I.

Yudhi Soenarto Universitas Indonesia

CATATAN SEORANG GAY BERSTEMPEL PKI
Cermin Merah
oleh N. Riantiarno Jakarta, Grasindo, 2004 426 halaman

Setidak-tidaknya ada dua alasan besar mengapa novel yang telah rampung ditulis tahun
1973 ini ditolak oleh penerbit. Yang pertama, stempel G30S/PKI yang mewarnai latar belakang Arsena, sang tokoh utama, dengan warna merah; dan kedua, penokohan Arsena sebagai lelaki homoseksual. Kondisi politik Indonesia di tahun 1970-an, tentu saja, tidak memungkinkan kisah tentang keluarga yang salah satu anggotanya dituduh sebagai anggota PKI untuk muncul ke permukaan. Meskipun hanya berkisah, hanya menyampaikan catatan-catatan fiktif, stempel PKI membuat novel ini berisiko terlalu tinggi untuk diterbitkan. Lebih parah lagi, tema yang menyangkut homoseksualitas boleh dibilang terlalu maju untuk era 1970-an. HIV/AIDS belum muncul, istilah gay belum popular, tapi novel ini sudah menceritakan pesta orgy eksklusif kaum homoseks di Jakarta di awal 1970-an. Itulah sebabnya N. Riantiarno harus menyimpan novel ini lebih dari tiga puluh tahun, sambil menunggu namanya menjadi merek dagang dan situasi politik berubah. Kondisi sekarang tentu sudah jauh berbeda, namun novel ini terlanjur menjadi potret berdebu yang lama disembunyikan. Membaca novel ini, pembaca seolah diajak untuk memasuki ruang berkabut yang remang-remang : kesadaran sang tokoh utama yang meloncat-loncat dari satu peristiwa

ke peristiwa lain. Ada fakta-fakta fiksi yang tidak sinkron, urutan kejadian yang bertabrakan dengan logika, catatan tahun-tahun yang tidak konsisten. Bukan karena keteledoran penulisnya, tapi karena pembaca sedang mengikuti jalan pikiran tokoh utama yang mengalami disorientasi identitas. Sejak awal, novel ini tidak menyajikan gambaran yang jelas. Selalu berkabut. Selalu remang-remang. Selalu misterius. Memasuki bab demi bab, pembaca seakan menyibak kabut untuk melihat lebih jelas dan mencocokkan potongan-potongan kejadian yang dibeberkan sedikit demi sedikit. Namun sampai akhir, suasana remang-remang tetap ada. Misteri tetap terjaga. Novel dibuka dengan seorang tokoh yang sedang sekarat dengan kenangankenangan yang saling berebut untuk muncul ke permukaan sehingga menjdai semrawut. Lalu muncul adegan percintaan sesama jenis yang dikisahkan sebagai kewajaran; lalu pindah ke stasiun kereta api, ketika sang tokoh pergi merantau dari kota asalnya ke Jakarta; lalu mundur ke belakang, saat ayahnya dijemput oleh tentara karena dituduh sebagai aktivis PKI. Maju lagi ke depan, mundur lagi ke belakang. Tergambar kenangan masa SMA, dengan sahabat yang lelaki tapi perempuan, alias banci. Mulai tertarik pada puisi dan berlatih teater. Pada titik ini, sang tokoh utama yang belum disebut namanya masih lelaki straight, meskipun telah menunjukkan kebingungan identitasnya dan melakukan petualangan seks dengan sahabatnya yang banci. Pembaca seperti ditantang untuk merangkai potongan-potongan kejadian menjadi satu dan memahami cara berpikir tokoh utama yang sering bertentangan dengan logika. Yang menarik adalah kecenderungan biografis dalam novel ini. Cukup jelas bahwa Riantiarno meramu kisah hidupnya dan identitas beberapa tokoh, termasuk dirinya sendiri, menjadi satu sebagai tokoh Arsena: seorang penulis muda, pemain teater, merantau ke Jakarta dan menjadi pekerja film, jatuh cinta pada seorang penari dan pemain teater perempuan, dan seterusnya. Dengan demikian, gambaran kehidupan yang tersaji dalam novel ini adalah gambaran yang dikenal baik oleh penulisnya. Pembaca pun seperti sedang berhadapan dengan seotang tokoh yang sedang berbagi pengalaman hidup, sebuah fiksi yang kemungkinan pada banyak bagian didasari fakta. Di samping itu, ketokohan Arsena pun hadir sebagai suatu alternatif identitas yang mungkin terjadi jika situasi dan kondisi yang mempengaruhi pembentukan karakternya seperti yang digambarkan.

Menjelang akhir cerita, kecenderungan skizofrenik tokoh Arsena mulai dilontarkan. Ia mulai kehilangan batas antara yang nyata dan yang tidak. Ia melihat Nancy, kekasihnya yang sudah mati memanggil-manggil dari balik cermin merah dan menuntut janji; Anto, sahabat di SMA yang mati kecelakaan; Herman, kakak yang dikagumi yang mati ketika naik gunung; dan ayahnya yang tidak pernah pulang sejak dijemput tentara. Disorientasi kepribadian, depresi, rasa bersalah, dan keputusasaan campur aduk jadi satu menjadi penjelasan bagi ketidakkonsistenan fakta dalam fiksi ini memberi alasan mengapa kita diperkenalkan dengan seorang tokoh yang mengiris urat nadinya sendiri dengan pisau cukur di hadapan cermin di kamar mandi. Sayangnya cerita tidak berakhir di sini. Pada bab terakhir, Riantiarno menghidupkan kembali tokoh Arsena yang sudah dibuat mati pada bab sebelumnya. Riantiarno belum mau mengakhiri cerita. Novel ini hanya bagian pertama dari trilogi Cermin-nya. Cermin Bening, bagian kedua, baru diluncurkan Agustus yang lalu dan bagian ketiga, Cermin Cinta, akan segera menyusul.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful