You are on page 1of 3

Interpretasi pemeriksaan lab

1. Trombosit
Jumlah trombosit normal adalah sekitar 250.000/mm3 (atau sekitar 250x109/L) dengan
kisaran antara 150.000 hingga 400.000/mm3 Lama hidup .trombosit yang normal adalah
sekitar 7 – 10 hari. Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbat mekanik selama
respon hemostasis normaljika terjadi cedera pada vaskular. Jika tidak ada trombosit, dapat
terjadi kebocoran darah spontan dari pembuluh darah kecil. Reaksi trombosit berupa adhesi,
sekresi, agregasi, dan fusi serta aktivitas prokoagulannya sangat penting untuk fungsi
trombosit tersebut
Sumber :http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25849/4/Chapter%20II.pdf
2. SGOT (Serum Glutamik Oksoloasetik Transaminase)
Merupakan enzim transaminase, yang berada pada serum dan jaringan terutama hati dan
jantung. Pelepasan SGOT yang tinggi dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada
jaringan jantung dan hati.
Nilai normal : Pria s.d.37 U/L
Wanita s.d. 31 U/L

SGPT (Serum Glutamik Pyruvik Transaminase)
Merupakan enzim transaminase yang dalam keadaan normal berada dalam jaringan tubuh
terutama hati. Peningkatan dalam serum darah menunjukkan adanya trauma atau
kerusakan hati.
Nilai normal :
Pria
sampai dengan 42 U/L
Wanita sampai dengan 32 U/L
SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim
ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada
umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim
hati akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya. SGPT (juga dikenal sebagai
ALT) adalah enzim yang dipakai oleh hati dalam pekerjaannya. Biasanya enzim ini
ditahan dalam hati, tetapi bila hati menjadi rusak karena hepatitis, semakin banyak
enzim ini dapat masuk ke aliran darah. Tingkat enzim ini dalam darah dapat diukur, dan
tingkatnya menunjukkan tingkat kerusakan pada hati.
3. Bilirubin serum
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemoglobin
dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20%
bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin
tidak larut dalam air; bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan kepada
albumin untuk diangkut dalam plasma menuju hati. Di dalam hati, hepatosit
melepaskan ikatan itu dan mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga
bersifat larut air. Proses konjugasi ini melibatkan enzim glukoroniltransferase.
Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin) masuk ke saluran
empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya
menjadi urobilinogen dan dibuang melalui feses serta sebagian kecil melalui urin.
Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi
membentuk azobilirubin (reaksi van den Bergh), karena itu sering dinamakan
bilirubin direk atau bilirubin langsung. Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin)
yang merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin harus lebih dulu dicampur
dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi, karena itu dinamakan
bilirubin indirek atau bilirubin tidak langsung. Peningkatan kadar bilirubin direk
menunjukkan adanya gangguan pada hati (kerusakan sel hati) atau saluran empedu
(batu atau tumor). Bilirubin terkonjugasi tidak dapat keluar dari empedu menuju usus
sehingga akan masuk kembali dan terabsorbsi ke dalam aliran darah. Peningkatan
kadar bilirubin indirek sering dikaitkan dengan peningkatan destruksi eritrosit
(hemolisis), seperti pada penyakit hemolitik oleh autoimun, transfusi, atau
eritroblastosis fatalis. Peningkatan destruksi eritrosit tidak diimbangi dengan
kecepatan kunjugasi dan ekskresi ke saluran empedu sehingga terjadi peningkatan
kadar bilirubin indirek. Hati bayi yang baru lahir belum berkembang sempurna
sehingga jika kadar bilirubin yang ditemukan sangat tinggi, bayi akan mengalami
kerusakan neurologis permanen yang lazim disebut kenikterus. Kadar bilirubin (total)
pada bayi baru lahir bisa mencapai 12 mg/dl; kadar yang menimbulkan kepanikan
adalah > 15 mg/dl. Ikterik kerap nampak jika kadar bilirubin mencapai > 3 mg/dl.
Kenikterus timbul karena bilirubin yang berkelebihan larut dalam lipid ganglia
basalis.

Dalam uji laboratorium, bilirubin diperiksa sebagai bilirubin total dan bilirubin direk.
Sedangkan bilirubin indirek diperhitungkan dari selisih antara bilirubin total dan
bilirubin direk. Metode pengukuran yang digunakan adalah fotometri atau
spektrofotometri yang
mengukur intensitas warna azobilirubin.
Nilai Rujukan
DEWASA : total : 0.1 – 1.2 mg/dl, direk : 0.1 – 0.3 mg/dl, indirek : 0.1 – 1.0 mg/dl
ANAK : total : 0.2 – 0.8 mg/dl, indirek : sama dengan dewasa.
BAYI BARU LAHIR : total : 1 – 12 mg/dl, indirek : sama dengan dewasa.
Masalah Klinis

Bilirubin Total, Direk
PENINGKATAN KADAR : ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma, hepatitis,
sirosis hati, mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson.
Pengaruh obat : antibiotic (amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin,
linkomisin, oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obat antituberkulosis ( asam
paraaminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretic (asetazolamid, asam etakrinat),
mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturate, narkotik (kodein, morfin,
meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin,
prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K.
PENURUNAN KADAR : anemia defisiensi besi. Pengaruh obat : barbiturate, salisilat
(aspirin), penisilin, kafein dalam dosis tinggi.

Bilirubin indirek
· PENINGKATAN KADAR : eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse,
malaria, anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis
terdekompensasi, hepatitis. Pengaruh obat : aspirin, rifampin, fenotiazin (lihat biliribin
total, direk)
· PENURUNAN KADAR : pengaruh obat (lihat bilirubin total, direk)
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
· Makan malam yang mengandung tinggi lemak sebelum pemeriksaan dapat
mempengaruhi kadar bilirubin.
· Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin.
· Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
· Sampel darah yang terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen
empedunya akan menurun.
· Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin.

Sumber :
1. D.N. Baron, alih bahasa : P. Andrianto, J. Gunawan, Kapita Selekta Patologi Klinik
(A Short Text Book of Clinical Pathology), Edisi 4, EGC, Jakarta, 1990.
2. E.N. Kosasih & A.S. Kosasih, Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik,
Edisi 2, Tangerang, 2008.
3. Frances K. Widmann, alih bahasa : S. Boedina Kresno, dkk., Tinjauan Klinis Atas
Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC, Jakarta, 1992.