You are on page 1of 18

1.

HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Kitin dan Kitosan
Klp Perlakuan Rendemen Kitin I Rendemen Kitin II Rendemen Kitosan
D1 + HCl 0,75 N
+ NaOH 3,5%
+ NaOH 40%
31,750 14,730 22,273
D2 + HCl 0,75 N
+ NaOH 3,5%
+ NaOH 40%
34,750 12,353 21,100
D3 + HCl 1 N
+ NaOH 3,5%
+ NaOH 50%
30,250 21,000 10,090
D4 + HCl 1 N
+ NaOH 3,5%
+ NaOH 50%
32,625 12,171 8,528
D5 + HCl 1,25 N
+ NaOH 3,5%
+ NaOH 60%
29,000 32,138 29,125
D6 + HCl 1,25 N
+ NaOH 3,5%
+ NaOH 60%
5,625 42,634 13,547

Pada tabel hasil pengamatan diatas, masing-masing kelompok melakukan perlakuan yang
berbeda-beda terhadap pembuatan kitin dan kitosan. Pada kelompok D1 dengan perlakuan
penambahan HCl 0,75N mendapatkan kadar hasil rendemen kitin I sebesar 31,750%,
penambahan NaOH 3,5% mendapatkan kadar hasil rendeman kitin II sebesar 14,730%
sedangkan untuk penambahan NaOH 40% mendapatkan kadar hasil rendeman kitosan
22,273%. Pada kelompok D2 dengan perlakuan penambahan HCl 0,75N mendapatkan kadar
hasil rendemen kitin I sebesar 34,750%, penambahan NaOH 3,5% mendapatkan kadar hasil
rendeman kitin II sebesar 12,353% sedangkan untuk penambahan NaOH 40% mendapatkan
kadar hasil rendeman kitosan 21,100%. Kelompok D3 dengan perlakuan penambahan HCl 1
N mendapatkan kadar hasil rendemen kitin I sebesar 30,250%, penambahan NaOH 3,5%
mendapatkan kadar hasil rendeman kitin II sebesar 21,000% sedangkan untuk penambahan
NaOH 50% mendapatkan kadar hasil rendeman kitosan 10,090%. Kelompok D4 dengan
perlakuan penambahan HCl 1 N mendapatkan kadar hasil rendemen kitin I sebesar 30,625%,
penambahan NaOH 3,5% mendapatkan kadar hasil rendeman kitin II sebesar 12,171%
sedangkan untuk penambahan NaOH 50% mendapatkan kadar hasil rendeman kitosan
8,528%. Kelompok D5 dengan perlakuan penambahan HCl 1,25 N mendapatkan kadar hasil
rendemen kitin I sebesar 29,000%, penambahan NaOH 3,5% mendapatkan kadar hasil



rendeman kitin II sebesar 32,138% sedangkan untuk penambahan NaOH 60% mendapatkan
kadar hasil rendeman kitosan 29,125%. Kelompok D6 dengan perlakuan penambahan HCl
1,25 N mendapatkan kadar hasil rendemen kitin I sebesar 5,625%, penambahan NaOH 3,5%
mendapatkan kadar hasil rendeman kitin II sebesar 42,634% sedangkan untuk penambahan
NaOH 60% mendapatkan kadar hasil rendeman kitosan 13,547%.




2. PEMBAHASAN
Kulit udang merupakan hasil limbah dari udang yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kulit udang menutupi bagian dari udang sekitar 30-40% dari total berat udang yang hanya
digunakan sebagai pakan ternak yang memiliki nilai ekonomi yang rendah. Salah satu cara
untuk dapat mengolah kulit udang dengan menjadikan kitin dan kitosan. Kitin merupakan
komponen kimia yang sangat baik pada kulit udang dengan memiliki prosentase sebesar
18,1%. Kitin mempunyai polimer berantai panjang yang tersusun atas 2-asetamida-2-deoksi-
D-glukosa yang terangkai oleh ikatan glikosik pada posisi (1-4). Rantai biopolimer tersebut
kemudian dikarakterisasi, jika derajat deasetilasi lebih rendah dari 50% maka disebut sebagai
kitin. Derajat deasitilasi dapat dipengaruhi oleh sumber biopolimer dan metode preparasi
(Wang et al, 2010). Sedangkan menurut Hargono & Djaeni (2003) kitin dapat ditemukan pada
hewan laut seperti kulit ikan dan crustacea, selain itu juga sel protozoa dan insekta. Pada kulit
crustacea, kandungan kitin dapat mencapai 20-80% dari berat kering. Didalam
mikroorganisme kitin diikat dengan polisakarida di sel fungi dan kandungan kitin pada fungi
dapat mencapai 45%. Salah satu sumber yang memiliki potensi untuk menghasilkan kitin
yaitu Aspergillus niger yang mengandung kitin sekitar 455 dari bahan organik.

Terdapat dua jenis limbah yang dihasilkan dari pengolahan crustacea atau udang adalah
limbah cair dan limbah padat. Pada limbah cair yang dihasilkan adalah suspensi air dan
kotoran. Sedangkan pada limbah padat yaitu berupa kulit, kepala dan kaki udang. Untuk
penangan limbah dapat dilakukan dengan waste water treatment. Untuk limbah pada masih
dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai produk yang dapat menghasilkan nilai ekonomis yang
tinggi. Produk yang dihasilkan tersebut misalnya adalah kitin yang dapat dimanfaatkan
sebagai pakan ternak (Purwaningsih, 1994). Kitin yang terdapat dialam tidak berada dalam
keadaan yang bebas, tetapi akan berikatan dengan protein, mineral dan berbagai macam
pigmen. Kitin memiliki bentuk seperti serpihan dan berwarna putih kekuningan, serta
mempunyai sifat yang tidak beracun dan midah terurai secara hayati. Kitin tidak mudah larut
di dalam air, larutan basa encer dan pekat, larutan asam encer dan pelarut organik. Namun
kitin dapat larut didalam asam mineral pekat, seperti asam klorida, asam sulfat, asam nitrat
dan asam pospat. Tetapi asam-asam tersebut dapat merusak kitin yang dapat mendegradasi
monomer-monommer kitin sederhana menjadi lebih kecil (Bastaman, 1989).





Pada praktikum pembuatan kitin dan kitosan menggunakan limbah crutacea untuk
menghasilkan value added by product dengan berbagai perlakuan konsentarasi larutan asam
dan basa. Pembuatan kitin dan kitosan dengan menggunakan limbah udang (kulit) yang sudah
dipisahkan dari daging yang melalui proses demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi. Hal
tersebut sesuai dengan teori dari Wardaniati & Setyaningsih (___) yang dijelaskan bahwa
untuk memperoleh kitin dan kitosan dari kulit udang harus melalui proses pemisahan mineral
(demineralisasi) dan pemisahan protein (deproteinasi) yang kemudian dilanjutkan dengan
proses deasetilasi. Sedangkan menurut Monarul et al (2011) ada perbedaan dari
memperoduksi kitosan yaitu produksi kitosan dari vangkang krustasea umumnya terdiri dari
empat langkah dasar yaitu demineralisasi, deproteinasi, penghilangan warna dan deasetilasi.
Pengolahan kitosan dari limbah kulit udang dapat meminimalkan polusi pada lingkungan.
Kitin merupakan polimer karbohidrat alami yang ditemukan didalam crustacea seperti
kepiting, udang, lobster dan serangga seperti kupu-kupu serta ditemukan pada jamur.
Fisikokimia pada kitin mempunyai berat molekul sebesar 165394g/mole, derajat deasetilasi
75%, kadar abu 15% dari kitosan.

Perbedaan dari kitin kitosan agak kabur, beberapa menyatakan bahwa kitin yang lebih dari 50
persen adalah deasetilasi kitosan. Sedangkan yang lain mendefinisikan bahwa kitosan larut
dalam 1 persen asam asetat, kitin tidak larut. Pembuatan kitin dilakukan dengan memulai
tahap demineralisasi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan tahap deproteinasi. Hal
tersebut sesuai dengan teori dari Alamsyah et al (2007) yang menjelaskan bahwa tahap
demineralisasi dan deproteinasi akan menghasilkan rendemen yang lebih banyak
dibandingkan dengan tahap deproteinasi dan demineralisasi. Ini dikarenakan mineral lebih
keras dibandingkan dengan dengan protein, sehingga agar diperoleh hasil yang optimal dapat
menghilangkan mineral terlebih dahulu. Setelah itu dilanjutkan dengan tahap deproteinasi
basat agar lebih optimal untuk menghilangkan protein karena pelindung yang terbuat dari
mineral telah hilang. Sedangkan menurut Marganov (2003), penggunaan kulit udang yang
digunakan untuk proses pembuatan kitin dan kitosan, sumber potesialnya berada diwilayah
perairan Indonesia yang merupakan sumber cangkan hewani invertebrata laut berkulit keras
(crustacea) yang memiliki kandungan kitin yang berlimpah. Kulit udang sendiri mengandung
protein 25-40%, kalsium karbonat 45-50% dan kitin 15-20%, namun besarnya kandungan
komponen tersebut tergantung pada jenis udang dan tempat hidupnya. Kitin dan kitosan
memiliki sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi.



Proses demineralisai memiliki tujuan untuk menghilangkan garam-garam organik atau
kandungan mineral yang terdapat pada kitin terutama kalsium karbonat (CaCO
3
). Pada proses
demineralisasi kitin, limbah udang dicuci dengan menggunakan air mengalir dan dikeringkan,
setelah itu limbah dicuci dengan menggunakan air panas sebanyak 2x dan dikeringkan
kembali. Proses pencucian dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel
yang dapat mencemari ekstraksi kitin (Hargono dan Haryani, 2004). Kemudian limbah udang
yang telah kering dihancurkan hingga menjadi serbuk dan diayak dengan menggunakan
ayakan 40-60 mesh. Lalu dicampur dengan HCl sebagai pelarut kitin sebanyak 150 ml
(perbandingan 10:1) (Macklin, 2008). Dimana ada 3 perlakuan konsentrasi HCl yaitu HCl
0,75N (kelompok D1 dan D2), HCl 1 N (kelompok D3 dan D4) dan HCl 1,25N (kelompok
D5 dan D6), setelah itu dipanaskan pada suhu 90
O
C sambil diaduk selama 1 jam. Menurut
pendapat Bastaman (1989) penambahan larutan HCl sebagai pelarut kitin pada proses
demineralisasi digunakan untuk senyawa kalsium karbonat (CaCO
3
) sebagai mineral yang
akan bereaksi dengan asam klorida (HCl) serta membentuk senyawa kalsium klorida, asam
karonat dan asam fosfat yang larut didalam air. Sedangkan untuk residu yang tidak larut
kedalam air adalah senyawa kitin. Proses pemanasan dan pengadukan yang dilakukan dalam
tahap demineralisasi menurut Puspawati et al (2010), proses pemanasan mempunyai tujuan
untuk mempercepat proses persakan mineral sehingga minerl akan cepat hilang. Untuk proses
pengadukan mempuntai tujuan untuk menghindari luapan gelembug-gelembung udara yang
dihasilkan saat proses penghilangan mineral. Proses pemisahan dari mineral ditunjukkan
dengan terbentuknya gas CO
2
yang berupa gelembung-gelembung udara yang berlangsung
saat larutan HCl ditambahkan kedalam sampel. Pada kulit udang, gelembung udara yang
terbentuk relatif lebih sedikit, reaksi yang terjadi adalah CaCO
3
(s) + 2HCl(l) CaCl
2
(s) +
H
2
O(l) + CO
2
(g) (Hendry, 2008). Setelah proses pemanasan selesai, dicuci kembali dengan
menggunakan air mengalir hingga pH yang diperoleh netral dan dikeringkan kembali pada
suhu 80
O
C selama 24 jaam dengan menggunakan dehumidifier (Hargono & Djaeni, 2003).

Tepung kering yang dihasilkan dari proses demineralisasi sebanyak 4 gram digunakan untuk
proses selanjutnya yaitu proses deproteinasi. Tepung ditambah dengan NaOH sebanyak 3,5%
sebanyak 24 ml (perbandingan 6:1). Kemudian diaduk dan dipanaskan pada suhu 90
O
C
selama 1 jam. Perlakuan penambahan basa menurut Puspawati et al (2010) mempunyai peran
untuk menghilangkan protein. Sedangkan untuk proses pemanasan selama 1 jam berfungsi
untuk menguapkan air dan mengkonsentrasikan NaOH agar kitin yang dihasilkan akan lebih



optimal lagi. Kemudian disaring dengan menggunakan kain saring dan didinginkan, residu
yang dihasilakan dicuci hingga pH menjadi netral dan setelah itu dikeringkan lagi pada suhu
80
O
C selama 24 jam (Macklin, 2008). Hasil kitin kering yng dihasilkan pada rendemen kitin k
II untuk kelompok D3 adalah sebanyak 0,840 gram. Proses deproteinasi dilakukan untuk
memutus ikatan antara protein dengan kitin dengan menambahkan natrium hidroksida
(Rochima, ___ ). Metode yang dilakukan pada praktikum ini sesuai dengan teori Foster dan
Webber (1960) yaitu cara yang digunakan untuk mendegradasi ikatan kitin-protein-mineral
dari limbah udang dapat dilakukan secara kimiawi yaitu dengan menggunakan larutan basa
dan asam. Larutan basa yang dapat digunakan adalah larutan basa NaOH konsentrasi yang
digunakan hingga 6% dan asam encer seperti HCl. Proses tersebut memiliki tujuan untuk
mengekstraksi protein dan menghilangkan mineral seperti kalsium karbonat dan kalsium
fosfat. Kandungan protein yang terikat didalam kitin dapat mencapai 50-95% dan kalsium
karbonatnya hingga mencapai 15-30%.

Pada hasil rendemen kitin I dengan melakykan penambahan HCl dengan konsentrasi yang
bebeda-beda mendapatkan rendemen yang berbeda-beda. Pada kelompok D1 dan D2 yang
menggunakan penambahan HCl 0,75 N diperoleh hasil rendeman kitin I 31,750% dan
34,750%. Untuk kelompok D3 dan D4 yang menggunakan penambahan HCl 1 N diperoleh
hasil rendemen kitin I yaitu 30,250% dan 30,625%. Untuk kelompok D5 dan D6 dengaan
menggunakan penambahan HCl 1,25 N diperoleh rendemen kitin I yaitu 29,000% dan
5,625%. Sedangkan untuk hasil rendemen ke II pada kelompok D1-D6 secara berturut-turut
dengan melakukan penaambahan NaOH 3,5% memperoleh rendemen yaitu sebesar 14,730%,
12,353%, 21,000%, 12,171%, 32,138% dan 42,634%. Perlakuan kimia dengan penambahan
asam atau basa dengan dosis yang lebih tinggi dengan proses yang lebih lama dapat
melepaskan atau meregangkan ikatan protein dan mineral dengan kitin serta bahan organik
lainnya yang terdapat didalam kulit udang (Johnson dan Peterson, 1974). Dari teori diatas
dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi HCl atau NaOH yang digunakan pada
proses demineralisasi dan deproteinasi akan menghasilkan jumlah rendemen yang semakin
tinggi juga. Namun pada hasil rendemen kitin I tidak semuanya sesuai dengan teori Johnson
dan Peterson (1974), karena hasil rendemen yang paling tinggi yaitu dengan penambahan HCl
0,75 N dan rendemen yang paling kecil yaitu dengan penambahan HCl 1,25 N. Sedangkan
pada proses deproteinasi dengan menggunakan NaOH dengan konsentrasi yang sama
memberikan hasil rendemen yang berbeda-beda. Berdasarkan pendapat Bastaman (1989),



tahap proses demineralisasi senyawa kalsium yang umunya berupa CaCO
3
akan bereaksi
dengan HCl dengan membentuk kalsium klorida, asam karbonat dan asam fosfat yang larut
kedalam air, sedangkan untuk residu yang tidak larut berupa kitin.

Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa penambahan HCl pada tahap proses
demineralisai memberikan pengaruh terhadap hasil rendemen kitin II di tahap deproteinasi.
Hasil dari proses rendemen kitin ini juga tidak sepenuhnya sesuai dengan pendapat Puspawati
& Simpen (2010) dimana kitin yang berasal dari udang seharunya akan menghasilkan
rendemen kitin yang lebih dari 20%. Kesaahan yang dapat terjadi pada saat praktikum
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah rendemen kitin yaitu
urutan dari tahap pembuatan kitin dan isolasi kitin (melalui dua tahap yaitu proses
demineralisasi dan deproteinassi). Sedangkan menurut Hartati et al (2002), yang dapat
mempengaruhi keberhasilannya adalah jenis bahan baku, proses ekstraksi kitin (deproteinasi
dan demineralisasi) dimana kitin yang dapat diisolaso dengan proses kimia yang cukup
sederhana dan juga dapat dilakukan secara enzimatis.

Zat serat yang berasal dari chitin dengan homopolimer -(1-4)-linked N-asetil-D-glukosamin
adalah chitin. Pada hal struktur kitin dikaitkan dengan protein karen mempunyai kandungan
protein yang tinggi. Kitin merupakan fibril yang tertanam pada matriks karbonat kalsium dan
fosfat yang mengandung protein juga. Struktur kimia pada kitin dan kitosan mempuntai
kesaman struktur, yaitu pada kitin terdiri dari rantai linier dari kelompok asetilglukosamin
sedangkan kitosan diperoleh dengan menghapus kelompok asetil (CH3-CO) dari kitin,
molekul dan prodyk yang dihasilkan dapat ditemukan larut didalam asam encer. Kitin dan
kitosan mempunyai perbedaan yang sebenarnya yaitu isi asetil dari polimer. Kitosan
mempunyai gugus amino bebas yang merupakan turunan dari kitin yang sangat berguna.
Kitosan bersifat non toxic dan memiliki kemiripan dengan selulosa. Kitin merupakan urutan
kedua setelah selulosa yang paling banyak bioplimer alaminya yang terdapat dialam. Kitosan
tidak seperti serat tanaman karena kitosan mempunyai sifat yang unik yaitu kemampuannya
untuk membentuk film dan karakteristik optikn strutural. Kitosan juga mempunyai ion positif
sehingga mempunyai kemampua untuk mengikat lemak, lipid dan asam empedu (Nessa et al,
2010).




Kitosan adalah produk alamiah yang merupakan turunan dari polisakarid kitin. Kitosan
mempunyai nama kimia Poly D-glucosamine ( (1-4) 2- amino-2-deoxy-D-glucose). Kitosan
memiliki bentuk seperti padatan amorf yang berwarna putih dengan struktur krista yang tetap
dari bentuk awal kitosan yang murni. Kitosan juga memiliki rantai yang lebih pendek dari
pada rantai kitin. Kitosan larut kedalam larutan asam, sedangkan viskositas kelarutannya
tergantung pada derajat deasetilasi dan derajat degradasi polimer. Kitosan kering tidak
memiliki titik lebur, jika kitosan disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama pada suhu
sekitar 100
O
F maka sifat dari kelarutan dan viskositanya akan berubah. Sedangkan kitosan
yang disuimpan dalam keadaan terbuka atau kontak dengan udara maka akan terjadi proses
dekomposisi dan warnanya akan berubah menjadi kekuningan dan viskositas larutan juga
akan berkurang. Hal ini dapat digambarkan seperti kapas atau kertas yang tidak stabil
terhadap udara, panas dan lain-lainnya (Wardaniati & Setyaningsih, ____ ).

Setelah kitin yang terbentuk dalam proses deproteinasi selanjutnya digunakan untuk proses
deasetilasi. Ini sesuai dengan teori dari Ramadhan et al (2010) yang berpendapat bahwa
kitosan merupakan hasil dari hidrolisis kitin dengan menggunakan alkali sehingga terjadi
proses deasetilasi dari bgugus asetamida menjadi gugus amina. Kitin yang ditambah dengan
NaOH (20:1) memiliki 3 perlakuan konsentrasi NaOH. Pada kelompok D1 dan D2
menggunakan NaOH 40%, kelompok D3 dan D4 menggunakan NaOH 50% dan kelompok
D5 dan D6 menggunakan NaOH 60%. Setelah dilakukan penambahan NaOH dilakukan
pemanasan dan pengadukan selama 1 jam dan didiamkan selama 30 menit. Kemudian
dipanaskan tanpa perlakuan pengadukan pada 90
O
C selama 60 meniit. Setelah itu dilakyukan
penyaringan dengan menggunakan kain saring dan dicuci dengan air mengalir hingga pH
menjadi netral. Kemudian dilakukan pengeringa dengan suhu 70
O
C selama 24 jam dan
dihasilkan kitosan. Penggunaan NaOH pada proses deasetilasi sesuai dengan pendapat Hirano
(1989) yaitu struktur kristal yang paling panjang dengan ikatan kuat antara ion nitrogen dan
gugus hidroksi dengan larutan natrium hidroksida dengan konsentrasi 40-50% dan suhu tinggi
100-150
O
C adalah untuk mendapatkan kitosan dan kitin. Transformasi kitin menjadi kitosan
dilakukan dengan melakukan proses penghilangan gugus asetil yang terdapat pada kitin
menjadi amina yang menghasilkan kitosan yang dikenal dengan proses deasetilasi. Proses
tersebut dilakukan dengan dengan cara hidrolisi gugus asetoamida oleh basa kuat yaitu NaOH
50%. Kemudian dilanjutkan dengan pemanasan, disaring dan residu yang dihasilkaan dicuci
dengan menggunakan air mengalir hingga pH netral. Pencucian dilakukan dengan air untuk



menjadikan kondsi yang basa, ini dikarenakan penambahan NaOH kuat menajdi netral sesuai
dengan pendapat dari Rogers (1986) yang berpendapat jika jumlah ion hidroksida yang
ditambahkan sama dengan jumlah ion hidrogen maka larutan akan menjadi netral. Sedagkan
untuk proses pemanasan dan pengadukan yang dilakukan dalam proses pembuatan kitosan
sesuai dengan teori Puspawati (2010) yang menjelaskan bahwa suhu sangat mempengaruhi
derajat deasetiasi dari kitosan. Semakin tinggi suhu, maka derajat deasetilasi yang dihasilkan
akan semakin meningkat juga. Kitin mempunyai struktur yang tebal dan mempunyai ikatan
hidrogen antara atom hidrogen pada gugus amina dengan atom oksigen pada gugus karbonil
yang masih sangat kuat. Sehingga dengan penambahan basa kuat dan perlakuan pemanasan
dapat membuat gugus asetil pada kitin akan hilang dengan memutus ikatan antara karbon
pada gugus asetil dengan nitrogen pada gugus amina. Proses pengadukan mempunyai tujuan
untuk menghindari luapan gelembung-gelembung udara yang dihasilkan saat proses
penghilangan mineral.

Konversi kitin menjadi kitosan (deasetilasi) umumnya dapat tercapai dengan larutan NaOH
konsentrasi 40-50% pada suhu 100
O
C atau suhu yang lebih tinggi dengan menghapus
beberapa atau semua gugus asteil dari kitin. Teori tersebut sangat sesuai dengan metode yang
dilakukan saat praktikum dengan menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi 40%, 50%
dan 60% serta pemanasan dengan menggunakan suhu tinggi 90
O
C. karakteristik dari
fisikokimia kitosan dapat mempengaruhi sifat fungsional yang juga dipengaruhi oleh spesies
crustacea dan metode persiapannya.

Pada proses deastilasi penggunaan NaOH dengan konsentrasi yang berbeda-beda akan
menghasilkan rendemen kitosan yang berbeda-beda juga. Penggunaan produk kitosan
ditentukan dari seberapa besar derajat deasetilasinya. Derajat deasetilasi pada proses
pembuatan kitosan bervariasi tergantung pada bahan dasar dan kondisi pada proses seperti
konsentrasi larutan alkali, suhu dan waktu (Suhardi, 1992). Pada proses tersebut penggunaan
NaOH dengan menggunakan 3 konsentrasi yang berbeda-beda. Kelompok D1 dan D2 dengan
menggunakan NaOH 40% menghasilkan rendemen kitosan 22,273% dan 21,100%, kelompok
D3 dan D4 dengan menggunakan NaOH 50% menghasilkan rendemen kitosan 10,090% dan
8,528%, dan kelompok D5 dan D6 dengan menggunakan NaOH 60% menghasilkan
rendemen kitosan 29,125% dan 13,547%. Hal tersebut sesuai dengan teori Puspawati &
Simpen (2010) yang berpendapat bahwa seharusnya dengan penambahan konsentrasi basa



yang kuat atau larutan NaOH yang lebih tinggi akan menghasilkan hasil akhir kitosan dengan
nilai rendemen yang tinggi. Tetapi hasil rendemen kitosan yang paling tinggi yaitu pada
penambahan NaOH 60% dan yang paling rendah adalah penambahan NaOH 50%.
Penggunaan dari basa kuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi akan lebih efektif dengan
melakukan proses deasetilasi karena gugus asetil dapat lebih banyak dihilangkan melalui
pemutusan ikatan antara karbon pada gugus asetil dengan nitrogen pada gugus amin. Pada
hasil dengan menggunakan NaOH dengan konsentrasi 60% menghasilkan rendemen kitosan
paling tinggi (Puspawati & Simpen, 2010).

Semakin besar penambahan konsentrasi zat-zat yang bereaksi, maka semakin cepat reaksi
yang akan berlangsung. Hal ini dikarenakan dengan semakin besar kemungkinan terjadinya
tumbukan dengan demikian pula semakin besar kemungkinan terjadinya reaksi, namun hasil
yang ada tidak sesuai dengan teori tersebut. Pada kelompok D1 dan D2 rendemen kitosan
yang dihasilkan lebih besar dibandingan dengan rendemen kitin, hal ini tidak sesuai dengan
teori yang ada karena berat kitosan seharusnya lebih sedikit (dibawah 20%) karena pada
proses pembuatan kitosan telah melalui beberapa proses penghilangan seperti demineralisasi,
deprotein asi dan deasetilasi (Habibi, 2008). Sedangkan menurut Martinou (1995), bahwa
penggunaan NaOH yang digunakan untuk memproduksi kitosan mempunyai sifat yang reaktif
sehingga akan mudah meredyksi air. Tujuan dari penggunan alkasi dengan konsentrasi yang
tinggi adalah untuk memutuskan ikatan antara gugus karboksil dengan menggunakan atom
nitrogen. Larutan NaOH juga mempunyai kemampuan untuk merubah konformasi kitin yang
rapat menjadi renggang sehingga enzim yang didapat mudah terekspos untuk mendeasetilasi
polimer kitin. Pada praktikum ini terjadi beberapa kesalahan yang dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu saat pembuatan kitin sendiri sudah mengalami penyimpangan sehingga hasil yang
didapat dapat mempengaruhi proses selanjutnya. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah
rendemen kitin adalah urutan pada tahap pembuatan kitin dan isolasi kitin (demineralisasi dan
deproteinasi (Puspawati & Simpen, 2010).

Menurut Jurnal dari Yateendra (2012),Chitosan merupakan polisakarida amino yang telah
disiapkan oleh limbah pengolahan udang (shell) yang melibatkan sebagian besar deacetylation
dari kitin. Chitosan juga merupakan polisakarida alami serbaguna, polimer alami yang paling
melimpah kedua. Banyak ahli biokimia yang telah menemukan bahwa kitosan sebagai
biokompatibel, biodegradable dan tidak beracun yang membuat penerapan yang luas di



farmasi konvensional sebagai formulasi eksipien potensial. Dalam penelitian ini difokuskan
pada sintesis kitosan yang cocok digunakan untuk industri farmasi terutama dalam merancang
tertunda dan dikendalikan sistem pengiriman obat. Penelitian utama difokuskan pada
persiapan berat molekul rendah dari chitosan cocok untuk industri farmasi. Chitin yang masih
mentah dikumpulkan dari exoskeleton yaitu Triopslongicaudatus dan Triopscancriformis
spesimen yang kemudian diproses untuk mendapatkan chitosan. Hasil kitosan ditemukan
35,49% dan dianalisis untuk parameter physiochemicalnya.

Menurut jurnal dari Mejia, (2006) berpendapat bahwa kitin adalah polisakarida kedua yang
paling melimpah di alam setelah selulosa dan sebagian besar berada pada limbah dari
pengolahan produk makanan laut seperti kepiting, udang dan kerang krill. Tentang 1.011 t
kitin diproduksi setiap tahun dalam biosfer air saja. Limbah yang dihasilkan dari produksi di
seluruh dunia dan pengolahan kerang adalah masalah serius tumbuh besar. Limbah yang
berlimpah ini dapat menimbulkan bahaya lingkungan karenamudah mengalami kerusakan.
Banyak bakteri dan jamur yang dapat memproduksi enzim kitinolitik ekstraseluler yang
dikenal sebagai Kitinase (EC 3.2.1.14) yang mempunyai kemampuan untuk mengubah kitin
menjadi senyawa yang dapat menarik industri, terutama N-asetil D-glukosamin. Ada
peningkatan minat dalam penggunaan Kitinase yang digunakan untuk kontrol cetakan,
serangga, nematoda, dan produksi oligomer kitin yang berbeda. Kemampuan kitinase untuk
menghidrolisis kitin membuatnya sangat berguna untuk produksi nilai tambah produk tersebut
sebagai pemanis, faktor pertumbuhan, dan protein sel tunggal.

Menurut jurnal dari Aribia, (2013) setelah selulosa, kitin adalah biopolimer yang paling luas
di alam. Kitin dan turunannya mempunyai nilai ekonomi yang besar karena kegiatan biologis
mereka dan industri serta aplikasi biomedis. Hal ini dapat diekstraksi dari tiga sumber, yaitu
krustasea, serangga dan mikroorganisme. Namun, sumber komersial utama dari kitin adaah
dari cangkang krustasea seperti udang, kepiting, lobster dan krill yang tersedia dalam jumlah
besar oleh industri pengolahan kerang. Ekstraksi kitin melibatkan dua langkah, demineralisasi
dan deproteinasi, yang dapat dilakukan dengan dua metode, kimia atau biologi. Metode kimia
memerlukan penggunaan asam dan basa, sedangkan metode biologi melibatkan
mikroorganisme. Meskipun bakteri asam laktat terutama diterapkan, mikroba lain spesies
termasuk bakteri proteolitik juga telah berhasil dilaksanakan, serta kultur campuran yang
melibatkan bakteri penghasil asam laktat dan mikroorganisme proteolitik. Asam laktat yang



dihasilkan memungkinkan demineralisasi shell, karena asam laktat bereaksi dengan kalsium
karbonat, komponen mineral utama, untuk membentuk kalsium laktat.

Menurut jurnal dari Rabiul (2013), Chitosan merupakan polisakarida alami yang terdiri dari
kopolimer glukosamin dan N-asetilglukosamin yang dapat diperoleh pada skala industri oleh
deasetilasi parsial alkali dari kitin, polimer alam yang paling melimpah kedua setelah
selulosa. Chitosan juga dapat diproduksi oleh deasetilasi enzimatis dari kitin. Ini
menunjukkan aplikasi yang tak terhitung banyaknya dalam berbagai bidang seperti pertanian,
kemasan, bioteknologi pangan, kosmetik, obat dan farmasi dll Chitosan dapat dicirikan oleh
derajat deasetilasi (DDA), berat molekul dan distribusi mereka, residu protein dll Tapi
parameter yang paling penting untuk karakteristik spesimen chitosan yang diberikan adalah
derajat deasetilasi.

Derajat deasetilasi (DDA) dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi kitosan, seperti
asam basa dan karakteristik elektrostatik, biodegradasi, agregasi diri, sifat serapan, dan
kemampuan untuk chelate ion logam. Selain itu, derajat deasetilasi, yang menentukan isi dari
gugus amino bebas dalam polisakarida juga dapat digunakan untuk membedakan antara kitin
dan kitosan. Proses deasetilasi melibatkan penghapusan gugus asetil dari rantai molekul kitin,
meninggalkan kelompok lengkap amino (-NH2) dan fleksibilitas kitosan terutama tergantung
pada tingkat ini tinggi gugus amino reaktif kimia. Ada berbagai metode yang tersedia untuk
meningkatkan atau menurunkan derajat deasetilasi. Peningkatan baik suhu atau kekuatan
larutan natrium hidroksida dapat meningkatkan penghapusan gugus asetil dari kitin, sehingga
berbagai molekul kitosan dengan sifat yang berbeda dan karenanya aplikasi. Karena derajat
deasetilasi (DDA) terutama tergantung pada metode pemurnian dan kondisi reaksi itu, oleh
karena itu penting untuk mengkarakterisasi kitosan dengan menentukan nya DDA sebelum
nya pemanfaatan.

Menurut jurnal dari Li-Ming Zhao et al, (2011) enkapsulasi dan teknologi imobilisasi penting
digunaka untuk pengolahan makanan dan industri bioteknologi. Chitosan adalah polisakarida
alami yag disusun oleh N-deasetilasi kitin. Ini telah banyak digunakan dalam industri
makanan dan bioteknologi, termasuk enkapsulasi makanan aktif bahan, imobilisasi enzim, dan
sebagai pembawa untuk pengiriman obat dikontrol, karena yang signifikan sifat biologis dan
kimia seperti biodegradabilitas, biokompatibilitas, bioaktivitas, dan polycationicity. Dalam



karya ini, nanopartikel kitosan dan nanofibers digunakan untuk merangkum zat bioaktif dan
melumpuhkan enzim terakhir. Persiapan nanopartikel kitosan dan nanofibers, termasuk
pekerjaan yang dicapai di kelompok kami pada nanopartikel kitosan untuk imobilisasi enzim,
juga diperkenalkan. beberapa masalah dihadapi dengan nano-terstruktur operator chitosan
untuk enkapsulasi zat bioaktif dan enzim imobilisasi dibahas, bersama dengan prospek masa
depan dari sistem tersebut.





3. KESIMPULAN
Kulit udang merupakan hasil limbah dari udang yang belum dimanfaatkan secara
maksimal.
Kitin merupakan komponen kimia yang sangat baik pada kulit udang dengan memiliki
prosentase sebesar 18,1%.
Kitin mempunyai polimer berantai panjang yang tersusun atas 2-asetamida-2-deoksi-D-
glukosa yang terangkai oleh ikatan glikosik pada posisi (1-4).
Terdapat dua jenis limbah yang dihasilkan dari pengolahan crustacea atau udang adalah
limbah cair dan limbah padat.
Pada limbah cair yang dihasilkan adalah suspensi air dan kotoran dan limbah padat yaitu
berupa kulit, kepala dan kaki udang.
Kitin yang terdapat dialam tidak berada dalam keadaan yang bebas, tetapi akan berikatan
dengan protein, mineral dan berbagai macam pigmen.
Pembuatan kitin dan kitosan dengan menggunakan limbah udang (kulit) yang sudah
dipisahkan dari daging yang melalui proses demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi.
Proses demineralisai memiliki tujuan untuk menghilangkan garam-garam organik atau
kandungan mineral yang terdapat pada kitin terutama kalsium karbonat (CaCO
3
).
penambahan larutan HCl sebagai pelarut kitin pada proses demineralisasi digunakan
untuk senyawa kalsium karbonat (CaCO
3
) sebagai mineral yang akan bereaksi dengan
asam klorida (HCl).
Penambahan konsentrasi basa yang kuat atau larutan NaOH yang lebih tinggi akan
menghasilkan hasil akhir kitosan dengan nilai rendemen yang tinggi.



Semarang, 15 Oktober 2014
Praktikan, Asisten Dosen,
Stella Gunawan




Nina Setiabudi
12.70.0056



4. DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, R., et al.. (2007). Pengolahan Khitosan Larut dalam Air dari Kulit Udang sebagai
Bahan Baku Industri. http://www.bbia.go.id/ringkasan.pdf.

Bastaman, S. (1989). Studies on Degradation and Extraction of Chitin and Chitosan from
Prawn Shells. Thesis. The Depatment of Mechanical. Manufacturing Aeronautical and
Chemical Engineering. The Queen's University. Belfast.

Foster AB, Webber JM. Chitin. Adv Carbohydr Chem. 1960;15:371393

Hargono & Djaeni, M. (2003). Utilization of Chitosan Prepared from Shrimp Shell as Fat
Diluent. Journal of Coastal Development Volume 7: 31-37

Hargono, S dan Haryani D (2004). Pengaruh Konsentrasi Zat Pelarut dalam Proses
Demineralisasi, Deproteinasi, dan Deasetilasi terhadap Kualitas Khitosan. Universitas
Indonesia, Jakarta.

Hartarti, F.K., Susanto, T., Rakhmadiono, S., dan Lukito, A.S. 2002. Faktor- Faktor yang
Berpengaruh terhadap Tahap Deproteinisasi Menggunakan Enzim Protease dalam Pembuatan
Khitin dari Cangkang Rajungan (Portunus pelagicus). BIOSAIN, VOL. 2, NO. 1 : 68-77.


Hirano. 1989. Production and Aplication on Chitin and Chitosan in Japan In.

J.E. MEJA-SAULS et al. 2006. The Use of Crude Shrimp Shell Powder for Chitinase
Production by Serratia marcescens WF. Crude Shrimp Shells for Chitinase Production, Food
Technol. Biotechnol. 44 (1) 95100.

Li Ming Zhao et al. 2011. Preparation and Application of Chitosan Nanoparticles and
Nanofibers. Brazilian Journal of Chemical Engineering.

Macklin, B. (2008). Limbah Cangkang Udang Menjadi Kitosan. http://onlinebuku.com/
2008/12/21/limbah-cangkang-udang-menjadi-kitosan/

Marganov. (2003). Potensi Limbah Udang sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal,
Kadmium, dan Tembaga) di Perairan. http://rudyct.topcities.com/pps702_71034/
marganof.htm.

Martinou, A.D., D. Kafetzopoulos dan V. Bouriotis. (1995), Chitin deacetylation by
enzymatic means.

Md Rabiul Hussain, Murshid Iman and Tarun K. Maji. 2013. Determination of Degree of
Deacetylation of Chitosan and Their effect on the Release Behavior of Essential Oil from
Chitosan and Chitosan-Gelatin Complex Microcapsules. International Journal of Advanced
Engineering Applications, Vol.6, Iss.4, pp.4-12 4 Fragrance Journals.




Monarul Islam Md, Masum SM, Rahman MM, Ashraful Islam Molla Md, Shaikh AA, Roy
SK. 2011. Preparation of Chitosan from Shrimp Shell and Investigatiom of Its Properties.
International Journal of Basic & Applied Sciences Vol:11 No:01

Nessa F, Masum SM, Asaduzzaman M, Roy SK, Hossain MM, and Jahan MS. (2010). A
Process for the Preparation of Chitin and Chitosan from Prawn Shell Waste. Bangladesh
Journal of Scientific and Industrial Research 323-330.

Purwaningsih. (1994). Teknologi Pembekuan Udang. PT Penebar Swadaya. Bogor.

Puspawati, N. M dan I. N. Simpen. (2010). Optimasi Deasetilasi Khitin dari Kulit Udang dan
Cangkang Kepiting Limbah Restoran Seafood Menjadi Khitosan Melalui Variasi Konsentrasi
NaOH. Jurnal Kimia Vol 4 hal 79 90.

Ramadhan, L.O.A.N., C.L. Radiman, D. Wahyuningrum, V. Suendo, L.O. Ahmad, S.
Valiyaveetiil. (2010). Deasetilasi Kitin secara Bertahap dan Pengaruhnya terhadap Derajat
Deasetilasi serta Massa molekul Kitosan. Jurnal Kimia Indonesia. Vol 5 : 17-21.

Rochima, E. (____). Karakterisasi Kitin dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa
Barat. http:// resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/ Makalah-
5.Karakterisasi%20kitin.pdf.

Rogers, E.P. (1986). Fundamental of Chemistry. Books/Cole Publishing Company.
California.

Suhardi, U. Santoso dan Sudarmanto. 1992. Limbah Pengolahan Udang untuk Produksi Kitin,
Laporan penelitian, BAPPINDO-FTP UGM, Yogyakarta.

Wang, Z., Qiaoling H., & Lei C., (2010). Chitin Fiber and Chitosan 3D Composite Rods.
http://downloads.hindawi.com/journals/ijps/2010/369759.pdf didownload tanggal 24 Agustus
2010

Wardaniati, R.A. & S. Setyaningsih. (____). Pembuatan Chitosan dari Kulit Udang dan
Aplikasinya Untuk Pengawetan Bakso. http://eprints.undip.ac.id/1718/1/ makalah_penelitian_
fix.pdf.

W. ARBIA et al. 2013. Chitin Extraction from Crustacean Shells Using Biological Methods
A Review. Chitin Recovery Using Biological Methods, Food Technol. Biotechnol. 51 (1) 12
25.

Yateendra Shanmukha Puvvada, Saikishore Vankayalapati, Sudheshnababu Sukhavasi. 2012.
Extraction of chitin from chitosan from exoskeleton of shrimp for application in the
pharmaceutical industry. International Current Pharmaceutical Journal.



5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan
Rendemen Kitin I = % 100 x
BeratBasah
g BeratKerin

Rendemen Kitin II = % 100 x
BeratBasah
BeratKitin

Rendemen Kitosan = % 100 x
BeratKitin
an BeratKitos

Kelompok D1


Kelompok D2
Rendemen Kitin I =


Rendemen kitin II =


Rendemen kitin III =



Kelompok D3


Kelompok D4






Kelompok D5


Kelompok D6



5.2. Laporan Sementara