I.

METODOLOGI PERCOBAAN
1.1 Alat dan Bahan
1.1.1 Alat
a. Pipet tetes
b. Pipet ukur 5 ml
c. Pipet ukur 10 ml
d. Pengaduk
e. Labu kjeldahl
f. Gelas beker
g. Alat destruksi
h. Alat destilasi
i. Hot plate
j. Statif
k. Spektrofotometer UV-Vis
l. Batu didih
3.1.2 Bahan
a. kacang kedelai
b. asam sulfat
c. NaOH
d. Reagen Nesler
e. Aquadest
f. CuSO4
g. NaSO4
h. asam borat

1.2 Prosedur Percobaan
- Kacang kedelai 1,01 gram, CuSO4 1 gram, NaSO4 10 gram dicampur
dimasukkan ke dalam labu kjeldhal. Lakukan pengocokan.
- Tambahkan 25 mL H2SO4
- Panaskan hingga berwarna coklat jernih
- Dinginkan
- Tambahkan aquades hingga setengah leher labu
- Masukkan ke dalam labu bulat. Tambahkan NaOH sampai larutan berubah
warna menjadi coklat kehitaman
- Tambahkan aquades sampai 400 mL
- Tambahkan batu didih
- Destilasi larutan hingga dihasilkan larutan sebanyak 250 mL. Uap destilasi
ditampung dengan larutan asam borat 50 mL
- Ambil 5 mL hasil destilasi, encerkan dengan aquades gunakan labu nesler 25
mL
- Tambahka NaOH pekat 1 tetes
Tambahkan reagen nesler ke dalam campuran sebelumnya, dimana
sebelumnya telah dibuat reagen nesler dengan NaOH 1,65 gram + HgI2 1
gram. Tambahkan aquades 10 mL. Lakukan pengadukan. Tambahkan KI 0,7
gram. Diamkan selama 1 malam
- Diamkan selama 10 menit
- Lakukan pengukuran absorbansi dengan spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang maksimum 420 nm.

II. Data Pengamatan
Perlakuan Hasil
- Kacang kedelai 1,01 gram, CuSO4 1
gram, NaSO4 10 gram dicampur
dimasukkan ke dalam labu kjeldhal.
Dikocok. Penambahan H2SO4
- Pemanasan
- Pendinginan. Penambahan aquades

- Penambahan NaOH. Penambahan
aquades
- Penambahan batu didih. Destilasi.

- Hasil destilasi ditambahkan NaOH
pekat dan reagen nesler

- Pendiaman 10 menit

- Lakukan pengukuran absorbansi
dengan spektrofotometer UV-Vis
Larutan berwarna pekat



Larutan mulai agak jernih
Larutan menjadi berwarna lebih jernih
lagi
Larutan coklat kehitaman

Uap ditampung hingga asam borat
mencapai 250 mL
Larutan berwarna orange kecoklatan




A1 =
A2 =
= 420 nm

III. Hipotesis
percobaan yang berjudul “ Penetuan Kadar Protein dalam kacang Hijau”
bertujuan untuk menentukan berapa kadar protein yang terdapat dalam 1 gram
kacang kedelai. Prinsip yang digunakan pada percobaan ini adalah sampling pada
kacang kedelai yang akan di tentukan kadar N sebagai protein. Sedangkan
metode yang digunakan adalah metode kjeldahl yang terdiri dari destruksi basah
dan destilasi, destruksi basah yaitu penghancuran dengan memanaskan sampel
dan dengan penambahan asam sulfat kedalamnya. Sedangkan destilasi adalah
pemisahan suatu sampel berdasarkan kemampuan menguapnya dengan perbedaan
titik didih dari suatu larutan. Didapatkan persentase kandungan protein yang
terdapat dalam kacang kedelai sesuai dengan literatur, sekitar 20-25 %.

IV. Pembahasan
Analisa kandungan protein dalam kacang kedelai dilakukan dengan
menggunakan metode kjeldahl. Metode ini merupakan metode yang sederhana
untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang
mengandung nitrogen. Kandungan protein dianalisis dengan cara menganalisis
kadar nitogennya. Langkah kerjanya yaitu terdiri dari 3 tahap:
1. Tahap destruksi
Tahap ini merupakan tahap awal dalam analisis kandungan protein.
Langkah pertama yaitu timbang 1,01 gram sampel kacang kedelai yang sudah
dihilangkan kulit arinya. Kemudian masukkan kedalam labu kjeldahl.
Tambahkan kedalam labu 1 gram CuSO
4
, 10 gram Na
2
SO
4
dan 25 mL H
2
SO
4
pekat. Selanjutnya, panaskan sampai larutan berubah warna menjadi coklat
jernih. Campuran CuSO
4
dan Na
2
SO
4
merupakan katalisator untuk
mempercepat proses destruksi, sedangkan H
2
SO
4
pekat

merupakan pelarut
asam yang akan mendestruksi sampel menjadi unsur unsurnya. Dengan
penambahan katalisator tersebut, titk didih asam sulfat akan naik sehingga
destruksi berjalan lebih cepat. Pada tahap ini, elemen karbon dan hidrogen
akan teroksidasi menjadi CO, CO
2,
dan H
2
O. Sedangkan nitrogennya (N) akan
berubah menjadi (NH
4
)
2
SO
4
. Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah:

C
NH
2
H
R COOH H
2
SO
4 NH
3
CO
2
H
2
O
Na
2
SO
4
CuSO
4

Asam amino

NH
3
H
2
SO
4 NH
4 2
SO
4

Hasil destruksi

Untuk mengantisipasi adanya asap yang terhirup, digunakan kipas
angin agar asap hasil destruksi keluar melalui jendela yang dibiarkan terbuka.
Setelah larutan berubah warna dari hitam menjadi hijau jernih, pemanasan
dihentikan. Kemudian diamkan beberapa saat agar asap yang dihasilkan benar-
benar telah hilang, lalu dinginkan dengan cara direndam dalam penangas yang
berisi air dingin. Setelah itu, tambahkan aquades sampai setengah leher labu
kjeldahl. Pendinginan bertujuan agar ketika penambahan aquades, labu tidak
pecah yang disebabkan karena suhu didalam labu sangat tinggi. Sedangkan
penambahan aquades dilakukan untuk mengencerkan larutan agar
konsentrasinya tidak terlalu besar. Lalu, diamkan minimal selama 1 malam.



2. Tahap destilasi
Pada tahap ini, larutan hasil destruksi yang telah didiamkan selama 3
malam, kemudian dibasakan dengan menggunakan larutan NaOH sampai
berubah warna dari hijau jernih menjadi coklat. Tujuan dari penambahan
NaOH yaitu untuk memecah (NH
4
)
2
SO
4
menjadi NH
3
. Setelah itu, masukkan
larutan kedalam labu alas bulat yang berisi batu didih. Tambahkan aquades
kurang lebih sebanyak 400 mL, lalu pasang labu alas bulat pada seperangkat
alat destilasi dan panaskan. Penggunaan batu didih bertujuan agar selama
destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya
gelembung gas yang besar. Pada proses ini, terjadi pembebasan ammonia atau
disebut destilat. Destilat ditampung dalam erlenmeyer yang berisi asam borat
sebanyak 50 mL dan ujung destilator dipastikan masuk kedalam larutan asam
borat. Hal ini bertujuan agar kontak antara ammonia dengan asam borat lebih
baik dan jumlah ammonia yang ditangkap oleh asam borat akan lebih banyak.
Proses ini dihentikan sampai destilat yang diperoleh kurang lebih 200 mL.
Reaksi yang terjadi pada tahap ini adalah:

2
SO
4 NaOH
NH
4
NH
3
H
2
O Na
2
SO
4


NH
3
HCl NH
4
Cl






3. Pengukuran Absorbansi
Penentuan kadar nitrogen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
dengan titrasi dan pengukuran absorbansi. Pengukuran absorbansi dengan
spektrometer UV-Vis lebih efisien karena waktu yang relatif cepat dan lebih
akurat. Pada percobaan ini hasil destilasi direaksikan dengan aquadest 25 ml
mealui metode pengenceran agar konsentrasi lebih kecil sehingga dapat
terbaca oleh spektrometer. Larutan direaksikan dengan 1 tetes NaOH pekat,
dan reagen nessler, dimana reagen nessler ini telah dibuat sebelumnya dari
campuran NaOH 1,65 gram +HgI
2
1 gram+ aquadest 10 ml lalu diaduk dan
ditambahkan KI 0,7 gram dan pendiaman selama 1 malam. Larutan didiamkan
selama 10 menit kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang
maksimum 420 nm. Hasil yang diperoleh adalah besar absorbansinya adalah
0,452 dan 0,455. Dari hasil ini dapat di peroleh kadar protein melalui
penentuan kadar nitrogennya.












LAMPIRAN
Gambar

1. Kacang hijau dikupas kuliatnya 2. Di destruksi selama 2 jam


1. Hasil destruksi berwarna hijau jernih 4. Didiamkan selama 1 malam

1. Di destilasi selama 2 jam 6. Pengukuran absorbansi pada panjang
gelombang maksimum 420 nm.