You are on page 1of 16

1

Marine
Insurance
2
Dasar Hukum Marine Cargo
3
Adanya penggarisan yang demikian sudah barang tentu erat sekali
hubungannya dengan nilai barang yang diangkut karena penentuan ongkos
pengangkutan prinsipnya didasarkan atas nilai barang dan ukuran barang.
Bilamana si pengirim tidak memberitahukan nilai barang yang
sesungguhnya, sudah pasti akan dikenai tarif umum dan jika kerugian
terjadi, maka Limitation of Liability akan diterapkan.

Perusahaan-perusahaan penerbangan internasional selama ini mengambil
ketentuan Konvensi Roma dan Konvensi Warsawa sebagai dasar hukum
tanggung jawabnya kepada penumpang dan barang-barang (bagasi)
penumpang, sedang khusus penerbangan nasional Indonesia, tanggung
jawab perusahaan penerbangan terhadap penumpang dan barang (bagasi)
penumpang diatur oleh SK Menteri Perhubungan No. A 013/A4 507/MPBH
tanggal 27 Agustus 1991 tentang penetapan santunan asuransi sebesar
US$ 20,000 per penumpang dan Rp. 20.000,- per kg barang penumpang.
4
1.4. Dasar Hukum Multi Modal Transport
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai Door to Door Service yang
menggunakan minimal 2 (dua) jenis angkutan yang berbeda menjadi satu
kontrak pengangkutan yang lebih dikenal dengan International Freight
Forwarders Bill of Lading (FIATA B/L). Dasar hukum yang dipakai oleh
FIATA B/L ini adalah protocol Visby Rules 1968 yang kemudian menjadi
The Hague Visby Rules 1971.

5
INCO Terms
6
Who should buy insurance ?
Pembeli atau penjual?
Ini sangat tergantung oleh type transaksi
antara keduanya
Standard perdagangan ini di standardkan
oleh the International Chamber of
Commerce yang disebut dengan
Incoterms;
Terakhir direvisi pada tahun 1990
7
Klausula penegasan General Average : pasal ini menjelaskan jaminan atas biaya-
biaya untuk general average dan salvage yang terjadi karena menghindarkan atau
berhubungan dengan bahaya-bahaya dalam perjalanan, kecuali resiko-resiko yang
disebutkan pada padal 4,5, 6 dan 7.

Both to blame collision : penegasan mengenai tanggung jawab dalam hal tubrukan
kapal. Pasal ini memberikan jaminan pada tertanggung bahwa apabila ia terpaksa
turut membayar tanggung jawab terhadap pemilik kapal lain akibat tubrukan, maka ia
akan mendapat penggantian dari asuransinya. Jika terjadi hal demikian, maka
tertanggung harus segera memberitahukan hal ini kepada pihak asuransinya. Pihak
asuransi akan melakukan pembelaan, dengan biaya sendiri atas klaim jenis ini.
8
Penjelasan pasal 5
Asuransi tidak menjamin kerusakan atau kerugian akibat dari : tidak layak lautnya
kapal ; tidak cocok atau tidak serasinya kapal, container, conveyance untuk
mengangkut barang yang bersangkutan dengan aman dan selamat, apabila
tertanggung atau wakilnya mengetahui kapal tidak layak laut atau tidak cocok untuk
barangnya saat dimuat. kecuali telah diketahui dan disetujui oleh penanggung
sebelumnya.

Sebagaimana diketahui dalam voyage policy adalah merupakan implied warranty
bahwa kapal harus layak laut pada saat memulai pelayarannya. Kalau ternyata tidak
layak laut dan akibat dari itu terjadi kerugian atas barang yang diangkutnya, maka
pihak asuransi tidak akan bertanggung jawab atas hal itu.

9
Quotation Slip - lanjutan
13. Underwriting Info : Informasi ini walaupun tidak wajib ada namun pihak underwriter
haruslah mencari tahu detail tertanggung, karena hal ini akan membantu underwriter
dalam mengambil keputusan yang cepat dan dengan terms yang baik. Informasi
yang mungkin diperlukan seperti estimated annual turnover, pengalaman klaim-klaim
sebelumnya, cara packing, dll.
10
Jenis Polis Marine Cargo
1. Time policy atau polis berjangka :
adalah polis yang menutup pertanggungan untuk suatu periode tertentu misalnya 6 bulan, 1
tahun, dsb
2. Voyage policy atau polis perjalanan:
adalah polis yang menutup pertanggungan selama perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain
tanpa mempersoalkan lamanya waktu yang dipergunakan dalam perjalanan
3. Mixed policy adalah polis campuran antara polis berjangka dengan polis perjalanan. Dasarnya
adalah perjalanan, akan tetapi kemudian ditambahkan suatu jangka waktu tertentu (30 hari, 60
hari)
4. Open policy atau Floating policy
adalah polis yang menutup pertanggungan sejumlah barang-barang yang pengapalannya
akan ditentukan kemudian. Polis ini hanya memuat syarat-syarat pokok mengenai macam
barang yang ditutup sedangkan pelaksanaan penutupanya akan dilakukan melalui deklarasi
5. Open cover
adalah polis yang menutup sejumlah barang tertentu untuk jangka waktu tertentu akan tetapi
pelaksanaannya akan ditentukan setelah pengapalan atas barang dilakukan

11
Open Policy atau Floating
Policy
Seorang tertanggung atau pedagang yang bermaksud untuk
mengimport atau mengirim sejumlah barang-barang dimasa yang
akan datang dan pelaksanaan pengapalannya banyak serta
belum diketahui waktunya dengan pasti, sering mengalami
kesulitan dalam mengatur penutupan asuransi untuk tiap-tiap
pengapalan, terutama jika dia mengalami kesibukan dan
usahanya. Kesulitannya terutama terjadi karena ia harus
melakukan penutupan asuransi untuk tiap-tiap pengapalan untuk
mana laporan penutupan kepada underwriter harus segera
dilakukan sebelum risiko berjalan.
Dalam hal ini ada kemungkinan dia lupa melaksanakan penutupannya
disebabkan kesibukannya mengurus hal-hal lainnya. Untuk
melindungi tertanggung dalam hal yang demikian, ia akan
meminta penutupan seluruh kepentingannya atas dasar Open
Policy atau disebut juga Floating Policy.
12
Open Policy
Open policy ini adalah suatu perjanjian antara tertanggung dengan underwriter
yang hanya memuat persetujuan-persetujuan pokok, sedangkan
pelaksanaan penutupan sebenarnya yang dilakukan melalui deklarasi pada
underwriter. Untuk tiap deklarasi yang diberikan oleh tertanggung,
penanggung akan membuatkan voyage policy atau certificate yang jumlah
pertanggungannya mengurangi jumlah yang diperjanjikan dalam Open
Policy. Uang deposit untuk penutupan ini dapat diberikan lebih dahulu
sejumlah tertentu, yang penggunaannya dikurangkan dalam tiap-tiap
deklarasi , atau preminya bisa ditetapkan untuk tiap-tiap deklarasi (tanpa
premi deposit).
Open policy akan tetap berlaku sampai semua barang-barang yang disebutkan
didalamnya dikapalkan. Dengan kata lain Open Policy baru akan berakhir
setelah jumlah deklarasi yang diberikan oleh tertanggung sama dengan
jumlah yang disebutkan di dalam Open Policy.
13
Open Cover
Kalau dalam Open Policy pokok penutupan didasarkan pada jumlah barang
yang akan dikapalkan dimasa yang akan datang, tanpa mempersoalkan
lama pertanggungan, maka dalam Open Cover penutupan terutama
didasarkan pada waktu. Jadi Open Cover adalah suatu kontrak persetujuan
asuransi yang ditutup dalam jangka waktu tertentu (12 bulan). Segala
pengapalan yang dilakukan selama periode itu dan termasuk dalam Open
Cover, otomatis ditutup tanpa mempersoalkan berapa besarnya, asal juga
tidak melebihi dari limit yang ditentukan untuk tiap-tiap pengapalan.
Pelaksanaanyapun dilakukan melalui deklarasi.
Jadi syarat-syarat pokok yang dimuat dalam Open Cover, pada umumnya tidak
berbeda dengan yang dimuat dalam Open Policy. Bedanya hanyalah Open
Policy akan berakhir setelah jumlah barang yang telah dikapalkan
seluruhnya (tanpa mempersoalkan lamanya waktu) sedang Open Cover
akan berakhir setelah jangka waktu yang ditentukan, tanpa mempersoalkan
berapa jumlah yang akan dikapalkan selama periode pertanggungan.
14
Underwriting

15
Underwriting
Seorang underwriter yang prudent haruslah melakukan risk assessment
sebelum memberikan terms & conditions atas suatu broker slip
berdasarkan hal-hal sbb:

1. Siapa saja tertanggungnya (the insured)
2. A full description atas barang yang akan diasuransikan
3. Method of packing (refer to Lloyds Survey Handbook)
4. Method of shipment, by road, barge, by sea, by air, atau campuran
5. Geographical limit , full and precise information as to the journey or route
contemplated, termasuk details of any rail, river or transit before and after
shipment and port of transhipment, jika ada.
6. Basis of valuation of goods
7. Sum Insured for an individual consignment
16
Particular charges
Partial loss atas barang masih dapat ditambah dengan pengeluaran=2
yang dilakukan oleh tertanggung dengan maksud untuk mencegah
(mengurangi) terjadinya kerugian yang lebih besar, asal hal itu
dilakukan secara wajar serta pengeluaran termaksud tidak termasuk
pada general average atau salvage charges.

Pengeluaran ini dapat dibebankan kepada penanggung sebagai
tambahan pada kerugian atas barang barang, hal ini disebut
particular charges kedalamnya bisa juga termasuk sue and labour
charges.

Dengan sendirinya particular charges hanya dijamin oleh polis apabila
particular average untuk mana charges tersebut dikenakan memang
dijamin oleh polis.

Dalam ICC A/B/C 1/1/82 ada dua pasal yang menjamin particular
charges ini yaitu pasal 12 dan 16.