You are on page 1of 7

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan ,katakanlah di Indonesia saja.indonesia telah memiliki banyak sekali sekolahan mulai dari

tingkat dasar sampai tingkat yang tinggi.ini menunjukkan bahwa pendidikan itu penting bagi semuanya.Malah dikatakan dalam hadist bahwa

“mencari ilmu itu wajib mulai dari ayunan ibu sampai ke dalam liang lahat”.Di dalam jaman yang serba modern ini,dunia telah telah

mengalami perubahan sedangkan perubahan itu,bukanlah perubahan yang lambat serta biasa tetapai perubahan itu adalah perubahan yang

super cepat dan super luar biasa dan perubahan itu selalu ditrima oleh masyarakat dari berbagai segi perubahan.baik itu perubahan

teknologi,perubahan ekonomi dll.

Adanya perubahan di suatu Negara,itu di karenakan Negara tersebut telah memili ahli dalam bidangnya.dengan

adanyamereka,Negara dapat menciptakan hal-hal yang baru serta menyebar denga cepat yang selalu bias diterima oleh masyarakat dengan

mudah yang akhirnya timbullah suatu perubahan.

Kita sebagai anak bangsa,harus bias menjadi sdeperti merea yang mampu mengubah dunia.Itu bias kita lakukan dengan kita sekolah

yang berstatus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).Dengan kita sekolah di sini,kita dituntut untuk bisa

bekerja atau bahkan langsung bisa membuka lapangan kerja yang baru setelah kita lulus nanti.

Sekarang,pemerintah Indonesia telah menggalakkan sekolah yang berstatus SMK,katakanlah 60 % untuk sekolah SMK dan 40 %

untuk sekolah SMA.Dengan adanya hal ini,berarti pemerintah Indonesia ingin menjadikan dan mencetak anak bangsa menjadi anak yang

berkompetensi serta berkualitas di Era Modernisasi. Pada masa bukanlah masa seperti jaman purba, tetapi masa ini telah mengalami

kemajuan yang begitu pesat,dimana dunia telah menjadi tolak ukur suatu persaingan antar Negara.

Ada perrnyataan yang mengatakan bahwa “tak kenal maka tak sayang” oleh sebab itulah sepantasnya penulis menjelaskan tentang

pengangkatan judul ini, “ Maraknya Sekolah Menengah Kejuruan di Era Modernisasi “. Alasan yang paling pokok penulis mengangkat judul

ini adalah dari fenomena yang mengenai masalah pendidikan yang sekarang sedang mewarnai negara-negara di dunia umumnya dan di

Negara Republilk Indonesia khususnya,mendorong penulis untuk

2
menjadikan objek sekaligus referensi dalam pembuatan karya tulis ilmiah sebagai kreativitas ,motivasi dan inovasi dalam membangun

semagat belajar,yang menjadikan anak bangsa yang berkualitas dan berkompetensi di Era Modernisasi ini.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis jabarkan mengenai pengangkatan judul serta alasannya.maka dapat ditarik suatu

permasalahan :

1. Bagaiman cara seorang anak bangsa khususnya indonesia bisa lebih memperdalam ilmunya serta dapat mengembangkan potensi yang

terkubur dalam dirinya ?

2. Mengapa sekolah yang berstatus SMK khususnya di indonesia rata-rat memiliki jurusan-jurusan yang sama ?

1.3. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian kali ini,sang penulis ingin mengetahui seberapa penting sekolah yang berstatus SMK itu baik dalam kalangan

guru,murid maupun masyarakat. Maka dari itu penulis memberi batasan masalah agar penulis lebih terfokus pada yang ditiliti. Di sini penulis hanya

mempunyai 3 tokoh yang dijadikannya sebagai sumber informasi,mereka adalah :

1. Yayasan Miftahus sa’adah selaku pendidri SMK Ungulan NU

2. Bapak dan ibu guru yang megerti betul tentang masalah ini

3. Siswa-siswi yang telah sekolah di SMK

1.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan,penulis mendapatkan tujuan penelitian itu dengan menjawab rumusan masalah :

1. Cara seorang anak bangsa khususnya anak indonesia agar keahliannya yang terkubur dalam dirinya dapat dikembangkanitu berbeda-

beda, kadangkal ada yang hanya dengan membaca mereka langsung mengerti, tetapi cara pengembangan bakat yang lebih berkualitas

adalah hanya dengan sekolah,dengan sekolah seorang guru bisa


3 memberikan apa yang

mereka telah ketahui. Sekolah yang mampu mencetak lulusannya berguna adalah sekolah yang berbasis SMK, jika seorang anak di

sekolahkan di sini,mereka dengan sendirinya akan dapat mengembangkan keahliannya.

2. Untuk mengetahui di mana seorang anak bangsa yang berbakat dan mempunyai keinginan untuk mengembangkan bakatnya yang

terpendam dengan model bakat yang sama,

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang telah diselesaikan oleh penulis ini,diharapkan bisa bermanfaat bagi berbagai kalangan baik dari kalangan

siswa,kalangan guru serta kalangan masyarakat khususnya dan bisa bisa menberikan manfaat bagi dunia dan Negara indonesia demi

terciptanya tujuan nasional bangsadengan mengedepankan anak-anak bangsa yang mempunyai kualitas dan kompetensi bakat yang tinggi.

1.6. Hipotesis Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, penulis melakukan penelitian ini,ternyata

banyak sumber dari berbagai kalangan yang sama pendapatnya tentang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Berdasarkan kenyataan di atas, penulis

mengangkat hipotesis yaitu :

“sekolah yang dibutuhkan oleh Negara adalah sekolah yang mampu mencetak lulusannya berguna bagi Negara dala memajukan nama baik citra

Negara dansiswa yang dibutuhkan oleh Negara khususnya Negara indonesia adalah siswa yang mempunyai keahlian yang mampu mengubah dunia

menjadi lebih berarti serta mampu membawa merah putih diatas bendera yang lebih atas”.

BAB 11

LANDASAN TEORI

2.1.Pengertian Sekolah

Beberapa kata sudah menjadi sedemikian fleksibel sehingga tidak ada gunanya lagi.”sekolah “ dan “mengajar” adalah contoh kata

seperti itu.seperti amoeba,ata-kata ini bisa menyusup kedalam hamper semua celah bahasa. ABM (peluru anti balistik) mengajar orang-orang
Rusia,IBM (peluru kendali antar benua ) mengajar anak-anak Negro,dan angkatan bersenjata menjadi sekolah bagi suatu bangsa. Dengan demikian

upaya mencari alternative pendidikan harus dimuai dengan kesepakatan mencari apa yang kita maksudkan dengan “sekolah.”

Sekolah adalah sebuah ungkapan liturgis dari “kultus muatan.” (Cargo Cult) Kultus ini merupakan sisa-sisa kultus-kultus yang

tersebar di Melanisia selama tahun empat puluhan,yang merasuki penganut kultus ini dengan keyakinan bahwa mereka mengenakan sebuah dasi

hitam pada tubuh mereka yang telanjang,Yesus akan dating dalam sebuah kapal api dengan membawa sebuah kotak es, satu celana, dan sebuah

mesin jahit untuk setiap orang percaya.

Sekolah membuat murid semakin tergantung secara memalukan pada seorang guru. Bersamaan dengan itu sekolah juga membuat

murid merasa diri mampu melakukan segala sesuatu. Inilah ciri dari seorang murid yang ingin pergi dan mengajar kepada segala bangsa untuk

menyelamatkan mereka.

Sekolah adalah majikan yang paling besar dan paling otonom. Sekolah memang merupakan contoh paling baik tentang suatu jenis

usaha baru yang menggantikan gilde,pabrik dan perusahaan. Perusahaan multinasional yang telah mendominasi ekonomi kita kini dilengkapi dan

bisa saja suatu hari kelak digantikan,oleh lembaga-lembaga pelayanan yang dirancang pada tingkat yang melampaui Negara. Usaha-usaha ini

memberikan pelayanan mereka dalam wujud yang membuat semua orang merasa wajib mengkonsumsinya. Pelayanan-pelayanan ini telah

dibakukan secara internasional,dengan cara berkala meninjau embali nilai pelayanan mereka dan di mana-mana polanya hamper sama saja.

Sekolah bukan hanya Agama Baru Dunia. Sekolah juga merupakan pasar kerja yang berkembang palimg pesat di dunia ini .

Rekayasa terhadap konsumen telah menjadi sector pertumbuhan ekonomi utama. Ketika biaya produksi menurun di

Negara-negara kaya,timbul konsentrasi modal dan tenaga kerja yang semakin besar dalam perusahaan-perusahaan besar yang mempersiapkan

manusia untuk konsumsi ketat.

Sekolah menyiapkan orang untuk masuk dalam pengembangan kehidupan yang teralienasi dengan mengajarkan orang bahwa

mereka perlu diajar. Begitu pelajaran ini telah dipelajari,orang kehilangan inisiatif untuk tumbuh mandiri, dan menutup dirinya terhadap hal-hal

mengejutkan yang dialami dalam hidup ini ketika orang tidak menduganya. Sekolah juga secara langsung atau tidak langsung memperkerjakan

sebagaian besar penduduk. Sekolah memepertahankan orang seumur hidup di sekolah atau menjamin bahwa mereka akan cocok bekerja dalam

lembaga tertentu.
Sekolah tak pernah menutup pintunya basgi seseorang tanpa terlebih dahulu menawarkan kepadanya kesempatan sekali lagi.

Pendidikan untuk memperbaiki kegagalan sebelumnya, pendidikan orang dewasa, dan pendidikan berkelanjutan. Sekolah berfungsi sebagai pencipta

dan penunjang yang efektif atas mitos social karena strukturnya sebagai sebuah permainan ritual untuk kenaikan jabatan berjenjang.

Sekolah adalah sebagai proses yang di khusukan untuk umur tertentu dan yang berkatan dengan guru, yang menuntut kehadiran

purna waktu dalam mengukuti suatu kurikulum wajib.

1. UMUR. Sekolah mengelompokkan orang menurut umur. Pengelompokan ini berdasarkan pada 3 premis yang diterima dengan begitu

saja.Anak hadir di sekolah. Menurut saya premis-premis yang tidak teruji kebenarannya ini perlu dipersoalkan secara serius. Kita telah terbiasa

dengan anak-anak. Kita telah memutuskan bahwa mereka harus ke sekolah, mereka harus melakukan apa yang dikatakan pada mereka, sebab

mereka belum punya gaji ataupun keluarganya sendiri. Kita berharap mereka tau diri dan berperangai ebagi mana layaknya anak. Kita teringat,

entah penuh kenangan manis ataupun getir, masa ketika kita masih anak-anak. Kita diharapkan untuk menerima prilaku kekanak-kanakan sebagai

anak-anak. Sendainya tidak ada lembag pendidikan yang mengenal batas umur dan usia wajib sekolah, tidak akan ada lagi “masa kanak-kanak”.

Kaum muda di Negara-negara kaya tidak akan lagi beringas, dan Negara-negara miskin tidak akan lagi berusaha menandingi sifat kekanak-kanakan

negara kaya. Seandainya masyarakat berhasil mengatasi masa kanak-kanaknya, ia akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi akum muda.

Pemisahan yang sekarang ada antara masyarakat dewasa yang menganggap diri manusiawi dan lingkungan sekolah yang melecehkan

realitas tidak bisa dipertahankan lagi.

2. Guru dan Murid. Menurut definisinya, anak adalah murid. Kebutuhan akan suasana yang khas masa kanak-kanak menimbulkan sutu

pasar yang tak ada batasnya akan guru-guru yang diakui keahliannya. Sekolah adalah lembaga yang dibangun atas dasar anggapan bahwa kegiatan

belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar.Dan kearifan yang berkaitan dengan lembaga terus saja menerima anggapan ini, terlepas dari begitu

banyak bukti yang menunjukkan hal yang sebaliknya.Kita semua telah belajar sebagaian beasr apa yang kita ketahui di luar sekolah. Murid

melakukan sebagian besar kegiatan belajar mereka tanpa hadirnya seorang guru dan sering sendiri juga meskipun hadirnya seorang guru, lebih

tragisnya lagi,kebanakan orang di ajar oleh sekolah, walaupun mereka tidak pernah ke sekolah. Separo manusia di dunia tidak pernah menginjakkan

kakinya di sekolah.mereka tidak punya kontak dengan guru, dan mereka kehilangan hak istimewanya dengan menjadi orang putussekolah.namun
meraka belajar secara cukup efekif pesan yang diajarkan sekolah: bhwa mereka harus punya sekolah, lebih banyak lagi. sekolah mengajari mereka

untuk merasa rendah diri para pemungut pajak yang mengharuskan mereka membayar untuk sekolah atau melalui para politisi yang gemar

memumbar janji sehingga membangkitkan manusia banyak keliruan harapan mereka akan sekolah, atau melalui anak-anak mereka begitu anak-

anak terjerat dalam sekolah. Maka, kaum miskin telah dirampas harga dirinya karena percaya bahwa mereka hanya akan memperoleh keselamatan

melalui sekolah. Murid tidak pernah mengandalkan gurunya untuk memperoleh sebagian besar dari apa yang mereka pelajari. Anak yang pintar

maupun yang dungu selalu mengandalkan hafalan, bacaan, dan akal-akalan untuk lulus ujian, dengan motivasi untuk bisa mendapat karir yang

diinginkan. Orang dwasa cenderung mengingat kembali masa sekolhnya dengan penuh kebanggaan. Ketika mengenang kenbali masa sekolahnya,

mereka menganggap keberhasilan mereka dalam belajar disebabkan oleh guru yang kesabarannya selalu mereka kagumi. Tetapi orang dewasa yang

sam akn khawatir akan kesehatan mental ankanya yang bergegas kenbali ke rumah sekedar untuk bercerita tentang apa yang telah

dipelajari darisetiap gurunya. Sekolah menciptakan pekerjaan bagi guru sekolah, tidak peduli apa yang dipelajari murd dari mereka.

3. Kehadiran penuh. Kearifan yang berkaitan dengan lembaga sekolah mengatakan kepada orang tua, murid, dan pendidik bahwa guru,

kalau sedang mengajar, harus menunjukkan wibawanya dalam penampilan yang angker. Ini bahkan berlaku juga bagi guru yang murid-muridnya

menghabiskan sebagian besar waktu sekolahnya di sebuah ruang kelas tanpa tembok pemisah. Sekolah, dari namanya saja cenderung menyita

seluruh waktu dan tenaga guru maupun murid. Ini pada gilirannya akan membuat guru sebagai pengawas, pengkhotbah, dan ahli terapi. Dalam

setiap peran ini guru mendasarkan otoritasnya atas anggapan yang berbeda.

>. Guru sebagai pengawas, bertindak sebagai pemimpin upacara . Ia menuntun para murid melawati uapacara berliku-liku yang

melelahkan . Ia menjaga agar aturan benar-benar ditaati. Dia jugalah yang melaksanakna upacara inisiasi yang rumit dalam hidup ini

yang harus dilewati anak di sekolah. Ia berusaha sekua tenaga menetapkan tahap mana keahlian tertentu sudah bisa diperolah sebagai

man selalu dimiliki kepala sekolah. Tanpa keiniginan untuk menghasilkan pendidikan ynag mendalm, ia melatih murid-murid utuk

mengikuti kegiatan rutin tertentu.

>. Guru sebagai moralis. mengganti peran orang tua, tuhan, atau Negara . Ia mengajarkan anak-anak tentang apa yang benar atau

salah dari moral, tidak saja di dalam sekolah melinan juga dalam masyarakat luas. Ia berperan sebagai orang tuabagi setiap anak dan

karena itu menjamin bahwa semua mereka merasa sebagai anank dari Negara yang sama.
>. Guru sebagai ahli terapi. merasa punya wewenang untuk menyelidiki kehidupan pribadi setiap murid untuk membantunya

berkembang sebagai seorang pribadi. Kaluo fungsi ini dijalankan oleh seorang pengawas dan pengkhotbah, biasanya ini berarti ia

berusaha meyakinkan si murid untuk menerima visinya mengenai kebenaran dan pengertiannya mengenai apa yang baik dan benar.

Anggapan bahwa sebuah masyarakat liberal dapa dibangun atas dasar sekolah modern merupakan suatu paradoks. Usaha menjaga

kebebasan individual judtru tidak diberi tempay sama sekali dalam perlakuan guru terhadap murid. Kalau seorang guru mencampur

adukkan dalam dirinya fungsi sebagai hakim, ideology, dan dokter, arah kehidupan dalam masyarakat akan diperkosa oleh proses yang

seharusnya mempersiapakn orang untuk kehidupan . Seorang guru yang menggabungkan ketiga kekuasaan ini dalm tangaannya akan

lebih membelenggu si anak daripada hokum yang menetapkan si anak itu sebagai bagian dari kelompok minoritas dalam hal

hukumatau membatasi haknya untuk bebas berserikat dan bertempat tinggal.