You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Intelegesi merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tingkah
laku sesorang, dan intelegensi dapat di peroleh melalui pengalaman., selain itu,
faktor interinstik dan eksterinsik sangat mampengaruhi intelek, tetapi intelegensi
yang tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang.
Intelegensi merupakan keahlian memecahkan masalah dan kemampuan
untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Secara
garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental
yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak
dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai
tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Intelegensi tecermin dari tindakan yang terarah pada penyesuaian diri terhadap
lingkungan dan pemecahan masalah yang timbul daripadanya.
Intelegensi sangat berperan penting dalam kehidupan seseorang akan
tetapi intelegensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan sukses tidaknya
seseorang, banyak lagi faktor lain. Oleh karena itu dalam makalah ini akan
dibahas mengenai perkembangan intelegensi, mulai dari apa itu intelegensi,
manfaat faktor-faktor yang mempengaruhinya, bagaimana hubungannya dengan
tingkah laku dan bagaimana usaha yang dapat kita lakukan dalam membantu
mengembangkan intelegensi seseorang.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat dalam makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Apakah yang dimaksud intelegensi dan tes intelegensi?
2. Apakah manfaat tes intelegensi bagi layanan bimbingan konseling?
3. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi?
4. Bagaimana hubungan intelegensi dengan tingkah laku (remaja)?
5. Apa usaha untuk membantu mengembangkan intelegensi remaja?

C. Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu intelegensi dan tes intelegensi.
2. Untuk mengetahui manfaat tes intelegensi bagi layanan bimbingan
konseling.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi.
4. Untuk mengetahui hubungan intelegensi dengan tingkah laku (remaja).
5. Untuk mengetahui usaha untuk membantu mengembangkan intelegensi
remaja.





BAB II
PEMBAHASAN

A. Intelegensi dan Tes Intelegensi
Ada beberapa rumusan definisi inteligensi yang diketengahkan para
ahli psikologi. Namun, karena antara definisi yang satu dengan yang lainnya
berbeda, maka belum diperoleh satu definisi pun yang tepat. Oleh karena itu,
untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang inteligensi, berikut ini
dikemukakan beberapa definisi yang telah dirumuskan oleh para ahli yaitu:
a. Edward Thorndike. Menurutnya, inteligence is demonstrable in ability of
the individual to make good responses from the stand point of truth or fact.
Artinya, inteligensi merupakan kemampuan individu untuk memberikan
respons yang tepat terhadap stimulus yang diterimanya.
b. William Stren. Menurutnya, inteligensi adalah kesanggupan jiwa untuk
menghadapi dan mengatasi keadaan-keadaan atau kesulitan baru dengan
sadar, dengan berpikir cepat dan tepat..
1

Intelegensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan
untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari
(Santrock, John).
2

Intelegensi merupakan keahlian memecahkan masalah dan
kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup

1
Anonim. 2011. Intelegensi Emosional . http: //bimbingankonselingummetro.blogspot.com /2011 /01 /
intelegensi -emosional .html (diakses tanggal 19 aret 2014)
2
Santrock, John W. Psikologi Pendidikan 9 ( Jakarta: Kencana, 2010) hlm. 134-144
sehari-hari. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah
suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional dan
menggambarkan kecakapan berfikir dengan menggunakan pengertian atau
sikap dalam memecahkan masalah yang dapat diperoleh dari pengalaman
(lingkungan). Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung,
melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan
manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Intelegensi tecermin dari tindakan
yang terarah pada penyesuaian diri terhadap lingkungan dan pemecahan
masalah yang timbul daripadanya.
3

Sedangkan tes intelegensi itu sendiri antara lain;
1. Suatu pengukuran yang standar dan obyektif terhadap sampel perilaku.
2. Suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik
untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu.
3. Seperangkat alat ukur yang digunakan untuk memperoleh informasi
tentang pikiran, perasaan, persepsi dan perilaku seseorang guna membuat
keputusan penilaian tentang seseorang.
4. Tes untuk mengukur aspek individu secara psikis (tes dapat berbentuk
tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk
mengukur fungsi kognitif dan emosional) tes dapat diaplikasikan kepada
anak-anak maupun dewasa.

3
Weningtyas, Annindito. Test Intelegensi. http: //anninditoweningtyasb.blogspot.com/ 2013/ 05/ test -
intelegensi.html (diakses tanggal 19 Maret 2014)
5. Suatu teknik atau alat yang digunakan untuk mengungkapkan tarap
kemampuan dasar seseorang yaitu kemampuan dalam berpikir, bertindak
dan menyesuaikan dirinya secara efektif.
4

Tes intelegensi ditemukan oleh Alfred Binet dan pembantunya Simon.
Pada tahun 1908-1911 tes ini dinamakan sebagai Chelle Matrique De
Intellegence atau skala pengukur kecerdasan. Tes Binet-Simon terdiri dari
sekumpulan pertanyaan yang telah di kelompokkan menurut umur (untuk anak
umur 3-15 tahun), pertanyaan-pertanyaan ini sengaja di buat mengenai skala
sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah, seperti:
mengulang kalimat-kalimat yang pendek atau panjang, mengulang deretan
angka-angka, membandingkan berat timbangan, menceritakan isi gambar-
gambar, menyebut nama bermacam-macam warna, menyebut harga mata
uang, dan lain sebagainya.
5

B. Manfaat Tes Inteligensi bagi Layanan BK
Tes intelegensi dapat dipergunakan oleh berbagai pihak di sekolah antara
lain;
1. Untuk pihak sekolah, tes intelegensi dapat digunakan untuk menyaring
calon siswa yang akan diterima atau untuk menempatkan siswa pada
jurusan tertentu, dan juga mengidentifikasi siswa yang memiliki IQ di atas
normal.

4
Setiawan, Agus.Pengaruh Intelegence Pada Perkembangan http: // agussetiawanblogspotcom. Blogspot
.com/p /pengaruh-intelegence- pada-perkembangan.html(diakses tanggal 19 Maret 2014).

5
Ibid
2. Untuk guru, tes intelegensi dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran
pelajaran dan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan setara.
3. Untuk konselor, tes intelegensi dapat digunakan untuk membuat diagnosa
siswa, untuk memprediksi hasil siswa dimasa yang akan datang, dan juga
sebagai media untuk mengawali proses konseling.
4. Untuk siswa, tes intelegensi dapat digunakan untuk mengenali dan
memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, dan mengetahui
kemampuannya.
5. Menganalisis berbagai masalah yang dialami murid
6. Membantu memahami sebab terjadinya masalah
7. Membantu memahami murid yang mempunyai kemampuan yang tinggi
juga yang rendah.
6

Secara umum, tes intelegensi dapat digunakan sebagai bahan
diagnosa. Hasil tes belum tentu perlu disampaikan dalam proses konseling,
tetapi konselor maupun konseli memerlukan gambaran yang menyeluruh dari
diri seorang konseli. Dengan menggunakan hasil tes intelegensi, konselor
dapat melakukan diagnosa terkait perkembangan konseli selama dan setelah
proses konseling berlangsung. Selain itu, hasil tes intelegensi dapat digunakan
sebagai data penunjang. Jika tes yang digunakan tidak hanya tes atau tes
intelegensi, maka hasil tes intelegensi dapat digunakan untuk menunjang data
yang telah diperoleh dan diperlukan dalam kegiatan konseling.
7


6
Weningtyas, Annindito. Test Intelegensi. http: //anninditoweningtyasb.blogspot.com/ 2013/ 05/ test -
intelegensi.html (diakses tanggal 19 Maret 2014).
7
Komala, Miki . Tes Intelegensi. http ://mikikomala. blogspot. Com /2012 /12 /tes-inteligensi.html. (diakses
tanggal 19 Maret 2014).
C. Faktor-faktor yang Mepengaruhi Intelegensi

Hingga sekarang sudah banyak beberapa kajian dalam hal intelegensi
atau tingkat IQ seseorang. Menurut Kohstan, intelegensi dapat
dikembangkan, namun hanya sebatas segi kualitasnya, yaitu pengembangan
akan terjadi sampai pola pada batas kemampuan saja, terbatas pada segi
peningkatan mutu intelegensi, dan cara cara berpikir secara metodis.
Intelegensi orang satu dengan yang lain cenderng berbeda-beda. Hal
ini karena beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor yang
mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut:
1. Faktor Bawaan
Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir.
Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan
masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di
dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak pintar. Dan
pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang
sama.
2. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan
merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat
dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan
dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan
dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.


3. Faktor Pembentukan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri
seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Di sini dapat
dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di
sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh
alam sekitarnya.
4. Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan
dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik mauapun psikis,
dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang
hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
Oleh karena itu, tidak diherankan bila anak anak belum mampu
mengerjakan atau memecahkan soal soal matematika di kelas empat
sekolah dasar, karena soal soal itu masih terlampau sukar bagi anak.
Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk
menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan
faktor umur.
5. Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam
memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih
metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan
kebutuhannya.
Kelima faktor diatas saling mempengaruhi dan saling terkait satu
dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak
dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja.
8

D. Hubungan Intelegesi dengan Tingkah Laku (Remaja).
Pikiran remaja sering dipenuhi oleh ide-ide dan teori-teori yang
menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat
orang tua dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap
kritis ini juga ditunjukan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa
sebelumnya, sehingga tata cara, dan adat istiadat yang berlaku dilingkungan
keluarga sering terasa terjadi/ada pertentangan dengan sikap kritis yang
tampak pada perilakunya.
9

Bagi remaja, corak perilaku pribadinya dihari depan, dan corak
tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstrak akan berperan
dalam perkembanangan kepribadiannya. Kemampuan abstraksi
mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan
bagaimana yang semestinya menurut alam pikirannya. Situasi ini (yang
diakibatkan kemampuan abstraksi) akibatnya dapat menimbulkan perasaan
tidak puas dan putus asa.. Disamping itu pengaruh egosentris masih terlihat
pada pikirannya diantaranya:
1. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran
sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh tanpa memperhitungkan

8
Anonim. 2013. Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi. http://maeylibra.blogspot.com/2013/01/faktor-yang-
mempengaruhi-intelegensi.html(diakses tanggal 19 Maret 2014).
9
Setiawan ,Agus. Pengaruh Intelegence Pada Perkembangan. http ://agussetiawanblogspotcom.
Blogspot .com/p/pengaruh-intelegence-pada-perkembangan.html (diakses tanggal 19 Maret 2014).
kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan ketidakberhasilan
menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat
orang lain dalam penilaiannya. Pendapat dan penilaian diri sendiri
dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Egosentrisme inilah yang menyebabkan “kekuatan” para remaja
dalam cara bepikir maupun bertingkah laku. Dan hal ini pula yang
menimbulkan perasaan “seperti” selalu diamati orang lain, perasaan malu dan
membatasi gerak-geriknya. Akibat dari hal ini akan terlihat pada tinggkah
laku yang kaku.
10

Intelegensi sangat berperan penting dalam kehidupan seseorang
akan tetapi intelegensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan sukses
tidaknya seseorang, banyak lagi faktor lain. Faktor kesehatan dan ada
tidaknya kesempatan, tidak dapat kita abaikan. Orang yang sakit-sakitan saja
meskipun intelegensinya tinggi dapat gagal dalam usaha mengembangkan
dirinya dalam kehidupannya. Demikian pula meskipun cerdas jika tidak ada
kesempatan mengembangkan dirinya dapat pula gagal. Juga watak (pribadi)
seseorang amat berpengaruh dan turut menentukan.
Banyak diantara orang yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi
tidak mendapat kemajuan dalam kehidupanya. Ini disebabkan misalnya,
kurang kemampuan bergaul dengan orang-orang lain dalam masyarakat.
Sebaliknya ada pula orang yang sebenarnya memiliki intelegensi yang sedang

10
Putriani, Lisa . Pengertian Intelegensi. http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-
intelegensi.html (diakses tanggal 19 Maret 2014).

saja, dapat lebih maju dan mendapat kehidupan yang lebih layak berkat
ketekunan dan keuletanya dan tidak banyak faktor-faktor yang menggangu
atau yang merintanginya. Akan tetapi intelegensi yang rendah menghambat
pula usaha seseorang untuk maju dan berkembang, meskipun orang itu ulet
dan bertekun dalam usahanya.
Jadi, intelegensi seseorang memberikan kemungkinan untuk bergerak
dan berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupanya. Sampai dimana
kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula pada kehendak dan
pribadi serta kesempatan yang ada.
11

E. Usaha Untuk membantu mengembangkan Intelegensi Remaja
Menurut Piaget sebagian besar usia remaja mampu memahami
konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Guru dapat membantu
mereka melakukan hal ini dengan selalu menggunakan pendekatan
keterampilan proses (discovery approach) dan dengan memberi penekanan
pada penguasaan konsep-konsep dan abstraksi-abstraksi.
Karena siswa usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan
penalaran, kita hendaknya tidak mempunyai anggapan bahwa mereka berpikir
dengan cara yang sama dengan kita. Kita hendaknya tetap waspada terhadap
bagai mana para siswa mengiterpretasi ide-ide mereka dalam kelas, dengan
memberikan kesempatan-kesempatan untuk mengadakan diskusi-diskusi
secara baik dan dengan memberikan tugas-tugas penulisan makalah.
12


11
Putriani, Lisa. Pengertian Intelegensi. http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-
intelegensi.html (diakses tanggal 19 Maret 2014).

12
Ibid
Pada usia ini para remaja mendekati efisiensi intelektual yang
maksimal, tetapi kurangnya pengalaman membatasi pengtahuan mereka dan
kecakapan untuk memanfaatkan yang diketahui. Karena itu pada tingkat ini
diperlukan metode diskusi dan informasi untuk menentukan kedalaman
pengertian siswa. Apabila guru dihadapkan pada perbedaan-perbedaan
interpretasi tentang konsep-konsep yang abstrak, guru hendaknya
menjelaskan konse-konsep tersebut dengan sabar, simpatik dan dengan hati
tebuka serta memotifasi siswa; bukan dengan jalan marah-marah atau tidak
bisa menerima kesalahan siswa.
13

Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi/kemampuan
berpikir remaja, ada yang berpandangan bahwa keliru jika IQ dianggap bisa
ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi oleh faktor-faktor
lingkungan. Menurut Andi Mappiare (1982: 80) hal-hal yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi itu antara lain:
1. Bertambahnya informasi yang disimpan(dalam otak) seseorang sehingga ia
mampu berpikr reflektif.
2. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah
sehingga seseorang bisa berpikir proporsional.
3. Adanya kebebasan berpikir,menimbulkan keberanian seseorang dalam
menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah
secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan
masalahdan menarik kesimpulan yang baru dan benar..

13
Putriani, Lisa. Pengertian Intelegensi. http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-intelegensi.
html (diakses tanggal 19 Maret 2014).

Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai
perkembangan intelegensi, yakni:
1. Fungsi intelegensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.
2. Berkembangnya usia menyebabkan berkembangnya struktur intelegensi
baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif.
Wechsler berpendapat bahwa keseluruhan intelegensi seseorang tidak
dapat diukur. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-
kira karena selalu dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan faktor-
faktor individual dan situasional
14













14
Putriani, Lisa. Pengertian Intelegensi. http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-intelegensi.
html (diakses tanggal 19 Maret 2014).


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Intelegensi adalah kemampuan mental yang menggambarkan kecakapan
bepikir dengan menggunakan pengertian dalam memecahkan masalah
yang diperoleh dari pengalaman.
2. Tes intelegensi dapat dipergunakan oleh berbagai pihak di sekolah antara
lain untuk guru , siswa dan juga konselor, selain itu dengan tes intelegensi
dapat membantu kita menganalisis masalah sekaligus membantu
memahami sebab terjadinya masalah dari peseta didik.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain: pembawaan,
kematangan, pembentukan, minat dan pembawaan yang khas, dan
kebebasan.
4. Intelegensi seseorang memberikan kemungkinan untuk bergerak dan
berkembang dalam bidang tertentu dalam kehidupanya. Sampai dimana
kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula pada kehendak
dan pribadi serta kesempatan yang ada.
5. Guru dapat membantu peserta didik (remaja) memahami konsep-konsep
abstrak dalam batas-batas tertentu dengan selalu menggunakan
pendekatan keterampilan proses (discovery approach) dan dengan
memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan abstraksi-
abstraksi.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini mengandung kelemahan serta
kekurangan , dan dalam hal ini penulis mengharapkan saran dan kritikan yang
sifatnya membangun yang dapat penulis pakai dalam penyempurnaan
makalah selanjutnya.
















DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Intelegensi Emosional . http: //bimbingankonselingummetro.
blogspot.com /2011 /01 / intelegensi -emosional .html (diakses tanggal 19
aret 2014).

Anonim. 2013. Faktor yang memepengaruhi intelegensi. http: // maeylibra
.blogspot. com /2013/ 01/faktor-yang-mempengaruhi-intelegensi.html.
Diakses tanggal 19 Maret 2014.

Komala, Miki . 2012. Tes Intelegensi. http ://mikikomala. blogspot. Com /2012
/12 /tes-inteligensi.html. Diakses tanggal 19 Maret 2014.
Putriani, Lisa. 2010. Pengertian Intelegensi. http: //bknpsikologi.blogspot.com
/2010/11/pengertian-intelegensi. html (diakses tanggal 19 Maret 2014).

Santrock, John W.2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Setiawan,Agus. 2013. Pengaruh Intelegence Pada Perkembangan. http://
agussetiawan blogspotcom. Blogspot .com/p/pengaruh-intelegence-
pada-perkembangan.html. Diakses tanggal 19 Maret 2014.

Weningtyas, Anindito . 2013. Test Intelegensi. http ://annindito weningtyasb
.blogspot. com / 2013/05/test-intelegensi.html. Diakses tanggal 19
Maret 2014.