You are on page 1of 3

1.

Makanan halal dan thoyyiban dalam perspektif islam
1.1 Definisi
Halal adalah istilah bahasa arab dalam agama islam yang berarti “diizinkan” atau
“boleh”.Makanan halal makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi sebagaimana
yang telah ditentukan sesuai syariah serta. Thayib dalam bahasa arab berarti baik, jadi
makanan yang baik untuk dikonsumsi masih dalam keadaan segar tidak berpenyakit.
Sebagai umat Islam yang taat , dalam memakan makanan sehari hari tidak boleh
sembarang. Makanan yang kita makan haruslah halalan thayyiban yang artinya
makanan yang halal dan baik sesuai syariah
1.2 Dalil

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu,dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-
Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 88).


“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah
kepadamu; dansyukurilah ni'mat Allah, jika kamu hanya kepada-
Nya saja menyembah.” (QS. An Nahl [16]:114)


“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya
syaitan itu adalahmusuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al- Baqarah [2] : 168 )



“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah
ketikamenyembelihnya {501}. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah
suatu kefasikan.Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya
agar mereka membantahkamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu
tentulah menjadi orang-orangyang musyrik.” (QS Al-An'am [6]: 121)


“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan
kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu
menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 17)

“Menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari
mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A’raf : 157)
Dari Abu Hurairah RA. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah
SWT adalah Zat Yang Maha Baik, tidak mau menerima kecuali yang baik, dan
sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang mu’min sesuai dengan apa
yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman : Hai para Rasul,
makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang sholeh. Allah
Ta’ala berfirman : Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik-baik
yang Kami berikan kepada kamu sekalian…”. (HR. Muslim)
Rasulullah SAW, ditanya tentang minyak sanin, keju dan kulit binatang yang
dipergunakan untuk perhiasan atau tempat duduk. Rasulullah SAW bersabda : Apa
yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya adalah halal dan apa yang diharamkan
Allah di dalam Kitab-Nya adalah haram, dan apa yang didiamkan (tidak diterangkan),
maka barang itu termasuk yang dimaafkan”. (HR. Ibnu Majah dan Turmudzi).
1.3 Syarat makanan halal
1. Suci, bukan najis atau yang terkena najis. Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging
babi, dan binatang yang disembelih dengan nama selain Allah.” [QS. Al
Baqarah:173].
2. Aman, tidak bermudharat baik yang langsung maupun yang tidak langsung. Allah
berfirman :
“Dan janganlah kamu menjerumuskan diri kamu kedalam kebinasaan.” [QS. Al
Baqarah:195]
3. Tidak memabukkan. Rasulullah bersabda : “setiap yang memabukkan adalah
khamar dan setiap khamar adalah haram.” [HR.Muslim,2003].

4. Disembelih dengan penyembelihan yang sesuai dengan syari’at jika makanan itu
berupa daging hewan.

1.4 Jenis makanan halal
Berdasarkan firman Allah dan hadits Nabi SAW, dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis
makanan yang halal ialah :
1. Semua makanan yang baik, tidak kotor dan tidak menjijikan.
2. Semua makanan yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
3. semua makanan yang tidak memberi mudharat, tidak membahayakan kesehatan
jasmani dan tidak merusak akal, moral, dan aqidah.
4. Binatang yang hidup di dalam air, baik air laut maupun air tawar.