You are on page 1of 10

Detektif Investasi

Inti dari penganggaran modal dan alokasi sumber daya adalah mencari
investasi yang baik untuk menempatkan modal perusahaan. Proses ini akan menjadi
sederhana bila dilihat dari segi mekanis murni, akan tetapi sejumlah isu dapat mengaburkan
pilihan investasi yang terbaik. Analisis penganggaran modal menyatakan bahwa
seorang analislah yang harus memisahkan bukti yang buruk dari yang baik.
Banyak tantangan sekarang untuk mengetahui apakah analisis kuantitatif dapat
menjadi pilihan yang terbaik.
Misalkan anda adalah seorang analis baru penganggaran modal untuk
sebuah perusahaan yang sedang mempertimbangkan investasi pada delapan
proyek yang tercantum dalam pameran 1. Kepala keuangan perusahaan (CFO) dari
perusahaan anda telah meminta anda untuk menentukan peringkat proyek dan
merekomendasikan empat terbaik yang harus diterima perusahaan.
Dalam tugas ini, hanya pertimbangan kuantitatif yang relevan. Tidak ada
karakteristik rencana lain yang dipertimbangkan menjadi faktor dalam seleksi,
kecuali yang telah ditentukan manajemen bahwa proyek-proyek 7 dan 8 merupakan proyek
yang terpisah dari yang lain.
Semua rencana memerlukan investasi awal yang sama yaitu $ 2 juta. Selain itu, semua
diyakini memiliki kelas resiko yang sama. Biaya rata-rata tertimbang perusahaan
modal tidak pernah diestimasi. Di masa lalu, analis hanya mengasumsikan bahwa
10% merupakan tingkat diskonto yang tepat (meskipun dari perusahaan tertentu
baru-baru ini menegaskan bahwa diskon harus lebih tinggi).

Pertanyaan yang harus dipertimbangkan adalah :
1. Dapatkah Anda memberi peringkat proyek hanya dengan memeriksa arus kas?
2. Kriteria apa yang mungkin Anda gunakan untuk member peringkat
proyek? Metode kuantitatif peringkat yang mana yang lebih baik?
Mengapa?
3. Apa ranking yang Anda temukan dengan menggunakan metode
kuantitatif? Apakah peringkat ini berbeda dari peringkat yang diperoleh
dengan inspeksi sederhana dari arus kas?
4. Apakah jenis proyek investasi riil memiliki arus kas sama dengan yang di
Exibhit 1?



Analisis Kasus
1. Dapatkah Anda memberi peringkat proyek hanya dengan memeriksa arus kas?
Jawaban :
Tentu. Namun memberi peringkat proyek hanya dengan menilai dari jumlah dan kelebihan
arus kas yang terjadi tidak memberikan rincian lengkap yang penting untuk menentukan
profitabilitas yang benar. Selain itu, cara ini bukan merupakan ukuran yang baik
untuk menentukan peringkat beberapa proyek karena hanya melihat dari segi
besarnya manfaat yang diberikan oleh suatu proyek tersebut. Dalam kasus ini
terlihat bahwa Proyek 3 memiliki jumlah manfaat arus kas dan kelebihan arus kas
tertinggi dari proyek yang lain, tetapi pengembaliannya tidak tercapai sampai tahun
ke-15. Sedangkan pada Proyek lain tidak memiliki jumlah arus kas yang tinggi seperti
halnya pada Proyek 3, namun memiliki payback awal yang terjadi sangat cepat
dan ini merupakan salah satu bukti yang penting ketika membuat suatu jenis investasi.

Tabel 1
Hasil Peringkat dengan Melihat Arus Kas

Peringkat Proyek Arus Kas
1 3 10,000
2 5 4,200
3 8 4,150
4 4 3,561
5 1 3,310
6 7 2,560
7 6 2,200
8 2 2,165

2. Kriteria apa yang mungkin Anda gunakan untuk peringkat proyek? Metode
kuantitatif peringkat yang mana yang lebih baik? Mengapa?
Jawaban :
Menggunakan metode kuantitatif merupakan cara yang lebih baik dan lebih akurat
dalam menentukan proyek mana yang lebih tepat untuk dipilih pada sebuah
perusahaan. Metode-metode yang dapat digunakan pada metode kuantitatif ini
adalah seperti Net Present Value, Payback Period, Discounted Payback Period,
Internal Rate of Return, Average Accounting Return dan Profitability Index.
a. Net Present Value
NPV dipandang sebagai pengukur keuntungan suatu proyek yang terbaik
karena fokus pada kontribusi proyek untuk kemakmuran pemegang saham.
Selain itu kelebihan dari metode NPV yaitu metode ini memperhitungkan nilai
waktu dari uang, memperhitungkan arus kas selama usia ekonomis proyek dan
juga memperhitungkan nilai sisa proyek.
Rumus yang digunakan untuk mengukur NPV yaitu arus kas masuk dan
keluar yang didiskontokan pada saat ini yang dijumlahkan selama masa hidup
dari proyek tersebut. Dapat dihitung dengan rumus :

Tabel 2
Hasil Peringkat Menggunakan Metode NPV

Peringkat Proyek NPV
1 3 393,92
2 4 228,22
3 8 182,98
4 7 165,04
5 5 129,70
6 1 73,09
7 6 0,00
8 2 -85,45

b. Payback Period
Merupakan metoea formal tertua dibanding metode penilaian investasi
lainnya. Kriteria yang dipakai adalah seberapa cepat suatu investasi bisa
kembali. Jika waktu pengembalian (payback period) proyek tersebut lebih
pendek daripada umur proyek, maka proyek akan diterima, dan sebaliknya.
Untuk menghitung Payback Period dapat digunakan rumus :




Hasil perhitungan PP dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
Tabel 3
Hasil Peringkat Menggunakan Metode PP

Peringkat Proyek PP
1 6 0,91
2 7 1,89
3 2 2
4 8 6.04
5 4 6,05
6 1 6,06
7 5 7,14
8 3 15

c. Discount Payback Period
Perhitungan DPP hampir sama dengan perhitungan PP, hanya saja pada
metode ini arus kas yang digunakan sudah dikalikan dengan tingkat bunga.
Hal ini bertujuan untuk mengatasi kelemahan dari metode PP itu sendiri.
Tabel 4
Hasil Peringkat Menggunakan Metode DPP

Peringkat Proyek DPP
1 6 1,00
2 7 2,73
3 8 6,84
4 1 7,84
5 4 9,10
6 5 13,15
7 2 Negatif CF
8 3 None

d. Average Accounting Return
Metode ini menggunakan laba bersih menurut akuntansi bukan berdasarkan
aliran kas. Semakin tinggi ARR, semakin menarik usulan investasi.
Rumus yang digunakan untuk menghitung AAR ini yaitu :

Tabel 5
Hasil Peringkat Menggunakan Metode AAR

Peringkat Proyek AAR
1 6 220%
2 2 72,17%
3 3 66,67%
4 8 59,29%
5 7 51,20%
6 1 41.38%
7 5 28,00%
8 4 23,74%

e. Internal Rate Of Return (IRR)
Dasar keputusan yang dipergunakan adalah membandingkan hasil perhitungan
tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi (present value of
initial investment) dengan nilai sekarang penerimaan-peneriamaan kas bersih
di waktu yang akan datang.
Suatu usulan proyek akan diterima apabila tingkat bunga hasil perhitungan
IRR lebih besar daripada tingkat bunga relevan (keuntungan yang
disyaratkan).
Rumus :

Hasil Perhitungan IRR dapat dilihat dari tabel berikut :
% 100
investasi rata - rata
pajak setelah laba rata - rata
AAR x 
) (NPV ) (NPV
NPV
) i' ' (i' i' IRR
  

  
Tabel 6
Hasil Peringkat Menggunakan Metode IRR

Peringkat Proyek IRR
1 7 15,38%
2 4 12,50%
3 3 11,69%
4 8 11,58%
5 5 11,32%
6 1 10,98%
7 6 10%
8 2 6,32%

f. Profitability Indexs
Merupakan modifikasi dari Net Present value (NPV), yang memperlihatkan
perbandingan antara present value kas masuk dengan present value kas keluar.
Rumus :




Dengan ketentuan, jika PI besar dari 1, maka proyek diterima dan jika kecil
dari 1, maka proyek ditolak.
Hasil perhitungan PI ini, dapat dilihat dari tabel di bawah ini :
Tabel 7
Hasil Peringkat Menggunakan Metode PI

Peringkat Proyek PI
1 3 1,20
2 4 1,11
3 8 1,09
4 7 1,08
5 5 1,06
6 1 1,04
7 6 1
8 2 0,96

3. Apa ranking yang Anda temukan dengan menggunakan metode kuantitatif?
Apakah peringkat ini berbeda dari peringkat yang diperoleh dengan inspeksi
sederhana dari arus kas?
Jawaban :
Metode kuantitatif yang ditemukan :
a. NPV
Hasil perhitungan dari metode ini, proyek yang diterima yaitu proyek 3, 4,
5, 7 dan 8 karena NPV > 0. Sedangkan untuk proyek 1 dan 2 ditolak
karena NPV < 0 dan proyek 6 sebaiknya tidak dilaksanakan karena NPV =
0 yang berarti dilakukan atau tidaknya proyek tidak akan berpengaruh
pada keuangan perusahaan. Berdasarkan metode ini proyek yang
diusulkan sesuai peringkatnya adalah proyek 3, 4, 8 dan 7.
b. PP
Perhitungan metode ini menghasilkan kesimpulan bahwa semua proyek
dapat dilakukan kecuali proyek 3 tidak perlu dijalankan karena memiliki
PP tertinggi (sama dengan umur proyek). Pada metode ini proyek yang
dianggap layak untuk dijalankan adalah proyek 6, 7, 2 dan 8.
c. DPP
Dalam perhitungan metode ini, proyek yang bisa dilakukan yaitu semua
proyek kecuali proyek 2 yang ditolak karena proyek tersebut tidak
membayar investasi awal secara keseluruhan. Untuk proyek 3 tidak bisa
menggunakan metode ini karena hanya memiliki 1 arus kas saja yaitu pada
tahun ke-15. Proyek yang dianggap bisa diterima menurut metode ini
adalah proyek 6, 7, 8 dan 1.
d. AAR
Semua proyek dapat dilakukan karena tingkat pengembalian yang
dihasilkan masing-masing proyek melebihi dan investasi awal perusahaan.
Namun berdasarkan empat peringkat yang terbaik maka untuk metode ini
proyek yang dianggap layak untuk dijalankan adalah proyek 6, 2, 3 dan 8.
e. IRR
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan maka proyek 1, 3, 4, 5, 7
dan 8 dapat dijalankan karena memiliki IRR besar dari 10% dan proyek
yang ditolak yaitu 6 dan 2 karena memiliki IRR yang tidak melebihi 10%.
Jadi, untuk metode IRR ini proyek yang dikategorikan layak untuk
dijalankan adalah proyek 7, 4, 3 dan 8.
f. PI
Pada metode ini semua proyek kecuali proyek 2 dan 6 bisa dikategorikan
layak untuk dijalankan karena memiliki nilai PI melebihi nilai 1.
Sedangkan untuk proyek 2 dan 6 ditolak karena memiliki nilai PI yang
tidak melebihi nilai 1. Hal ini mengindikasikan bahwa proyek tersebut
tidak layak untuk dijalankan. Jadi, berdasarkan metode ini proyek yang
akan diusulkan adalah proyek 3, 4, 8 dan 7.
Dengan menggunakan metode inspeksi dari aliran kas terlihat bahwa
semua proyek layak untuk dilakukan karena jumlah arus kas yang diterima
melebihi investasi awalnya. Hal ini menandakan bahwa ada beberapa metode
yang berbeda dari peringkat yang diperoleh dengan menggunakan inspeksi
sederhana dari arus kas dengan metode-metode yang lain. Pada inspeksi
sederhana proyek yang memiliki peringkat 1 adalah proyek 3 sama halnya dengan
metode NPV dan PI. Sedangkan untuk metode lain memiliki peringkat yang
berbeda seperti pada metode PP, DPP, dan AAR menghasilkan proyek 6 sebagai
peringkat 1 dan untuk IRR menghasilkan proyek 7 sebagai peringkat 1.
Berdasarkan perhitungan metode yang sudah dilakukan di atas metode
yang menurut kami paling tepat adalah dengan menggunakan metode NPV,
karena metode ini memperhitungkan nilai waktu dari uang, memperhitungkan
arus kas selama usia ekonomis proyek dan juga memperhitungkan nilai sisa
proyek. Selain itu, IRR hanya bekerja jika ada serangkaian arus kas yang
menunjukkan hasil dalam pengeluaran awal. Setiap urutan arus kas yang tidak
mendukung metode ini, tidak akan menghasilkan hasil yang akurat dengan
metode IRR. Juga, IRR hanya memberikan persentase, yang akan mengabaikan
besarnya arus kas. Selain itu, metode Payback period jelas mengabaikan nilai
waktu dari uang, yang dianggap sebagai kelemahan utama dari metode ini. Dan
semua kelemahan metode lain ini dapat diperbaiki dengan menggunakan metode
NPV. Jadi dapat disimpulkan bahwa proyek yang kami rekomendasikan adalah
proyek 3, 4, 7 dan 8.
4. Jenis proyek investasi riil apa yang memiliki arus kas sama dengan yang di
Exibhit 1?
Jawaban:
a. Proyek 1 sebagian besar mirip dengan investasi dalam obligasi, dimana
Anda bisa mendapatkan pembayaran kupon secara berkala pada akhir
periode ketika Anda mendapatkan modal awal.
b. Proyek 2 dan 6 yang paling mungkin seperti proyek modal ventura dimana
arus kas masuk terjadi pada akhir periode, sementara beberapa arus kas
masuk terjadi di awal periode.
c. Proyek 3 terkait dengan obligasi zero coupon dimana Anda dapat membeli
obligasi pada harga tertentu dan Anda menerima arus kas yang besar pada
akhir periode jatuh tempo.
d. Proyek 4,7 dan 8 mirip ketika kita berinvestasi pada mesin, yang
menghasilkan kas positif untuk jangka waktu tertentu. Setelah beberapa
saat, Anda dapat menjual ketika Anda tidak membutuhkannya lagi dan
menerima lebih banyak uang tunai dari hasil penjualan. Mungkin awalnya
ada beberapa arus kas tambahan untuk berinvestasi pada sebuah mesin,
namun pada akhirnya arus kas yang keluar akan tertutupi dengan arus kas
masuk yang diperoleh.
e. Proyek 5 mirip dengan anuitas dimana arus kas masuk yang diterima
setiap tahunnya sama.