You are on page 1of 7

Beberapa Catatan Seputar

KALIGRAFI DALAM INSKRIPSI*


Oleh D. Sirojuddin AR


A. Menentukan Posisi Kaligrafi dalam Inskripsi
Kaligrafi masuk dalam lingkup ilmu, seni, dan filsafat ( (

yang semula menjadi sarana ilmu pengetahuan berkembang menjadi salahsatu aspek
estetika dan memiliki 5 (lima) tujuan, yaitu:
1. tujuan didaktik (

)
2. tujuan edukatif (

)
3. tujuan estetis (

)
4. tujuan praktis ( )
5. tujuan ekonomis (

)

Sangat mungkin inskripsi dibuat untuk tujuan praktis (kebutuhan sosial) yang
berhubungan dengan tujuan-tujuan lain, karena dibuat indah, untuk pelajaran, dan atas
pesanan yang berbiaya tinggi. Maka penting menyusuri latarbelakang tujuan pembuatan
sebuah inskripsi.

B. Menentukan 4 Komponen Penyempurna Tulisan
Perlu meneliti kelengkapan empat komponen karya yang akan menentukan
kesempurnaan atau ketidaksempurnaan sebuah naskah tertulis. Dalam syair Putaran
Seperempat disebutkan:

*


Seperempat tulisan terletak pada hitam tintanya
Seperempat: indahnya hasil ciptaan sang penulis
Seperempat tergantung kalam yang engkau serasikan potongannya
Dan pada kertas ada faktor keempat.

Penelitian tentang tinta diarahkan kepada jenisnya (midad, dawat, hibr hafs, hibr
ruz, hibr zait zaitun, hibr basal, hibr baqula, hibr hadid, hibr zahab, hibr hindi, hibr kufi qusyur
ruman, hibr kufi nawa tamar, dan hibr kufi afas rumi hingga mihbarah sebagai wadah
peyimpan atau tempat pengolahannya), warna, cara menutulnya, bahan-bahan dan proses
pembuatan dan pabriknya. Kalam dari pohon atau bahan metal apa dibuat, dan sejauh mana
tingkat proporsi dan variasi kemiringan pelatuknya untuk menentukan akurasi jenis khat
yang ditulisnya. Disebutkan: (Sesungguhnya, keindahan tulisan
tergantung kepada pulpen). Ibnu Muqlah bahkan mengatakan,
(Menguasai khat adalah dengan bagusnya potongan pulpen). Kertas yang digunakan harus
diketahui jenisnya (qirthas, burdiy, waraq, tin, hajar,usub, karanif, aqtab, aktaf, izham,
mahariq, qubathi, sahifah, kitab, zabur), pabrik dan teknologi pembuatannya untuk
mendeteksi efek goresan dan kawasan pusat pengambilannya: wilayah banyak pohon,
lingkungan pohon kurma, atau padang sahara. Dan, tentu saja, yang juga menentukan
adalah kepiawaian penulisnya dalam mengolah dan memilih jenis khat, sehingga diketahui
siapa tokoh penulis di balik naskah yang ditulisnya.

C. Menentukan Peringkat dan Derajat Tulisan

Secara garis besar, kaligrafi memiliki tiga karakter yang dapat dijadikan instrumen
penilai berdasarkan kepentingannya masing-masing, yaitu:
(jelas dibaca dan mudah dipahami)
(mudah dituliskan)
(indah tampilannya)



Tiga karakter (jelas dibaca, mudah dituliskan, dan indah tampilannya) ini berlaku
untuk seluruh tulisan dunia, yang dapat menentukan posisi sebuah karya dua atau tiga
dimensi. Tetapi, mudah dibaca yang jadi atribut al-khat al-maqbul al-syakl adalah asas
pokok untuk menebak tanpa kesulitan sebuah karya termasuk inskripsi. Seperti
disebutkan dalam pepatah:

(Tulisan paling bagus adalah yang bisa dibaca)



Ketentuan penilaiannya adalah sebagai berikut: Pertama, apabila kaligrafi itu
sempurna memiliki tiga karakter itu, disebut khat kamil miah fi miah (kaligrafi sempurna
100 %), dan kaligrafi seperti ini tidak ada di zaman kuno (benda kuno pun kerap mengacu ke
sini!). Kedua, kaligrafi yang tidak memiliki tiga karakter tersebut dinamakan khat naqis baht
(kaligrafi kurang sempurna), dan ini yang jadi ciri kaligrafi kuno. Ketiga, kaligrafi yang
memiliki sebagian karakter di atas disebut khat wast atau khat al-bain bain (kaligrafi
pertengahan), dan ini yang umum berkembang di dunia Islam.


D. Menentukan Kesempurnaan Penulisan

Para penulis (katib) zaman dulu terdiri dari 5 (lima) kelompok:
1. Katib khat (penulis kaligrafi) yang disebut khattat/kaligrafer, warraq, atau
muharrir.
2. Katib lafz (penulis lafal) yaitu kurir.
3. Katib aqd (penulis transaksi) yang bertugas membantu pekerja.
4. Katib hukm (penulis undang-undang) yang bekerja untuk jaksa, hakim, atau polisi.
5. Katib tadbir (penulis planning-managenent) sebagai sekretaris pribadi sultan atau
sekretaris menteri Negara.

Masing-masing penulis disyaratkan memahami kaligrafi, tulisan, imla, dan insya
(mengarang atau tatabahasa), sehingga sebuah inskripsi dapat diketahui tingkat
kesahihannya dengan mengetahui kondisi penulisnya. Untuk tulisan yang kurang sempurna,
misalnya, dapat dinyatakan penulisnya kurang hati-hati atau kurang memahami teknik
penulisan.


E. Menentukan Keindahan/Kekurangindahan Kaligrafi
Meskipun temuan inskripsi tidak lazim diarahkan kepada penilaian indah atau
kurang indahnya tulisan, namun penting menyimpulkan, misalnya dengan mengatakan,
ditulis dengan khat Sulus yang indah, ditulis dengan khat Sulus yang kurang sempurna
dengan kehilangan beberapa tarwisy pada beberapa alif dan lam awwalnya, ditulis dengan
khat Sulus bercampur Naskhi, ditulis dengan khat Naskhi bercampur Sulus, ditulis
dengan Kufi Mail (Kufi Miring), ditulis dengan khat Farisi yang asal condong ke kanan,
dan lain-lain.
Atau, setidaknya, dengan memasukkan kata-kata tadi sebagai unsur tambahan
atau catatan, karena yang paling asas dari kaligrafi adalah keterbacaannya:



(Selama kaligrafi dapat dibaca, maka keindahan tidaklah jadi prioritas. Kalau pun
perlu tambahan, cukup asal bagus saja).



(Jika seorang kaligrafer menulis, ia harus menyandingkan antara keindahan
dengan kesempurnaan), yaitu keterbacaannya yang paling penting.

*

(Ketahuilah, bahwa yang diinginkan dari komposisi kaligrafi hanyalah kejelasan
tata sambungnya. Kalau maknanya sudah jelas, maka keindahannya hanyalah syarat
tambahan).

Untuk menilai sebuah karya bagus atau jelas, secara rinci dikemukakan oleh Ali ra:





(Wahai Abdullah, renggangkan jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi,
peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya!).

Di sini, penilaian diarahkan kepada: kepantasan jarak antar huruf dan antar kata,
ketepatan pola susunnya, keharmonisan besar-kecil-lengkung-kejur-tinggi-rendahnya harus
proporsional, dan ketepatan bentuk huruf-huruf tunggalnya.
Secara ringkas, penilaian plus-minus pada karya (inskripsi atau manuskrip) dapat
dilihat dari prinsip-prinsip keindahan kaligrafi dan tulisan berikut:

:
.
(
( )
. )
.
.
.
.
1. Huruf-huruf harus jelas.
2. Ukuran huruf dalam satu kata harmonis (dari sudut besar-kecil, lebar, dan pengaturan
partikel-partikelnya).
3. Harus ada korelasi (dalam jarak antar kata yang berkesinambungan dalam satu baris).
4. Selalu lurus searah dalam garis vertikal.
5. Tidak mengabaikan noktah, hamzah, dan nibrah dan meletakkannya dalam posisi yang
tepat.
6. Memelihara kaedah imla dalam kaligrafi.
7. Kemampuan penulis untuk menulis cepat.








DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Gouchani, Khat Kufi Maqili (Angular Kufic on Old Mosques of Isfahan), Isfahan: Binyad Indish
Islami, 1985
Abu al-Abbas Ahmad ibn Ali al-Qalqasyandi, Subh Al-Asya, Kairo: Wazarah al-Saqafah wa al-Irsyad al-
Qaumi, t.t., jl. 1-4
Ahmad Sabri Mahmud Zayid, Ahdasu al-Turuq li Dirasati wa Tahsini al-Khat (5 jld), Kairo: Maktabah
Ibnu Sina, t.t.
Ahmad al-Zahab, Al-Khat al-Arabi Arqa al-Funun wa Anbaluha, Tripoli: Dar al-Syamal li al-Tibaah wa
al-Nasyr wa al-Tawzi, 1414 H/1994 M, cet. ke-2
Asin Eitel (ed.), Wahdah al-Fan al-Islami, Riyad: Markaz al-Malik al-Faisal li al-Buhus wa al-Dirasat al-
Islamiyah, 1405 H
D. Sirojuddin AR, Asah Asuh Huruf, Jakarta: Depbinkat Lemka, 1417 H/1996 M
---------------, Belajar Kaligrafi (7 jld), Jakarta: Darul Ulum Press, 1995
---------------, Seni Kaligrafi Islam (Pengantar Prof. Drs. Ahmad Sadali), Bandung: P.T. Remaja
Rosdakarya, 2000, ed. 2, cet.ke-1

Fauzi Salim Afifi, Cara Mengajar Kaligrafi Pedoman Guru (Alihbasa dan Pengantar Drs. H.D. Sirojuddin
AR, MAg.), Jakarta: Darul Ulum Press, 2002, cet. ke-1
Habibullah Fadaili wa Muhammad al-Tuwainji, Atlas al-Khat wa al-Khutut, Damaskus: Dar Talas, 1993,
cet. ke-1
Hamd al-Jaber (ed.), Al-Khat al-Arabi min Khilal al-Makhtutat, Riyad: Markaz al-Malik Faisal li al-Buhus
wa al-Dirasat al-Islamiyah, 1406 H
Hasan Qasim Habsy Al-Bayati, Rihlatu al-Mushaf al-Syarif min al-Jarid ila al-Tajlid, Beirut: Dar al-
Qalam, 1414 H/1993 M, cet. 1
Hassan Massoudy, Al-Khat al-Arabi (Calligraphie Arabe Vivante), Paris: Flammarion, 1981
Hasyim Muhammad Al-Khattat, Qawaid al-Khat al-Arabi, Bagdad: Maktabah al-Nahdah dan Beirut: Dar
al-Qalam, 1400 H/1980 M
Kamil al-Baba, Dinamika Kaligrafi Islam (Alihbasa dan Pengantar Drs. D. Sirojuddin AR), Jakarta: Darul
Ulum Press, 1992
---------------, Ruh al-Khat al-Arabi, Beirut: Dar el Ilm lil Malayin dan Dar Lubnan Publishers, 1983, cet. 1
Kamil Salman al-Jaburi, Mausuah al-Khat al-Arabi (6 jld)), Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1420
H/1999 M,
---------------, Usul al-Khat al-Arabi, Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1420 H/2000 M, cet. 1
Mahdi al-Sayid Mahmud, Kaifa Tataallamu al-Khat al-Arabi, Kairo: Maktabah Ibn Sina/Maktabah
Alquran, 1987
Mahmud Syukri Al-Jaburi, Tarikh al-Khat al-Arabi, t.t.
Maruf Zureiq, Kaifa Nuallimu al-Khat al-Arabi, Damaskus: Dar al-Fikr dan Beirut: Dar al-Fikr al-Muasir,
1419 H/1999 M, cet. 1
Muhammad ibn Said Syarifi, Al-Lauhat al-Khattiyah fi al-Fan al-Islami, Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Kasir-
Dar al-Qadiri, 1419 H/1998 M, cet. 1
Muhammad Haddad, Al-Mausuah al-Jamiah li al-Khat al-Arabi, t.t.
Muhammad Tahir al-Kurdi, Tarikh al-Khat al-Arabi wa Adabuhu, Riyad: Al-Jamiyah al-Arabiyah al-
Suudiyah, 1402 H/1982 M
Muhyiddin Najib B, Maalim al-Khat al-Arabi, Aleppo: Dar al-Qalam al-Arabi, 1413 H/1993 M, cet. 1
Naji Zainuddin, Badai al-Khat al-Arabi, Bagdad: Al-Majma al-Ilmi al-Iraqi, 1391 H
---------------, Musawwar al-Khat al-Arabi, Bagdad: Maktabah al-Nahdah: t.t., cet. 2
Yahya Wahib al-Jabburi, Al-Khat wa al-Kitabah, Beirut: Dar al-Garb al-Islami, 1994, cet. 1
Y.H. Safadi, Islamic Calligraphy, London: Thames and Hudson, 1978





--------------------------------------------
*Disampaikan pada Seminar Hasil Penelitian Mushaf Kuno di Nusantara, Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMA) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, di
Hotel Pajajaran, Bogor, 29 September 2014