You are on page 1of 2

ANAFILAKSIS

BLUD RSUD KUALA KURUN


Jl. A.Yani No.43
Telp.(0536)31390,(0537) 31390
E-mail : rsudkualakurun@yahoo.co.id
NO.DOK :

NO.REVISI :

HALAMAN : :



TGL. TERBIT :



DITETAPKAN
DIREKTUR BLUD RSUD KUALA KURUN



Dr. RUTH PAKPAHAN
NIP. 19680413 200501 2 009
PENGERTIAN Anafilaksis adalah sindrom klinis yang mengancam jiwa . anafilaksis terjadi
akibat sejumlah besar mediator inflamasi dilepaskan dari sel mast dn basofil
sesudah paparan pada alergen pada individu yang sudah tersensitisasi
sebelumnya. Reaksi anafilaktoid mirip dengan reaksi anafilaksis tetapi tidak
diperantarai oleh IgE, mungkin oleh anafilaktosin seprti C3a dan C5a atau
bahan yang mampu menginduksi degranulasi sel mast tanpa melalui reaksi
imunologis
Penyebab reaksi anafilaksis adalah:
Obat (antibiotik, bahan anestetikum)
Makanan (kacang tanah, kacang pohon , kerang dan lain-lain)
Bahan bilogis (latex, insulin, ekstrak alergen, antiserum, produk darah,
enzim)
Gigitan serangga
Penyebab reaksi anafilaktoid:
Bahan media radiokontras
Aspirin dan obat anti inflamasi non steroid lain
Bahan anestetikum
Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Gejala dan tanda bergantung pada organ yang terkena. Awitan umumnya
dalam beberapa menit sesudah paparan, dapat sangat singkat, bertahan
lama atau bifasik, rekurensi terjadi beberapa jam setalahnya meskipun
sudah dengan pengobatan
Keluhan pasien adalah gatal seluruh badan atau merasa gelisah
Gejala kulit termasuk eritema, urtikaria, dan angioderma
Gejala saluran napas adalah napas tersumbat, atau sesak, disertai mata
berair, rinore, bersin dan hidung tersumbat. Dapat ditemukan edema
uvula, suara parau, disfonia, stridor, takipneu, dan mengi.
Gejala kardiovaskular termasuk takikardia, aritmia, hipotensi dan pingsan.
Pasien mungkin mengeluh mual, nyeri perut kram, disertai muntah dan
diare.
Dapat timbul kejang.
Gambaran yang mengancam jiwa adalah syok, edema jalan napas atas,
dan obstruksi bronkial.

Laboratorium
Serum triptase meningkat
Gambaran hemokonsentrasi pada darah tepi
Bila ada keterlibatan miokardium terdapat peningkatan kadar serum
kreatin kinase, aspartat aminotransferase, dan laktat dehidrogenase
Analisis gas dara menunjukkan hipoksemia, hiperkapnia, dan asidosis

PENATALAKSANAAN











Perawatan umum:
Bila mungkin hentikan paparan, jalan napas harus dijamin terbuka, nadi dan
tekanan darah dipantau. Pasien dibaringkan dengan tungkai ditinggikan.
Oksigen diberikan dengan sungkup atau kanul hidung dengan pemantauan
kadar oksigen. Bila penyebabnya adalah suntikan atau gigitan binatan di
ekstremitas, dilakukan pemasangan torniket proksimal terhadap lokasi, dan
torniket dibuka setiap 10-15 menit. Semua perawatan umum harus diberikan
secara SIMULTAN dengan Epinefrin.
Epinefrin
Epinefrin konsentrasi 1:1000 dengan dosis 0,01 mg/kg BB, intramuskuler,
paling ideal di anterolateral paha, maksimal 0,3 mg per kali disuntikkan .
Dosis yang sama dapat diulangi dengan jarak 15-20 menit sampai 2-3 kali
Antihistamin
Difenhidramin 1-2 mg/kg maksimal 50 mg dapat disuntikkan intramuskular
atau intravena. Bila diberikan intravena maka harus diberikan secara infus
selama 5-10 menit untuk menghindari hipotensi. Bila ada hipotensi,
penambahan ranitidin 1 mg/kg maksimal 50 mg intravena memberi efek lebih
baik daripada difenhidramin saja.
Cairan
Hipotensi persisten perlu diatasi dengan perbaikan cairan intravaskular
dengan infus kristaloid 20-30 ml/kg dalam 1 jam pertama.
Bronkodilator
Inhalasi 2-agonis seperti salbutamol atau albuterol berguna untuk mengatasi
bronkokonstriksi
Kortikosteroid
Bila diberikan segera setelah kegawatan teratasi dapat mencegah anafilaksis
bifasik. Metilprednisolon dosis 1-2 mg/kg diberikan secara intravena setiap 4-
6 jam
Vasopresor
Bila hipotensi berlanjut perlu diberikan dopamin atau epinefrin
Observasi
Pasien yang anafilaksisnya sudah teratasi harus dipantau untuk mengawasi
kemungkinan anafilaksis bifasik.