You are on page 1of 4

BLOK COMMUNITY HEALTH AND ENVIRONMENTAL MEDICINE-2

SELF LEARNING REPORT
Karies Gigi


Dosen Pembimbing :
drg.

Disusun Oleh :
Rosita Anggraeni
G1G012041


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2013

A. Definisi
Karies Gigi merupakan suatu penyakit yang menyerang jaringan keras gigi
B. Etiologi
Menurut McPhee dan Ganoong (2010), COPD berkaitan dengan penyempitan
jalur pernafasan akibat penyakit emfisema dan bronkitis kronik. Bronkitis kronik
merupakan bentuk obstruksi saluran pernafasan kronik disertai gangguan pembersihan
sekresi saluran nafas dengan gambaran patologis hipertropi kelenjar mukosa saluran
napas besar disertai dengan peningkatan sekresi mukus (lendir) yang mempersempit
lumen. Pada bagian mukosa saluran pernafasan terdapat sel radang yakni leukosit
polimorfonukleus dan limfosit yang turut menambah komposisi dalam lumen
bronkus. Peradangan disisi lain juga menyebabkan penggantian epitel normal
columner berlapis semu bersilia menjadi bercak metaplasia skuamosa sehingga tidak
terjadi pembersihan udara yang masuk ke paru-paru. Akibat dari semua obstruksi dari
seluruh bagian saluran napas tersebut berpengaruh pada ventilasi dan pertukaran gas.
Sedangkan obstruksi akibat penyakit emfisema berkaitan dengan proses
pengrusakan lanjutan dari ketidakseimbangan jejas oksidan dan proteolitik lokal
akibat defisiensi inhibitor protease. Oksidan berupa asap rokok dapat menghambat
fungsi inhibitor protease sehingga terjadilah kerusakan pada jaringan sekitar parenkim
paru dan unit-unit respiratorik terminal sampai hilangnyanya jaringan alveolus dan
jaringan penunjang paru, termasuk jaringan ikat elastis sehingga menyebabkan
kehilangan jaringan penopang, gangguan lainnya berupa saluran pernafasan mendapat
kolaps prematur. Gambaran fisiologis ditunjukkan dengan rusaknya repiratorik
terminal atau parenkim sebelah distal bronkiolus terminal. Pada emfisema sentrisinar
kerusakan jaringan berada di tengah unit respiratorik terminal umumnya dialami
perokok, sedangkan emfisema paraninar kerusakan meliputi repiratorik terminal dan
pelebaran ruang difus, pola ini biasannya diakbatkan desisiensi inhibitor α-protease.

C. Teori – teori proses
D. Klasifikasi
E. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis COPD terbagi menjadi dua jalur yang dikenal dengan sebutan
pink puffers dan blue bloaters. Gambaran klinis penderita dengan gejala pink puffers
diawali dengan emfisema parasinar timbul dispnea tanpa atau sedikit produksi
sputum, selanjutnya dada penderita seperti tong, diafragma bergerak tak lancar dan
terletak di bawah menunjukkan bronkitis kronik sekunder. Gangguan keseimbangan
ventilasi dan distribusi darah minimal, terjadilah hiperventilasi, pada pink puffers
penderita mempertahankan gas-gas normal sampai tahap lanjut, Polisistemia dan kor
pulmonale jarang ditemukan. Sedangkan pada pasien blue boaster(bronkitis tanpa
bukti emfisema obstruktif yang jelas) pasien mengalami batuk produktif terus
menerus dan infeksi selama bertahun-tahun gejala berupa mengalami dispnea
kemudian pasien mengalami penurunan dalam bernafas mengalami hipoventilasi,
hipoksia, dan hipokarpnia. Sehingga sirkulai dan distribusi pernafasan kurang
maksimal. Hipoksia kronik disertai dengan polistemia sekunder sebab merangsang
ginjal mensekresi ertopoietin yang meningkatkan prosduksi sel darah merah.
Kematian biasanya disebabkan kor pulmonale atau gangguan aliran pernafasan.
Terkadang blue boaster disertai dengan emfisema sentrilobular. Namun, sebagian
besar penderita COPD berada diantara ekstrem tersebut (Price dan Wilson, 2005).

F. Upaya preventif dan kuratif
Menurut Sproat (2006), Manifestasi oral yang tampil pada penderita COPD
adalah infeksi jamur pada daerah palatal rongga mulut. Oral Hygine yang buruk
khususnya periodontitits juga turut membantu menambah resiko COPD.

G. Reference
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Pedoman Pengendalian Penyakit
Paru Obstruktif Kronik, ,Jakarta
McPhee, S. J., Ganong, W. F., 2010, Patofisiologi Klinis : Pengantar Menuju
Kedokeran Klinis, EGC, Jakarta.
Price, S.A., Wilson, L. A., 2005, Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, EGC, Jakarta.
Saputri, T, O., Zala, H. Q., Arnanda, B.B., Ardhani, R., Saliva as an Early Detection
Tool for Chronic Obstructive Pulmonary Disease Risk in Patients with
Periodontitis, Journal of Dentistry Indonesia, 17(3): 87-92.
Sproat, C., Purke, G., McGurk, M., 2006, Essential Human Disease for Dentists,
Elsevier, Philadelfia.