You are on page 1of 14

.

PEMERIKSAAN FISIK
Tehnik yang biasanya dipergunakan dalam pemeriksaan oftalmologis adalah
inspeksi dan palpasi. Inspeksi visual dilakukan dengan instrumen oftalmik khusus dan
sumber cahaya. Palpasi bisa dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata dan deformitas
dan untuk mengeluarkan cairan dari puncta. Palpasi juga dilakukan untuk mendeteksi
secara kasar(jelas terlihat ) tingkat tekanan intraokuler.
Seperti pada semua pemeriksaan fisik, perawat menggunakan pendekatan
sitematis, biasanya dari luar ke dalam. Struktur eksternal mata dan bola mata di evaluasi
lebih dahulu, kemudian diperiksa struktur internal. Struktur eksternal mata diperiksa
terutama dengan inspeksi. Struktur ini meliputi alis, kelopak mata, bulu mata, aparatus
maksilaris, konjungtiva, kornea, kamera anterior, iris, dan pupil.
Ketika melakukan pemeriksaan dari luar ke dalam, perawat :
a. Melakukan obsevasi keadaan umum mata dari jauh.
b. Alis diobsevasi mengenai kuantitas dan penyebaran rambutnya. Kelopak mata diinspeksi
warna,keadaan kulit, dan ada tidaknya serta arahnya tumbuhnya bulu mata.
c. Catat adanya jaringan parut, pembengkakan, lepuh, laserasi, cedera lain dan adanya
benda asing.


















G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Kartu mata snellen/mesin telebinokular (test ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea,lensa, akueus atau vitreus
humor, kesalahan refraksi, atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau jalan
optik.
2. Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh CSV, massa tumor pada
hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
3. Pengukuran tonografi : mengkaji intraorkuler (TIO)(NORMAL 12-25 mm Hg).
Pengukuran gonioskopi : membantu membedakan sudut terbuka atau sudut
tertutup glaukoma.
4. Test provokatif : digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaukoma bila TIO
normal atau hanya meningkat ringan.
5. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng
optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan
belahan-lampu memastikan diagnosa katarak.
6. Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukan anemia sistemik/ infeksi.
EKG, kolestrol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan
arterosklerosis, PAK.
7. Test toleransi glaukosa/ FBS : menentukan adanya/kontrol diabetes.







H. PENATALAKSANAAN

Tidak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat diambil dengan pembesaran
laser. Namun, masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru
yang dapat digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar
melalui kanula (Pokalo, 1992).
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan reflaksi kuat sampai titik
dimana pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya
konservatif. pentingnya di kaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien.
Mengkaji derajat gangguan fungsi sehari-hari, seperti berdandan, ambulasi, aktifitas
rekreasi, menyetir mobil, dan kemampuan bekerja, sangat penting untuk menentukkan
terapi mana yang paling cocok bagi masing-masing penderita.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk
berkerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang
terbaik dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi, bila pandangan tajam
mempengaruhi keamanan atau kwalitas hidup, atau bila virsualisasi segmen posterior
sangat perlu mengevalusi perkembangan berbagi penyakit retina atau saraf optikus, seperti
pada diabetes dan glaukoma.
Pembedahan katarak adalah pembedahan yang sering dilakukan pada orang
berusia lebih dari 65. masa kini, katarak paling sering diangkat dengan anestesia lokal
berdasar pasien rawat jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis.
Keberhasilan pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95% pasien.
Pengamblian keputusan untuk menjalani pembedahan sangat individual sifatnya.
Dukungan finansial dan psikososial dan konsekuensi pembedahan harus dievaluasi, karena
sangat penting untuk penatalaksanaan pasien pasca operasi.
Kebanyakan operasi dilakukan dengan anestesi lokal (retrobulbar atau peribulbar),
yang dapat mengimobilisasi mata. Obat penghilang cemas dapat diberikan untuk mengatasi
perasaan klaustreofobia sehubungan dengan graping bedah. Anestesi umum diperlukan
bagi yang tidak bisa menerima anestesi lokal, yang tidak mampu bekerjasama dengan
alasan fisik atau psikologis, atau yang tidak berespon terhadap anestesi lokal.
Ada dua macam teknik pembedahan tersedia untuk pengangkatan katarak: ekstrasi
intrakapsuler dan ekstrakapsuler. Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan
yang mempengaruhi aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabakan glaukoma
atau mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti retinopatidiabetika.



I. PENCEGAHAN

Perawat sebagai anggota penting tim perawatan kesehatan, dan sebagai pendidik
dan praktiksi kebiasaan kesehatan yang baik, dapat memberikan pendidikan dalam hal
asuhan mata, keamanan mata, dan pencegahan penyakit mata. Perawat dapat mencegah
membantu orang belajar bagaimana mencegah kontaminasi silang atau penyebaran
penyakit infeksi kepada orang lain melalui praktek higiene yang baik. Perawat dapat
mendorong pasien melakukan pemeriksaan berkala dan dapat merekomendasikan cara
mencegah cedera mata.
Kapan dan seringnya mata seseorang harus diperiksa tergantung pada usia pasien,
faktor resiko terhadap penyakit dan gejala orkuler. Orang yang mengalami gejala orkuler
harus segera menjalani pemeriksaan mata. Mereka yang tidak mengalami gejala tetapi
yang berisiko mengalami penyakit mata orkuler harus menjalani pemeriksaan mata berkala.
Pasien yang menggunakan obat yang dapat mempengaruhi mata, seperti kortekosteroid,
hidrokksikloroquin sulfat, tioridasin HCI, atau amiodarone, harus diperiksa secara teratur.
Yang lainya harus menjalani evaluasi glaukoma rutin pada usia 35 dan reevaluasi berkala
setiap 2 sampai 5 tahun.




J. KOMPLIKASI

Ambliopia sensori, penyulit yang terjadi berupa : visus tidak akan mencapai 5/5.
Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus dan bila katarak dibiarkan maka akan
mengganggu penglihatan dan akan menimbulkan komplikasi berupa glukoma dan uveitis.






















BAB III
ASKEP KATARAK




A. PENGKAJIAN

Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah
1. Identitas
Nama : Tn./Ny./ An
Usia : Bisa terjadi pada semua umur
Jenis kelamin : laki-laki dan perempuan
Alamat :
Dan keterangan lain mengenai identitas pasien. Pada katarak kongenital biasanya terlihat
pada usia dibawah 1 tahun, sedangkan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia
<40 tahun, pasien dengan katarak persenil terjadi pada usia sesudah 30 – 40 tahun,dan
pasien dengan katarak senilis terjadi pada usia >40 tahun.



2. Keluhan utama:
- Penglihatan kabur
- Persepsi warna turun
- Diplopia dan visus menurun
- Ada hailo
- Penglihatan memburuk pada siang hari/silau
- Mata basah
Perawat harus menentukan apakah masalahnya hanya mengenai satu atau dua mata dan
berapa lama pasien sudah menderita kelainan ini.






3. Riwayat penyakit dahulu
- Akibat trauma
- Akibat radasi
- Penggunaan kortikosteroid yang lama
- Kelainan congenital
- Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh pasien seperti DM, hipertensi,
pembedahan mata sebelumnya , dan penyakit metabolic lainya yang memicu resiko
katarak.


4. Riwayat penyakit sekarang
- Penglihatan kabur
- Persepsi warna turun
- Diplopia dan visus menurun
- Ada hailo
- Penglihatan memburuk pada siang hari
Merupakan penjelasan dari keluhan utama.

5. Riwayat keluarga
- Katarak bisa karena kongenital
- Adanya riwayat kelainan mata famili derajat pertama.

Pemahaman pasien mengenai perawatan harus digali untuk mengidentifikasi kesalahan
konsepsi atau kesalahan informasi yang dapat dikoreksi sejak awal.






B. DATA DASAR PENGKAJIAN

1. Aktifitas/istirahat
- Gejala : perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan.

2. Makanan/cairan
- Gejala : muntah/mual (glaukoma akut ).

3. Neurosensori
- Gejala : gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau
dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan
dekat/ merasa di ruang gelap (katarak). Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran
cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotopobia (glaukoma akut ).
Perubahan kacamata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
- Tanda : tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil ( katarak ). Pupil menyempit
dan merah/mata keras dengan kornea berawan ( glaukoma darurat ). Peningkatan air mata.

4. Nyeri/ketidaknyamanan
- Gejala : ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis). Nyeri tiba-tiba/
berat menetap atau tekanan pada sekitar mata,sakit kepala (glaukoma akut).

5. Penyuluhan/ pembelajaran
- Gejala : Riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler. Riwayat
stres, alergi, gangguan vasomotor,(contoh peningkatan tekanan vena ), ketidakseimbangan
endokrin, diabetes (glaukoma). Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.













C. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi
1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori atau status organ indera.
2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan –
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak
mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif.
4. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan
5. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.










b. Post operasi

1. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi.
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasif insisi jaringan tubuh
3. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori atau status organ indera.
4. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan –
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN

 Diagnosa 1
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan visus
Tujuan : menunjukkan perubahan prilaku pola hidup untuk menurunkan faktor resiko
dan untuk melindungi diri dari cedera.
Intervensi Rasional
1. Diskusi tentang pembatasan aktivitas


2. Ambulasi dengan bantuan berikan kamar
mandi khusus

3. Dorong nafas dalam bentuk untuk bersihan
paru
4. Anjurkan menggunakan teknik manajemen
stres, contoh bimbingan imajinasi,
visualisasi, nafas dalam dan latihan relaksasi
5. Pertahankan perlindungan mata sesuai
indikasi

6. Berikan obat sesuai indikasi antiemetic
1. Membantu mengurangi rasa takut dan
meningkatkan kerja sama dalam pembatasan
yang diperlukan
2. Memerlukan sedikit dari pada pispot yang
dapat menyebabkan TIO

3. Batuk meningkatkan TIO

4. Meningkatkan relaksasi dan koping
menurunkan TIO


5. Digunakan untuk melindungi dari cidera dari
kecelakaan untuk menurunkan gerakan mata
6. Mual/muntah dapat meningkatkan TIO,
memerlukan tindakan segera untuk
mencegah cidera okuler




 Diagnosa 2
Infeksi resiko tinggi terhadap prosedur invasif
Tujuan : menunjukkan perubahan prilaku pola hidup dan meningkatkan penyembuhan
luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema, dan demam serta
mencegah/menurunkan resiko infeksi.
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Diskusikan pentingnya mencuci tangan
sebelum menyentuh/mengobati mata
2. Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk
membersihkan mata dari dalam ke luar dengan
tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti
balutan, dan masukkan lensa kontak bila

3. Menurunkan jumlah bakteri pada tangan,
mencegah area kontaminasi area operasi
4. Teknik aseptic menurunkan resiko penyebaran
bakteri dan kontaminasi silang


menggunakan.
3. Tekankan pentingnya tidak
menyentuh/menggaruk mata yang dioperasi.
4. Observasi tanda terjadinya infeksi contoh
kemerahan, kelopak bengkak, drainase
purulen. Identifikasi tindakan kewaspadaan
bila terjadi ISK.

Kolaborasi
1. Berikan obat sesuai indikasi:
Antibiotik (topical, parenteral, atau
subkonjungtival)
2. Steroid
5. Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi
operasi

6. Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur
dan memerlikan upaya intervensi. Adanya ISK
meningkatkan adanya resiko kontaminasi
silang.


1. Topikal digunakan secara profilaksis, dimana
terapi lebih agresif diperlukan bila terjadi
infeksi.
2. Digunakan untuk menurunkan inflamasi.


 Diagnosa 3
Intoleransi aktivitas berhubunan denan peningkatan TIO
Tujuan : menyatakan pemahaman faktor yang terlibat kemungkinan cedera
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi
tentang nyeri pembatasan aktivitas,
penampilan, balutan mata
2. Beri pasien posisi bersandar, atau miring ke
sisi yang tidak sakit sesuai keinginan





3. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala
tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk
4. Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar
mandi khusus bila sembuh dari anestesi
5. Dorong nafas dalam, batuk untuk bersih paru
6. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi

7. Minta pasien untuk membedakan antara

1. Membantu mengurangi rasa takut dan
meningkatkan kerja sama dalam pembatasan
yang diperlukan
2. Istirahat beberapa menit sampai beberapa jam
pada bedah rawat jalan atau menginap
semalam bila terjadi komplikasi. Menurunkan
tekanan pada mata yang sakit, meminimalkan
resiko perdarahan atau stres pada jahitan
terbuka
3. Menurunkan stress pada area
operasi/menurunkan tio

4. Memerlukan sedikit regangan dari pada
penggunaan pispot yang dapat meningkatkan
tio
5. Meningkatkan relaksasi dan koping,
menurunkan TIO
6. Digunakan untuk melindungi dari cedera
ketidaknyamanan dan nyeri mata tajam tiba-
tiba. Selidiki kegelisahan, disorientasi,
gangguan balutan. Observasi hipema
(perdarahan pada mata) pada mata dengan
senter sesuai indikasi.
8. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior
kempes, pupil berbentuk buah pir.

Kolaborasi
1. Berikan antiemetik sesuai indikasi


2. Berikan analgesic
kecelakaan dan menurunkan gerakan mata
7. Ketidaknyamanan mungkin karena prosedur
pembedahan, nyeri akut menunjukkan TIO
atau perdarahan, terjadi karena regangan .


8. Menunjukkan proptar iris atau rupture luka
disebabkan oleh kerusakan jahitan atau tekanan
mata.


1. Mual/muntah dapat meningkatkan TIO,
memerlukan tindakan segera untuk mencegah
cedera intraokuler.
2. Digunakan untuk ketidaknyamanan ringan,
meningkatkan istirahat/mencegah gelisah yang
dapat mempengaruhi TIO.

 Diagnosa 4
Perubahan sensori perseptual (visual) yang berhubungan dengan kekeruhan pada
lensa mata.
Tujuan : klien akan mendemontrasikan peningkatan kemampuan untuk memproses
rangsangan visual dan mengomunikasikan pembatasan pandangan.
Intervensi Rasional
1. Kaji dan dokumentasikan ketajaman
penglihatan (visus) dasar
2. Dapatkan deskripsi fungsi tentang apa yang
bisa dan tidak bisa dilihat oleh klien
3. Adaptasikan lingkungan dengan
kebutuhan visual klien dengan cara
orientasikan klien padalingkungan
4. Letakkan alat-alat yang sering digunakan
dalam pandangan klien (seperti, tv control,
teko, tisu)
5. Berikan pencahayaan yang paling sesuai
dengan klien

6. Cegah glare (sinar yang menyilaukan)
1. Menentukan seberapa bagus visus klien

2. Memberikan data dasar tentang pandangan
akurat klien dan bagaimana hal tersebut
memengaruhi perawatan
3. Memfasilitasi kebebasan bergerak dengan
aman

4. Mengemambangkan tindakan indevenden dan
meningkatkan keamanan
5. Meningkatkan penglihatan klien lokasi katarak
akan memengaruhi apakah cahaya gelap atau
terang yang lebih baik
6. Mencegah distres. Katarak akan memecah


7. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah
satu atau kedua mata terlibat



8. Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, birara
dan menyentuh sering

9. Orientasikan pasien terhadap lingkungan dan
orang lain di areanya

10. Ingatkan pasien menggunakan kacamata
katarak yang tujuannya memperbesar kurang
lebih 25%, penglihatan ferifer hilang. Dan buta
titik mungkin ada

11. Perhatikan tentang suram atau penglihatan
kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi
bila menggunakan tetes mata

12. Letakkan barang yang dibutuhkan dalam
jangkauan pada sisi yang tak dioperasi
sinar lampu yang akan menyebabkan distres
7. Kehilangan pengihatan terjadi lambat dan
progresif, tiap mata dapat berlanjut dengan laju
yang berbeda, tetapi biasanya hanya satu mata
yang diperbaiki per prosedur.
8. Memberikan rangsangan sensori tepat terhadap
isolasi dan menurunkan bingung
9. Memberikan peningkatan kenyamanan,
menurunkan cemas dan disorientasi
pascaoperasi
10. Perubahan ketajaman penglihatan dan
kedalaman persepsi dapat menyebabkan
bingung penglihatan/ meningkatkan resiko
cedera sampai pasien belajar untuk
mengkompensasi

11. Gangguan penglihatan iritasi dapat berakhir 1-
2 jam setelah tetesan mata tetapi secara
bertahap menurun dengan penggunaan

12. Memungkinkan pasien melihat objek lebih
mudah







 Diagnosa 5
Ansietas berdasarkan kehilangan penglihatan
Tujuan : tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat
diatasi
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat ansietas derajat pengalaman
nyeri/timbulnya secara tiba-tiba dan
1. Faktor ini mempengaruhi persepsi pasien
terhadap ancaman diri, potensial siklus ansietas
pengetahuan kondisi saat ini


2. Dorong pasien untuk mengukur masalah dan
mengekspresikan perasaan


3. Identifikasi sumber orang yang mendorong
dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk
mengontrol TIO
2. Memberikan kesempatan untuk pasien
menerima situasi nyata mengklasifikasi salah
satu konsepsi dan pemecahan masalah
3. Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak
sendiri dalam menghadapi masalah







 Diagnosa 6
Kurang pengetahuan berhubungn dengan perawatan/pengobatan
Tujuan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji informasi tentang kondisi individu,
prognosis, tipe prosedur lensa
2. Informasikan pasien untuk menghindari
tetes mata yang dijual bebas
3. Anjurkan pasien menghindari membaca,
berkedip, mengangkat berat, mengejan saat
defekasi, membongkok pada panggul,
meniup hidung, penggunaan sprey, bedak
bubuk, merokok
4. Tekankan kebutuhan untuk menggunakan
kaca pelindung selama hari pembedahan
atau penutup padaa malam
5. Anjurkan pasien tidur telentang mengatur
intensitas lampu dan menggunakan kaca
mata gelap bila keluar atau dalam ruangan
terang, batuk dengan mulut atau mata
terbuka
1. Meningkatkan pamahaman dan kerja sama
dengan program pasca operasi

2. Dapat bereaksi silang campur dengan obat
yang diberikan

3. Aktivitas yang menyebabkan mata lelah
atau regang atau meningkatkan TIO dapat
mempengaruhi hasil bedah dan
mencetuskan perdarahan


4. Mencegah cedera kecelakaan pada mata
dan menurunkan resiko peningkatan TIO
sehubungan dengan berkedip atau posisi
kepala
5. Mencegah cedera kecelakaan pada mata






E. Implementasi
Melaksanakan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan
dan dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien/pasien dan tergantung pada kondisinya.
Sasaran utama pasien meliputi peredaan nyeri, mengontrol ansietas, pencegahan
deteriosasi visual yang lebih berat , pemahaman dan penerimaan penanganan,
pemenuhan aktivitas perawatan diri, termasuk pemberian obat, pencegahan isolasi
sosial, dan tanpa komplikasi.

F. Evaluasi
Melakukan pengkajian kembali untuk mengetahui apakah semua tindakan yang
telah dilakukan dapat memberikan perbaikan status kesehatan terhadap klien. Hasil
yang diharapkan :
1. Mengalami peredaan nyeri.
2. Tampak tenang dan bebas dari ansietas.
3. Menghadapi keterbatasan dalam persepsi sensori.
4. Menerima program penanganan dan menjalankan anjuran secara aman dan tepat.
5. Mempraktikan aktifitas perawatan diri secara efektif.
6. Berpartisipasi dalam aktifitas diversional dan sosial.
7. Mengucapkan pemahaman program terapi, perawatan tindak lajut, dan kunjungan
ke dokter


Penggunaan Elektrokardiogram hanya dilakukan :
1. Sesuai indikasi / ketentuan
2. Atas instruksi dokter.


Langkah-langkah pemasangan EKG
1. Atur Posisi Pasien, posisi pasien diatur terlentang datar
2. Buka dan longgarkan pakaian pasien bagian atas, bila pasien memakai jam tangan, gelang,
logam lain agar dilepas
3. Bersihkan kotoran dengan menggunakan kapas pada daerah dada, kedua pergelangan
tangan dan kedua tungkai dilokasi manset elektroda.
4. Mengoleskan jelly pada permukaan elektroda.
5. Memasang manset elektroda pada kedua pergelangan tangan dan kedua tungkai.
6. Memasang arde.
7. Menghidupkan monitor Elektrokardiogram.
8. Menyambungkan kabel Elektrokardiogram pada kedua tungkai pergelangan tangan dan
kedua tungkai pergelangan kaki pasien, untuk rekaman ekstremitas lead (Lead I, II, III, AVR,
AVL, AVF) dengan cara :

 Warna merah pada pergelangan tangan kanan
 Warna hijau pada kaki kiri
 Warna hitam pada kaki kanan.
 Warna kuning pada pergelangan tangan kiri.
 Memasang elektroda dada untuk rekaman precardial lead
o V1 pada interkosta keempat garis sternum kanan
o V2 pada interkosta keempat garis sternum kiri
o V3 pada pertengahan V2 dan V4
o V4 pada interkosta kelima garis pertengahan clavikula kiri
o V5 pada axila sebelah depan kiri
o V6 pada axila sebelah belakang kiri

9. Melakukan kalibrasi dengan kecepatan 25 mili/detik
10. Bila rekaman Elektrokardiogram telah lengkap terekam, semua elektroda yang melekat
ditubuh pasien dilepas dan dibersihkan seperti semula.
11. Pasien dibantu merapihkan pakaian