You are on page 1of 9

Radiografi

Pemeriksaan radiologi yang dipilih pada awal pemeriksaan adalah foto polos dari ginjal,
ureter dan vesica urniaria, karena pemeriksaan yang paling murah dan paling mudah untuk
dilakukan. Foto polos abdomen dapat mendeteksi batu yang radioopaq. Batu asam urat
murni atau amonium urat adalah batu radioluscent, namun juga dapat diselimuti dengan
lapisan opaq dari sedimen kalsium. Laminasi biasa ditemukan, dengan lapisan berlapis-lapis
bergantung pada status metabolik dan derajat dari hematuria.(Ho K, Segura J. Lower
Urinary Tract Calculi. In: Wein A, Kavoussi L, Novick A, Partin A, Peters C.Campbell-
Walsh Urology. 3. 9th. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007:2663-73)
Jika pada pemeriksaan foto polos abdomen tidak ditemukan adanya batu, langkah
selanjutnya yang dilakukan adalah ultrasonografi vesica urinaria, yang bisa
membedakan suatu kalkulusdari tumur atau bekuan darah. Sistigrafi atau intra
venous pyelography(IVP) menunjukkan suatu atu sebagai adanya filling defect pada
vesica urinaria,
Apabila filling defect bergerak ketika pasien di reposisi, kemnunginan besar
menunjukkan adanya batu (diferensil diagosis nya adalah bekuan darah, fungal ball,
dan karsinoma ureterial papiler). Suatu filling defect yang tidak bergerak dapat
merupakan suatu kalkulus yang menempel pada dinding vesica urinaria melalui
suatu jahitan atau divertikulum (diferensial diahgnosisb: karsinoma ureterial, bekuan
atau kalkulus). IVP juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi abnormalitas yang
berhubungan ( misalnya kalkulus pada traktus urinarius atas, ureterocele, sistokel,
pembesaran prostat, dan divertikulum vesaica urinaria)

Ultrasonografi
Pada ultrasonografi biasanya menunjukkan suatu objek hiperekoik klasik dengan
posterior shadowing, dan dapat mendeteksi baik batu radioopaq dan radioluscent.(
Ho K, Segura J. Lower Urinary Tract Calculi. In: Wein A, Kavoussi L, Novick A,
Partin A, Peters C.Campbell-Walsh Urology. 3. 9th. Philadelphia, Pa: Saunders
Elsevier; 2007:2663-73)

Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen merupakan pemeriksaan yang pertama dilakukan bila ada
keluhan nyeri abdomen atau nyeri di sekitar area urogenital. Manfaat dari pemeriksaan ini
adalah untuk melihat gambaran secara keseluruhan di rongga abdomen dan pelvis.
Setiap pemeriksaan traktus urinarius sebaiknya dibuat terlebih dahulu foto polos
abdomen. Pada foto ini dapat menunjukkan bayangan, besar, bentuk dan posisi kedua ginjal.
Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam kista dan tumor, batu radioopak dan perkapuran dalam
ginjal. Harus diperhatikan batas muskulus psoas kanan dan kiri. Serta Batu radioopak di
daerah ureter dan buli- buli.
Interpretasi terhadap kalsifikasi pada saluran ginjal harus dilakukan dengan hati-hati
karena flebolit pada kelenjar mesenterika dan vena pelvis yang berada di atasnya sering
disalah artikan sebagai batu ureter. Film yang diambil saat inspirasi dan ekspirasi akan
mengubah posisi ginjal dan sering kali dapat mengkonfirmasi bahwa daerah
yang mengalami kalsifikasi pada abdomen tersebut adalah batu.

BOF normal
Foto Polos Abdomen:
- Distribusi gas di usus Normal
- Kontur Hepar dan lien tidak membesar
- Kontur ren D/S Normal
- Psoas Shadow simetris
- Tulang baik
- Tidak tampak adanya bayangan batu radioopak sepanjang tractus urinarius
Pielografi Intravena (PIV)
Pemeriksaan piolegrafi intravena dilakukan dengan menyuntikkan bahan kontras
secara intravena dan dilakukan pengambilan gambar radiologis secara serial yang disesuaikan
dengan saat zat kontras mengisi ginjal, berlanjut ke ureter, dan ke kandung kemih. Indikasi
pemeriksaan PIV adalah untuk mendeteksi lokasi obstruksi misalnya pada batu ginjal,
konfirmasi penyakit ginjal polikistik, atau adanya kelainan anatomis yang tidak terdeteksi
oleh teknik pemeriksaan lain. Pemeriksaam PIV memerlukan persiapan yaitu :
a. 2 hari sebelum foto PIV penderita hanya makan bubur kecap
b. Minum air putih yang banyak
c. Jam 24.00 WIB minum obat pencahar/laksans untuk membersihkan kolon dari feses yang
menutupi daerah ginjal.
d. Selanjutnya puasa sampai dilakukan foto
e. Dilarang banyak bicara untuk mengurangi udara (gas) dalam lambung dan usus.
Untuk bayi dan anak diberikan minum yang mengandung karbonat, tujuannya untuk
mengembangkan lambung dengan gas. Usus akan berpindah, sehingga bayangan kedua ginjal
dapat dilihat melalui lambung yang terisi gas. Sebelum pasien disuntikkan urofin 60% harus
dilakukan terlebih dahulu uji kepekaan. Jika pasien alergi terhadap kontras maka pemeriksaan
pielografi intravena dibatalkan.
Dosis urografin 60 mg % untuk orang dewasa adalah 20 ml. Kalau perlu diberikan
dosis rangkap yaitu 40 ml. Tujuh menit setelah penyuntikan dibuat film bucky
anteroposterior abdomen. Foto berikutnya diulangi pada 15 menit, 30 menit dan 1 jam.
Sebaiknya segera setelah pasien disuntik kontras, kedua ureter dibendung, baru dibuat foto 7
menit. Kemudian bendunag dibuka, langsung dibuat foto di mana diharapkan kedua ureter
terisi. Dilanjutkan dengan foto 1 dan 2 jam, malahan foto 6, 12 dan 24 jam.
Menurut Meschan, digunakan film bucky antero-posterior abdomen
setelah penyuntikan, ulangi pemotretan film antero-porterior abdomen dengan jarak waktu
setelah disuntik kontras intravena, masing-masing 4 menit, 8 menit, 25 menit, foto terlambat
jika konsentrasi dan eksresi sangat kurang pada 1-8 jam. Foto terakhir biasanya film berdiri.
Pada pasien hipertensi, film harus dibuat setelah penyuntikan 30 detik sampai 1 menit, dan
tiap-tiap menit setelah itu, untuk 5 menit pertama.
Beberapa ahli menyatakan bahwa PIV masih merupakan pencitraan yang terbaik
untuk memberikan gambaran secara vertikal mengenai struktur anatomi dari saluran kemih.
Akan tetapi kurang disukai karena adanya risiko alergi terhadap zat kontras.

Syarat-syarat seseorang boleh melakukan IVP yakni,
 Tidak memiliki riwayat alergi
 Fungsi ginjalnya baik. Cara untuk mengetahuinya yakni dengan mengukur kadar BUN atau
kreatininnya (<2). Karena kontras itu bersifat nefrotoksik dan dikeluarkan lewat ginjal, jadi
apabila ginjal rusak atau tidak berfungsi, akan sangat berbahaya bagi pasien.

Indikasi dilakukannya pemeriksaan IVP yakni untuk melihat anatomi dan fungsi dari traktus
urinarius yang terdiri dari ginjal, ureter, dan bladder, yang meliputi
 Kelainan kongenital
 Radang atau infeksi
 Massa atau tumor
 Trauma

Pada pielografi normal akan diperoleh gambaran bentuk ginjal seperti kacang. Kutub
( pool ) atas ginjal kiri setinggi Th.11, bagian bawah, batas bawah setinggi korpus vertebra
L3. Ginjal kanan letaknya kira-kira 2 cm lebih rendah daripada yang kiri. Pada pernafasan,
kedua ginjal bergerak dan pergerakan ini dapat dilihat dengan fluoroskopi. Arah sumbu ke
bawah dan lateral sejajar dengan muskuli psoas kanan dan kiri. Dengan adanya
lemak perirenal, ginjal mendapat lebih jelas terlihat. Hal ini terutama dapat dilihat pada
orang gemuk. Pelvis renalis kemudian dilanjutkan dengan kalik mayor, biasanya Dari kalik
mayor dilanjutkan dengan kalik minor. Jumlahnya bervariasi antara 6-14. Kedua ureter
berjalan lurus dari pelvis renis ke daerah pertengahan sakrum dan berputar ke belakang
lateral dalam suatu arkus, turunke bawah dan masuk ke dalam dan depan untuk memasuki
trigonum buli- buli.
Tiga tempat penyempitan ureter yang normal, yaitu pada sambungan pelvis
dan ureter dengan buli-buli, dan ada persilangan pembuluh darah iliaka.

ivp menit ke 5


Pada menit ke-5, organ yang dinilai yaitu perginjalan, yang meliputi nefrogram dan
sistem pyelocalices (SPC). Nefrogram yaitu bayangan dari ginjal kanan dan kiri yang terisi
kontras. Warnanya semiopaque, jadi putihnya sedang-sedang saja.
Pada menit ke-5, contoh penyakit yang bisa diketahui yaitu penyakit-penyakit yang
ada di ren, misalnya pyelonefritis, nefrolitiasis, hidronefrosis, massa/tumor renal, dll.


Menit ke 15
Penilaian ureter:
1) Jumlah ureter.
Terkadang, ureter bisa hanya nampak 1 aja, itu mungkin di sebabkan kontraksi ureter saat
pengambilan foto, jadi tidak nampak ketika difoto.
2) Posisi ureter
3) Kaliber ureter.
Maksudnya diameternya, normal < 0.5 cm
4) Ada tidaknya batu, baik lusen maupun opaque.
Kemudian nyatakan bentuk, jumlah, ukuran, dan letak batu.
Contoh penyakit pada menit ke 15 diantaranya: hidroureter, ureterolithiasis,
ureteritis.

Menit ke 45 : Menilai buli-buli
 Apakah dinding buli reguler? adakah additional shadow (divertikel) ataupun filling defect
(masa tumor) dan indentasi prostat.
gambaran dinding yang menebal ireguler dicurigai adanya sistitis kronis.
Contoh penyakit pada menit ke 45 yaitu cystitis, pembesaran prostat, massa
vesikolithiasis

POST MIKSI
Kita harus menilai apakah setelah pasien berkemih kontras di buli minimal?
Seandainya terdapat sisa yang banyak kita dapat mengasumsikan apakah terdapat sumbatan
di distal buli ataupun otot kandung kencing yang lemah.Normalnya yaitu sisa 1/3 dari buli-
buli penuh


Urografi Retrograde
Indikasi urografi retrograde adalah untuk melihat anatomi traktus urinarius bagian
atas dan lesi-lesinya. Hal ini dikerjakan apabila pielografi intravena tidak berhasil
menyajikan anatomi dan lesi-lesi traktus urinarius bagian atas. Keistimewaan urografi
retrigrad berguna melihat fistel.

Urografi retrograd memerlukan prosedur sistoskopi. Kateter dimasukkan oleh ahli
urologi. Kerjasama antara ahli urologi dan radiologi diperlukan karena waktu memasukkan
kotras, posisi pasien dapat dipantau(dimonitor) dengan fluoroskopi atau televisi. Udara dalam
kateter dikeluarkan, kemudian 25 % bahas kontras yang mengandung iodium disuntikkan
dengan dosis 5-10 ml dibawah pengawasan fluoroskopi. Harus dicegah pengisian
yang berlebihan karena risiko ekstravasasi ke dalam sinusrenalis atau intravasasi ke dalam
kumpulan saluran-saluran (collecting duct). Ekstravasasi kontras dapat menutupi bagian-
bagian yang halus dekat papilla. Rutin dibuat proyeksi frontal dan oblik. Kemudian kateter
diangkat pada akhir pemeriksaan, lalu dibuat foto polos abdomen. Jika ada obstruksi dibuat
lagi foto 15 menit kemudian.
Komplikasi dapat berupa sepsis, perforasi ureter, ekstravasasi bahankontras, reaksi
bahan kontras, hematuri dan anuri berhubung dengan edema pada sambungan ureter dan
vesika.



Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu imaging diagnostik ( pencitraan
diagnostik) untuk pemeriksaan alat alat dalam tubuh manusia, diman kita dapat mempelajari
bentuk, ukuran anatomis, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya. Pemeriksaan
ini bersifat non-invasif, tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita, dapat dilakukan dengan
cepat, aman dan data yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik yang tinggi. Tidak ada
kontra indikasinya, karena pemeriksaan ini sama sekali tidak akan memperburuk penyakit
penderita. Dalam 20 tahun terakhir ini, diagnostik ultrasonik berkembang dengan pesatnya,
sehingga saat ini USG mempunyai peranan penting untuk meentukan kelainan berbagai organ
tubuh.
Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat dilakukan
secara bed-side dan relatif tidak mahal. Pada ginjal pemeriksaan ini cukup efektif dan akurat
dalam mendeteksi adanya abses renal, pyohidronefrosis, atau adanya batu saluran kemih.
Selain itu USG juga cukup baik dalam menilai parenkim ginjal, ketebalan korteks ginjal,
serta mendeteksi hidronefrosis.
Sonogram ginjal normal :
Ukuran ginjal normal dewasa : Ginjal kanan : 8 – 14 cm (rata-rata 10,74 cm) , Ginjal
kiri : 7 –12 cm (rata-rata 11.10 cm), Diameter antero-posterior 4 cm dan diameter melintang
rata-rata 5 cm. Ukuran panjang ginjal normal secara USG lebih kecil bila dibandingkan
dengan yang terlihat secara radiografi.
Ginjal normal memperlihatkan sonodensitas kortek yang lebih rendah (hipoekoik)
dibandingkan dengan sonodensitas hati,limpa dan sinus renalis. Tebal kortek kira-kira 1/3 –
1/2 sinus renalis dengan batas rata atau bergelombang pada ginjal yang lobulated. Sedangkan
sinus renalis yang terletak ditengah ginjal memberikan sonodensitas yang tinggi (hiperekoik)
disebabkan karena komposisinya yang terdiri atas lemak dan jaringan parenkim ginjal.
Didalam sinus renalis terdapat garis-garis anekoik, yaitu irisan kalises yang bila diikuti akan
bergabung pada daerah anekoik besar, yaitu pelvis renals.

usg ginjal normal


Computed tomography Scan (CT-Scan).
Pemeriksaan CT scan pada kasus infeksi saluran kemih bermanfaat untuk mendeteksi
adanya pielonefritis akut. Dengan CT scan kontras, pielonefritis akut akan tampak sebagai
daerah yang underperfusion. Adapun keunggulan CT adalah memberikan resolusi anatomi
yang lebih baik, sehingga membantu untuk kasus sulit. CT scan juga bermanfaat pada kasus
abses renal atau pionefrosis. Kekurangan dari CT adalah efek radiasi pada tubuh.
Diperkirakan pada orang dewasa pemeriksaan CT abdomen tunggal memberikan efek radiasi
setara dengan 500 kali pemeriksaan foto polos toraks.

normal
Magnetic Resonance Imaging (MRI) .

normal
Pemeriksaan MRI manfaat utamanya pada ginjal adalah untuk mendeteksi adanya
massa ginjal. Keuntungan dari pemeriksaan MRI adalah memberikan gambaran multiplanar,
secara jelas memberikan gambaran antara jaringan normal dengan jaringan yang patologis
serta tidak ada efek radiasi