You are on page 1of 20

Miopia

• Miopi hipermetropi
• Fisiologi lakrimasi
• Gerak bola mata
MIOPI
• Miopia adalah anomali refraksi pada mata
dimana bayangan difokuskan di depan retina,
ketika mata tidak dalam kondisi
berakomodasi. Ini juga dapat dijelaskan pada
kondisi refraktif dimana cahaya yang sejajar
dari suatu objek yang masuk pada mata akan
jatuh di depan retina, tanpa akomodasi.

Patogenesis

Fuch Spot

Klasifikasi Klinis
• Miopia Simpleks : Terjadinya kelainan fundus
ringan. Kelainan fundus yang ringan ini berupa
kresen miopia yang ringan dan berkembang
sangat lambat. Biasanya tidak terjadi kelainan
organik dan dengan koreksi yang sesuai bisa
mencapai tajam penglihatan yang normal.
Berat kelainan refraksi yang terjadi biasanya
kurang dari -6D. Keadaan ini disebut juga
dengan miopia fisiologi.
• Miopia Patologis : Disebut juga sebagai miopia
degeneratif, miopia maligna atau miopia
progresif. Keadaan ini dapat ditemukan pada
semua umur dan terjadi sejak lahir. Tanda-tanda
miopia maligna adalah adanya progresifitas
kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan
oftalmoskopik. Pada anak-anak diagnosis ini
sudah dapat dibuat jika terdapat peningkatan
tingkat keparahan miopia dengan waktu yang
relatif pendek. Kelainan refrasi yang terdapat
pada miopia patologik biasanya melebihi -6 D
Klasifikasi AOA
• Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh
dimensi bola mata yang terlalu panjang atau indeks
bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu tinggi.
• Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada
saat kondisi di sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya,
fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap
tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya
penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar
untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga
menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia.
• Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan
yang berlebihan terhadap mekanisme
akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada
otot – otot siliar yang memegang lensa
kristalina. Di Indonesia, disebut dengan
miopia palsu, karena memang sifat miopia ini
hanya sementara sampai kekejangan
akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk
kasus ini, tidak boleh buru – buru memberikan
lensa koreksi.
• Miopia Degeneretif : Disebut juga sebagai
miopia degeneratif, miopia maligna atau
miopia progresif. Biasanya merupakan miopia
derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga
di bawah normal meskipun telah mendapat
koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari
waktu ke waktu.

• Miopia Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh
pemakaian obat – obatan, naik turunnya kadar
gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus
lensa dan sebagainya.
Klasifikasi menurut kebutuhan koreksi
• Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
• Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00
Dioptri.
• Berat :lensa koreksinya > 6,00 Dioptri
Klasifikasi miopia berdasarkan umur
• Kongenital : sejak lahir dan menetap pada
masa anak-anak.
• Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20
tahun.
• Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20
sampai 40 tahun.
• Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun
(> 40 tahun).
Diagnosis
• Kabur jika melihat jauh
• Melihat jelas dengan terlalu dekat
• Pusing
• Juling dan kelopak mata sempit
• Esoptropia
• Miopik Kresen


Uji
• Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak
jauh (Snellen) dan jarak dekat (Jaeger).
• Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep
dokter dalam pemakaian kaca mata.
• Uji penglihatan terhadap warna, uji ini untuk
membuktikan kemungkinan ada atau tidaknya
kebutaan.
• Uji gerakan otot-otot mata.
• Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina.
• Mengukur tekanan cairan di dalam mata.
• Pemeriksaan retina.
Tatalaksana
• Cara Optik
- Dengan kacamata konkaf
- Dengan lensa kontak konkaf
• Cara Operatif
• -Radikal keratotomy (dengan pisau) yaitu operasi dengan menginsisi
kornea perifer sehingga kornea sentral menjadi datar. Hal ini
menyebabkan sinar yang masuk ke mata menjadi lebih dekat ke
retina.
• Excimer laser (dengan sinar laser) yaitu operasi dengan
menggunakan tenaga laser untuk mengurangi kecembungannya
dan dilengketkan kembali.
• Keratomileusis yaitu bila kornea yang terlalu cembung di insisi
kemudian dikurangi kecembungannya dan dilengketkan kembali.
• Epiratopati yaitu operasi dengan melakukan penjahitan keratolens
yang sesuai dengan koreksi refraksi ke kornea penderita yang telah
di buang epitelnya.
• Clear Lens Extraction