatu timbal balik penigkatan tahanan perifer.
Etiologi hipertensi sekunder pada umumnya diketahui. Berikut
beberapa kondisi yang menjadi penyebab terjadinya hipertensi sekunder.
a. Penggunaan kontrasepsi hormonal
Oral kontrasepsi yang berisi estrogen dapat menyebabkan
hipertensi melalui mekanisme renin-aldosteron-mediated volume
expansion. Dengan penghentian oral kontrasepsi, tekanan darah normal
kembali setelah beberapa bulan.
b. Penyakit parenkim dan vaskular
Merupakan penyebab utama hipertensi sekunder. Hipertensi
renovaskular berhubungan dengan penyempitan satu atau lebih arteri
besar yang secara langsung membawa darah ke ginjal. Sekitar 90 % lesi
arteri renal pada pasien dengan hipertensi disebabkan oleh arterosklerosis
atau fibrous displasia (pertumbuhan jaringan fibrous). Penyakit paremkim
ginjal terkait dengan infeksi, inflamasi, dan perubahan struktur, serta
fungsi ginjal.
c. Gangguan endokrin
Disfungsi medula adrenal atau korteks adrenal dapat menyebabkan
hipertensi sekunder. Adrenal-mediated hypertension disebabkan
kelebihan primer aldosteron, kortisol, dan katekolamin. Pada aldosteron
primer, kelebihan aldosteron menyebabkan hipertensi dan hipokalemia.
Aldosterone primer biasanya timbul dari benign adenoma korteks adrenal.
Pneochromocytomas pada medula adrenal yang paling umum dan
meningkatkan sekresi ketokolamin yang berlebihan. Pada sindrom
cushing, kelebihan glukokortikoid yang di ekskresi dari korteks adrenal.
Sindrom cushing’s mungkin disebabkan oleh hiperplasi adrenokortikal
atau adenoma adrenokortikal.
d. Merokok
Nikotin dalam rokok merangsang pelepasan ketokolamin.
Peningkatan ketokolamin menyebabkan iritabilitas miokardial,
peningkatan denyut jantung, dan menyebabkan vasokonstriksi, yang mana
pada akhirnya menigkatkan tekanan darah.

4. Patofisiologi
Umur, Jenis kelamin, Gaya hidup, Obesitas
HIPERTENSI
Otak
Suplai O2 otak
Kurang
terpaparnya
informasi
Deficite
pengetahuan
Resistensi pembuluh
darah otak
Nyeri kepala
Gangguan rasa
nyaman : Nyeri
Kelemahan umum
Intoleransi aktivitas
Tekanan pembuluh darah otak
5. Komplikasi
a. Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan tinggi di otak, atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan
tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang
memperdarahi otak mengalami hipertropi dan penebalan, sehingga aliran
darah ke otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak yang mengalami
aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan
terbentuknya aneurisma.
b. Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila
terbentuk trombus yang menghambat aliran darah melewati pembuluh
darah. Pada hipertensi kronik dan hipertrofi ventikel, kebutuhan oksigen
miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia
jantung yang menyebakan infark. Demikian juga, hipertrofi ventrikel
dapat menyebabkan perbahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel
sehingga terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko
pembentukan bekuan.
c. Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan
tinggi pada kapiler glomerolus ginjal. Dengan rusaknya glomerolus,
aliran darah ke unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan
dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya
membran glomerolus, protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan
osmotik koloid plasma berkurang dan memnyebabkan edema, yang
sering dijumpai pada hipertensi kronis.
d. Enselopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi
maligna (hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan yang
sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan
kapiler dan mendorong cairan ke ruang interstisial di seluruh susunan
saraf pusat. Neuron-neuron di sekitarnya kolpas dan terjadi koma serta
kematian.
e. Kejang dapat terjadi pada wanita preklamsi. Bayi yang lahir mungkin
memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi plasenta yang
tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia dan asidosis jika ibu
mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan.
6. Penatalaksanaan
Untuk mengobati hipertensi, dapat dilakukan dengan menurunkan
kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, atau TPR (Total Peripheral
Resistence). Intervensi farmakologis dan non farmakologis dapat membantu
individu mengurangi tekanan darahnya.
a. Intervensi non farmakologis
1) Pada sebagian orang, penurunan berat badan dapat mengurangi
tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi beban kerja jantung
sehingga kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup juga
berkurang.
2) Olah raga, bila terutama disertai penurunan berat, menurunkan
tekanan darah dengan menurunkan kecepatan denyut jantung istirahat
dan mungkin TPR. Olah raga meningkatkan kadar HDL (Hight
density lipoprotein), yang dapat mengurangi terbentuknya
arterosklerosis akibat hipertensi.
3) Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan
cara menghambat respons stres saraf simpatis.
4) Berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang
hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke
berbagai organ dan dapat meningkatkan kinerja jantung.
b. Terapi Farmakologis
Obat - obatan antihipertensi dapat digunakan sebagai obat tunggal
atau dicampur dengan obat lain. Klasifikasi obat antihipertensi di bagi
menjadi lima kategori berikut ini :
1) Diuretik
Obat jenis diuretik yang bisa digunakan sebagai antihipertensi
terdiri atas :
a) Hidroklorotiazid
Hidroklorotiazid Adalah diuretik yang paling diresepkan
untuk mengobati hipertensi ringan. Hidroklorotiazid dapat
diberikan sendiri pada penderita hipertensi ringan atau penderita
yang baru. Banyak obat antihipertensi dapat menyebabkan
retensi cairan. Oleh karena itu, seringkali diuretik diberi
bersama antihipertensi.
b) Penghambat beta
Penghambat adregenik beta sering kali disebut penghambat
beta (beta blocker), digunakan sebagai obat antihipertensi tahap
I atau dikombinasikan dengan diuretik dalam pendekatan tahap
II untuk mengobati hipertensi. Penghambat beta juga digunakan
sebagai antiangina dan antidisritmia. Ada banyak tipe
penghambat beta. Penghambat beta tidak selektif seperti
propanolol (inderal) menghambat reseptor bita (jantung dan beta
bronkial). Denyut jantung lamabt (tekanan darah menurun
sekunder terhadap penurunan denyut jantung) sehingga timbul
bronkokonstriksi. Penghambat beta kardioselektif lebih disukai
karena hanya bekerja pada reseptor beta2. Akibatnya, tidak
timbul bronkokonstriksi. Penghambat beta cenderung lebih
efektif untuk menurunkan tekanan darah pada klien yang
memiliki peningkatan kadar renin serum.
2) Menekan simpatetik (simpatolitik)
Penghambat adrenergik yang bekerja di sentral simpatolitik,
Penghambat adregenik alfa, dan penghambat neuron adrenergik
diklasifikasikan sebagai penekan simpatetik, atau simpatolitik.
1) Simpatolitik bekerja dipusat
Simpatolitik yang bekerja di pusat menurunkan respons
simpatetik dari batang otak ke pembuluh darah perifer.
Golongan obat ini memiliki efek minimal terhadap curah
jantung dan aliran darah ke ginjal. Obat-obat golongan ini
meliputi : metildopa, klinidin, guanabenez, dan guanfasin.


2) Penghambat adrenergik - Alfa
Golongan obat ini memblok reseptor adrenergik alfa I,
sehingga menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.
Penghambat alfa juga menurunkan liporotein berdensitas
sangat rendah (very low density lipoproteins-VLDL) dan
lipoprotein berdensitas rendah (low density liporoteins-LDL)
yang bertanggung jawab dalam penimbunan lemak di arteri
(arterosklerosis).
Penghambat alfa yang kuat digunakan untuk krisis
hipertensi da hipertensi berat yang disebabkan oleh tumor medula
adrenal (feokromositoma), yaitu fentolamin, fenoksibenzamin,
dan tolazolin.
3) Penghambat neuron adrenergik (simpatolitik yang bekerja
perifer).
Penghambat neuron adrenergik merupakan obat anti
hipertensi kuat yang menghambat norepinefrin dari ujung saraf
simpatis, sehingga pelepasan norepineprin menjadi berkurang.
Hal ini menyebabkan baik curah jantung maupun tahanan
vaskular perifer menurun. Reserpin dan guanetidin digunakan
untuk mengendalikan hipertensi berat.
4) Vasodilator arteriol langsung
Vasodilator yang bekerja langsung adalah obat tahap III
yang bekerja dengan merelaksasikan otot-otot polos dari
pembuluh darah terutama arteri, sehingga menyebabkan
vasodilatasi, tekanan darah akan turun dan natrium serta air
bertahan, sehingga terjadi edema perifer. Diuretik diberikan
bersama-sama dengan vasodilator yang bekerja langsung untuk
mengurangi edema. Refleks takikardi disebabkan oleh
vasodilatasi dan menurunnya tekanan darah.
Penghambat beta sering kali diberikan bersama-sama
dengan vasodilator arteriol untuk menurunkan denyut jantung, hal
ini untuk melawan relfeks takikardi. Dua dari vasodilator yang
bekerja langsung adalah hidralazin dan minoksidil. Obat ini untuk
hipertensi yang sedang dan berat.
3) Antagonis Angiotensin (penghambat enzim pengubah
angiotensin)
Obat golongan ini menghambat enzim pengubah angiotensin
(ACE) yang nantinya akan menghambat pembentukan angiotensin II
(vasokonstriktor) dan menghambat pelepasan aldosteron. Aldoteron
meningkatkan retensi natrium dan eksresi kalium. Jika aldosteron
dihambat, natrium diekskresikan bersama-sama dengan air.
Kaptropil, enalapril, dan lisinopril adalah ketiga antagonis
angiotensin. Obat-obatan ini digunakan pada klien yang mempunyai
kadar renin serum yang tinggi.
4) Penghambat Adrenergik Beta dan Alfa
Labetalol menghambat reseptor alfa dan beta. Efeknya pada
reseptor alfa lebih kuat daripada efeknya pada reseptor beta. Oleh
karena itu, obat ini menurunkan tekanan darah dan cukup kuat untuk
menurunkan denyut jantung. Obat ini baru dan belum
diklalsifikasikan dalam tahapan-tahapan pengobatan hipertensi.

7. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
1) Keluhan : fatigue, lemah, dan sulit bernafas. Temuan fisik berupa
peningkatan frekuensi denyut jantung, disritmia, takipnea
2) Riwayat hipertensi, arterosklerosis, penyakit katup jantung, penyakit
jantung koroner atau stroke, episode palpitasi, serta berkeringat
banyak.
Temuan fisik berupa :
a) Tekanan darah tinggi (diukur secara serial)
b) Hipotensi postural akibat terbiasa minum obat-obatan tertentu
c) Nadi : meningkat pada arteri karotis, jugularis, pulsasi radialis
d) Denyut jantung : takikardi, disritmia
e) Bunyi jantung : S2 mengeras, S3 (gejala CHF dini)
f) Murmur : dapat terdengar jika ada stenosis atau insufisiensi
katup
g) Vascular bruit : terdengar diatas karotis, femoral, atau
epigastrium (arteri stenosis), distensi vena jungular (kongesti
vena)
h) Perifer : suhu kulit dingin, warna kulit pucat, pengisisan kapiler
lambat (> 2 detik), sianosis, diaforesis, atau flushing.
3) Riwayat perubahan keperibadian, ansietas, depresi, rasa marah kronis
(mungkin mengindentifikasikan gangguan serebral). Temuan fisik
meliputi gelisah, penyempitan lapang perhatian, mengangis, otot
wajah tegang terutama di daerah mata, dan pola berbicara cepat.
4) Riwayat penyakit ginjal (obstruksi atau infeksi). Temuan fisik :
produksi urine < 50 ml perjam atau oliguri
5) Riwayat mengomsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol, tinggi
garam dan tinggi kalori. Selain itu juga melaporkan mual, muntah,
perubahan berat badan, dan riwayat pemakaian diuretik. Temuan fisik
yang meliputi berat badan normal atau obesitas, edema, kongesti vena,
distensi vena jugularis, dan glikosuria (riwayat diabetes meilitus).
6) Neurosensori : melaporkan serangan pusing/pening, sakit kepala
berdenyut di suboksipital, episode mati rasa, atau kelumpuhan salah
satu badan. Gangguan visual (diplopia - pandangan ganda atau kabur)
dan episode epistaksis.
Temuan fisik : perubahan status mental meliputi kesadaran,
orientasi, isi dan pola pembicaraan, afek yang tidak tepat, proses pikir
dan memori.
7) Respirasi : mengeluh sesak nafas saat beraktifitas, takipnea,
orthopnea, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok.
Temuan fisik meliputi sianosis, penggunaan otot bantu pernafasan,
terdengar suara nafas tambahan (ronkhi, rales, weezing).


b. Studi diagnostik
1) Hitung darah lengkap meliputi hemoglobin, hemotokrit untuk menilai
viskositas dan indikator faktor resiko seperti hiperkoagulabilitas.
2) Kimia darah
a) Kreatinin : peningkatan kadar menandakan penurunan perfusi
atau faal renal.
b) Serum glukosa : hiperglisemia (diabetes meilitus adalah
presipitator hipertensi).
c) Kadar kolesterol atau trigliserida : peningkatan kadar
mengindikasikan predisposisi pembentukan plaque atheromatus.
d) Kadar serum aldosteron : menilai adanya aldosteronisme primer
e) Studi tiroid (T3 dan T4): menilai adanya hipertiroidisme yang
berkontribusi terhadap vasokontriksi dan hipertensi.
f) Asam urat : hiperuricemia merupakan implikasi faktor resiko
hipertensi.
3) Elektrolit
a) Serum potasium atau kalium (hipokalemia mengindikasikan adanya
aldosteronisme atau efek samping terapi deuretik)
b) Serum kalsium bila meningkat berkontribusi terhadap hipertensi.
4) Urine
a) Analisis urine adanya darah, protein, glukosa dalam urine
mengindikasikan disfungsi renal atau diabetes.
b) Urine VMA ( Vanillylmadile acid) cetecholamine metabolite :
peningkatan kadar mengindikasikan adanya pheochromactoma.
c) Steroid urine : peningkatan kadar mengindikasikan
hiperadrenalisme, pheochromacytoma, atau disfungsi pitutitary,
syndrom cushing, kadar renin juga meningkat.
5) Radiologi
Rontgen thoraks : menilai adanya klasifikasi obstruktif katup
jantung, deposit kalsium pada aorta, dan pembesaran jantung.
6) EKG : menilai adanya hipertropi miokard, pola strain, gangguan
konduksi atau disritmia.
c. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri (akut) berhubungan dengan agen cedera (perubahan takanan
darah).
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen.
c. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan yang lebih (dalam hubungannya dengan kebutuhan
metabolisme).
d. Rencana Keperawatan
1) Nyeri (akut) berhubungan dengan agen cedera (perubahan takanan
darah)
a) Hasil NOC: Setelah melakukan tindakan keperawatan 3x24 jam,
nyeri (akut) akan berkurang dengan indikator:
i. Ekspersi nyeri pada wajah berkurang
ii. Tidak gelisah
iii. Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
b) Intervensi NIC: Setelah melakukan tindakan keperawatan
a) Pengkajian
i. Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyamanan
pada skala 0-10
ii. Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi
lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas atau keparahan nyeri dan faktor presipitasinya
iii. Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya
pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif
b) Penyuluhan untuk pasien/ keluarga
i. Ajarkan penggunaan nonfarmakologis (misalnya umpan
balik, terapi musik, terapi aktivitas)
ii. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri
iii. Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat
meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang
disarankan
c) Aktivitas kolaboratif
Gunakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat
d) Aktivitas Lain
i. Libatkan pasien dalam modalitas peredaan nyeri
ii. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi
respon pasien terhadap ketidaknyamanan
iii. Lakukan perubahan posisi, masase punggung, relaksasi
iv. Ajarkan pasien teknik nafas dalam

2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen
a) Hasil NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam,
intoleransi aktivitas akan teratasi, dengan indikator:
i. Saturasi oksigen saat beraktivitas normal
ii. Frekuensi pernafasan saat beraktivitas normal
iii. Kemampuan untuk berbicara saat beraktivitas fisik
b) Intervensi NIC:
i. Pengkajian
 Tentukan penyebab keletihan
 Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas
 Pantau respon oksigen pasien
 Pantau asupan nutrisi untuk memastikan sumber-sumber
energi yang adekuat
ii. Penyuluhan untuk pasien dan keluarga
 Ajarkan kepada pasien dan orang terdekat tentang teknik
perawatan diri yang akan meminimalkan konsumsi oksigen
 Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen
waktu untuk mencegah kelelahan
iii. Aktivitas Kolaboratif
Berikan pengobatan nyeri sebelum beraktivitas, apabila nyeri
merupakan salah satu faktor penyebab
iv. Aktivitas lain
 Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas
 Rencanakan aktivitas fisik teratur
 Batasi rangsangan lingkungan
 Bantu pasien untuk melakukan pemantauan mandiri dengan
membuat dan menggunakan dokumentasi tertulis yang
mencatat asupan kalori dan energi

d. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan yang lebih (dalam hubungannya dengan kebutuhan
metabolisme).
1) Hasil NOC: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam,
ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh dapat
berkurang dengan indikator:
a) Berat badan stabil
b) Kesimbangan asupan dan haluaran urine dalam 24 jam
c) Keseimbangan cairan
d) Kesimbangan elektrolit dan asam basa
2) Intervensi NIC:
a) Pengkajian
i. Tentukan lokasi dan derajat edema perifer, sarkal, dan
periorbital pada skala 1+ sampai 4+
ii. Timbang berat badan setiap hari dan pantau
kecenderungannya
iii. Pertahankan catatan asupan dan haluaran yang akurat
iv. Pantau hasil laboratorium yang relavan terhadap retensi
cairan
v. Kaji ekstermitas atau bagian tubuh yang edema
b) Penyuluhan untuk pasien/ keluarga
i. Anjurkan pasien untuk puasa sesuai dengan kebutuhan
ii. Ajarkan pasien tentang penyebab edema dan cara mengatasi
edema
c) Aktivitas kolaboratif
i. Berikan diuretik
ii. Konsultasikan ke dokter jika tanda dan gejala kelebihan
volume cairan menetap atau memburuk
d) Aktivitas lain
Distribusikan asupan cairan selama 24 jam
BAB III
Pengakajian


A. Pengkajian Data Keperawatan
1. Identitas
Nama : Ny. M
Umur : 70 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Agama : islam
Pekerjaan : -
Pendidikan : SMK
Alamat : Singkawang

2. Riwayat keperawatan
Keluhan utama
Klien mengatakan, “ saya malam hari sering batuk, perut juga sering mulas
pada malam hari seperti ditusuk-tusuk. Kepala sering pusing, leher tegang,
saya susah berjalan, kaki kiri dan kanan saya sakit karena jatuh dari WC.
Saat subuh saya sering kencing (ngompol).
Upaya yang telah dilakukan
Kelien mengatakan, “ jika pusing dan sakit perut saya minum obat dari
perawat.
Riwayat penyakit terdahulu
Hipertensi
3. Observasi dan pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran compos mentis, klien tampak lemah, klien lebih banyak
duduk.
b. Tanda-tanda vital
Suhu : -
TD : 150/90 mmHg
Nadi : 89 x/mnt
RR : 24 x/mnt
4. Pernafasan
a. Klien tidak menggunakan otot pernafasan saat bernafas
b. Tidak sesak
c. Pada saat auskultasi tidak ada kelainan suara paru
5. Kardiovaskular
Tidak terdengar suara jantung tambahan
6. Persyarafan
Tidak ada kelainan
7. Perkemihan
BAK tidak terkontrol (ngompol)
Setiap hari menggunakan pempers
8. Pencernaan
Klien mengatakan, “BAB satu minggu sekali, feses keras, warna feses
hitam”
9. Muskuloskeletal
a. Klien mengatakan,”dari lutut kaki kebawah sering terasa ngilu”
b. turgor kulit kurang
10. Endokrin
Tidak ada kelainan
11. Reproduksi
a. Klien sudah mengalami masa menopause
b. Mens pertama umur 15 tahun
c. Menikah umur 25 tahun, dan mempunyai seorang anak laki-laki
12. Pengkajian fokus masalah
a. Klien mengatakan sering pusing dan leher terasa tegang
b. TD : 150/90 mmHg
c. Nadi : 89x/mnt
13. Pola kegiatan sehari-hari dan tingkat ketergantungan
a. Makan
Klien mengatakan makan tiga kali sehari, dengan lauk bervariasi dan
selalu habis.
b. Hygine
Klien mengatakan mandi dua kali sehari, klien sudah tidak memiliki
gigi sehingga hanya berkumur menggunakan obat kumur
c. Berpakaian
Klien tampak rapi dan menggunakan pakaian yang bersih
d. Toileting
Menggunakan pempers, kecuali jika ingin buang air besar klien ke WC
e. Istirahat dan aktivitas
Klien mengatakan tidur siang setelah makan dan tidur malam dari
pukul 12.00-05.00 WIB.
14. Psiko-sosio-spiritual
a. Interaksi : mampu berinteraksi dengan sesama penghuni
wisma
b. Konsep diri : puas terhadap dirinya
c. Spiritual : shalat lima waktu
15. Terapi
a. Lanzoprazol 1x1 tab
b. Ranitidin 2x1 tab
c. Na diklofenak 2x1 tab
d. Captropil 1x1 tab

DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS
DAN RENCANA TINDAKAN

Nama : Ny. M
Umur & JK : 70 thn/ perempuan
Ruang : wisma 3

No Diagnosa keperawatan dan data pendukung Rencana tindakan
1 Nyeri (akut) b/d peningkatan tekanan vaskuler
serebral yang ditandai dengan :
Ds : klien mengatakan” kepala sering pusing,
dan tengkuk tegang”
Do :
 TD : 150/90 mmHg
 N : 89 x/mnt
 RR : 24 x/mnt

Tujuan
Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil
a. Sakit kepala hilang
b. Tengkuk tidak tegang
Rencana tindakan
a. Kaji nyeri
b. Ajarkan teknik relaksasi
c. Kolaborasi dalam
pemberian obat
2 Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum
yang ditandai dengan :
Ds: klien mengatakan kaki kiri dan tangan kiri
terasa lemah
Do:
 klien tampak pincang saat berjalan
 Klien tampak lemah
Tujuan
Kebutuhan aktivitas klien
dapat terpenuhi
Kriteria hasil
Aktivitas klien tidak
terganggu
Rencana tindakan
Kaji respon klien terhadap
aktivitas
Observasi TTV
Ajarkan cara menghemat
energi
Berikan dorongan untuk
melakukan aktivitas
3 Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi
/ kurang daya ingat yang ditandai dengan
Ds: kalau sakit saya diberi obat dari perawat.
Do: -


DAFTAR PUSTAKA

Prasetyo, Sigit Nian. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Udjiatun, W.J. (2010). Keperawatan kardiovaskular. Jakarta : Salemba medika
Himawan, S. (1996). Kumpulan kuliah patologi. Jakarta : Repro djaja
Muttaqin, A. (2009). Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem
kardiovaskular dan hematologi. Jakarta : Salemba medika