BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Permukanan muka bumi kita sebagian terdapat macam – macam batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf yang terbentuk akibat proses geologi baik secara endogen maupun eksogen. Batuan yang terbanyak didapati adalah batuan sedimen. Tujuh puluh persen batuan yang menutupi permukaan bumi ini terdiri dari batuan sedimen. Yaitu batupasir, batugamping, lanau, lempung, breksi, konglomerat, dan batuan sedimen lainnya. Batuan tersebut terbentuk secara proses fisika, kimia, dan biologi yang terendapkan secara alamiah di berbagai lingkungan pengendapan dan terus berjalan hingga saat ini. Pembelajaran tentang batuan sedimen sangat besar kontribusinya terhadap penentuan dan pembelajaran batuan batuan sedimen purba atau yang berumur tua dalam skala waktu geologi. Banyak batuan sedimen purba yang diperkirakan sistem dan lingkungan pengendapannya dianalogikan dengan proses proses sedimentasi yang terjadi pada saat ini. Proses proses sedimentasi (fisika, kimia, biologi) sangat berhubungan erat dengan kompaksi, sementasi, rekristalisasi Dalam hal ini batuan sedimen terbentuk akibat factor kimia, fisika dan biologi dan yang terpenting pada batuan ini ialah berhubungan erat dengan keberadaan energi fosil serta minyak dan gas bumi. Oleh karena itu dalam paper ini akan membahas beberapa ilmu kebumian yang antara lain adalah tentang batuan sedimen. 1.2 Tujuan Penelitian Sebagai salah satu sayarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester Praktikum Sedimentologi. Dan agar kita mengetahui apa yang dimaksud dengan Analisa bentuk kerakal, analisa ukuran butir, dan lain sebagainya yang bersangkuatan dengan proses sedimen.
1.3 Pembatasan Masalah

Untuk dapat lebih mengarah dan menempuh tujuan dalam penelitian ini, maka diperlukan beberapa pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :

1

1.

Fungsi dari setiap Praktikum yang dilaksanakan. Dasar dari setiap praktikum yang dilaksanakan. 3. Metode apa yang harus digunakan dalam setiap praktikum oleh para praktikan.

2.

Cara kerja yang dipakai oleh setiap praktikan dalam melakukan penelitian. Analisa profil sedimentasi merupakan suatu metode statigrafi yang digunakan untuk mendapatkan data litologi yang terperinci dari satuan statigrafi. Satuan statigrafi dapat terdiri dari jenis batuan atau persilangan beberapa jenis litologiatau suatu litologiutama dengan sisipan.
1.4 Metode dan Teknik

Metode yang diambil adalah meninjau pelapukan pada batuan sedimen dengan buku panduan tentang pelapukan itu sendiri yang terjadi pada batuan-batuan bukan hanya pada batuan sedimen saja. Dan teknik yang diterapkan adalah memperkirakan usia dari batuan tersebut , mengatakan faktor apa saja yang terjadi dalam beberapa kurun waktu terakhir yang menyebabkan pelapukan pada batuan tersebut, dan melihat lingkungan sekitar batuan tersebut. Sumber data atau sampel dalam karya ilmiah ini adalah ditinjau dari lokasi dimana batuan itu berada, pengaruh iklim, lingkungan pelapukan, dan kecepatan pelapukan batuan.
1.5 Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapakan dalam pembuatan paper ini adalah antara lain praktikan dapat mengetahui lebih banyak lagi tentang apa itu batuan sedimen, kegunaan dari setiap praktikum yang dilaksanakan serta dapat menginterpretasikannya.

2

Serta agar para praktikan mendapatkan hasil dari pelaksanaan praktikum analisa bentuk kerakal, analisa ukurab butir, kalsimetri, analisa mineral berat, dan interpretasi ”sand shale ratio”, clastik ratio”, ”combined map”.

3

BAB II. PRAKTIKUM SEDIMENTOLOGI

Batuan sedimen dibagi atas dasar proses utama pembentukannya yaitu fisika, kimia, dan biologi. Atas dasar tersebut maka batuan sedimen dibagi dalam empat kategori, yaitu : 1. Sedimen klastik : yaitu batuan sedimen yang terdiri dari batuan batuan non karbonat, seperti conglomerat, breksi, batupasir sangat kasar – batupasir sangat halus, lanau, lempung, serpih. 2. Biogenik dan biokimia : yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari bahan bahan organik dan proses kimiawi, seperti batugamping, batubara, dolomite, rijang. 3. Sedimen kimia : yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari proses evaporasi, seperti halite, evaporite, calcite, gypsum. 4. Sedimen epiclastic : yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari batuan hasil letusan gunung berapi atau batuan piroklastik, seperti tuff dan hyaloclastic. LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUAN SEDIMEN Di daerah daratan lingkungan pengendapan terjadi di beberapa tempat yaitu : 1. Fluvial 2. Glasial 3. Danau 4. Gurun Sedangkan didaerah laut, lingkungan pengendapan dapat terjadi di beberapa tempat yaitu : 1. Pantai

4

2. Delta 3. Lagoon 4. Tidal 5. Laut terbuka FACIES Facies adalah aspek aspek fisika, kimia, dan biologi pada suatu endapan sedimen dengan kesamaan waktu. Litofacies adalah aspek litologi batuan yang mencakup ukuran butir, tekstur sedimen, dan struktur sedimen. Sedangkan biofacies adalah yang menyangkut hubungannya dengan paleontologi. DIAGENESA Diagenesa adalah proses pembentukan batuan sedimen yang belum kompak, diagenesa adalah proses kompaksi, rekristalisasi, replacement, dan sementasi. Proses kompaksi ini bersifat fisika-kimia, dimana lapisan sedimen akan mengalami tekanan dan kenaikan temperatur antara 150 sampai 200 derajat Celcius. Proses ini sangat penting dipelajari dalam suatu litifikasi batuan sedimen karena akan mengatur porositas dan permeabilitas dari batuan sedimen tersebut. METODE STUDI BATUAN SEDIMEN LAPANGAN Hal hal yang harus dilakukan dilapangan ialah : 1. Mengambil data dan samples, samples yang diambil sebaiknya harus yang segar dan bersih agar mudah dikenali dan dapat digunakan dalam praktikum selanjutnya. 2. Mengukur strike dan dip batuan 3. Mencatat deskripsi fisik batuan tersebut secara megaskopis

5

LABORATORIUM Metode dilaboratorium untuk batuan yang keras bisa dengan cara meyayat tipis batuan tersebut dan digunakan analisa mineral optik. Sedangkan untuk batuan yang relatif lunak bisa digunakan metode granulometri dan kalsimetri dan analisa mineral berat. LAPORAN Setelah melakukan kedua metode tersebut diatas dilanjutkan dengan pengolahan data yang didapat dari lapangan dan data hasil pemeriksaan laboratorium. Cara yang lazim digunakan adalah mempelajari hubungan data dengan model model literatur yang sudah ada. II.1 Analisa Bentuk Kerakal Fragmen telah lama digunakan untuk menguraikan sejarah pngendapan batuan. Perubahan bentuk fragmen tersebut cenderung kepada sifat kebolaan, oleh karena itu sifat kebolaan tersebut dijadikan standar acuan dalam analisa fragmen untuk melacak sejarah pengendapan. Faktor – faktor yang mempengaruhi bentuk batuan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Bentuk awal fragmen Struktur fragmen tersebut Resistensi batuan terhadap benturan Macam – macam media transport dan waktu atau jarak transport dalam analisa bentuk kerakal rumus yang dapat digunakan dalam menentukan sifat kebolaan adalah dengan menggunakan Krumbein : I =Ap / As

6

dimana : Ap merupakan luas partikel As merupakan luas permukaan bola dengan volume yang sama Secara praktis mengukur volume partikel dengan membenamkan ke dalam air dan kemudianbaru ditentukan sphericity I = Vp / Vs dimana : Vp adalah luas permukaan partikel sebenarnya Vs merupakan volume bola luar yang melingkupi partikel

Kerakal adalah suatu bentuk fragmen pada batuan sedimen yang memiliki ukuran berkisar antara 64mm – 256 mm. Analisa bentuk kerakal ini dilakukan untuk mengetahui suatu bentuk dari fragmen yang berukuran kerakal, selain itu kita juga dapat mengerti sejauh mana fragmen tersebut telah tertransportasi, atau dengan kata lain kita dapat mengetahui sejarah pengendapannya. Transportasi material atau fragmen yaitu suatu proses pengangkutan fragmen hingga akirnya terendapkan pada suatu cekungan atau basin. Transportasi dapat terjadi karena ada media trasnportasinya. Media transportasinya, antara lain:  Air  Angin  Es Tentu saja, bentuk fragmen sangat berpengaruh pada proses transportasi yang terjadi, oleh karena dengan menganalisa bentuk kerakal kita dapat mengetahui jejak

7

transportasinya serta sejarah pengendapannya. Namun, bentuk kerakal tidak hanya dipengaruhi oleh transportasi saja, masih banyak faktor lainnya, yaitu bentuk mulamula suatu fragmen, struktur serta tekstur dari batuan tersebut, resistensi atau ketahanan batuan tersebut, macam media transportasi, waktu dan jarak transportasi, serta perubahan iklim dan cuaca pada suatu daerah. Mekanisme yang dilakukan untuk melakukan analisa bentuk kerakal yaitu dengan melakukan deskripsi bentuk secara geometris. Dalam hal ini kita harus melakukan perhitungan besar butir yang efektif dan tepat. yang menjadi masalah adalah metode yang tepat untuk melakukan perhitungan tersebut. Apabila partikel penyusun sedimen klastika semuanya berbentuk bola, maka tidak akan muncul berbagai kesulitan yang berkaitan dengan masalah pengertian besar butir seperti sekarang ini. Hanya dengan menyatakan diameternya, orang sudah paham maksudnya. Kenyataannya, kita justru hampir tidak pernah menemukan partikel sedimen yang berbentuk bola; yang ada justru partikel yang tidak beraturan. Karena itu, para ahli sedimentologi dituntut untuk membuat suatu skema penggolongan yang sesuai dengan kenyataan tersebut. Jika ada yang mengatakan bahwa konglomerat A tersusun oleh kerikil berdiameter x, maka pertanyaannya adalah: Apa yang dimaksud dengan kata “diameter” dari partikel yang tidak beraturan seperti itu?

8

Pengukuran langsung diameter partikel yang tidak beraturan banyak menimbulkan masalah. Beberapa peneliti memakai istilah panjang, lebar, dan tebal untuk menyatakan ukuran partikel, tanpa menjelaskan pengertian ketiga istilah itu. Istilah diameter terpendek, diameter terpanjang, dan diameter menengah dari suatu elipsoid triaksial memang mudah dikatakan namun sukar dipraktekkan. Metode

dengan menggunakan sumbu terpanjang, menengah, dan terpendek pernah dikenalkan oleh Krumbein. Kemudian dengan begitu kita dapat mengukur sphericity nya dengan Rumus: LIS/L3. Dimana; L= Dimensi terpanjang I= Dimensi menengah S= Dimensi terpendek Dalam praktek, istilah diameter memiliki pengertian yang beragam, tergantung cara pengukurannya. Semua metoda peng-ukuran partikel sedimen didasarkan pada suatu premis, yaitu bahwa semua partikel berbentuk bola atau hampir berbentuk bola atau bahwa hasil pengukuran dinyatakan sebagai diameter ekivalen bola. Karena tidak ada kondisi faktual yang memenuhi persyaratan itu, maka nilai besar butir yang selama ini dikemukakan orang sebenarnya tidak ada yang benar. Jadi, besar butir suatu partikel sebenarnya tidak dapat diukur. Sebagai

9

gantinya, beberapa sifat lain dipakai untuk mengukur diameter dan hasilnya kemudian dikonversikan ke dalam nilai diameter. Pengkonversian dilakukan dengan memakai beberapa asumsi. Sebagian orang mengukur volume suatu partikel, kemudian menghitung diameter bola yang volumenya sama dengan volume partikel itu. Diameter seperti itu disebut diameter nominal (nominal diameter) oleh Wadell (1932). Metoda itu tidak tergantung pada densitas atau bentuk partikel. Jadi, sahih untuk dipakai. Ahli lain mengukur diameter berdasarkan settling velocity (kecepatan pengendapan) partikel. Karena settling velocity tidak hanya tergantung pada besar butir, namun juga pada bentuk dan densitasnya, maka metoda ini hanya sahih jika densitas dan bentuk butir partikel tetap. Hasil pengukuran itu selanjutnya direduksi dan dikonversikan ke dalam harga diameter atau jari-jari dengan asumsi bahwa butirannya berbentuk bola dengan densitas 2,65 (densitas kuarsa). Kita harus memahami konsep dasar besar butir ketika menafsirkan hasil-hasil analisis besar butir karena limitasi setiap metoda menyebabkan hasil analisis itu hanya memberikan suatu nilai pendekatan. Setelah kita mendapatkan data-data ukuran dari fragmen kerakal berupa nilai sphericity nya,kita perlu memasukan nilai-nilai tersebut ke dalam table zing untuk memeroleh nama bentk kelas dari fragmen tersebut. Berikut ini adalah table zing. Tabel Zingg Yaitu tabel yang digunakan untuk menentukan bentuk dari fragmen

10

I II III IV

>2/3 >2/3 <2/3 <2/3

<2/3 >2/3 <2/3 >2/3

Oblate Equiaxial Triaxial Prolate

Kita dapat mengetahui daerah-daerah asal transportasi ataupun kita dapat mengetahui sejauh mana fragmen tersebut telah tertransportasi dari batuan asalanya. Berikut adalah bagan yang dapat menerangkan hal tersebut.

11

Metode yang digunakan dalam Analisa Ukuran Butir 1. MECHANICAL DIS-AGGREGATION Ialah melepaskan komponen pasir dari bahan penyemen, menggunakan tangan, penumbuk karet, diencerkan dengan larutan HCL, atau direndam dalam HCL dan Stamous Clorida lalu panaskan sampai mendidih. 2. SPLITTING (PEMISAHAN) Buatlah sebuah sekat sebanyak 4 buah, dan ambil sample pada bagian 1 – 3 atau 2 – 4 agar diperoleh hasil yang berbeda. Ambil sample seberat 100 gram. 3. PENGAYAKAN Alat pengayak harus sudah bersih dulu menggunakan kuas agar tidak ada fragmen framen lain yang mengotori sample, kemudian masukkan kedalam alat penggetar. 4. PENYUSUNAN FRAKSI DAN PENIMBANGAN Ambil fraksi mulai yang dari berukuran kasar sampai bottompan, letakkan fraksi tersebut diatas kertas sesuai dengan ukurannya atau nomor urut dari ayakan lalu timbang masing masing fraksi tersebut. Kehilangan contoh tidak boleh lebih dari 0,25% dari berat semula.

12

5. PENCATATAN DAN PEMBUATAN GRAFIK Hasil penimbangan kemudian dicatat pada lembar kolom yang telah disediakan yang berisikan nomor urut, nomor mesh ayakan, diameter ayakan, ukuran butir yang tertampung, berat masing masing fraksi, presentase berat masing masing terhadap berat sample, frekuensi kumulatif yaitu frekuensi yang diperoleh dengan cara menambahkan terus menerus frekuensi yang kasar hingga kehalus. 6. PENENTUAN HARGA SORTASI, SKEWNESS, DAN KURTOSIS Penentuan dapat dilakukan dengan cara grafis ataupun dengan perhitungan. 1. Harga kuartil 1, 2, 3, dapat ditentukan dari grafik kumulatif dimana Q1 dan Q25 yaitu harga 25% dari harga kumulatif, demikiaan juga dengan Q50 dan Q75, yaitu 50% dan 75%. 2. Harga koefisien pemilahan, ditentukan oleh rumus yang ada di dasar teori 3. Harga kemancungan (Sk), bisa dilihat di teori dasar 4. Harga kurtosis, lihat di teori dasar.

II.2 Granulometri Granulometri disebut juga analisa ukuran butir, yaitu analisa yang dilakukan terhadap sedimen dengan tujuan untuk memahami cara pemisahan fragmen butiran menurut ukuran-ukuran tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan tujuan akhir yang bisa digunakan secara aplikatif, misalnya untuk keperluan sipil (pembangunan fondasi gedung dan jembatan), geologi (rekonstruksi geologi sejarah, stratigrafi, dan lingkungan pengendapan). Kali ini praktikum granulometri dapat

13

digunakan untuk mengetahui sejarah pengendapan suatu sediment dengan cara menentukan kurtosis, skewness, dan sortasi. Kurtosis yaitu suatu nilai statistik yang menunjukkan derajat kemancungan suatu penyebaran normal. Rumusan kurtosis:Kc = (Ф95 – Ф25)/ 2,44(Ф75 – Ф25). Setelah didapat hasil perhitungannya, maka akan diklasifikasikan sbb: Kc < 0,67 Kc = 0,67-0,90 Kc = 0,90-1,11 Kc = 1,11-1,50 Kc = 1,50-3,00 Kc > 3,00 very platykurtik platykurtik mesokurtik leptokurtik very leptokurtik extremely leptokurtik

Skewnees adalah suatu nilai statistic yang memperlihatkan kisaran penyebaran butiran dari nilai rata-rata nya. Menurut Folk (1962), jika skewness memiliki nilai negative atau nol maka batuan sediment itu terendapkan di daerah pantai, namun apabila skewness bernilai positif maka batuan sediment tersebut merupakan endapan di daerah sungai. Skewnes memiliki rumusan sebagai berikut: Sk = (Ф16+Ф84-2Ф50)/2(Ф84-Ф16) + (Ф5+Ф95-2Ф50)/2(Ф95-Ф5)

14

Setelah

didapat

hasil

perhitungan

skewness

tersebut,

maka

Folk

mengklasifikasikannya menjadi: Sk = -0,10 - -0,30 Sk = -0,30 - -0,10 Sk = -0,10 – 0,10 Sk = 0,10 – 0,30 Sk = 0,30 – 1,00 very negatif skewness negatif skewness nearly symmetrical positif skewness very positif skewness

Sortasi adalah tingkat keseragaman suatu butir. Sortasi dapat dihitung menurut rumusan sebagai berikut So = (Ф84-Ф16)/4 + (Ф95-Ф15)/6,6 Setelah hasil perhitungan didapat, maka langsung diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, sebagai berikut: So < 0,35 So = 0,35 – 0,50 So = 0,50 – 1,00 sangat baik baik sedang

15

So = 1,00 – 2,00 So = 2,00 – 4,00 So > 4,00

buruk sangat buruk sangat buruk sekali

Setelah semua data-data tersebut didapat maka dapat dibuat suatu diagram histogram. Bila dalam diagram histogram tersebut terdapat satu puncak disebut unimodal dan bila terdapat dua puncak disebut bimodal. Pada daerah endapan pantai, endapan sungai yang halus, serta endapan gurun, pada umunya mempunya grafik histogram yang unimodal. Selain itu kita pun harus membuat kurva kumulatif yang merupakan hubungan antara %kumulatif dengan diameter(phi). Secara garis besar mekanisme dalam melakukan granulometri atau analisa ukuran butir yaitu dengan melakukan pelepasan komponen pasir dari semennya, setelah itu dilakukan splitting. Splitting yaitu melakukan pengambilan sample yang representative, sehingga dapat mewakili seluruh butir yang akan dianalisa. Selanjutnya dilakukan tahap pengayakan. pengayakan menggunakan alat pengayak yang terdiri dari “pan” yang berukuran diameter bermacam-macam. Setiap hasil ayakan kemudian ditimbang, dari yang berukuran kasar, hingga “bottompan”. Dalam hal ini, kehilangan berat conto tidak boleh lebih dari 0,25% dari berat mula-mula.

16

II.3 Kalsimetri Kalsimetri atau adalah suatu bentuk analisa batuan sediment untuk mengetahui kadar karbonat dalam batuan sedimen tersebut. Batuan karbonat memiliki kandungan karbonat sekurang kurangnya 80%, dan terbentuk dengan berbagai macam cara. Ada yang ditransport secara mekanis dan kemudian diendapkan, ada yang terbentuk secara insitu dan dapat menunjukan growth bedding (reef). BATU GAMPING DAN PENYEBARANNYA KARBONAT LAUT DANGKAL Berumur tua, terdiri dari batupasir gampingan dan sejumlah kecil lumpur karbonat halus dan terumbu, lingkungan pengendapannya : reef, tidal flat, open bank, subaerial dunes. KARBONAT LAUT DALAM 1. Endapan turbidit, terbentuk dalam cekungan berupa graded bedding selang seling dengan sedimen lain 2. Endapan plagis laut dalam, terdiru dari globigerina dan foram plankton. KARBONAT EVAPORIT Akumulasi karbonat dengan iklim yang kering. KARBONAT AIR TAWAR 1. Napal 2. Batugamping akibat evaporasi 3. Travertin, endapan berlapis yang berada di gua gua batugamping KARBONAT EOLIAN

17

Sedikit endapan pasir karbonat yang ada di terumbu terumbu offshore Ketika berada di lapangan cara mudah untuk menentukan kadar karbonat suatu batuan adalah dengan meneteskan HCL, apabila dia bereaksi, maka batuan tersebut mengandung karbonat, namun apabila tidak bereaksi, maka batuan tersebut tidak mengandung karbonat. Berdasarkan reaksinya, adalah sebagai berikut: CaCO3 + 2HCl → CaCl2 + CO2 + H2O Namun, untuk mengetahui lebih lanjut, maka kita perlu membawa sample batuan tersebut ke laboratorium dan melakukan penelitian kalsimetri. Ada 2 metode yang digunakan untuk melakukan analisa kalsimetri, yaitu Metode Empiris dan Metode Gay Lussac. • METODE EMPIRIS Untuk kepentingan penelitian sedimentasi, metode empiris cukup akurat dan dipergunakan CaCO3 murni yang terdiri dari berbagai ukuran berat 0,25 gr, 0,50 gr, 0,75 gr, 1,00 gr. Diplot dalam grafik sebagai absis, dan volume Co2 sebagai ordinatnya. Sehingga akan membentuk suatu garis lurus dalam kertas milimeter block. Dan berat CaCO3 dari contoh batuan dapat langsung dibaca dari grafik tersebut. • HUKUM GAY – LUSSAC Pada tabung tertutup akan terjadi reaksi CaCO3 + 2 HCL  CaCl2 + CO2 + H2O. Gas yang terbentuk akan mengalir ke tabung D yang berisi aquades sehingga akan terjadi penurunan aquades pada D, dan akan terjadi kenaikan permukaan aquades. Ukur berapa kenaikannya.

18

Secara umum mekanisme yang dilakukan yaitu pertama kita harus mengambil sample dengan berbagai ukuran berat, kemudian sample tersebut dihitung % berat CaCO3 nya dengan rumus: % berat CaCO3 = (Berat CaCO3 : Berat sample) x 100%. Sample tadi,kemudian dimasukan ke dalam sebuah tabung yang terhubung dengan tabung lain yang berisi aquades pada volume tertentu. Sampel yang telah berada di tabung tersebut ditetesi HCl, maka akan bereaksi dan mendorong aquades naik. Kenaikan itu dicatat sebagai volume dari CO2. Persen berat yang telah didapat dicocokan pada diagram binair untuk menetukan jenis batuannya. Kemudian perlu dibuat suatu kurva dimana absisnya adalah sample, dan ordinatnya adalah volume CO2.

II.4 Analisa Mineral Berat Analisa mineral berat yaitu suatu peneleitian dengan cara memisahkan mineral berat kemudian di analisa secara deskriptif mineral berat yang terkandung di dalamnya. Mineral berat sendiri memiliki arti yaitu mineral yang memiliki berat jenis lebih besar daripada cairan pemisahnya. Cairan pemisah yang biasa digunakan pada analisa ini yaitu bromoform, dengan density 2,9 Aplikasi dari mineral berat adalah : 1. Penentuan asal batuan sedimen 2. Pelacakan jejak angkutan sedimen

19

3. Merelokalisir daerah rombakan batuan sedimen 4. Korelasi dari batuan sedimen 5. Pengusutan kandungan mineral ekonomis 6. Evaluasi daerah kandungan mineral ekonomis 7. Evaluasi anomali kandungan sumur geofisika 8. Penentuan sifat dan tingkat pembentukannya 9. Proses pembentukan tanah 10. Penyelidikan forensik Mineral tanah adalah mineral yang terkandung di dalam tanah dan merupakan salah satu bahan utama penyusun tanah. Mineral dalam tanah berasal dari pelapukan fisik dan kimia dari batuan yang merupakan bahan induk tanah, rekristalisasi dari senyawa-senyawa hasil pelapukan lainnya atau pelapukan (alterasi) dari mineral primer dan sekunder yang ada. Mineral mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu tanah, antara lain sebagai indikator cadangan sumber hara dalam tanah dan indikator muatan tanah beserta lingkungan pembentukannya. Jenis mineral tanah secara garis besar dapat dibedakan atas mineral primer dan mineral sekunder. MINERAL PRIMER Mineral primer adalah mineral tanah yang umumnya mempunyai ukuran butir fraksi pasir (2 – 0,05 mm). Contoh dari mineral primer yang banyak terdapat di Indonesia beserta sumbernya disajikan dalam Tabel 1.

20

Tabel 1. Beberapa jenis mineral primer
Mineral Olivin Biotit Piroksen Amfibol Plagioklas Orthoklas Muskovit Kuarsa Sumber utama Batuan volkan basis dan ultra basis Batuan granit dan metamorf Batuan volkan basis dan ultra basis Batuan volkan intermedier hingga ultra basis Batuan intermedier hingga basis Batuan masam Batuan granit dan metamorf Batuan masam

Analisis jenis dan jumlah mineral primer dilakukan di laboratorium mineral dengan bantuan alat mikroskop polarisasi. Pekerjaan analisis mineral primer dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu pemisahan fraksi pasir dan identifikasi jenis mineral.

Pemisahan fraksi pasir
Prinsip dasar pemisahan fraksi pasir adalah menghilangkan material penyemen yang menyelimuti atau menyemen butir-butir pasir dan memisahkan butir mineral berukuran fraksi pasir dari fraksi debu dan liat. Material yang menyeliputi butir pasir dalam tanah umumnya berupa bahan organik. Namun pada beberapa jenis tanah, material penyeliput tersebut selain oleh bahan organik, juga oleh besi (pada tanah merah) dan oleh karbonat (pada tanah kapur). Bahan organik dihilangkan dengan hidrogen peroksida (H2O2) besi dengan sodium dithionit (Na2S2O4) dan karbonat dengan Chlorida (HCl). Setelah butir mineral terlepas dilakukan pemisahan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan yang berukuran 1-0,05 mm. Jenis analisis mineral primer yang biasa dilaksanakan adalah fraksi berat, fraksi ringan, dan fraksi total. Untuk analisis mineral pasir fraksi berat, terlebih dahulu harus dipisahkan antara pasir fraksi berat dengan fraksi ringan. Yang

21

tergolong dalam mineral pasir fraksi berat adalah mineral pasir yang tenggelam dalam larutan bromoform dengan BJ 2,87. Untuk analisis mineral pasir fraksi total, hasil pengayakan bisa langsung diperiksa.

Indentifikasi mineral pasir
Untuk keperluan identifikasi jenis mineral pasir, diperlukan lempeng kaca berukuran 2,5 cm x 5 cm, cairan nitro bensol, dan mikroskop polarisasi. Butir pasir ditebarkan di atas lempeng kaca hingga merata kemudian ditetesi nitro bensol dan diaduk sampai tidak ada pasir yang mengambang. Lempeng kaca di taruh di mikroskop dan mulai diamati Pengamatan dilakukan mengikuti metode ”line counting” artinya hanya mineral pasir yang terletak pada garis horizontal pada bidang pandang mikroskop yang dihitung. Untuk analisis rutin penghitungan dilakukan hingga 100 butir, tapi untuk keperluan penelitian yang lebih detail, penghitungan dapat dilakukan hingga 300 butir MINERAL SEKUNDER Yang dimaksud dengan mineral sekunder atau mineral liat adalah mineralmineral hasil pembentukan baru atau hasil pelapukan mineral primer yang terjadi selama proses pembentukan tanah yang komposisi maupun strukturnya sudah berbeda dengan mineral yang terlapuk. Jenis mineral ini berukuran halus (<2μ), sehingga untuk identifikasinya digunakan alat XRD. Contoh dari mineral sekunder yang banyak terdapat di Indonesia disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Beberapa jenis mineral sekunder
Mineral Keterangan

22

Kaolinit Haloisit Vermikulit Smektit Alofan Goetit/hematit

Mineral utama pada tanah Oxisol dan Ultisol Mineral utama pada tanah volkan Inceptisol dan Entisol Mineral utama pada tanah yang berkembang dari bahan kaya mika Mineral utama pada tanah Vertisol Mineral utama pada tanah Andisol Mineral oksida besi pada tanah merah Oxisol dan Ultisol

Analisis mineral liat terdiri atas pemisahan fraksi liat dan identifikasi mineral liat.

Pemisahan fraksi liat
Prinsip dasar pemisahan fraksi liat adalah menghilangkan bahan penyeliput dan penyemen, serta memisahkan fraksi liat dari fraksi debu dan pasir. Dalam proses pemisahan fraksi ini dapat digunakan contoh yang sama dengan contoh yang digunakan untuk analisis fraksi pasir, sehingga proses destruksi bahan organik, besi, dan karbonat bisa dilakukan sekaligus. Pemisahan fraksi liat dilakukan dengan cara yang sama seperti pemisahan fraksi untuk tekstur yaitu dengan cara pengendapan yang didasarkan pada hukum Stoke.

Identifikasi mineral liat
Identifikasi mineral liat dilakukan dengan bantuan alat difraktometer sinar X (XRD). Terlebih dahulu dibuat preparatnya dengan mengendapkan fraksi liat pada lempeng kramik, setelah siap, preparat tersebut dijenuhkan dengan Mg2+, Mg2+ + glycerol, K+ dan K+ dipanaskan pada suhu 550oC,selama 1 jam (Gambar 2).Prinsip analisis dengan XRD adalah merekam dan memvisualisasikan pantulan sinar X dari kisikisi kristal dalam bentuk grafik. Grafik tersebut kemudian dianalisis, terdiri atas

23

mineral liat apa saja dan relatif komposisinya. Analisis mineral liat juga dapat dilakukan dengan contoh berupa serbuk halus (powder). Analisis ini biasanya dilakukan untuk menganalisis pupuk, mineral standar, atau mineral primer yangsulit diidentifikasi dengan mikroskop.
B.H. Prasetyo

Prospeksi mineral berat Teknik ini merupakan metode prospeksi paling tua. Sampai sekarang masih banyak digunakan untuk prospeksi endapan yang mengandung mineral resisten seperti: kromit, kasiterit, emas, platina, mineral tanah jarang, rutil, sirkon, turmalin, garnet, silimanit, kianit dsb. Material conto yang optimum adalah kerakal dengan diameter rata-rata 5 cm. Untuk dapat melakukan pembandingan antar conto, perlu jumlah conto yang seragam dengan teknik konsentrasi yang standar. Mekanisme Analisa Mineral Berat Metode yang paling sederhana adalah pendulangan atau dengan meja Wilfey. Spasi conto bervariasi antara satu per 50 – 100 km2 sampai l satu per 0,5 km2. Waktu yang diperlukan tergantung ukuran butir conto, keadaan medan dan metode konsentrasi. Identifikasi akhir dari mineral dilakukan secara petrografis di laboratorium. Metode pemisahan mineral berat secara umum antara lain dengan menggunakan cairan berat, dengan cara mekanik dan magnetic. Pada percobaan kali ini, digunakan cairan bromoform untuk memisahkan mineral berat.

24

Mekanisme dalam melakukan analisa berat yaitu sample diletakkan pada suatu tabung dengan kertas saring. Kemudian mineral berat tersebut diberi bromoform. Pemberian bromoform ini dilakukan untuk memisahkan mineral berat dengan mineral yang ringan. Mineral yang berat tersebut akan mengendap pada kertas saring. Mineral yang ada pada kertas saring dicuci dengan acetone. Selanjutnya, untuk mengeringkan mineral berat yang telah didapat maka, mineral berat yang terbungkus kertas saring, dimasukkan ke dalam oven, hingga benar-benar kering. Langkah berikutnya yang dilakukan adalah, menempatkan mineral berat tersebut pada preparat untuk kemudian dilihat melalui mikroskop dan diteliti secara deskriptif. Pengamatan melalui mikroskop dapat mendeskripsikan mineral-mineral berat tersebut secara mineralogist. Dengan begitu, kita dapat mengetahui nama mineral tersebut dan kemungkinan-kemungkinan ekonomis dari mineral berat yang didapat. Analisis konsentrat mineral berat dari sedimen Konsentrat mineral berat yang diperoleh dianalisis unsur jejaknya untuk mengetahui mineral asalnya. Contohnya pirit dipisahkan dari sedimen sungai dan dianalisis Cu-nya. Pirit yang berasal dari endapan Cu dapat mengandung 1100–1700 ppm Cu, pirit dari endapan Au mengandung 40–480 ppm Cu, dan pirit dari batubara menandung 100 -120 ppm Cu. Manfaat Analisa Mineral Berat

25

Kehadiran mineral berat yang umumnya bersifat konduktif terhadap arus listrik dan cenderung untuk memberi pengaruh negatif terhadap interpretasi atas pembacaan log listrik. Sesuai dengan fungsi yang dimainkan log listrik dalam analisis log distorsi apapun yang terjadi pada pembacaan log listrik akan berkaibat pada kesalahan interpretasi atas besaran petrofisik seperti saturasi air (S). Oleh sebab itu, sebuah metode yang dapat bekerja baik dalam meminimumkan efek negatif tersebut adalah sangat diperlukan. Tulisan ini menyajikan hasil-hasil dari suatu studi atas pengaruh kehadiran mineral berat-konduktif, yang terdistribusi secara terdispersi, pada pembacaan resistivitas listrik. Dengan didasarkan pada analogi dan pengembangan dari model resistivitas total pada kasus penyebaran lempung secara terdispersi, sebuah metode koreksi telah dibangun. Untuk aplikasi dan validasinya, pengukuran resistivitas listrik atas 15 percontoh sintetik dilakukan di laboratorium untuk berbagai kandungan bubuk besi pada berbagai harga saturasi air. Aplikasi dari metode tersebut pada hasil pengukuran laboratorium yang dilakukan secara cermat memperlihatkan bahwa metode yang disajikan di sini dapat diindikasikan dengan kecocokan yang baik dan konsisten antara saturasi air hasil perhitungan dengan menggunakan model Archie dengan saturasi air yang teramati di laboratorum, Metode ini juga disajikan dalam bentuk yang mudah sekali untuk diintegrasikan dalam praktik-praktik standar log analisis. Analisa mineral berat sendiri memberikan banyak manfaat. Manfaat dari analisa mineral berat antara lain sebagai penentuan sejarah pengendapan sediment, mengetahui kandungan mineral ekonomis, mengetahui proses pembentukan tanah, mengetahui transportasi dari batuan sedimen, mengetahui daerah rombakan dari batuan sediment tersebut.

26

II.5 Interpretasi Sand Shale Ratio Map, Clastic Ratio Map, dan Combined Map Pembuatan sand shale ratio dan clastic ratio yang kemudian akan digabungkan menjadi combined map sendiri memiliki tujuan untuk mengetahui persebaran daerah tempat terakumulasinya hidrokarbon. Akumulasi hidrokarbon seperti minyak bumi sangat bernilai ekonomis, oleh karena itu, metode pembuatan combined map ini sangat penting dan krusial dalam dunia perminyakan. Pengertian dari clastic ratio map yaitu peta yang menunjukan jumlah dan distribusi dari formasi batuan klastik dengan batuan non klastik pada suatu regional tertentu. Sedangkan sand shale ratio map adalah peta yang menampilkan jumlah dan persebaran dari perbandingan formasi batuan pasir (sandstone) dan serpih (shale) pada suatu regional tertentu. Gabungan dari kedua peta tersebut menjadi suatu combined map. Rumus dari clastic ratio map yaitu: CR=(conglomerateclastic+sandstone+shale) / (limestone nonklastik+dolomite+evaporate) Rumus dari sand shale ratio yaitu: SSR= (conglomerate+sandstone) / shale

27

Mekanisme dalam pembuatan combined map yaitu melakukan ploting terhadap lokasi-lokasi sumur, kemudian dibuat peta SSR dengan perbandingan 1/8;1;8 pada kertas kalkir. Begitupun dibuat peta CR dengan perbandingan ¼;1;8 pada kertas kalir. Kedua peta tersebut digabungkan, dimana letak CR di atas dari SSR. Kemudian diberi pewarnaan. Warna biru menunjukkan arah laut waktu pembentukan sedimentasi, merah merupakan pasir yang prospek sebagai akumulasi hidrokarbon serta daerah yang dikembalikan 10 tahun pertama sebesar 10%. II.6 Analisa Core Core adalah contoh atau sample batuan yang diambil dari inti pengeboran, core bisa berupa : • • Core asli atau core yang diambil langsung dari titik pemboran. Core pecahan, yaitu hancuran hancuran saat pengeboran yang diambil dan digunakan sebagai sample. • Core dinding, yaitu core yang diambil dari dinding pengeboran.

CORE BATUAN KLASTIK Core batuan ini mengandung batuan sedimen klastik yang terdiri dari batupasir, lanau, lempung yang kebanyakan fungsinya sebagai resevoar dan cap rock atau batuan penutup. CORE BATUAN KARBONAT Core batuan karbonat ini mengandung batuan karbonat serta fosil fosil didalamnya yang fungsinya sama dengan core batuan sedimen klastik yaitu sebagai source rock dan resevoar yang bagus.

28

Core analysis atau analisa core adalah sebuah analisa yang dilakukan di laboratorium untuk menentukan parameter seperti permeabilitas absolute dan porositas serta saturasi air, dan permeabilitas relatif. Pengukuran berdasarkan core sangat nyata dan akurat untuk menentukan suatu parameter reservoir. Dengan melakukan analisa core kita dapat mengetahui lingkungan pengendapan dari data core atau inti yang dianalisa , serta dapat memperkirakan fasies,litologi, dan menyusun sejarah geologinya. Lingkungan pengendapan yang dimaksud yaitu lingkungan dimana batuan sediment diendapkan secara beruntun dan mempunyai keadaan atau kondisi fisika, kimia, dan biologi yang kompleks. Dalam dunia perminyakan, hal ini tentu sangat berguna untuk menentukan batuan reservoir, yang merupakan batuan dimana tempat akumulasi minyak bumi. Faktor yang memengaruhi lingkungan pengendapan, antara lain :  supply material  tectonic subduction  sea level change  iklim  fosil  struktur sediment  komposisi mineral

29

Mekanisme dalam melakukan analisa core, sebagai berikut: 1. membuat table dalam millimeter,yang berisi ukuran kedalaman core, symbol litologi, struktur sediment, jenis fosil, ukuran butir, litologi dan lapisannya, serta lingkungan pengendapannya. 2. mencatat dan membuat lapisan menurut besar yang diketahui dan sesuai skala. 3. mengetahui dan membuat symbol litologi dari lapisan tersebut 4. menentukan ukuran butir sesuai skala wentworth 5. menentukan struktur sediment 6. menentukan litologi dan lapisan 7. menentukan lingkungan pengendapan 8. menentukan umur menurut skala waktu geologi.

30

BAB III PENUTUP III.1 Kesimpulan Dalam Praktikum Sedimentologi dan Stratigrafi ini, kita mempelajari tentang 1. Analisis Bentuk Kerakal 2. Analisi Ukuran Butir 3. Kalsimetri 4. Analisa Mineral Berat 5. Interpretasi ”Sans Shale Ratio”, ”Calastic Ratio” dan ”Combined Map” 6. Analisa Core Dimana dalam setiap bahasan tersebut kita dapat mempelajari mengetahui dimana pengendapan sedimen tersebut, jarak yang ditempuh batuan batuan sedimen tersebut, bagaimana cara pengendapan sedimen tersebut, bahkan aspek aspek ekonomis yang terkandung didalam batuan sedimen tersebut.

31

III.2 Saran Saran saya, mohon agar disediakan dan dilengkapi barang barang yang digunakan untuk praktikum seperti kertas kalkir, milimeter block. Dan mohon jika terjadi mati lampu, tolong gensetnya diperkuat agar tidak mengganggu waktu praktikum. Terima kasih.

Daftar Pustaka -Ali Jambak, Mueh dan Hendrasto, Fajar. Diktat Penuntun Praktikum Sedimentologi. Universitas Trisakti. Jakarta - www.wikipedia.com/sedimentology - www.google.co.id/sedimentology

32

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.