You are on page 1of 10

RASULULLAH S.A.W.

KHUDWAH HASANAH

Sesungguhnya seseorang muslim yang beriman itu tidak akan sesat
selagi berpegang teguh kepada Al - Quran dan Sunnah (Hadis)
Rasullullah SAW.Sesiapa yang bercanggah tentang sesuatu perkara
dan hilang pedoman, kembalilah pada Al - Quran dan Hadis Rasullulah,
nescaya engkau pasti selamat. Semakin dekat hari Kiamat itu, maka
manusia akan semakin hilang pedoman, maka Al-Quran dan Hadis
Rasullullah yang akan membantu.


َ
م
ِ
ِ ب
ْ
ُ ت
ْ
ك
َ
س
َ
مَث
ْ
ن
ِ
ا ا
َ
م
ِ
ن
ْ
ي
َ
ر
ْ
م
َ
ا
ْ ُ
ك
ْ
ي
ِ
ف ُ ت
ْ
ك
َ
ر
َ
ت
ِ
ت
ّ
ن
ُ
س
َ
و
ِ
ا
َ
با
َ
ت
ِ
ك ا َ د
َ
ب
َ
ا ا
ْ
و
ّ
ل
ِ
ضَث
ْ
ن
َ
م ا
Aku tinggalkan kepadamu (umat Islam) dua perkara, apabila kamu berpegang
kepadanya nescaya kamu tidak akan sesat ,iaitu Kitab Allah (Al Quran) dan
Sunnahku
قي لسو هيلع ا لص ا لوسر تعس لاق ةملس نع لقا ام لع لقب نم لو
رانما نم هدعقم

أوبتيلف

Rasulullah s.a.w. bersabda :
"Barang siapa yang mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuucapkan
maka menepati tempat duduknya di neraka." (Hadith sahih riwayat
Muslim)


Hadith Riwayah dan Hadith Dirayah

1. Pengertian Hadith

 Hadith menurut bahasa Arab bererti baru yakni lawan dari al-
qadim yang bererti lama. Menurut ulama hadith, sunnah adalah
setiap sesuatu yang timbul dari nabi baik berupa perkataan,
perbuatan, ketetapan, sifat-sifat nabi atau perjalanan nabi baik
sebelum kerasulan ataupun setelah menjadi rasul.

 Al-sunnah menurut istilah ahli ushul adalah setiap sesuatu yang
timbul dari nabi yang selain al-Quran dan al-hadith baik berupa
perbuatan, perkataan, ketetapan yang layak dijadikan dalil untuk
menggali hukum syar‟i.

 Hadith adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi
Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-
sifat, keadaan dan himmahnya.

 Hadits Menurut Ahli Hadith:Segala ucapan, perbuatan dan
keadaan Nabi s.a.w. Hadith Menurut Ahli Ushul Hadits: Segala
perkataan perbuatan dan taqrir Nabi yang bersangkutan dengan
hukum. Ilmu Hadith adalah:Ilmu yang menerangkan segala yang
dinukilkan yang disandarkan kepada Nabi Atau kepada sahabat
dan tabi‟in baik berupa perkataan, perbuatan taqrir maupun
sifatnya.

 Taqrir adalah perbuatan atau keadaan sahabat yang diketahui
Rosulullah dan beliau mendiamkannya atau mengisyaratkan
sesuatu yang menunjukkan perkenannya atau beliau tidak
menunjukkan pengingkarannya.Himmah adalah hasrat beliau yang
belum terealisir, contohnya hadits riwayat Ibnu Abbas : “Dikala
Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari „Asyura dan memerintahkan
untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka
berkata : „Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan
oleh Yahudi dan Nasrani‟, Rasulullah menyahuti : „Tahun yang
akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan‟.”
(Riwayat Muslim dan Abu Daud) tetapi Rasulullah tidak sempat
merealisasikannya, disebabkan beliau telah wafat.

 Khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi dan
para sahabat, jadi setiap hadits termasuk khabar tetapi tidak setiap
khabar adalah hadith. Atsar adalah segala sesuatu yang lebih
umum dari hadits dan khabar, yaitu termasuk perkataan tabi‟in,
tabi‟it-tabi‟in dan para ulama salaf. Biasanya perkataan yang
disandarkan atau berasal dari selain Nabi disebut atsar.


 Sunnah adalah Jalan hidup atau kebiasaan yang ditempuh dalam
berbuat dan ber‟itiqad (berkeyakinan). Dikatakan sunnah Nabi jika
itu disyariatkan, ditempuh dan diridloi oleh Nabi. Segala yang
dinukilkan dari Nabi Saw baik berupa perkataan, perbuatan, maun
taqrir, pengajaran, perjananan hidup, Nabi saw sebelum diangkat
rasul maupun sesudahnya. Menurut ahli Ushul Fiqh ialah segala
yang dinukilkan dari Nabi saw baik berupa perkataan perbuatan
maupun taqrir yang berkaitan dengan hukum.
Hadits Qudsi adalah hadith yang mengandung kalimat langsung
perkataan Allah, cirinya dimulai dengan “Allah berkata…”
Perbedaan Hadith Qudsi dengan Al-Qur’an :

1. Semua lafaz ayat-ayat Al-Qur‟an adalah mukjizat dan mutawatir,
sedang Hadith Qudsi tidak.
2. Perlakuan terhadap Al-Quran - dilarang menyentuhnya bagi yang
berhadas kecil, dilarang membacanya bagi yang berhadas besar-
tidak bagi Hadith Qudsi.
3. Membaca Al-Quran setiap hurufnya mendatangkan pahala, sedang
membaca Hadith Qudsi tidak.
4. Al-Quran semua susunan kata-katanya berasal dari Allah, sedangkan
Hadith Qudsi kata-katanya terserah Rasulullah.

2. Jenis-Jenis Ilmu Hadith

Ilmu hadith terdapat dua jenis iaitu Ilmu Hadith Riwayah dan Ilmu
Hadits Dirayah.
 Hadith Riwayah

Ilmu hadis riwayah ialah ilmu yang membahas tentang penukilan
sesuatu yang disandarkan pada nabi yang meliputi perkataan,
perbuatan, ketetapan dan sifat-sifat Nabi dengan melalui periwayatan
yang benar serta analisa yang mendalam.

Dengan demikian, objek dari pembahasan ilmu hadis riwayah adalah
perkataan, perbuatan, ketetapan dan sifat-sifat nabi SAW, Dilihat dari
segi periwayahannya yang mendalam. Dalam hadits Riwayah terdapat
dua cara, yakni :
A. Hadits Riwayah Bil-Lafdzi
Meriwayatkan hadits dengan lafadz adalah meriwayatkan hadits sesuai
dengan lafadz yang mereka terima dari Nabi saw dan mereka hafal
benar lafadz dari Nabi tersebut. Atau dengan kata lain meriwayatkan
dengan lafadz yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadits dengan
lafadz ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima
langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada
saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.
Hadits yang menggunakan lafadz-lafadz di atas memberikan indikasi,
bahwa para sahabat langsung bertemu dengan Nabi saw dalam
meriwayatkan hadits. Oleh karenanya para ulama menetapkan hadits
yang diterima dengan cara itu menjadi hujjah, dengan tidak ada khilaf.
B. Hadits Riwayah Bil-Ma’na
Meriwayatkan hadits dengan makna adalah meriwayatkan hadits
dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh
orang yang meriwayatkan. Atau dengan kata lain apa yang diucapkan
oleh Rasulullah hanya dipahami maksudnya saja, lalu disampaikan oleh
para sahabat dengan lafadz atau susunan redaksi mereka sendiri. Hal
ini dikarenakan para sahabat tidak sama daya ingatannya, ada yang
kuat dan ada pula yang lemah. Di samping itu kemungkinan masanya
sudah lama, sehingga yang masih ingat hanya maksudnya sementara
apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi.
 · Hukum Meriwayatkan Hadits Ma‟nawi
Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan meriwayatkan hadits
dengan cara ma‟nawi. Sebagian ahli hadits, ahli ushul dan ahli fiqh
mengharuskan para perawi meriwayatkan hadits dengan lafadznya yang
didengar, tidak boleh ia meriwayatkan hadits dengan maknanya sekali-
kali.
Jumhur ulama lain berpendapat membolehkan seseorang
mendatangkan atau meriwayatkan hadits dengan pengertiannya tidak
dengan lafadz aslinya. Kalau ia seorang yang penuh ilmunya tentang
Bahasa Arab dan mengetahui sistem penyampaiannya, berpandangan
luas tentang fiqh dan kemungkinannya lafadz-lafadz yang mempunyai
beberapa pengertian sehingga akan terjaga dari pemahaman yang
berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadits tersebut, kalau
tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadits hanya
dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafadz yang ia
dengar dari gurunya.
Secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa meriwayatkan hadits
dengan maknanya itu sebagai berikut:
1. Tidak diperbolehkan, pendapat segolongan ahli hadits, ahli fiqh dan
ushuliyyin.
2. Diperbolehkan, dengan syarat yang diriwayatkan itu bukan hadits
marfu‟.
3. Diperbolehkan, baik hadits itu marfu‟ atau bukan asal diyakini bahwa
hadits itu tidak menyalahi lafadz yang didengar, dalam arti pengertian
dan maksud hadits itu dapat mencakup dan tidak menyalahi.
4. Diperbolehkan, bagi para perawi yang tidak ingat lagi lafadz asli yang
ia dengar, kalau masih ingat maka tidak diperbolehkan menggantinya.
5. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hadits itu yang terpenting
adalah isi, maksud kandungan dan pengertiannya, masalah lafadz tidak
jadi persoalan. Jadi diperbolehkan mengganti lafadz dengan murodifnya.
6. Jika hadits itu tidak mengenai masalah ibadah atau yang diibadati,
umpamanya hadits mengenai ilmu dan sebagainya, maka diperbolehkan
dengan catatan:
a. Hanya pada periode sahabat
b. Bukan hadits yang sudah didewankan atau di bukukan
c. Tidak pada lafadz yang diibadati, umpamanya tentang lafadz
tasyahud dan qunut.
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa perbedaan antara hadits lafdzi
dengan hadits ma‟na adalah sedikit sekali, terletak hanya pada
periwayatan lain yang menjadi sumber sandarannya. Kalau
diumpamakan hadits itu sebuah kelompok, maka kumpulan kelompok
yang terdiri dari beberapa person (orang) adalah hadits
ma‟nawi, sedang orang perseorangnya dinamakan dengan hadits lafdzi.
2. Hadits Dirayah
Ulama hadits berbeda dalam memberikan definisi ilmu hadsit dirayah,
meskipun dari berbagai definisi itu ada kemiripan batasan-batasan
definisi. Ilmu hadits dirayah adalah pembahasan masalah untuk
mengetahui keadaan rawi dan yang diriwayahkan, apakah bisa diterima
atau ditolak. Ibn Akfani berpendapat, ilmu hadits dirayah adalah ilmu
yang dapat mengetahui hakikat riwayah, syarat-syarat, macam-macam
dan hukum-hukumnya, ilmu yang dapat mengetahui keadaan para rawi,
syarat-syarat rawi dan yang diriwayahkannya serta semua yang
berkaitan dengan periwayahannya.
Ulama lain berpendapat, ilmu hadits dirayah adalah ilmu undang-undang
yang dapat mengetahui keadaan sanad dan matan. Definisi ini lebih
pendek dari definisi di atas. Sedangkan definisi lain sebagaimana di
sebutkan ibnu hajar, definisi paling baik dari berbagai definisi ilmu hadits
dirayah adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dapat
memperkenalkan keadaan-keadaan rawi dan yang diriwayahkan.
Berbagai definisi di atas banyak kemiripan, pada dasarnya semua
definisi itu sama yakni pengetahuan tentang rawi dan yang diriwayahkan
atau sanad dan matannya baik juga berkaitan dengan pengetahuan
tentang syarat-syarat periwayahan, macam-macamnya atau hukum-
hukumnya. Istilah lain yang dipakai oleh ulama ahli hadits terhadap ilmu
hadits dirayah adalah ilmu ushul al-hadits. Pada mulanya pembahasan
yang menyangkut ilmu hadits dirayah sangat beragam. Kemudian
muncullah beberapa ilmu yang bertalian dengan kajian analisis dan
semuanya terangkum dalam satu nama, yakni ilmu hadits. Munculnya
berbagai ilmu tersebut diakibatkan banyaknya topik tentang hadits
dirayah tersebut dengan tujuan dan metodenya berbeda-beda. Berikut di
antara ilmu-ilmu yang bermunculan dari berbagai ragam topik ilmu
dirayah;
1. Ilmu Rijal Al-Hadits
2. Ilmu Jarah Wa Al-Ta‟dil
3. Ilmu Tarikh Ar-Ruwah (Tokoh-Tokoh Hadits)
4. Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits
5. Ilmu Ilal Al-Hadits
6. Ilmu Gharib Al-Hadits
7. Ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits
8. Ilmu Asbab Wurud Al-Hadia
9. Ilmu Tashif wat Tahrif







1)Ilmu Hadis Riwayah
2)Ilmu Hadis Dirayah.

ILMU HADIS RIWAYAH

Iaitu ilmu yang membahaskan tentang cara-cara menaqalkan apa saja
yang datang dari nabi samada perkataan nabi atau perbuatan nabi atau
diam setuju nabi atau sifat nabi samada sifat kejadian atau sifat akhlak
baginda secara terperinci.Melalui ilmu hadis riwayah ini seseorang dapat
mengetahui kehendak yang sebenar dari sesuatu hadis itu dan dengan
itu terpelihara daripada sebarang kesalahfahaman terhadap kehendak
sebenar hadis-hadis nabi sehingga amalan dan hukum yang di dasarkan
kepada sesuatu hadis itu menjadi tepat.

ILMU HADIS DIRAYAH.

Berkata Ibnu Al Akfani “Ilmu hadis yang tertentu dengan dirayah itu iaitu
suatu ilmu yang membicarakan tentang hakikat riwayat samada dari
segi syarat-syaratnya,jenis-jenisnya dan hukumnya.Begitu juga tentang
keadaan para perawi dan syarat-syarat yang mesti dimilikki oleh mereka
(para perawi) serta juga dibahaskan tentangpembahagian-pembahagian
hadis dan apa-apa yang berhubung dengannya.”
Kata yang lain “Iaitu ilmu yang dapat mengetahui kaedah-kaedah pada
mengenal sanad dan matan”
Kata Syekhul Islam Al Hafiz Ibnu Hajar “Sebaik-baik definisi bagi ilmu
hadis dirayah itu ialah mengetahui cara-cara mengenal tentang keadaan
perawi hadis dan hadis itu sendiri”
Kesimpulannya :Ilmu hadis yang khusus dengan ilmu hadis dirayah itu
ialah himpunan kaedah-kaedah dan masalah-masalah pada mengenal
para perawi hadis dan nilaian sesebuah hadis itu dari segi adakah
sesuatu hadis itu makbul(diterima) atau mardud(tertolak).
Adapun tempat perbahasan ilmu hadis dirayah itu ialah di sekitar sanad
dan matannya.Dari segi sanad dibahaskan tentang keadaan setiap
seorang daripada perawi,adakah sesuatu sanad itu bersambung atau
terputus dan lain-lain sebagainya.Dari segi matan pula dibahaskan
samada sesuatu hadis itu sahih atau daif dan apa-apa yang berhubung
dengannya.
Berdasarkan kepada definisi ilmu hadis riwayah dan dirayah ini dapat
dibuat kesimpulan bahawa kedua-duanya saling berkait rapat dan yang
satu tidak dapat berdiri sendiri tanpa yang lain.Tidak ada riwayah tanpa
dirayah dan apabila sempurna dirayah maka akan sempurna jugalah
riwayah.
Ilmu hadis dirayah juga dikenali dengan beberapa nama seperti Ulumul
Hadis,Mustalahul Hadis dan Usulul Hadis.

KEPENTINGAN ILMU USULUL HADIS

1)Untuk mengenal dan membuat klasifikasi terhadap hadis-hadis
misalnya untuk membezakan antara hadis-hadis yang cacat dengan
yang sejahtera,yang daif dengan yang sahih,yang mauquf dengan yang
marfu‟ dan yang makbul(diterima) dengan yang mardud(ditolak)
2)Membantu umat Islam dalam hal menjadikan RasuluLlah salallaLlahu
alaihi wasalllam sebagai ikutan secara sempurna dan tepat.
3)Suatu ilmu yang unggul yang dikhususkan Allah hanya kepada umat
Nabi Muhammad sallaLlahu alaihi wasallam sahaja yang mana umat-
umat terdahulu tidak diberikan ilmu ini.

SEKITAR PERTUMBUHAN ILMU USULUL HADIS

Pertumbuhan ilmu usulul hadis bermula seiringan dengan bermulanya
usaha periwayatan hadis yang ditandai dengan kelahiran agama Islam
sendiri.Pada perkembangan selanjutnya akar-akarnya mulai kelihatan
semenjak kewafatan Nabi Muhammad sallaLlahu alaihi wasallam
apabila kaum muslimin ketika itu sangat mementingkan pengumpulan
hadis-hadis nabi agar tidak hilang.Mereka telah berusaha bersungguh-
sungguh menghafaz,mengawal,meriwayat dan mencatat hadis-hadis
yang mereka dengar.Tidak dapat dinafikan bahawa penulisan hadis
muncul lebih awal daripada penulisan ilmu usulul hadis.Hal ini adalah
lumrah memandangkan diri hadis itu sendiri adalah asal yang dituntut
bagi maksud dihafaz,dipelajari dan diamalkan.Sedangkan usulul hadis
pula hanyalah kaedah dan metod-metod pemeliharaan hadis itu sendiri
yang ianya bukanlah asal yang dituntut bagi maksud sebaliknya
hanyalah sebagai ilmu alat bagi memelihara maksud.
Para sahabat,tabi‟in dan tabi‟ al tabi‟in sememangnya telah sedia
mengamalkan kaedah-kaedah ilmiah dalam menapis apa jua
perkhabaran yang sampai kepada mereka.Namun mereka belum lagi
menuliskan kaedah-kaedah tersebut dalam bentuk sebuah kitab secara
sistematik.Kemudian datanglah ulama-ulama selepas mereka lalu
ulama-ulama tersebut menggali kaedah-kaedah yang telah diamalkan
itu yang kemudiannya dituliskan sebagi satu cabang ilmu yang
berasingan secara lebih tersusun.Adalah merupakan suatu yang lumrah
bahawa di mana ada periwayatan hadis di kalangan salaf(sahabat,tabi‟in
dan tabi‟ al tabi‟in) maka di sana juga akan ada usaha
pengecaman,kajiselidik dan pemeriksaan bagi setiap hadis yang
disampaikan itu.
Seiring dengan perkembangan semasa ulumul hadis akhirnya berdiri
sendiri menjadi suatu ilmu yang berasingan dengan pengkhususan yang
tersendiri berbanding dengan cabang-cabang ilmu Islam yang lain.

CABANG-CABANG PENGAJIAN ULUMUL HADIS.

Pengajian ulumul hadis telah mencabangkan berbagai ilmu yang
berkaitan dengannya seperti:
1)Pembahagian hadis kepada sahih,hasan dan daif.
2)Pembahagian hadis daif kepada munqati‟,mu‟adhal, dan mudharrab.
3)Bahasan jarah dan ta‟dil seperti syarat-syarat jarah dan
ta‟dil,mertabat-mertabat jarah dan ta‟dil dan lain-lain yang berkaitan.
4)Mengenal para perawi dan negeri kelahiran mereka.
5)Bagaimana membezakan perawi yang thiqah dengan perawi yang daif
dan lain-lain yang bersangkutan.
Setiap satu cabang yang kecil-kecil daripada cabang-cabang tersebut
dihuraikan dengan begitu mendalam sehingga setiap cabang itu dapat
menjadi satu bab daripada ilmu ulumul hadis dan ditulis dalam kitab
yang berasingan sehingga menjadikan cabang-cabang ilmu ulumul
hadis itu tersangat banyak.Sebagai contoh Al Hakim dalam kitabnya
“Makrifatu „ulumul hadis” telah menyebutkan sebanyak 52 cabang
daripada ilmu ulumul hadis.Berkata Al Imam Al Sayuthi rhm “Cabang-
cabang ilmu hadis itu sangat banyak sehingga tidak dapat dihitung.”
Kata Al Hazimi “ilmu hadis itu mengandungi cabang yang banyak
sehingga mencecah ratusan.Setiap satunya adalah ilmu yang
berasingan.Kalaulah seorang penuntut menghabiskan seluruh umurnya
nescaya dia tidak akan dapat menghabiskan dalam
mempelajarinya”(Tadrib Al Ruwaat hlm 14)
Telah menyebut Ibnu Solah bahawa cabang-cabang ilmu hadis itu 65
cabang kesemuanya.

Rujukan:Usulul hadis ulumuhu wa mustalahuhu-Muhammad Ajjaj Al
Khatib