You are on page 1of 7

Critical Review Pembiayaan

Pembangunan
Studi Kasus Rencana Pembangunan Tol
Laut di Indonesia

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
2014
Oleh:
Irwan Bisri Rianto 3612100068
Pendahuluan
Jalan tol merupakan salah satu sarana yang sangat penting di sebuah negara bahkan kota.
Banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan adanya sebuah jalan tol. Dari segi efisiensi
waktu menjadi salah satu keunggulan jalan tol. Para pelaku industri kerap membuat jalan
tol menjadi sarana yang sangat vital terkait efisiensi suatu perekonomian. Hal ini
menyangkut sebuah perekonomian sebuah kota bahkan sebuah negara. Jika efisiensi
sebuah perekonomian dapat tercapai maka produk dari industri dapat diproduksi dengan
biaya rendah dan bisa lebih kompetitif.
Dalam pasal 43 Undang‐Undang Republik Indonesia (UURI) No.38 tahun 2004 tentang
Jalan disebutkan bahwa jalan tol diselenggarakan untuk:
1. Memperlancar lalu lintas di daerah yang telah berkembang;
2. Meningkatkan hasil guna dan daya guna pelayanan distribusi barang dan jasa guna
menunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi;
3. Meringankan beban dana Pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan; dan
4. Meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dan keadilan.
Keberadaan jalan tol ini penting untuk perekonomian sebuah negara. Jika dikaitkan dengan
tol laut ini, akan berdampak pada konektifitas antar daerah dan pemerataan distribusi
barang hasil industri ke berbagai daerah. Akan tetapi dalam untuk pembiayaan
pembangunan tol laut ini perlu dipikirkan guna mewujudkan visi dan misi pemerintahan
yang baru ini. Masalah lain pun muncul terkait pihak siapa saja yang akan terlibat dalam
pembangunan dan dari mana sumber biaya pembangunan tol laut ini. Atas pertimbangan
penulis mencoba untuk melakukan critical review terkait berita pembiayaan pembangunan
tol laut di Indonesia.
Critical Review
Tol Laut sebagai Pemersatu Maritim Indonesia
Tol laut merupakan salah satu isu yang paling hangat di pemerintahan yang baru ini. Ini
dikarenakan infrastruktur, maritim, dan pangan menjadi agenda besar pemerintahan Joko
Widodo dan Jusuf Kalla. Pembangunan tol laut bertujuan untuk menciptakan pemerataan
harga barang di Indonesia. Dalam perencanaannya tol laut ini akan menggunakan sistem
distribusi barang dengan skala besar. Infrastruktur tol laut ini berupa kapal berkapasitas
besar dan pelabuhan laut dalam (deep sea port).
Masalah pun muncul karena tol laut ini terbilang mega proyek. Dalam sebuah sumber
artikel disebutkan bahwa menurut Jokowi pembiayaan pembangunan tol laut
menghabiskan 60 triliyun rupiah. Bahkan anggota tim transisi Dolfie OFP menyebutkan
bahwa anggaran untuk membangun tol laut ini menyentuh angka 2.000 triliyun rupiah,
yang akan dilakukan dalam skema tahun jamak selama lima tahun. Angka ini bukanlah
angka pasti tetapi hanyalah perkiraan. Untuk angka pastinya perlu adanya feasibility study
dan kepastian pelabuhan mana saja yang mau dijadikan tol laut.
Dalam pembiayaan pembangunan tol laut ini melibatkan banyak pihak dalam
pembangunannya. Dalam artikel berita yang dikritisi yang berjudul Dua Opsi Pembiayaan
untuk Mewujudkan Pembangunan Tol Laut disebutkan bahwa pemerintah menjadi salah
satu elemen dalam pembangunan tol laut. Pihak lain yang dapat membantu pembiayaan
pembangunan tol laut ini adalah investor dan ada yang bersentuhan dengan masyarakat
serta kosporasi atau program-program lain.
Bagaimanakah Pembiayaan Pembangunan Tol Laut Dapat Dilaksanakan?
Dalam artikel berita yang dikritisi disebutkan bahwa terdapat dua opsi yang bisa dijalankan
untuk mewujudkan pembangunan jalan tol laut. Pertama, rancangan pembangunan tol laut
diusahakan untuk dituntaskan dalam proses legislasi. Proses ini dilakukan dari Rancangan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) menjadi Anggaran Pendapatan Belanja
Negara (APBN). Opsi kedua yaitu memasukkan dalam memunculkan APBN-P secepat
mungkin. Pemerintahan Jokowi-JK harus berupaya memasukkan visi dan misi yang telah
disusun masuk dalam APBN-P termasuk pembangunan tol laut. Disebutkan juga bahwa
sumber pembiayaan tidak hanya di APBN tetapi bisa investor dan ada yang bersentuhan
dengan masyarakat serta korporasi atau program-program lain. Dengan adanya konsorsium
akan menjadi terobosan baru dari pembiayaan pembangunan di bawah pemerintahan
Jokowi-JK.
Ada beberapa hal yang dapat dikritisi dari opsi pembiayaan pembangunan tol laut.
Diantaranya adalah jika menggunakan opsi pertama yaitu melalui proses legislasi dari
Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) menjadi Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (APBN). Anggaran untuk yang dimasukkan ke dalam APBN
cukup besar. Estimasi 60 triliun rupiah yang disebutkan oleh Jokowi belum bisa
dipertanggungjawabkan. Hal ini terkait seberapa panjang tol laut yang akan dibuat dan
pelabuhan mana saja yang akan dibuat tol laut. Belum adanya studi kelayakan pun turut
menjadi pertimbangan mengapa opsi pertama dirasa kurang tepat.
Opsi kedua yaitu memasukkan dalam memunculkan APBN-P secepat mungkin lebih bisa
diterima. Apalagi dengan adanya konsorsium dalam pembiayaan pembangunannya. Tol
laut ini bertujuan untuk menciptakan pemerataan harga barang di Indonesia. Pada
praktiknya tol laut ini akan lebih digunakan untuk kebutuhan industri daripada publik.
Kepentingan perekonomian industri menjadi alasan mengapa opsi ini lebih bisa diterima.
Jika nantinya tol laut ini akan digunakan juga oleh publik, maka sistem public private
partnership bisa menjadi solusi lain untuk pembiayaan pembangunan tol laut ini. Akan
tetapi konsorsium juga perlu dilakukan untuk mengurangi beban pembiayaan
pembangunan tol laut ini. Sehingga ke depannya swasta menjadi pengelola sementara
untuk tol laut ini sesuai dengan kontrak dari pembangunan tol laut ini jika memang benar
dapat dilaksanakan.

Kesimpulan
Dari critical review ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa opsi dalam pembiayaan
pembangunan tol laut ini, diantaranya adalah rancangan pembangunan tol laut diusahakan
untuk dituntaskan dalam proses legislasi. Proses ini dilakukan dari Rancangan Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) menjadi Anggaran Pendapatan Belanja Negara
(APBN). Opsi ini kurang bisa diterima terkait besarnya anggaran yang dapat dihabiskan
dalam pembiayaan pembangunan tol laut ini. Opsi kedua yaitu memasukkan dalam
memunculkan APBN-P secepat mungkin karena bagian dari visi dan misi yang telah
disusun masuk dalam APBN-P termasuk pembangunan tol laut. Disebutkan juga bahwa
sumber pembiayaan tidak hanya di APBN tetapi bisa investor dan ada yang bersentuhan
dengan masyarakat serta korporasi atau program-program lain. Opsi lain yaitu dengan
menggunakan sistem public private partnership. Swasta akan mengambil alaih pengelola
tol laut ini sesuai dengan perjanjian kontrak.
Lesson Learned
Lesson learned dari critical review ini adalah:
1. Pihak-pihak yang terkait dalam pembiayaan pembangunan ini adalah pemerintah,
investor, dan swasta sesuai dengan opsi yang ada pada critical review ini.
2. Opsi pertama pembiayaan pembangunan tol laut ini kurang bisa diterima terkait
besarnya anggaran yang dapat dihabiskan dalam pembiayaan pembangunan tol laut.
3. Opsi kedua pembiayaan pembangunan tol laut lebih bisa diterima karena adanya
konsorsium dalam pembiayaan pembangunan tol laut.
4. Opsi lainnya adalah dengan privatisasi jalan tol laut atau sistem ini dinamakan
dengan public private partnership dengan swasta sebagai pengelola sementara tol
laut ini sesuai dengan kontrak perjanjian.

Daftar Pustaka

Ariyanti, Fikri.2014.http://bisnis.liputan6.com/read/2094801/ide-tol-laut-jokowi-mustahil-
terwujud-karena-kendala-ini diakses pada tanggal 26 September 2014
Faqih, Mansyur.2014.http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/09/23/nccl0n-
ingin-bangun-tol-laut-jokowi-sebut-angka-rp-60-t diakses pada tanggal 26 September 2014
Rinaldi, Randa.2014.http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/08/25/dua-opsi-pembiayaan-
untuk-mewujudkan-pembangunan-tol-laut diakses pada tanggal 26 September 2014
Sadikin, Rendy.2014.http://www.tribunnews.com/nasional/2014/09/24/anggaran-tol-laut-
jokowi-diperkirakan-tembus-rp2000-triliun diakses pada tanggal 26 September 2014
Suprayitno, Bambang.2012.Privatisasi Jalan Tol Sebagai Solusi Dalam Mempercepat
Terwujudnya Infrastruktur Jalan Tol Yang Memadai Di Indonesia.Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarata



Lampiran
Berita yang dikritisi: Tribunnews, diterbitkan pada tanggal 25 Agustus 2014
(http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/08/25/dua-opsi-pembiayaan-untuk-mewujudkan-
pembangunan-tol-laut)