You are on page 1of 2

PROPOSAL SEMINAR NASIONAL

IKATAN ALUMNI FAKULTAS MIFA UIM
A. Alas Pikir
Setelah terlepas dari perhelatan akbar tahun pesta demokrasi, negeri ini akan
dihadapkan dengan sesuatu yang tidak kalah besarnya di awal tahun 2015. Tahun 2015
akan menjadi awal pelaksanaan ASEAN FREE TRADE (AFTA). AFTA merupakan
sebuah tantangan besar yang akan menjadi salah satu corong perhatian negeri ini. AFTA
yang merupakan system integrasi ekonomi kawasan regional layaknya telah diterapkan
pula di Uni Eropa akan digelar di ASEAN. Uni Eropa merupakan contoh konkret
integrasi ekonomi kawasan regional, namun tentu saja AFTA dan Uni Eropa berbeda.
Menurut menteri perekonomian Hatta Rajasa, AFTA adalah sebuah komunitas karena
ada aturan yang mengikat kita secara internal (Rajasa, 2013).
Di tengah riuhnya pasar bebas ASEAN, tentu saja Farmasi Indonesia menemui
dampak yang cukup signifikan. Berbagai aspek yang terdapat dalam perdagangan bebas
ASEAN mau tidak mau harus menjadi perhatian karena dapat menjadi potensi atau
bahkan ancaman bagi dunia kefarmasian dalam negeri. Berbagai aspek baik jasa
keprofesian, barang atau bahkan penelitian dan pengembangan dunia farmasi akan
terkena dampak dari pasar bebas tersebut baik langsung maupun tidak langsung. Menilik
hal tersebut sudah sepadam bagi kita untuk mempersiapkan diri lebih terhadap ASEAN
FREE TRADE AREA.
Ada beberapa aspek yang perlu dilihat bersama tentang dinamika perkembangan
dunia farmasi di Indonesia.
KURIKULUM PENDIDIKAN FARMASI BERBASIS KOMPETENSI
Berbagai perkembangan yang terjadi di tingkat nasional maupun global
diantarannya meningkatnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang bermutu, arus
globalisasi yang sangat besar pengaruhnya terhadap penyelenggaraan pendidikan dan
mutu lulusan, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat
menuntut pendidikan tinggi farmasi Indonesia untuk melakukan perubahan yang sangat
mendasar agar dapat menghadapi berbagai tantangan yang ada. Arus globalisasi yang
memungkinkan mobilitas tenaga kesehatan antar tenaga dapat menjadi ancaman, namun
juga merupakan peluang bagi tenaga kefarmasian kita untuk dapat berkiprah di luar
negeri. Kondisi ini merupakan tantangan yang tidak ringan bagi institusi pendidikan
farmasi dan pemangku kepentingan lainnya untuk menghasilkan tenaga kefarmasian yang
bermutu, dalam jumlah yang cukup dan tersebar merata, serta relean dengan kebutuhan
kesehatan masyarakat.
Permasalahan yang dihadapi pendidikan tinggi farmasi Indonesia saat ini antara
lain : (a) adanya kesenjangan mutu yang cukup lebar antar institusi pendidikan tinggi
farmasi (b) Orientasi kurikulum pendidikan tinggi farmasi belum mampu menjawab
perkembangan kebutuhan masyarakat, (c) Minimnya modal pendidikan/investasi, biaya
per-unit. Sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia, (d) Belom tersediannya model
uji kompetensi untuk standarisasi lulusan pendidikan tinggi farmasi, mauoun (e)
Minimnya perhatian dan/atau dukungan pemerintah pada pengembangan pendidikan
tinggi farmasi. Berbagai permasalahan ini berpengaruh pada kelayakan penyelenggaraan
pendidikan farmasi yang berdampak langsung pada kompetensi lulusan. Untuk
menghadapi kondisi ini. Diperlukan penataan system pendidikan tenaga kefarmasian
yang mendasar agar dapat mengatasi kompleksitas permasalahan yang saat ini sekaligus
mengantisipasi kebutuhan di masa depan.
PELAYANAN FARMASIS DI RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan,