You are on page 1of 2

KERAJAAN NICO-TIEN

Cucu-cucuku,

Uhuk…uhuk… Si Kakek mengawali ceritanya di hadapan


anak-anakku.

Di negeri tercinta ini, yang kata orang gemah ripah loh jinawi, negeri
zamrut katulistiwa yang indah permai, ada sebuah kerajaan yang sangat
tua tetapi kerajaan ini tidak tercatat dalam sejarah Negara. Kerajaan
Nico-Tien, namanya. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang pendekar
yang mempunyai kekuatan luar biasa. Dia bernama Minak Djinggo.
Pendekar ini mempunyai kesaktian yang sungguh sangat Sampoerna.
Sang pendekar juga mempunyai harta yang melimpah yang disimpannya
di Gudang Garam.
Ketika sang Surya merekah dari ufuk timur, pendekar berjalan ke arah
barat dengan berbekal senjata Djarum berjumlah 76. Sampai di
sebuah perkampungan bertemulah pendekar ini dengan sahabat lamanya
Djie Sam Soe. Dengan hati
yang berasal dari Tiongkok, yaitu suhu
congkak sang suhu berdiri di atas Menara. Ia berkata, “Wahai Minak
Djinggo, biarpun kamu menuntut ilmu sampai di LA (tentu bukan Los
Angeles, Amrik) kelasmu Class Mild, aku cukup melawanmu dengan
Djarum Super.”
“Engkau Djie yang sombong, dasar go-BLACK! Biar kau lawan aku
dengan pasukan penggembala sapi Marlboromu aku tak kan
bergeming”.

Akhirnya kedua sahabat yang bermusuhan itu pun beradu kekuatan. Kata
pepatah, “Menang jadi abu, kalah jadi arang”, mereka pun sama-sama
terkapar berkalang tanah di kerajaan Nico-Tien yang menyesatkan itu.

Datanglah penjual buah, “ Nikki Super, Den.” (Ora ana


hubungane babar blas!!!) O.. dasar … (teruskan sendiri)

Cucu-cucuku,
Semoga kalian tidak datang ke kerajaan tersebut agar kalian tidak
tersesat nanti. Demikian Si Kakek mengakiri cerita dengan sebuah doa
dan harapannya.