57

Jurnal KIAT Universitas Alkhairaat - Desember 2011 ISSN : 0216-7530
PENGARUH PAJAK HOTEL TERHADAP PENCAPAIAN PENDAPATAN ASLI
DAERAH (PAD) PADA BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAN
KEKAYAAN DAERAH KOTA PALU

Oleh :

Muhamad Gulom *)

ABSTRAK

Berhasil tidaknya daerah dalam melaksanakan otonomi daerah, salah satunya ditentukan oleh
kemampuan pegawai dalam mengelola keuangan daerah. Sebagai daerah otonom yang berhak dan
berwenang serta berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, kepada daerah
diberikan sumber-sumber keuangan untuk dapat membiayai penyelenggaraan pemerintah dan
pembangunan daerah. Daerah Propinsi, Kabupaten dan Kota sebagai wilayah yang berkedaulatan
rakyat menyelenggarakan pemerintahan daerah berdasarkan konstitusi, serta menyelenggarakan
sistem pengelolaan keuangan daerah berdasarkan peraturan perundangan, menimbulkan hak dan
kewajiban daerah yang perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan daerah yang
pelaksanaannya harus secara terbuka dan bertanggungjawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Oleh karena itu dalam rangka pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah
diperlukan kaidah-kaidah hukum dalam semua aspek penataan keuangan daerah.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi pajak hotel terhadap pencapaian PAD
pada Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah Kota Palu. Kesimpulan penelitian ini adalah
Pengaruh pajak hotel terhadap PAD Kota Palu selama lima tahun relatif kecil yang ditunjukkan dari
nilai kontribusi pajak hotel terhadap PAD Kota Palu, dimana rata-rata dalam lima tahun terakhir
tingkat pengaruh/kontribusi tersebut sebesar 0,20% pertahun. Relatif kecilnya kontribusi atau
pengaruh tersebut, sesungguhnya bukan merupakan hal yang buruk, sebab memang sektor pajak
hotel adalah salah satu bagian dari beberapa bentuk-bentuk pajak yang memberikan sumbangsih
terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Palu.

Katakunci : Pajak Hotel, PAD, Kota Palu
*) Penulis adalah Dosen pada Fakultas
Ekonomi Universitas Alkhairaat Palu
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Keluarnya paket Undang-Undang
Otonomi Daerah yaitu Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004, tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan keuangan antara Pusat dan
Daerah, merupakan kelanjutan daripada
upaya pemerintah dalam memberikan
penguatan pelaksanaan otonomi di daerah.
Berhasil tidaknya daerah dalam
melaksanakan otonomi daerah, salah
satunya ditentukan oleh kemampuan
pegawai dalam mengelola keuangan
daerah. Sebagai daerah otonom yang
berhak dan berwenang serta berkewajiban
mengatur dan mengurus rumah tangganya
sendiri, kepada daerah diberikan sumber-
sumber keuangan untuk dapat membiayai
penyel enggaraan pemerint ah dan
pembangunan daerah.
Daerah Propinsi, Kabupaten dan Kota
sebagai wilayah yang berkedaulatan rakyat
menyelenggarakan pemerintahan daerah
b e r d a s a r k a n ko ns t i t u s i , s e r t a
menyelenggarakan sistem pengelolaan
keuangan daerah berdasarkan peraturan
perundangan, menimbulkan hak dan
kewajiban daerah yang perlu dikelola
dalam suatu sistem pengelolaan keuangan
daerah yang pelaksanaannya harus secara
terbuka dan bertanggungjawab untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Oleh
58

karena itu dalam rangka pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan daerah
diperlukan kaidah-kaidah hukum dalam
semua aspek penataan keuangan daerah.
UUD 1945 mengamanatkan agar
hubungan keuangan, pelayanan umum,
serta pemanfaatan sumber daya alam dan
sumber-sumber potensi daerah lainnya
dilaksanakan secara adil dan selaras
berdasarkan ketentuan dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku,
sehingga dalam kehidupan bernegara yang
semakin terbuka, pemerintah daerah selaku
perumus dan pelaksana kebijakan APBD
berkewajiban untuk terbuka dan
bertanggungjawab terhadap seluruh hasil
pelaksanaan pemerintahan pembangunan
daerah kepada masyarakat sebagai
pe r wuj uda n da r i ke s a nggupa n
melaksanakan otonomi daerah berdasarkan
prinsip-prinsip transparansi, partisipasi,
dan akuntabilitas.
Pemahaman Otonomoi daerah saat ini
cenderung masih dalam “kemauan untuk
mengurus rumah tangga pemerintahannya”
karena otonomisasi atau demokratisasi
pemer i nt ahan di yaki ni mampu
me wu j u d k a n p e n ye l e n g g a r a a n
pemerint ahan yang baik ( Good
Governance) dan mampu meningkatkan
kualitas kesejahteraan rakyat, sebab prinsip
dasar otonomi yaitu bagaimana
mendekatkan pelayanan pemerintah kepada
masyarakatnya, karena itu salah satu
resostensi otonomi daerah adalah perlunya
dilakukan reformasi manajemen keuangan
daerah meliputi manajemen pengeluaran
dan penerimaan daerah. Penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan yang
menjadi kewenangan daerah dibiayai dari
dana APBD, sedangkan penyelenggaraan
kewenangan pemerintahan yang menjadi
tanggung jawab pemerintah dibiayai dari
APBN, baik kewenangan pusat yang
dikonsentrasikan kepada Gubernur atau
ditugaskan kepada pemerintah daerah,
dimana sumber-sumber pendanaan
pel aks anaan pemer i nt ahan dan
pembangunan daerah terdiri atas
pendapatan asli daerah, dana perimbangan,
pinjaman daerah dan lain-lain pendapatan
yang sah, oleh karena pendapatan asli
daerah merupakan pendapatan daerah yang
bersumber dari hasil Pajak Hotel, hasil
retribusi daerah, hasil pengelolaan
kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-
lain pendapatan asli daerah yang sah, yang
bertujuan untuk memberikan keleluasaan
kepada daerah dalam menggali pendanaan
dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai
perwujudan asas desentralisasi.
Demikian pula halnya dengan Kota
Palu, harus mampu mengoptimalkan
sumber-sumber pendapatan asli daerahnya
sehingga dapat membiayai pembangunan di
daerahnya, dimana salah satu sumber PAD
yang dimaksud adalah pajak hotel. Hal
yang dapat ditempuh adalah dengan
memaksimumkan kerja SKPD penghasil
PAD yang ada, dan salah satunya adalah
Badan Pengelolaan Keuangan dan
Kekayaan Daerah (BKKD) Kota Palu.
Di Kota Palu saat ini telah berdiri
sebanyak 32 Hotel, 2 buah Mess, dan 18
usaha Penginapan. Kesemuanya itu
merupakan obyek pajak hotel. Dengan
alasan tersebut maka peneliti melakukan
pengkajian terhadap pengaruh pajak hotel
terhadap PAD Kota Palu.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di
atas, maka permasalahan dalam penelitian
ini adalah seberapa besar kontribusi pajak
hotel terhadap PAD pada Badan Pengelola
Keuangan dan Kekayaan Daerah Kota
Palu?

Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kontribusi pajak hotel terhadap
pencapaian PAD pada Badan Pengelola
Keuangan dan Kekayaan Daerah Kota Palu.
Secara teoritis, penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kegunaan
menambah khasanah ilmu pengetahuan,
utamanya dalam penerapan teori yang
berkaitan dengan pengelolaan PAD. Secara
Praktis, penelitian ini dihara[kan dapat
59

berguna menjadi bahan masukan bagi
Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan
Daerah Kota Palu dalam meningkatkan
kualitas manajemen keuangan.

Hipotesis
Bertitik tolak dari permasalahan yang
diajukan, maka hipopenelitian dalam
penelitian ini adalah diduga pajak hotel
berpengaruh terhadap pencapaian PAD di
Kota Palu.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota
Palu, dimana yang menjadi objek
penelitian adalah Badan Pengelolaan
Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD)
Kota Palu.
Adapun periode penelitian diambil dari
5 tahun terakhir yaitu dari periode Tahun
Anggaran 2005 s/d Tahun Anggaran 2009;
untuk mengetahui kontribusi pajak hotel
terhadap PAD Kota Palu.

Jenis dan Sumber Data
Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data kuantitatif
dan kualitatif yang bersumber dari Instansi
Pemerintah seperti BPKKD, Dinas
Pendapatan Daerah, Badan Pusat Statistik
(BPS), dan SKPD/Unit Kerja terkait
lainnya dilingkungan Pemerintah Kota
Palu.
Sumber Data
Sumber informasi yang dianggap
relevan dengan tujuan dan masalah
penelitian ini. Data tersebut berupa :
1. Data PAD Kota Palu lima tahun terakhir
2. Data pajak hotel Kota Palu lima tahun
terakhir

Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah :
Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan ini dilakukan
melalui pengumpulan dan penelaahan
literatur-literatur yang relevan dengan
permasalahan yang dikaji untuk
mendapatkan kejelasan dalam upaya
penyusunan landasan teori yang sangat
berguna dalam pembahasan selanjutnya.
Literatur-literatur tersebut dapat berupa
buku, laporan, artikel ilmiah atau jurnal-
jurnal ilmiah lainnya.
Penelitian Lapangan (field Research)
Pengumpulan data melalui penelitian
lapangan dilakukan dengan cara observasi
ke lokasi penelitian. Teknik yang
digunakan dengan cara ini adalah:
Wawancara tidak terstruktur,
Teknik ini merupakan alat
pengumpulan data untuk memperoleh
informasi melalui cara berkomunikasi
secara langsung (tatap muka) dengan
sejumlah informan yang berkpmpeten
dengan tema di atas.
Teknik dokumentasi,
Teknik ini digunakan untuk
memperoleh sejumlah data melalui
dokumen tertulis tentang hal-hal yang
relevan dengan kebutuhan dalam penulisan
penelitian ini. Seperti data tentang PAD
dan pajak hotel Kota Palu.
Teknik Analisis Data
Berdasarkan rumusan masalah dan
hipopenelitian yang diajukan dalam
penelitian ini, maka teknik analisis yang
digunakan adalah:
Analisis Kontribusi: yaitu teknik
analisis kuantitatif dengan rumus
dimana :
K = Kontribusi Pajak Hotel PAD
∑ PAD = Total PAD tahun tertentu
∑ PH = Total Pajak Hotel tahun tertentu
Modifikasi dari Hera Susanti dkk, 2000:25)



% 100
PAD
Hotel Pajak
K
th
th
x



60

Definisi Operasional Variabel
1. Pajak Hotel adalah pajak yang
dikenakan pada sebuah usaha
penginapan (Hotel, Penginapan, Mess)
yang pengenaannya diberlakukan setiap
bulan.
2. PAD adalah Pendapatan Asli Daerah
Kota Palu, yang bersumberu dari potensi
yang ada di Kota Palu dan dipergunakan
untuk pembiayaan pembangunan di
Kota Palu.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Pajak Hotel Kota Palu
Salah satu sumber PAD yang relatif
potensial dan prospektif untuk dikelola dan
dikembangkan adalah Pajak Hotel, hal ini
teriihat dari makin meningkatnya realisasi
penerimaan dari tahun ke tahun, selama
tahun 2005 sampai tahun 2009.Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
Tabel. 1. Pertumbuhan Pajak Hotel Kota Palu PeriodeTA 2005 s/d TA 2009

Tahun Anggaran Pajak Hotel (Rp) Pertumbuhan (%)
2005 255.188.855 0
2006 888.782.682 22.12
2007 26.304.459 16.66
2008 32.259.961 12.50
2009 845.542.684 11.71
Pertumbuhan Rata-Rata 15,75
Jika dilihat dari tabel diatas, nilai Pajak
Hotel Kota Palu, sesungguhnya terus
menunjukkan kenaikan, walaupun tingkat
pertumbuhan Pajak Hotel dari tahun ke
tahun menunjukkan gejala penurunan.
Secara rata-rata dalam kurun lima tahun
terakhir potensi Pajak Hotel Kota Palu,
tingkat pertumbuhannya adalah 15,75%.
Perkembangan PAD Kota Palu
Sebelum diuraikan kontribusi PAD
terhadap APBD terlebih dahulu dijelaskan
tentang pertumbuhan PAD dalam 5 tahun
terakhir sebagai akumulasi dari
perturnbuhan sumber-sumber penerimaan
PAD sebagaiamana dipaparkan pada pada
tabel berikut ini.
Tabel 2. Pertumbuhan Target dan Realisasi PAD Kota Palu Periode TA 2005 - 2009

Tahun Anggaran Target (Rp) Realisasi (Rp) Pertumbuhan (%)
2005 87.653.144.925 100.572.242.441,00 0
2006 108.364.557.308,00 122.907.876.639,04 22.21
2007 134.525.878.870,80 141.349.355.864,77 15.00
2008 151.334.717.471,51 160.508.900.042,45 13.55
2009 164.354.864.241.65 173.647.524.865,36 8.19
Pertumbuhan Rata-Rata 14,74
Tabel di at as menunj ukkan
pertumbuhan panerimaan PAD periode 5
tahun terakhir. Dari 5 tahun analisis
semuanya mengal ami penurunan
pertumbuhan, namun demikian pencapaian
realisasi dari target yang ditetapkan selama
kurun lima tahun rata-rata di atas 100%.
Dari keseluruhan data tersebut dapat dilihat
kontribusi rata-rata dalam 5 tahun terakhir
yakni sebesar 17,74%.
61

Kontribusi Pajak Hotel Terhadap PAD
Kota Palu
Perkembangan suatu daerah sangat
tergantung pada besar kecilnya PAD yang
ada. PAD bagi suatu daerah ibarat darah
dalam tubuh manusia, ketika darah tersebut
berkurang, maka apapun kegiatan manusia
pasti dijalankan dengan setengah-setengah
karena tubuh manusia yang tidak mampu
untuk beraktifitas.
Kota Palu sebagai ibukota Propinsi
Sulawesi Tengah, mau atau tidak mau,
suka atau tidak suka, harus melakukan
berbagai upaya agar Kota Palu lebih maju
dibanding dengan Kabupaten lain yang ada
di Sulawesi Tengah.
Untuk itu dibutuhkan adanya
Pendapatan Asli Daerah yang tinggi,
sehingga mampu menyediakan berbagai
kebutuhan sarana dan prasarana publik,
sebagai suatu persyaratan wilayah
perkotaan. Salah satunya adalah
ketersediaan sarana Hotel.
Perkembangan hotel di Kota Palu
menunjukkan angka yang terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Semakin
banyaknya jasa hotel pada sebuah wilayah
menunjukkan bahwa tingkat atau roda
perekonomian daerah tersebut relatif tinggi
(Nick Devas, 2001; 141).
Logika berpikirnya adalah, ketika
usaha hotel semakin banyak tumbuh dan
berkembang pada sebuah wilayah, maka
berarti pajak hotel juga harus meningkat
secara signifikan. Peningkatan pajak hotel
berarti peningkatan terhadap Pendapatan
Asli Daerah.
Pemerintah Daerah telah menetapkan
sejumlah peraturan mengenai besaran pajak
hotel yang dikenakan disesuaikan dengan
tingkat atau klasifikasi hotel tersebut.
Dengan menggunakan formulasi
kontribusi, maka berikut ini disajikan
besaran kontribusi pajak hotel terhadap
PAD Kota Palu dalam kurun lima tahun
terakhir, sebagai berikut :
Tahun 2005
Rp. 225.188.855
K = ----------------------------- X 100 % = 0,22%
Rp. 100.572.242.441
Tahun 2006
Rp. 888.782.682
K = ----------------------------- X 100 % = 0,27%
Rp. 122.907.876.639
Tahun 2007
Rp. 26.304.459
K = ----------------------------- X 100 % = 0,01%
Rp. 141.349.355.864
Tahun 2008
Rp. 32.259.961
K = ----------------------------- X 100 % = 0,02%
Rp. 160.508.900.042
Tahun 2009
Rp. 845.542.684
K = ----------------------------- X 100 % = 0,05%
Rp. 173.647.524.865
Guna memudahkan pembahasan, maka
hasil perhitungan di atas, disajikan dalam
bentuk tabel berikut ini :
Tabel 3. Kontribusi Pajak Hotel Terhadap PAD Kota Palu Tahun 2005 – 2009

No Tahun Kontribusi (%)
1 2005 0,22
2 2006 0,72
3 2007 0,01
4 2008 0,02
5 2009 0,05
Rata-Rata Kontribusi 0,20
Berdasarkan hasil di atas, maka dapat
diketahui bahwa sesungguhnya pengaruh
pajak hotel terhadap PAD Kota Palu
selama lima tahun relatif kecil yang
ditunjukkan dari nilai kontribusi pajak
hotel terhadap PAD Kota Palu.
Relatif kecilnya kontribusi atau pengaruh
tersebut, sesungguhnya bukan merupakan
hal yang buruk, sebab memang sektor pajak
hotel adalah salah satu bagian dari beberapa
bentuk pajak yang memberikan sumbangsih
terhadap PAD Kota Palu.
62

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Pengaruh pajak hotel terhadap PAD
Kota Palu selama lima tahun relatif kecil
yang ditunjukkan dari nilai kontribusi
pajak hotel terhadap PAD Kota Palu,
dimana rata-rata dalam lima tahun
terakhir tingkat pengaruh/kontribusi
tersebut sebesar 0,20% pertahun.
2. Relatif kecilnya kontribusi atau
pengaruh tersebut, sesungguhnya bukan
merupakan hal yang buruk, sebab
memang sektor pajak hotel adalah salah
satu bagian dari beberapa bentuk-bentuk
pajak yang memberikan sumbangsih
terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota
Palu

Saran
Kepada instansi terkait dalam hal ini
BPKKD Kota Palu, agar melakukan
inventarisasi kembali objek pajak hotel,
kemudian mengintensifkan pemungutan
pajak dengan cara pemberdayaan tenaga
pemungut pajak di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Yani, 2002, Hubungan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan
Daerah Di Indonesia. Rajagrafindo
Persada, Jakarta
Arsyad, Lincolin, 1999. Ekonomi
Pembangunan, BP-STIE YKPN,
Yogyakarta.
Kaloh, J. 2002. Mencari Bentuk Otonomi
Daerah: Suatu Solusi Dalam
Menjawab Kebutuhan Lokal dan
tantangan Global, Jakarta.
Mardiasmo, 2002. Otonomi dan
Manajemen Keuangan Daerah, Andi,
Yogyakarta.
M. Nazir, 1999. Metode Penelitian Sosial.
Rineka Cipta, Jakarta
Riwu Kaho, Josep, 1991. Prospek
Otonomi Daerah Di Negara Rl :
Identifikasi Beberapa Faktor Yang
Mempengaruhi Penyelenggaraannya,
Rajawali Press, Jakarta.
Samudra, Azhari A. 1995, Perpajakan di
Indonesia: Keuangan, Pajak, dan
Retribusi Daerah, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Solihin, Dadang, 2002, Kamus Istilah
Otonomi Daerah, Institute for SME
Empowerment, Jakarta.