You are on page 1of 28

LEPTOSPIROSIS

Diajukan oleh :
Lupita Putri, S. Ked
702009058

Pembimbing :
Dr. Hj. Yuniza, SpPD
Referat


PENDAHULUAN
LEPTOSPIROSIS
Penyakit infeksi akut
yang dapat menyerang
manusia maupun hewan
yang disebabkan kuman
leptospira patogen dan
digolongkan zoonosis
Dalam bentuk ringan,
leptospirosis dapat
menampilkan gejala
seperti influenza disertai
nyeri kepala dan mialgia.
ILS menyatakan
Indonesia sebagai
Negara dengan insidens
leptospirosis tinggi dan
peringkat ketiga di
dunia untuk mortalitas.

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Leptospirosis : penyakit infeksi akut yang dapat
menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan
kuman leptospira patogen dan digolongkan sebagai
zoonosis.
Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti
mud fever, slime fever, swamp fever, autumnal fever.
Dalam bentuk parah (disebut sebagai Weil’s
syndrome), leptospirosis secara khas menampilkan gejala
ikterus, disfungsi renal, dan diatesis hemoragika

EPIDEMIOLOGI
 Tersebar diseluruh dunia, angka kejadian tertinggi di daerah
tropis: AsiaTenggara, Amerika Latin.
 Penularan leptospirosis pada manusia ditularkan oleh
hewan yang terinfeksi kuman leptospira.
 Tikus merupakan vektor utama dari L. icterohaemorrhagica
penyebab leptospirosis pada manusia.

ETIOLOGI
 Genus Leptospira, famili
treponemateceae
 Panjang : 5-15 μm, lebar : 0,1-
0,2 μm
 Spiral sangat halus, salah satu
ujung membentuk kait
 Pergerakan rotasi aktif tanpa
adanya flagela
 Pergerakan leptospira 
mikroskopi lapang pandang
gelap

PATOGENESIS

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK
Fase Leptospiraemia
 keadaan sakit berat
bradikardi relatif,
 ikterus
hari ke 3-4 di jumpai adanya conjungtivitis dan fotophobia.
kulit dijumpai rash yang berbentuk macular, makulopapular
atau urtikaria
Bisa dijumpai splenomegali, hepatomegali, serta
limfadenopati.

Fase Imun
 Adanya conjunctival suffusion dan nyeri tekan di daerah
betis
 limfadenopati, splenomegali, hepatomegali.
 ruam makulopapular dapat ditemukan meskipun jarang.
 Kelainan mata berupa uveitis dan iridosiklitis dapat dijumpai
pada pasien leptospirosis anikterik maupun ikterik.
 gangguan pada selaput otak, hati, mata atau ginjal.
 Terdapat perdarahan berupa epistaksis
 Perdarahan paling jelas terlihat pada fase ikterik, purpura,
petichae, epistaksis,
 perdarahan gusi merupakan manifestasi perdarahan paling
sering.
 Conjungtiva injection dan conjungtival suffusion dengan
ikterus merupakan tanda patognomonis untuk leptospirosis.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis berupa riwayat
pekerjaan pasien, apakah termasuk kelompok orang dengan
resiko tinggi seperti pekerja-pekerja di sawah, pertanian. dan
gejala klinis berupa demam yang muncul mendadak, nyeri
kepala terutama dibagian frontal, nyeri otot, mata merah /
fotophobia, mual atau muntah, dan lain-lain
Pada pemeriksaan fisik ditemukan demam, bradikardi, nyeri
tekan otot hepatomegali splenomegali, serta limfadenopati.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapat
leukositosis, normal, atau sedikit menurun disertai gambaran
neutrofilia dan LED yang meninggi.

Pada urin dijumpai proteinuria, leukositouria, dan sedimen sel
torak. Bila terdapat hepatomegali maka bilirubin darah dan
transaminase meningkat. BUN, ureum, dan kreatinin bisa
meningkat bila terdapat komplikasi pada ginjal. Diagnosa pasti
dengan isolasi leptospira dari cairan tubuh dan serologis
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Kultur : dengan mengambil specimen dari darah atau CSS
segera pada awal gejala. Dianjurkan untuk melakukan kultur
ganda dan mengambil specimen pada fase leptospiremia
serta belum diberi antibiotic. Kultur urine diambil setelah 2-4
minggu onset penyakit.
 Serologi : Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya
leptospira dengan cepat adalah dengan pemeriksaan
Polymerase Chain Reaction (PCR), silver strain atau
fluroscent antibody stain dan mikroskop lapangan gelap.
1,7


DIAGNOSIS BANDING
 Leptospirosis anikterik dapat di diagnosis banding dengan
influenza, demam berdarah dengue, demam tifoid.
 Leptospirosis ikterik dapat di diagnosis banding dengan
malaria falcifarum berat, hepatitis virus.
PENATALAKSANAAN
Pemberian Antibiotik
 Leptospirosis ringan :
 Doksisiklin 100 mg 2x sehari
 Ampisilin 500-750 mg 4x
sehari
 Amoksisilin 500 mg 4x sehari

Lama pemberian obat selama 7
hari
Profilaksis : Doksisiklin 200
mg/minggu untuk orang yang
terpapar dalam jangka pendek

Suportif terapi
 Pemberian cairan
Menjaga
keseimbangan
elektrolit.
 Gagal ginjal dialisis.
 Perdarahan paru
ventilator.

• Leptospirosis sedang/berat:
– Penisilin G 1,5jt unit IV/6 jam
– Ampisilin 1 g/ 6 jam (IV)
– Ceftriakson 1 g/hr (IV)
– Cefotaksim 1 g/6jam (IV)
– Eritromisin 500 mg/6 jam (IV)


KOMPLIKASI
 meningitis
 Hati : ikterus, gagal hati
 Ginjal : azotemia, renal interstitial tubular necrosis , gagal
ginjal
 Jantung : aritmia, kardiomegali, gagal jantung
 Paru-paru : distress respirasi , batuk darah, nyeri dada,
sesak nafas.
 Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari
saluran pernafasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran
genitalia, dan mata (konjungtiva).

PROGNOSIS
Jika tidak ada ikterus, jarang fatal. Jika terdapat ikterus,
angka kematian 5% di bawah usia 30 tahun, 30-40% pada
usia lanjut.



KESIMPULAN
 Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang
disebabkan oleh kuman leptospira. Manusia dapat
terinfeksi melalui kontak dengan leptospira secara
insidental.

Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 2 – 26 hari,
biasanya 7 - 13 hari dan rata-rata 10 hari. Leptospirosis
mempunyai 2 fase penyakit yang khas yaitu fase leptospiremia
dan fase imun. Manifestasi klinis yang sering terjadi ialah
demam, menggigil, sakit kepala, meningismus, anoreksia,
mialgia, conjungtival suffusion, mual, muntah, nyeri abdomen,
ikterus, hepatomegali, ruam kulit, fotofobia.

Pengobatan suportif dengan observasi ketat untuk mendeteksi
dan mengatasi keadaan dehidrasi, hipotensi, perdarahan dan
gagal ginjal sangat penting pada leptospirosis. Gangguan
fungsi ginjal umumnya dengan spontan akan membaik dengan
membaiknya kondisi pasien.

Pencegahan penularan kuman leptospira dapat dilakukan
melalui tiga jalur intervensi yang meliputi intervensi sumber
infeksi, intervensi pada jalur penularan dan intervensi pada
penjamu manusia.
Komplikasi meliputi meningitis, gagal ginjal akut, perdarahan
paru, liver failure, miokarditis,


TERIMA KASIH