You are on page 1of 21

BAB I

HASIL DAN PEMBAHASAN



1.

INDERA PERASA
1.1

Mengetahui lokasi reseptor pengecap
1.1.1

Analisa prosedur
Prosedur dari praktikum ini sebagai berikut: Probandus matanya
ditutup dengan menggunakan penutup mata, agar tidak mengetahui
larutan apa yang digunakan. Probandus diperintahkan untuk
menjulurkan lidahnya. Cotton bud dicelupkan pada salah satu bahan uji
kemudian dioleskan ke lidah probandus bagian ujung, tepi depan, tepi
belakang, dan pangkal. Probandus diperintah untuk merasakan di bagian
lidah manakah bahan tersebut dirasakan paling peka lalu dicatat.
Kemudian probandus diperintah untuk berkumur menggunakan air
tawar dan dilakukan pengetesan dengan bahan uji yang berbeda-beda
dari sebelumnya sebanyak lima macam larutan. Setiap pergantian bahan
uji, probandus berkumur supaya sisa rasa yang sebelumnya dirasakan
menjadi hilang. Bahan uji pada praktikum ini meliputi: gula pasir
sebagai rasa manis, garam dapur sebagai rasa asin, pil kina sebagai rasa
pahit, bubuk cabe sebagai rasa pedas, dan asam sitrat sebagai rasa asam.

1.1.2

Analisa hasil
Tabel 1.Data lokasi reseptor pengecap dari masing-masing probandus
Probandus
Ujung
Tepi
depan
Tepi
belakang
Pangkal
Fadhil
(
sehat)
Asam, manis
Pedas,
asin,
manis
manis
pahit
Rifky
(
suka pedas)
Manis, pedas
asam
asin
Pahit
Rizky D. (
perokok)
Asin, pedas
asam
-
pahit
Turhadi (
flu)
Manis, pedas
asam
asin
Pahit
Lailiya Vina
( sehat)
Manis, pedas
Asin,
pedas
Asam,
pedas
Pahit,
pedas
Siti ( suka
pedas)
Manis, pedas
asin
asam
Pahit
Nira ( flu)
Manis, asam, pedas
asin
-
pahit

Berdasarkan data hasil pengamatan yang disajikan dalam
bentuk tabel diatas diketahui bahwa kepekaan lidah probandus terhadap
suatu rasa bervariasi. Pada umumnya probandus dapat merasakan rasa
manis di lidah bagian ujung, rasa asin di lidah bagian tepi depan, asam
dan asin di lidah bagian tepi belakang, dan rasa pahit di lidah bagian
pangkal. Selain itu, rasa pedas umumnya dapat dirasakan oleh
probandus di lidah bagian ujung. Tetapi ada juga probandus yang dapat
merasakan rasa pedas dari bubuk cabe di semua bagian lidah. Terdapat 2
probandus yang tidak dapat merasakan bahan uji yang di berikan yaitu
pada lidah bagian tepi belakang. Kelainan ini disebabkan karena gaya
hidup misalnya probandus adalah seorang perokok dan bisa juga karena
pada waktu itu probandus mengalami sakit misalnya flu. Persepsi rasa
akan berkurang kepekaanya ketika seseorang menglami flu (Brodal,
1992).


1.2

Menghitung waktu sensasi
1.2.1 Analisa prosedur
Prosedur dari praktikum ini sebagai berikut: rongga mulut
probandus dibersihkan dengan berkumur air tawar. Tujuannya adalah
untuk menghilangkan zat-zat yang dapat mengubah persepsi rasa pada
mulut agar hasil yang dihasilkan dapat akurat. Selanjutnya, ditentukan
waktu sensasi pada lidah dengan cara permukaan lidah probandus
dikeringkan dengan kertas tissue dan dipertahankan lidah tetap di luar
mulut. Kemudian diletakkan bahan uji pada lokasi yang sudah diketahui
sensitif terhadap bahan uji terkait (pada latihan 1.1) dan dihitung waktu
yang diperlukan untuk merasakan bahan uji tersebut dengan
menggunakan stopwatch. Probandus diperintah untuk berkumur
menggunakan air tawar, ditunggu setelah 3 menit kemudian bahan uji
diganti. Prosedur yang sama dilakukan untuk mengetahui waktu sensasi
rasa ketika lidah dalam keadaan basah. Diletakkan bahan uji pada lokasi
yang sudah diketahui sensitif terhadap bahan uji terkait (pada latihan
1.1) dan dihitung waktu yang diperlukan untuk merasakan bahan uji
tersebut dengan menggunakan stopwatch. Probandus diperintah untuk
berkumur menggunakan air tawar, ditunggu setelah 3 menit kemudian
bahan uji diganti. Tujuannya adalah melihat perbedaan waktu yang
diperlukan untuk merasakan sensasi rasa yang ditimbulkan. Menurut
Shallenberger (1997), sensasi rasa disebabkan oleh zat yang berbentuk
cair atau larut dalam air, sehingga lebih cepat terjadi stimuli rasa pada
lidah basah daripada lidah kering.


1.2.2 Analisa hasil
Tabel 2. Data waktu sensasi indera pengecap dari masing-masing
probandus


Berdasarkan data hasil pengamatan yang disajikan daam bentuk
tabel diatas diketahui bahwa waktu sensasi indera pengecap dari tiap
probandus terhadap suatu rasa berbeda-beda. Probandus dalam keadaan
lidah basah umumnya memiliki waktu sensasi yang lebih lama
dibandingkan dengan pada saat lidah kering. Hal ini berlawanan dengan
pernyataan Shallenberger (1997), bahwa lidah yang basah dapat
melarutkan ion-ion yang menyebabkan terjadinya sensasi rasa sehingga
lebih mudah mencapai reseptor rasa pada membran sel pengecap. Hal ini
dikarenakan oleh zat yang menyebabkan sensasi rasa (tastant) membutuhkan air
untuk mencapai reseptor dan interaksi tastant dengan reseptor
ditransmisikan melalui air.

Sensasi rasa bukan merupakan salah satu yang paling penting
dari indra khusus pada manusia, dan banyak dari apa yang biasanya kita
sebut pengalaman rasa sebenarnya disebabkan oleh stimulasi reseptor
penciuman. Hal ini terjadi terutama oleh aliran udara ekspirasi melalui
hidung sambil makan Selain itu, sinyal dari termoreseptor di mulut dan
mechanoreceptors berkontribusi terhadap apa yang kita alami sebagai
fenomena kesatuan sensorik. Akhirnya, nociceptor diaktifkan oleh

makanan pedas (seperti cabai) yang juga berkontribusi untuk persepsi
rasa (Brodal, 1992).
Papilla terbesar (vallate) terletak di sepanjang garis tranversal
posterior di lidah. Taste bud yang disusun dari sekitar 100 sel sensorik
dan sel pendukung diperpanjang. Sel-sel sensorik dari taste bud terus-
menerus diperbarui, setiap sel hidup mungkin hanya bertahan sekitar 10
hari. Mereka memiliki mikrovili panjang di permukaan apikal mereka,
menonjol ke lubang kecil di epitel disebut pori rasa. Di sini, zat yang
dilarutkan dalam air liur menghubungi membran sel sensorik. Ujung
terminal sel sensorik mengikat zat lezat untuk reseptor di membran sel
sensorik depolarisasi dan dengan demikian menghasilkan potensial
reseptor (seperti dalam sel indera lainnya). ATP dilepaskan dari aspek
basal dan dari aspek basal sel sensorik mengikat purinoceptors
ionotropic (P2x) di ujung saraf sensorik sehingga menghasilkan
potensial aksi (Brodal, 1992).


Gambar 1. Mekanisme sinyal indra perasa (Brodal, 1992)

Menurut Brodal (1992), terdapat empat sifat rasa dasar yaitu
asin, asam, manis, dan pahit. Selain itu, rasa umami sekarang sering
dimasukkan sebagai sifat rasa yang kelima. Reseptor membangkitkan
kualitas umami yang/ mendeteksi asam amino dan 1-glutamat
khususnya. Sesungguhnya, garam natrium dari glutamat secara luas
digunakan sebagai penambah rasa. Ada kemungkinan jumlah reseptor
spesifik lebih banyak daripada reseptor kualitas rasa dasar. Terutama
pahit yang dideteksi oleh reseptor spesifik. Hal ini tampaknya wajar,

karena rasa pahit yang sering dikaitkan dengan makanan beracun dan
pengakuan mereka akan memberikan nilai kelangsungan hidup khusus.
Zat asin dan asam didepolarisasi sel rasa oleh ikatan langsung
ke ion channel, sedangkan zat manis, pahit, dan glutamat bertindak
terutama atau hanya pada reseptor G protein-coupled. Sejumlah kode
gen untuk reseptor manis, pahit, dan umami. Tidak ada reseptor khusus
yang diperlukan untuk zat asin dan pahit, karena mereka bekerja
disemua ion Channel H
+
dan Na
+
. Kekhasan dari sel sensorik tergantung
pada fakta bahwa sel terkena stimulus hanya pada membran apikal. Sel-
sel dari pengecap saling berhubungan dengan tight junction (zonula
occludens) yang menutup membran lateral dari pori rasa. Dengan
demikian, cairan di mulut tidak bisa menembus di antara sel-sel. Zat
asam muncul untuk bertindak terutama berdasarkan konsentrasi ion
hidrogen, yang beraksi dengan menutup channel K
+
dalam membran
apikal. Ion hidrogen bekerja pada beberapa macam saluran, seperti
saluran untuk Na
+
dan Ca
+
, orang mungkin berpikir bahwa penutupan
saluran tersebut akan melawan efek pada saluran K
+
. Spesifisitas dicapai
karena konsentrasi channel K
+
sangat tinggi pada membran apikal,
sedangkan jenis channel lain merata. Zat asam akan menutup channel
K
+
banyak tetapi hanya beberapa saluran lain di membran apikal. Ketika
konsentrasi Na
+
naik dalam kontak dengan membran apikal, ion Na
+

akan masuk ke dalam sel dan didepolarisasi (Brodal, 1992).


Gambar 2. Mekanisme sinyal tranduksi sensasi pengecapan utama
(Buck, 1991)


Zat manis dan umami bekerja pada anggota keluarga yang sama
dari G protein-coupled (T1R), yang juga mencakup reseptor glutamat
metabotropic dan reseptor GABA
B
. Salah satu jenis reseptor T1R
mengikat beberapa zat manis yang berbeda, yang lain mengikat asam
amino. Pada manusia, reseptor ini selektif untuk glutamat (Brodal,
1992).
Zat pahit lain merupakan keluarga dari reseptor G protein-
coupled dari manis dan umami (T2R). Padahal hanya 3 kode untuk gen
T1R dan sekitar 30 kode untuk T2R. Setiap T2R mengenali hanya
beberapa zat pahit, tetapi setiap sel sensorik mengungkapkan beberapa
jenis T2R tersebut. Dengan demikian, setiap sel dapat mengenali
berbagai macam zat pahit (Brodal, 1992).
Menurut Khurana (2006), Rangsangan rasa dideteksi oleh
kemoreseptor khusus yang disebut reseptor perasa atau sel-sel perasa.
Reseptor perasa dikelompokkan ke dalam taste bud yang terletak pada
lidah, palate, faring, epiglotis, dan di bawah esofagus. Lidah merupakan
area deteksi rasa yang mengandung sejumlah taste bud di permukaan
dorsalnya. Membran mukosa pada permukaan dorsal lidah yang
menunjukkan sejumlah papila, yang memperluas area permukaan
mukosa yang tersedia untuk reseptor-reseptor rasa. Taste bud terletak di
dinding papila-papila tersebut.
Macam-macam papila(pappilae):
Papila ditunjukkan pada lidah ada empat tipe yaitu papila circumvallata,
papila fungiformis, papila foliata, dan papili filliformis.
1.

Papila circumvallata
Berjumlah 10 sampai 12 dan berdiameter 2 sampai 4 mm, membentuk
baris single di depan sulcus terminalis. Sulcus terminalis merupakan
lekuk berbentuk V. Setiap papila circumvallata dikelilingi oleh sebuah
lekuk. Sebanyak 200 taste bud terletak sekitar permukaan setiap papila
circumvallata.
2.

Papila fungiformis
Berwarna merah cerah, berdiameter 1 mm terletak di bagian anterior 2/3
lidah di sekitar tepi, dorsum, dan tip. Papila fungiformis mempunyai 8
sampai 10 tastebud di setiap papila.
3.

Papila foliata
Lipatan melintang mukosa, ditemukan pada permukaan posterolateral
lidah bagian anterior sampai papila cicumvallata. Setiap papila foliata
mempunyai sejumlah tastebud.



4.

Papila filliformis

Merupakan papila yang berukuran kecil seperti penonjolan kerucut,
melapisi seluruh permukaan dorsum dari 2/3 lidah yang memberikan
kenampakan beludru. Papila filliformis tersusun dalam baris-baris
pararel sampai sulcus terminalis. Papila filliformis bukan struktur perasa
karena tidak mengandung tastebud. Tetapi, papila ini memainkan peran
sebagai pemecah partikel-partikel makanan dan disebut juga mechanical
papillae yang kontras dengan 3 bentuk papila lainnya yang dikenal
sebagai papila perasa(gustatory pappilae).


Gambar 3. Struktur dan distribusi dari papila pada lidah (Khurana,
2006)

Senyawa pemberi rasa sekunder mempunyai mekanisme yang
berbeda dari rasa primer karena sensasi ini lebih banyak bekerja dengan
syaraf trigeminal pada wajah (terutama hidung, rongga mulut dan mata).
Itu sebabnya bila kita kepedasan, maka seluruh rongga mulut akan
terasa panas bahkan seluruh wajah bergetar dan air mata mengalir. Rasa
pedas (hot) pada cabe disebabkan oleh kapsaisin dan dihidrokapsaisin
berbeda dengan pedas (pungent) merica yang disebabkan oleh piperin,
dan tentu saja sangat berbeda dengan sengatan menusuk hidung oleh
isotiosianat pada mustard atau wasabi (Wijaya, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan pengecap dan
waktu sensasi pengecap menurut Khurana (2006) meliputi:
1.

Daerah rangsangan
Tanggapan indera dari rasa sebenarnya sebanding dengan area taste bud
yang distimulasi. Oleh karena itu, rangsangan dari sebuah area yang

kecil dari lidah oleh satu tetes larutan menghasilkan sensasi yang lemah
daripada larutan sama yang terjadi di seluruh bagian mulut.
2.

Suhu dari tastant
Respon optimal terhadap suatu rasa yang diproduksi oleh substansi
diperoleh saat suhu udara antara 30C sampai 40C.
3.

Umur
Setelah berumur 45 tahun, jumlah taste bud mulai berkurang yang
berakibat pada menurunnya sensasi rasa.
4.

Jenis kelamin
Umumnya, perempuan lebih sensitif terhadap rasa manis, asin, dan
sedikit sensitif terhadap rasa asam.
5.

Adaptasi
Sensasi rasa beradaptasi dengan cepat saat rasa yang diproduksi oleh
bahan yang disimpan pada salah satu tempat di mulut dalam waktu yang
lama. Adaptasi terhadap suatu rasa bersifat periferal (sekeliling). Lebih
lanjut lagi, adaptasi dari asam menghasilkan adaptasi terhadap asam
yang lain, karena H
+
dirangsang di semua tempat.
6.

Interaksi antara rasa yang dihasilkan bahan
Interaksi antara rasa yang dihasilkan bahan juga memberi efek sensasi
rasa. Contohnya: pengurangan rasa asam dari buah oleh sukrosa adalah
salah satu cara yang terkenal.
7.

Efek dari rasa protein modifikasi
Sebuah protein rasa modifikasi, miraculin telah ditemukan di salah satu
tanaman di Afrika barat. Saat protein ini diaplikasikan pada lidah, maka
akan membuat asam berasa manis.
8.

Abnormalitas sensasi rasa
Abnormalitas sensasi rasa secara nyata berakibat pada sensasi rasa


2.

INDERA PEMBAU
2.1

Kepekaan reseptor pembau
2.1.1 Analisa prosedur
Prosedur dari praktikum ini sebagai berikut: probandus
diperintahkan untuk menghirup dan menghembuskan napas melalui
mulut bahan uji berupa minyak cengkeh sampai mencapai
ketidakpekaan (kelelahan) pembau dan teman yang lain mencatat
waktunya sebagai OFT (Olfactory Fatigue Time). 15 menit kemudian
probandus akan menjalani ORT (Olfactory Recovery Time) yaitu waktu
yang dibutuhkan untuk kesembuhan pembau. Diulangi prosedur ini
dengan probandus yang lain dan dibandingkan hasilnya.

2.1.2 Analisa hasil
Tabel 3. Data kepekaan reseptor pembau pada probandus yang berbeda


Berdasarkan data hasil pengamatan yang disajikan daam bentuk
tabel diatas diketahui bahwa kepekaan reseptor pembau dari setiap
probandus berbeda-beda. Hal ini dapat terlihat dari waktu yang
dibutuhkan oleh probandus untuk mencapai ketidakpekaan (kelelahan)
pembau (OFT) artinya sampai tidak lagi dapat membau sesuatu dan
waktu yang dibutuhkan oleh probandus untuk kesembuhan pembau
(ORT) artinya sampai dapat membau kembali. Tiap-tiap probandus
memiliki OFT yang tidak jauh berbeda. OFT terpendek dialami oleh
probandus pria perokok dan OFT terpanjang dialami oleh probandus
wanita sehat. Sedangkan ORT dari semua probandus sama yaitu 15
menit yang artinya dibutuhkan waktu selama 15 menit untuk bisa
membau lagi. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa lamanya OFT
bergantung kepada gaya hidup dan jenis kelamin. Menurut Chapter
(2005), OFT (kelelahan penciuman) merupakan contoh adaptasi
sensorik atau adaptasi saraf. Tubuh kita menjadi tidak sensitif terhadap
rangsangan untuk mencegah adanya kelebihan muatan pada sistem
saraf, sehingga memungkinkan untuk menanggapi rangsangan baru di
luar kebiasaan.
Pembau adalah indera yang paling sedikit dimengerti. Keadaan
ini sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa indera pembau
merupakan fenomena subjektif yang tidak mudah dipelajari pada
hewan-hewan tingkat rendah. Keadaan lain yang menambah kerumitan
adalah pada manusia indera pembau tidak berkembang sempurna