You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN
Demam dengue / Demam DF dan demam berdarah dengue/DBD (Dengue
Hemorrahagic fever/ DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai leukopenia,
ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. ada DBD ter!adi perembesan
plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan
cairan di rongga tubuh. "indrom ren!atan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam
berdarah dengue yang ditandai oleh ren!atan / syok.
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang
termasuk dalam genus flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flaviviridae merupakan virus dengan
diameter #$mm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul % & '$(.
Demam berdarah dengue tersebar di )ilayah *sia +enggara. asifik Barat dan
,aribia. -ndonesia merupakan )ilayah endemis dengan sebaran di seluruh )ilayah tanah air.
DBD di )ilayah -ndonesia antara ( sampai '. per '$$.$$$ penduduk ('/0/ hingga '//.) dan
pernah meningkat ta!am saat ke!adian luar biasa hingga #. per '$$.$$$ penduduk pada tahun
'//0, sedangkan angka mortalitasnya menurun mencapai 12 pada '///.
BAB II
1
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
DHF atau Dengue Haemorraghic Fever adalah penyakit trombositopenia infeksius
akut yang parah, dan sering bersifat fatal, disebabkan oleh infeksi virus dengue. ada DHF
ter!adi hemokonsentrasi atau penumpukan cairan tubuh, abnormalitas hemostasis dan pada
kondisi yang parah dapat timbul kehilangan protein yang masif (Dengue "hock "yndrome),
yang dipikirkan sebagai suatu proses imunopatologik.
2.2. Epidemiologi
Demam berdarah dengue tersebar di )ilayah asia tenggara, pasifik barat dan karibia.
-ndonesia merupakan )ilayah endemis dengan sebaran di seluruh )ilayah tanah air. -nsiden
DBD di indonesia antara ( hingga '. per '$$.$$$ penduduk ('/0/ hingga '//.), dan pernah
meningkat ta!am saat ke!adian luar biasa hingga #. per '$$.$$$ penduduk pada tahun '//0,
sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 1 2 pada tahun '///.
enularan infeksi virus dengue ter!adi melalui vektor nyamuk genus *edes (terutama
*edes aegypti dan *edes albopictus). eningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan
sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu be!ana
yang berisi air !ernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya).
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu3
'. 4ektor 3 perkembang biakan vektor, kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di
lingkungan, transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain.
1. e!amu 3 terdapatnya penderita di lingkungan / keluarga, mobilisasi dan paparan
terhadap nyamuk, usia dan !enis kelamin.
#. 5ingkungan 3 curah hu!an, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.
2.3. Etiologi
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh salah satu dari % serotipe virus yang
berbeda antigen.4irus ini adalah kelompok Flavivirus dan serotipenya adalah 3
2
D678'
D6781
D678#
D678%.
-nfeksi oleh salah satu !enis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup
tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. "ehingga seseorang yang
hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak % kali seumur
hidupnya.Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk *edes aegypti.
2.. P!tofisiologi
atogenesis ter!adinya demam berdarah dengue hingga saat ini masih diperdebatkan.
Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bah)a mekanisme imunopatologis
berperan dalam ter!adinya demam berdarah dengue dan sindrom ren!atan dengue.
9espon imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DD adalah 3
a. 9espon imun humoral 3 berupa pembentukan antibodi yang berpaparan dalam
proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang di
mediasi antibodi. *ntibodi terhadap virus dengue berperan dalam mempercepat
replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut sebagai antibody
dependent enhanchement (*D6).
b. 5imfosit + baik +8helper (:D%) dan + sitotoksik (:D0) berperan dalam respon imun
seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi + helper yaitu +H' akan memproduksi
interferon gamma, -581 dan limfokin, sedangkan +H1 memproduksi -58%, -58., -58(,
dan -58'$.
c. ;onosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibodi
namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi
sitokin oleh makrofag.
d. "elain itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya :#a
dan :.a.
3
Hipotesis se"ond!#$ %ete#ologo&s infe"tion
Halstead pada tahun '/<# menga!ukan hipotesis secondary heterologous infection yang
menyatakan bah)a DHF ter!adi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe
berbeda. 9e8infeksi menyebabkan reaksi anamnestik antibodi sehingga mengakibatkan
konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
,urane dan ennis pada tahun '//% merangkum pendapat halstead dan peneliti lain,
menyatakan bah)a infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang me8fagositosis
kompleks virus8antibody non netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag. +er!adinya
infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi + helper dan + sitotoksik sehingga
di produksi limfokin dan interferon gamma. -nterferon gamma akan mengaktivasi monosit
sehingga disekresi berbagai mediator inflamasi seperti +7F8a, -58', *F (platelet activating
factor), -58( dan histamin yang mengakibatkan ter!adinya disfungsi sel endothel dan ter!adi
kebocoran plasma.
eningkatan :#a dan :.a ter!adi melalui aktivasi kompleks virus8antibodi yang !uga
mengakibatkan ter!adinya kebocoran plasma.
+rombositopenia pada infeksi dengue ter!adi melalui mekanisme 3
'. "upresi sumsum tulang
1. Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit
=ambaran sumsum tulang pada fase a)al infeksi (> . hari) menun!ukkan keadaan
hiposeluler dan supresi megakariosit. "etelah keadaan nadir tercapai akan ter!adi peningkatan
proses hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. ,adar trombopoietin dalam darah pada
saat ter!adi trombositopenia !ustru menun!ukkan kenaikan, hal ini menun!ukkan ter!adinya
4
stimulasi trombopoiesis sebagai mekanisme kompensasi terhadap keadaan trombositopenia.
Destruksi trombosit ter!adi melalui pengikatan fragmen :#g, terdapatnya antibodi 4D,
konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi di perifer. =angguan fungsi
trombosit ter!adi melalui mekanisme gangguan pelepasan *D, peningkatan kadar b8
tromboglobulin dan F% merupakan pertanda degranulasi trombosit.
,oagulopati ter!adi sebagai akibat interaksi virus dengan endothel yang menyebabkan
disfungsi endotel. Berbagai penelitian menun!ukkan ter!adinya koagulopati konsumtif pada
demam berdarah dengue stadium --- dan -4. *ktivasi koagulasi pada demam berdarah dengue
ter!adi melalui aktivasi !alur ekstrinsik (tissue factor path)ay). ?alur intrinsik !uga berperan
melalui aktivasi faktor @-a namun tidak melalui aktivasi kontak (kalikrein :'8inhibitor
comple&).
2.'. (!nifest!si )linis
'. Demam dengue
eriode inkubasi adalah '8< hari. ;anifestasi klinis bervariasi dan dipengaruhi usia
pasien. ada bayi dan anak anak, dikarakteristikkan sebagai demam selama '8. hari,
peradangan faring, rinitis dan batuk ringan. ada rema!a dan de)asa mengalami
demam secara mendadak, dengan suhu meningkat cepat hingga #/,%8%','
o
:,
biasanya disertai nyeri frontal atau retro8orbital khususnya ketika mata di tekan.
,adang kadang nyeri punggung hebat mendahului demam. 9uam transien dapat
terlihat selama 1%8%0 !am pertama demam. Denyut nadi dapat relatif melambat sesuai
dera!at demam. ;ialgia dan artalgia segera ter!adi setelah demam.
ada hari kedua sampai hari ke enam demam, mual muntah ter!adi dan limfadenopati
generalisata, hiperestesia atau hiperalgesia kutan, gangguan pengecapan, dan
anoreksia dapat berkembang. "ekitar '81 hari kemudian, ruam mukopapular terlihat,
terutama di telapak kaki dan telapak tangan, kemudian menghilang selama '8. hari.
,emudian ruam kedua terlihat, suhu tubuh yang sebelumnya sudah menurun ke
normal, meningkat dan mendemonstrasikan karakteristik pola suhu bifasik.
1. Demam berdarah dengue
Demam dengue dan demam berdarah dengue pada a)al per!alanan penyakit sulit
dibedakan. Fase pertama yang relatif lebih ringan berupa demam, malaise, mual
5
muntah, sakit kepala, anoreksia, dan batuk berlan!ut selama 18. hari diikuti oleh
deteriorasi dan pemburukan klinis. ada fase kedua, pasien umumnya pilek,
ekstermitas basah oleh keringat, badan hangat, )a!ah kemerah merahan, diaforesis,
kelelahan, iritabilitas dan nyeri epigastrik.
"ering di!umpai petekie menyebar di kening dan ekstermitas, ekimosis spontan dan
memar serta perdarahan dapat dengan mudah ter!adi di lokasi pungsi vena. 9uam
makular atau mukopapular dapat dengan mudah ter!adi di lokasi pungsi vena. 9uam
makular atau makulopapular dapat terlihat. 9espirasi cepat dan melelahkan, denyut
nadi lemah dan cepat, suara !antung melemah. Hati dapat membesar %8( dan biasanya
keras dan sulit digerakkan.
"ekitar 1$8#$2 kasus demam berdarah dengue akan timbul syok (sindrom syok
dengue). ,urang dari '$2 pasien mengalami ekimosis hebat atau perdarahan
gastrointestinal, biasanya sesudah periode syok yang tidak diobati. "etelah krisis 1%8
#( !am, pemulihan ter!adi dengan cepat pada anak yang diobati. +emperatur dapat
kembali normal sebalum atau selama syok. Bradikardia dan ekstrasistol ventrikular
umumnya ter!adi saat fase pemulihan.
(!nifest!si Klinis infe)si *i#&s Deng&e
2.+. Peme#i)s!!n Pen&n,!ng
6
1. L!-o#!to#i&m
a) 5eukosit
Dapat normal atau menurun. ;ulai hari ke8# dapat ditemui limfositosis relatif (A %.2
dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (5B) A '.2 dari !umlah total
leukosit yang pada fase syok akan meningkat.
b) +rombosit
Bmumnya terdapat trombositopenia > '$$.$$$ pada hari ke8# sampai hari ke80
c) Hematokrit
,ebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit A 1$2
dari hematokrit a)al, umumnya dimulai pada hari ke8# demam.
d) Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan +, *++, fibrinogen, D8dimer, atau FD pada keadaan yang
dicurigai ter!adi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
e) rotein/albumin
Dapat ter!adi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma
f) "=C+/"=+ ("erum alanin aminotransferase) 3 Dapat meningkat
g) 6lektrolit
"ebagai parameter pemantauan pemberian cairan
h) =olongan darah dan cross match (u!i cocok serasi)
Bila akan diberikan transfusi darah atau komponen darah.
i) -munoserologi
Dilakukan pemeriksaan -g= dan -g; terhadap dengue.
Ig( 3 terdeteksi mulai hari ke #8., meningkat sampai minggu ke8#, menghilang
setelah ($8/$ hari.
7
Ig. 3 pada infeksi primer, -g= mulai terdeteksi pada hari ke8'%, pada infeksi sekunder
-g= mulai terdeteksi pada hari ke81.
2. Peme#i)s!!n /!diologis
ada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila
ter!adi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat di!umpai pada kedua hemitoraks.
emeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi dekubitus kanan. *sites dan
efusi pleura dapat pula di deteksi dengan pemeriksaan B"=.
2.0. Di!gnosis
Belum ada panduan yang dapat diterima untuk mengenal a)al infeksi virus dengue
(DHC scientific )orking group, 1$$(). erbedaan utama antara demam dengue dan DBD
adalah pada DBD ditemukannya adanya kebocoran plasma.
'. Demam dengue
Ditegakkan bila terdapat dua atau lebih manifestasi klinis (nyeri kepala, nyeri
retroorbital, mialgia/artralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan, leukopenia) di
tambah pemeriksaan serologis dengue positif atau ditemukan pasien demam dengue/
demam berdarah dengue yang telah dikonfirmasi pada )aktu dan lokasi yang sama.
1. Demam berdarah dengue
Berdasarkan kriteria DHC '/// diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal di ba)ah
ini terpenuhi.
a) Demam atau ri)ayat demam akut, antara 18< hari, biasanya bifasik
8
b) +erdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut 3
B!i bendung positif
etekie, ekimosis, purpura
erdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi) atau
perdarahan dari tempat lain.
Hematemesis atau melena.
c) +rombositopenia (!umlah trombosit > '$$.$$$/ul)
d) +erdapat minimal satu dari tanda tanda kebocoran plasma sebagai berikut 3
eningkatan hematokrit A1$2 dibandingkan standar sesuai dengan
umur dan !enis kelamin
enurunan hematokrit A1$2 setelah mendapat terapi cairan,
dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.
+anda kebocoran plasma seperti 3 efusi pleura, asites atau
hipoproteinemia.
#. "indrom syok dengue
"eluruh kriteria DBD disertai dengan kegagalan sirkulasi dengan manifestasi nadi
yang cepat dan lemah, tekanan darah turun (> 1$ mmHg), hipotensi dibandingkan
standard sesuai umur, kulit dingin dan lembab serta gelisah.
Kl!sifi)!si De#!,!t Pen$!)it Infe)si *i#&s Deng&e
DD/DBD Dera!at =e!ala 5aboratorium
DD Demam disertai 1 atau lebih tanda 3
"akit kepala
7yeri retroorbital
;ialgia
*rtralgia
5eukopenia
+rombisitopenia
+idak ada bukti kebocoran plasma
B!i serologi dengue (E)
DBD - =e!ala diatas ditambah u!i bendung positif +rombositopenia > '$$.$$$
9
Ht meningkat A1$2
B!i serologi dengue (E)
Bukti ada kebocoran plasma
DBD -- =e!ala diatas ditambah perdarahan spontan +rombositopenia > '$$.$$$
Ht meningkat A 1$2
B!i serologi dengue (E)
Bukti ada kebocoran plasma
DBD --- =e!ala diatas ditambah kegagalan sirkulasi
(kulit dingin dan lembab serta gelisah)
+rombositopenia > '$$.$$$
Ht meningkat A 1$2
B!i serologi dengue (E)
Bukti ada kebocoran plasma
DBD -4 "yok berat disertai dengan tekanan darah dan
nadi tidak terukur.
+rombositopenia > '$$.$$$
Bukti ada kebocoran plasma
Ht meningkat A 1$2
B!i serologi dengue (E)
2.1. Pen!t!l!)s!n!!n
+idak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi
suportif. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga
kurang dari '2. emeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling
penting dalam penanganan kasusDBD. *supan cairan pasien harus tetap di!aga, terutama
cairan oral. ?ika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan
suplemen cairan melaui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi bermakna.
erhimpunan Dokter *hli enyakit Dalam -ndonesia (*D-) bersama dengan divisi
penyakit tropik dan infeksi dan Divisi Hematologi dan Cnkologi ;edik Fakultas ,edokteran
Bniversitas -ndonesia telah menyusun protokol penatalaksanaan DBD pada pasien de)asa
dengan kriteria 3
enatalaksanaan yang tepat dengan rancangan dan tindakan yang dibuat sesuai atas
indikasi
raktis dalam pelaksanaannya
10
;empertimbangkan cost effectiveness.
rotokol ini terbagi dalam . kategori antara lain 3
1. P#oto)ol 1 2 Pen!ng!n!n Te#s!ng)! DBD de3!s! t!np! s$o)
rotokol ' ini digunakan sebagai petun!uk dalam memberikan pertolongan pertama
pada penderita DBD atau yang diduga DBD di instalasi ga)at darurat dan !uga
dipakai sebagai petun!uk dalam memutuskan indikasi ra)at.
"eseorang tersangka DBD di ruang =a)at Darurat dilakukan pemeriksaan
hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan trombosit, bila 3
Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara '$$.$$$8'.$.$$$, pasien
dapat dipulangkan dengan an!uran kontrol atau berobat !alan ke poliklinik
dalam )aktu 1% !am berikutnya, (dilakukan pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit
tiap 1% !am) bila keadaan penderita memburuk segera kembali ke instalasi
ga)at darurat.
Hb, Ht normal tetapi trombosit > '$$.$$$ dian!urkan untuk dira)at.
Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun !uga dian!urkan untuk
dira)at.
Cbservasi dan pemberian cairan suspek DBD de)asa tanpa ren!atan di B=D
11
2. P#oto)ol 2 2 Pen!ng!n!n "!i#!n p!d! te#s!ng)! DBD de3!s! di #&!ng #!3!t
asien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masif dan tanpa syok maka
di ruang ra)at diberikan cairan infus kristaloid dengan !umlah seperti rumus berikut 3
4olume cairan kristaloid per hari yang diperlukan 3
'.$$ E ( 1$ & ( BB dalam kg F 1$ ) )
"etelah pemberian cairan dilakukan pemeriksaan Hb, Ht tiap 1% !am3
Bila Hb, Ht meningkat '$ F 1$2 dan trombosit > '$$.$$$ !umlah pemberian
cairan tetap seperti rumus diatas tetapi pemantauan Hb, Ht dan trombosit dilakukan
tiap '1 !am.
Bila Hb, Ht meningkat A 1$2 dan trombosit > '$$.$$$ maka pemberian
cairan sesuai dengan protokol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht A 1$2.
emberian cairan pada suspek DBD de)asa di ruangan
12
3. P#oto)ol 3 2 Pen!t!l!)s!n!!n DBD deng!n %em!to)#it 4 256
;eningkatnya Ht A 1$2 menun!ukkan bah)a tubuh mengalami defisit cairan
sebanyak .2. ada keadaan ini terapi a)al pemberian cairan adalah dengan
memberikan infus cairan kristaloid sebanyak (8< ml/kg/!am. asien kemudian
dipantau setelah #8% !am pemberian cairan. Bila ter!adi perbaikan yang ditandai
dengan tanda tanda hematokrit turun, frekuensi nadi turun, tekanan darah stabil,
produksi urin meningkat maka !umlah cairan infus di kurangi men!adi .
ml/kgBB/!am. 1 !am kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan tetap
menun!ukkan perbaikan maka !umlah cairan infus dikurangi men!adi # ml/kgBB/!am.
Bila dalam pemantauan keadaan tetap membaik maka pemberian cairan dapat
dihentikan 1%8%0 !am kemudian.
enatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit A 1$2
*pabila setelah pemberian terapi cairan a)al (8< ml/kgBB/!am tadi keadaan
tetap tidak membaik, yang ditandai dengan hematokrit dan nadi meningkat, tekanan
nadi menurun > 1$ mmHg, produksi urin menurun, maka kita harus menaikkan
!umlah cairan infus men!adi '$ ml/kgBB/!am. 1 !am kemudian dilakukan pemantauan
kembali dan bila keadaan menun!ukkan perbaikan maka !umlah cairan dikurangi
men!adi . ml/kgBB/!am tetapi bila keadaan tidak menun!ukkan perbaikan maka
13
!umlah cairan infus dinaikkan men!adi '.ml/kgBB/!am dan bila dalam
perkembangannya kondisi men!adi memburuk dan didapatkan tanda tanda syok maka
pasien ditangani sesuai dengan protokol tatalaksana sindrom syok dengue pada
de)asa. Bila syok telah teratasi maka pemberian cairan dimulai lagi seperti terapi
pemberian cairan a)al.
. P#oto)ol 2 Pel!)s!n!!n pe#d!#!%!n spont!n p!d! DBD de3!s!
erdarahan spontan dan masif pada penderita DBD de)asa adalah 3 perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali )alaupun telah diberikan tampon hidung,
perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau hematoskesia), perdarahan
saluran kencing (hematuria), perdarahan otak atau perdarahan tersembunyi dengan
!umlah perdarahan sebanyak %8. ml/kgBB/!am. ada keadaan seperti ini !umlah dan
kecepatan pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok lainnya.
emeriksaan tekanan darah, nadi, pernafasan dan !umlah urin dilakukan sesering
mungkin dengan ke)aspadaan Hb, Ht, dan trombosis serta hemostase harus segera
dilakukan dan pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit sebaiknya diulang tiap %8( !am.
emberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan
tanda tanda koagulasi intravaskular diseminata (,-D). +ransfusi komponen darah
diberikan sesuai indikasi. FF diberikan bila didapatkan defisiensi faktor faktor
pembekuan (+ dan a++ yang meman!ang), 9: diberikan bila nilai Hb kurang dari
'$ g/dl. +ransfusi trombosit hanya diberikan pada pasien DBD dengan perdarahan
spontan dan masif dengan !umlah trombosit > '$$.$$$/mm# disertai atau tanpa ,-D.
14
enatalaksanaan perdarahan pada DBD de)asa
'. P#oto)ol ' 2 T!t!l!)s!n! sind#om s$o) deng&e p!d! de3!s!.
Bila kita berhadapan dengan sindrom syok dengue maka hal pertama yang harus
diingat adalah bah)a ren!atan harus segera diatasi dan oleh karena itu penggantian
cairan intravaskular yang hilang harus segera dilakukan. *ngka kematian sindrom
syok dengue sepuluh kali lipat dibandingkan dengan penderita DBD tanpa ren!atan,
dan ren!atan dapat ter!adi karena keterlambatan penderita DBD mendapatkan
pertolongan dan pengobatan, penatalaksanaan yang tidak tepat termasuk kurangnya
ke)aspadaan terhadap tanda tanda ren!atan dini, dan penatalaksanaan ren!atann yang
tidak adekuat.
ada kasus ""D cairan kristaloid adalah pilihan utama yang diberikan sesuai
resusitasi cairan, penderita !uga diberikan oksigen 18% liter per menit. emeriksaan
pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer lengkap (D5),
hemostasis, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan klorida, serta ureum dan
kreatinin.
ada fase a)al, cairan kristaloid diguyur sebanyak '$81$ ml/kgBB dan dievaluasi
setelah '.8#$ menit. Bila ren!atan telah teratasi (ditandai dengan tekanan darah
15
sistolik '$$mmHg dan tekanan nadi lebih dari 1$ mmHg, freGuensi nadi kurang dari
'$$ kali per menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat, dan kulit tidak
pucat serta diuresis $,. F ' ml/kgBB/!am) !umlah cairan dikurangi men!adi <
ml/kgBB/!am. Bila dalam )aktu ($8'1$ menit keadaan tetap stabil pemberian cairan
men!adi . ml/kgBB/!am. Bila dalam )aktu ($8'1$ menit kemudian keadaan tetap
stabil maka pemberian cairan men!adi # ml/kgBB/!am.
Bila 1%8%0 !am setelah ren!atan teratasi dan tanda tanda vital dan hematokrit tetap
stabil serta diuresis cukup maka pemberian cairan perinfus harus dihentikan (karena
!ika reabsorpsi cairan plasma yang mengalami ekstravasasi telah ter!adi, ditandai
dengan turunnya hematokrit, cairan infus terus diberikan maka keadaan hipervolemia,
edema paru atau gagal !antung dapat ter!adi).
enga)asan dini kemungkinan ter!adinya ren!atan berulang harus dilakukan terutama
dalam )aktu %0 !am pertama se!ak ter!adi ren!atan (karema selain proses patogenesis
penyakit masih berlangsung, ternyata cairan kristaloid hanya sekitar 1$
2 sa!a yang menetap dalam pembuluh darah setelah ' !am saat pemberian). Cleh
karena itu untuk mengetahui apakah ren!atan telah teratasi dengan baik, diperlukan
pemantauan tanda vital yaitu status kesadaran, tekanan darah, frekuensi nadi,
frekuensi !antung dan napas, pembesaran hati, nyeri tekan daerah hipokondrium
kanan dan epigastrik, serta !umlah diuresis.
Diuresis diusahakan 1 ml/kgBB/!am. emantauan kadar hemoglobin, hematokrit, dan
!umlah trombosit dapat dipergunakan untuk pemantauan per!alanan penyakit. Bila
setelah fase a)al pemberian cairan ternyata ren!atan belum teratasi, maka pemberian
cairan kristaloid dapat ditingkatkan men!adi 1$8#$ ml/kgBB, dan kemudian dievaluasi
setelah 1$8#$ menit. Bila keadaan tetap belum teratasi, maka perhatikan nilai
hematokrit. Bila nilai hematokrit meningkat berarti perembesan plasma masih
berlangsung maka pemberian cairan koloid merupakan pilihan, tetapi bila nilai
hematokrit menurun, berarti ter!adi perdarahan ( internal bleeding ) maka penderita
diberikan transfusi darah segar '$ml/kgBB dan dapat diulang sesuai kebutuhan.
"ebelum cairan koloid diberikan maka sebaiknya kita harus mengetahui sifat sidat
cairan tersebut. emberian koloid sendiri mula mula diberikan dengan tetesan cepat
'$81$ ml/kgBB dan dievaluasi setelah '$8#$ menit. Bila keadaan tetap belum teratasi
maka untuk memantau kecukupan cairan dilakukan pemasangan kateter vena sentral,
16
dan pemberian koloid dapat ditambah hingga !umlah maksimum #$ ml/kgBB
(maksimal ' F ',. l / hari) dengan sasaran tekanan vena sentral '.8 '0 cmH1C. Bila
keadaan tetap belum teratasi harus diperhatikan dan dilakukan koreksi terhadap
gangguan asam basa, elektrolit, hipoglikemia, anemia, ,-D, infeksi sekunder. Bila
tekanan vena sentral penderita sudah sesuai dengan target tetapi ren!atan tetap belum
teratasi maka dapat diberikan obat inotropik/vasopresor.
17
enatalaksanaan sindrom ren!atan dengue
BAB III
18
LAP7/AN KASUS
STATUS PASIEN PEN8AKIT DALA(
9ATATAN /EKA( (EDIK PASIEN
1. IDENTITAS PASIEN
7ama 5engkap 3 *gung ayuda
?enis kelamin 3 5aki laki
+anggal 5ahir 3 $# !uli '//0
Bmur 3 '. tahun
*lamat 3 aya 9ahat
eker!aan 3 Diras)asta
+anggal masuk 9" 3 '< !uni 1$'#
7omor 9ekam ;edik 3 $8'#8<<8.#
2. ANA(NESA :A&to!n!mnes! t!ngg!l 1+ ,&ni 2513 p&)&l 25.35 ;IB<
') ,eluhan Btama 3 Demam se!ak < hari yang lalu
1) ,eluhan +ambahan 3 ,epala pusing disertai 7yeri seluruh otot dan sendi
#) 9i)ayat enyakit "ekarang
19
asien datang ke B=D 9"BD aceh tamiang pada tanggal '< !uni 1$'# dengan
keluhan demam se!ak ' minggu yang lalu disertai dengan bercak kemerahan di
seluruh tubuh, mual (E), muntah (E). ,isaran ( hari yang lalu pasien mengaku
demam mulai timbul disertai dengan nyeri di seluruh sendi dan kepala pusing,
demam bersifat naik turun, menggigil tidak di!umpai, ke!ang tidak di!umpai,
pasien kemudian berobat ke mantri dan diberi obat minum dan obat suntik
yang pasien tidak mengetahui !enis obatnya. ,isaran # hari yang lalu pasien
mengaku demam turun namun pasien mengeluh timbul bercak kemerahan
bera)al di bagian ekstermitas atas dan tidak gatal.
,isaran ' hari yang lalu bercak kemerahan mulai menyebar ke seluruh tubuh
dan pasien merasa lemas dan timbul gusi berdarah, mual dan muntah di!umpai
hanya saat makan sa!a. -si muntah sesuai !enis makanan yang dimakan. 7yeri
sendi di!umpai, nyeri kepala di!umpai, B*, (E), B*B (E) normal.
%) 9i)ayat enyakit Dahulu
asien mengaku belum pernah menderita penyakit seperti sekarang ini
sebelumnya.
9i)ayat hipertensi (8)
9i)ayat Diabetes melitus (8)
.) 9i)ayat enyakit ,eluarga
asien mengaku teman satu kamar pasien sedang menderita penyakit
yang sama seperti pasien.
asien mengaku tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita
penyakit seperti pasien seperti sekarang ini.
9i)ayat Hipertensi (8)
9i)ayat Diabetes melitus (8)
() 9i)ayat engobatan
20
asien mengaku pernah berobat ke mantri sebelumnya dan diberi obat
suntik serta obat minum yang pasien tidak mengetahui nama obatnya.
<) 9i)ayat *lergi
9i)ayat asma (8)
9i)ayat alergi obat (8)
0) 9i)ayat ,ebiasaan ribadi
9i)ayat merokok (8)
9i)ayat konsumsi alkohol (8)
3. STATUS P/ESENT
') ,eadaan umum 3 +ampak sakit sedang
1) ,esadaran 3 :ompos mentis
#) +ekanan darah 3 '$$/<$ mmHg
%) 7adi 3 <$& / menit
.) 9espirasi 3 11&/ menit
() "uhu 3 #<,0
o
:
. PE(E/IKSAAN =ISIK
KEPALA
21
Bentuk 3 7ormal, simetris
9ambut 3 Hitam, lurus, tidak mudah dicabut
;ata 3 ,on!ungtiva palpebralis inferior hiperemis (E/E), sklera
ikterik (8/8), reflek cahaya (E/E)
+elinga 3 Dalam batas normal
;ulut 3 ;ukosa bibir hiperemis (E), sianosis (8), lidah tidak kotor,
gusi berdarah (E).
Hidung 3 "eptum deviasi (8), ernafasan cuping hidung (8), perdarahan
hidung (8).
LEHE/
+rakea ditengah, tidak teraba pembesaran ,=B.
TH7/A>
-nspeksi 3 pergerakan dada simetris, retraksi suprasternal dan intercostalis (8/8)
alpasi 3 4okal fremitus sama di kedua hemitoraks
22
erkusi 3 "onor pada kedua Hemitoraks
*uskultasi 3 "uara nafas vesikuler (E/E), DheeHing (8/8), 9onkhi (8/8)
JANTUN.
-nspeksi 3 ictus cordis tidak terlihat
alpasi 3 -ctus cordis teraba di -:" 4- garis midclavicularis sinistra.
erkusi 3
Batas !antung atas se!a!ar garis horiHontal setinggi -:" --- garis parasternal
sinistra.
Batas !antung kiri di -:" -4 garis midclavicularis sinistra.
Batas !antung kanan di garis sternalis de&tra -:" ---,-4 dan 4.
*uskultasi 3 "'8"1 9eguler, =allop (8), murmur diastolic (8)
ABD7(EN
-nspeksi 3 datar, bercak kemerahan (E).
alpasi 3 "upel, nyeri tekan (E) di regio kuadran kanan atas abdomen,
Hepar/5ien tidak teraba membesar.
erkusi 3 timpani, shifting dullness (8)
*uskultasi 3 Bising usus (E) normal.
23
EKSTE/(ITAS
"uperior 3 urpura (E/E), palmar eritema (E/E), akral dingin, sianosis (8/8),
ikterik (8/8)
-nferior 3 urpura (E/E), akral dingin, sianosis (8/8), ikterik (8/8)
'. PE(E/IKSAAN PENUNJAN.
emeriksaan Darah 9utin ( tanggal '< !uni 1$'#, pukul '/.#0 D-B)
6ritrosit 3 %.//$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '.,' mg/dl
24
5eukosit 3 ..1$$ mm#
+rombosit 3 20.555 mm3
Hematokrit 3 %.,( 2
emeriksaan Darah 9utin (+anggal '< !uni 1$'#, pukul 1#..# D-B)
6ritrosit 3 %..%$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '#,< mg/dl
5eukosit 3 %.#$$ mm#
+rombosit 3 21.555 mm3
Hematokrit 3 %$,/ 2
emeriksaan Darah 9utin (+anggal '0 !uni 1$'#, pukul $(.%/ D-B)
6ritrosit 3 #.0'$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '',( mg/dl
5eukosit 3 #.%$$ mm#
+rombosit 3 35.555 mm3
Hematokrit 3 #%,0 2
emeriksaan Darah 9utin (+anggal '0 !uni 1$'#, pukul '0.#( D-B)
6ritrosit 3 %.1$$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '1,0 mg/dl
5eukosit 3 ..'$$ mm#
+rombosit 3 1.555 mm3
Hematokrit 3 #0,. 2
emeriksaan "erologi (+anggal '0 !uni 1$'#, pukul '0.#( D-B)
25
-g= 3 ositif
-g; 3 ositif
emeriksaan Darah 9utin (+anggal '0 !uni 1$'#, pukul '/. '0 D-B)
6ritrosit 3 %.'<$.$$$mm#
Hemoglobin 3 '1,( mg/dl
5eukosit 3 %./$$ mm#
+rombosit 3 3.555 mm3
Hematokrit 3 #0,' 2
emeriksaan Darah 9utin (+anggal '/ !uni 1$'#, pukul '#... D-B)
6ritrosit 3 %.$$$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '1,# mg/dl
5eukosit 3 %./$$ mm#
+rombosit 3 '3.555 mm3
Hematokrit 3 #<,# 2
emeriksaan Darah 9utin ( +anggal 1$ !uni 1$'#, pukul '#.%/ D-B)
6ritrosit 3 #.0.$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '1,' mg/dl
5eukosit 3 %./$$ mm#
+rombosit 3 0+.555 mm3
Hematokrit 3 #.,. 2
emeriksaan Darah 9utin (+anggal 1' !uni 1$'#, pukul '$.'1 D-B)
6ritrosit 3 #.(0$.$$$ mm#
Hemoglobin 3 '',1 mg/dl
+rombosit 3 11.555 mm3
26
Hematokrit 3 #%,/ 2
0. DIA.N7SA BANDIN.
') Demam berdarah dengue dera!at --
1) ;orbili
#) :hikungunya hemorraghic fever
%) ;alaria
+. DIA.N7SA KE/JA
') Demam berdarah dengue dera!at --
1. PENATALAKSANAAN
') 7on ;edikamentosa
+irah baring
,onsumsi cairan yang banyak 3 *ir utih, !us buah, *ir kelapa dll.
Diet tinggi kalori tinggi protein
Cbservasi tanda vital (+D, suhu, frekuensi pernafasan, nadi)
*)asi perdarahan, eriksa Hb, Ht, +rombosit tiap '1 !am.
1) ;edikamentosa
-nfus -4FD 95 #$ gtt/menit
9anitidine ' ampul/'1 !am
:eftria&on ' gr ampul/'1 !am
27
7orages ' ampul/0 !am
=olmun plus '&' tab
?. P/7.N7SA
Dubia ad Bonam
28
29
DA=TA/ PUSTAKA
'. "uhendro, 7ainggolan,5, :hen,,, dan ohan, H.+. 1$$(. Demam Berdarah Dengue.
Dalam3 "udoyo, *.D. "etiyohadi, B, al)i,-, "imadibrata,; dan "etiati, ",eds. Buku
*!ar -lmu enyakit Dalam. ?akarta3 usat enerbitan -lmu enyakit Dalam F,B-,
'<$/8'<'#.
30
1. "udarmono,dkk.1$'$. Buku *!ar -nfeksi dan ediatri +ropis. 6disi ,edua. ?akarta 3
Badan enerbit -D*-.
#. Dorld Health CrganiHation '///. =uidelines for +reatment of Dengue Fever/ Dengue
Haemorrhagic Fever in "mall Hospitals. *vailable from 3
http3//))).searo.)ho.int/5inkFiles/DengueI=uideline8dengue.pdf
%. ))).repository.usu.ac.id J Demam Berdarah DengueK
31