You are on page 1of 19

HASIL PENGAMATAN

Laporan Lengkap Praktikum Kimia Anorganik dengan judul “Pembuatan
Kalium Nitrat dan Natrium Klorida”, disusun oleh:

Nama : Venansia Aveline Sebatu
NIM : 1213141013
Kelas/kelompok : B / IV

Telah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten dan Koordinator Asisten dan
dinyatakan diterima.

Makassar, Juni 2014
Koordinator Asisten Asisten



(Reinhard Daenlangi) (Citra Kartini)
Mengetahui,
Dosen Penanggungjawab



Diana Eka Pratiwi, S.Si, M.Si

I. JUDUL PERCOBAAN
Pembuatan Kalium Nitrat dan Natriun Klorida

II. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini yaitu:
1. Membuat kalium nitrat dan natrium klorida
2. Menguji tingkat kemurnian kalium nitrat dan natrium klorida
3. Mengetahui pengaruh suhu terhadap penentuan kristal kalium nitrat dan
natrium nitrat
4. Memahami bentuk kristal kalium nitrat dan natrium nitrat

III. LANDASAN TEORI
Kalium, K (Ar: 39,098) adalah logam putih-perak yang lunak. Logam ini
melebur pada 63,5
0
C. Ia tetap tak berubah dalam udara kering, tetapi dengan cepat
teroksidasi dalam udara lembab, menjadi tertutup dengan suatu lapisan biru.
Logam itu menguraikan air dengan dahsyat, sambil melepaskan hidrogen dan
terbakar dengan nyala lembayung.
2K
+
+ 2H
2
O 2K
+
+ 2OH
-
+ H
2

Kalium biasanya disimpan dalam pelarut nafta. Garam-garam kalium
mengandung kation monovalen K
+
. Garam-garam ini biasanya larut dan
membentuk larutan yang tak berwarna, kecuali bila anionnya berwarna.
(Svehla, 1985: 308).
Kalium (potasium) yang terdapat di alam bersifat sedikit radioaktif
karena mengandung kira-kira 0,02 % isotop radioktif
40
K dengan waktu paruh
1,3x10
9
tahun. Ternyata, proporsi radiasi yang cukup signifikan dihasilkan tubuh
manusia berasak dari isotop
40
K. Ekstraksi logam kalium dala sel elektrolisis akan
sangat berbahaya karena sifatnya yang sangat reaktif. Proses ekstraksi melibatkan
reaksi logam natrium dengan lelehan kalium klorida pada temperatur 850
0
C
menurut persamaan reaksi: KCl
(l)
+ Na
(l)
K
(g)
+ NaCl
(l).
Keseimbangan
reaksi tersebut sesungguhnya menggeser ke kiri pada temperatur 850
0
C, namun
kalium berupa gas (titik didih kalium 786
0
C, dan titik didih natrium 890
0
C). Oleh
karena itu dengan prinsip Le Chateiler, keseimbangan reaksi dapat didorong ke
kanan dengan memompa gas kalium hasil yang berwarna hijau keluar dari sistem
untuk kemudian dipadatkan ( Sugiyarto, 2003: 90).
Beberapa metode perlakuan permukaan yang sering dilakukan adalah
nitridasi (nitriding), karburasi (carburuzing), karbonitritridasi (carbonitriding),
induksi listrik dan nyala api. Dari jenis-jenis metode perlakuan permukaan di atas,
metode perlakuan permukaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
metode perlakuan permukaan denagn cara nitridasi. Proses nitridasi sendiri
merupakan proses pengerasan permukaan dengan metode pendifusien unsur
nitrogen ke dalam permukaan baja atau besi pada temperatur dan jangka waktu
tertentu. Penelitian tentang proses nitridasi ini dilakukan dengan menggunakan
senyawa kalium nitrat (KNO
3
) pada material baja karbon rendah ST 40. Pengujian
mikrografi dilakukan untuk mendukung analisa data kekerasan serta melihat
perubahan struktur KNO
3
. Dari hasil pengamatan struktur mikro yang terbentuk
pada spesimen uij baja ST 40, terlihat perbedaan antara spesimen uji tanpa
perlakuan (raw material) dengan spesimen uji yang telah mengalami proses
nitidasi dengan berbagai variasi temperatur pemanasan dalam larutan KNO
3
(Umardhani, 2011: vol. 13).
Natrium klorida mengkristal dalam bentuk kubus pusat muka (fase
centered cube, fcc). Untuk membayangkan bentuk ini perhatikan saja posisi salah
satu ion-ion yang sama, ion-ion Na
+
saja atau ion-ion Cl
-
saja pada sistem satu unit
sel kristal. Delapan ion Cl
-
(lingkaran terang-besar) menempati kedelapan sudut
suatu kubus, enam ion Cl
-
yang lain (lingkaran berbintik-besar) menempati
keenam pusat muka kubus ini. Jika kubus tersebut diperluas/diperpanjang dengan
tambahan masing-masing satu muka lagi ke arah horizontal (kiri-kanan, muka-
belakang) dan vertikal (atas-bawah), maka akan terlihat bahwa tiap ion Na
+

sesungguhnya menempati pusat setiap bangun oktahedron ion Cl
-
. Dengan
demikian kristal NaCl dapat dikatakan mempunyai bangun kemas-rapat kubus
pusat muka ion Cl
-
dengan ion Na
+
yang lebih kecil menempati rongga
oktahedron. Selain itu, perluasan bangun ini juga akan memperlihatkan adanya
bentuk kubus pusat muka yang dibangun oleh ion-ion Na
+
seperti halnya yang
dibangun oleh ion-ion Cl
-
. Oleh karena itu, kisi kristal natrium klorida merupakan
dua kisi kubus pusat muka yang saling tertanam di dalamnya (interpenetrasi)
(Sugiyarto, 2003: 36).
Natrium klorida NaCl adalah senyawa khas yang dalam strukturnya
anion Cl
-
disusun dalam ccp dan Na
+
menempati lubang oktahedral (O
n
). Setiap
kation Na
+
dikelilingi oleh enam anion Cl
-
. Struktur yang sama akan dihasilkan
bila posisi anion dan kation dipertukarkan. Dalam hal ditukar posisinya, setiap
anion Cl
-
dikelilingi oleh enam kation Na
+
. Jadi, setiap ion berkoordinasi 6 dan
akan memudahkan bila strukturnya dideskripsikan sebagai struktur (6,6). Jumlah
ion dalam sel satuan dihitung satu, ion di muka kubus dibagi dua kubus, disisi
digunakan bersama empat kubus dan dipojok digunakan bersama oleh 8 kubus.
Sehingga untuk struktur NaCl ada 4 ion Cl dalam sel satuan NaCl yang
didapatkan dengan mengalihkan jumlah ion dalam sel dengan satu, dimuka
dengan ½, dan sisi dengan ¼ dan di sudt dengan 1/8. Jumlah ion Na dalam sel
satuan juga 4 dan rasio jumlah Cl dan Na cocok dengan rumus NaCl
(Saito, 1996:22).
Garam yang kita kenal sehari-hari, adalah suatu kumpulan senyawa
kimia dengan bagian terbesar terdiri dari natrium klorida (NaCl) dengan pengotor
terdiri dari kalsium sulfat (gips)-CaSO
4
, Magnesium sulfat (MgSO
4
), Magnesium
klorida (MgCl
2
), dan lain-lain. Untuk meningkatkan kualitas garam dapat
dilakukan dengan cara kristalisasi bertingkat, rekristalisasi, dan pencucian garam.
Cara lain untuk meningkatkan kualitas garam adalah pemurnian dengan
penambahan bahan pengikat pengotor. Bahan peningkat pengotor adalah bahan
atau zat yang dapat digunakan untuk mengikat zat-zat asing yang keberadaannya
tidak dikehendaki dalam zat murni. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
peningkatan kadar NaCl yang dimurnikan tanpa penambahan bahan pengikat
pengotor, dengan penambahan bahan pengikat pengotor Na
2
C
2
O
4
dan Na
2
CO
3

atau penambahan bahan Na
2
C
2
O
4
dan NaHCO
3
dengan konsentrasi yang
bervariasi pada pembuatan garam dapur dari air tua. Kadar NaCl garam dapur
dapat ditingkatkan secara efektif dengan pemurnian secara kristalisasi air tua
menggunakan bahan pengikat pengotor, Na
2
C
2
O
4
dan Na
2
CO
3
dibandingkan
dengan Na
2
C
2
O
4
dan NaHCO
3
. Kadar NaCl sebelum dimurnikan sebesar 80,117%
meningkat menjadi 96,460% (Sulistyaningsih, dkk.,2010: Vol.8).
Prinsip kristalisasi selektif sangat bergantung pada berbagai faktor yaitu
kesetimbangan kelarutan, temperatur, dan konsentrasi kesetimbangan. Kalium
nitrat dapat dibuat dengan mencampurkan larutan jenuh NaNO
3
denagn larutan
jenuh KCl. Jadi dalam larutan terdapat empat jenis ion yaitu Na
+
, K
+
, Cl
-
, dan
NO
3
-
yang memungkinkan akan membentuk empat kristal garam yaitu NaCl
(s)
,
KCl
(s)
, NaNO
3(s)
dan KNO
3(s)
. Garam mana yang akan mengkristal lebih awal
sangat bergantung pada suhu dan konsentrasi ion-ion dalam larutan. KNO
3

digunakan dalam pembuatan mesin dan sebagian kecil digunakan dalam
pegolahan daging (Tim Dosen, 2014: 8).
Warna nyala kuning natrium merupakan hasil emisi foton (energi) ketika
elektron dalam orbital 3p
1
(dalam peningkatan tereksitasi) kembali, ke orbital 3s
1

(dalam peringkat dasar). Hadirnya elektron 3p
1
ini berasal dari reaksi pembakaran
dalam nyala api yang ditangkap oleh ion Na+ dalam senyawanya
(Sugiyarto, 2003: 86).

IV. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Gelas kimia 600 mL 1 buah
2. Gelas kimia 250 mL 1 buah
3. Gelas kimia 100 mL 3 buah
4. Gelas kimia 50 mL 3 buah
5. Gelas ukur 50 mL 1 buah
6. Gelas ukur 25 mL 1 buah
7. Gelas ukur 10 mL 1 buah
8. Termometer 110
0
C 1 buah
9. Erlenmeyer 250 mL 3 buah
10. Corong biasa 4 buah
11. Batang pengaduk 2 buah
12. Kaca arloji 1 buah
13. Spatula 1 buah
14. Neraca analitik 1 buah
15. Pembakar sprirtus 2 buah
16. Kaki tiga dan kasa asbes @2 buah
17. Statif dan klem @1 buah
18. Kawat ose 3 buah
19. Botol semprot 1 buah
20. Pipet tetes 2 buah
21. Oven 1 buah
22. Baskom 1 buah
23. Lap kasar dan lap halus @1 buah
24. Tabung reaksi 2 buah
B. Bahan
1. Kalium klorida (KCl)
2. Natrium nitrat (NaNO
3
)
3. Asam nitrat (HNO
3
) 6 M
4. Perak nitrat (AgNO
3
) 0,1 M
5. Besi (II) sulfat (FeSO
4
) pekat
6. Asam sulfat (H
2
SO
4
)
7. Aquades (H
2
O)
8. Es batu
9. Kertas saring
10. Korek api

V. PROSEDUR KERJA
A. Perlakuan I
1. Dilarutkan 15 gram KCl dalam 25 mL air panas
2. Dilarutkan 15 gram NaNO
3
dalam 25 mL air panas
3. Kedua larutan dicampurkan
4. Larutan diuapkan sampai terbentuk kristal (x)
5. Dipisahkan kristal (x) dan filtratnya
6. Penguapan filtrat dihentikan hingga kristal (x) tidak terbentuk lagi. Semua
kristal (x) dikumpulkan dan menjaga baik-baik filtratnya.
7. Filtrat terakhir didinginkan hingga terbentuk kristal (y). Dilakukan
rekristalisasi beberapa kali terhadap kristal (y).
8. Kristal (x) dan kristal (y) dikeringkan , ditimbang hasilnya.
9. Dihitung rendemen dalam percobaan ini.
B. Perlakuan II
1. Dilarutkan 15 gram KCl dalam 25 mL air pada suhu kamar.
2. Dilarutkan 15 gram NaNO
3
dalam 25 mL air pada suhu kamar.
3. Kedua larutan dicampurkan.
4. Larutan didinginkan dengan air es sampai terbentuk kristal (y).
5. Kristal (y) dipisahakan dari filtratnya.
6. Pendinginan filtrat dihentikan hingga kristal (y) tidak terbentuk lagi.
Dikumpulkan semua kristal (y) dan menjaga filtratnya.
7. Filtrat terakhir diuapkan hingga terbentuk kristal (x).
8. Kristal (x) maupun (y) dikeringkan, ditimbang hasilnya.
9. Dihitung rendemen dari percobaan ini.
C. Perlakuan III
1. Dilarutkan 15 gram KCl dalam 25 mL air pada suhu 50
0
C.
2. Dilarutkan 15 gram NaNO
3
dalam 25 mL air pada suhu 50
0
C.
3. Kedua larutan dicampurkan.
4. Larutan didinginkan denagn air es sampai terbentuk kristal (y).
5. Kristal (y) dipisahkan dari filtratnya.
6. Filtrat diuapkan hingga terbentuk kristal (x). Kristal (x) disaring dan flitrat ke-2
ini disimpan.
7. Filtrat ke-2 ini didinginkan kembali dengan air es sehingga terbentuk kristal
(y). Dan filtrat ke-3 diuapkan kembali hingga terbentuk kristal (x). Dilakukan
secara berulang hingga tidak terbentuk lagi kristal (x) maupun (y).
8. Kristal (x) maupun (y) dikeringkan, ditimbang hasilnya.
9. Rendemen dihitung dari percobaan ini.

D. Uji Kemurnian Kristal x dan y
1. Dilakukan tes nyala terhadap kristal (x) dan kristal (y).
2. Diuji adanya ion klorida dan ion nitrat pada kristal (x) dan kristal (y).
3. Dilakukan pengujian ion klorida dengan 0,01 gram kristal dilarutkan ke dalam
2 mL air yang diasamkan dengan 2 tetes HNO
3
6 M. Kemudian ditetesi larutan
dengan larutan AgNO
3
0,1 M.
4. Dilakukan pengujian ion nitrat dengan 0,01 gram kristal kedalan 2 mL air dan
ditambah 2 mL larutan jenuh FeSO
4
. Dialirkan 1 mL H
2
SO
4
pekat melalui
pinggir tabung dengan posisi tabung pada keadaan miring.

VI. HASIL PENGAMATAN
A. Perlakuan I
No. Aktivitas Hasil
1.

2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
15 gram KCl dilarutkan dalam air panas
(83
o
C)
15 gram NaNO
3
dilarutkan dalam air panas
(83
o
C)
Kedua larutan dicampur dan dipanaskan
Kristal (x) dan filtrat dipisahakan
Filtrat 1 diuapkan
Kristal (x) dan filtrat dipisahkan
Filtrat didinginkan
Berat kristal (x) dan kristal (y)
Larutan bening

Larutan bening

Terbentuk Kristal (x)
Larutan bening (filtrat)
Terbentuk Kristal (x)
Larutan bening
Terbentuk Kristal (y)
m
x
=17,2848 g; m
y
=8,6034 g

B. Perlakuan II
No. Aktivitas Hasil
1.
2.

3.
15 gram KCl + 25 ml H
2
O pada suhu kamar
15 gram NaNO
3
+ 25 ml H
2
O pada suhu
kamar
Kedua larutan dicampur
Larutan bening (dingin)
Larutan bening (dingin)

Larutan bening
4.
5.
6.
7.
Larutan didinginkan
Kristal (y) dan filtrat dipisahakan
Filtrat diuapkan
Berat kristal (x) dan kristal (y)
Terbentuk Kristal (y)
Larutan bening (filtrat)
Terbentuk Kristal (x)
m
x
=7,9068 g; m
y
=4,0890 g

C. Perlakuan III
No. Aktivitas Hasil
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
15 gram KCl + 25 ml H
2
O (50
o
C)
15 gram NaNO
3
+ 25 ml H
2
O (50
o
C)
Kedua larutan dicampur
Larutan didinginkan
Filtrat 1 diuapkan
Filtrat 2 didinginkan
Filtrat 3 diuapkan
Berat kristal (x) dan kristal (y)
Larutan bening
Larutan bening
Larutan bening
Kristal y terbentuk
Terbentuk Kristal (x)
Terbentuk Kristal (y)
Terbentuk Kristal (x)
m
x
=9,8995 g; m
y
=7,3225 g

D. Uji Kemurnian Kristal x dan y
No. Aktivitas Hasil
1. Uji nyala
a. Kristal x
b. Kristal y

Warna kuning
Warna ungu
2. Uji Ion Cl
-

Perlakuan I
a. Kristal x (NaCl) + 2 ml H
2
O +
2 tetes HNO
3
+ 3 tetes AgNO
3

b. Kristal y (KNO
3
) + 2 ml H
2
O +
2 tetes HNO
3
+ 3 tetes AgNO
3

Perlakuan II
a. Kristal x (NaCl) + 2 ml H
2
O +
2 tetes HNO
3
+ 3 tetes AgNO
3



Larutan bening
Terbentuk endapan putih
Larutan bening
Terbentuk endapan putih

Larutan bening
Terbentuk endapan putih
b. Kristal y (KNO
3
) + 2 ml H
2
O +
2 tetes HNO
3
+ 3 tetes AgNO
3

Perlakuan III
a. Kristal x (NaCl) + 2 ml H
2
O +
2 tetes HNO
3
+ 3 tetes AgNO
3

b. Kristal y (KNO
3
) + 2 ml H
2
O +
2 tetes HNO
3
+ 3 tetes AgNO
3

Larutan bening
Terbentuk endapan putih

Larutan bening
Terbentuk endapan putih
Larutan bening
Terbentuk endapan putih
3. Uji Ion NO
3
-

Perlakuan I
a. Kristal x (NaCl) + 2 ml H
2
O +
2 ml FeSO
4
+ 1 ml H
2
SO
4

b. Kristal y (KNO
3
) + 2 ml H
2
O +
2 ml FeSO
4
+ 1 ml H
2
SO
4

Perlakuan II
a. Kristal x (NaCl) + 2 ml H
2
O +
2 ml FeSO
4
+ 1 ml H
2
SO
4

b. Kristal y (KNO
3
) + 2 ml H
2
O +
2 ml FeSO
4
+ 1 ml H
2
SO
4

Perlakuan III
a. Kristal x (NaCl) + 2 ml H
2
O +
2 ml FeSO
4
+ 1 ml H
2
SO
4

b. Kristal y (KNO
3
) + 2 ml H
2
O +
2 ml FeSO
4
+ 1 ml H
2
SO
4



Larutan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning
Terbentuk cincin coklat

Larutan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning
Terbentuk cincin coklat

Larutan kuning
Larutan kuning
Larutan kuning
Terbentuk cincin coklat

VII. ANALISIS DATA
Diketahui : m KCl = 15 gram
m NaNO
3
= 15 gram
Mr KCl = 74,5 gram/mol
Mr NaNO
3
= 85 gram/mol
Mr NaCl = 58,5 gram/mol
Mr KNO
3
= 101 gram/mol
Ditanya : m KNO
3
teori = ….. ?
m NaCl teori = ….. ?
penyelesaian :
n KCl =


=


= 0,2033 mol
n NaNO
3
=

=


= 0,1765 mol
KCl + NaNO
3
KNO
3
+ NaCl
Mula-mula: 0,2013 mol 0,1765 mol - -
Bereaksi : 0,1765 mol 0,1765 mol 0,1765 mol 0,1765 mol
Sisa : 0,0248 mol - 0,1765 mol 0,1765 mol
m KNO
3
teori = n KNO
3
x Mr KNO
3

= 0,1765 mol x 101 gram/mol
= 17,8265 gram
M NaCl teori = n NaCl x Mr NaCl
= 0,1765 mol x 58,5 gram/mol
= 10,3252 gram
a. Perlakuan I
Diketahui : m KNO
3
teori = 17,8265 gram
m NaCl teori = 10,3252 gram
m KNO
3
praktek = 8,6034 gram
m NaCl praktek = 17,2848 gram
Ditanya : rendemen = ….. ?
Rendemen NaCl =


x 100%
=


x 100%
= 167,4040%
Rendemen KNO
3
=

x 100%
=


x 100%
= 48,2618%

b. Perlakuan II
Diketahui : m KNO
3
teori = 17,8265 gram
m NaCl teori = 10,3252 gram
m KNO
3
praktek = 7,9068 gram
m NaCl praktek = 4,0890 gram
Ditanya : rendemen = ….. ?
Rendemen NaCl =


x 100%
=


x 100%
= 39,6021%
Rendemen KNO
3
=

x 100%
=


x 100%
= 44,3542%
c. Perlakuan III
Diketahui : m KNO
3
teori = 17,8262 gram
m NaCl teori = 10,3252 gram
m KNO
3
praktek = 9,8995 gram
m NaCl praktek = 7,3225 gram
Ditanya : rendemen = ….. ?
Rendemen NaCl =


x 100%
=


x 100%
= 70,9187%
Rendemen KNO
3
=

x 100%
=


x 100%
= 55,5325%




VIII. PEMBAHASAN
A. Perlakuan
Kristal NaCl dan KNO
3
pada percobaan ini dibuat dengan 3 perlakuan
dimana perlakuan pertama NaCl dan KNO
3
dibuat dengan mereaksikan kristal
KCl yang telah dilarutkan dalam air panas (83
o
C) dengan Kristal NaNO
3
yang
juga telah dilarutkan dalam air panas (83
o
C). Pada perlakuan kedua, KCl dan
NaNO
3
dilarutkan masing-masing dalam air pada suhu kamar. Pada perlakuan
ketiga, KCl dan NaNO
3
dilarutkan dalam air pada suhu 50
o
C. Suhu yang
bervariasi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap pembentukan
NaCl dan KNO
3
. Larutan KCl dan NaNO
3
yang digunakan harus dalam keadaan
jenuh karena dengan konsentrasi yang tinggi, pembentukan Kristal akan lebih
maksimal.
Perlakuan pertama dilakukan dengan melarutkan KCl dan NaNO
3
dalam
air panas (83
o
C). Kemudian kedua larutan tersebut dicampur, lalu diuapkan
sehingga terbentuk kristal (x) yang berwarna putih. Setelah itu kristal (x) dan
filtratnya dipisahkan kemudian filtrat tersebut diuapkan sehingga terbentuk kristal
(x) lagi. Kristal tersebut dipisahkan dengan filtratnya, lalu filtratnya didinginkan
sehingga terbentuk kristal (y) yang berbentuk jarum. Berat kristal (x) yang
diperoleh adalah 17,2848 gram dan kristal (y) adalah 8,6043 gram. Hal ini
menunjukkan bahwa NaCl lebih mudah terbentuk pada suhu tinggi
(penguapan) dibandingkan dengan garam NaNO3. Dari analisis data
diperoleh rendenam randemen NaCl adalah 167,4040% dan KNO3 adalah
48,2618%. Rendemen NaCl yang melebihi 100% terjadi karena masih ada garam
NaNO
3
yang tersisa dan ikut bercampur dengan kristal NaCl. NaNO3
mungkin saja bisa terentuk pada proses penguapan, jika kita lihat dari
kelarutannya dalam tabel, NaNO3 lebih berpeluang terbentuk pada suhu
100
0
C dari pada KNO3 karena larutanya lebih kecil, sedangkan NaCl
kelarutannya sangat kecil sehingga sangat mudah terbentuk atau
terendapkan.
Pada perlakuakn kedua dilakukan dengan melarutkan KCl dan
NaNO3 dalam air pada suhu kamar. Kemudian kedua larutan
dicampurkan, lalu didingnkan dalam wadah berisi air es yang bertujuan
untuk mempercepat terbentuknya Kristal. Dari pendinginan larutan ini
diperoleh kristal (y) yang berbentuk jarum. Setelah itu kristal (y) dan
filtratnya dipisahkan kemudian filtrat tersebut didinginkan sehingga terbentuk
kristal (y) lagi. Kristal tersebut dipisahkan dengan filtratnya, lalu filtratnya
diuapkan sehingga terbentuk kristal (x) yang berbentuk serbuk berwarna putih.
Berat kristal (x) yang diperoleh adalah 4,0890 gram dan kristal (y) adalah 7,9068
gram. Dari hasil analisis data yang diperoleh rendemen NaCl adalah 39,6021%
dan rendemen KNO
3
adalah 44,3542%. Perlakuan lamanya waktu pendinginan
dan penguapan sangat mempengaruhi proses terbentuknya kristal NaCl dan
KNO
3
.
Pada perlakuakn ketiga dilakukan dengan melarutkan KCl dan NaNO3
dalam air pada suhu 50
o
C. Kemudian kedua larutan dicampurkan, lalu didingnkan
untul mempercepat terbentuknya kristal. Dari pendinginan larutan ini diperoleh
kristal (y) yang berbentuk jarum. Setelah itu kristal (y) dan filtratnya dipisahkan
kemudian filtrat tersebut diuapkan sehingga terbentuk kristal (x). Kristal tersebut
dipisahkan dengan filtratnya, lalu filtratnya didinginkan sehingga terbentuk kristal
(y). filtrat yang tersisa kemudian diuapkan sehingga terbentuk kristal (x) yang
berbentuk serbuk yang berwarna putih. Berat kristal (x) yang diperoleh adalah
7,3225 gram dan kristal (y) adalah 9,8990 gram. Dari hasil analisis data yang
diperoleh rendemen NaCl adalah 70,9187% dan rendemen KNO
3
adalah
55,5325%.
Reaksi pada perlakuan I, II, dan III, yaitu:
1. Reaksi Ionisasi
KCl
(s)

→ K
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)

NaNO
3(s)

→ Na
+
(aq)
+ NO
3
-
(aq)


2. Reaksi pembentukan
K
+
(aq)
+ NO
3
-
(aq)
KNO
3(s)

Na
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)
NaCl
(s)

Setelah melihat suhu pembentukan Kristal x dan y, dapat diketahui
bahwa Kristal x adalah NaCl dan y adalah KNO
3
. Hal ini karena Kristal x
terbentuk saat diuapkan dimana kelarutan NaCl pada suhu tinggi, rendah sehingga
NaCl mengkristal pada suhu tinggi. Sedang Kristal y terbentuk saat didinginkan
dimana KNO
3
memiliki kelarutan yang rendah pada suhu rendah sehingga KNO
3

mengkristal pada suhu rendah. Kemudian setelah melihat rendemen pada
perlakuan I, II, dan III, pembentukan kristal NaCl dan KNO
3
lebih baik pada
perlakuan III. Berdasarkan prinsip kerja, Kristal x terbentuk pada suhu tinggi
sedang Kristal y terbentuk pada suhu rendah. Hal ini sudah sesuai dengan teori
yang menyatakan bahwa Kristal NaCl akan terbentuk pada suhu tinggi karena
pada suhu tinggi kelarutan NaCl rendah sedangkan pada suhu rendah kelarutan
KNO
3
rendah sehingga KNO
3
akan mengkristal pada suhu rendah.
B. Uji Kemurnian Kristal x dan y
1. Uji Nyala
Salah satu cara untuk mengidentifikasi suatu Kristal adalah dengan uji
nyala. Kristal (x) dan Kristal (y) yang akan diuji diletekkan pada ose lalu dibakar
dengan spiritus dengan kristal pada ose dibakar pada api bagian tengah. Kristal x
memancarkan warna kuning yang menandakan terdapat ion Na
+
pada kristal
sedangkan kristal y memancarkan warna ungu yang menandakan terdapat ion K
+

pada kristal. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa kristal (x) adalah NaCl dan
Kristal (y) adalah KNO
3
.
Penyebab timbulnya warna nyala ini adalah karena energi tertentu nyala
api diserap oleh electron pada ion Na+ dan K+ dengan panjang gelombang
tertentu menyebabkan terjadinya eksitasi dan kembalinya electron ke peringkat
dasar membebaskan energi nyala yang khas sesuai dengan panjang gelombang
yang dimilikinya.


2. Uji Ion Klorida
Untuk menguiji adanya ion klorida pada tiap Kristal, masing-masing
Kristal dilarutkan dalam air untuk menguraikan Kristal menjadi ion-ion
penyusunnya. Setelah itu, ditambahkan dengan HNO
3
yang berfungsi untuk
mengasamkan larutan. Selanjutnya ditambahkan AgNO
3
dimana ion Ag
+
akan
bereaksi dengan ion Cl
-
membentuk AgCl yang berwarna putih yang merupakan
suatu endapan. Kristal (x) yang diperoleh pada proses penguapan maupun kristal
(y) yang diperoleh pada proses pendinginan menunjukkan hasil positif pada uji
ini, yaitu terbentuk endapan putih pada larutan. Hal ini karena kristal (y)
terkontaminasi oleh kristal (x) sehingga semua Kristal menunjukkan hasil positif.
Menurut teori, kristal (x) yang merupakan NaCl yang bereaksi membentuk
endapan putih dengan reaksi :
NaCl
(s)
+ HNO
3(aq)
+ AgNO
3(aq)
AgCl
(s)
+ NaNO
3(aq)
+ HNO
3

3. Uji Ion Nitrat
Uji ion nitrat dilakukan dengan melarutkan kristal (x) dan (y) dalam air
dalam tabung reaksi yang berbeda. Kemudian ditambahkan larutan jenuh FeSO
4

lalu ditambahkan dengan H
2
SO
4
pekat, dimana H
2
SO
4
pekat ini ditambahkan
melalui dinding tabung, sebab akan terjadi ekosistem (melepaskan kalor). Pada
percobaan ini, kristal (x) yang diperoleh pada proses penguapan maupun kristal
(y) yang diperoleh pada proses pendinginan menghasilkan larutan kuning setelah
ditambahkan air dan AgNO
3
. Ketika ditambahkan H
2
SO
4
pekat, larutan untuk
kristal (x) tetap berwarna kuning sedangkan larutan untuk kristal (y)
menghasilkan cincin coklat. Hal ini sesuai dengan teori dimana kristal (y) yang
merupakan KNO
3
akan memberikan hasil positif yaitu terbentuk cincin coklat
sedangkan kristal (x) yang merupakan NaCl tidak. Adapun reaksi yang terjadi:
2KNO
3
+ 4H
2
SO
4
+ 6FeSO
4
Fe
2
(SO
4
)
3
+ 2NO + 4H
2
O + K
2
SO
4

Fe
2
(SO
4
)
3
Fe
3+
+ SO
4
2-

Fe
3+
+ e Fe
2+

Fe
2+
+ NO [Fe(NO)]
2+



4. Uji Mikroskop
Menurut teori pada uji mikroskop kristal NaCl yang pada percobaan ini
adalah kristal (x) yang diperoleh dari proses penguapan, berbentuk kubus
sedangkan kristal KNO
3
yang pada percobaan ini adalah kristal (y) yang diperoleh
dari proses pendinginan berbentuk jarum.
Adapun bentuk kisi dari NaCl yaitu fcc
Cl
-

Na
+

Bentuk kisi dari KNO3 yaitu bcc
NO
3
-

K
+


IX. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa:
1. Kristal NaCl dan KNO
3
dibuat dengan mereaksikan KCl dengan NaNO
3

dimana kristal NaCl terbentuk pada suhu tinggi dan kristal KNO
3
terbentuk
pada suhu rendah.
2. Pada uji nyala, dan kristal NaCl memancarkan warna kuning sedangkan kristal
KNO
3
memancarkan warna ungu. Pada uji klorida KNO
3
tidak membentuk
endapan putih sedangkan NaCl membentuk endapan putih. Pada uji nitrat,
KNO
3
membentuk cincin coklat sedangkan NaCl tidak.
3. Kristal NaCl akan terbentuk pada suhu tinggi karena pada suhu tinggi kelarutan
NaCl rendah sedangkan pada suhu rendah kelarutan KNO
3
rendah sehingga
KNO
3
akan mengkristal pada suhu rendah.
4. Bentuk fisik kristal KNO
3
berbentuk jarum, bentuk fisik kristal NaCl yaitu
berupa serbuk putih, bentuk kisi kristal KNO
3
yaitu bcc dan bentuk kristal
NaCl yaitu fcc.


B. Saran
Diharapkan pada praktikan selanjutnya untuk melarutkan secara
sempurna KCl dan NaNO
3
sebelum dicampur, kemudian juga mengamati secara
seksama pada saat proses penguapan maupun pendinginan karena sangat
mempengaruhi proses pembentukan kristal.

DAFTAR PUSTAKA

Saito, Taro. 1996. Kimia Anorganik. Jakarta: Erlangga.

Sugiyarto, Kristian H. 2003. Kimia Anorganik II. Malang: Penerbit JICA.

Sulistyaningsih, Triastuti, Dkk. 2010. Pemurnian Garam Dapur Melalui Metode
Kristalisasi Air Tua Dengan Bahan Pengikat Pengotor Na
2
C
2
O
4

NaHCO
3
Dan Na
2
C
2
O
4
– Na
2
CO
3
. Jurnal Sains. Vol.8. No.1. Diakses
Pada Tanggal 13 Juni 2014.

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro.
Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.

Tim Dosen Kimia Anorganik. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik.
Makassar: Laboratorium Kimia FMIPA UNM.

Umardhani, Yusuf. 2011. Pengerasan Permukaan Baja Karbon ST 40 Dengan
Metode Mitridasi Dalam Larutan Garam. Jurnal Rotasi (Teknik Masin).
Vol.13. No.4. Diakses Pada Tanggal 13 Juni 2014.