You are on page 1of 17

MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN DAN PERANAN RISK-BASED

SUPERVISION DALAM PENILAIAN EFEKTIVITAS PENERAPAN


MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN

Bagian Pertama
MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN

I. PENDAHULUAN
Risk Management sebenarnya diperlukan bukan hanya di dunia
perbankan namun dapat juga diterapkan di berbagai aktivitas. Faktor risiko
yang dipertimbangkan akan berbeda dari aktivitas yang satu dengan yang
lain. Dalam dunia perbankan, hal tersebut sangat menarik untuk disimak
mengingat faktor risiko yang terjadi dapat bersumber dari berbagai faktor
serta definisi risikonya terbatas menyangkut kepada kerugian yang
mungkin timbul di masa mendatang. Dalam hal ini, risk management di
perbankan diharapkan dapat mengendalikan risiko-risiko yang mungkin
timbul untuk mengurangi kerugian apabila terjadi.
Tentunya terdapat pertanyaan: apakah pada saat ini perbankan di
Indonesia belum secara utuh menerapkan risk management? Perbankan di
Indonesia tentunya sudah melakukan analisis-analisis dan teknik yang
berkaitan dengan upaya untuk mengurangi kerugian yang timbul dimasa
mendatang melalui proses pengelolaan risiko kredit seperti analisis kredit.
Kegiatan demikian sudah merupakan salah satu dalam proses
pengendalian risiko, sehingga kalau dikatakan bahwa perbankan di
Indonesia sama sekali belum menerapkan pengendalian risiko juga tidak
sepenuhnya valid. Namun demikian pendekatan dalam pengendalian risiko
masih menggunakan teknik dan pendekatan konvensional, sehingga
efektivitasnya masih dipertanyakan, belum efektif dan perlu diuji kembali
konsistensi penerapannya.
Dengan diterapkannya perhitungan kebutuhan modal minimum yang
dihitung berdasarkan risiko secara internasional melalui rekomendasi yang
dikeluarkan Basle Committee on Banking Supervision (i.e. Basle Accord
1988), maka perkembangan risk management semakin pesat untuk
mengembangkan perhitungan risiko yang lebih akurat (modelling). Kondisi
demikian didasarkan kepada diperbolehkannya Bank-bank dalam
menghitung kebutuhan modal minimum dengan menggunakan internal
model khususnya risiko pasar (Amandemen Basle Accord, BIS, 1996),
dengan persyaratan-persyaratan tertentu.
Mengingat risk management secara utuh di Indonesia masih dalam
proses persiapan untuk penerapannya, tentu masih banyak para praktisi
perbankan masih perlu pemahaman secara lebih mendalam berkaitan
dengan risk management. Paper ini dimaksudkan untuk memberikan
gambaran secara umum tentang risk management serta peran para senior
management dalam penerapannya.
Pada bagian pertama, makalah ini akan mengulas mengapa risk
mangement diperlukan, risiko apa saja yang dapat terjadi di Bank,
kelemahan conventional approach, kebijakan perbankan internasional
dalam risk management, peran senior management, dan kesimpulan.

II. MENGAPA RISK MANAGEMENT DIPERLUKAN?


Dalam setiap usaha tentunya bertujuan untuk mendapatkan
keuntungan (return) dengan mengeluarkan biaya seminimal mungkin.
Namun terdapat beberapa faktor yang sulit untuk dikendalikan untuk
memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya. Dalam
penerapannya terdapat beberapa kendala:
a. Kontrak antara nasabah dan Bank itu mengikat dalam jangka
waktu yang relatif lama, sehingga dapat terjadi bahwa return secara
jangka pendek baik namun secara jangka waktu yang relatif panjang
perlu diprediksi dari awal seberapa jauh kemungkinan return tersebut
sulit diperoleh kembali di masa mendatang.
b. Terdapat moral hazard dari counterparties untuk tidak memenuhi
kewajibannya di masa mendatang.
c. Bank tidak mempunyai kemampuan untuk selalu memantau
secara ketat kondisi counterparties.
d. Terdapat constraint dari internal management Bank untuk
melakukan pengendalian secara comprehensive terhadap seluruh
komponen yang dapat merugikan Bank.
e. Terdapat moral hazard dari business unit untuk selalu
mengutamakan return dan mengesampingkan risk.
Kondisi tersebut di atas terasa sekali terutama terdapat pada Bank-
bank yang belum secara formal menerapkan risk management, akibatnya
sering sekali terjadi bahwa Bank menyadari adanya kerugian setelah
keuntungan Bank menurun atau tersedianya modal Bank berkurang. Risk
management diharapkan dapat mendeteksi maksimum kerugian yang
mungkin timbul di masa mendatang serta kebutuhan tambahan modal
apabila dampak proyeksi kerugian dimaksud dapat mengakibatkan jumlah
modal di bawah ketentuan minimum yang dipersyaratkan otoritas
pengawasan.

2
Bagi pengelolaan Bank yang dilakukan secara konvensional umumnya
belum secara formal melakukan proyeksi maksimum kerugian yang
mungkin timbul di masa mendatang, sehingga kerugian-kerugian yang
timbul benar-benar disadari setelah terjadi serta belum secara efektif
dikendalikan sebelum kerugian benar-benar terjadi.

III. RISIKO DI BIDANG PERBANKAN


Usaha jasa perbankan mengandung beberapa unsur risiko mengingat
kontrak antara Bank dengan nasabah mengikat dalam kurun waktu ke
depan. Dengan demikian masing-masing pihak mempunyai moral hazard
untuk tidak memenuhi kewajibannya di masa mendatang atau kondisi
external (pasar) berubah ke arah yang merugikan Bank antara lain fluktuasi
nilai tukar dan suku bunga. Kemungkinan tidak terpenuhinya kewajiban
nasabah kepada Bank maupun fluktuasi faktor external perlu dikendalikan
untuk meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi di Bank. Proses dalam
mengendalikan berbagai risiko dimaksud perlu diformalkan dalam
management Bank.
Risiko dapat berupa risiko kredit apabila nasabah tidak memenuhi
kewajibannya kepada Bank. Namun demikian masih banyak risiko-risiko
lainnya seperti risiko nilai tukar, suku bunga dan operasional yang sering
sekali dapat menyebabkan Bank mengalami kerugian yang cukup besar.
Masih terdapat beberapa risiko yang juga dapat menimbulkan kerugian
bagi Bank seperti reputational risk, strategic risk, legal risk, political risk,
country risk, namun quantifikasi dan management dari risiko dimaksud
masih sulit dilakukan. Mengingat tidak setiap risiko selalu menjadi ancaman
bagi Bank, maka setiap Bank akan melakukan identifikasi terhadap risiko-
risiko yang mungkin timbul serta melakukan manajemen risiko sesuai
dengan tingkat kompleksitas usahanya.
Dalam menerapkan manajemen risiko, proses yang dilakukan meliputi:
a. menyusun business plan tahunan untuk masing-masing business unit
dengan mengacu kepada arahan dari top management berkaitan
dengan sasaran tahunan yang ingin dicapai maupun risiko yang perlu
dipertimbangkan;
b. menyusun proyeksi risiko yang dengan mengacu kepada business
plan serta posisi modal yang diperlukan untuk mendukung dalam
pelaksanaan business plan dimaksud. Apabila modal yang tersedia
belum mencukupi maka dilakukan pembicaraan di senior management
level untuk melakukan penyetoran modal atau melakukan revisi
business plan.
c. Menetapkan pendelegasian wewenang kepada setiap business unit
yang terlibat untuk menerapkannya serta rambu-rambu yang perlu di

3
patuhi berupa limit-milit risiko agar Bank dapat mengendalikan risiko
secara keseluruhan sejalan dengan strategi Bank.
d. business unit melaksanakan fungsinya dengan mematuhi limit-limit
yang telah ditentukan.
e. risk management unit melakukan monitoring atas risiko yang di
eksposoleh masing-masing business unit maupun melakukan
konsolidasi terhadap seluruh risiko serta memonitor posisi modal yang
tersedia.
f. apabila terjadi pelaksanaan yang menyimpang maka perlu dibicarakan
pada risk management committee untuk mendapatkan keputusan
maupun rekomendasi kepada manajemen puncak.
Dalam penerapan risk management diperlukan prasarana antara lain
risk assessment metodology, sistim informasi, internal control dan sumber
daya manusia yang memadai untuk menjamin efektivitas risk management
process itu sendiri.
Dengan penerapan risk management diharapkan setiap langkah dari
business unit akan dapat dimonitor oleh top management untuk koordinasi
serta mengurangi moral hazard dari masing-masing business unit untuk
melakukan kegiatan yang menghasilkan keuntungan relatif tinggi
(spekulasi) tanpa mengindahkan unsur risiko yang mungkin terjadi.
Disamping itu, top management juga dapat melihat eksposur risiko secara
konsolidasi bila dikaitkan dengan tersedianya modal Bank.

IV. PERLUNYA PENERAPAN RISK MANAGEMENT DI PERBANKAN


INTERNATIONAL
Berkembangnya penerapan risk management pada perbankan tidak
terlepas dari kesepakatan dalam Basel Committee for Banking Supervision
di Basle (BIS) yang telah beberapa kali mengeluarkan pedoman
perhitungan kebutuhan modal minimum yang didasarkan kepada risiko
yang dihadapi. Tahun 1988, Basel Committee mengeluarkan pedoman
perhitungan kebutuhan modal untuk mengcover risiko kredit. Pedoman ini
telah diterima dan diterapkan hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia
meskipun dalam pedoaman tersebut masih terdapat beberapa kelemahan-
kelemahan.
Perbankan internasional telah mengembangkan pendekatan
perhitungan risiko untuk mendapatkan hasil proyeksi yang lebih mendekati
kebenaran, mengingat pendekatan Basle Committee lebih bersifat
penyederhanaan atas risiko-risiko yang ada untuk memudahkan
penerapannya. Disamping itu Basle Committee juga memperkenankan
Bank untuk menggunakan modelnya sendiri dalam menghitung risiko dalam

4
rangka perhitungan kebutuhan modal minimum baik untuk market risk (BIS,
1996) maupun credit risk dan operational risk (BIS, 2001).
Model yang digunakan diharuskan mendapatkan persetujuan lebih
dahulu dari Bank Sentral atau lembaga pengawasan jasa keuangan
sebelum secara resmi dipergunakan untuk menghitung CAR. Secara umum
model yang digunakan dapat menghasilkan perhitungan volatilitas yang
lebih akurat serta kebutuhan modal yang lebih rendah bila dibandingkan
dengan menggunakan metode standard yang diusulkan oleh Basle
Committee. Beberapa persyaratan harus dipenuhi sebelum Bank dapat
menggunakan internal model dalam perhitungan CAR. Persyaratan
tersebut meliputi minimum requirement secara kualitatif maupun kuantitatif.
Persyaratan kualitatif meliputi risk management process yang harus
ditempuh oleh Bank diantaranya keterlibatan senior management,
sedangkan persyaratan kuantitatif meliputi data, model dan testing
metodologi yang harus dilakukan oleh Bank.

V. PERAN SENIOR MANAGEMENT


Keterlibatan senior management dalam risk management process
merupakan keharusan dalam risk management di perbankan untuk
meyakinkan bahwa strategi dalam risk management, pendekatan
perhitungan risiko, delegasi pelaksanaan, dan proses yang diterapkan
sudah disetujui oleh management Bank. Sasaran dalam risk management
ini agar risiko dikendalikan dengan baik sehingga modal yang ada dapat
menopang risiko yang mungkin timbul di masa mendatang.
Keterlibatan senior management dalam penerapan risk management
diwujudkan untuk mengetahui kondisi Bank melalui penyampaian laporan-
laporan kepada Direksi Bank dan keikutsertaannya dalam risk
management committee dimana dalam komite ini bertanggung jawab untuk;
a. menyusun Kebijakan dan Pedoman Penerapan Manajemen Risiko
serta perubahannya apabila diperlukan
Strategi kebijakan akan dibuat setiap tahun menjadi input atau acuan
bagi business unit membuat business plan. Dalam menyusun strategi
kebijakan dalam risk management akan memperhatikan beberapa hal
seperti tersedianya modal, expertise yang ada, sistim informasi, dan
kapasitas business unit. Ukuran keberhasilan atas strategi ini
diantaranya kelancaran dan konsistensi dalam implementasi serta
pencapaian target dari masing-masing business unit.
b. mengkoordinasikan dan memantau seluruh penerapan Strategi
Manajemen Risiko
Progress penerapan menejemen risiko secara konsolidasi akan
dilaporkan secara rutin kepada risk management committee sebagai

5
bahan evaluasi atas penerapan strategi yang telah disusun. Tindak
lanjut atas evaluasi in dapat berupa revisi kebijakan dengan maksud
untuk menjaga keseimbangan antara risiko yang dihadapi oleh Bank,
tersedianya modal serta pencapaian target laba rugi Bank.
c. menyetujui penerapan manajemen risiko yang melampaui wewenang
pimpinan satuan kerja operasional
Sebagaimana diketahui bahwa setiap satuan kerja operational
(business unit) diberikan limit-limit berkaitan dengan risk untuk
menghindari excessive risk. Dalam pelaksanaannya limit-milit
dimaksud dapat saja tidak valid karena kalau diikuti maka akan terjadi
kerugian yang relatif besar. Dalam kondisi demikian pelampauan limit
dapat saja dilakukan dengan catatan harus mendapatkan persetujuan
terlebih dahulu dari risk management committee untuk
dipertimbangkan sejauhmana effek dari pelampauan limit dimaksud
terhadap kondisi Bank secara konsolidasi.
d. menyusun contingency plan dalam kondisi tidak normal
Dalam kondisi tidak normal, maka aturan main dalam risk
management mungkin tidak diterapkan dengan baik mengingat apabila
tetap diterapkan maka akan terjadi kebuntuan dalam operasi Bank.
Dalam kondi demikian risk management committee berwenang untuk
menyusun berbagai scenario dalam kondisi tidak normal. Diantaranya
pelampuan-pelampuan limit dapat saja dilakukan dalam kondisi tidak
normal.
e. memantau kecukupan permodalan Bank terhadap risk exposure
sesuai ketentuan BI yang berlaku
Tanggung jawab atas kecukupan permodalan Bank dapat berada pada
risk management committee dimana didalammya termasuk Presiden
Direktur dan mayoritas anggota Direksi. Mengingat monitoring atas
posisi risiko Bank selalu dilaporkan kepada risk management
committee maka indikasi kekurangan modal sudah dapat dideteksi
secara dini serta dapat segera diambil kebijakan untuk mengatasinya.
f. mengevaluasi efektifitas sistem manajemen risiko yang diterapkan
Risk management system yang diterapkan tentunya diperlukan penyesuaian
apabila terdapat perubahan-perubahan dalam komponennya. Peningkatan
kompleksitas operasional tentu akan mempengaruhi pendekatan yang
diterapkan. Bank yang mendapatkan otorisasi memberikan jasa pelayanan
valuta asing (Devisa) tentunya risk management system akan berubah
mengingat risiko nilai tukar akan menjadi tambahan risiko Bank. Volatilitas
faktor risiko yang tinggi akan mengakibatkan volatilitas yang sudah
ditetapkan perlu direvisi. Dalam pelaksanaannya, risk management unit (risk
manager) akan memberikan seluruh informasi yang diperlukan berkaitan
dengan risk management committee sebelum diputuskan dalam rapat
komite.

6
VI. KESIMPULAN
Kecenderungan Bank-bank internasional dalam penerapan
manajemen risiko dipengaruhi oleh adanya insentif kebutuhan modal yang
lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil kebutuhan modal dengan
metode standard. Konsekuensi penerapan internal model dalam
perhitungan CAR, Bank-bank harus memenuhi beberapa persyaratan
minimum yang diberlakukan oleh Bank Sentral atau lembaga pengawasan
jasa keuangan.
Salah satu syarat bahwa keterlibatan senior management dalam risk
management process harus dituangkan secara jelas dalam prosedur
penerapan manajemen risiko. Dengan demikian tanggung jawab
pelaksanaan manajemen risiko berada pada level senior management dari
Bank dimaksud. Oleh sebab itu, pemahaman risk management system oleh
senior level management merupakan keharusan apabila Bank ingin
menerapkan manajemen risiko secara efektif.

Bagian Kedua
PERANAN RISK-BASED SUPERVISION DALAM PENILAIAN
EFEKTIVITAS PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO PERBANKAN

I. PENDAHULUAN
Perkembangan industri keuangan, khususnya industri perbankan,
dalam dekade terakhir dapat dikatakan cukup dramatis. Agar tetap dapat
beroperasi secara kompetitif, perbankan dituntut untuk mampu beradaptasi
dengan lingkungan bisnis perbankan yang senantiasa berkembang. Tidak
hanya bankers, para pengawas bank juga diharapkan dapat merespon
perubahan-perubahan yang terjadi. Namun dalam prakteknya tidak dapat
dipungkiri bahwa respon pengawas bank terhadap perubahan dunia usaha
tidak secepat para bankers.
Banyak faktor yang dapat mendorong terciptanya sistem perbankan
yang sehat dan stabil, namun yang dirasakan cukup berperan penting
adalah penerapan sistem pengawasan bank yang efektif. Menjawab
permasalahan ini, Basel Committee on Banking Supervision telah
mengeluarkan Prinsip-prinsip Dasar Pengawasan Bank yang Efektif (Core
Principles) sebagai acuan bagi otoritas pengawas bank dalam menciptakan
pengawasan bank yang efektif. Dalam prakteknya, efektivitas sistem
pengawasan bank bergantung pada beberapa faktor, antara lain (i)
kebijakan ekonomi makro yang sehat dan stabil, (ii) tersedianya
infrastruktur publik yang baik, antara lain sistem hukum, prinsip akuntansi
keuangan, akuntan publik yang kompeten dan independen, ketentuan

7
pasar modal dan sistem pembayaran yang mendukung, (iii) disiplin pasar
(market discipline) yang efektif, (iv) prosedur penyelesaian bank-bank
bermsalah yang efektif, dan (iv) mekanisme untuk menyediakan jaring
pengaman (public safety net) yang memadai. Disamping itu, faktor-faktor
yang tidak kalah pentingnya adalah kesesuaian antara pendekatan/pola
pengawasan yang diterapkan dengan kondisi bank yang diawasi, serta
sumber daya manusia sebagai pendukung utama pengawasan bank.
Dalam kaitannya dengan kedua faktor terakhir tersebut, saat ini Bank
Indonesia sedang dalam proses pengembangan dan penerapan
kebijakaan, prosedur, serta praktek pengawasan perbankan, yang
diharapkan mampu secara efektif menilai kesehatan dan kestabilan bank.
Strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui
implementasi risk based supervisory system. Dalam praktek pengawasan
perbankan internasional, risk based supervision dipandang sebagai konsep
pengawasan yang komprehensif dan dinamis karena tidak hanya melihat
kondisi bank saat ini, namun juga kemungkinan kinerja dimasa mendatang,
termasuk menilai kemampuan bank dalam menghadapi risiko potensial,
baik risiko bank secara individu maupun risiko sistem perbankan (systemic
risks).

II. APA DAN MENGAPA RISK-BASED SUPERVISION?


Dalam praktek pengawasan bank terdapat konsensus umum yang
menyatakan bahwa proses pengawasan bank yang efektif harus mencakup
pengawasan langsung dan tidak langsung. Tujuan dilakukannya
pengawasan terhadap sistem perbankan adalah untuk memantau kondisi
suatu bank dan juga kondisi dalam sistem perbankan, mengidentifikasi
masalah secara dini sehingga dapat diambil langkah perbaikan, serta
mengarahkan pengawasan kepada area kegiatan yang mengandung risiko
tinggi. Sementara itu, tujuan dilakukannya pengawasan langsung
(pemeriksaan) antara lain untuk menilai tingkat kepatuhan terhadap
ketentuan-ketentuan perbankan, mengetahui kondisi dan kinerja bank, dan
melihat sejauhmana bank tersebut beroperasi secara aman dan sehat.
Pemeriksaan bank dapat dilakukan dengan cara yang berbeda
bergantung pada tingkat kehandalan, pengetahuan dan pengalaman
pemeriksa, serta tingkat perkembangan sistem perbankan. Berbagai
pendekatan yang digunakan antara lain pemeriksaan yang bersifat
snapshot (bottom-up) dan proaktif (top-down). Pendekatan snapshot
dilakukan apabila bank belum memiliki sistem informasi yang handal, serta
belum dapat mengembangkan kebijakan, rencana serta tujuan dengan
baik. Proses pemeriksaan lebih difokuskan pada tingkatan organisasi
dimana transaksi bisnis dilakukan dan dibukukan, sehingga hanya
memberikan suatu gambaran kondisi bank pada satu saat tertentu
(snapshot), yang selanjutnya menjadi dasar dalam pengambilan

8
kesimpulan atas keseluruhan kondisi dan kinerja keuangan bank.
Sementara itu, pendekatan proaktif tidak hanya sebatas mengetahui
kondisi dan kinerja keuangan bank, namun juga menilai cara bank
melakukan pengukuran, pengelolaan dan pengendalian risiko, menilai
kewajaran dan efektivitas kebijakan dan prosedur bank, formalisasi rencana
dan anggaran, prosedur pengendalian dan audit intern, serta sistem
informasi manajemen.
Pada prinsipnya, risk based supervision merupakan suatu proses
pemantauan dan penilaian sejauhmana pengelolaan risko (risk
management system) dan sistem pengendalian intern (internal control
system) bank dapat diterapkan secara efektif. Dengan demikian, kunci
utama dalam risk based supervision adalah mencari cara untuk
memastikan bahwa bank memiliki dan menerapkan risk management
system dan internal control system yang memadai. Secara umum,
pendekatan risk based supervision lebih mendekati pendekatan proaktif,
dengan beberapa karakteristik berikut:
1. Memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap bank yang
diawasi, khususnya risk profile bank, serta lingkungan usaha dimana
bank beroperasi, sehingga memudahkan proses identifikasi area
kegiatan yang berisiko tinggi yang perlu mendapat perhatian khusus
2. Memerlukan pemahaman terhadap jenis-jenis risiko1 serta
kemampuan manajemen untuk mengelola risiko (baik internal maupun
eksternal), khususnya risiko yang berada diluar kendali manajemen,
misalnya risiko sistemik dan risiko-risiko dalam lingkungan usaha.
3. Menggunakan kerangka dan terminologi yang khusus dirancang
untuk menilai risiko dan mengevaluasi kebijakan, prosedur, dan
praktek pengelolaan risiko.
Sebenarnya risk based supervision bukan merupakan “barang baru”
dalam praktek pengawasan bank di Indonesia. Sejak dikeluarkannya Paket
Januari 1991 yang antara lain mengatur mengenai penghitungan tingkat
kesehatan bank dengan menggunakan metode CAMEL (Capital Adequacy,
Asset Quality, Management, Earning, dan Liquidity) yang kemudian
mengalami perubahan pada tahun 1997, Bank Indonesia telah menerapkan
risk based supervision atau pada saat itu dikenal sebagai risk-driven
approach. Namun secara spesifik, analisis dalam CAMEL belum diarahkan
pada pengukuran potensial risiko (forward looking).
Secara kualitatif, kemampuan bank mengelola risiko dapat dilihat dari
penilaian aspek Manajemen, yang mencakup 100 pertanyaan mengenai
Manajemen Umum dan Manajemen Risiko. Pertanyaan Manajemem Umum
mencakup strategi/sasaran, struktur, sistem, sumber daya manusia,
kepemimpinan, dan budaya kerja, sementara pertanyaan Manajemen
1
Credit risk, Interest risk, Liquidity risk, Price Risk, Foreign Currency Translation risk, Transaction
risk, Compliance risk, Strategic risk, dan Reputation risk.

9
Risiko mencakup risiko likuiditas, pasar, kredit, operasional, hukum,
kepemilikan dan kepengurusan. Disamping itu, Bank Indonesia juga telah
menerapkan ketentuan mengenai kewajiban pemeliharaan modal minimum,
yang mengacu pada the Basle Capital Accord yang dikeluarkan oleh Basle
Committee pada July 1988. Pada prinsipnya, penghitungan modal
minimum yang harus dipelihara bank memperhitungkan aspek likuiditas
dan risiko, khususnya risiko kredit. Semakin rendah risiko kredit yang
terkandung dalam aset bank atau semakin likuid aset tersebut, maka
semakin kecil jumlah modal yang harus dipelihara. Tidak hanya risiko yang
tercakup dalam aset yang tercantum dalam neraca bank, tapi juga aset
yang terdapat diluar neraca (off-balance sheet).
Pengaturan lainnya yang juga mencerminkan telah diterapkannya risk
based supervision adalah penerapan self-regulatory banking sebagai salah
satu pendekatan pengawasan. Pendekatan ini telah dilakukan Bank
Indonesia sejak tahun 1995, yaitu dengan mewajibkan bank menyusun
kebijakan perkreditan (Lending Policy), penerapan Teknologi Sistem
Informasi, pedoman Derivatif, serta pedoman Pemantauan Likuiditas.
Dalam kaitannya dengan hal ini, Bank Indonesia mengeluarkan pedoman
penyusunan kebijakan dan pedoman yang merupakan standar minimum
yang harus digunakan bank sebagai acuan dalam menyusun kebijakan dan
pedoman intern. Sebagai langkah proaktif, Bank Indonesia mewajibkan
bank untuk memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari otoritas
pengawasan bank sebelum kebijakan dan pedoman intern tersebut
diterapkan.
Melihat perkembangan filosofi risk based supervision tersebut, maka
banyak hal yang masih perlu dibenahi oleh Bank Indonesia. Saat ini, Bank
Indonesia sedang melakukan berbagai upaya secara intensif untuk
mengembangkan risk based supervision. Upaya tersebut dilatarbelakangi
beberapa faktor. Pertama, belajar dari pengalaman krisis keuangan yang
terjadi di negara-negara Asia, khususnya Indonesia, secara umum dapat
dikatakan bahwa baik perbankan maupun otoritas pengawas bank kurang
menyadari pentingnya pengelolaan risiko secara tepat, serta pola
pengawasan yang mampu mengidentifikasi dan mengantisipasi
permasalahan secara dini.
Kedua, melalui pembahasan dengan IMF dan World Bank, Basle
Committe on Banking Supervision telah mengembangkan Prinsip-Prinsip
Dasar Pengawasan Bank yang Efektif (Core Principles for Effective
Banking Supervision). Core Principles terdiri dari 25 prinsip-prinsip dasar
yang diharapkan dapat menjadi standar minimum yang berlaku umum dan
berfungsi sebagai dokumen referensi bagi otoritas pengawas di seluruh
negara dalam rangka meningkatkan efektivitas sistem pengawasan
terhadap lembaga-lembaga keuangan (lihat lampiran 1). Dicermati lebih
lanjut, Core Pricinples tersebut juga menerapkan risk based supervision
sebagaimana terlihat pada prinsip-prinsip No. 9 – 14. Melihat pada praktek

10
pengawasan dalam skala internasional, banyak negara telah menerapkan
risk based supervision sebagai suatu pendekatan pengawasan yang
dipandang tepat dan sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Ketiga, dalam Letter of Intent yang merupakan kesepakatan antara
IMF dan pemerintah Indonesia, salah satu agenda penting yang perlu
ditindaklanjuti adalah penerapan Basle Core Principles secara konsisten.
Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh IMF terhadap penerapan Core
Principles, khususnya prinsip No. 9-14 diketahui bahwa Bank Indonesia
masih perlu menyusun pedoman pengelolaan risiko dan melakukan proses
verifikasi secara on-site terhadap kegiatan pengelolaan risiko yang
dilakukan bank. Khusus untuk prinsip No.11, sampai saat ini belum
terdapat perundangan/pengaturan mengenai country risk 2

RISK MANAGEMENT DALAM KERANGKA PENERAPAN RISK BASED


SUPERVISION
Sejalan dengan munculnya berbagai jenis risiko usaha sebagai
konsekuensi logis dari perkembangan pasar keuangan yang cukup pesat,
maka peran risk management system semakin penting dalam rangka
menjaga agar aktivitas operasional yang dilakukan bank tidak menimbulkan
kerugian yang melebihi kemampuan bank untuk menyerap kerugian
tersebut ataupun membahayakan kelangsungan usaha bank.

2
IMF Staff, Basel Core Principles for Effectiveness Banking Supervision, An Assessment of
Compliance in Indonesia, September 2000

11
Penerapan risk management system oleh bank tidak dapat dilepaskan
dari praktek risk based supervision Penerapan risk management system
akan memberikan manfaat, baik bagi perbankan maupun otoritas
pengawasan bank. Bagi perbankan, risk management system: (i) dapat
memberikan gambaran bagi manajemen mengenai kemungkinan kerugian
bank dimasa mendatang, (ii) dapat dipakai sebagai dasar pengukuran
kuantitatif atas kinerja bank dengan menggunakan argumentasi yang relatif
kuat dari sudut teori, (iii) dapat dipakai untuk menilai risiko intrumen
keuangan yang relatif kompleks (mis. Option), dan (iv) dapat
mempertimbangkan korelasi risiko dari berbagai faktor
Sementara itu, manfaat bagi otoritas pengawasan antara lain
memudahkan penilaian atas kemungkinan kerugian yang dihadapi bank
sebagai dasar perhitungan permodalan minimum (CAR), dan sebagai dasar
penilaian kinerja bank yang dapat dengan mudah dipahami oleh pengawas
dan manajemen bank.

IV. IMPLIKASI PENERAPAN RISK BASED SUPERVISION BAGI BANK


INDONESIA
Penerapan risk based supervision secara konsisten menuntut
dilakukannya perubahan dalam pola pengawasan perbankan. Aspek-aspek
yang perlu mendapat perhatian adalah kerangka hukum dan pengaturan,
yang mencakup perundangan, peraturan, dan pedoman. Penerapan risk
based supervision memerlukan suatu landasan hukum, baik dalam bentuk
perundangan maupun peraturan yang dapat memberikan arahan bagi
pengawas maupun perbankan. Sebagaimana telah diuraikan diatas, Bank
Indonesia telah mengeluarkan beberapa peraturan yang mewajibkan bank
untuk menyusun kebijakan dan pedoman yang mengacu pada standar
minimum yang ditetapkan Bank Indonesia. Namun, secara spesifik
pengaturan tersebut belum sepenuhnya memuat mengenai pengelolaan
risiko-risiko yang terkait dengan aktivitas bank. Dengan demikian,
dipandang perlu untuk mengembangkan atau membenahi pengaturan yang
dapat menunjang pelaksanaan risk based supervision

V. IMPLIKASI PENERAPAN RISK BASED SUPERVISION BAGI


PERBANKAN NASIONAL
Penerapan risk based supervision oleh Bank Indonesia membawa
implikasi bagi dunia perbankan, khususnya dalam strategi pengelolaan
risiko. Menindaklanjuti penerapan risk management system, perbankan
akan dihadapkan pada “pekerjaan rumah” yang cukup kompleks dan
memerlukan perhatian khusus, antara lain:
1. Struktur Organisasi Manajemen Risiko

12
Dalam rangka penerapan manajemen risiko yang efektif, bank wajib
menyusun struktur organisasi yang melibatkan tanggungjawab
komisaris, direksi, manajemen senior lainnya, serta membentuk
Komite Manajemen Risiko dan Unit Manajemen Risiko.
2. Sumber Daya Manusia
Kompetensi dan integritas manajemen merupakan faktor utama yang
perlu diperhatikan dalam penerapan risk management system.
Indikator penilaian antara lain dapat mengacu pada ketentuan
mengenai Fit and Proper Test. Disamping itu, bank harus
mengembangkan sistem penerimaan pegawai, sistem pengembangan
dan pelatihan pegawai dan sistem remunerasi yang memadai untuk
menjamin diperolehnya pegawai yang kompeten dan memiliki
integritas.
3. Penyusunan Pedoman Manajemen Risiko
Bank diwajibkan untuk menyusun Pedoman Manajemen Risiko yang
disesuaikan dengan sifat, jumlah dan kompleksitas transaksi, serta
ditetapkan dengan berlandaskan pada prisip kehati-hatian.
4. Sistem Informasi Manajemen
Sebagai bagian dari proses risk management, bank perlu memiliki
sistem informasi manajemen yang terpadu yang dapat menjamin
bahwa seluruh exposure risiko telah diukur secara akurat, informatif
dan tepat waktu.
5. Pengendalian Intern dan Audit Intern
Bank diwajibkan memiliki sistem pengendalian intern untuk melakukan
pencegahan sedini mungkin terhadap hal-hal yang dapat merugikan
serta terjadinya praktek-praktek yang tidak sehat.

VI. IMPLIKASI KEBIJAKAN KEDEPAN


Berkaitan dengan pengembangan pengawasan perbankan di masa
mendatang, Bank Indonesia dihadapkan pada beberapa agenda yang
harus dipenuhi, diantaranya adalah:
1. Pengaturan Permodalan Bank
Sebagaimana telah dikemukakan diatas, ketentuan permodalan bank
mengacu pada Basel Capital Accord. Dalam prakteknya, Basel Capital
Accord senantiasa mengembangkan prinsip-prinsip yang merupakan
best practices bagi dunia perbankan, dan hingga saat ini telah
mengeluarkan 3 pilar sebagai acuan dalam pengaturan permodalan
bank. Secara umum, 3 pilar tersebut mencakup penghitungan modal
minimum dengan memasukkan unsur risiko operasional (operational
risk) dan risiko pasar (market risk), penggunaan standardized

13
approach maupun internal model dalam pengukuran market risk, dan
aspek pengawasan terhadap penggunaan model tersebut (supervisory
review), serta pengaturan mengenai pengungkapan informasi
(information disclosure). Pengaturan mengenai disclosure pada
prinsipnya ditujukan untuk mendorong terciptanya disiplin pasar
(market discipline), yang secara tidak langsung dapat mendorong
penerapan risk management, karena bank dituntut untuk beroperasi
dengan sehat dan aman.
2. Peta Perbankan (Banking Landscape)
Heterogenitas perbankan nasional membutuhkan disusunnya suatu
landscape perbankan yang secara prinsip akan membagi bank
kedalam strata-strata berdasarkan suatu indikator tertentu
(benchmark). Dalam kaitannya dengan penyusunan landscape ini,
maka pengaturan dan pengawasan bank, khususnya penerapan risk
management system dan risk based supervision akan disesuaikan
dengan strata perbankan tersebut.
3. Pengawasan secara konsolidasi (Consolidated Supervision)
Consolidated supervision merupakan tool yang esensial dalam
pengawasan perbankan. Penerapan consolidated supervision
didorong oleh meluasnya praktek perbakan yang dilakukan melalui
anak perusahaan (subsidiaries) maupun perusahaan terafiliasi.
Disamping itu, dalam banyak kasus, suatu bank dimiliki oleh
perusahaan induk (holding company) sehingga pengawasan juga perlu
mencakup aktivitas/kegiatan yang dilakukan oleh holding company
maupun anak perusahaan bank untuk mengetahui profil risiko dari
seluruh perusahaan yang terkait dengan bank. Consolidated
supervision mencakup pendekatan yang komprehensif untuk
mengevaluasi seluruh kekuatan grup perusahaan, termasuk risiko-
risiko yang dapat mempengaruhi operasional bank, tanpa melihat
apakah risiko tersebut tercakup atau tidak dalam neraca bank.

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa
pengembangan pengawasan perbankan dan langkah-langkah yang
ditempuh oleh Bank Indonesia dalam upaya menerapkan risk based
supervision tidak semata ditujukan untuk kepentingan otoritas pengawasan
perbankan. Lebih dari itu, langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank
Indonesia memiliki orientasi yang sama dengan perbankan, yaitu
mewujudkan lembaga keuangan yang dapat beroperasi secara sehat dan
efisien sehingga dapat meningkatkan shareholder’s value, yang pada
gilirannya dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi nasabah.

14
Keberhasilan perbankan untuk dapat beroperasi secara sehat dan
efisien sangat bergantung pada kemampuan menerapkan risk
management system secara konsisten, yaitu mencakup identifikasi,
pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, baik external maupun
internal risks.

LAMPIRAN
25 Basle Core Principles for Effective Banking Supervision (25 BCPs)

Persyaratan untuk pengawasan Bank yang Efektif


1. Tanggung jawab dan tujuan yang jelas bagi setiap lembaga yang
terkait dengan tugas-tugas pengawasan bank, antara lain meliputi :
• independensi operasional dan kecukupan sumber daya
• kerangka kerja yuridis (legal framework), termasuk pendirian
bank, pengawasan, dan perlindungan bagi pengawas
• tukar menukar informasi antar-pengawas dan perlindungan
kerahasiaan informasi
Pendirian dan Struktur
2. Kegiatan yang diperbolehkan bagi lembaga yang diberi ijin operasi
dan diawasi sebagai bank harus didefinisikan secara jelas, dan
penggunaan kata ‘bank’ dalam nama harus dikendalikan
3. Kewenangan menetapkan kriteria dan menolak usulan pendirian
bank yang tidak memenuhi standar. Proses perijinan minimal
mencakup penilaian struktur kepemilikan, organisasi dan
manajemen, rencana kerja dan pengendalian intern, serta
rekomendasi otoritas negara asal untuk bank asing
4. Kewenangan pengawas untuk mengkaji dan menolak berbagai
proposal mengenai perubahan kepemilikan bank (controlling interest)
5. Kewenangan pengawas dalam menetapkan kriteria untuk mengkaji
akuisisi dan investasi yang dilakukan bank, serta memastikan bahwa
afiliasi/struktur perusahaan tidak membawa bank pada risiko yang
tinggi dan/ mengaburkan efektivitas pengawasan
Pengaturan dan Persyaratan Kehati-hatian
6. Pengawas harus menetapkan kebutuhan modal minimum (KPMM),
dan khusus untuk bank-bank yang beroperasi dalam ruang lingkup
internasional, persyaratan sekurang-kurangnya sebagaimana
ditetapkan Basle Capital Accord

15
7. Dalam sistem pengawasan telah mencakup penilaian independen
terhadap kebijakan, praktek-praktek dan prosedur
perkreditan/investasi bank
8. Pengawas harus dapat memastikan bahwa kegiatan bank telah
sesuai dengan kebijakan, praktek-praktek dan prosedur dalam
melakukan penilaian kualitas aset dan kecukupan cadangan
9. Pengawas harus dapat memastikan bahwa kegiatan bank telah
memiliki sistem informasi manajemen untuk mengidentifikasi
konsentrasi risiko dalam portofolio bank (risiko kepada peminjam
individu maupun grup terkait)
10. Pengawas bank telah menetapkan batasan-batasan mengenai
BMPK bagi bank (pihak terkait), termasuk upaya pemantauan dan
upaya-upaya mengatasi timbulnya risiko
11. Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki
kebijakan dan prosedur yang memadai untuk mengidentifikasi,
memantau dan mengendalikan country risk dan transfer risk dalam
bisnis perbankan internasional, termasuk kecukupan cadangan untuk
mengantisipasi risiko
12. Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki
sistem yang dapat menghitung secara akurat dan mengendalikan
market risk, dan jika perlu, menetapkan limit/capital charge tertentu
atas market risk exposure
13. Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki
proses manajemen risiko untuk mengidentifikasi, mengukur,
memantau dan mengendalikan berbagai risiko potensial
14. Pengawas hartus memastikan bahwa bank telah memiliki
pengendalian intern yang memadai sebanding dengan jenis dan
ukuran bisnis
15. Pengawas harus memastikan bahwa bank telah memiliki kebijakan,
praktek-praktek dan prosedur untuk meningkatkan standar etika dan
profesionalisme perbankan dan mencegah terjadinya praktek-praktek
kriminal
Metode Pengawasan Bank
16. Sistem pengawasan bank yang efektif sekurang-kurangnya meliputi
atau kombinasi dari bentuk pengawasan langsung/pemeriksaan (on-
site examination) dan pengawasan tidak langsung (off-site
supervision)
17. Pengawas harus melakukan kontak secara teratur dengan
manajemen bank dan memiliki pemahaman yang seksama terhadap
kegiatan bank yang diawasi

16
18. Pengawas harus melakukan kegiatan pengumpulan data, pengkajian
dan analisis terhadap laporan-laporan bank, baik secara individu
maupun konsolidasi
19. Pengawas harus melakukan kegiatan pembuktian terhadap
kebenaran informasi pengawasan, baik melalui pemeriksaan maupun
menggunakan jasa auditor ekstern
20. Salah satu unsur mendasar dari pengawasan bank adalah
kemampuan pengawas untuk mengawasi organisasi bank secara
konsolidasi
Kebutuhan Informasi
21. Pengawas harus dapat memastikan bahwa bank telah memiliki
catatan akuntansi yang memadai berdasarkan prinsip-prinsip yang
berlaku dan diterapkan secara konsisten, sehingga dapat menyajikan
laporan keuangan bank secara wajar dan benar
Kewenangan Formal Pengawas
22. Pengawas harus memiliki kewanangan untuk melakukan langkah-
langkah tindak lanjut pengawasan apabila dijumpai adanya bank
yang tidak mampu memenuhi ketentuan kehati-hatian, pelanggaran
ketentuan, atau karena adanya hal-hal lain yang dapat mengancam
kepentingan nasabah
Cross-Border Banking
23. Pengawas harus menerapkan pemantauan dan pengawasan bank
secara konsolidasi dan global, terutama terhadap unit-unit usaha
bank (cabang, agen dan anak perusahaan) yang beroperasi di luar
negeri
24. Pengawas melakukan kontak dan tukar menukar informasi mengenai
bank yang diawasi dengan otoritas pengawas negara lain
25. Pengawas harus mensyaratkan bahwa terhadap kegiatan
operasional kantor cabang bank asing diperlakukan sama dengan
bank lokal, dan memiliki kewenangan tukar menukar informasi yang
diperlukan dengan pengawas negara asalnya

17