You are on page 1of 10

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

ACARA III
GOLONGAN DARAH PADA MANUSIA

















Oleh
Nama : Zulfi Nasirotul Uma
NIM : 120210102010
Kelas : B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2013
I. JUDUL
Golongan Darah pada Manusia

II. TUJUAN
Setelah selesai praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
penggolongan darah pada manusia

III. DASAR TEORI
Medium transport dari sistem sirkulasi adalah darah. Darah
merupakan cairan jaringan tubuh. Fungsi darah sebagai berikut:
1. Alat transport: O2 dari paru-paru diangkut keseluruh tubuh, CO2 diangkut
dari seluruh tubuh ke paru-paru, Sari makanan diangkut dari jonjot usus ke
seluruh jaringan yang membutuhkan, Zat sampah hasil metabolisme dari
seluruh tubuh ke alat pengleluaran dan Mengedarkan hormon dari kelenjar
endokrin (kelenjar buntu) ke bagian tubuh tertentu
2. Mengatur keseimbangan asam dan basa
3. Sebagai pertahanan tubuh dari infeksi kuman
4. Untuk mengatur stabilitas suhu tubuh (Novia, 2011).
Penggolongan darah pada manusia yang sering dipakai antara lain
penggolongan darah dengan sistem ABO dan sistem rhesus.
Sistem ABO yang sering digunakan yaitu di temukan oleh K.
Landsteiner pada tahun 1900, menggolongakna darah manusia menjadi 4
macam diantaranya:
 Golongan darah A, yaitu apabila didalam sel darah merahnya
mengandung aglutinogen A, dan serumnya dapat membuat aglutinin
(beta)
 Golongan darah B, yaitu apabila didalam sel darah merahnya
mengandung aglutinogen B, dan serumnya dapat membuat aglutinin
(alpa)
 Golongan darah AB, yaitu apabila didalam sel darah merahnya
mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B, tetapi anti serumnya
tidak dapat membuat aglutinin
 Golongan darah O, yaitu apabila didalam sel darah merahnya tidak
terdapat aglutinogen , tetapi serum darahnya dapat membuat aglutinin
alfa dan beta (Waluyo, 2010:172-173).
Penamaan antigen dan sistem penggolongan darah telah didasarkan
pada urutan alfabetis nama atau singkatan sumber sel darah merah yang tidak
reaktif atau reaktif, penghasil antibodi pertama, atau asal nama lokasi atau
institusi yang menemukan (Smith, 1994: 99).
Pada penelitiannya, Leindsteiner juga menemukan aglutinogen yang
terdapat pada darah kera, Maccacus rhesus, sehingga diberi nama aglutinogen
rhesus. Dari fakta ini, kemudian golongan darah dibedakan menjadi dua, yaitu
sebagai berikut.
 Golongan darah Rh+, jika di dalam sel darah seseorang terdapat
aglutinogen rhesus.
 Golongan darah Rh–, jika di dalam sel darah seseorang tidak
terdapat aglutinogen rhesus.
Sistem rhesus ini dalam tranfusi darah juga harus diperhatikan.
Apabila golongan darah Rh + maka tidak boleh digunakan sebagai donor
untuk golongan darah Rh-, karena bisa terjadi aglutinasi (penggumpalan).
Pada kasus lain, jika seorang ibu yang memiliki golongan darah Rh–
kemudian mengandung bayi dengan golongan darah Rh+, maka sel darah bayi
akan rusak dan menyebabkan penyakit bawaan, yaitu penyakit kuning
atau eritroblastosis fetalis (Budiyanto, 2013).
Mengetahui jenis golongan darah menjadi suatu hal yang penting
terutama saat akan melakukan transfusi darah. Hal hal yang perlu diperhatikan
dalam tranfusi darah pada pendonor darah adalah jenis aglutinogen dalam
eritrosit, sedangkan pada resipien adalah jenis aglutinin dalam plasma darah.
Orang yang mendapat darah disebut resipien dan orang yang
memberi darah disebut donor. Sel darah yang diberikan kepada resipien
berupa senyawa protein. Apabila senyawa ini tidak sesuai, maka senyawa
tersebut akan bersifat sebagai antigen. Sel darah akan digumpalkan atau
mengalami aglutinasi. Tiap-tiap orang memiliki golongan darah tertentu, ini
berarti bahwa sel darah seseorang mengandung zat aglutinogen tertentu dan
plasma darahnya dapat membuat aglutinin tertentu pula.
Konsep donor universal dan resipien universal
a. Donor universal
Darah golongan O tidak memiliki aglutinogen untuk diaglutinasi
sehingga dapat diberikan pada resipien manapun, asalkan volume
transfusinya sedikit. Golongan O disebut donor universal.
b. Resipien universal
Individu dengangolongan darah AB tidak memiliki aglutinin dalam
plasmanya sehingga dapat menerima eritrosit donor apapun. Darah
golongan AB disebut resipien universal (Sloane, 1994:227).
IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Alat dan Bahan
4.1.1 Alat
a. Lanset/ jarum steril
b. Jarum steril
c. Spidol
d. Gelas obyek
e. Kertas putih
4.1.2 Bahan
a. Serum A dan B
b. Alkohol 70%
c. Kapas
d. Darah segar manusia
4.2 Cara Kerja























Dengan menggunakan spidol, menarik garis lurus
pada sisi panjang yang membagi sisi gelas obyek
menjadi dua bagian yang sama. Menuliskan A
dipojok kiri atas dan B dipojok kanan atas.
Meletakkan gelas obyek pada selembar kertas putih


Mencuci tangan, mengambil kapas dengan pinset,
mencelupkan kedalam alkohol dan menggosok
pada ujung jari manis tangan. Menusuk bagian
ujung jari menggunakan lanset yang telah
disterilkan. Menempatkan setetes darah pada
bagian A dan B
Menutup bekas tusukan dengan kapas yang telah
dicelupkan ke dalam alkohol
Meneteskan anti B pada darah bagian B.

Meneteskan dengan segera serum anti A pada bagian
A, mengaduk rata dengan tusuk gigi










V. HASIL PENGAMATAN
Berikut ini hasil pengamatan golongan darah diambil dari beberapa probandus
NO KEL NAMA PROBANDUS GOLONGAN DARAH
1. I Nur Aini S. B
2. II Alif Fahamsyah B
3. III Putri Utami A
4. IV Aini Wardatut AB
5. V Uvi Sugiati B
6. VI Lailatul Makrifah B



VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengamatan mengenai
golongan darah pada manusia. Sistem yang kami gunakan dalam pengamatan
adalah sistem ABO. Dalam sistem ini terdapat empat macam golongan darah
yaitu A, B, AB dan O.
Dalam melakukan pengamatan kami menggunakan 6 orang probandus
yang diambil darahnya untuk kemudian diletakkan pada gelas obyek yang
sudah dibagi menjadi dua bagian. Kami menggunakan serum A dan serum B
dalam melakukan pengujian golongan darah. Serum A pada saat percobaan
berwarna biru dan serum B berwarna kuning.
Darah akan menggumpal jika kita tetesi anti serum A dan anti serum B.
Sehingga fungsi dari anti serum A dan anti serum B adalah untuk mengetahui
apakah darah akan menggumpal atau tidak, ketika bertemu dengan anti serum
A dan anti serum B atau bisa dikatakan untuk mencari aglutinogen (zat yang
digumpalkan). Penggolongan darah ini berfungsi pada saat donor darah, yaitu
Melakukan juga seperti langkah ke-4
Membandingkan kedua bagian A dan B pada gelas
obyek

mengetahui golongan darah yang sesuai untuk kita berikan dan kita terima
dalam proses transfusi darah.
Darah yang memiliki aglutinogen A apabila ditetesi serum anti-A akan
menggumpal. Dan darah yang memiliki aglutinogen B dalam darahnya jika
ditetesi anti-B tidak akan menggumpal. Dan orang seperti itu mempunyai
golongan darah A. Sebaliknya,jika darah yang memiliki aglutinogen B apabila
ditetesi serum anti-B akan menggumpal. Dan darah yang mempunyai
aglutinogen B apabila ditetesi serum anti-A maka tidak akan terjadi
penggumpalan. Dan golongan darah orang tersebut adalah B.
Probandus pertama, Nur Aini memiliki darah yang tidak mengalami
penggumpalan ketika ditetesi dengan serum anti-A, namun mengalami
penggumpalan ketika ditetesi serum anti-B. Hal ini menunjukkan bahwa di
dalam eritrositnya hanya terdapat aglutinogen B,sehingga ia dikatakan
memiliki golongan darah B.
Probandus kedua sama seperti probandus pertama, Alif Fahamsyah
memiliki darah yang tidak mengalami penggumpalan ketika ditetesi dengan
serum anti-A, namun mengalami penggumpalan ketika ditetesi serum anti-B.
Hal ini menunjukkan bahwa di dalam eritrositnya hanya terdapat aglutinogen
B,sehingga ia dikatakan memiliki golongan darah B.
Probandus ketiga, Putri Utami memiliki darah yang mengalami
penggumpalan ketika ditetesi dengan serum anti-A, namun tidak mengalami
penggumpalan ketika ditetesi serum anti-B. Hal ini menunjukkan bahwa di
dalam eritrositnya hanya terdapat aglutinogen A,sehingga ia dikatakan
memiliki golongan darah A.
Probandus keempat, Aini Wardatut memiliki darah yang mengalami
penggumpalan baik ketika ditetesi dengan serum anti-A maupun serum anti-B.
Hal ini menunjukkan bahwa di dalam eritrositnya terdapat aglutinogen A dan
B, sehingga ia dikatakan memiliki golongan darah AB.
Untuk probandus kelima dan keenam sama halnya seperti probandus
pertama dan kedua, Uvi Sugiati dan Lailatul Makrifah memiliki darah yang
tidak mengalami penggumpalan ketika ditetesi dengan serum anti-A, namun
mengalami penggumpalan ketika ditetesi serum anti-B. Hal ini menunjukkan
bahwa di dalam eritrositnya hanya terdapat aglutinogen B,sehingga mereka
dikatakan memiliki golongan darah B.




Dari pengamatan tersebut diketahui bahwa dari 6 orang probandus, 4
orang probandus memiliki golongan darah B, 1 orang probandus memiliki
golongan darah A dan 1 orang probandus lainnya memiliki golongan darah
AB. Di dalam tubuh 4 orang probandus bergolongan darah B memiliki darah
dengan kandungan aglutinogen (bersifat antigen) B pada membran plasma sel-
sel darah merahnya, ini terkait dengan golongan darah B yang bertanggung
jawab menghasilkan aglutinogen (antigen) B. Selain itu memiliki antibodi
anti-A di dalam serumnya.
Pada saat anti-B diteteskan, terjadi percampuran antara aglutinogen B
dan anti-B di dalam darah yang menyebabkan aglutinasi (penggumpalan).
Awalnya aglutinin (antibodi) anti-B melekatkan diri pada eritrosit. Karena
aglutinin anti-B memiliki dua pengikatan atau 10 pengikatan, maka satu
aglutinin anti-B dapat mengikat satu atau lebih aglutinogen B dalam eritrosit
yang berbeda-beda pada waktu yang sama, sehingga menyebabkan sel
melekat satu sama lain dan terjadilah penggumpalan.
Selanjutnya 1 orang probandus bergolongan darah A memiliki darah
dengan kandungan aglutinogen (bersifat antigen) A pada membran plasma
sel-sel darah merahnya, ini terkait dengan golongan darah A yang
bertanggung jawab menghasilkan aglutinogen A. Selain itu memiliki antibodi
anti-B di dalam serumnya. Ketika darah diteteskan dengan anti-A, terjadi
percampuran antara aglutinogen A dan anti-A di dalam darah yang
menyebabkan aglutinasi. Sehingga terjadi pelekatan sel-sel darah sebagai
faktor penyebab penggumpalan.
Lain halnya dengan 1 orang probandus yang memiliki golongan darah
AB. Di dalam tubuhnya orang bergolongan darah AB mengalir darah yang
memiliki aglutinogen (bersifat antigen) A dan B di dalam membran sel-sel
darah merahnya, hal ini terkait dengan golongan darah AB yang menghasilkan
aglutinogen (antigen) jenis A dan B. Namun mempunyai antibodi anti-A dan
anti-B di dalam serumnya. Pada saat darah ditetesi dengan anti-A dan anti-B
terjadi aglutinasi pada antigen A maupun B karena ada aglutinogen yang
dapat diikat oleh aglutinin.Sehingga terjadi pelekatan sel-sel darah sebagai
faktor penyebab penggumpalan (aglutinasi). Hal ini yang menyebabkan
golongan darah AB dapat menerima darah dari seluruh golongan (resipien
universal) karena memiliki antigen A dan B di permukaan eritrositnya.
Dalam pengamatan pada keenam orang probandus tidak ditemukan
probandus yang bergolongan darah O. Pada orang bergolongan darah O, saat
darah ditetesi dengan anti-A dan anti-B tidak terjadi aglutinasi pada antigen A
maupun B karena tidak ada aglutinogen yang dapat diikat oleh
aglutinin.Sehingga tidak terjadi pelekatan sel-sel darah sebagai faktor
penyebab penggumpalan (aglutinasi).
Hal ini yang menyebabkan golongan darah O dapat memberikan
darahnya kepada resipien bergolongan darah apa saja karena memiliki
antibodi anti-A dan anti-B (donor universal).


VII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat di ambil kesimpulan
sebagai berikut:
Penggolongan darah pada manusia terdiri dari dua sistem,
penggolongan sistem ABO dan penggolongan sistem rhesus. Penggolongan
darah sistem ABO ditentukan berdasarkan terdapatnya aglutinogen dan
aglutinin yang ada di dalam darah.
Golongan darah A adalah golongan darah yang mengandung
aglutinogen atau antigen A dan mengandung aglutinin B. Golongan darah B
mengandung aglutinogen B dan mengandung aglutinin A. Darah AB
mengandung aglutinogen A maupun aglutinogen B, dan tidak mengandung
aglutinin A maupun aglutinin B. Sedangkan darah O tidak mengandung
aglutinogen A maupun aglutinogen B, tetapi mengandung aglutinin A dan
aglutinin B.
Golongan darah O bisa mendonor ke semua golongan darah dan disebut
sebagai donor universal. Dan golongan darah AB bisa menerima semua
golongan darah, sehingga disebut sebagai resipien universal.










VIII. DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto. 2013. Macam-macam Penggolongan Golongan Darah pada
Manusia.http://budisma.web.id/materi/sma/kelas-xi-biologi/macam-macam-
penggolangan-golongan-darah-manusia/ [diakses pada 21 April 2013 pukul
09.58 WIB]
Novia, Ulva. 2011. Darah. http://www.scribd.com/doc/53793579/darah [di
akses pada 21 April 2013 pukul 09.56 WIB]
Sloane, ethel. 1994. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran.
Smith, L., A. 1994. Kamus Ringkas Kedokteran. Jakarta: Erlangga.
Waluyo, Joko. 2010. Biologi Umum. Jember: Universitas Jember.


























Lampiran

No. Nama
probandus
Gol.
darah
Gambar Keterangan
1. Nur Aini S. B

Terjadi penggumpalan
hanya pada bagian B
(kanan).
2. Alif F. B

Terjadi penggumpalan
hanya pada bagian B
(kanan).
3. Putri Utami A

Terjadi penggumpalan
hanya pada bagian A
(kiri).
4. Aini W. AB

Terjadi penggumpalan
baik pada bagian A
(kiri) maupun bagian
B (kanan).
5. Uvi Sugiati B

Terjadi penggumpalan
hanya pada bagian B
(kanan).
6. Lailatul M. B

Terjadi penggumpalan
hanya pada bagian B
(kanan).