You are on page 1of 34

EPISTEMOLOGI ‘IRFĀNI

(Telaah atas Pemikiran Muhammad Abid al!abiri"
A# Pendahuluan
Epistemologi ‘irfāni adalah salah satu epistemologi yang dikembangkan
oleh al-Jābirī dalam triloginya, yaitu bāyani, ‘irfāni dan burhāni. Yang pertama
bayāni, dalam hal ini mencakup disiplin ilmu yang menjadikan ilmu bahasa rab
sebagai tema sentralnya, seperti nah!u, fi"h, balaghah. #asing-masing disiplin
keilmuan ini terbentuk dari satu sistem kesatuan yang mengikat basis-basis
penalarannya, yaitu bahasa. #enurut al-Jābirī, bahasa bukan hanya sekedar
berfungsi sebagai alat komunikasi atau sarana berfikir tetapi lebih dari itu adalah
satu !adah yang membatasi ruang lingkup pemikiran.
$
%edangkan yang kedua, yaitu ‘irfāni berasal dari kata dasar bahasa rab
'arafa semakna dengan makrifat, berarti pengetahuan. &etapi ia berbeda dengan
'ilm. ‘'rfān atau makrifat berkaitan erat dengan pengetahuan yang diperoleh secara
langsung le!at pengalaman (experience), sedang ilmu menunjuk pada
pengetahuan yang diperoleh le!at transformasi (naql) atau rasionalitas (*aql).
+arena itu secara terminologis, ‘irfān bisa dikatakan sebagai pengungkapan atas
pengetahuan yang diperoleh le!at penyinaran hakekat oleh &uhan kepada hamba-
,ya (kasyf) setelah adanya olah ruhani (riyādhah) yang dilakukan atas dasar cinta
(love)
-
$
%utrisno, ./eta Epistemologi 'slam menurut #uhammad 0bid al-Jābirī., dalam
Mukaddimah; Jurnal Studi Islam, ,o.1 &h. 2'3-444, hlm 56.

-
#uhammad 0bid al-Jābirī, Bunyah al-!ql al-!ra"ī (7eirut8 al-#arka9 as-sa"afi al-
rabi, $115), hlm.-:$
$
Epistemologi yang ketiga yaitu burhāni, adalah sistem pengetahuan yang
berbeda dengan metode pemikiran dan memiliki #orld vie# tersendiri, yang tidak
tergantung pada hegemoni sistem pengetahuan lain. 7urhāni mengandalkan
kekuatan indera, dan akal dalam mencapai pengetahuan.
5
;ari tiga epistemologi yang dilontarkan oleh al-Jābirī dalam memetakan
tradisi pemikiran umat 'slam, penulis mencoba mengangkat epistemologi ‘irfāni,
yang dianggap telah me!akili kekuatan intuisi dalam pencapaian pengetahuan,
dan dari sini pula penulis mencoba untuk mengetahui konsep al-Jābirī tentang
intuisi.
$# Sumber Sketsa %ist&ris ‘Ir'(ni
7erkembangnya pemikiran filsafat di Yunani secara tidak langsung
memba!a dampak pada bermunculannya filosof-filosof yang saling memberikan
tanggapan-tanggapan terhadap persoalan-persoalan filsafat !aktu itu. %ecara
otomatis akhirnya orang dibiasakan berfikir secara realistis dan rasionalistis, hal-
hal yang tidak dapat dibenarakan secara akal dianggap tidak <alid keberadaannya.
=al ini ternyata malah memberikan dampak yang kurang bagus terhadap Yunani.
,alar Yunani mulai mengalami kemerosotan pada a!al abad masehi, khususnya
aspek keretakan sosial dan keji!aan yang disebabkan oleh peperangan yang terus
menerus sejak pembukaan 'skandariyah pada abad empat %# sehingga berdirinya
'mperium >oma!i pada abad satu %#. +ehancuran yang menimpa rasionalitas
Yunani ini terjadi setelah ristoteles di mana semakin banyak aliran filsafat yang
lahir, timbul dan tersebar keraguan yang menjadikan rasionalitas Yunani nampak
5
I"id., hlm. 5?5
-
menenggelamkan dirinya sendiri. +ehancuran internal rasionalitas Yunani ini
karena ia berpegang terhadap sumber-sumber istimbat dan bahkan meninggalkan
sumber pengalaman.
@
&idak ada bedanya, apakah faktor sosio-historis atau peperangan yang
terus berlanjut yang telah meruntuhkan kekuatan rasionalitas Yunani, yang jelas
yang menggantikannya adalah la!annya yaitu irasionalitas yang berpegang
kepada sumber pengetahuan lain di luar akal dan indera. =al ini juga dibarengi
dengan tumbuh dan meluasnya keengganan untuk beragama secara hakiki
sehingga yang timbul adalah kekacauan religius. %eolah-olah hal ini menunjukan
ketundukan manusia terhadap &uhan, dengan berusaha agar &uhan memberikan
!ahyu dan ilham pribadi di mana sebelumnya hal itu dilakukan melalui akal.
;emikianlah manusia mulai beralih kepada irasionalitas, kepada sesuatu di
luar akal yaitu pada dataran intuisi sufistik atau illuminasi dan rahasia-rahasianya.
#anusia telah jenuh dengan argumentasi-argumentasi yang tidak menghasilkan
apa-apa selain pertentangan dan perselisihan pendapat.
%edangkan dalam tradisi rab 'slam model berfikir secara naql (dengan
menggunakan pengalaman) bukan '!ql (dengan menggunakan akal) mulai muncul
disebabkan begitu banyaknya ayat-ayat 'srailliyat
:
yang ada dalam al-Aur‘ān. ;ari
sini ayat israilliyat bagi pemikiran agama rab menginformasikan tentang sejarah
dunia dan akhirat, dunia ghaib yang menjadi objek pengetahuan yang
@
#uhammad 0bid al-Jābirī, $ormasi %alar !ra"& 'ritik (radisi Menu)u *em"e"asan
dan *luralisme +acana Intereli,ius (Jogjakarta8 '>Bi%o;, -445) hlm. -?4
:
yat-ayat 'srailliyat adalah ayat-ayat al-Aur‘ān yang berisi kisah-kisah tentang nabi-
nabi, surga, neraka dan kisah-kisah keagamaan yang intinya menitikberatkan kepada nasihat dan
pelajaran. Cihat #anna* +halil al-Aattan, Ma"ahis fi '-lumil .ur'an (#ansyurat al-sr al-=adits,
$165), diterj. #ud9akir %. hlm. @1$-@15.
5
penjelasannya diserahkan kepada al-Aur‘ān. %ecara tidak langsung ayat-ayat
'srailliyat ini telah mencemari akidah 'slam, !alau telah dilakukan usaha keras
oleh ulama tafsir, ahli hadits dan fu"aha untuk memaknai kembali ayat-ayat
'srailliyat ini, namun hingga sekarang 'srailliyat tetap menjadi sumber yang
penting di antara sumber-sumber irasional dalam pemikiran keagamaan rab,
khususnya dalam masyarakat umum dan dalam kebudayaan kelompok keagamaan
dalam masyarakat rab 'slam.
D

/ara ahli berbeda pendapat tentang asal sumber ‘irfān, mereka
memberikan klasifikasi empat sumber asal ‘irfān 8
6
$. #enganggap bah!a ‘irfān 'slam berasal dari sumber /ersia dan
#ajusi, seperti yang disampaikan ;o9y dan &houlk. lasannya,
sejumlah besar orang-orang #ajusi di 'ran utara tetap memeluk agama
mereka setelah penaklukan 'slam dan banyak tokoh sufi yang berasal
dari daerah +hurasan. ;isamping itu sebagian pendiri aliran-aliran sufi
berasal dari kelompok orang #ajusi, seperti #a*ruf al-+harki (!. ?$:
#) dan 7aya9id 7ushtami (!. ?66 #)
-. ‘Irfān berasal dari sumber-sumber +risten, seperti dikatakan 2on
+ramer, 'gna9 Eold9iher, ,icholson, sin /alacios dan F*lery.
lasannya ($) adanya interaksi antara orang-orang rab dan kaum
,asranai pada masa Jahiliyah maupun 9aman 'slam (-) adanya segi-
segi kesamaan antara kehidupan para %ufis dalam soal ajaran, tata cara
D
I"id/0 hlm. -@D.
6
+hudori %oleh, +acana Baru $ilsafat Islam (Jogjakarta8 /ustaka /elajar, -44@), hlm.
$1@-$1D.
@
melatih ji!a (riyādhah) dan mengasingkan diri (khal#at) dengan
kehidupan Yesus dan ajarannya, juga dengan kehidupan para rahib
dalam soal pakaian dan cara bersembahyang.
5. Irfān ditimba dari 'ndia seperti pendapat =orten dan =artman.
lasannya ($) kemunculan dan penyebaran ‘irfān (tasa!uf) pertama
kali adalah di +hurasan (-) kebanyakan dari para sufi angkatan
pertama bukan dari kalangan rab seperti 'brahim bin dham (!.6?-
#), %ya"i" al-7alkh (!. ?$4 #) dan Yahya 'bnu #uad9 (!. ?6$ #).
(5) pada masa sebelum 'slam, &urkistan adalah pusat agama dan
kebudayaan &imur serta 7arat. #ereka memberi !arna mistisisme
lama ketika memeluk 'slam (@) +onsep dan metode tasa!uf seperti
keluasan hati dan pemakaian tasbih adalah praktek-praktek dari 'ndia
@. Irfān berasal dari sumber-sumber Yunani, khususnya ,eo-/latonisme
dan =ermes seperti disampaikan F*leary dan ,icholson. lasannya
&eologi ristoteles yang merupakan paduan antara sistem /orphiry dan
/roclus telah dikenal baik dalam filsafat 'slam. +enyataanya, ;9un al-
,un l-#isri (61D-?D$ #) seorang tokoh sufisme dikenal sebagai
filosof dan pengikut sains =ellenistik. l-Jābirī agaknya termasuk
golongan ini. #enurutnya ‘irfān diadopsi dari ajaran =ermes, sedang
pengambilan dari teks-teks al-Aur‘ān lebih dikarenakan tendensi
politik. %ebagai contoh istilah maqāmat yang secara lafd9i dan
makna!i diambil dari al-Aur‘ān (A%. Gushilat $D@), identik dengan
:
konsep =ermes
?
tentang mi*raj, yakni kenaikan ji!a manusia setelah
berpisah dengan raga untuk menyatu dengan &uhan. #emang ada kata
maqāmat dalam al-Aur‘ān tetapi dimaksudkan sebagai ungkapan
tentang pelaksanaan hak-hak &uhan dengan segenap usaha dan niat
yang benar, bukan dalam arti tingkatan atau tahapan seperti dalam
istilah sufi.
+onsep ‘irfāni kemudian dikembangkan oleh ashā" al-akh#āl #a al-
syatkh sebagai mauqif atau keadaan dimana seseorang melalui pemahaman
terhadap dirinya menemukan hakekat atau jati diri yang sebenarnya, sehingga ia
mampu melepaskan diri dari alam dan menyatu dengan &uhan. +arena &uhan
merupakan hakekat yang utama, maka ketika ia bertemu dengan &uhan segala
hakekat yang lain tertanam dengan sendirinya didalam kalbunya. Hntuk sampai
pada tingkat ini seseorang harus melakukan riyādhah dan mu)āhadah secara inten.
/erihal di atas kemudian dikembangkan oleh ahli-ahli filsafat batini dan
golongan %yiah 'smailiyah menjadi teori pemikiran guna memberikan interpretasi
terhadap realitas alam, manusia, asal-usul dan tujuan akhirnya. /engetahuan ini
kemudian diklaim sebagai kebenaran tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia
sebab diberikan langsung oleh &uhan.
)# ‘Ir'(ni seba*ai sebuah E+istem&l&*i
?
;alam tradisi =ermes disebutkan bah!asannya dalam alam dan dipuncak susunan
bintang terdapat &uhan #aha &inggi (ilah al-Muta'alli), yang tidak bisa disifati, maha suci dan
tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. #akanya untuk memberikan jalan bagi bertemunya
&uhan dan manusia munculah =ermes, sebagai mediator antara al-illah al-muta'ali dengan
manusia, untuk menjelaskan bagaimna cara melepaskan diri dari badan dan menerangkan jalan
keselamatan. #enurut =ermes hanya ahli hikmah dan mereka yang membersihkan diri yang dapat
menangkap sinaran akal (uni<ersal) yang mengantarkan kepada ma'rifah al-haq, cara menyatukan
ji!a kedalam 9at llah (yang dalam istilah tasa!uf 'slam disebut dengan al-fana)
D
&opik sentral yang dibahas dalam epistemologi adalah pengetahuan.
/engetahuan dalam bahasa rab adalah ma*rifah, ma*rifah mempunyai banyak
penggunaan ketika dibentuk dalam sebuah kalimat atau digabungkan dengan kata-
kata yang lain, tetapi la9imnya ia berarti pengetahuan (kno#led,e), kesadaran
(a#areness), dan informasi. dakalanya ia digunakan dalam arti pencerapan
khusus (idrāk )u1'i atau particular perception), dan adakalanya digunakan dalam
arti tindak pengingat ulang (ta1ākur atau reco,nition). +adang-kadang ia juga
dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian
dan keyakinan.
1
+onsep pengetahuan merupakan suatu konsep yang paling jelas dan s!a-
nyata (self evident). Hntuk mendefinisikan pengetahuan sangatlah sulit, sebab
tidak ada kata atau istilah yang bisa me!akili atau menjelaskan pengetahuan
tersebut. +ata-kata atau frase yang biasa digunakan dalam buku-buku filsafat
mengenai pengetahuan hanyalah analogi-analogi atau contoh-contoh yang
diharapkan pembaca dapat menarik kesimpulan bah!a hal yang diungkapkan
tersebut adalah pengetahuan.
;alam tradisi epistemologi 'slam, pengetahuan dibagi menjadi dua 8
$4
$. /engetahuan yang secara langsung menuju pada esensi objek yang
diketahui. /ada pengetahuan ini keberadaan hakiki dan sejati objek yang
diketahui terbeber secara langsung pada diri subjek yang mengetahui atau
pelaku persepsi. ;alam kata lain pengetahuan ini disebut dengan
1
#uhammad &a"i #ishbah Ya9di, Buku 2aras $ilsafat Islam (7andung8 #i9an, -445),
hlm. ?-.
$4
Hntuk lebih jelasanya dapat dibaca dalam bukunya #ehdi =a*iri Ya9di, 3pistemolo,i
Illuminasionis dalam $ilsafat Islam& Men,hadirkan cahaya (uhan (7andung8 #i9an, -445) dalam
buku ini diterangkan dengan jelas proses pencapaiaan kedua pengetahuan tersebut.
6
.pengetahuan menghadir (presentational kno#led,e). atau .pengetahuan
dengan kehadiran. (kno#led,e "y presence atau al-'ilm al-hud4ri).
/engetahuan dengan kehadiran (al-'ilm al-hud4ri) adalah jenis
pengetahuan yang semua hubungannya berada dalam kerangka dirinya
sendiri, sehingga seluruh anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar
tanpa implikasi apapun terhadap acuan objektif eksternal yang
membutuhkan hubungan eksterior. rtinya hubungan mengetahui dalam
pengetahuan dengan kehadiran ini adalah sebuah bentuk pengetahuan yang
s!aobjek tanpa campurtangan dengan objek eksternal. kan tetapi dalam
penyuguhan gagasan ini, apa yang kita sebut sebagai objek yang objektif
sama sekali tidak berbeda dengan status eksistensialnya dari objek
subjektif. rtinya, jenis objek yang telah kita sebut sebagai objek esensial
bagi gagasan pengetahuan seperti itu dan bersifat imanen dalam pikiran
subjek yang mengetahui. ;alam pengetahuan dengan kehadiran ini objek
objektif dan objek subjektif adalah satu dan sama, dengan bahasa yang
lebih sederhana objekti<itas itu langsung hadir dalam pikiran subjek yang
mengetahui dan dengan demikian secara logis tersirat dalam definisi
konsepsi pengetahuan itu sendiri.
-. /engetahuan yang eksistensi objek tidak secara langsung
terbeberkan atau tersaksikan oleh subjek, akan tetapi subjeknya
menangkap pengetahuan ini melalui perantara yang mencerminkan objek.
Berminan ini secara teknis disebut sebagai bentuk (form5surah). ;alam
kata lain pengetahuan ini disebut dengan .pengetahuan tangkapan atau
?
perolehan. (acquired kno#led,e5al-'ilm al-hus4li) yakni pengetahuan yang
didapat le!at perantaraan atau santiran konseptual. /engetahuan seperti ini
adalah jenis pengetahuan yang melibatkan objek subjektif maupun objek
objektif yang terpisah, dan yang mencakup hubungan korespondensi
antara salah satu objek ini dan yang lain. +ombinasi objek-objek luar
sangat mempengaruhi terbentuknya esensi pengetahuan ini. %eandainya
tidak ada objek eksternal maka tidak akan ada representasinya, akibatnya
tidak ada kemungkinan hubungan korespondensi antara keduanya
sehingga tidak ada pula kemungkinan bagi eksistensi jenis pengetahuan
ini.
;ari penjabaran yang telah dipaparkan diatas, maka al-ilm al-hud4ri bisa
berbentuk pengetahuan intuitif dalam arti immediate kno#led,e seperti rasa sakit,
lapar, cinta, dan yang sejenisnya, tetapi bisa pula dalam bentuk pengetahuan yang
diperoleh langsung melalui .pelimpahan. langsung dari &uhan yang disebut
irfāni atau isyrāqi. 7eberapa kalangan menyebutkan bah!asanya al-ilm al-
hud4ri merupakan bagian dari pengetahuan intuitif, dan pengetahuan jenis isyrā"i
termasuk di dalamnya. /andangan tersebut ada benarnya, tetapi patut dicatat
bah!asanya pengetahuan ‘irfāni ataun isyrā"i tidak sama sepenuhnya dengan
pengetahuan intuitif.
Hntuk lebih memperjelas klasisfikasi pengetahuan ini, ada baiknya
mencoba membaca kembali pendapat 'bnu *rābi tentang pembagian ilmu
pengetahuan 8
$$
$$
Iillian B. Bhittik, (he Sufi *ath 6f 'no#led,e; 7ermeneutika !l-.ur'an I"nu '!ra"i
(Jogjakarta8 Aalam, -44$)
1
$. 'lmu pengetahuan melalui akal
-. 'lmu pengetahuan melalui ah#āl5state (intuitif)
5. 'lmu pengetahuan mengenai asrār (misteri ke-&uhanan). /engetahuan
jenis ini adalah pengetahuan di luar akal yang dilimpahkan oleh &uhan
secara langsung ke dalam hati. /engetahuan jenis ini khusus diberikan
kepada !ali dan para nabi. /engetahuan jenis ini ada tiga macam
• /engetahuan yang bisa difahami oleh akal
• /engetahuan yang sifatnya intuitif
• /engetahuan yang sifatnya pemberitahuan hal-hal yang rahasia
(akh"ar)
/engetahuan yang sifatnya intuitif inilah yang nantinya akan menjadi
!ilayah kajian Epistemologi ‘irfāni.
7anyak sebutan yang diberikan terhadap pengetahuan ‘irfāni ini, ada yang
menyebutnya sebagai kasyf0 laduni0 Isyraq0 1auq0 "ashiroh0 musyāhadah dan juga
irfāni. 7eragam sebutan tersaebut memiliki maksud masing-masing sesuai dan
semuanya itu merujuk pada salah satu karakter pengetahuan tersebut. %ebutan
terhadapa kasyf (terbuka) misalnya, hal ini sesuai dengan artinya yaitu peristi!a
tersingkapnya tabir yang menutupi diri (lebih tepat lagi hati atau "olbu) dari
pengetahuan-pengetahuan rahasia yang bersumber dari &uhan. %ebutan sebagai
8aduni biasanya diartikan sebagai adanya pengetahuan yang langsung
dianugerahkan oleh llah terhadap seseorang tanpa harus melakukan proses
ilmiah yang se!ajarnya. %edangkan sebutan isyrā"i menunjukkan adanya
peristi!a pelimpahan pengetahuan dari &uhan kepada seseorang yang sering
$4
digambarkan dalam bentuk cahaya, dan sebutan sebagai ma*rifat biasanya berkait
dengan kemampuan seseorang untuk mengetahui dengan mata hatinya mengenai
&uhan dan rahasia-rahasia-,ya, dimana hal itu diperoleh melalui anugerah &uhan
kepada-,ya karena kesungguhan pengabdian kepada-,ya. %emua proses
pengetahuan di atas kebanyakan melalui proses pengetahuan yang tidak
se!ajarnya (tidak ilmiah) akan tetapi menurut golongan *'rfaniyyun pengetahuan
yang bersifat intuitif merupakan pengetahuan yang tertinggi.
;alam tradisi filsafat 7arat pengetahuan yang didapatkan melalui
pemahaman yang langsung tentang pengetahuan yang tidak didapatkan dari hasil
pemikiran yang sadar atau persepsi rasa yang langsung dinamakan dengan intuisi.
;alam intuisi banyak pemaknaan yang diberikan seperti halnya rasa langsung
tentang keyakinan, imajinasi tercampur dengan keyakinan, respon total terhadap
situasi, pandangan langsung terhadap kebenaran. %alah satunya disampaikan oleh
seorang filosof /erancis =enri 7ergson ($?:1-$1@$).
$-
#enurutnya intuisi adalah
salah satu macam pengetahuan yang lebih tinggi !ataknya berbeda dengan
pengetahuan yang diungkapkan oleh indera dan akal. 7agi 7ergson, intuisi dan
akal mempunyai arah yang bertentangan. +ecerdasan atau intelek adalah alat yang
dipakai oleh sains untuk menghadapi materi. 'a menghadapi benda-benda dan
hubungan kuantitatif. 'a membekukan apa yang ia sentuh dan tidak dapat
$-
=enri 7ergson ($?:1-$1@$), seorang filsuf perancis yang lahir di /aris dari perka!inan
antara !anita 'nggris dan pria /olandia. #engajar di Bollege of Grance ($144-$1-$), kemudian
pensiun setelah kesehatannya menurun. Cahir pada saat bukunya ;ar!in 6ri,in of (he Spicies
diterbitkan. 7ergson menjadi pemimpin filsafat kehidupan baru yang memperhatikan konsep
e<olusi, dorongan (impulse) kehidupan kreatif, !aktu dan kelangsungan, intuisi dan kebebasan. 'a
menantang /ositi<isme, #aterialisme dan #echanisme pada 9amannya, dengan menulis buku-
buku seperti 8 (ime and free#ill ($??1), Matter and Memory ($?1D), dan 9reative evolution ($146)
yang merupakan karnyanya yang termasyhur. Cihat =arold =. &itus. dkk. *ersoalan-*ersoalan
$ilsafat (Jakarta8 7ulan 7intang, $1?@), hlm. -4:.
$$
menghadapi !atak kehidupan atau 9aman (duration). 'ntuisi yang sesungguhnya
adalah naluri (instinct) yang menjadi kesadaran diri sendiri dapat menuntun kita
kepada kehidupan. Jika intuisi dapat meluas ia bias memberikan petunjuk dalam
hal-hal <ital. +ita menemukan elan<ital, dorongan yang <ital dari dunia, dengan
intuisi yang dari dalam dan langsung, bukan dengan intelek yang dari luar dan
yang melukiskan benda hidup dalam bentuk yang statis.
Candasan ,ormatif mengenai pengetahuan ‘irfāni ini juga bisa kita
dapatkan dalam al-Aur‘ān maupun hadis ,abi. ;iantara ayat-ayat al-Aur‘ān dan
=adis ,abi yang memberikan petunjuk tentang pengetahuan ‘irfāni ini adalah
sebagi berikut 8
$. ;alam ayat al-Aur‘ān disampaikan jika kita berta"!a (merupakan
salah satu laku spirirtual dalam tradisi 'slam) maka kita akan
mendapatkan
$5
• pembeda antara kebenaran dan kebathilan (furqan) (A%.
?8-1)
,-,. /0 123 4567 899:;<= >99:?@9 A7 B39 ,C79 ,7
$5
Gahruddin Gai9, ‘'rfāni sebagai #ad9hab Epistemologi (#akalah pada /rogram /asca
%arjana '', %unan +alijaga Jogjakarta)
$-
• ;iberi jalan keluar (A%. D:8-)
,D/E@ F3 4567 89 G<7 A@ H
• ;imudahkan urusannya (A%. D:8@)
F3 4567 89 G<7 A@ H 9/I7 J/@9 A@
• ;iberi rahmat cahaya (%4r) dan ampunan (A% :68-?)
9K:- 123 4567H F<LMK A@ ANOPQ 12=R7 F3 :S/T 9:?@9H 899:;=99:?@9 A7 B39 ,C79 ,7
• kan memperoleh pengajaran dari llah (ta'limullāh) (A%.
-8-?-)
89 12O57H 899:;=9 H
• /enyingkapan hati (alru'yah al-qol"iyyah) (A%. $4-85-@)
>:LO5= U:S VQ 1W >:LO5= U:S VQ
-. =adis ,abi 8.%iapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya,
llah akan memberikan ilmu yang tidak diketahuinya.., .&akutlah firasat
seorang mukmin karena ia melihat dengan cahaya llah., .dakah
diantara kamu yang ingin diberi ilmu tanpa belajar dan petunjuk llah
tanpa ditunjukiJ dakah diantara kamu yang ingin dihilangkan kebutaanya
dan dijadikan melihatJ +etahuilah, siapa yang 9uhud dalam dunia dan
pendek angan-angan di dalamnya, llah akan memberi ilmu tanpa belajar
dan petunjuk tanpa ditunjuki..
$@
$@
bu hamid l-Ehā9ālī , Ihya' '-lum al-2in (7eirut8 ;ar al-fikr, $1?@), jilid ''', hlm.---
-5.
$5
‘'rfāni sebagai bagian dari pengetahuan intuitif meski difahami sebagai
pengetahuan bahasa tentang kesadaran mistik baik dalam perjalanan mi*raj yang
intro<ertif maupun proses penurunan yang ekstro<ertif. 7erbagai upaya sudah
dilakukan untuk mengidentifikasi ‘irfāni sebagai sebuah ilmu yang mandiri dan
berbeda dari filsafat, teologi dan agama. ;ari semua uraian diatas sudah dapat kita
lihat bah!asanya pengetahuan ‘irfāni bisa dijadikan sebuah epistemologi yang
dapat dipertanggungja!abkan, !alaupun pengetahuan ini bersifat subjektif, akan
tetapi kebenarannya diakui sebagai kebenaran tertinggi.
X# Tema P&k&k E+istim&l&*i Ir'ani Ābid al!(birY
#enyatukan teks dan akal rupanya bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab
hal ini bisa memunculkan kekakuan-kekakuan dan ketegangan tertentu, bahkan
tidak jarang terjadi kekerasan dan konflik. Hntuk menghindari kekakuan dan
rigiditas dalamm berpikir terhadap permasalahan keagamaan yang menggunakan
teks, epistemologi pemikiran keagamaan 'slam sebenarnya sudah mempunyai
mekanisme kontrol perimbangan pemikiran dari dalam (internal control) le!at
epistemologi ‘irfāni. /ola Epistemologi ‘irfāni ini lebih bersifat 'ntuitif.
$:
#eskipun al-Jābirī mengkaji 'slam dengan cara 7arat, al-Jābirī berupaya
untuk tetap mempertahankan ciri khas yang dimiliki oleh dan mempertahankan
‘irfāni 'slam. +arena sesungguhnya ada korelasi antara metodologi dan pemikiran.
/embahasan 1āhir dan "ātin disodorkan untuk memperjelas perbincangan
metodologi, dan tentang pemikiran sebagai dasar dibahas dalam #ilayah dan
$:
min bdullah, !l-(a'#il !l-Ilmi& 'e !rah *eru"ahan *aradi,ma *enafsiran 'ita"
Suci dalam Jurnal Media Inovasi (,o.- th.K'3-44-), hlm. -5$--54.
$@
%u"u#ah. =al tersebut juga diterapkan al-Jābirī dalam mengkaji epistemologi
‘irfāni dengan memulai pembahasannya tentang persoalan 1āhir dan "ātin dan
%u"u#ah #a al-#ilayah.
Hntuk mengetahui lebih lanjut tentang definisi kedua pembahasan al-Jābirī
tersebut, kiranya perlu untuk dijabarkan keduanya 8
Z# [(hir dan $(tin
/embahasan ‘irfān yang utama adalah pembahasan yang bersifat esoterik,
pembahasan esoterik tidak akan lepas dari istilah 9āhir dan bātin, sebab inilah
pijakan a!al terhadap pembahasan ‘irfān. pabila dalam epistemologi bayāni ada
konsep lafa1 dan ma'na, dalam ‘irfāni terdapat konsep 9āhir dan bātin. liran
gnostis dalam berbagai budaya menggunakan konsep 9āhir dan bātin sebagai
dasar pandangannya terhadap dunia dan cara memperlakukannya. ‘'rfāni dalam
budaya rab-'slam menjadikan teks bayāni (al-Aur‘ān dan al-hadis) sebagai
pelindung dan penyinar.
l-#uhassibi sebagaimana dikutip oleh al-Jābirī menjelaskan bah!asanya
yang dianggap 9āhir adalah teks l-"ur*an sedangkan bātin-nya adalah ta'#il
terhadap al-Aur‘ān. Jika hal ini dianalogikan dengan bayāni, konsep 9āhir dan
bātin ini tidak berbeda dengan konsep lafa1 dan ma'na, yang menjadi perbedaan
antara keduaanya adalah kalau epistemologi bayāni, seseorang berangkat dari
lafa1 menuju ma'na, sedangkan dalam epistemologi ‘irfāni seseorang justru
berangkat dari ma'na baru ke lafa1, dari "ātin ke 1āhir
$D
atau dalam bahasa
$D
#uhammad 0bid al-Jābirī, Bunyah al-!ql al-!ra"ī (7eirut8 al-#arka9 as-sa"afi al-
rabi, $115), hlm.-6:.

$:
Ehā9ālī ma'na sebagai asl, sedangkan lafa1 mengikuti ma'na. pabila dalam
ta'#il bayani memerlukan susunan bayan seperti #a)ah sya"ah :'illat; ataupun
adanya pertalian lafa1 dan ma'na (qārinah laf1iyah an makna#iyah; maka ta'#il
‘irfāni tidak memerlukan persyaratan atau perantara.
$6

Jika seseorang yang telah menjalani proses ‘irfāni ('!rif) mengungkapkan
pengalamannya le!at makna dan pemikiran yang diisyaratkkan oleh al-Aur‘ān
dari dalam ji!anya dengan bahasa yang benar, jelas, dan sadar disebut ta*!il,
sedang jika ia berusaha mengungkapkan .pikiran-pikiran yang saling berla!anan.
dan perasaan yang saling tarik-menarik. dengan netral dan tiba-tiba serta tidak
tunduk terhadap aturan hal ini disebut dengan syathahat. Syatahat adalah
ungkapan seseorang mengenai perasaan (al-#i)dān) yang melimpah dari
sumbernya dan disertai dengan pengakuan. /engakuan disini dimaknai sebagai
pengakuan dirinya dengan sang diluhung (&uhan), seperti yang dialami oleh bu
Ya9id al-7ushtami (!.-D$ =) dengan ungkapannya <Su"hān=< (#aha suci aku)
dan al-=allaj (!.541 =) dengan ungkapannya <!nā al-hāq< (%aya adalah &uhan
yang #aha 7enar).
$?

Hngkapan-ungkapan seperti ini muncul ketika seseorang mengalami suatu
pengalaman intuitif yang sangat mendalam atau ekstase spiritual, sehingga sering
ungkapan dan perilakunya tidak seiring dengan kaidah teologis maupun
epistemologis tertentu, karena itu pula ia sering dihujat dan dinilai menyimpang
dari ajaran agama.
$6
I"id/, hlm. -D$.
$?
I"id/, hlm. -??.
$D
#enurut 'bn-rābi (!. D5? =), sebagaimana dikutip oleh al-Jābirī, makna
9āhir dan makna bātin al-Aur‘ān itu berasal dari llah. !l->āhir adalah
penurunan kita terhadap para nabi dengan bahasa kaumnya. %edang al-"ātin
adalah pemahaman terhadap hati kaum ‘irfāni. /erihal 9āhir dan bātin ini juga
sudah disebutkan dalam al-Aur‘ān .;an menyempurnakan untukmu nikmat-,ya
lahir dan bathin (Cukman 8 -4), .;an tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang
tersembunyi. (l-n*ām 8 $-4), .;ialah Yang a!al dan Yang akhir Yang 9āhir dan
Yang bātin. (al-=ādid 8 5) yang ketiganya ini sekaligus dijadikan sebagai landasan
metafisisnya.
$1
;ualisme 9āhir dan bātin tidak kembali kepada pemahaman dan
penta*!ilan manusia akan tetapi kembali kepada tindakan dan ciptaan llah. llah
menciptakan segala sesuatu terdiri dari 9āhir dan bātin, begitu juga ketika &uhan
menciptakan al-Aur‘ān yang didalamnya ada 9āhir dan bātin, ada yang tersurat
dan yang tersirat. !l->āhir sebagai sesuatu yang bersifat indera!i yaitu bentuk
fisik al-Aur‘ān atau tulisan al-Aur‘ān itu sendiri. %edangkan al-"ātin adalah
sesuatu yang bersifat spirit makna!i, yaitu pemaknaan atau penta*!ilan terhadap
al-Aur‘ān. ;engan demikian firman llah secara bātin sama dengan hukum yang
terdapat pada 9āhir (yang terindera). %pirit dan makna!i ke-&uhanan yang
terdapat dalam .bentuk. oleh 'bnu *rābi disebut I'ti"ar "ātin.
%ekarang, persolan yang muncul adalah bagaimana makna dan dimensi
bātin yang diperoleh melalui pengetahuan intuitif .ketersingkapan. (kasyf)
tersebut diungkapakanJ /engungkapan pengalaman intuitif ini menurut al-Jābirī
bisa diungkapkan melalui dua cara 8
$1
I"id/, hlm. -6-
$6
$. /engungkapan dengan cara yang disebut I'ti"ar atau .iyas ‘irfāni , yaitu
analogi makna bātin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna 9āhir
yang sudah ada dalam teks. %ebagai contoh, "iyas yang dilakukan oleh
kaum %yiah untuk menunjukan keunggulan keluarga 'mam li ra. atas
yang lain. yat al-Aur‘ān yang dijadikan "iyas ini adalah surat al-
>ahmān ayat $1--- .;ia membiarkan dua lautan mengalir yang
keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak
dilampaui oleh masing-masing, dan dari keduanya keluar mutiara dan
marjan. ayat ini kemudian dimaknai sebagai berikut. li dan Gatimah
dinisbatkan sebagai lautan, ,abi #uhammad %I dinisbatkan atas
batas ("ar1ah) sedangkan =asan dan =usein dinisbatkan pada mutiara
dan marjan.
-4
/encontohan diatas sebenarnya adalah upaya untuk penjelasan
terhadap proses "iyas ‘irfāni, akan tetapi bukan sama seperti yang
dilakukan oleh kaum syiah tersebut. /emaknaan diatas terkesan
dipaksakan dan sangat berkarakter politis, dan efek dari penta*!ilan
tersebut adalah pengagungan li diantara yang lainnya. 7erbeda
dengan "iyas ‘irfāni yang memang benar-benar melalui pengalaman
intuitif yang mendalam dan hasilnya tidak akan bertentangan dengan
ajaran dan agama.
%atu lagi contoh "iyas yang dihasilkan dari para kaum sufi yaitu oleh
al-Ausyairi atas ayat yang sama,. #enurutnya,
-$
dalam hati manusia ini
-4
I"id/, hlm.54D.

-$
I"id/, hlm.546.
$?
ada dua lautan, yakni khauf (takut) dan ra)a' (harapan)
--
, dan dari sana
keluar mutiara dan marjan, yakni ah#āl as-shufiyah dan lathaif al-
muta#āliyah. ;iantaranya keduannya ada batas yang tak terlampaui
yakni penga!asan &uhan atas ini dan itu. rtinya konsep sufisme
tentang khauf dan ra)a' dinisbatkan pada kata ."ahrain. (dua lautan),
sedang ah#āl dan lathāif dinisbatkan pada mutiara dan marjan.
-. /engetahuan kasyf juga diungkapkan le!at apa yang disebut
dengan syatahat. Syatahat adalah ungkapan-ungkapan langsung
seseorang yang muncul tentang perasaan (#i)dān) karena mendapatkan
limpahan pengetahuan secara langsung dari sumbernya. +ebanyakan
ungkapan-ungkapan yang muncul dari syatahat ini menyimpang dari
ajaran-ajaran gama dan banyak dihujat oleh para ahli agama.
+eberadaan "iyas, ta*!il dan syatahat ini memunculkan persoalan yaitu
sebenarnya dimanakah letak hakekatnyaJ %ebab hasil tiap-tiap orang yang
mengalaminya tidak sama, meskipun mereka sama-sama mengklaim telah
mendapatkan pengetahuan langsung dari realitas mutlak. #engikuti pendapat al-
Jābirī, hakekat "iyas, ta*!il dan syatahat tidak terletak pada umumnya atau
uni<ersalitasnya, akan tetapi pada makna temporal atau subjekti<itasnya,
dikarenakan ta'#il dan syatahat tidak lain adalah pemaknaan terhadap realitas

--
+hauf atau rasa takut adalah satu bentuk dari naluri manusia guna menghambakan diri
kepada llah yang menciptakannya., dalam kalangan salikin (/elaku spiritual) perasaan takut
sangat mendominasi perjalanan hidup dan penghambaan mereka untuk mencapai ma"am makrifat
"illah. %edangkan raja* atau pengahrapan adalah rasa berharapnya seorang salik tentang janji llah
akan surga dan nikmatnya, tentang adanya ampunan llah dan ridha-,ya. +eadaan harap ini bisa
dimunculkan dengan menghayati l-"ur*an dan hadits dan atsar yang sarat dengan kandungan
harap. Cebih jelasnya baca chmad %uyuti, *ercik-*ercik 'esufian (Jakarta8 /ustaka mani,
$11D), hlm. $@D-$:?.
$1
yang ditangkap ketika mengalami ketersingkapan (kasyf), dan tiap orang pasti
akan berbeda kualitas penangkapannya, tergantung pada kualitas ji!a dan
pengalaman sosial yang melingkupinya.
-5
\# ]il(^ah dan Nubu_ah
pabila dalam epistemologi 7ayāni terdapat konsep a?l (asal-asal) ke far'
(cabang), sementara dalam ‘irfāni ada juga konsep #ilāyah (ke!alian) dan
%u"u#ah (kenabian). +edua istilah ini sama-sama mempunyai kekuatan otoritas
religius yang diberikan &uhan, keduanya juga merupakan utusan-utusan &uhan
dalam menyampaikan ajaran ke-&uhanan. /erbedaan yang muncul dari keduanya
adalah, kenabian ditandai dengan adanya !ahyu dan mukji9at serta diperoleh
dengan tanpa usaha, jadi benar-benar orang yang menjadi ,abi adalah orang yang
dipilih &uhan. %edangkan ke!alian ditandai dengan karomah serta ‘irfān, dan
diperoleh le!at usaha (ihtisā").
-@
%ehingga ke!alian sebagai representasi dari yang 9āhir dan kenabian dari
yang bātin. ;alam pandangan 'bnu ‘rābi, kedua konsep tersebut dinamakan
dengan konsep kenabian umum dan kenabian khusus. +enabian umum adalah
ke!alian yang berhubungan dengan ilham, ma‘rifat atau ‘irfāni, sedang kenabian
khusus adalah nabi yang dibekali syariat dan ketentuan hukum-hukum formal.
+edua konsep ini memilki derajat yang berbeda yang dikarenakan proses
pencapaiannya juga berbeda. +enabian dianggap lebih tinggi dari ke!alian,
dimana puncak ke!alian adalah a!al dari kenabian. /engalaman ketersingkapan
-5
I"id/, hlm. -?$.
-@
I"id/, hlm. 5D$.
-4
yang biasa dialami oleh pada permulaan kenabian adalah puncak perjalanan
spiritual bagi ke!alian.
#enurut ahli sufi ada tiga kondisi pendakian spiritual yang harus dilaluiL
pertama, penyandang !aktu, mereka adalah pemula. ;alam kondisi ini seorang
pendaki (sālik) berada dalam dua kondisi, yaitu menempati !aktu dan
berkemungkinan kekosongan !aktu (,haflah), !aktu dalam term sufi identik
dengan akti<itas spiritual. 'edua, penyandang ah!āl, mereka adalah para sālik
papan tengah. ;alam kondisi ini seorang sālik berada dalam dua kondisi yaitu
menempati ah!āl dan kemungkinan menempati !aktu. 'eti,a, penyandang anfās,
mereka adalah yang telah mencapai puncak perjalanan spiritual. #ereka &elah
bisa bernafas dari pendakian yang begitu melelahkan. #ereka telah mencapai
puncak yang dituju yaitu yang dinamakan dengan #isāl, mukāsyafah
(ketersingkapan), fana' (ekstase), tauhid (penyatuan), musyāhadah (penyaksian).
-:
&ingkat ketiga ini tidak akan dicapai kecuali oleh para !ali. #etode pendakian
inilah yang akan ditempuh dalam epistemologi ‘irfāni.
;alam ranah pemikiran filsafat barat ada sebuah konsep yang mempunyai
sisi kesamaan dengan pengetahuan intuitif yaitu filsafat esoterik, dalam filsafat ini
mereka mengklaim bah!a pengetahuan melalui yang tersembunyi menjadikan
analogi sebagai metodologi yang tidak memerlukan sistem kausalitas
-D
maupun
prinsip lainya. 7ahkan mereka terkesan memaksakan diri agar fenomena tersebut
sesuai dengan pikiran mereka. =al ini juga terjadi dalam ‘irfāni 'slam. %eperti
-:
I"id., hlm. 5:D.

-D
/rinsip kausalitas adalah keyakinan bah!a setiap kejadian mempunyai sebab dan dalam
situasi yang sama, sebab yang sama juga menimbulkan efek yang sama. Cihat =arold =. &itus dkk.
*eroalan-*ersoalan $ilsafat (Jakarta8 7ulan 7intangt, $1?@), hlm. -5@.

-$
telah dijelaskan bah!a ketergantungan kelompok gnosis syiah terhadap analogi
secara terang-terangan dijadikan metodologi yang menandai pengaruhnya
phytaghoras terhadap karya tersebut. %uatu proses kognitif pemikiran dengan
intuisi dalam penyingkapan (kasyf) untuk menggambarkan &uhan yang transenden
dan manusia yang imanen. +arakteristiknya secara umum adalah 8 analogi sebagai
suatu proses kognitif memiliki berbagai macam bentuk dan pola dalam berbagai
tingkatan yang berbeda, yakni analogi kemiripan, kesamaan filosofis dan yang
lainnya. /enalaran dengan menggunakan analogi yang ,hoi" atas yang syahid.
-6
;alam membaca epistemologi ‘irfāni ini al-Jābirī memakai tiga analogi
sebagai alat analisanya 8
-?
a. nalogi perhitungan
+esesuaian secara matematik seperti -3@, 53D, @3? dll. #asing-masing
mempunyai hasil yang sama yaitu $3-, yang menjadikan keduanya
mempunyai hubungan kesetaraan. /enalaran dengan analogi yang
dijadikan suatu proses kognitif dengan cara ini, dapat dibatasi
dengannya, atau huruf yang keempat yang tidak diketahui, didalamnya
terbentuk suatu pola hubungan tertentu, misalnya 53@MD3a maka aM?.
'ni adalah bentuk analogi yang paling kuat yang khusus terjadi pada
matematika, bukan pada ‘irfāni.
b. nalogi manti"
-6
#ohammad 0bid al-Jābirī, op/cit., hlm. 56:.
-?
I"id., hlm 56:-566.
--
/enalaran dengan menggunakan contoh atau "iyas. ;an hal ini telah
dibicarakan oleh ristoteles dengan cara yang masih sederhana, yakni
pertama, penalaran silogisme atau deduksi atau induksi.
-1
dapun
analogi atau tamsil dalam hal ini adalah perpindahan kognitif dari
suatu keadaan yang sebanding ke hal yang sebanding lainnya. 7entuk
penalaran seperti ini oleh ristoteles dimasukan dalam bentuk
penalaran induktif. /enalaran seperti ini adalah penalaran yang paling
lemah, sebagai induksi !acana karena didalamnya tidak ada
keserupaan. %ebagai contoh Naid adalah seseorang yang mulia, Naid
berkebangsaan rab, Hmar adalah berkebangasaan rab, dengan
demikian Hmar semulia Naid. /enalaran seperti ini menghasilkan
sesuatu penyamarataan padahal tidak semua orang berkebangsaan rab
itu mulia. 7egitu juga dengan analogi #anusia mengetahui dan llah
mengetahui tetapi pengetahuan keduanya berbeda. Jelaslah bah!a
analogi dalam pengertian 7āyani, bahasa saja, dan menimbulkan
keraguan saja, jadi setiap kesimpulan yang diambil dari analogi
sesungguhnya menimbulkan keraguan yang kuat bagi rasio. ,amun ini
sebagi sarana untuk mengetahui yang lain dan membuktikan bah!a dia
mengerti3mengetahui.
-1
Cogika deduktif membicarakan cara-cara untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan bila
lebih dulu telah diajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai semua atau sejumlah ini diantara suatu
kelompok barang sesuatu. Cebih gampangnya, logika ini meyimpulkan sesuatu dari pernyataan-
pernyataan yang bersifat umum kemudian dikerucutkan dalam penyimpulan. +esimpulan yang sah
pada penalaran deduktif selalu merupakan akibat yang bersifat keharusan dari pernyataan-
pernyataan yang lebih dahulu diajukan. %edangkan logika induktif membicarakan tentang
penarikan kesimpulan bukan dari penyataan-pernyataan yang umum , melainkan dari hal-hal yang
khusus. +esimpulan hanya bersifat probabilitas berdasarkan atas pernyataan-pernyataan yang telah
diajukan. Cebih jelasnya Cihat Couis F. +attsof, *en,antar $ilsafat (Jogjakarta8 &iara Iacana
Yogya, $11D), hlm -6-54.
-5
c. nalogi mengandung kesamaran
nalogi yang ketiga ini mengandung kesamaran yakni analogi intuitif
atau analogi sufistik yang tergantung pada keadaan a!alnya. 7agi al-
Jābirī dengan mengutip pendapat 7lonk, permasalahannya adalah
karena adanya kesesuaian antara dua hal atau lebih dari kesesuaian-
kesesuaian yang dapat dianggap dari dalam ilmu-ilmu rahasia, tidak
berdasarkan kesamaan tetapi satu sama lain diantara dua hal yang
diperbandingkan atau dianalogikan sebagai pembanding terhadap yang
lain atau simbol atau didalamnya terkandung pengaruh dari yang lain.
;engan tidak adanya kesetaraan didalam hubungan dari kesetaraan
matematik, sesungguhnya bangunan analogi itu lebih jatuh. #isalnya
insang 8 ikan, dan antara paru-parau 8 udara, sehingga dapat dimengerti
konstruksi tersebut merupakan hubungan kesamaan bukan kesetaraan.
/engalaman intuitif yang dialami seseorang ketika mengalami
ketersingkapan ‘irfāni bukanlah sesuatu yang diatas akal, menurut al-Jābirī hal ini
adalah akal kreatif manusia yang paling rendah, bukan merupakan sesuatu yang
luar biasa, bukan pula anugerah dari sesuatu yang #ahatinggi. 'a tidak lain adalah
suatu kreatifitas hati yang tidak dekat tetapi didasarkan kepada imajinasi yang
digunakannya yang tidak memberikan kontribusi tematis secara indera!i dan juga
rasional secara tematis, tetapi karena perasaan-perasaan seseorang yang tidak
mampu menghadapi realitas ataupun menguasainya. /eristi!a inipun akhirnya
menghasilkan sebuah pengetahuan yang menimbulkan kerahasiaan secara khusus
dan karenanya bersifat subjektif. Genomena tersebut sesungguhnya menjadikan
-@
‘irfāni sebagai pelarian ke arah mitologi yang difilsafatkan, sebuah dunia mitos
manusia tertinggi yang ditemukan pada agama-agama <ersi klasik yang dibangun
oleh =ermes.
54

/enggunaan analogi seperti inilah yang akhirnya membuat al-Jābirī
menyamakan ‘irfāni dengan aliran filsafat esoterik dalam tradisi filsafat 7arat
yang disebut dengan analogi intuitif. ,amun dalam analogi filsafat esoterik
perbandingan bukan dilakukan atas dasar kesamaan tetapi karena adanya
keterpengaruhan. 7agi al-Jābirī dengan tidak adanya kesamaan dan kesetaraan
diantara dua hal yang dianalogikan berarti analogi tersebut telah jatuh. +arena itu,
dan hal ini merupakan kesalahan yang dibuat oleh al-Jābirī, ia menggunakan
metode analogi 7arat dalam mengkaji pengetahuan ‘irfāni, yang jelas-jelas
keduanya mempunyai akar sejarah pengetahuan yang berbeda. %ehingga
menganggap pengetahuan ‘irfāni yang dibangun atas dasar "iyas bukan sesuatu
yang luar biasa tetapi hanya kreati<itas akal yang didasarkan atas imajinasi. Cebih
lanjut akhirnya ‘irfāni hanya merupakan filsafatisasi mitos-mitos yang tidak
memberikan kontribusi apapun terhadap pembangunan masyarakat.
5$

/enganalogian yang dipakai al-Jābirī dalam membaca pengetahuan ‘irfāni
ini masih sangat positi<istik
5-
, hal ini tidak lepas dari pengaruh para filosof 7arat
54
I"id., hlm. 56?
5$
. +hudhori %oleh, +acana Baru $ilsafat Islam (Jogjakarta8 /ustaka /elajar, -44@),
hlm. -$4 .
5-
'stilah /ositi<istik ini adalah kata sifat dari /ositi<isme, /ositi<isme muncul dari
golongan ekstrimis empirisisme, salah satunya adalah ugust Bomte ($61?-$?:6). liran
/ositi<isme adalah sebuah pengujian ilmu pengetahuan yang berdasarkan ketentuan sebagai
berikut8 memiliki tingkat kepastian yang tinggi, Measura"le (atau dapat diukur), menekankan pada
a9as manfaat. ;apat juga disebut sebagai empirisisme yang membatasi dasar pengetahuannya pada
apa yang datangnya langsung dari pancaindera. Cihat li #udhofir, 'amus $ilsuf Barat
(Jogjakarta8 /ustaka /elajar, -44$), hlm. $4$-$4@, Cihat Juga #uhammad &a"i # ishbah Ya9di,
Buku 2aras $ilsafat Islam (7andung8 #i9an, -445), hlm. $1--4.
-:
yang mempengaruhi corak berpikirnya, seperti #ichele Goucoult, =eiddeger, Ce<i
%traus dan yang lainnya. +ebanyakan para filosof yang berpengaruh terhadap
pemikiran al-Jābirī adalah orang-orang yang berfikir secara analitis dan kritis.
;alam akhir pembahasan al-Jābirī terhadap Epistemologi, beliau masih
mempertanyakan tentang tiga hal, pertama mungkinkah dalam memperoleh
pengetahuan ‘irfāni tanpa menggunakan perantaraJ, kedua, 7agaimana seorang
*rif bisa mentransformasikan makna tanpa saranaJ, keti,a0 sarana kognitif apa
yang dapat dipakai landasan epistemologi oleh kelompok ‘irfāni J
;ari tiga pertanyaan inipun kita dapat melihat secara jelas bah!asanya
dalam membaca ‘irfāni 'slam, al-Jābirī masih menggunakan metode penalaran
7arat. /adahal ‘irfāni 'slam sama sekali berbeda dengan pengetahuan mistik di
7arat, meskipun dalam beberapa hal ada kesamaan. ‘'rfāni 'slam lebih berkaitan
pada kebersihan ji!a, rasa dan keyakinan hati dalam usaha memperoleh
pengetahuan. %ementara mistik 7arat kurang berkaitan dengan semua itu dan
lebih bersifat positi<istik. +arena itu menggunakan alat ukur mistik 7arat dalam
menganalisa ‘irfāni 'slam sesungguhnya merupakan ja!aban yang kurang tepat,
sebab hal ini tidak akan memberikan ja!aban atas hakekat yang sebenarnya.
%ecara epistemologis, Epistemologi ‘irfāni menyodorkan sebuah metode
yang digunakan dalam memperoleh pengetahuan, dan yang digunakan dalam hal
ini bukanlah indera melainkan kasyf (ketersingkapan), yaitu mendapatkan
pengetahuan melalui mekanisme kognitif penalaran secara langsung tanpa
menggunakan rasio. =al inilah yang mungkin menjadikan pengetahuan ‘irfāni
dipandang sebelah mata dalam kacamata 7arat, sebab sudah terlalu kental !ajah
-D
pengetahuannya dengan menggunakan indera dan akal. 7ahkan sesungguhnya
pengetahuan ‘irfāni digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya jika
kita secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui,
kemudian kita mengatakan .inilah orang yang dapat kita percayaO. atau ada orang
yang merasa jatuh cinta pada pandangan pertama, dan yang lain semacamnya. =al
tersebut merupakan bagian dari pengetahuan intuitif yang melibatkan konsepsi
yang spontan dan representatif. +arena itu ‘irfāni sangat dekat dengan intuisi,
bahkan dalam beberapa hal bisa dikatakan identik
/engetahuan secara ‘irfāni ini adalah sebuah sumber pengetahuan yang
sangat monumental, sebuah pemahaman langsung tentang pengetahuan yang tidak
merupakan hasil pemikiran yang sadar atau persepsi rasa yang langsung tentang
keyakinan, imajinasi yang bercampur dengan keyakinan, respon langsung dan
total terhadap kondisi dan situasi tertentu.
;alam hal ini perlu ditegaskan kembali istilah ‘irfāni dalam tradisi filsafat
'slam, ‘irfān secara harfiah berarti .kesadaran. atau .pengetahuan., dalam bahasa
filosofis 'slam digunakan dalam pengertian yang identik dengan dan bisa
diterapkan pada pengertian normal tentang pengetahuan dalam arti ketat. ;ari sini
‘irfān mempunyai keleluasaan dalam bergerak, tidak hanya bersentuhan dengan
!ilayah-!ilayah pengalaman filosofis tentang &uhan. 7ah!a kemudian proses
untuk memperoleh pengetahuan dapat dengan cepat melalui intuisi yang bersandar
pada kesadaran 'llahiyah, menuju akal, dan kembali pada kesadaran akal, serta
aktualisasinya dapat dibenarkan.
55
55
;anusiri, 3pistemolo,i 2alam (asa#uf Iq"al (Jogjakarta8 /ustaka /elajar, $11D), hlm.
D:.
-6
%ebagai sebuah sumber pengetahuan, ‘irfāni sebagai penghayatan dan
pengetahuan langsung-sebagaimana intuisi-, terdapat beberapa sikap terhadap
intuisis 8
5@
$. &erdapat intuisi dalam segala pengetahuan, Eeorge %antayana memakai
istilah intuisi dalam arti kesadaran kita tentang data-data yang langsung
yang kita rasakan
-. 'ntuisi hanya merupakan hasil tumpukan pengalaman dan pemikiran
seseorang pada masa lalu. 'ntuisi yang benar adalah pemendekan terhadap
pengetahuan yang seharusnya diungkapkan oleh indera dan pemikiran
reflektif.
5. 'ntuisi adalah satu macam pengetahuan yang lebih tinggi !ataknya
berbeda dengan pengetahuan yang diungkapkan dengan indra dan akal
@. 'ntuisi yang ditemukan orang dalam penjabaran mistik memungkinkan kita
untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung yang mengatasi
(transenden) pengetahuan yang kita peroleh dengan akal dan indera.
Epistemologi dalam perbincangan al-Jābirī ini coba untuk diarahkan
kepada sebuah pengetahuan intuitif ke dalam bahasa yang lebih rasional, sebab
secara tidak langsung epistemologi ‘irfāni ini telah meletakan dasar irrasionalisme
dalam pengetahuan rab 'slam ditingkat metodologis ataupun pemikiran. l-
Jābirī ingin menganalisa ‘irfāni secara rasional, dengan ini akan bisa terkuak
hakikat teknisnya sebagai metode dan hakekat pemikiranya sebagai teori. ;engan
begini nampaknya ‘irfāni ingin memberikan garis tengah antara akal dan sesuatu
yang bersifat supranatural. =al ini bukan berarti ingin meninggalkan akal,
5@
=arold =. &itus. dkk, op/cit/, hlm. -4@--4:.
-?
melainkan tidak sepenuhnya memainkan peranan akal, sebab ‘irfāni adalah
persoalan direct experience.
E# Im+likasi +emikiran intuisi Muhammad Ābid al!(birY +ada +emikiran
Islam
+lasifikasi pengetahuan yang dita!arkan oleh al-Jābirī yaitu Epistemologi
bayāni, ‘irfāni dan burhāni telah banyak memberikan kontribusi terhadap
pemikiran islam, baik itu bersumber dari inti keilmuan tersebut ataupun kritik
yang disampaikan pada ketiga epistemologi tersebut. ;alam uraian tentang tiga
epistemologi tersebut, di sini penulis memandang adanya ketidaksamaan peran
dalam memahami dan merespon ketiga epistemologi tersebut oleh al-Jābirī.
;alam pembahasannya yang pertama, epistemologi bayāni menempatkan
teks pada posisi sentral kajiannya. Fleh karenanya !ajar jika ada yang
menerjemahkan bayāni dengan sistem pengetahuan linguistik,
5:
karena
menjadikan teks sebagai rujukan epistemologinya. +onsekuensi dari keterikatan
dengan teks ini adalah terjadinya pembatasan kemungkinan pengetahuan yang
tidak akan melebihi kemungkinan-kemungkinan kebahasaan.
+eterikatan terhadap teks dengan model bayāni ini akan mengahadapi
masalah ketika teks yang terbatas dihadapkan pada masalah-masalah yang terus
berkembang, misalnya dalam !ilayah hukum. Jelas persolaan baru tidak akan
mampu terpecahkan dengan sebab keterbatasan teks yang ada.
5:
#isalnya %yamsul n!ar, Epistemologi =ukum 'slam dalam al-#ustafa min al-Hshul
+arya al-Ehā9ālī (@:4-:4: =3$4:?-$$$$ #), ;esertasi '', %unana +alijaga Yogyakarta, -444.
hlm. $@D.
-1
+arena dua hal diatas inilah yang pada akhirnya al-Jābirī
merekomendasikan untuk menggunakan model rasionalisme yang berbasis pada
sistem pengetahuan burhāni.
7egitu juga yang terjadi pada epistemologi yang kedua, yaitu ‘irfāni.
;alam ‘irfāni memang lebih ditekankan pada kekuatan intutif sebagai alat dalam
memperoleh pengetahuan. ;alam ‘irfāni pengetahuan dapat diperoleh melalui
pengalaman langsung yang dilimpahkan oleh realitas mutlak terhadap seseorang
yang telah mau melakukan berbagai cara (riyādhah) dalam pendakian
spiritualnya. /engetahuan yang didapat dari epistemolog ‘irfāni ini bersifat
subyektif dan hanya dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu.
;alam pandangan al-Jābirī pengetahuan ‘irfāni ini hanyalah sebuah
kreati<itas akal yang paling rendah yang didasarkan atas imajinasi, lebih lanjut
‘irfāni akhirnya hanya merupakan filsafatisasi mitos-mitos yang tidak
memberikan kontribusi apapun terhadap pengembangan masyarakat.
5D
/andangan
ini muncul sebab al-Jābirī menganalogikan pengetahuan ‘irfāni ini dengan filsafat
esoterik yang berkembang di 7arat. /adahal ‘irfāni islam sama sekali berbeda
dengan mistik di 7arat, meski di beberapa bagian ada kesamaan. ‘'rfāni islam
lebih berkaitan dengan kebersihan ji!a, rasa dan keyakinan hati, sementara mistik
7arat kurang berkaitan dengan itu semua dan bercorak positi<istik.
/emberian porsi yang kurang seimbang terhadap ketiga epistemologi ini
memunculkan sebuah superioritas diantara ketiganya. ;alam pandangan penulis,
al-Jābirī memberikan porsi yang lebih terhadap penggunaan epistemologi burhāni
5D
#uhammad 0bid al-Jābirī, op/cit., hlm. 56?
54
dan menganggapnya sebagai penyelesaian dalam mengatasi semua permasalahan
tentang pengetahuan. /adahal apabila kita mau menelaah lebih lanjut, model
berpikir dalam tradisi burhāni yang menggunakan akal dan ukuran-ukurannya ini
telah menuai kritik dari berbagai pihak, salah satunya adalah akal tidak akan
mampu merespon apapun ketika tidak ada data yang akan diolah, dan data adalah
merupakan !ilayah bayāni. +alau hanya bertumpu pada rasionalisme saja dalam
teori epistemologi, nonsense atau sekurang-kurangnya mengandung banyak
kelemahan. #enurut '"bal, pikiran itu bisa meragukan tentang keberadaan
dirinya. 'a berkata8 .3pikiranku ragu3tentang ada dan tiadaku3.. kal kadang-
kadang menipu, kata '"bal. Hntuk itu ia bersenandung .3&ipu daya intelek3adalah
tanda kehormatan3.. ;an .3dalam sorotan pengamatan intelek3alam semesta hanya
tampil sebagai ilusi dan fatamorgana..
56
Borak pemikiran al-Jābirī memang sangat positi<istik /adahal sudah
semenjak =orkheimer positi<isme ini dikecam sebagai .dogma tentang ilmu
pengetahuan yang percaya pada dirinya sendiri., atau saintisme. %aintisme inilah
yang membentengi penelitian ilmiah dari serangan refleksi diri secara
epistemologis. ;engan istilah .positif. ini Bomte ingin memisahkan ilmu
pengetahuan dan metafisika. Bomte ingin melenyapkan penyelidikan filosofis
yang tak kunjung selesai dan karenanya tidak menghasilkan makna apa-apa dan
sia-sia, seperti yang dilakukan metafisika. +arena itu positi<isme hanya
56
#uhammad '"bal, 3pistemolo,i dalam (asa#uf Iq"al (Yogyakarta8 /ustaka /elajar,
$11D), hlm. @D-@?.
5$
membatasi penyelidikanya pada fakta, akan tetapi fakta ini tidak diselidiki secara
ontologis.
5?
&idak diragukan lagi pemikiran al-Jābirī ini telah banyak memberikan
kontribusi postif terhadap perkembangan keilmuan islam. /ada lapangan filsafat
'slam, khususnya intuisi, dalam pandangan penulis telah merangsang untuk
memunculkan kembali sebuah sumber pengetahuan yang biasanya hanya
bersumber dari indera dan akal, intuisi mencoba memberikan jalan baru yang juga
tidak kalah penting bagi keduanya. %istematisasi ataupun in<entarisir yang telah
dilakukan oleh al-Jābirī pada epistemolog ‘irfāni bukanlah hal yang mudah, dari
tulisan-tulisan al-Jābirī akhirnya dunia 'slam dapat melihat ke belakang terhadap
tatanan-tatanan kelimuan beberapa abad yang lalu. /andangan al-Jābirī terhadap
‘irfāni yang masih sangat positi<istik ini merupakan (dalam pandangan penulis)
rangsangan yang diberikan oleh al-Jābirī terhadap umat islam agar mau
melakukan proses dialektika pada semua permasalahan dengan menggunakan-
metode-metode kefilsafatan.
/emaknaan pengalaman kebatinan dengan metode yang lebih praksis dan
humanis akan memunculkan sebuah konsep pengetahuan esoteris yang
berbasiskan pada realitas soial. %ebagai contoh, mengutip tulisan min bdullah,
+ihdah al-+u)ud bukan dimaknai sebagai Manun,,alin, 'a#ulo @usti, tetapi
lebih berarti -nity in Multiplicity atau -nity in difference. 7aik +ihdah al-+u)ud0
hul4l maupun ittihād bukannya berarti menyatunya unsur ke-&uhanan dengan
kemanusiaan, tetapi lebih mengandung arti menyatunya "asic human need
5?
Grancisco 7udi =ardiman, 'ritik Ideolo,i; *ertautan *en,etahuan dan 'epentin,an
(Yogyakarta8 /enerbit +anisius, $114), hlm. $-6-$5$.
5-
(kebutuhan sandang pangan, keadilan, kemerdekaan, spiritualitas sosial dsb) tanpa
terlalu memandang perbedaan ras, !arna kulit, etnis dan agama.
pabila pengalaman intuitif telah dapat difahami seperti yang tersebut di
atas, orang tidak akan lagi bersifat asketis dan subjektif dalam berlaku spiritual,
tetapi akan lebih bersifat humanis dan sosialis. Jadi, intuisi akan lebih bisa
berkembang menjadi nilai dasar perjuangan pada tiap-tiap indi<idu untuk
melakukan interaksi dengan orang lain.

XAFTAR P`STAaA
%utrisno, ./eta Epistemologi 'slam menurut #uhammad 0bid al-Jābirī., dalam
Mukaddimah; Jurnal Studi Islam, ,o.1 &h. 2'3-444
#uhammad 0bid al-Jābirī, Bunyah al-!ql al-!ra"ī 7eirut8 al-#arka9 as-sa"afi
al-rabi, $115
#uhammad 0bid al-Jābirī, $ormasi %alar !ra"& 'ritik (radisi Menu)u
*em"e"asan dan *luralisme +acana Intereli,ius Jogjakarta8
'>Bi%o;, -445
#anna* +halil al-Aattan, Ma"ahis fi '-lumil .ur'an , #ansyurat al-sr al-=adits,
$165
+hudori %oleh, +acana Baru $ilsafat Islam (Jogjakarta8 /ustaka /elajar, -44@
#uhammad &a"i #ishbah Ya9di, Buku 2aras $ilsafat Islam #i9an, -445
55
#ehdi =a*iri Ya9di, 3pistemolo,i Illuminasionis dalam $ilsafat Islam&
Men,hadirkan cahaya (uhan ,7andung8 #i9an, -445
Iillian B. Bhittik, (he Sufi *ath 6f 'no#led,e; 7ermeneutika !l-.ur'an I"nu
'!ra"i ,Jogjakarta8 Aalam, -44$
=arold =. &itus. dkk. *ersoalan-*ersoalan $ilsafat0 Jakarta8 7ulan 7intang, $1?@

Gahruddin Gai9, ‘'rfāni sebagai #ad9hab Epistemologi #akalah pada /rogram
/asca %arjana '', %unan +alijaga Jogjakarta
bu hamid l-Ehā9ālī , Ihya' '-lum al-2in ,7eirut8 ;ar al-fikr, $1?@

min bdullah, !l-(a'#il !l-Ilmi& 'e !rah *eru"ahan *aradi,ma *enafsiran
'ita" Suci dalam Jurnal Media Inovasi , ,o.- th.K'3-44-

#uhammad 0bid al-Jābirī, Bunyah al-!ql al-!ra"ī ,7eirut8 al-#arka9 as-sa"afi
al-rabi, $115
chmad %uyuti, *ercik-*ercik 'esufian (Jakarta8 /ustaka mani, $11D), hlm.
$@D-$:?.
Couis F. +attsof, *en,antar $ilsafat0 Jogjakarta8 &iara Iacana Yogya, $11D
. +hudhori %oleh, +acana Baru $ilsafat Islam0 Jogjakarta8 /ustaka /elajar,
-44@
li #udhofir, 'amus $ilsuf Barat Jogjakarta8 /ustaka /elajar, -44$
#uhammad &a"i # ishbah Ya9di, Buku 2aras $ilsafat Islam ,7andung8 #i9an,
-445), hlm. $1--4.
;anusiri, 3pistemolo,i 2alam (asa#uf Iq"alJogjakarta8 /ustaka /elajar, $11D
#isalnya %yamsul n!ar, Epistemologi =ukum 'slam dalam al-#ustafa min al-
Hshul +arya al-Ehā9ālī (@:4-:4: =3$4:?-$$$$ #
#uhammad '"bal, 3pistemolo,i dalam (asa#uf Iq"al Yogyakarta8 /ustaka
/elajar, $11D
=ardiman, 'ritik Ideolo,i; *ertautan *en,etahuan dan 'epentin,an Yogyakarta8
/enerbit +anisius, $114
5@