You are on page 1of 2

04 01

www.alkautsar561.org Simpanlah di tempat yang baik, karena memuat ayat Al-Quran!



Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Oleh: H. Aep Saepulloh Darusmanwiati MA. (Kandidat Doktor Universitas Al-Azhar Mesir
Menurut Ibnu Rajab dalam Lathiful Marif, di antara sebab Allah melipatgandakan
pahala ibadah seseorang adalah karena kemuliaan waktu melakukan ibadahnya
(syarafuz zamn). Ibadah apapun yang dikerjakan pada waktu-waktu yang
dimuliakan oleh Allah, maka ibadah tersebut menjadi istimewa; pahalanya
dilipatgandakan, dan kedudukannya melebihi ibadah lainnya.

Di antara contoh waktu yang dimuliakan oleh Allah dimaksud adalahselain bulan
Ramadhansepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Maksudnya adalah tanggal 01
sampai tanggal 10 dari bulan Dzulhijjah. Lalu, apa saja keutamaan sepuluh hari
pertama bulan Dzulhijjah ini? Di antara keutamaannya adalah:
Pertama, dalam surat al-Fajr, Allah berfirman:

' ) 1 (

- =

' ,

' ) 2 (

'

-' ) 3 (

- ,

'' ) 4 ( ' -

'

= =
Artinya: Demi fajar. Dan demi malam yang sepuluh. Dan demi yang genap dan
yang ganjil. Dan demi malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah
(yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal (QS. Al-Fajr [89]: 1-5).

Jumhur ulama baik salaf maupun khalaf, seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Abdullah bjn
az-Zubair, Masruq bin al-Ajda, Mujahid, ad-Dhahhak sebagaimana disampaikan
Imam at-Thabari dan Ibnu Katsir-- ketika menafsirkan ayat dan demi malam yang
sepuluh berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh itu
adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya at-Tibyn f Aqsmil
Qurn mengatakan: Allah swt bersumpah dengan beberapa makhlukNya.Dan
sumpahnya Allah dengan sebagian makhlukNya menunjukkan bahwa makhluk
yang disumpahinya itu termasuk di antara tanda kekuasaanNya yang agung, luar
biasa.

Kedua, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk waktu empat puluh malam
di mana Allah bertemu dengan Nabi Musa as. Bahkan, ia merupakan sepuluh
Diter!itkan oleh Yayasan Yatim dan Dhuafa Alkautsar 561" ter!it dua min##u sekali.
$onpes Alkautsar%&' menerima santri (atim dan dhua)a tanpa dipun#ut !ia(a" in)o le!ih
lan*ut hu!un#i kami atau melalui www.alkautsar%&'.or#
Redaksi: Helmi A!dul Hakim +,. -i).i /auzi +,. Ait 0ah(u Supratman M. $d. Layout: Helmi
Sirkulasi: 1resno Marseno Sekretariat: 2a(asan 2atim Dhua)a Alkautsar %&' Dsn.
3a#a!a(a4 -a*adatu4 5ineam-1asikmala(a Email: (a(asan.alkautsar%&'6#mail.,om.
Ketiga, memperbanyak membaca takbir (Allhu akbar), tahlil (l ilha
illallh), tahmd (alhamdulillh) juga dzikir lainnya.

Kalimat takbir ini lebih ditekankan lagi untuk dibaca setiap kali selesai shalat wajib
sebanyak tiga kali, sejak setelah shalat Shubuh dari hari Arafah (tanggal 09
Dzulhijjah) sampai setelah shalat Ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah (akhir hari
Tasyriq).

Keempat, melakukan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat tahajjud, sedekah,
memperbanyak shalat sunnat baik rawatib maupun non rawatib, membaca al-
Quran, membantu dan menolong sesama, juga amal-amal shaleh lainnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari telah disebutkan tentang keu-
tamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam al-
Lathif Apabila amal shaleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan
Dzulhijjah ini lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari lainnya dalam
seluruh tahun, maka amal shaleh apapun yang dikerjakan di dalamnyasekalipun
amal shaleh tersebut biasalebih utama dari amal-amal shaleh lainnya yang
dikerjakan pada hari-hari lain, sekalipun amal shaleh tersebut utama. Selanjutnya
dalam kesempatan lain Ibnu Rajab mengatakan, Ini menunjukkan bahwa amal
shaleh biasa yang dilakukan pada waktu istimewa akan menyamai (pahala) amal
shaleh utama yang dikerjakan pada hari-hari biasa. Bahkan, dilebihkan dengan
dilipatgandakan pahala dan balasannya . Wallahu A`lam bi-shawab
Penulis bisa dihubungi melalui email: aepmesir6(ahoo.,om
Kami memohon sisipkan doa bagi kebaikan donatur, penulis serta beberapa pihak
03 0
Dalam surat al-Araf Allah menjelaskan, bahwa Dia menjanjikan waktu selama
empat puluh malam bertemu dengan Nabi Musa as, untuk menyampaikan ajaran
Islam yang akan dibawanya berupa kitab Taurat. Hal ini sebagaimana disebutkan
dalam firmanNya di bawah ini:

- -

- - -

- '

-- -

- ' '

- - -

- -

- - -

>

- _ ~ - '

- - -'
Artinya: Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah
berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan
sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya
empat puluh malam (QS. Al-Araf [7]: 142).

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa sebagian besar para ulama berpendapat,
maksud tiga puluh hari pertama adalah bulan Dzul Qadah. Sedangkan maksud
sepuluh hari lagi sebagai penutup adalah sepuluh hari pertama dari bulan
Dzulhijjah. Pendapat ini, menurut Ibnu Katsir, adalah pendapatnya Mujahid,
Masruq, Ibnu Juraij, juga Ibnu Abbas.

Dengan demikian, lanjut Ibnu Katsir, waktu bertemunya Nabi Musa as dengan Allah
berakhir tepat pada hari raya Idul Adha (tanggal 10 Dzul Hijjah) atau dalam sepuluh
hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan pada hari itu juga, Allah menyempurnakan
agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, sebagaimana firmanNya:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS. Al-
Maidah [5]: 3).Tidak semata-mata Allah memilih waktu-waktu tersebut. melainkan
karena hari-hari dimaksud merupakan hari-hari sangat istimewa dan sangat
dimuliakan.
Ketiga, sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang paling
dicintai oleh Allah untuk melakukan berbagai ibadah di dalamnya.
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:

J'

-~ --- = _-~ _

--'

Q' - -

-'

- )) :

J -

-' -

J ~

-'

' -

_ -

J -

-' ' -
- - _ - .(( '

-'

- :

J'

- -' )

-'

V )) :

= -

- -' - ~

- ='

= -

J =

! -' )

-'

V
- _

- ] (( '=--' -' [
Artinya: Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: Tidak ada amal ibadah yang
lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari
pertama dari bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya: Apakah sekalipun jihad di
jalan Allah?. Rasulullah saw menjawab: Sekalipun dari jihad. Kecuali seseorang
yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikit pun yang
pulang dari padanya (HR. Bukhari).

Lalu, apa amalan yang dapat dikerjakan di dalamnya? Tentunya apapun ibadah dan
amal shaleh yang dikerjakan di dalamnya, pahalanya sangat istimewa dan luar
biasa. Di antaranya adalah:
Pertama, berkurban bagi yang mampu. Rasulullah saw dalam hal ini bersabda:

J'

- -~ --- = _-~

J ~

- - _

- )) : -

- -

>

- _ ~ -

- '

- -
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: Siapa yang mempunyai
kelapangan rizki, namun ia tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat
shalat kami (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Waktu yang paling baik untuk memotong hewan kurban menurut seluruh ulama
empat madzhab adalah pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah selesai shalat Id.Selain
itu, bagi yang berniat untuk berkurban, tidak diperbolehkan baginya memotong
kuku, rambut, juga bulu-buluan yang ada pada tubuhnya sejak tanggal 01
Dzulhijjah, sampai hewan kurbannya itu dipotong.

Hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, isteri Ra-
sulullah saw berkata: Rasulullah saw bersabda: Siapa yang mempunyai hewan
untuk dikurbankan, maka apabila hilal bulan Dzulhijjah telah masuk (maksudnya
telah masuk tanggal 01 Dzhulhijjah), maka janganlah ia memotong rambut dan
kuku-kukunya sampai ia memotong hewan kurbannya itu (HR. Muslim).

Kedua, Berpuasa

Imam Nawawi dalam Syarahnya terhadap Shahih Muslim mengatakan: Puasa
pada Sembilan hari bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan (sunnah muakkakdah),
terutama tanggal sembilannya, yaitu pada hari Arafah. Hal ini karena banyak hadits-
hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan dari hari-hari dimaksud. Setelah
mengatakan demikian, Imam Nawawi lalu menukil hadits shahih riwayat Imam Buk-
hari yang menjelaskan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dimaksud.
Sedangkan sebuah hadits yang diriwayatkan sayyidah Aisyah yaitu ia berkata:
Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa pada sembilan hari pertama
bulan Dzulhijjah sedikit pun (HR. Muslim). Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits
tersebut dalam kitabnya al-Minhj, mengatakan: Hadits di atas termasuk hadits
yang dapat ditawil. Berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah bu-
kanlah sesuatu yang makruh, akan tetapi sunnah yang sangat ditekankan, terutama
tanggal sembilan Dzulhijjahnya, yaitu hari Arafah. Telah disebutkan hadits-hadits
yang menjelaskan keutamaannya. Bahkan dalam Shahih Bukhari juga disebutkan,
bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Tidak ada hari-hari di mana amal shaleh
yang dilakukan di dalamnya lebih utama, selain amal-amal shaleh yang dikerjakan
pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Hal tersebut diperkuat juga dengan hadits Hunaidah binti Khalid dari isteirnya, dari
sebagian isteri-isteri Rasulullah saw yang mengatakan bahwa Rasulullah saw
senantiasa berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, hari Asyura
(tanggal 10 Muharram), tiga hari setiap bulan, dan puasa hari Senin dan Kamis
setiap bulannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Ahmad dan Nasai.
Redaksi di atas berdasarkan riwayat Abu Daud.