You are on page 1of 3

Christabelle’ s Attribute....

We growth in Jesus... We Never walk alone.. coz we have in Jesus...

IRAMA KUDUS HIDUP (DISIPLIN ROHANI)
(DIPAKAI UNTUK BAHAN KELOMPOK CHRISTABELLE 2014)

Istilah disiplin rohani telah diterapkan dalam bidang keagamaan sejak permulaan sejarah manusia
yang ditemukan dalam Yudaisme maupun Kekristenan. Seorang pengikut Kristus biasanya dipanggil
disciple (murid), yang berarti di dalam hidupnya mencakup disciplines dalam menjalankan kebenaran
karena kepercayaan kepada Kristus (Flp. 3:9). Prinsip Hidup seorang diciples adalah meneladani Guru.
Disiplin rohani adalah aktifitas-aktifitas orang percaya yang dilakukan dalam menabur benih dalam
Roh (Gal. 6:8). Disiplin rohani menjadi bagian dari orang-orang yang hidup di dalam Roh atau orang yang
menjadi milik Kristus (Gal. 5:24). Orang yang seperti ini akan mampu menyalibkan segala hawa nafsunya
melalui disiplin rohani untuk menyenangkan Kristus.
John Wesley mengatakan “It was a common saying among the Christian of the primitive church, the
soul and the body make a man, the spirit and discipline make a Christian, impliying that none could be real
Christians without the help of Christian discipline” (Ada ungkapan di kalangan orang Kristen mula-mula
yang mengatakan jiwa dan tubuh membentuk seorang manusia, Roh dan kedisiplinan membentuk seorang
Kristen. Tanpa penerapan disiplin rohani tidak ada orang yang bisa disebut sebagai orang Kristen sejati).
Richard Foster mengatakan bahwa disiplin rohani adalah kegiatan, sendiri maupun bersama, yang
kita lakukan sebagai cara untuk menempatkan diri kita di hadapan Tuhan agar Ia dapat bekerja di dalam diri
kita.
Allan Coppedge dalam bukunya yang berjudul The Biblical Principles of Discipleship mengatakan
bahwa seorang murid Kristus harus membayar harga dari pengenalannya akan Tuhan dengan cara
berkomitmen menjalankan disiplin rohani; sebab relasi dengan Tuhan dapat dibangun melalui disiplin
rohani. Adalah suatu hal yang aneh bila AKK/PKK yang notabene mengaku sebagai murid Kristus tapi
mengabaikan disiplin rohani.
Jadi dapat disimpulkan bahwa: pertama, disiplin rohani merupakan bagian hidup yang tidak dapat
dilepaskan dari seorang yang menjadi murid Kristus. Disebut bagian hidup berarti disiplin rohani cenderung
melibatkan investasi waktu dalam hidup kita. Kedua, disiplin rohani merupakan upaya aktif dari orang yang
telah menjadi milik Kristus untuk makin menyerupai Kristus. Memang Roh Kudus memampukan orang
Kristen untuk menjalankan disiplin rohani, tapi tanpa kemauan dari dalam diri orang Kristen itu sendiri
disiplin rohani tidak akan terjadi.
Tujuan Dan Pentingnya Disiplin Rohani
Seseorang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah seseorang memiliki
status sebagai manusia baru (2Kor. 5:17). Sebuah status yang dianugerahkan Allah namun tetap menuntut
tanggung jawab manusia untuk menjalani status tersebut. Kenyataan menunjukkan meskipun seseorang telah
menjadi ciptaan baru namun kebiasaan-kebiasaan manusia lama masih sulit dihilangkan. Di sinilah perlunya
penerapan disiplin rohani, yaitu supaya kebiasaan-kebiasaan lama kita diubah dengan kebiasaan-kebiasaan
baru yang sesuai dengan status kita yang baru.
Jadi tujuan disiplin rohani adalah menciptakan struktur kebiasaan rohani dalam hidup kita. Suatu
kebiasaan hidup yang terpola sejak lama biasanya sulit untuk diubah. Perubahan itu kadang menyakitkan,
sebab perubahan itu hendak menggeser rasa aman kita atas kebiasaan tertentu kita selama ini. Dulu pada
waktu AKK/PKK belum bertobat ia mungkin tidak pernah meluangkan waktu untuk bersaat teduh atau
berdoa syafaat. Ketika ia sudah bertobat maka ia harus membiasakan diri bangun pagi untuk bersaat teduh.
Bagi mereka yang suka bangun siang akan kesulitan untuk membiasakan diri bangun pagi. Namun sekarang
kebiasaan baru harus mulai diterapkan di mana “rasa aman” karena kebiasaan lama harus digeser dengan
ketaatan untuk memiliki waktu teduh bersama Tuhan.
Christabelle’ s Attribute....
We growth in Jesus... We Never walk alone.. coz we have in Jesus...

Sementara itu T.M. Moore mengatakan bahwa tujuan disiplin rohani adalah pertumbuhan orang
Kristen. Hasil dari disiplin rohani adalah menjadi lebih serupa dengan Yesus. Dengan kata lain, melalui
disiplin rohani kita bertumbuh melampaui diri kita untuk menjadi lebih serupa dengan Juruselamat dan Raja
kita. Tidak ada lompatan atau perubahan yang besar tanpa perubahan-perubahan kecil yang pasti dan
bertahap.
Beberapa Prinsip Tentang Disiplin Rohani
Apakah yang mendorong AKK/PKK melakukan disiplin rohani? Mengapa melakukannya? Di bawah
ini ada beberapa prinsip tentang disiplin rohani, antara lain:
1. Disiplin rohani menolong kita untuk menyenangkan hati Tuhan
Disiplin rohani bukanlah tugas yang menakutkan. Kita tidak diharuskan begitu ketat
mengikut Tuhan hingga merasa ketakutan. Disiplin rohani akan menjadi sebuah paksaan atau
tuntutan jika aktifitas-aktifitas yang dilakukan bukan berasal dari keinginan untuk mengasihi Tuhan.
Tuhan Yesus rajin berdoa di pagi hari bukan karena terpaksa atau melakukan sebuah tuntutan. Ia
begitu mengasihi Bapa dan rindu bersekutu dengan Bapa-Nya, meskipun sepanjang hari hingga
malam Ia sibuk melayani tetapi keesokan paginya Ia tetap mengambil waktu untuk berdoa (Mrk.
1:35).
Disiplin rohani tidak bertujuan untuk membuat kita bermegah atau menyenangkan hati kita
sendiri. Yesus sendiri mengakui tiga disiplin yang penting dalam Yudaisme yaitu memberi, berdoa
dan berpuasa (Mat. 6:2, 5, 16) serta memurnikan ketiganya dari motivasi self display dan self
righteous orang-orang Farisi.
Kasih kepada Tuhan menjadi kunci apakah disiplin rohani menjadi paksaan atau sukarela.
Thomas Kempis mengatakan, “Disiplin rohani mengajar kita bagaimana menjadi sahabat Allah;
bagaimana mempunyai persahabatan yang indah dengan Allah.” Bila seseorang mengasihi
kekasihnya tentu ia tidak keberatan untuk berlama-lama bercakap-cakap dengan kekasihnya, atau ia
tidak merasa rugi jika harus mengerjakan sesuatu hal yang membutuhkan pengorbanan, seperti
pepatah yang mengatakan “Demi cinta „kan ku arungi samudra atau „kan kudaki gunung yang
tinggi.” Jika kita sungguh mengasihi Tuhan tentu kita tidak akan merasa terpaksa melakukan hal-hal
yang menyenangkan hati-Nya, sekaligus yang membuat kita bertumbuh makin menyerupai-Nya.
2. Disiplin tidak harus kaku
Tuhan tidak membimbing semua orang dengan cara yang sama, termasuk dalam menjalankan
disiplin rohani. Tuhan tidak menuntut kita menjadi orang lain ketika kita rindu bertumbuh mengenal
Dia. Disiplin rohani juga bukan sekedar ikut-ikutan. Bila Martin Luther setiap hari bisa berdoa
selama tiga jam lebih, bukan berarti kita harus berdoa tiga jam juga. Oleh karena itu, tiap orang
seharusnya mengenali bagaimana ia memulai berdisiplin rohani. Jika seorang petobat baru, ia
mungkin akan belajar hal-hal yang dasar seperti bersaat teduh dan berdoa syafaat. Namun bagi
seorang yang lebih dewasa rohaninya—disiplin rohani yang mungkin ia harus lakukan adalah hal-hal
yang merupakan peningkatan (advance) dari disiplin rohani yang pernah ia terapkan.
Disiplin rohani juga tidak kaku sifatnya. Tidak semua orang bisa melakukan suatu disiplin
rohani dengan sempurna. Ada orang yang bisa berpuasa tetapi ada orang yang tidak boleh berpuasa
karena alasan kesehatan. Jadi yang menjadi ukuran bukan seberapa banyak seseorang telah
melakukan disiplin rohani, tetapi apakah ada kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan (seperti di
poin pertama). Dengan demikian disiplin tidak menjadi tuntutan tetapi suatu kerinduan pribadi.
3. Disiplin rohani menuntut kerja keras
Disiplin rohani meskipun bukan paksaan tetapi tetap menuntut kerja keras. Paulus berkata,
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, . . .” (1Kor. 9:27). Hal ini menunjukkan
Christabelle’ s Attribute....
We growth in Jesus... We Never walk alone.. coz we have in Jesus...
bahwa dalam menjalani panggilan sebagai rasul, ia melatih dirinya dalam disiplin sedemikian rupa
agar pelayanannya menjadi berkat dan mencapai tujuan yang Tuhan inginkan. Tanpa kerja keras
tidak ada hasil yang maksimal yang bisa didapatkan. Seseorang mungkin ada yang senang
memainkan biola tetapi tanpa kerja keras/latihan yang terus menerus tidak mungkin ia bisa
memainkan biola dengan baik. Demikian pula dengan disiplin rohani, agar disiplin itu tertanam baik
dalam diri kita, perlu adanya usaha yang maksimal sampai kebiasaan kita terstruktur atau meresap
menjadi bagian hidup.
Menerapkan disiplin rohani membutuhkan ketekunan, sebab tidak jarang kita gagal
menerapkan disiplin tertentu. Kegagalan bukan menjadi akhir dari segala-galanya. Ketika kita
melihat kegagalan terjadi, hal itu akan menolong kita menyadari bahwa melakukan disiplin rohani
juga perlu anugerah Allah, perlu melibatkan Allah dalam mengubah diri kita menjadi serupa
gambaran-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh bermegah ketika berhasil melakukan
suatu disiplin rohani, sebab kalau kita bisa melakukannya semata-mata anugerah Allah.
Selain itu, perubahan yang terjadi ketika menerapkan disiplin rohani mungkin tidak langsung
bisa dilihat. Namun seperti lagu “sedikit demi sedikit tiap hari tiap sifat, Yesus merubahku” itulah
keyakinan kita bahwa dengan kerja keras kita akan makin menyerupai Kristus.
Bagaimana Menerapkan Disiplin Rohani
Bagaimana kita memulai untuk berdisiplin rohani? Mungkin kita akan membuat rencana sebagai
berikut, misalnya: Saya memutuskan hendak berdoa untuk KTB-KTB yang saya pimpin. Maka saya
menetapkan untuk berdoa pada malam hari tiap pukul 22.00 selama tujuh menit. Apapun yang kita sudah
rencanakan, yang penting adalah menentukan sasaran yang tepat. Kunci menetapkan sasaran yaitu: pertama,
tetapkan sasaran yang hendak dicapai. Kedua, jadikan sasaran itu suatu tantangan untuk dijangkau. Ketiga,
sasaran hendaknya dapat diukur.
Disiplin Rohani Apa Yang Menjadi Bagian Dari Akk/Pkk
1. Saat Teduh
2. Jam Doa Pribadi
3. Bibble Reading
4. Baca Buku Rohani
5. Pendalaman Alkitab Pribadi
6. Penginjilan Pribadi
7. Ibadah Minggu
8. Perpuluhan
Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin rohani seharusnya tidak menjadi bagian yang
menuntut atau memaksa diri kita malahan menjadi bagian yang dengan sukarela kita melakukannya karena
melalui disiplin rohani kita hendak menyenangkan Allah kita. Jika kita mulai bosan/enggan ataupun terpaksa
melakukan disiplin rohani, itu ibarat ada gejala-gejala penyakit yang harus diwaspadai. Adakah kita telah
melakukan disiplin untuk menyenangkan diri sendiri atau orang lain sama seperti orang Farisi yang
melakukan disiplin Taurat demi self display dan self righteous? Atau adakah dosa-dosa yang masih kita
pelihara sehingga hal itu menghambat kita untuk bertumbuh?

Dikutip : dari bahan pembinaan PERKANTAS