You are on page 1of 32

 

Haninda I. Z. 021111031
Nastiti S. 021111032
Edmond P. A. 021111033
Annisa M. S. 021111034
Bone loss merupakan manifestasi dari
ketidakseimbangan resorbsi dan remodelling tulang.
Kepadatan tulang alveolar diregulasi oleh faktor lokal
dalam rongga mulut maupun faktor sistemik yang
berpengaruh pada pembentukan dan resorbsi tulang.
Pada proses bone loss, inflamasi jaringan periodontal sangat
berperan ditambah dengan aktifitas osteoklas, tanpa diikuti
dengan pembentukan tulang.
Osteoklas adalah multisel yang berasal dari monosit atau
makrofag, dan merupakan sel penting yang berperan
terhadap resorbsi tulang. Pembentukan osteoklas didorong
oleh keberadaan sitokin pada jaringan periodontal yang telah
terinflamasi, dan proses ini merupakan kunci dalam
mengontrol perkembangan proses resorpsi tulang alveolar.
 
Pada tahap I gingivitis, fibroblas dan limfosit mendominasi,
sedangkan jumlah sel plasma dan sel blast meningkat
secara bertahap seiring berkembangnya penyakit. Saat sel
limfosit T yang mendominasi pada gingivitis berkurang dan
sel limfosiit B yang mendominasi lesi gingivitis, maka pada
tahap tersebut gingivitis masuk dalam tahap lebih destruktif
terhadap jaringan sekitar.
Saat inflamasi telah meluas dari gingiva hingga mencapai
tulang, inflamasi akan menyebar ke dalam bagian tulang
yang disebut marrow space. Hal ini menyebabkan
bertambahnya jumlah sel leukosit serta eksudat inflamasi,
serta proliferasi dari pembuluh darah dan fibroblast pada
marrow space yang nantinya akan menyebabkan
peningkatan jumlah osteoclast dan mononuclear sel
sehingga proses resorbsi berjalan lebih cepat.
Faktor-faktor yang juga berperan pada kerusakan tulang dalam
penyakit periodontal adalah bakteri dan sel dari host itu sendiri.
Sekresi dari plak menginduksi diferensiasi sel pembentuk
tulang menjadi osteoclast serta menstimulasi sel pada gingiva
untuk menghasilkan mediator inflamasi yang juga
menyebabkan diferensiasi sel pembentuk tulang tersebut
menjadi osteoclast.
Selain itu produk sekresi dari plak dan mediator inflamasi dapat
bekerja secara langsung pada osteoblast dengan menghambat
fungsinya serta mengurangi jumlahnya.
Trauma oklusi merupakan luka pada attachment apparatus
(ligamen periodontal, tulang alveolar dan sementum) yang
disebabkan tekanan oklusi yang berlebihan. Salah satu
manifestasi dari adanya trauma oklusi adalah adanya mobilitas
atau pergerakan gigi dan migrasi gigi yang lebih parah dari
pergerakan gigi dalam keadaan normal. Kerusakan tulang
yang disebabkan adanya trauma oklusi, baik dengan disertai
adanya inflamasi ataupun tanpa inflamasi.
Pada kasus tanpa inflamasi, terdapat peningkatan tekanan
pada ligamen periodontal dan peningkatan osteoklasis pada
tulang alveolar, nekrosis pada ligamen periodontal dan tulang,
dan resorbsi tulang serta struktur gigi. Kerusakan ini bersifat
reversibel. Perubahan tersebut umumnya akan mengurangi
fungsi penyangga gigi dan terjadi mobilitas pada gigi.
Pada kasus kerusakan tulang akibat trauma oklusi yang disertai
dengan inflamasi, trauma oklusi akan memperparah kerusakan
tulang dan menyebabkan pola kerusakan tulang bizarre.
injury
Tekanan oklusal berlebihan dari normal menstimulasi terjadinya
resorpsi pada tulang alveolar dan pelebaran space ligamen
periodontal.
repair
Saat tulang mengalami resorpsi, tubuh secara otomatis
mengompensasi dengan melakukan penebalan.
adaptive remodelling
Bila tahap repair tidak dapat mengompensasi, jaringan
periodontal melakukan remodeling dengan cara penebalan
ligamen periodontal.

Faktor sistemik mengatur fisiologi keseimbangan tulang.
Apabila terdapat resorpsi tulang, kerusakan tulang
diinisiasi oleh proses inflamasi lokal dapat menjadi parah.
Virulensi bakteri plak, komponen sistemik, mampu
mempengaruhi keparahan dari kerusakan jaringan
periodontal. Hal ini dibuktikan dengan adanya defisiensi
imun dan modulasi host pada periodontitits.
Pada penderita jantung koroner, serum inflammatory
markers (CRP dan fibrinogen) ditemukan
peningkatan konsentrasi yang signifikan.
Pemeriksaan radiografi menunjukkan bahwa
periodontal bone loss disertai dengan peningkatan
resiko adanya jantung koroner.
Pada penderita diabetus mellitus terjadi perubahan fungsi
neutrofil, monosit, dan makrofag. Kemampuan neutrofil
untuk melakukan aderen, kemotaksis, dan fagositosis
kurang poten sehingga dapat menghambat proses bacteri
killing pada poket periodontal dan meningkatkan
terjadinya proses destruksi tulang.
Osteoporosis menyebabkan menurunnya densitas
mineral tulang seluruh tubuh, termasuk maksila dan
mandibula. Hal tersebut menyebabkan perubahan pola
trabekula dan mempercepat terjadinya resorpsi tulang
yang diikuti dengan invasi patogen periodontal
Haim-Munk dan Papilon-Lefevre syndromes, merupakan
kelainan autosomal yang jarang terjadi. Penyakit ini
disebabkan karena terjadi mutasi pada gen C cathepsin.
Berdasarkan penelitian, variasi genetik pada gen sitokin
dapat mempengaruhi respon inflamasi sistemik, termasuk
pada keadaan periodontitis
kelainan hemostatik
kelainan eritrosit
kelainan leukosit
 
Beberapa bagian anatomi yang mempengaruhi pola destruktif
tulang pada penyakit periodontal yaitu:
 Ketebalan, lebar, and angulasi dari septa interdental
 Ketebalan dari plat alveolar
 Ada atau tidaknya fenestrations dan dehiscences
 Posisi gigi geligi dalam rahang.
 Anatomi dari akar gigi
 Posisi akar terhadap tulang alveolar
Merupakan pembentukan
tulang baru pada
permukaan dengan bentuk
dan ukuran beragam.
Eksostosis dapat berupa
nodula, ridge yang tajam,
proyeksi spikelike, atau
kombinasi ketiganya.
Secara radiografi, trauma oklusi ditandai dengan
adanya perubahan ketebalan lamina dura,
morfologi dari alveolar crest, lebar dari periodontal
ligament space, dan kepadatan di sekitar
cancellous bone.
Pada fase injury, trauma
oklusi ini menghasilkan
kerusakan lamina dura di
daerah apikal, furkasi, dan
marginal. Kerusakan lamina
dura ini juga mengakibatkan
pelebaran periodontal
ligament space.
Suatu bentuk kompensasi terhadap destruksi tulang.
Ketika keadaan ini muncul di dalam tulang rahang
disebut central buttressing bone formation, sedangkan
jika terjadi pada permukaan tulang disebut peripheral
buttressing bone formation
Pada peripheral buttressing
bisa saja menimbulkan
bagian yang menonjol,
seperti penebalan pada
margin alveolar, yang biasa
disebut lipping
Tekanan dan iritasi dari impaksi sisa makanan
berkontribusi pada bentuk susunan tulang terbalik
(inverted bone) pada daerah interdental. Hal
tersebut bisa dikarenakan keadaan gigi geligi
dengan kontak proksimal yang abnormal atau
absent.
Pada aggressive periodontitis, kerusakan tulang dapat
3-4 kali lebih parah daripada chronic periodontitis.
Kerusakan tulang alveolar dengan pola vertikal atau
angular biasa ditemukan sekitar molar pertama pada
kasus aggressive periodontitis.
Localized Aggressive
Periodontitis
Generalized Aggresive
Periodontitis
 
 Imraatul
 Apakah perbedaan pola bone loss vertical defect dan
angular defect?

 Erlina
 Apa perbedaan antara lipping dan fenestration?

 Rhena
 Apa perbedaan butressing bone formation dengan
remodelling tulang?
 Apakah ada penanganan khusus tulang yang mengalami
penebalan?
 Untuk Imraatul
 Vertical dan angular defect itu sama saja. Hanya persoalan nama
saja.

 Untuk Erlina
 Lipping itu adanya penonjolan tulang sebagai bentuk kompensasi
ketika ada trauma yang menyebabkan resorbsi tulang.
Sedangkan fenestration adalah bentuk penipisan tulang di daerah
akar gigi dan bukan suatu respon adanya keadaan patologis.

 Untuk Rhena
 Buttressing bone formation timbul ketika ada injury (keadaan
patologis), sedangkan remodelling terjadi secara fisiologis.
 Tidak ada penanganan khusus untuk penonjolan tulang tsb
selama tidak ada keluhan yang berarti pada penderita.