You are on page 1of 80

1

METODE PENULISAN KARYA ILMIAH

1. Standar Kompetensi Mata Latih


Setelah mengikuti kegiatan ini peserta pelatihan diharapkan memiliki
kemampuan memahami karakteristik karya ilmiah, sistematika dan kerangka
penulisannya,
2. Kompetensi Dasar
Setelah menempuh mata kuliah ini, diharapkan peserta pelatihan
mampu:
a) Dapat mengenali ragam karya ilmiah
b) Dapat membedakan karya ilmiah artikel untuk jurnal, makalah bahan
seminar dan laporan penelitian
3. Prasyarat Mata Latih
Mata latih ini diharapkan diikuti oleh peserta yang telah lulus mengikuti
Metodologi Penelitian di Program S1.
4. Metode dalam Mempelajari Buku Ajar:
Untuk lebih mudah memahami buku ajar ini maka, peserta pelatihan
harus :
a. Membaca bagian petunjuk yang terdapat dalam buku, hal ini
dilakukan untuk menghindari kerancuan materi.
b. Berlatih mengerjakan tugas atau soal-soal yang terdapat dalam buku
ajar
c. Berdiskusi dengan teman-teman dalam kelompok kerja untuk
mendalami suatu permasalahan/topik.
d. Membuat laporan kegiatan.
2

BAB 1
RAGAM KARYA ILMIAH DAN SISTEMATIKA PENULISANNYA

Pengantar
Karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang
memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang
atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan
ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara
lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, artikel jurnal, yang pada
dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan,
dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan
(referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian
selanjutnya.
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk
menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi (tugas
akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil
tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada
mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan
penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang
persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada
mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan
penelitian, sebab dalam beberapa hal ketika mahasiswa melakukan praktikum, ia
sebetulnya sedang melakukan “verifikasi” proses penelitian yang telah dikerjakan
ilmuwan sebelumnya. Kegiatan praktikum didesain pula untuk melatih keterampilan
dasar untuk melakukan penelitian.
Ketika kita membuat tulisan ilmiah, disadari atau tidak, kita membangun
narasi yang memberikan suatu makna naratif. Mode naratif, dalam konteks ini,
tidaklah terbatas pada kajian pustaka atau kasus, tetapi pada salah satu dari dua
mode dasar dan kognitif yang universal, yakni mode naratif itu sendiri dan mode
3

logika-ilmiah. Berbeda dari mode logika ilmiah yang berupaya mencari kondisi-
kondisi kebenaran, mode naratif secara kontekstual berupaya mencari hubungan-
hubungan tertentu di antara kejadian-kejadian. Hubungan-hubungan di antara
kejadian-kejadian inilah yang disebut makna (Hempel dalam Winarno, dkk, 2004:16).
Kapan saja kita menulis tulisan ilmiah, sesungguhnya kita menuturkan
semacam cerita, atau sebagian dari narasi yang lebih luas. Sebagian dari cerita
yang kompleks diuraikan lebih konkret dan dekat dengan kita, sedangkan yang
lainnya lebih abstrak, berjarak dari pengalaman kita, dan memantapkan hegemoni
yang sudah ada. Malahan tak hanya sebatas itu. Ketika kita memaparkan cerita,
kerap kali kita mempertautkan kajian kita dengan sesuatu yang meta naratif.
Misalnya, bagaimana kajian kita dalam menyumbangkan suatu gagasan baru bagi
ilmu pengetahuan tertentu. Laporan penelitian konversional menggambarkan
subteks yang digerakkan oleh narasi: teori (tinjauan pustaka adalah masa lampau
atau penyebab peneliti melakukan sebuah kajian ke masa depan – penemuan dan
implikasi (bagi peneliti, yang diteliti, dan ilmu (pengetahuan). Oleh karena itu,
struktur narasi adalah praoperatif atau prakonsepsi, tidak soal apakah seseorang
menulis dalam mode naratif atau mode logika-ilmiah. Karya ilmiah dibedakan
menjadi artikel, makalah dan leporan penelitian. Berikut ini akan dipaparkan
mengenai ragam karya ilmiah.

A. Ragam Karya Ilmiah


1. Artikel
a. Pengertian Artikel
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal
atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti
pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati. Artikel yang ditulis oleh
mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari
hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi
sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam,
4

yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis
skripsi dan tesis sangat dianjurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk
artikel untuk diterbitkan dalam jurnal.

b. Sistematika Penulisan Artikel


Setiap Perguruan Tinggi memiliki sistematika penulisan jurnal, sesuai
selingkung jurnal yang ditetapkan. Secara garis besar, artikel dalam sebuah jurnal ini
perlu ditulis dengan sistematika yang berbeda agar para pembaca jurnal dapat
segera mengenali jenis artikel yang dibacanya secara cepat dari sistematikanya,
apakah artikel itu merupakan hasil penelitian atau hasil pemikiran konseptual. Yang
paling membedakan keduanya bahwa dalam artikel hasil penelitian harus ada
bagian yang diberi subjudul “metode” dan “hasil”. Sedangkan dalam artikel
konseptual tidak ada bagian yang diberi subjudul seperti itu. Artikel konseptual
biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok, yaitu judul, nama penulis, abstrak dan
kata kunci, pendahuluan, bagian inti atau pembahasan, penutup, dan daftar rujukan.
Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini:

1) Judul
Judul artikel konseptual hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah
yang dibahas. Pilihan kata-kata yang tepat, mengandung unsur-unsur utama
masalah, jelas dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik
yang cukup kuat bagi pembaca. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau
kalimat tanya. Salah satu ciri penting judul adalah “provokatif”, yaitu merangsang
pembaca untuk membaca artikel. Hal ini penting karena artikel konseptual pada
dasarnya bertujuan membuka wacana diskusi, argumentasi, analisis dan sintesis
pendapat-pendapat para ahli atau pemerhari bidang tertentu. Hal ini berguna untuk
menghindari penulisan rasa perbedaan antara junioritas dengan senioritas dan
wibawa atau inferioritas penulis.

2) Nama Penulis
Nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar
profesional yang lain. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan
5

boleh disertakan. Nama lembaga tempat penulis bekerja ditulis sebagai catatan kaki
dihalaman pertama. Jika penulis lebih dari dua orang, ada dua cara (1) tetap
mencantumkan semua nama penulis, (2) mencantumkan nama penulis utama saja,
disertai tambahan dkk (dan kawan-kawan) atau nama penulis lain ditulis dalam
catatan kaki atau di tempat lain jika tempat catatan kaki tidak memcukupi.

3) Abstrak dan kata kunci


Abstrak dan kata kunci harus selalu ada dalam setiap artikel yang ditulis
untuk dimuat dalam jurnal. Kata kunci hendaknya disertai 3-5 kata kunci. Kata kunci
berisikan istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait
dalam artikel. Jika dapat diperoleh, kata kunci hendaknya diambil dari bidang ilmu
terkait.
Pada dasarnya, abstrak artikel berisi seperangkat pernyataan yang ditulis
secara ringkas dan padat tentang isi artikel yang dianggap paling penting dalam
sebuah artikel. Bagian kata kunci memuat kata-kata yang mengandung konsep
pokok yang dibahas dalam artikel itu. Pemilihan kata dianggap kunci informasi
ilmiah. Dengan kata-kata kunci itu, suatu artikel dapat ditemukan dengan mudah jika
jurnal yang memuatnya telah melakukan komputerisasi dalam sistem informasi
ilmiah. Tata cara penulisan abstrak dan kata kunci dalam sebuah jurnal merupakan
bagian penting yang diatur dalam gaya selingkung jurnal ilmiah. Penulis artikel harus
memerhatikan tata cara penulisan abstrak dan kata kunci yang berlaku untuk
sebuah jurnal karena masing-masing jurnal mungkin mengikuti tata cara yang
berbeda-beda.
Dengan membaca abstrak, pembaca diharapkan segera memperolah
gambaran umum masalah yang dibahas di dalam artikel. Ciri-ciri umum artikel
konseptual seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam
abstrak ini, sehingga pembaca tertarik meneruskan bacaannya.

4) Pendahuluan
6

Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatiam pembaca


dan memberikan acuan (konteks) permasalahan yang akan dibahas, misalnya
menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan
permasalahan terdahulu. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan
rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan
pembahasan.

5) Bagian inti
Isi bagian ini sangat bervariasi, lazimnya berisi kupasan, analisis,
argumentasi, komparasi, keputusan, dan pendirian atau sikap penulis mengenai
masalah yang dibicarakan. Banyak subbagian juga tidak ditentukan, tergantung
kepada kecukupan kebutuhan penulisan menyampaikan pikiran-pikiran. Di antara
sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah
kupasan argumentatif, analitik dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis,
sejauh mungkin juga berisi komparatif dan menjauhi sifat tertutup dan instruktif.
Walaupun demikian, perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan
menjadi bersifat enumaratif seperti diklat. Penggunan subbagian dan sub-subbagian
yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil sepertu diklat.

6) Penutup
Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis
atas masalah yang dibahas pada bagian sebelumnya. Banyak penulis yang
berusaha menampilkan segala yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara
ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika
memang dianggap tepat bagain terakhir ini dapat disajikan dalam subbagian
tersendiri. Contoh bagian ini dapat dilihat pada berbagai artikel atau jurnal.
Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian
akhir ini pada dasarnya sama; mengakhiri suatu diskusi dengan suatu pendirian atau
menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian.

2. Makalah
7

a. Pengertian Makalah
Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah mengenai suatu topik atau
masalah yang disajikan dalam seminar ilmiah. Makalah juga diartikan sebagai karya
ilmiah mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup
suatu perkuliahan. Makalah mahasiswa umumnya merupakan salah satu syarat
untuk menyelesaikan suatu perkuliahan, baik berupa kajian pustaka maupun hasil
kegiatan perkuliahan lapangan. Pengertian yang lain dari makalah adalah karya tulis
yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis
secara sistematis dan runtut dengan disertasi analisis yang logis dan objektif.
Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau
ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.

b. Karakteristik Makalah
Makalah mahasiswa yang dimaksudkan dalam hal ini memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1) Diangkat dari suatu kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan kegiatan
lapangan.
2) Ruang lingkup makalah berkisar pada cakupan permasalahan dalam suatu
mata kuliah.
3) Memperlihatkan kemampuan penulis/mahasiswa tentang permasalahan
teoritis yang dikaji atau dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip atau teori
yang berhubungan dengan perkuliahan.
4) Memperlihatkan kemampuan para peneliti/mahasiswa dalam memahami isi
dari sumber-sumber yang digunakan.
5) Menunjukkan kemampuan peneliti/mahaiswa dalam merangkai berbagai
sumber informasi sebagai satu kesatuan sintesis yang utuh.

c. Sistematika Makalah
Secara garis besar makalah yang ditulis mahasiswa terdiri dari tiga bagian
pokok sebagai berikut :
8

1) Pendahuluan, memuat tentang persoalan yang akan dibahas antara lain


meliputi latar belakang masalah, fokus dan rumusan masalah, prosedur
pemecahan masalah dan sistematika uraiannya.
2) Isi, yakni bagian yang memuat tentang kemampuan penulis dalam
mendemonstrasikan kemampuannya untuk menjawab persoalan atau
masalah yang dibahasnya. Pada bagian isi boleh terdiri dari lebih satu bagian
sesuai dengan permasalahan yang dikaji.
3) Kesimpulan, yakni bagian yang memuat pemaknaan dari penulis terhadap
diskusi atau pembahasan masalah berdasarkan kriteria dan sumber-sumber
literatur atau data lapangan. Kesimpulan ini mengacu kepada hasil
pembahasan permasalahan dan bukan merupakan ringkasan dari isi
makalah.

3. Laporan Penelitian
a. Pengertian laporan penelitian
Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang disusun sebagai satu rangkaian
dari kegiatan penelitian yang dilakukan untuk menyampaikan hasil penelitian.
Banyak, bahkan mungkin orang tidak pernah menghitung, hasil penelitian yang
hanya menjadi dokumen mati di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi,
kelembagaan penelitian, atau perpustakaan pribadi. Mungkin juga hasil penitian
hanya digunakan oleh penelitinya untuk keperluan kenaikan pangkat, sesudah itu
menjadi dokumen mati. Ketika laporan penelitian selesai dibuat, seharusnya ada
beban moral dan akademik pada diri peneliti untuk mempublikasikannya.
Salah satu kegiatan yang dilakukan peneliti pada keseluruhan kegiatan
ilmiahnya adalah menulis laporan penelitian. Ketika memasuki fase ini, kemauan
dan kemampuan menulis manjadi keniscayaan. Tanpa kemauan dan kemampuan
itu, laporan penelitian tidak akan dapat diselesaikan secara total, dan kalaupun
selesai tidak akan memberi sumbangsih yang berarti dilihat dari tujuan penelitian.
9

Secara umum tujuan laporan penelitian adalah melaporkan proses dan hasil
kerja penelitian agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas atau pemakai, di
samping tujuan yang diperuntukkan bagi peneliti sendiri, seperti mendapatkan angka
kredit, dibukukan untuk dikirim ke penerbit, dikirim ke perpustakaan resmi, dikirim ke
sejawat, dan sebagainya.
Pekerjaan menulis laporan dan mempublikasikan hasil temuan tersebut
bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak energi yang harus dikeluarkan untuk
pekerjaan ini. Di samping itu, peneliti perlu memiliki keterampilan khusus untuk
menuangkan hasil penelitiannya secara baik.

b. Sistematika Laporan Penelitian


Tidak ada standar buku sistematika laporan, yang ada adalah standar
minimal dan standar “standar rasional “. Merujuk pada tradisi penelitian pada
umumnya, beberapa contoh standar rasional adalah sebagai berikut:
1) Latar belakang masalah mendahului rumusan masalah
2) Telaah pustaka mendahului metodologi penelitian
3) Asumsi-asumsi mendahului hipotesis-hipotesis
4) Hasil penelitian diikuti dengan diskusi atau pembahasan
5) Kesimpulan mendahului saran dan implikasi
6) Deskripsi tujuan penelitian mendahului deskripsi mengenai kegunaan hasil
penelitian.
Tidak ada sistematika baku bagi sebuah laporan penelitian. Kalaupun ada,
sifat dibakukannya tidak lebih dari sebuah konvensi atau kesepakatan. Menulis
laporan merupakan suatu pekerjaan yang harus dilakukan secara sadar, kemudian
mendisiplinkan diri sendiri untuk menyelesaikannya. Kemampuan menulis tidak
datang dari seseorang atau bagaikan durian runtuh atau muncul secara tiba-tiba.
Menulis membutuhkan kemauan, kedisiplinan, dan latihan secara terus-menerus.
Tidak banyak orang yang dapat menulis dengan baik tanpa adanya latihan dan
kemauan keras untuk itu. Namun demikian, peneliti jangan gemetar dan cemas
10

karena siapa pun sebenarnya akan dapat menjadi penulis yang baik sepanjang ada
kemauan kuat untuk itu.

c. Petunjuk praktis penyusunan laporan


Menyusun laporan merupakan suatu seni sehingga peneliti dapat berkreasi
dengan caranya sendiri. Peneliti mempunyai keleluasaan untuk bekerja dengan
caranya sendiri. Berikut disajikan petunjuk praktis penyusunan laporan dengan
ketentuan dapat dilakukan secara kenyal. Adapun langkah-langkah tentatif adalah
sebagai berikut:
1) Buat outline (garis-garis besar laporan penelitian) dengan memperhatikan
pedoman yang berlaku atau ditentukan.
2) Buat draf batang tubuh laporan, mulai dari bagian pendahuluan hingga
kesimpulan, rekomendasi, implikasi, dan daftar kepustakaan.
3) Buat abstrak laporan, barangkali dalam dua versi bahasa
4) Buat kata pengantar laporan
5) Buat daftar tabel, gambar, foto, grafik, lampiran, apendik, dan sejenisnya
6) Buat daftar isi secara lengkap
7) Lakukan pengetikan laporan penelitian
8) Lengkapi daftar isi dengan halaman-halaman
9) Lengkapi laporan secara menyeluruh, baik segi-segi ilmiah, bahasa atau cara
pengetikan
10) Lakukan pengetikan akhir
11) Penjilidan laporan
12) Pengiriman laporam

4. Skripsi
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk
menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi, (tugas
akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil
tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada
mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan
11

penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang


persoalan yang dipelajari. (Harry, 2004: 1).

a. Pengertian Skripsi
Skripsi merupakan karya ilmiah akhir dari mahasiswa guna menyelesaikan
program S1 di Fakultas Ilmu Sosial Universitar Negeri Semarang. Skripsi tersebut
sebagai bukti kemampuan akademis mahasiswa yang berhubungan dengan
penelitian dan pemecahan masalah-masalah sosial. Atas dasar itu maka skripsi
yang disusun mahasiswa harus dipertahankan dalam suatu ujian akhir guna
mencapai gelar Sarjana.

b. Karakteristik Skripsi
Beberapa karakteristik pokok yang perlu dimiliki dalam penyusunan skripsi
mahasiswa, antara lain :
1) Disusun berdasarkan hasil kajian literatur dan atau pengamatan lapangan.
2) Ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
berdasarkan ejaan yang disempurnakan.
3) Bidang kajian difokuskan kepada permasalahan sosial dan upaya
pemacahannya, baik dalam lingkup mikro maupun makro.
4) Sistematika Skripsi
Skripsi yang disusun mahasiswa terdiri dari tiga bagian pokok seperti berikut
ini.
a) Bagian Persiapan :
(1) SAMPUL
(2) HALAMAN JUDUL
(3) HALAMAN PENGESAHAN
(4) ABSTRAK
(5) KATA PENGANTAR
(6) DAFTAR ISI
(7) DAFTAR TABEL
(8) DAFTAR BAGAN (GAMBAR)
12

b) Bagian Teks
(1) BAB I. PENDAHULUAN
(2) BAB II. LANDASAN TEORI (Diberi judul sesuai dengan isi Bab II)
(3) BAB III. METODE PENELITIAN
(4) BAB IV. DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN
(5) BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.
c) Bagian Akhir
(1) DAFTAR PUSTAKA
(2) LAMPIRAN-LAMPIRAN

B. Fokus Karya Ilmiah


Sebuah karya ilmiah yang baik harus mempunyai fokus yang jelas. Karya
ilmiah ditulis dengan rumusan dan tujuan yang jelas dan penulisnya harus
memenuhi kebutuhan dan tuntutan pembaca. Menurut Bogdan dan Biklen dalam
Danim, 2002, menyebutkan ada tiga macam fokus yang dapat dikembangkan dalam
penulisan naskah ilmiah. Ketiga fokus tersebut ialah: (1) fokus tesis, (2) fokus tema,
(3) fokus topik.

1) Fokus tesis
Fokus tesis adalah suatu preposisi yang diajukan oleh peneliti yang
kemudian barangkali bisa didebat oleh orang lain. Tesis ini dapat dihasilkan oleh
peneliti atau dari acuan ilmiah yang khusus membahas hal itu. Dengan tesis,
peneliti membandingkan apa yang diajukan sebelum pelaksanaan dengan apa
yang telah dibuktikan dalam penelitian. Tesis merupakan fokus yang baik karena
bersifat argumentatif dan dapat menimbulkan minat pembaca. Dalam membuat
fokus tesis, peneliti harus berhati-hati dan penuh pertimbangan. Di luar fokus tesis,
dikenal pula fokus paper dan fokus kerja. Fokus sebuah kertas kerja dapat
menggambarkan manfaat dari konsep atau tema yang telah dikembangkan oleh
orang lain. Jika peneliti terlibat dalam penelitian evaluasi, fokusnya seringkali ialah
13

pertanyaan yang akan dikembangkan ketika menandatangani sebuah kontrak


untuk pekerjaan tertentu.

2) Fokus tema
Sebuah tema adalah beberapa konsep atau teori yang muncul dari data
penelitian. Termasuk di dalamnya adalah beberapa kecenderungan, konsep
utama, atau beberapa perbedaan penting. Tema dapat dirumuskan dengan
berbentuk abstraksi dari pernyataan-pernyataan umum tentang manusia, perilaku
mereka dan situasi pada umumnya.

3) Fokus topik
Topik merupakan deskripsi atau gambaran. Dalam praktik, jarang dapat
diterapkan satu jenis fokus saja secara ekslusif, melainkan lebih sering berupa
persilangan dari ketiga unsur tersebut. Memilih topik mana yang paling tepat untuk
laporan sangat tergantung pada seberapa jauh peneliti mengenal lapangan tempat
bekerja dan apa yang diperlukan.
Karya tulis ilmiah mahasiswa dikelompokkan dalam tiga macam yaitu :
makalah, proposal penelitian skripsi dan skripsi. Masing-masing karya tulis ilmiah
itu memiliki karakteristik tertentu. Makalah merupakan bagian dari tugas-tugas
perkuliahan, proposal penelitian merupakan desain yang menjadi acuan penelitian
sebagai bahan penulisan skripsi, sedangkan skripsi merupakan karya ilmiah
terakhir yang harus disusun mahasiswa dan dipertahankan di depan sidang (ujian)
akhir guna memperoleh gelar Sarjana. Mahasiswa dapat mengungkapkan
pemikirannya melalui karya tulis ilmiah secara sistematis sesuai dengan kaidah-
kaidah keilmuan. Karya tulis ilmiah ini juga merupakan wahana komunikasi hasil
penelitian ilmiah dengan masyarakat akademik untuk diuji secara terbuka dan
objektif serta mendapatkan koreksi dan kritik. Selain sebagai wahana komunikasi,
karya tulis ilmiah mahasiswa juga merupakan wahana untuk menyajikan nilai-nilai
praktis dan teoritis hasil pengkajian dan penelitian ilmiah. Dengan sifat dan
kedudukan seperti ini maka karya tulis ilmiah akan memperkaya khasanah
keilmuan dan memperkokoh paradigma keilmuan pada bidang yang relevan.
14

Dengan tetap mengacu kepada permikiran sebagaimana dikemukakan di atas


maka karya tulis ilmiah dapat dikatakan mengemban dua misi utama yaitu:
1. Sebagai wahana untuk melatih para mahasiswa di dalam
mengungkapkan hasil pemikirannya secara sistematis dan dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
2. Memberikan konstribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya pengetahuan dalam bidang Sosial. (UMSU: 1997)
Suatu karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi
yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh
seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang
dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis
karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium,
artikel jurnal, yang pada dasarnya ke semuanya itu merupakan produk dari
kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam
karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam
melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

Rangkuman
a) Karya ilmiah secara umum dapat dibedakan menjadi makalah bahan
seminar, artikel jurnal ilmiah, dan laporan hasil penelitian. Laporan penelitian
dapat bedakan menjadi pola laporan penelitian kuantitatif dan laporan
penelitian kualitatif. Laporan hasil penelitian dari mahasiswa antara lain Skripsi
untuk mahasiswa S1,
b) Karya ilmiah makalah bahan seminar artikel untuk jurnal, makalah bahan
seminar dan laporan penelitian merupakan karya ilmiah tetapi ketiganya
memiliki ciri masing-masing. Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang
untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata
cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati.
Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah mengenai suatu topik atau masalah
yang disajikan dalam seminar ilmiah. Makalah juga diartikan sebagai karya
15

ilmiah mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang
lingkup suatu perkuliahan.
Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang disusun sebagai satu rangkaian
dari kegiatan penelitian yang dilakukan untuk menyampaikan hasil penelitian.
Salah satu laporan hasil penelitian mahasiswa adalah skripsi.
c) Dalam menulis karya ilmiah dikenal ada tiga macam fokus yang dapat
dikembangkan. Ketiga fokus tersebut ialah: (1) fokus tesis, (2) fokus tema, (3)
fokus topik.

Evaluasi
a) Dapat mengenali ragam karya ilmiah
b) Dapat membedakan karya ilmiah artikel iuntuk jurnal, makalah bahan
seminar dan laporan penelitian
16

BAB II
KERANGKA DAN BAGIAN-BAGIAN KARYA ILMIAH

Pengantar
Dalam penulisan karya ilmiah, terdapat beberapa kerangka dan bagian-
bagian yang harus dipatuhi. Kerangka dan bagian-bagian dari karya ilmiah ini selain
berfungsi sebagai acuan dasar penulisan juga dapat mempermudah penulis untuk
memaparkan alur tulisannya. Untuk itu, sebelum karya ilmiah ditulis maka kerangka
dan bagian-bagian karya ilmiah merupakan langkah awal yang harus dilalui oleh
penulis.

Standar Kompetensi
Setelah mengikuti kegiatan ini peserta pelatihan diharapkan memiliki
kemampuan memahami kerangka pemulisan karya ilmiah, dan metode
penulisannya.

Kompetensi dasar
Setelah menempuh mata kuliah ini , diharapkan peserta pelatihan:
1. Dapat menjelaskan bagian-bagian dari kerangka karya ilmiah untuk
artikel dan makalah
2. Dapat menyusun pendahuluan, tinjauan pustaka, metode kajian
(langkah penulisan karya ilmiah)
3. Dapat menyusun contoh penyajian hasil kajian dan pembahasan
4. Dapat menyusun contoh pembuatan simpulan dan saran
17

A. JUDUL
Karya ilmiah baik artikel jurnal, makalah bahan seminar maupun
laporan hasil penelitian di tulis dengan judul tertentu. Judul karya ilmiah ditulis
dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
(a) Dirumuskan secara singkat
(b) Mencerminkan area permasalahan, variabel penelitian dan target
populasi
(c) Memuat kata-kata kunci yang akan diacu dalam penelitian
(d) Memisahkan antara judul utama dan judul pelengkap

B. KATA PENGANTAR
Dalam kata pengantar dicantumkan ucapan terimakasih penulis yang
ditujukan kepada orang-orang, lembaga, organisasi, dan/atau pihak-pihak lain
yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan dan menyelesaikan
karya ilmiah tersebut. Tulisan kata pengantar dikerik dengan huruf kapital,
simetris di batas atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. teks pada
pengantar diketik dengan spasi ganda (2 Spasi). Panjang teks tidak lebih dari
dua halaman kertas kuarto. Pada Bagian akhir teks (di pojok kanan-bawah)
dicantumkan kata penulis tanpa menyebut nama terang.

C. ABSTRAK
Kata abstrak ditulis di tengah halaman dengan huruf kapital, simetris
dibatas atas bidang pengetikan dan tanpa tanda titik. Nama penulis dikerik
dengan jarak dua spasi dari kata abstrak, di tepi kiri dengan urutan nama akhir
diikuti koma, nama awal, nama tengah (jika ada), diakhiri titik. Tahun penulisan
ditulis setelah nama diakhiri dengan titik. Judul dicetak miring dan diketik dengan
huruf kecil (kecuali huruf-huruf pertam dari (setiap kata) dan diakhiri dengan titik.
Kata jeniskarya ilmiah, misalnya skripsi, tesis atau disertasi ditulis setelah judul
dan diakhiri dengan koma, diikuti dengan nama jurusan, tidak boleh disingkat,
18

nama universitas dan diakhiri dengan titik. kemudian diocantumkan siapa nama
pembimbing penulisan karya ilmiah tersebut.
Dalam abstrak dicantumkan kata kunci yang ditempatkandi bawah nama
dosen pembimbing. Jumlah kata kunci berkisar antara 3-5 buah. Kata kunci
diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat
ditemukan judul-judul penelitian dan lapotran penelitian dengan mudah.
Dalam teks abstrak disajikan secara padat intisari penelitian dan laporan
penelitian yang mencakup latar belakang, masalah yang diteliti, metode yang
digunakan, hasil yang diperoleh, kesimpulan yang dapat ditarik, dan saran yang
diajukan.
Dalam suatu karya ilmiah yang mempunyai tingkat keformalan yang tinggi,
seperti misalnya skripsi, sistematika penulisan lebih baku, dan beberapa
paparan lainnya sering diminta dari mahasiswa, seperti seperti Kesimpulan dan
Rekomendasi (Saran-Saran) pada bagian akhir, atau Kata Pengantar pada
bagian awal. Banyak jurnal dan majalah meminta abstrak, yakni rangkuman
informasi yang ada dalam dokumen laporan, makalah, atau skripsi, lengkapnya.
Abstrak yang ditulis secara baik memungkinkan pembaca mengenali isi
dokumen lengkap secara secara cepat dan akurat, untuk menentukan apakah isi
dokumen sesuai dengan bidang minatnya, sehingga dokumen tersebut perlu
dibaca lebih lanjut. Abstrak sebaiknya tidak lebih dari 250 kata (dalam satu atau
dua paragraf), menyatakan secara singkat tujuan dan lingkup
penelitian/pengkajian, metode yang digunakan, rangkuman hasil, serta
kesimpulan yang ditarik.
19

Contoh Abstrak Artikel Jurnal:

Abstract

The absorption of graduates in opportunities of employment that matc


with their discipline is one indicator of the education institution success.
Seeking the absorption of Sociology and Anthropology Study Program
graduates in opportunities of employment is much needed. Most of the
Sociology and Anthropology Study Program graduates are become
teacher, both in state or private school. Beside become a teacher, they
work in non educational field, such as in bank, in hospital, etc. to access
job opportunities, Sociology and Anthropology Study Program graduate
seek the information through asking friends, internet media, mass
media, and trial and error method.

Key words: absorption, graduates, job opportunity.


20

Contoh Abstrak Laporan Hasil Penelitian:

Abstrak

Kelestarian hutan dan ketahanan pangan merupakan dua hal


yang seringkali issue yang mengemuka. Terkait dengan issue tersebut
yang perlu diketahui adalah kemungkinan memanfaatkan hutan untuk
medukung ketahanan pangan masyarakat khususnya di sekitar hutan
tanpa menimbulkan gangguan kerusakan hutan.

Pemanfaatan Lahan Di Bawah Tegakan (PLDT) di wilayah


perhutani merupakan salah satu upaya peningkatan ketahanan pangan.
PLDT diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat tanpa
menimbulkan kerusakan hutan. Rumusan masalah yang dijadikan
tujuan utama penelitian ini antara lain: Kontribusi hasil PLDT setiap satu
kali musim tanam; Kajian dan analisa perilaku penduduk terhadap
lingkungan hutan; Kajian bentuk dan tingkat responcibility penduduk
setempat dalam pemanfaatan lahan hutan milik negara; Solusi jenis
tanaman PLDT ramah lingkungan; Model PLDT yang sesuai potensi
setempat dalam mendukung ketahanan pangan.

Penelitian ini merupakan jenis research and development yang


dilakukan dengan tahap-tahap berikut: Tahap Persiapan; Tahap
Pengumpulan Basis Data; Tahap Pembuatan Basis Data Spasial; dan
Tahap Pembuatan Laporan. Analisis yang digunakan mencakup
pendekatan ekologi bentang lahan; pendekatan keruangan (spatial
approach); dan kualitatif-kuantitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) PLDT memberikan
konstribusi penciptaan pendapatan pokok dan sampingan bagi
sebagian masyarakat; (2) Perilaku penduduk terhadap lingkungan
hutan terdiri atas (a) Membuka lahan; (b) Memanfaatkan Lahan Hutan
untuk Pertanian; (b) Menjaga Kelestarian Hutan; (c) Menjaga
Keamanan Hutan; (3) bentuk dan tingkat responcibility penduduk
setempat dalam pemanfaatan lahan hutan milik negara. Terwujud dalam
bentuk berikut: pembentukan organisasi kelompok tani, dan
pembentukan organisasi LMDH; Peningkatan Partisipasi Desa; (4)
Pengembangan Tanaman PLDT Ramah Lingkungan yang telah
dikembangkan terdiri atas tanaman perdu kacang tanah, padi, jagung,
ketela pohon di hutan jati Semirejo; dan kapulogo, kopi serta tanaman
buah di hutan lindung Desa Klakah Kasihan. Model PLDT yang sesuai
potensi setempat dalam mendukung ketahanan pangan.

D. PENDAHULUAN
21

Pendahuluan merupakan bab pertama yang mengantarkan pembaca


untuk mengetahui ikhwal topik penelitian, alasan, dan pentingnya suatu karya
ilmiah. Pendahuluan dalam laporan penelitian lebih kompek daripada
pendahuluan dalam makalah dan artikel ilmiah untuk jurnal. Pendahuluan untuk
artikel dan makalah disampaikan secara lebih ringkas dan unsur-unsurnya
tidak harus dicantumkan secara eksplisit.
Bab pendahuluan biasanya memuat latar belakang yang dengan singkat
mengulas alasan mengapa penelitian dilakukan, tujuan, dan hipotesis jika ada.
Memberikan alasan yang kuat, termasuk kasus yang dipilih dan alasan memilih
alasan tersebut, perumusan dan pendekatan masalah, metode yang akan
digunakan dan manfaat hasil penelitian. Bab ini seyogianya membimbing
pembaca secara halus, tetap melalui pemikiran logis yang berakhir dengan
pernyataan mengenai apa yang diteliti dan apa yang diharapkan dari padanya.
berikan kesan bahwa apa yang anda teliti benar-benar bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan dan pembangunan. Bagian tujuan penelitian mengakhiri bab
pendahuluan yang berisi pernyataan singkat mengenai tujuan penelitian. Dalam
menuliskan tujuan, gunakan kata kerja yang hasilnya dapat diukur dan dilihat,
seperti menjajaki, menguraikan, menerangkan, menguji, membuktikan, atau
menerapkan suatu gejala, konsep, atau dugaan (Widya dkk, 2004: 6-7).
Pendahuluan dalam penelitian dapat dibedakan pada laporan penelitian
kuantitatif dan laporan penelitian kualitatif. Pendahuluan dalam laporan
penelitian kualitatif memuat uraian tentang: (1) latar belakang masalah
penelitian, (2) identifikasi masalah, (3) cakupan masalah (penegasan dan
pembatasan masalah), (4) rumusan masalah, (5) tujuan penelitian, (6)
keguanaan penelitian, (7) sistematik.
Latar Belakang Masalah
Bagian ini menerangkan keternalaran (kerasionalan) mengapa topik yang
dinyatakan pada judul karya tulis ilmiah itu diteliti. Untuk menerangkan
keternalaran tersebut perlu dijelaskan dulu pengertian topik yang dipilih. Baru
kemudian diterangkan argumen yang malatarbelakangi pemilihan topik itu dari
22

sisi substansi dalam keseluruhan sistem substansi yang melingkupi topik itu.
Dalam hal ini dapat dikemukakan misalnya adanya kesenjangan antara harapan
dan kenyataan, antara teori dan praktek, antara dasolen dan dasain dari konsep
dalam topik.
Setelah itu diterangkan keternalaran pemilihan topik dari paradigma
penelitian sejenis. Untuk itu perlu dilakukan kajian pustaka yang memuat hasil-
hasil penelitian tentang topik atau yang berkaitan dengan topik yang dipilih.
Dengan melihat hasil yang diperoleh dalam penelitian sebelumnya dapat
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan terdapat
ditunjukkan bahwa topik yang dipilih masih layak untuk diteliti.
beberapa aspek yang harus diperhatikan, antara lain guru, kurikulum,
Topik yang pernah
sarana/prasarana, diteliti boleh
lingkungan sajadan
belajar diteliti, asal penelitian
masyarakat serta yang baru itu
pemerintah.
dapat menghasilkan
Dalam sesuatu
pembelajaran guru yang baru,
dituntut yang
harus berbeda dalam
profesional dan dapat mengatasi
melaksanakan
kekurangan
tugasnyahasil
danpenelitian sebelumnya,
para siswa atau dalam
harus terlibat penelitian
aktif dalam yangkegiatan
setiap baru itu
pembelajaran,
digunakan danmetode
teori atau ditunjang dengan
tyang tersedianya
berbeda sarana
dan diduga dan
dapat prasarana
menghasilkan
yangyang
temuan memadai.
lain dari sebelumnya.
Dalam Tersedianya
skripsi atau guru
tugasyang
akhir, kajian pustaka
professional, siswauntuk mengemukakan
berperan aktif serta
keternalaran (kerasionalan)
tersedianya sarana danpemilihan topik belum
prasarana, penelitian itu bisa
cukup dikemukakan
untuk menunjangdi
bawah judul tersendiri,
kegiatan misalnya
pembelajaran. Agar hasil penelitian
kegiatan sebelum dapat
pembelajaran ini. Dalam kajian
mencapai
tujuanitu,yang
pustaka diharapkan,dilakukan
pembicaraan perlu tersedianya kurikulum Dengan
secara kronologis. yang senantiasa
demikian,
disesuaikan
diketahui dengan
kemajuan kebutuhan.
penelitian Dengan pada
yang dilakukan kata peneliti
lain, agar
selamakegiatan
ini dan
pembelajaran
diketahui pula posisidapat berlangsung
peneliti dengan
sekarang dalam baik penelitian
deretan maka perlu tersedianya
sejenis. Dengan
guru yang professional, adanya peran aktif dari para siswa, tersedianya
demikian peneliti memiliki alasan yang mendasar (baik empiris, praktis, maupu
kurikulum yang baik, dan ditunjang dengan sarana dan prasarana yang
teoritis) mengenai pemilihan topik penelitiannnya.
memadai.

Mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi sebagai salah satu


mata pelajaran di SMA diajarkan sejak Kurikulum 1984 hingga sekarang.
Pada Kurikulum 1984, mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi
digabung. Mata pelajaran ini tidak dipelajari sejak kelas I SMA, namun
diberikan sejak kelas II untuk jurusan A3 dan A4. Pada Kurikulum 1994,
mata Latar
Contoh pelajaran Sosiologi
Belakang dan Antropologi dipisah. Mata pelajaran
Masalah:
Sosiologi diberikan mulai dari kelas II program umum sampai kelas III
jurusan IPS dan Bahasa, sedangkan mata pelajaran Antropologi hanya
diberikan di jurusan IPS dan Bahasa. Pada Kurikulum 2004 dan KTSP,
mata pelajaran Sosiologi diberikan di kelas X, kelas XI dan XII untuk
Jurusan IPS. Mata pelajaran Antropologi diberikan di kelas XI dan XII
untuk jurusan Bahasa.
23

Kegiatan pembelajaran Sosiologi dan Antropologi di SMA perlu


ditunjang dengan tersedianya guru yang professional, adanya peran aktif
dari para siswa, tersedianya kurikulum yang baik, dan ditunjang dengan
sarana dan prasarana yang memadai. Muatan kurikulum disesuaikan
dengan kebutuhan lapangan kerja, tenaga guru yang profesional dan
kompeten, sarana dan prasarana disesuaikan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

Pendidik atau guru sebagai salah satu pelaku dalam kegiatan


pembelajaran Sosiologi dan Antropologi harus tersedia secara memadai,
baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Secara kuantitas, guru
Sosiologi dan Antropologi harus tersedia dalam jumlah tertentu agar
beban mengajarnya tidak terlalu banyak. Secara kualitas, guru Sosiologi
dan Antropologi harus memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan
mata pelajaran yang diampunya.

Meskipun mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi di berikan di


SMA sejak Kurikulum 1984, namun lembaga pencetak tenaga guru (ex
IKIP) di Indonesia baru tahun 2001 membuka Program Studi Pendidikan
Sosiologi dan Antropologi. Akibatnya, dengan belum adanya tenaga guru
mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi maka menjadi terbatasnya
jumlah tenaga guru. Lebih dari itu, mata pelajaran Sosiologi dan
Antropologi diampu oleh guru yang tidak sesuai dengan kualifikasi
pendidikannya. Mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi diampu oleh
guru-guru yang kekurangan jam mengajarnya. Sebab ada ketentuan dari
otoritas pendidikan bahwa beban mengajar guru minimal 18 jam per
minggu. Itulah sebabnya tidak aneh jika mata pelajaran Sosiologi dan
Antropologi diampu oleh guru-guru yang berlatar belakang pendidikan
Geografi, Sejaran, Teknik, PKn, dan PKK. Bagaimana keadaan dan
kebutuhan guru Sosiologi dan Antropologi di SMA Negeri di Jawa Tengah
saat ini? Untuk memperoleh gambaran mengenai ini perlu diadakan
penelitian.
24

b. Identifikasi dan Rumusan Masalah


Rumusan masalah adalah rumusan persoalan yang perlu dipecahkan
atau dipertanyakan yang perlu dijawab dengan penelitian. Perumusan itu
sebaiknya disusun dalam bentuk kalimat tanya, atau sekurang-kurangnya
mengandung kata-kata yang menyatakan persoalan atau pertanyaan. Yakni
25

apa, siapa, berapa, seberapa, sejauh mana. Bagaimana (bisa tentang cara atau
wujud keadaan) dimana, kemana, dari mana, mengapa dan sebagainya.
Rumusan masalah harus diturunkan dari rumusan topik, tidak boleh keluar
dari lingkup topik. Oleh karena itu, rumusan masalah hendaklah mencakupi
semua variabel yang tergambarkan dalam topik. Kalau ada variabel umum dan
khusus, hendaklah dirumuskan masalah pokok beserta sub-sub masalahnya.
Jadi, rumisan masalah harus terinci dan teruarai dengan jelas agar dapat
dipecahkan dan dicarikan data pemecahannya.
Rumusan masalah yang baik harus memungkinkan untuk menentukan
metode penentuan data dan pemecahannya secara tepat atau akurat. Untuk itu,
sebelum masalah dirumuskan perlu diidentifikasi dengan baik.
Identifikasi masalah bisa dikemukakan di bawah sub-judul tersendiri
sesudah latar belakang, meskipu yang penting bukan judulnya melainkan
identifikasinya. Dengan identifikasi masalah, memungkinkan perumusan
masalah yang operasional menjadi lebih mudah. Masalah yang operasional
memiliki ciri, antara lain: (1) masalahnya dapat dipecahkan, (2) menggambarkan
variabel penelitian yang jelas, (3) bentuk dan jenis data yang diperlukan dapat
dipastikan secara akurat, (4) teknik pengumpulan data dapat ditentikan secara
tepat, (5) teknik analisis data dapat diterapkan secara tepat.
Permasalahan penelitian dikategorikan baik jika memenuhi kriteria berikut:
(a) Pernytaan masalah pokok bersifat spesifik dan mencerminkan
signifikan dan pentingnya penelitian
(b) Analisis yang tajam mengenai fakta, penjelasan, keberadaan informasi dan
pengetahuan dan memuat faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi
munculnya permasalahan
(c) Mencerminkan interelasi antarvariabel dan relevansinya dengan area
permasalahan
(d) Mengungkapkan faktor-faktor atau variabel-variabel yang akan dikaji dan
menjalaskna hubungannya dengan area permasalahan
26

(e) Disajikan secara sistematis dan teratur, memuat interelasi, relevansi fakta
dengan konsep dalam area permasalahan
(f) Identifikasi masalah diungkapkan dngam pernyataan yang jelas’
(g) Variabel-variabel penelitian yang dianalisis tidak membingungkan dan secara
nyata dapat dibedakan yang tergolong variavel beas, terikat, dsb.
(h) Ada perbedaan yang jelasn antara pertanyaan-pertanyaan masalah dengan
orientasi faktual dan orientasi nilai dalam penelitian
(i) Ada perbedaan yang jelas antara orientasi teoritis penelitian dan orientasi
praktis, ingin mencari hubungan, perbedan, atau proyeksi
(j) Pernyataan maslah harus mengacu pada perumusan hipotesis,
mengungkapkan data empiris atau keduanya
(k) Pernyataan masalah tidak memuat masalah-masalah yang sepele.

Contoh Rumusan Masalah Artikel Ilmiah:

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian


sebagai berikut:

1. Bagaimana keterserapan lulusan prodi pendidikan Sosiologi dan


Antropologi Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES pada
lapangan kerja yang tersedia?

2. Lapangan kerja apa saja yang menyerap lulusan Prodi Pendidikan


Sosiologi dan Antropologi Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS
UNNES?

3. Bagaimana upaya lulusan dalam mengakses lapangan kerja?

ContohBerdasarkan latar belakang


Rumusan Masalah tersebut
Laporan Hasil di atas maka masalah adalah
Penelitian:
“Bagaimana keadaan dan kebutuhan guru Sosiologi dan Antropologi
di SMA Negeri di Jawa Tengah”? Berangkat dari permasalahan ini
maka penelitian ini ingin menjawab :

a. Bagaimana keadaan guru mata pelajaran Sosiologi dan


Antropologi SMA di Jawa Tengah?
b. Bagaimana kebutuhan-kebutuhan guru mata pelajaran Sosiologi
dan Antropologi SMA di Jawa Tengah?
27

c. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian mengungkapkan apa yang hendak dicapai dengan


penelitian. Tujuan dirumuskan sejajar dengan rumusan masalah. Misalnya: (1)
apakah ada pengaruh X terhadap Y, maka tujuannya ialah menentukan ada
tidaknya pengaruh X terhadap Y, (2) apakah ada antara hubungan antara X dan
Y, maka tujuannya ialah menentukan ada tidaknya hubungan antar X dan Y, (3)
bagaimanakan persepsi peneliti terhadap pelayanan akademik, maka tujuannya
ialah mendeskripsikan persepsi..dst.

Contoh Tujuan Penelitian dalam Artikel Jurnal:

Adapun tujuan penelitian ini adalah:


a. Memperoleh data tentang guru mata pelajaran Sosiologi dan
Antropologi SMA di Jawa Tengah.
b. Memperoleh masukan tentang kebutuhan-kebutuhan guru mata
pelajaran Sosiologi dan Antropologi SMA di Jawa Tengah

d. Kegunaan Penelian

Yang diuraikan disini ialah kegunaan atau pentingnya penelitian dilakukan,


baik bagi pengembangan ilmu maupun bagi kepentinagn praktik Uraian ini
28

sekaligus berfungsi untuk menunjukan bahwa masalah yang dipilih memang


layak diteliti.
Pendahuluan dalam laporan peenelitian kualitatif pada dasarnya
menguraikan bagian-bagian yang sama seperti dalam laporan penelitian yang
menggunakan penelitian kuantitatif yang berisi (1) latar belakang, (2) identifikasi
dan pembatasan masalah, (3) perumusan masalah atau fokus masalah, (4) tujuan
penelitian, (5) kegunaan penelitian, dan (6) sistematika. meskipun demikian ada
persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam penyusunan laporan penelitian
yang menggunakan penelitian kualitatif, :
a. Perumusan masalah perlu mendapat perhatian karena ada perbedaan
substansial anatara penelitian kualitatif dan kuantitatif. penelitian kualitatif lebih
diarahkan atau ditujukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana dan
mengapa. oleh karena itu, perumusan masalah harus difokuskan pada
persoalan utama secara tegas dan jelas. jika perlu, peneliti dapat menyertakan
masalah-masalah yang lebih kecil sebagai unsur dari masalah utama (pokok)
dan disajikan setelah masalah pokok.
b. Tujuan penelitian mengungkapkan apa yang ingin dicapai dalam penelitian dan
menggambarkan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencari jawaban
atas masalah penelitian. Tujuan dirumuskan dengan kalimat yang jelas,
operasional, dan merupakan jabaran pemecahan masalah penelitian.
c. Kegunaan atau pentingnya penelitian, baik bagi pengembangan ilmu maupun
bagi kepentingan praktis, diuraikan secara jelas. uraian dalam sub Bab ini
dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa masalah yang dipilih itu benar-benar
penting untuk diteliti.

Contoh Kegunaan Penelitian dalam Artikel Jurnal:

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

a. Memperoleh data tentang guru mata pelajaran Sosiologi dan


Antropologi SMA di Jawa Tengah.
b. Memperoleh masukan tentang kebutuhan-kebutuhan guru mata
pelajaran Sosiologi dan Antropologi SMA di Jawa Tengah.
29

E. TINJAUAN PUSTAKA
Dalam penelitian diperlukan 2 landasan, yakni kerangka teoritis dan
medodologis. Kerangka teoritis adalah teori yang digunakan untuk membangun
kerangka kerja penelitian. kerangka metodoligis ialah hal ikhwal yang berkaitan
dengan desain penelitian, termasuk langka-langkah pengumpulan dan
pengolahan data (variabel, instrument, validitas dan realibilitas instrument, serta
teknik pengumpulan dan analisis data) dengan berbagai alasannya. Keduanya
diuraikan dalam dua bagian penelitian yang berbeda, tetapi berirutan. Kerangka
teoritis diuraikan dalam bab II, sedangkan kerangka metodologi diuaraikan
dalam bab III.
Dalam kerangka teoritis dinyatakan teori apa yang digunakan untuk
landasan kerja penelitian. Teori itu bisa disusun sendiri secara eklektik. bisa juga
berupa teori yang digunakan oleh seorang ahli. Namun, teori apapun, yang
digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan melalui kajian sejumlah pustaka
dan hasil penelitian dalam lingkup topic penelitian atau tugas akhir.
Penyebutan nama teori saja tidaklah cukup. Prinsip-prinsip teotri itu perlu
diuaraikan, termasuk pendekatan dan metode kerja teori itu. variabel-variabel
penelitian perlu diterangkan menurut pandangan teori yang dipilih itu. Untuk itu,
landasan teori merupakan pemaparan konsep-konsep menurut pendapat penulis
atau penemu. Teori tersebut dan kemudian dipaparkan menurut sudut pandang
peneliti dengan disertai cara mengukurnya.
Dalam laporan penelitian kualitatif terdapat bagian penelaahan kepustakaan
dan/atau kerangka teritik, sesuai dengan pendekatan dan desain penelitian
yang digunakan. bagaian ini disajikan dalam bab tersendiri (Bab II), dan
disarankan bukan hanya menguraikan penelaahan kepustakaan, melainkan
dilengkapi dengan kerangka teoritiknya.
30

Pentingnya penelaahan kepustakaan dalam penelitian atau penyusunan


laporan penelitian yaitu karena pada hakikatnya hasil penelitian seseorang
bukanlah satu penemuan baru yang berdiri sendiri melainkan sesuatu yang
berkaitan dengan temuan dari penelitian sebelumnya. Dalam bagian ini hasil
penelitian sebelumnya harus dikemukakan untuk memberi gambaran
pengetahuan yang mendasari pola kesamaan penelitian dan pada gilirannya
dapat diketahui kontribusi hasil penelitian bagi pengembangan ilmu pengetahuan
dan/atau kebijakan praktis secara jelas. Penelaahan kepustakaan disusun
secara kronologis sesuai dengan kemutakhiran teori maupun data empiris
sehingga dapat diketahui perkembangan keilmuan dan hasil penelitian.
Kerangka teoritik berfungsi sebagai “hipotesis kerja” dimungkinkan untuk
disajikan dalamm penelitian kualittatif. Kerangka teoritik dalam penelitian
kualitatif metupakan kumpulan konsep-konsep relevan yang terintegrasi dalam
satu system penjelasan yang berfungsi sebagai pedoman kerja, baik dalam
menyusun metode, pelaksanaan di lapangan, maupun pembahasan hasil
penelitian.
Meskipun tidak mutlak kehadirannya, telaah pustaka tetap menjadi
kaharusan dalam penelitian kualitatif. Telaah pustaka atau landasan teori
dikategorikan baik jika memenuhi kriteria berikut:
(a) Menggunakan sumber-sumber mutahir disamping sumber yang
dianggap klasik
(b) Menggunakan sumber2 berupa artikel yang dimuat pada jurnal atau
majalah ilmiah
(c) Kutipan atas sumber pustaka disajikan secata tepat, dianalisis dan
dihubungkan dengan permasalahan
(d) Jumlahnya mencukupi dan tidak ada kesan berlebihan
Prosedur penelitian (rancangan dan metodologi) dikategorikan baik jika
memenuhi kriteria berikut:
31

(1) Logika struktur dan strategi studi disajikan secara hati-hati, termasuk
didalamnya identifikasi variabel, ketepatan paradigma, bagan arus, atu model
skematik
(2) Deskripsi sampel penelitian diungkapkan secara jelas, meliputi cara
penarikan sampel, ukuran sampel, dan strata
(3) Menggunakan prosedur pengumpulan data yang tepat dan terkait
dengan masalah dan fokus penelitian
(4) Ada kesesuaian antara rumusan masalah dan fokus penjelajahan di
lapangan
(5) Ketepatan menggunakan prosedur pengolahan data.

Contoh Tinjauan Pustaka dalam Artikel Jurnal:

Untuk mengkaji keterserapan lulusan pada lapangan kerja terdapat


beberapa tulisan yang dapat digunakan untuk pijakan. Pertama, tulisan Drost
Sj (1990) yang membahas tentang untuk apa perguruan tinggi didirikan.
Diaktakan bahwa ide dasar pendidikan perguruan tinggi adalah untuk
menciptakan manusia-manusia
Kedua, intelektual
tulisan Widiastono yang
(1990: 23) manusiawi, yang sanggup
yang menjelaskan bahwa
berpikir dan bekerja
harapan untuk masyarakat
masyarakat dan negaranya.
kepada perguruan tinggi begitu besar. Ribuan
lulusan SLTA setiap tahun memasuki perguruan tinggi dengan harapan
kelak setelah selesai mengikuti pendidikan di perguruan tinggi masa
depannya akan cerah.

Ketiga, tulisan Adi (1990: 60-62) yang menjelaskan tentang


sarjana dan pasar tenaga kerja . Dalam penjelasannya itu, dikemukakan
bahwa dalam perkembangannya Indonesia makin memasuki pasar bebas.
Hal itu berarti, pasar yang semula lebih didominasi pemerintah makin
bergeser ke peran swasta. Oleh karena swasta semakin penting
menyediakan lapangan kerja. Permintaan pasar kerja diduga akan lebih
banyak dari dunia industri. Oleh karena itu, pendirian Prodi dan Jurusan
Keilmuan harus lebih memikirkan alternative lapangan kerjanya. Meskipun
demikian ia mengatakan bahwa sarjana tetap menjadi pilihan pasar kerja.

Keempat, Imron (1990: 52-64) yang menjelaskan tentang


dialektika pendidikan tinggi dan signifikansi masa depan. Dikatakan
bahwa dinegara berkembang pendidikan tinggi merupakan sarana
mencapai kemajuan bangsa. Pendidikan yang dilakukan dengan baik
dapat menjadi alat pengusir kebodohan dan kemiskinan.
32

F. METODE PENULISAN/PENELITIAN
Dalam karya ilmiah laporan penelitian bagian metode penelitian dibuat
dalam bab tersendiri. Dalam artikel untuk jurnal metode penelitian/penulisan
juga ditulis dalam bagian tersendiri tetapi tidak dalam bentuk bab. Dalam karya
ilmiah makalah bahan seminar bagian metode penelitian tidak ditulis secara
eksplisit menjadi bab.
Dalam laporan penelitian ada perbedaaan antara metode penelitian
dalam metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode penelitian dalam laporan
penelitian kuantitatif, prosedur penelitian dimulai dari pengumpulan data,
pengolahan data, dan diakhiri dengan analisis data. Yang perlu diuraikan dalam
bab pendekatan atau penelitian kuantitatif adalah: (1) jenis dan desain
penelitian, (2) populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel (3) Variabel
33

yang dirumuskan secara operasional, (4) instrument penelitian disertai


penentuan validitas dan reliabilitasnya, (5) teknik pengumpulan data , (6) teknik
pengolahan dan analisis data.
Dalam uraian tentang metode penelitian itu tidak cukup hanya disebut
istilah-istilah, seperti angket guide interview observasi, wawancara. masing-
masing istilah tersebut perlu diterangkan prosedur penggunaan atau
pelaksanaannya. bahkan, kegunaan dari masing-masing teknik atau metode
yang digunakan perlu diterangkan secara jelas.
sebaliknya pengertian populasi, sampel, teknik pengambilan sampel,
angket, guide interview, guide observation, wawancara dan sebagainya tidak
perlu diuraikan sebagaimana dalam mata kuliah metodologi penelitian. yang
diuraikan adalah siapa atau apa populasinya, berapa ukuran populasinya, berpa
ukuran sampelnya, apa teknik penarikan sampelnya, apa alat yang digunakan
untuk mengumpulkan data, apa teknik pengumpulan datanya, apa teknik
pengolahan dan analisis data yang dipilih dan digunakan. masing-masing
metode penelitian yabg dipilih perlu diuraikan secara operasional sesuia dengan
apa yang dikerjakan oleh peneliti.
Metode penelitian dalam laporan penelitian kualitatif terdapat beberapa
perancangan dan hal ini mengakibatkan penyajiannya akan berbeda pula. Ada
beberapa pendekatan penelitian kualitatif yang sering digunakan, seperti: (1)
fenomologi. (2) hermeneutika, (3) etnografi, (4) grounded theory. Adapun desain
penelitian kualitatif dapat berupa studi kasus, grounded study, etnometodologi,
biografi, historical social science, riset klinis dll. Kerangka penelitian kualitatif
yang diuraiakan dan dalam pedoman ini tidak dimaksudkan untuk semua jenis
penelitian kualitatif yang bersifat khusus melainkan hanya untuk memberi
kerangka dasar bagi penulisan karya ilmiah atau laporan penelitian yang
menggunakanj metode penelitian kulaitatif secara umum.
Metode penelitian dalam laporan penelitian kualitatif mencakup bagian-
bagian sebagai berikut: (1) dasar penelitian, (2) fokus penelitian,(3) sumber
34

data, (4) teknik sampling, (5) alat dan teknik pengumpulan data, (6)objektivitas
dan keabsahan data, (7) Model analisis data, (8) Prosedur penelitian.
Bagian-bagian tersebut harus diuraikan sesuai dengan apa yterutama
dalam penusunan laporan yang dilakukan peneliti, Dengan kata lain, uaraian
bagian ini hanya bersifat konseptual atau teoritik, tetapi menyajikan uraian
mengenai kejadian yang dilakukan peneliti di lapangan, misalnya, untuk
mendapatkan data yang objektif dilakukan triangulasi. Secara teoritik ada 4
macam triangulasi yaitu: (1) motode, (2) sumber, (3) peneliti, (4) teori. Demikian
juga dengan model analisis, secara teoritik ada beberapa model yang dapat
digunakan seperti: interactive analysis models dan (2) flow analysisi models.

Contoh Metode Penelitian dalam Artikel Jurnal:

Subyek penelitian adalah semua lulusan Prodi Pendidikan Sosiologi


dan Antropologi terdiri atas lulusan tahun 2005,2006, dan 2007. Untuk
keperluan penelitian tidak semua subyek peneltian yang diwawancarai
tetapi dari lulusan tersebut diambil sejumlah diantaranya menjadi informan
melalui teknik cuplikan dari tiap angkatan.

Sumber data penelitian ini adalah lulusan Prodi Pendidikan Sosiologi


dan Antropologi. Sumber data lain adalah dokumen data lulusan Prodi
Pendidikan Sosiologi dan Antropologi dan sumber kepustakaan lainnya.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terbuka dan
tertutup. Alat yang digunakan adalah pedoman wawancara dan angket.

Data yang telah masuk dianalisis dengan metode deskriptif


kuantitatif menggunakan statistik sederhana yaitu prosentase dan deskriptif
kualitatif dengan langkah-langkah reduksi data, display data, dan verifikasi/
penarikan simpulan. Setelah data dikumpulkan lalu dipilih yang benar-benar
memiliki hubungan dengan pokok masalah selanjutnya diambil kesimpulan.

G. HASIL DAN PEMBAHASAN


35

Karya ilmiah artikel dan makalah bahan seminar maupun laporan hasil
penelitian memuat bagian hasil dan pembahasan. Dalam artikel dan makalah
hasil dan pembahasan dapat berbentuk bab maupun tidak dalam bentuk bab.
Dalam laporan penelitian bagian hasil dan pembahasan kecenderungannya
dibuat dalam bentuk bab.
Bagian hasil dan pembahasan dalam laporan penelitian dapat dipecah
menjadi beberapa bab tergantung kebutuhan. Dalam hasil disampaian data
yang diperoleh dalam penelitian. Dengan demikian hasil harus disajikan secara
objektif dan sesuai dengan data yang diperoleh (tabel atau gambar).
Dalam bagian hasil penelitian diuraikan apa saja hasil penelitian yang
mencakup semua aspek yang terkait dengan penelitian. Analisa dan
pembahasan membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang
diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah
tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil
penyelesaian masalah.Penulisan hasil dan pembahasan menggunakan huruf
times new roman, 10 pt, Bold) (kosong 1 spasi tunggal, Times New Roman, 10
pt).
Hasil eksperimen atau survei atau rancang bangun beserta analisisnya
dan pembahasannya dapat disajikan secara bersama-sama atau secara
terpisah berupa uraian, tabel dan gambar. Data yang dilaporkan sudah harus
berupa data terolah, bukan data mentah. Tabel dan gambar harus dilengkapi
nomor urut menggunakan angka Arab, dan bila diperlukan, disertai keterangan
tambahan, seperti acuan dan arti singkatan. Untuk karya tulis hasil tinjauan
pustaka dan hasil bahasan teoritis, informasi pustaka yang akan
dipermasalahkan dan pembahasannya dapat diuraikan secara bersamasama
atau secara terpisah, disajikan secara sistematis, rasional dan lugas. (Times
New Roman, 10 pt, Regular, 1 spasi tunggal) (kosong 2 spasi tunggal, Times
New Roman, 10 pt).
Bab pembahasan data merupakan bab yang paling penting dalam
penulisan karya ilmiah karena dalam bab ini dilakukan kegiatan analisis data,
36

sintetis pembahasan, interpretasi penulis, pemecahan masalah, dan temuan


pendapat baru yang diformulakan (bila ada).
Bab ini terdiri dari dua bagian besar yaitu :
a. Deskripsi Data
Berisi serangkaian data yang berhasil dikumpulkan, baik data pendukung
seperti latar belakang lembaga / instansi yang diteliti, struktur organisasi dan
sebagainya sert data utama yang diperlukan untuk pengujian hipotesis. Data-
data tersebut harus dideskripsikan secar sistematis.
b. Pembahasan
Bagian ini berisi pembahasan tentang hasil penelitian sesuai dengan acuan
dan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Bagian pembahasan ini
memperlihatkanketajaman dan keluasan wawasan penulis mengenai
permasalahan yang dikajinya.
Hasil berupa data penelitian yang telah diolah dan dituangkan dalam bentuk
tabel, grafik, foto, atau gambar. Pembahasan berisi hasil analisis dan hasil
penelitian yang dikaitkan dengan struktur pengetahuan yang telah mapan
(tinjauan pustaka yang diacu oleh penulis), dan memunculkan ‘teori-teori’ baru
atau modifikasi terhadap teori-teori yang telah ada. Berisi tentang kupasan,
analisis, argumentasi dan pendirian penulisan mengenai masalah yang
dibicarakan.
Sajikan hasil penelitian sewajarnya secara bersistem. Jika data terlalu
banyak, adakalanya Anda perlu selektif dalam menyajikannya. Dengan
pertimbangan yang masak, rancanglah tabel, grafik, gambar atau alat penolong
lain untuk memperjelas dan mempersingkat uraian yang harus diberikan. Jangan
berikan informasi berulang, misalnya dalam bentuk tabel dan gambar. Tabel dan
gambar perldisebut dalam teks dan letaknya tidak berjauhan dari teks yang
bersangkutan. Hindari pengulangan informasi yang sudah ada dalam ilustrasi
secara panjang lebar. Tafsirkan hasil yang diperoleh dengan memperhatikan dan
menyesuaikannya dengan masalah atauhipotesis yang diungkapkan dalam
37

Pendahu-luan. Adakalanya Hasil digabungkan dengan Pembahasan, menjadi


bagian yang dinamakan Hasil dan Pembahasan.
Sewaktu mengumpulkan data, mengolahnya, dan menyusunnya dalam
tabel, dengan sendirinya Anda telah memiliki sejumlah gagasan yang telah
dikembangkan dalam Pembahasan. Pengembangan gagasan ini disebut
‘argumen’. Anda harus membandingkan dengan hasil peneliti terdahulu,
kemudian buatlah pertimbangan teoretisnya. Dengan demikian, maka
Pembahasan merupakan kumpulan argumen mengenai relevansi, manfaat, dan
kemungkinan atau keterbatasan percobaan Anda, serta hasilnya.
Dikatakan oleh Rifai (1995), bahwa Pembahasan merupakan bagian
tempat seseorang paling bebas berekspresi. Pendapat orang yan sudah diringkas
dalam Pendahuluan atau Tinjauan Pustaka tidak perlu diulang lagi tetapi diacu
saja seperlunya. Bentangkan arti temuan serta jelaskan bagaimana simpulan
baru itu memperluas cakrawala ilmu dan teknologi. Bila perlu berikan implikasi
penerapan temuan aru tadi dan tunjukkan segi-segi lain yang perlu diteliti lebih
lanjut. Akhiri pembahasan secara positif, tegas, dan kuat.
Menurut Calderon & Gonzales (1993), ada lima unsur yang dapat
dituliskan dalam berargumen dan menyampaikan implikasi dari temuan.
1) Nyatakan situasi yang ditemukan dalam penelitian: bisa memuaskan atau
tidak memuaskan. Misal: Mayoritas guru sains di Provinsi A tidak memenuhi
kualifikasi untuk mengajarkan sains.
2) Nyatakan kemungkinan penyebab situasi itu. Jika ada situasi,mestinya ada
penyebab, dan mestinya ada hubungan logis antarasituasi dan penyebab; bila
tidak, yang dianggap penyebab bukanlah penyebab yang sesungguhnya. Dalam
contoh di atas, penyebab logis kurangnya guru berkualifikasi untuk menangani
mata ajaran sains ialah kurang cermatnya petugas rekrutmen dalam menyeleksi
calon guru, atau tidak cukupnya pelamar yang berkualifikasi untuk menduduki
posisi guru sains.
3) Nyatakan efek yang mungkin timbul dari situasi itu. Hampir pasti, ada pula
efek yang timbul dari situasi tsb. dan mestinya ada hubungan logis antara situasi
38

dan efek yang mungkin. Efek logis dari kurangnya guru berkualifikasi pada
pengajaran sains ialah bahwa pengajaran akan kurang efektif dan ini dapat
merugikan siswa.
4) Nyatakan tindakan untuk mengatasi situasi yang kurang memuaskan
atauuntuk meningkatkan situasi yang sudah baik. Wajar saja untuk mengambil
tindakan guna meng-atasi situasi yang kurang memuaskan. Namun, situasi yang
sudah baik pun perlu terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Langkah
logis untuk mengatasi keadaan guru yang tidak berkualifikasi ialah dengan
mensyaratkan peningkatankualitas melalui pendidikan dalam bidang sains,
menghadiri seminar, mengikuti pelatihan, membaca lebih banyak publikasi sains.
5) Nyatakan badan atau bidang terkait yang terpengaruhi. Dalam contoh yang
diambil ini, pengajaran sains di Provinsi A yan terpengaruhi. Anda dapat
melanjutkan pembahasan tentang implikasi temuan Anda pada pengajaran
sains. Implikasi ini barangkali tidak berlaku untuk keadaan pendidikan secara
keseluruhan. Hasil dan Pembahasan: Kedua bagian ini dapat disatukan atau
dipisah, bergantung pada gaya selingkung jurnal yang bersangkutan. Di bagian
ini dapat dikemukakan produk dan dihasilkan dan spesifikasinya, uraian teknik
instalasi produk (jika diperlukan), uraian hasil uji efisiensi dan fungsional produk,
tabel dan gambar teknis atau foto setiap aplikasi metode, produk, dan hasil
pengujian.
Penyajian dan analisis data dikategorikan memenuhi kriteria yang baik
jika memenuhi kriteria berikut:
(a) Dirumuskan secara logis dan teratur, kerangka hipotesis. Deduksi,
tujuan dan pertanyaan penelitian ditempatkan pada dimensi keterkaitan yang
intensif
(b) Tidak menyajikan hal-hal yang bersifat subjektif dan spekulatif
(c) Analisis terhadap fakta yang diperoleh secara konsisten
(d) Terhindar dari generalisasi yang berlebihan (overgeneralization) atau
pengungkapan yang tidak ada hubungannya dengan data penelitian
39

(e) Kesalinghubungan penemuan empiris selama penelitian diungkap


secara eksplisit dengan menghindari distorsi data penelitian
(f) Faktor-faktor tidak terkontrol yang diduga dapat mempengaruhi
ketepatan data diantipasi sedemikian rupa melalui diskusi
(g) Harus jelas perbedaan antara fakta dan kecendurungan yang
berkembang dalam proses penelitian
(h) Hindari kontradiksi, ketidakkonsistenan atau elemen-elemen yang
tidak terarah dalam data temuan
(i) Tabel, gambar, bagan, dan sejenisnya disajikan secara tepat baik
bentuk, isi, maupun posisi.
Pada bagian pembahasan dihubungkan untuk memperhatikan ataupun
merujuk pula hasil penelitian lain ataupun terdahulu. Selain itu perlu diungkapkan
pula keterbatasan ataupun limitasi dari hasil yang diperoleh dan diperiksa
apakah hasil yang diperoleh telah sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian
tersebut, dan perlu juga diungkapkan saran ataupun penelitian lanjutan yang
perlu dilaksanakan.

H. PENUTUP
Bagian penutup dari karya ilmiah adaalah simpulan dan saran. Cara
penulisan pada artikel bergantung pada gaya selingkung jurnal, Bagian ini dapat
merupakan bagian terpisah atau bergabung dengan bagian Pembahasan atau
Hasil dan Pembahasan. Dalam bagian ini diuraikan keberhasilan metode
dikaitkan dengan hasi kerja, dan dampak produk.
Dalam laporan penelitian kuantitatif, penutup merupakan Bab terakhir
dari isi pokok laporan penelitian. sesuai dengan isinya, bagian ini dapat dibagi
menjadi dua sub-bab yaitu simpulan dan saran. Simpulan harus sejalan dengan
masalah, tujuan, dan uraian tentang hasil penelitian dan pembahasannya.
masalah yang dikemukakan dibagian pendahuluan semuanya harus terjawab
dan dengan jawaban itu semua tujuan dapat tercapai. Uraian atau pembahasan
masalah dalam bab sebelumnya harus ada simpulannya.
40

Saran harus sejalan dengan simpulan atau temuan. saran hendaknya


disertai dengan argumentasinya. kalau mungkin juga disertai jalan keluarnya.
saran dapat bersifat praktis atau teoritis termasuk saran yang berharga adalah
saran tentang perlunya dilakukan penelitian lanjutan, mengingat bahwa belum
tentu semua masalah dapat dipecahkan secara tuntas atas dasar penelitian
yang telah dilakukan atau setelah selesainya penelitian ini timbul masalah lain
yang terkait.
Dalam penyusunan laporan penelitian kualitatif bagian penutup
merupakan bab terakhir dari isi pokok laporan penelitin yang terdiri dari simpulan
dan saran. Simpulan hendaknya berisi uraian tentang -temuan yang penting
dalam penelitian dan implikasi-implikasi dari temuan tersebut. Simpulan harus
sejalan dengan masalah, tujuan, dan merupakan ringkasan dari hasil
pembahasan dan analisi. Uraian dalam simpulan harus menjawab masalah yang
dikemukakan dalam bab pendahuluan dan emmenuhi semua tujuan penelitian.
Saran dikemukakan dengan mengaitkan temuan dalam simpulan dan jika
memungkinka jalan keluarnyajuga disampaikan. saran dapat bersifat praktis atai
teoritis. Selain itu, perlu juga dikemukakan masalah-masalah baru yang
ditemukan dalan penelitian yang memerlukan penelitian lanjutan.
Kesimpulan dan saran dikategorikan baik jika memenuhi syarat sebagai
berikut:
(a) Pernyataan mengenai kesimpulan diungkap secara tepat dan akurat
tanpa disertai pernyataan baru atau pengantar yang tidak relevan
(b) Kesimpulan dibuat menurut ruang lingkup generalisasi atas dasar
justifikasi data yang disajikan
(c) Kesimpulan seyogyanya diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan baru,
berupa saran atai rekomendari bagi penelitian lebih lanjut.
(d) Saran yang dikemukakan bersifat objektif dan disertai langkah-
langkah operasional bagi implementasinya.
(e) Saran semata-mata ditujukan pada upaya perbaikan atas kelemahan-
kelemahan yang dikemukakan atau berupa rekomendasi aplikasi temuan,
berikut langkah-langkah teknisnya.
Contoh Simpulan dan Saran Artikel Jurnal:
41

Berdasarakan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Keterserapan lulusan Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi


Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES pada lapangan kerja,
termasuk memerlukan waktu yang singkat dari tahun pertama hingga
tahun ketiga telah terserap dengan prosentase yang tinggi.

2. Lapangan kerja yang menyerap lulusan Prodi Pendidikan Sosiologi


dan Antropologi Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES
sebagian besar telah sesuai dengan lapangan kerja yaitu guru mata
pelajaran Sosiologi dan Antropologi atau IPS.

3. Upaya lulusan dalam mengakses lapangan kerja dengan cara mencari


informasi melalui teman dan kenalan, media internet, media massa
cetak dan metode trial dan error, belum didasarkan pada perencanaan
dan konseptual yang jelas dan baru dilakukan setelah lulus.

Saran yang diusulkan dari penelitian ini adalah:

1. Lulusan dalam mengakses lapangan kerja perlu persiapan sejak di


bangku kuliah dengan mengembangkan ketrampilan dalam mengakses
informasi melalui internet, media masssa cetak, mengembangkan
jaringan dengan sekolah-sekolah.

2. Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi perlu membekali


Contoh Saran dalam
ketrampilan Artikel Jurnal:
mengakses lapangan kerja bagi mahasiswa di
lingkungannya agar kelak jika lulus sudah lebih siap dalam memasuki
lapangan kerja yang tersedia atau menciptakan lapangan kerja sendiri.

3. Pemerintah dan penyelenggara lembaga pendidikan sebaiknya


meningkatkan pengaturan pengajaran agar guru-guru dalam mengajar
mata pelajaran sesuai dengan bidang kelilmuannya. Hal tersebut
dimaksudkan agar dapat mendukung profesionalisme dalam pendidikan
dan meningkatkan kualitas pendidikan
42

I. DAFTAR PUSTAKA
Karya ilmiah perlu dilengkapi dengan daftar pustaka, yang memaparkan
karya ilmiah lain yang digunakan sebagai rujukan. Agar dapat ditelusuri orang lain
penulisan karya ilmiah rujukan tersebut perlu memuat nama pengarang, judul karya
ilmiah, tahun penerbitan, serta penerbitnya. Tata cara penulisan daftar pustaka
merlu juga memberikan isyarat apakah karya ilmiah yang dirujuk itu berupa buku,
jurnal, makalah seminar, laporan penelitian yang tidak dipublikasi, dokumen WEB,
dll. Oleh karenanya ada tata cara yang ditetapkan untuk menuliskan daftar pustaka.
Namun demikian terdapat banyak versi tata cara penulisan daftar pustaka,
bergantung pada tradisi yang dipegang oleh masyarakat keilmuan dalam masing-
masing bidang. Tata cara penulisan daftar pustaka yang disarankan dalam
“Pedoman Penulisan Karya Ilmiah” di UPI diadopsi sebagian besar dari tata cara
yang ditetapkan “American Psychological 3 Hf/bhs.Ind/kim/2000
Daftar pustaka hanya berisi sumber-sumber tertulis yang dikutip dan
digunakan dalam karya ilmiah (skripsi), karena itu sumber tertulis lain yang tidak
dikutip meskipun pernah dibaca penulis dalam kaitannya dengan penulisan
skripsinya tidak perlu dimasukkan dalam daftar pustaka.
43

Penulisan pustaka disusun menurut abjad dari nama penulisnya dan nama
keluarga harus ditulis lebih dahulu tanpa menyertakan gelar. Sumber tulisan
(pustaka) yang menggunakan lebih dari satu baris diketik satu spasi dengan
menjorok ke dalam sejauh 0,5 inchi untuk baris ke dua dan seterusnya, sedangkan
jarak antar pustaka diketik dengan dua spasi dan diawali pada margin kiri.
Tata cara apapun dapat saja dipakai asalkan pemakaiannya konsisten.
Namun demikian apabila karya ilmiah kita ingin dipublikasikan dalam jurnal tertentu,
kita harus menyesuaikan diri dengan tata cara penulisan daftar pustaka yang
ditetapkan oleh redaksi jurnal tersebut.
Semua bahan acuan dalam bentuk jurnal, buku atau pun naskah ilmiah yang
digunakan sebagai referensi/acuan ditulis pada bagian ini. Referensi/ acuan yang
dirujuk haruslah yang mempunyai kontribusi nyata dalam penelitian tersebut.
Penulisan daftar pustaka diurut sesuai dengan urutan penunjukkannya dalam
naskah dengan menggunakan angka Arab seperti terlihat pada contoh. Penulisan
pustaka dimulai nama keluarga dan singkatan nama kecil yang ditulis dengan huruf
kapital. Semua nama penulis harus disebutkan. Untuk penulisan majalah/jurnal,
setelah penulisan nama diikuti dengan judul karangan, nama majalah, volume
majalah yang diberi garis bawah, nomor dan tahun majalah masing-masing dalam
tanda kurung kecil serta halaman majalah. Nama buku ditulis di antara tanda kutip
atau ditebalkan diikuti dengan nomor edisi buku, editor (jika ada), nama penerbit,
tempat penerbitan, tahun penerbitan, dan halaman. (Times New Roman, 10 pt,
Regular, 1 spasi tunggal) (kosong 2 spasi tunggal, Times New Roman, 10 pt)

Contoh: Buku tanpa editor:

SNEDECOR, G.W. and COCURAN, W.G.,Statistical Methodes, State Univ. Press


Iowa (1972).

IAEA, “Radiation Protection Procedures” (Safety Series No. 38), IAEA, Vienna
(1973).

Buku dengan editor:


44

HAMMOND, C.R., “The Element, Handbook of Chemistry and Physics”, 45th ed.,
WEST, R.C., SELBY, S.M., AND HODGMAN, C.D., Eds, The Chemical
Rubber o. Cleveland (1964) 27-47.

KOLAR, G.F., In Chemical Carcinogens, 2 nd ed., SEARLE, C.E., Ed., ACS


onograph 182, American Chemical Society, Washington DC, 1984; Vol. 2,
Chapter 14. Prosiding:

MITCHELL, N.T.,Transfer of radionuclides to man through environmental athways


(Proc. of a Seminar on Population Dose Evaluation and Standards for Man
and His environment, Portoroz, 1974), IAEA, Vienna (1974) 485.

SUGIHARTO, Studi distribusi waktu tinggal pada proses pencampuran kontinu


dengan model bejana berderet (Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan
Pengembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi, Jakarta 6-7 November 2001),
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan
Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta (2002) 109. Majalah:

ZAHIRUDDIN, Penentuan mangan, uranium, crom, tembaga dan molybdenum


dalam baja special (baja uranium) dengan cara aktivasi neutron, Majalah
BATAN XI:2, (1972) 1-15

Semua bahan acuan dalam bentuk jurnal, buku ataupun naskah ilmiah yang
digunakn sebagai referensi/acuan ditulis pada bagian ini. Reference yang dirujuk
haruslah yang benar-benar mempunyai kontribusi nyata dalam penelitian tersebut.
Daftar pustaka ialah daftar atau senarai yang ada dalam karya ilmiah, misalnya,
makalah atau skripsi yang berisikan identitas buku dan pengarang yang disusun
secara alfabetis (setelah nama marga pengarang dikedepankan). Kepustakaan atau
juga daftar pustaka memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. diambil dari buku, majalah, makalah, surat kabar, internet, dan orasi dalam
ilmiah;
b. berisikan nama pengarang atau lembaga;
c. memiliki identitas buku, yaitu judul, tahun terbit, cetakan atau edisi, nama
penerbit, dan tempat terbit.
Fungsi dari daftar pustaka ialah sebagai berikut:
45

a. menunjukkan bahwa tulisan itu ilmiah (bersifat ilmu pengetahuan);


b. menginformasikan bahwa karya ilmiah itu (penelitian) memiliki referensi dan
akumulasi dari karya ilmiah sebelumnya;
c. Merupakan alat kontrol pada landasan teoretis atau tinjauan pustaka.
Teknik penulisan daftar pustaka ialah berikut:
a. Nama pengarang dibalikkan atau diputar dengan catatan nama yang
dikedepankan, atau nama marga/unsur nama akhir yang dipisahkan oleh
koma. Setelah itu, nama pengarang disusun secara alfabetis;
b. Bila nama pengarang ada dua, yang dibalikkan ialah nama pengarang
pertama;
Contoh: Emil Salim dan Philip Kotler menjadi Salim, Emil dan Philip
Kotler
c. Jika nama pengarang ada tiga atau lebih, nama pengarang pertamalah yang
diputar dan diikuti oleh dkk.
Contoh: Emil Salim, Philip Kotler, Djoemad Tjiptowardojo menjadi Salim,
Emil. dkk.
d. Bila tidak terdapat nama pengarang, nama departemen atau lembagalah
yang ditulis; bila tidak ada kedua-duanya, tulislah tanpa pengarang, atau
tanpa lembaga;
e. Gelar akademik pengarang tidak dicantumkan;
f. Judul buku harus dicetak miring dalam komputer atau digarisbawahi dalam
mesin tik atau tulisan tangan;
g. Judul artikel, skripsi, tesis, atau disertasi yang belum dibukukan diapit oleh
tanda petik dua;
h. Bila ada edisi atau cetakan ditulis sesudah judul buku;
i. Jika buku tersebut merupakan terjemahan dari buku bahasa asing,
penerjemah ditulis sesudah edisi;
j. Spasi dalam daftar pustaka satu spasi;
k. Perpindahan dari satu pengarang ke pengarang yang lain dua spasi.
46

l. Bila dalam satu buku diperlukan dua baris atau lebih, baris yang kedua atau
selanjutnya dimulai dari 1 tabulasi (5-7 ketukan);
m. Jika seorang pengarang menuliskan lebih dari satu buku, nama pengarang
ditulis satu kali; nama pengarang itu diganti dengan garis panjang atau tanpa
garis panjang;
n. Bila ada dua atau lebih karya ilmiah (buku) yang ditulis oleh seorang
pengarang, urutan penulisannya berdasarkan tahun terbit;
o. Bila ada dua atau lebih buku (karya ilmiah) dari seorang pengarang yang
ditulis dalam tahun yang sama, urutan penulisannya diikuti nomor urut a, b,
c, dsb.
Bentuk Pertama
Perhatikan urutan penulisan, nama marga dan nama kecil, (dipisahkan
koma), (diakhiri titik), tahun terbit, (diakhiri titik), judul buku–anak judul, (diikuti titik
dua dan diakhiri titik), cetakan (diakhiri titik), nama tempat (diakhiri titik dua), nama
penerbit (diakhiri titik).
Contoh:
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian
dan Kajian. Cetakan III.Bandung: Eresco.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1989. “Tata Bahasa Kasus dan Valensi Verba” dalam
PELLBA 2. Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya. Jakarta: Kanisius.

Bentuk Kedua

Djajasudarma, T. Fatimah1993a Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung:


Eresco.

1993b Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung:


Eresco.

Sistematika suatu karya ilmiah sangat perlu disesuaikan dengan sistematika


yang diminta oleh media publikasi (jurnal atau majalah ilmiah), sebab bila tidak
sesuai akan sulit untuk dimuat. Sedangkan suatu karya ilmiah tidak ada artinya
sebelum dipublikasi. Walaupun ada keragaman permintaan penerbit tentang
47

sistematika karya ilmiah yang akan dipublikasi, namun pada umumnya meminta
penulis untuk menjawab empat pertanyaan berikut: (1) Apa yang menjadi masalah?,
(2) Kerangka acuan teoretik apa yang dipakai untuk memecahkan masalah?, (3)
Bagaimana cara yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah itu?, (4) Apa
yang ditemukan?, serta (5) Makna apa yang dapat diambil dari temuan itu?
Paparan tentang apa yang menjadi masalah dengan latar belakangnya
biasanya dikemas dalam bagian Pendahuluan. Paparan tentang kerangka acuan
teoretik yang digunakan dalam memecahkan masalah umumya dikemukakan dalan
bagian dengan judul Kerangka Teoritis atau Teori atau Landasan Teori , atau
Telaah Kepustakaan, atau label-label lain yang semacamnya. Paparan mengenai
apa yang dilakukan dikemas dalam bagian yang seringkali diberi judul Metode atau
Metodologi atau Prosedur atau Bahan dan Metode. Jawaban terhadap
pertanyaan apa yang ditemukan umumnya dikemukakan dalam bagian Temuan
atau Hasil Penelitian. Sementara itu paparan tentang makna dari temuan penelitian
umumnya dikemukakan dalam bagian Diskusi atau Pembahasan. Tentu saja
sistematika karya ilmiah ini tidak baku, atau harga mati. Sistematika karya ilmiah
sangat bergantung pada tradisi masarakat keilmuan dalam bidang terkait, jenis
karya ilmiah (makalah, laporan penelitian, skripsi).
Rangkuman
1. Karya ilmiah merupakan kesatuan tulisan yang disusun secara sistematis.
Karya ilmiah laporan penelitian memiliki bagian-bagian yang terstruktur dalam
kerangka penulisan ilmiah. Bagian-bagian dari karya ilmiah secara umum adalah
pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penulisan/penelitian, hasil penelitian dan
pembahasan, penutup berisi simpulan dan saran, daftar pustaka.
2. Kerangka Karya ilmiah makalah dan artikel terdiri atas Pendahuluan, Isi dan
Kesimpulan. Pendahuluan memuat tentang latarbelakang masalah, rumusan
masalah, prosedur pemecahan masalah dan sistematika uraiannya.Isi, memuat
tentang kemampuan penulis dalam mendemonstrasikan kemampuannya untuk
menjawab persoalan atau masalah yang dibahasnya. Pada bagian isi boleh
terdiri dari lebih satu bagian sesuai dengan permasalahan yang dikaji.
48

Kesimpulan, yakni bagian yang memuat pemaknaan dari penulis terhadap


diskusi atau pembahasan masalah berdasarkan kriteria dan sumber-sumber
literatur atau data lapangan.
3. Dalam karya ilmiah laporan penelitian bagian metode penelitian dibuat dalam
bab tersendiri. Dalam artikel untuk jurnal metode penelitian/penulisan juga
ditulis dalam bagian tersendiri tetapi tidak dalam bentuk bab. Dalam karya ilmiah
makalah bahan seminar bagian metode penelitian tidak ditulis secara eksplisit
menjadi bab.

Evaluasi
1. Artikel dan makalah memiliki bagian-bagian yang merupakan kesatuan.
Jelaskan bagian dari karya ilmiah artikel dan makalah yang utama.
2. Apakah isi yang terdapat dalam pendahuluan artikel dan laporan penelitian.
3. Mengapa tinjauan pustaka diperlukan dalam karya ilmiah ? Apa isi yang
termuat dalam tinjauan pustaka. Apakah karya ilmiah harus eksplisit
menyebutkan sub tinjauan pustaka ?
4. Apa yang membedakan bagian metode penelitian dalam laporan penelitian
kualitatif dan kuantitatif?
5. Apa yang dimaksud dengan hasil kajian dan pembahasan ? Apa beda antara
isi bagian hasil dan pembahasan.
6. Apakah hasil kajian dan pembahasan selalu harus dipisah ?.
BAB III
KODE ETIK DAN PENULISAN RUJUKAN

Standar Kompetensi
Setelah mengikuti kegiatan ini peserta pelatihan diharapkan memiliki
kemampuan memahami karakteristik karya ilmiah, sistematika dan kerangka
pemulisannya, memahami metode penulisan karya ilmiah; memahami kode etik dan
cara-cara menulis rujukan; serta format penulisan ilmiah.

Kompetensi dasar
49

Setelah menempuh mata kuliah ini , diharapkan peserta pelatihan mampu:


1. Peserta latih dapat mengenali kode etik penulisan karya ilmiah
2. Peserta latih dapat menulis daftar pustaka untuk jurnal dan makalah bahan
seminar serta laporan penelitian
3. Pseserta latih dapat menulis karya ilmiah dengan menggunakan format
penulisan ilmiah

A. KODE ETIK PENULISAN KARYA ILMIAH


Kode etik adalah seperangkat norma yang perlu diperhatikan dalam
penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan dan perujukan,
perizinan terhadap bahan yang digunakan dan penyebutan sumber data atau
informasi.
Dalam penulisan karya ilmiah, penulis harus secara jujur menyebutkan
rujukan terhadap bahan atau pikiran yang diambil dari sumber lain. Pemakaian
bahan atau pikiran dari suatu sumber atau orang lain yang tidak disertai dengan
rujukan dapat diidentikan dengan pencurian.
Penulis karya ilmiah harus menghindarkan diri dari tindak kecurangan yang
lazim disebut plagiat. Plagiat merupakan tindak kecurangan yang berupa
pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain yang diakui sebagai hasil tulisan atau
pemikiran orang lain yang diakui sebagai hasil tulisan atau hasil pemikirannya
sendiri. Oleh karena itu, penulis skripsi dan tesis wajib membuat dan mencantumkan
pernyataan dalam skripsi, tesis atau disertasinya bahwa karyanya itu bukan
merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain.
Dalam menulis karya ilmiah, rujuk-merujuk dan kutip-mengutip merupakan
kegiatan yang tidak dapat dihindari. Kegiatan ini amat dianjurkan, karena perujukan
dan pengutipan akan membantu pengembangan ilmu.
Dalam menggunakan bahan dari suatu sumber (misalnya instrumen,
bagan, gambar, dan tabel), penulis wajib meminta izin kepada pemilik bahan
tersebut. Permintaan izin dilakukan secara tertulis. Jika pemilik bahan tidak dapat
dijangkau, penulis harus menyebutkan sumbernya dengan menjelaskan apakah
50

bahan tersebut diambil secara utuh, diambil sebagian, domodifikasi atau


dikembangkan.
Namun sumber data dan informasi, terutama dalam penelitian kualitatif,
tidak boleh dicantumkan apabila pencantuman nama tersebut dapat merugikan
sumber data atau informan. Sebagai gantinya, nama sumber data atau informan
dinyatakan dalam bentuk kode atau nama samaran. Setelah bagian pendahuluan ini
akan diuaraikan secara berturut-turut tentang skripsi dan tesis hasil penelitian
kuantitatif, dan penelitian kualitatif, kajian pustaka dan hasil kerja pengembangan
(proyek).

B. Cara Merujuk dan Menulis Daftar Rujukan.


1. Cara Merujuk
Perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun diantara
tanda kurung. Jika ada dua penulis, perujukan dilakukan dengan cara menyebut
nama akhir ledua penulis tersebut. Jika penulis lebih dari dua orang, penulisan
rujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dari penulis tersebut diikuti
dengan dan kawan-kawan. Jika nama penulis tidak disebutkan, yang dicantumkan
dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbutkan, nama dokumen yang
diterbitkan, atau nama koran. Untuk karya terjemahan, perujukan dilakukan dengan
cara menyebutkan nama penulis aslinya, rujukan dari dua sumber yang ditulis oleh
penulis yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung, dengan titik, sebagai
tanda pemisahnya.
2. Cara Merujuk Kutipan-Kutipan Langsung
a. Kutipan Kurang dari 40 Kata
kutipan yang berisi kurang dari 40 kata diantara tanda kutip (“...”) sebagai
bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama penulis, tahun dan
nomor halaman. Nama penulis dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau
menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung. Lihat contoh
berikut:
Nama penulis disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh:
51

Soebronto (1990: 123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara faktor
sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”.
Nama penulis disebut dengan tahun penerbit dan nomor halaman.
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah: “ada hubungan yang erat antara
faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar”( Soebronto, 1990: 123).
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (‘...’).
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecenderungan semakin
banyak ‘campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi
karyawan di daerah perkotaan” (Soewignyo, 1991: 101).
b. Kutipan 40 Kata atau Lebih
Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara
terpisah dari teks yang mendahului ditulis 1,2 cm atau terus 7 ketukan dari garis
tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik dengan spasi tinggal. Nomor halaman
juga harus ditulis.

Contoh:
Smith (1990: 276) menarik kesimpulan sebagai berikut:
The ‘plecebo effect’. Which had been verified in previous studies,
dissappeared whwn behavior were studied in this manner.
Furthermore, the behavior were never exhibited again, even when
real drugs were administered Earlier student were clearly premature
in attributing the results to aplecebo effect.

c. Kutipan Yang Sebagian Dihilangkan


Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang
dibuang, maka kata-kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh:
52

“Semua puhak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah...


diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995: 278).
Apabila ada kalimat yang dihubungkan, maka kalimat yang dibuang diganti
dengan empat titik.

Contoh:
“Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi antara
mata, tangan, atau bagian tubuh lain...yang termasuk gerak manipulatif adalah
menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asim, 1995:319).
3. Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara tak langsung atau dikemukakan dengan
bahasa penulis sendiri ditulis tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama penulis
bahan kutipan dapat disebut terpadu dalam teks, atau disebut dalam kurung
bersama tahun penerbinya. Jika memungkinkan nomor halaman disebutkan.
Perhatikan contoh berikut:
Nama penulis disebut terpadu dalam teks.
Contoh:
Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada tahun keempat
(Salimin,1990:13).

4. Cara menulis Daftar Rujukan


Daftar rujukan merupakan daftar yang berisi buku,makalah, atau bahan
lainnya yang dikutip baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan-
bahanyang dibaca akan dikutip secara langsung ataupun tak langsung dalan
teks harus dicatumkan dalam daftar rujukan.
Pada dasarnya, unsur yang ditulis dalam daftar rujukan secara berturut-
turut meliputi: (1) nama penulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, dan
nama tengah, tanda gelar akademik, (2) tahun penrrbitan, (3) judul, termasuk
anak judul (subjudul), (4) kota tempat penerbitan dan (5) nama penerbit. Unsur-
unsur tersebut dapat bervariasi tergantung jenis sumber pustakanya. Jika
penulisnya lebih dari sati, cara penulisan namanya sama dengan penulis
53

pertama. Nama penulis yang terdiri dari dua bagaian ditulis dengan urutan: nama
akhir diikuti koma, nama awal (disingkat atau tidak disingkat tetapi harus dalam
satu karya ilmiah), diakhiri dengan titik. Apabila sumber yang dirujuk ditulis oleh
tim, semua nama penulisnya harus dicantumkan dalam daftar rujukan.

5. Rujukan dari Buku


Cara menulis rujukan dari buku adalah sebagai berikut:
a. Nama penulis, baik penulis Indonesia maupun bukan Indonesia, dimulai
dengan nama belakang (diketik lengkap), diikuti nama depan (sebaiknya
diketik singkatan nama depannya), diakhiri dengan tanda (.).
b. Tahun terbit, diakhiri dengan tanda titik (.).
c. Judul buku, diketik dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawah,
semua diketik dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama judul dan subjudul,
diakhiri dengan tnda (.).
d. Kota tempat penerbit atau negara bagian tanpa penerbit (yang dapat
didahului dengan kota tempat penerbit), diakhiri dengan tanda titik (:), dan
e. Nama penerbit, diakhiri dengan tanda titik (.).
f. Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang yang
sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun penerbitan
diikuti oleh lambang a, b, c, dan seterusnya yang urutannya ditentukan
secara kronologis atau berdasarkan abjad buku-bukunya.
Contoh:

Bandura, A. 1977. Social Learning Theory. Prentice-Hall: Englewood Clifis.


New Jercy.

Bar-Tal, D. 1979. Prosocial Behavior. Theory and Research. New York:


John-Weley.

Lewin. K 1935. A Dynamic Theory of Personality : Selected Papers. New


York: Mc Graw-Hill.
54

______. 1935. Principle og Topological Psycology. New York: Mc Graw-Hill.

6. Rujukan dari Buku yang Berisi Kumpulan Artikel (Ada Editornya)

Seperti menulis rujukan dari buku ditambah dengan tulisan (Ed.) jika ada
satu editor dan (Eds). Jika editornya lebih dari satu, diantara nama penulis dan
tahun tahun penerbitan.
a. Nama penulis, baik penulis Indonesia maupun bukan penulis Indonesia,
dimulai dengan nama belakang (diketik oleh lengkap), diikuti nama depan
(diketik singkatannya), diakhiri dengan tanda titik (.).
b. Tahun terbit, diakhiri dengan tanda titi (.).
c. Judul artikel, tidak diketik dengan huruf miring (italic) atau dibagi garis bawah,
semua diketik dengan huruf kecil kecuali huruf pertama judul dan subjudul ,
diakhiri dengan tanda titik (.).
d. Ditambah dengan tulisan Ed. jika ada satu editor dan Eds. jika editornya lebih
dari satu diantara nama penulis dan tahun penerbitan diketik di belakan kata
‘Dalam’ dan dimulai dengan nama belakangnya (diketik singkatannya), diikuti
nama belakang (diketik lengkap), diakhiri dengan tanda titik dua (:).
e. Judul buku diketik huruf miring (italic) atau diberi garis bawah, semua diketik
dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama judul dan subjudul, diakhiri dengan
tanda titik (.).
f. Kota tempat penerbit atau negara bagian tempat penerbit (yang dapat
didahului dengan kotya tempat penerbit), diakhiri dengan tanda titik dua (:).
g. Nama penerbit, diakhiri dengan tnda titik (.).
Contoh:

Letheridge, S. & Cannon, C.R. (Eds.). 1980. Bilingualm Education: Teaching


as a Second Languege. New York: Praeger

Aminuddin (Ed.). 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang


Bahasa dan Sastra. Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

7. Rujukan dari artikel dalam buku kumpulan artikel (ada editornya)


55

Nama penulis artikel ditulis di depan diikuti dengan tahun penerbitan. Judul
artikel ditulis tanpa cetak miring. Nama editor ditulis seperti: menulis nama biasa,
diberi katerangan (Ed.) bila hanya satu editor, dan (Eds.) bila lebih dari satu
editor judul buku kumpulanny ditulis dengan huruf miring, dan nomor
halamannya disebutkan dalam kurung.

Contoh:

Hartley. J.T., Harker, J.O., & Walsh, D.A. 1980. Contemporery Issues dan
New Directions in Adult Development of Learning and Memory. Dalam
L.W. Poon (Ed.), Aging in the 1980s: Psychological Issue (hlm. 239-
252). Washington, DC.: American Psychologicaql Association.

Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin (Ed.),


Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra
(hlm. 12-25). Malang: HISKI Komisariat Malang dan YA3.

Lewin. K. 1958. Group desicion and Social Change. Dalam E.E. Maccoby,
T.M. Newcomb & E.L. Hartley (Eds). Reading in Social Psychology. 3 ed
edition. New York: Holt, Rinehard & Wilson.

_____. 1968. Quasi-stationary social equilibrium and the problem og


permanent change. Dalam W.G. Bennis, K.D. Benne, & R. Chin (Eds).
The Planning of Change. New York: Holt, Rinehard & Wiston.

atau

Lewin. K. 1958. Group desicion and Social Change. Dalam E.E. Maccoby,
T.M. Newcomb & E.L. Hartley (Eds). Reading in Social Psychology. 3
red edition. New York: Holt, Rinehard & Wilson.

_____. 1968. Quasi-stationary social equilibrium and the problem og


permanent change. Dalam W.G. Bennis, K.D. Benne, & R. Chin (Eds).
The Planning of Change. New York: Holt, Rinehard & Wiston.

8. Rujukan dari artikel dalam jurnal


56

Nama penulis ditulis paling depan diikuti dengan tahun dan judul artikel
yang ditulis dengan cetak biasa, dan huruf besar pada setiap katanya ditulis
dengan huruf kecil kecuali kata hubung. Bagian akhir berturut-turut ditulis jurnal
tahun keberapa, nomot berapa (dalam kurung), dan nomor halaman dan artikel
tersebut.
a. Nama penulis, baik pnulis Indonesia maupun bukan Indonesia, dimulai
dengan nama belakang (diketik lengkap), diikuti nama depan (diketik
singkatan), diakhiri dengan tandi titik (.).
b. Tahun terbit diakhiri dengan tanda titik (.).
c. Judul artikel, tidak diketik dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawah,
semua diketikdengan huruf kecil, kecuali huruf pertama judul dan subjudul,
diakhiri dengan tanda titik (.).
J. Nama judul, diketik dengan huruf miring (italic) atau diberi garis bawah,
diakhiri dengan tanda koma (.).
K. Nomor halaman, tidak diketik dengan huruf miring (italic), nomor halaman ini
diketik mulai dari halaman awal sampai dengan akhir artikel.
Contoh:

Bell, S.M. 1970. The Develompent of the Concept of object as Related to


Infant-Mother Attachment. Child Development, 41, 291-311.

Bower. G.H. 1981. Mood adn Memory. American Psychologyst, 36, 139-148.

atau

Bell, S.M. 1970. The Develompent of the Concept of object as Related to


Infant-Mother Attachment. Child Development, 41, 291-311.

Bower. G.H. 1981. Mood adn Memory. American Psychologyst, 36, 139-148.

9. Rujukan dari artikel dalam jurnal dari CD-ROM


Penulisannya di daftar rujukan sama dengan rujukan dari artikel dalam
jurnal cetak ditambah dengan penyebutan CD-ROM-nya dalam kurung.
Contoh:
57

Krashen, S,. Long, M. & Scaecella, R. 1979. Age, Rate and Eventual Attaiment
in second Langueage Acquisition. TESOL Quarterly, 13: 573-82 (CD-
ROM: TESOL Quarterly Diginal, 1997).

10. Rujukan dari artikel dalam majalah atau koran


Nama penulis ditulis paling depan, diikuti oleh tanggal, bulan, dan tahun
(jika ada). Judul artikel ditulis dengan cetak biasa, dan huruf besar pada setiap
huruf awal kata, kecuali kata hubung. Nama majalah ditulis dengan huruf kecil
huruf pertama setiap kata, dqan dicetak miring. Nomor halaman disebut pada
bagian bagian akhir.
Contoh:

Garner, H. 1981. Do babies Sing a Universal Song? Psuchology Today, hlm.


70-76.

Suryadarma, S. V. C. 1990. Prosor dan Interface: komunikasi data. Info


Komputer, IV (4) 46-48.

11. Rujukan dari koran tanpa penulis


Nama koran ditulis di bagian awal. Tanggal, bulan, dan tahun ditulis setelah
nama koran, kemudian judul ditulis denan huruf besar kecil dicetak miring dan
diikuti dengan nomor halaman.
Contoh:

Jawa Pos. 22 April, 1995. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri, hlm. 3.

12. Rujukan dari Dokumen Resmi Pemerintah yang diterbitkan oleh


suatu penerbit tanpa penulis dan tanpa lembaga

Judul atau nama dokumen ditulis di bagaian awal dengan cetak miring,
diikuti tahun penerbitan, kota penerbitan dan bulan penerbit.

Contoh:

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem


Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta PT Armas Duta Jaya.
58

13. Rujukan dari Lembaga yang Ditulis Atas Nama Lembaga tersebut
Nama lembaga penanggung jawab langsung ditulis paling depan, diikuti
dengan tahun. Judul karangan yang dicetak miring, nama tempat penerbitan,
dan nama lembaga yang bertanggung jawab atau penerbitan larangan tersebut.
Contoh:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1978. Pedoman Penulisan


Laporan Penelitian Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

14. Rujukan Berupa Karya Terjemahan

Nama penulis asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan, nama
penerjemah, tahun terjemahan, nama tempat penerbitan dan nama penerbit
terjemahan. Apabila tahun penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis
dengan kata tanpa tahun.

Contoh:

Ary, D., Jacobs, L.C., & Razavieh, A. Tanpa Tahun. Pengantar Penelitian
Pnedidikan. Terjemahan Arief Ferchan. 1982. Surabaya. Usaha
Nasional.

Mulder, N. 1984. kebatinan dan Hidup Sehari-Hari Orang Jawa dan


Perubahan Kultural. Diterjemahkan oleh A.A Nugroho. Jakarta:
Gramedia.

15. Rujukan berupa Skripsi, Tesis, atau Disertasi

Nama penulis ditulis paling depan, diikuti tahun yang tercantum pada
sampul, judul skripsi, tesis, atau disertasi ditulis dengan cetak miring diikuti
dengan pernyataan skripsi, tesis atau disertasi tidak diterbitkan, nama kota
tempat perguruan tinggi, dan nama fakultas serta nama perguruan tinggi.

Contoh:
59

Ardian, 1995. pengaruh Informasi dan Pendidikan terhadap pemahaman ibu


dalam Penggunaan ASI. Bandung: Universitas Padjadjaran. Tesis tidak
dipublikasikan.

Pangarubuan, T. 1992. Perkembangan Kompetensi Kewacanaan


Pembelajar Bahasan Inggris di LPTK. Disertasi tidak dietbitkan.
Malang: Program Pascasarjana IKIP MALANG.

16. Rujukan berupa Makalah yang Disajikan dalam Seminar,


Penataran, atau Lokakarya

Nama penulis ditulis paling depan, judul makalah ditulis dengan cetak
miring kemudian diikuti pernyataan “Makalah disajikan dalam...”... nama
pertemuan, lembaga penyelenggara, tempat penyelenggaraan, dan tanggal
serta bulannya.

Contoh:

Manan, Bagir. 2004. Mewujudkan Peradilan yang Bersih dan Berwibawa


Melalui Good Governance. Makalah disajikan pada Seminar Nasional
diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan,
tanggal 10 Januari.

Karin, Z. 1987. Tata kota di Negara-negara Berkembang. Makalah disajikan


dalam Seminar Tata kota, BAPPEDA Jawa Timur, Surabaya, 1-2
September.

17. Rujukan dari Internat berupa karya individual

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara
berturut-turut oleh tahun, judul karya tersebut (dicetak miring) dengan diberi
keterangan dalam kurung (Online), dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan
tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung.

Contoh:
60

Hitchcock, S., Carr, L., & Hall, W. 1996. A Survey of STM Online Journals,
1990-95: The Calm Before the Storm, (Online),
http://joornal.acs.soton.ac.uk/survey.html, diaksus 12 Juni 1996).

18. Rujukan dari Internet berupa artikel dari jurnal

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara
berturut-turut oleh tahun, judul artikel, nama jurnal (dicetak miring) dengan diberi
keterangan dalam alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan
kapan diakses, di antara tanda kurung.

Contoh:

Griffith, A. L. 1995. Coordinating Family and School: Mothering for Scooling.


Education Policy Analysis, Archives, (Online), Vol. 3, No. 1,
(http:/olam.ed.asu.edu/epaa/, diakses 12 Februari 1997).

Kumaidi. 1998. Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya.


Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), Jilid 5, No. 4. (http:/www.malang.ac.id,
diakses 20 Januari 2000).

19. Rujukan dari Internet Berupa Bahan Diskusi

Nama penulis ditulis seperti rujukan dari bahan cetak, diikuti secara
berturut-turut oleh tanggal, bulan dan tahun, topik bahan diskusi (dicetak miring)
dengan diberi keterangan dalam kurung (Online), dan diakhiri dengan e-mail
sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara
tanda kurung.

Contoh:

Wilson, D. 20 November 1995. Summaru of Citing Internet Sites. NETTRAIN


Discussion List. (Online), (NETTRAIN2ubvm.cc.buffalo.edu, diakses 22
November 1995).
61

20. Rujukan dari Internet E-mail pribadi

Nama pengirim (jika ada) dan disertai keterangan dala, kurung (alamat e-
mail pengirim), diikuti secara berturut-turut oleh tanggal, bulan, tahun, topik, isis
bahan (dicetak miring), nama yang dikirim disertai keterangan dalam kurung
(alamat e-mail yang dikirim).

Contoh:

Davis, A. (a.dav s@uwts edu.au). 10 juni 1996. Learningto Use web


Authoring Tools. E-mail Kepada Alison hunter (huntera@usq.edu.au).

C. Tabel dan Gambar


1. Penulisan Tabel

Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang


sistematis untuk menyajikan data statistik untuk menyajikan data statistik dalam
kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Dengan
menggunakan tabel, pembaca akan dapat memahami dan menafsirkan data
secara cepat, dan mencari hubungan-hubungannya.

Tabel yang baik seharusnya sederhana dan dipusatkan pada beberapa ide.
Memasukkan terlalu banyak data dalam suatu tabel dapat mengurangi nilai
penyajian tabel. Lebih baik menggunakan banyak tabel daripada menggunakan
sedikit tabel yang isinya terlalu padat. Tabel yang baik harus dapat
menyampaikan ide dan hubungannya secara efektif.

Jika suatu tabel cukup besar (lebih dari setengah halaman), maka tabel
harus ditempatkan pada halaman tersendiri, dan jika tabel cukup pendek (kurang
dari setengah halaman), sebaiknya diintegrasikan dalam teks.

Tabel harus diberi identitas (berupa nomor dan nama tabel) dan
ditempatkan di atas tabel. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan perujukan.
62

Jika tabel lebih dari satu halaman, maka bagian kepala tabel (termasuk teksnya)
harus diulang pada halaman selanjutnya. Akhir tabel pada halaman pertama
tidak perlu diberi garis horizontal. Pada halaman berikutnya tulislah Lanjutan
Tabel...pada tepi kiri, tiga spasi dari garis horizontal teratas tabel. Hanya huruf
pertama kata tabel ditulis dengan menggunakan huruf besar. Kata “Tabel” ditulis
di pinggir, diikuti nomor dan judul tabel. Jika judul tabel lebih dari satu baris, baris
kedua dan seterusnya ditulis sejajar dengan huruf awal judul dengan jarak satu
spasi. Judul tabel tanpa diakhiri tanda titik. Berilah jarak tiga spasi antara teks
sebelum tabel dan teks sesudah tabel. Nomor tabel ditulis dengan angka Arab
sebagai identitas yang menunjukkan bab tempat itu dimuat dan nomor urutnya
dalam bab yang bersangkutan. Dengan demikian untuk setiap bab nomor urut
tabel dumulai dari Nomor 1.

Contoh:

Tabel 4.1. Jumlah Kriminal Keganasan dan Harta Benda di Malaysia

Nomor tabel ini menunjukkan bahwa tabel yang berjudul Persepsi


Terhadap Ancaman Korupsi terletak pada Bab IV nomor urut yang pertama.
Pengacuan Tabel menggunakan angka, bukan dengan menggunakan kata tabel
di atas atau tabel di bawah.

Garis yang paling atas dari tabel diletakkan tiga spasi di bawah nama tabel.
Kolom pengetahuan (heading), dan deskripsi tentang ukuran atau unit data
harus dicantumkan. Istilah-istilah seperti: nomor, persen, frekuensi, dituliskan
dalam bentuk singkatan/lambang. No., %, dan f. Data yang terdapat dalam tabel
ditulis dengan menggunakan spasi tunggal. Garis akan digunakan jika
dipandang lebih mempermudah pembacaan tabel, tetapi garis vertikal di bagian
kiri, tengah, dan kanan tabel tidak diperlukan. Tabel yang dikutip dari sumber lain
wajib diberi keterangan mengenai nama akhir penulis, tahun publikasi, dan
nomor halaman tabel asli di bawah tabel dengan jarak tiga spasi dari garis
horizontal terbawah, mulai dari tepi kiri. Jika diperlukan catatan untuk
menjelaskan butir-butir tertentu yang terdapat dalam tabel, gunakan simbol
63

tertentu dan tulis dalam bentuk superskrip. Catatan kaki untuk tabel ditempatkan
di bawah tabel, dua spasi di bawah sumber, bukan pada bagian bawah halaman.

Contoh:

Tabel 4.1 Jumlah kriminal keganasan dan Harta Benda di

Malaysia Tahun 1993-2003

Tahun Kriminal Keganasan Kriminal Harta Jumlah


Benda
1993 11,164 68,729 79,893
1994 10,301 65,674 75,975
1995 10,623 70,598 81,221
1996 12,340 75,562 87,902
1997 16,919 104,257 121,176
1998 19,673 139,186 158,859
1999 21,157 147,958 169,115
2000 21,604 145,569 167,173
2001 20,390 136,076 156,469
2002 20,843 128,199 149,042
2003 22,790 133,525 156,315
Sumber: Madani, Vol. 5 No. 3. (Oktober 2004: 367)
64

2. Penyajian Gambar

Istilah gambar mengacu pada foto, grafik, chart, peta sket, diagram, bagan,
dan gambar lainnya. Gambar dapat menyajikan data dalam bentuk-bentuk visual
yang dapat dengan mudah dipahami. Gambar tidak harus dimaksudkan untuk
mambangun deskripsi tetapi dimaksudkan untuk menekankan hubungan tertentu
yang signifikan. Gambar juga dapat digunakan untuk menyajikan data statistik
berbentuk grafik.

Beberapa pedoman penggunaan gambar dapat dikemukakan seperti


berikut:
a. Judul gambar ditempatkan di bawah gambar, bukan di atasnya. Cara
penulusan judul gambar sama dengan penulisan judul tabel.
b. Gambar harus sederhana untuk dapat menyampaikan ide dengan jelas dan
dapat dipahami tanpa harus disertai penjelasan tekstual.
c. Gambar harus digunakan dengan hemat. Terlalu banyak gambar dapat
mengurangi nilai penyajian data
d. Gambar yang memakan tempat lebih dari setengah halaman harus
ditempatkan pada halaman tersendiri.
e. Penyebutan adanya gambar seharusnya mendahului gambar.
f. Gambar diacu dengan menggunakan angka, bukan dengan menggunakan
kata gambat di atas gambat di bawah.
g. Gambar dinomori dengan menggunakan angka Arab seperti pada
penomoran tabel.

D. Penggunaan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar


65

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi


secara resmi maupun tidak resmi dengan teman, kolega, keluarga dan lain-lain.
Namun, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menulis bahan
ajar bukan merupakan hal yang mudah. Banyak kaidah-kaidah bahasa yang perlu
diikuti sehingga penggunaan bahasa dalam penulisan bahan ajar menjadi baik dan
benar. Penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam bahan ajar akan
meningkatkan kualitas bahan ajar tersebut, sehingga dapat dimengerti dengan
mudah oleh pemakainya.

1. Pembentukan Kata
Dalam pembentukan kata yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bnersuku sati, bentuknya
berubah menjadi menge-
meng- + tik = mengetik
meng- + bom = mengebom
meng- + cek = mengecek
b. Konsonan rangkap pada awal kata tidak lulus apabila ditambahkan
dengan meng-,
meng- + produksi = memproduksi
meng- + klasifikasi = mengklasifikasi
meng- + transfer = mentransfer
c. Jika verbal berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya diulangi dengan
dipertahankan peluluhan konsonan pertamanya. Dasar yang bersuku satu
mempertahankan nge- di depan dasar yang diredupliksi;
tulis = menulis = menulis-nulis
pijit = memijit = memijit-mijit
d. Bila kata majemuk direduplikasi yang diulang adalah kata awal.
kereta api = kereta-kereta api
meja makan = meja-meja makan
2. Asas Pemungutan Kata
a. Asas pemungutan secara utuh
abad biadab
ilham hikayat
66

radio ijab
mode izin
hotel motor

b. Asas pemungutan dengan perubahan atau penyesuaian bunyi


subject = subjek
system = sistem
effektive = efektif
frequency = frekuensi
description = deskripsi
c. Asas pemungutan dengan terjemahan
medical = pengobatan
spoortein = kareta api
dentist = dokter gigi
vulcano = gunung api
sportsman = olahraga
3. Bentuk baku dan tidak baku
Baku Tidak baku
kemarin kemaren
hakikat hakekat
sistem sistim
konkret konkrit
khotbah khutbah
4. Pembentukan Kalimat
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kalimat adalah
apakah kalimat-kalimat yang kita hasilkan dapat memenuhi syarat suatu kalimat
yang benar (gramatikal). Kalimat yang gramatikal adalah kalimat yang strukturnya
benar berdasarkan kaidah bahasa (aturan bahasa). Selain itu, apakah kita dapat
mengenali kalimat gramatikal yang dihasilkan orang lain.

a)Syarat kalimat
67

Sekurang-kurangnya, kalimat memiliki subjek dan predikat. Kalau tidak


memiliki unsur subjek dan predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Predikat
kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu (1) kalimat yang
berpredikat kata kerja, dan (2) kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Contoh: Tugas itu dikerjakan oleh para pegawai BRI.

Kata kerja dalam kalimat itu ialah dikerjakain. Kata dikerjakan adalah
predikat dalam kalimat itu. Setelah ditemukan predikat dalam kalimat itu, subjek
dapat ditemukan dengan cara mengejukan pertanyaan dengan kata apa atau
siapa. Apa yang dikerjakan? Atau, siapa yang dikerjakan?

Jawaban atas pertanyaan itu ialah tugas itu. Kata tugas itu, merupakan
subjek kalimat. Kalau tidak ada yang dijadikan jawaban pertanyaan itu, berarti
subjek tidak ada. Dengan demikian, pertanyaan dalam bentuk deretan kata-kata
itu bukanlah kalimat.

Perhatikan pernyataan berikut!

(1) Berdiri aku di atas bangku.


(2) Kumandikan adik pada pagi hari.
Perhatikanlah pula pernyataan berikut: Dalam kamar ini memerlukan
empat buah kursi. Mari kita gunakan cara menemukan subjek dan predikat
seperti di atas. Mula-mula kita temukan subjek dan predikat seperti di atas. Mula-
mula kita temukan dulu kata kerja dalam kalimat itu, yaitu memerlukan. Kata
memerlukan adalah predikat kalimat. Selain itu, kita berusaha menemukan
subjek kalimat dengan bertanya apa atau siapa yang memerlukan. Jawabannya
adalah kamar ini. Dalam kalimat di atas, kata kamar ini didahului kata dalam,
sehingga tidak memungkinkan kata kamar ini berstatus subjek. Kata dalam
menandai kata di belakangnya itu sebuah keterangan tempat. Dengan demikian,
pernyataan itu tidak bersubjek, jadi bukan kalimat.

Kalimat-kalimat yang tidak gramatikal serinng disebabkan oleh ketaksaan


pikiran penutur bahasa, yaitu dua konsep dipadukan menjadi satu sehingga
melahirkan struktur kalimat yang tidak tegas dan bermakna ganda.

b)aktif dan pasif


68

Saya sudah katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan


benar itu tidak mudah.

Kalimat itu merupakan perpaduan dari dua konsep kalimat aktif dan pasif.

Kalimat aktif:

Saya sudah mengatakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan


benar itu tidak mudah.

Kalimat pasif:

Sudah saya katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar
itu tidak mudah.

c) Subjek dan keterangan.


Contoh: Dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak
memutuskan tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya. Kalimat itu
merupakan perpaduan dari dua konsep, yaitu: subjek dan keterangan.

Subjek:

Konferensi tinggkat tinggi negara-negara nonblok tidak memutuskan


tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya.

Keterangan:

Dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak diputuskkan


tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya.

d)Pengantar kalimat dan predikat


contoh:

Menurut ahli geologi itu dinyatakan bahwa perembesan air laut telah
sampai ke wilayah Jakarta Pusat.
69

Kalimat itu, merupakan perpaduan dari dua konsep yaitu pengantar kalimat dan
predikat.

Pengantar kalimat:

Menurut ahli geologi itu, perbesaran air laut telah sampai ke wilayah
Jakarta Pusat.

Predikat:

Ahli geologi itu menyatakan bahwa perembesan air laut telah sampai ke
wilayah Jakarta Pusat.

e)Kalimat majemuk dan kalimat bersusun


Contoh:

Meskipun kita tidak menghadapi musuh, tetapi kita harus selalu waspada.

Kalimat itu merupakan perpaduan dari dua konsep yaitu kalimat majemuk dan
kalimat bersusun.

Kalimat majemuk:

Kita tidak menghadapi musuh, tetapi (kita) harus selalu waspada.

(1) induk kalimat dan anak kalimat


(2) pernyataan yang tidak mengandung unsur subjek. Contoh : Dengan
demikian akan membantu para karyawan riset, teknisi, dan peminat yang
lain, terutama mahasiswa dalam melaksanakan tugasnya.
(3) pernyataan yang tidak mengandung unsur predikat. Contoh: Jalan
layang itu mengatasi kemacetan lalu lintas.
(4) Pernyataan berupa anak kalimat. Contoh: Meskipun peningkatan
mutu para dosen dan karyawan adalah jelas tidak identik dengan
pengembangan fakultas.
70

(5) Pernyataan berupa unsur keterangan penjelas atau keterangan


tambahan. Contoh: Baik bila kita berada di restoran, di pasar, terminal bus,
maupun tempat-tempat umum lainnya.
(6) Pernyataan berupa ungkapan preposisi. Contoh: Bagi seorang
peneliti, sebagai pedoman perbandingan, perlu diperhatikan kegiatan yang
telah dilakukan.

B. Format Penulisan

Skripsi, paper/makalah, laporan penelitian, dan lain sebagainya, memiliki


format penulisan tertentu untuk bisa disebut sebagai sebuah karya ilmiah. Uraian di
bawah ini membahas format penulisan karya ilmiah berupa skripsi pada Program S-
1 Pemerintahan Integratif. Namun beberapa poin penting dalam format penulisan
dimaksud bisa dipakai sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah selain skripsi,
seperti paper/makalah, artikel dalam jurnal ilmiah, dan lain sebagainya.

1. Bahan dan Ukuran Kertas


Bahan dan ukuran kertas yang dipakai dalam sebuah karya ilmiah adalah
sebagai berikut:

1. Ukuran kertas: A4 (21 x 29,7 cm).

2. Jenis kertas: HVS 80 gram.

3. Kertas doorslag berwarna (sesuai dengan warna yang telah ditentukan)

dengan lambang Universitas Mulawarman sebagai pembatas.

2. Pengetikan
Ketentuan-ketentuan dalam pengetikan sebuah karya ilmiah dirinci sebagai
berikut:

a. Menggunakan software pengolah kata dengan flatform Windows, seperti MS


Word, Excel, dan lain-lain
71

b. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran 12
kecuali untuk: halaman judul sampul/luar (hard cover) dan halaman judul
dalam (soft cover), yang menggunakan huruf tegak (kecuali istilah asing) dan
dicetak tebal (bold) dengan ukuran font mulai 12 sampai 16 (disesuaikan
dengan panjang judul, lihat Lampiran). Catatan kaki (footnotes), yang
menggunakan font ukuran 10.
c. Huruf tebal (bold) digunakan untuk judul dan sub-judul (sub-bab, sub-sub-
bab), memberi penekanan, pembedaan, dan sejenisnya.
d. Huruf miring (italic) digunakan untuk istilah dalam bahasa asing atau bahasa
daerah, memberi penekanan, pembedaan (termasuk pembedaan sub-judul
yang hirarkhinya tidak setingkat), dan sejenisnya. Judul sub sub-sub-bab
dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan huruf tebal (italic-bold
atau bold-italic). Judul sub sub-sub-sub-bab dan seterusnya dibuat dengan
huruf miring biasa (italic).
e. Batas tepi (margin):
1) Tepi atas : 4 cm

2) Tepi bawah : 3 cm

3) Tepi kiri : 4 cm

4) Tepi kanan : 3 cm

f. Sela ketukan (ind3e nsi) selebar 1 cm. Indensi Tab dipakai pada baris
pertama alinea baru. Indensi gantung digunakan untuk daftar pustaka.
g. Spasi bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:
h. Bagian awal dari karya ilmiah
Termasuk di dalamnya adalah halaman judul, halaman pengesahan,
halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar
tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Spasi yang digunakan adalah:

1) Pernyataan ditulis dengan spasi tunggal.


72

2) Riwayat Hidup dan Kata Pengantar ditulis dengan spasi ganda.


3) Abstrak, antara 150-250 kata (dalam satu halaman) ditulis dengan
menggunakan spasi tunggal.
4) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, disusun dengan menggunakan
spasi tunggal.
i. Bagian isi karya ilmiah
Meliputi Bab I sampai BAB V, disusun dengan menggunakan spasi ganda.

j. Bagian akhir karya ilmiah


Terdiri dari Daftar Pustaka, yang daftar referensinya memakai spasi tunggal
dan indensi gantung (jarak antar referensi dengan spasi ganda), dan
Lampiran yang ditulis dengan spasi tunggal atau disesuaikan dengan
bentuk/jenis lampiran.

3. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya:


a. Judul karya ilmiah dan bab, diketik dengan
huruf besar/kapital, dicetak tebal, tanpa singkatan (kecuali yang berlaku
umum seperti PT., CV.), posisinya di tengah halaman, dan tanpa diakhiri
tanda titik. Perkecualiannya adalah judul pada halaman Persetujuan Seminar
dan Pengesahan Skripsi (dengan huruf biasa, dicetak tebal).
b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas
tepi (margin) sebelah kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan
seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title
Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul
sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1,
2, 3 dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar
(Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik.
Judul sub sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
73

d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf


a, b, c dan
seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title
Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul
sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebalmiring (bold-italic).

e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan


angka 1), 2), 3) dst. (tanpa titik), dan judul sub sub-sub-sub-sub bab
dimulai dengan huruf a), b), c) dst. (tanpa titik). Huruf pertama setiap kata
dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata
depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub subsub- sub-
sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic).
f. Judul sub-bab, sub sub-bab, dan sub sub-sub-
bab, dan seterusnya (headings hierarchy) perlu dibedakan dengan rincian
poin-poin atau item-item (points/items hierarchy). Penulisan headings
hierarchy dimulai dari A, B, C, lalu 1, 2, 3, kemudian a, b, c, dan seterusnya
(lihat Box) dibuat sejajar dengan batas tepi kiri pengetikan (batas margin
kiri). Isi atau teksnya (alinea, kalimat) juga dibuat sejajar dengan batas tepi
kiri pengetikan dan awal kalimat dalam alinea baru dibuat dengan indensi 1
cm). Sementara penulisan points/items hierarchy tidak sejajar dengan
batas tepi kiri pengetikan (batas margin kiri), melainkan mengikuti poin-
poin/item-item dimaksud atau posisinya disesuaikan dengan memperhatikan
estetika. Penggunaan angka atau huruf awal untuk poin-poin atau item-item
juga disesuaikan (bisa dimulai dari 1,2,3 atau a, b, c). Penulisan headings
hierarchy (sub-judul) - sejajar batas tepi kiri: Batas tepi kiri pengetikan.
Contoh:

D. Judul Sub-Bab (bold)

1. Judul Sub Sub-Bab (bold)


74

a. Judul Sub Sub-Sub-Bab (bold-italic)

1) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

2) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

b. Judul Sub Sub-Sub-Bab (bold-italic)

1) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

2) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

a) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

b) Judul Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Bab (italic)

2. Judul Sub Sub-Bab (bold)

E. Judul Sub-Bab (bold)

1. Judul Sub Sub-Bab (bold)

2. Judul Sub Sub-Bab (bold)

Penulisan points/items hierarchy (rincian poin-poin/item-item) – tidak sejajar


dengan batas tepi kiri (masuk ke dalam, disesuaikan):

a. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas


tentang perbedaan keduanya (headings hierarchy dan points/items hierarchy)
dalam sebuah teks/tulisan, lihat contohnya pada Lampiran.
b. Sepanjang memungkinkan, hindari
penggunaan hirarkhi sub-judul (headings hierarchy) yang terlalu banyak
tingkatannya (sub sub-subsub-bab dan seterusnya). Hal ini bisa dilakukan
75

dengan memanfaatkan penggunaan rincian poin-poin atau item-item


(points/items hierarchy).
2. Bilangan dan satuan:
a. Bilangan diketik dengan angka kecuali
bilangan yang terletak pada awal kalimat yang harus dieja. Contoh: Umur
mesin 10 tahun. Sepuluh perusahaan besar… dan seterusnya.

b. Bilangan desimal ditandai dengan koma


(contoh: Rp1.150,25)
c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi
tanpa tanda titik (kg, cm, dan lain-lain)
Batas tepi kiri pengetikan, contoh:

A. Poin/Item

1. Sub-Poin/Item

a. Sub Sub-Poin/Item

1) Sub) Sub-Sub-Poin/Item

2) Sub) Sub-Sub-Poin/Item

b. Sub Sub-Poin/Item

1) Sub Sub-Sub-Poin/Item

2) Sub Sub-Sub-Poin/Item

a) Sub Sub-Sub-Sub-Poin/Item

b) Sub Sub-Sub-Sub-Poin/Item

(1) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item


76

(2) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item

(a) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item

(b) Sub Sub-Sub-Sub-Sub-Sub-Poin/Item

2. Sub-Poin/Item

B. Poin/Item

1. Sub-Poin/Item

2. Sub-Poin/Item

Catatan: Poin/Item dan sub-subnya ditulis dengan huruf biasa,

Pecahan yang berdiri sendiri ditulis dengan angka, sedangkan pecahan


yang bergabung dengan bilangan bulat harus ditulisdengan huruf/dieja.
Contoh: tiga dua pertiga.

C. Penomoran Halaman
Ketentuan-ketentuan dalam penomoran halaman, seperti halaman-
halaman awal, halaman judul bab, halaman teks utama, dan lain sebagainya,
adalah sebagai berikut:

1. Bagian awal karya ilmiah (halaman judul, halaman pengesahan, halaman


pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel,
daftar gambar, dan daftar lampiran) diberi nomor halaman dengan angka
romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) dan ditempatkan di tengah bagian
bawah. Halaman judul tidak diberi nomor, tetapi tetap dihitung.
2. Mulai dari BAB I sampai dengan halaman terakhir pada Daftar Pustaka
diberi nomor halaman dengan angka latin (1, 2, 3, dan seterusnya). Nomor
77

halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali bab baru yang tidak
diisi nomor halaman.
3. Data yang mendukung penelitian disajikan dalam lampiran yang disajikan
menurut kelompoknya tanpa diberi nomor halaman. Contoh:

Lampiran 1. Pedoman Wawancara

Lampiran 2. Peta Desa Mahak Baru

Rangkuman
1. Kode etik penulisan karya ilmiah Kode etik adalah seperangkat norma yang
perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan
pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap bahan yang digunakan dan
penyebutan sumber data atau informasi.
2. Cara Merujuk dan Menulis Daftar Rujukan dalam karya ilmiah ada bermacam-
macam. Hal tersebut dipengaruhi oleh kaidah selingkung, kutipan langsung atau
tidak langsung, dan juga macam sumber yang dirujuk.
3. Unsur yang ditulis dalam daftar rujukan secara berturut-turut meliputi: (1) nama
penulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanda gelar
akademik, (2) tahun penrrbitan, (3) judul, termasuk anak judul (subjudul), (4) kota
tempat penerbitan dan (5) nama penerbit. Unsur-unsur tersebut dapat bervariasi
tergantung jenis sumber pustakanya.
4. Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang sistematis
untuk menyajikan data statistik untuk menyajikan data statistik dalam kolom-
kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Dengan menggunakan tabel,
pembaca akan dapat memahami dan menafsirkan data secara cepat, dan
mencari hubungan-hubungannya.
78

5. Penulisan ilmiah perlu memperhatikan format. Dala format penulisan ilmiah antara
lain harus memperhatikan tentang batas tepi kanan, tepi kiri, atas dan bawah dari
suatu halaman. Selain itu juga perlu memperhatikan jenis huruf yang digunakan
serta penomoran.

Evaluasi
1. Apa yang dimaksud kode etik penulisan karya ilmiah
2. Buat contoh daftar pustaka yang merujuk dari buku banga rampai dan artikel
dalam jurnal,
3. Jelaskan format penulisan karya ilmiah pada umumnya. Apa saja aturan yang
harus diperhatikan.
79

DAFTAR PUSTAKA

Danial, Deni Muhammad. 2008. Menjadi Penulis Mulai Dari Sekarang. Semarang:
PT Sindur press.

Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi penelitian kualitatif: ancangan metodologi,


presentasi, dan publikasi hasil penelitian untuk mahasiswa dan peneliti
pemula bidang ilmu-ilmu sosial, pendidikan, dan humaniora. Bandung: CV.
Pustaka setia.

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (2003). Panduan Bimbingan,


Penyusunan Pelaksanaan Ujian, dan Penilaian Skripsi Mahasiswa.

Gie, The Liang. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi.

Gunawan, Agustin Widia dkk. 2004. Metode Penyajian Karya Ilmiah. Bogor: IPB
PRESS.

Hadi, Sutrisno. 2000. Bimbingan Menulis Skripsi & Thesis. Yogyakarta: ANDI

Joyomartono, Mulyono dkk. 1992. Komponen dan / atau Indikator Variabel


Penelitian pada Penelitian Bahasa, Sosial, dan Budaya. Semarang: IKIP
Semarang PRESS.

Nasution, S. 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Pennen, Paulina & Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: PAU-PPAI-UT.

Santana, Septiawan. 2007. Menulis Ilmiah: Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta:


Yayasan Obor Indonesia.

Sulistiya, dkk. 1991. Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial. Semarang: IKIP
Semarang Press.

Tanjung, Nur Bahdin dan Ardian. 2005. Pedoman penulisan karya ilmiah (proposal,
skripsi, dan tesis) dan mempersiapkan diri menjadi penulis artikel ilmiah.
80

Westra, Paridjata. 1991. Pedoman Penulisan Skripsi Berdasarkan Penelitian Empiris


di Lingkungan Perguruan Tinggi. Surabaya: Airlangga University Press.

Winarto, dkk. 2004. karya tulis ilmiah sosial: menyiapkan. Memulis dan
mencermatinya.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman. 2008. Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah. Homepage: www.pin.or.id, Email: pin@pin.or.id.
Diakses 23 November 2009