You are on page 1of 12

Tiga unsur Penting (Sanad, matan, dan Mukarij) Hadits

Home » Hadits » Tiga unsur Penting (Sanad, matan, dan Mukarij) Hadits
sebuah teks dikatakan hadits apabila mempenuhi beberapa kriteria, adapun kriteria hadits
tersebut harus memiliki 3 (tiga) unsur penting. unsur penting tersebut adalah sanad, matan,
dan mukharij hadits. tanpa ketiga unsur tersebut sebuah teks tidak bisa dikatakan lagi sebagai
hadits
Unsur-unsur Hadis
-
S dalamnya. Tanpa unsur-
unsur tersebut, maka sta
S


Matan secara bahasa adalah penguat atau teks. Secara istilah adalah
-

redaksion
Sanad


-S -
menghubungkan


„ -Khatib mendefinisikan sanad se



Sa -
-S
- hadis sampai kepada orang yang mengucapkan
had

S „
Dari ketig

S berarti menyandarkan. Adapun secara terminologi is



Dalam ilmu hadis terdapat beberapa ka

S
saw. Dalam
hal ini sanad mempunyai tiga arti; (1) hadis yang l

- S -
Musnid, yang artinya orang yang meriwayatkan hadis dari



Mukharrij
dengan al-Muhdith
yang artinya orang yang m
-
- sedang bergelut dengan hadis dapat
digolongkan menjadi beber
-T
-

al-Hafizh adalah orang yang hafal 100.
-
- -
-
-

Menur S - S„ - -

mendalam para rawi yang semasa dan populer
S
U

S

PENGERTIAN HADITS DAN UNSUR-UNSURNYA....
A. Pendahuluan
Hadits adalah sesuatu yang datang dari Rasululllah baik perkataan, perbuatan, ataupun
taqrirnya. Hadits mempunyai beberapa sinonim yang menurut ulama’ hadits tidak ada perbedaan
antara hadits dan sinonimnya. Tetapi lain halnya dengan ulama fikih dan ushul fikh yang memandang
bahwasanya hadits dan sinonimnya mempunyai perbedaan. Hadits juga mempunya beberapa unsur
yaitu sanad, matan, dan rawi.
B. Pengertian Hadits
Secara etimologis hadits berarti baru, perkataan, cerita atau berita.[1] Sedangkan Dari segi
terminologi, banyak ahli hadits (muhadditsin) memberikan definisi yang berbeda redaksi tetapi
maknanya sama di antaranya Mahmud Ath-Thahan (guru besar Hadits di Fakultas Syari’ah dan
Dirosah Islamiah di Universitas Kuwait) mendefinisikan: hadits adalah sesuatu yang datang dari Nabi
SAW baik berupa perkataan atau perbuatan dan atau persetujuan.[2]
Dalam beberapa buku para ulama berbeda dalam mengungkapkan datangnya Hadits tersebut, di
antara ada yang seperti di atas ”sesuatau yang datang” ada juga yang menggunakan beberapa
redaksi seperti: sesuatu yang disandarkan, sesuatu yang dibangsakan, dan sesuatu yang
diriwayatkan. Keempat redaksi ini dimaksudkan sama maknanya, yakni sesuatu yang datang atau
sesuatu yang bersumberkan dari Nabi atau disandarkan kepada Nabi. Dari definisi di atas dapat
dikatakan bahwa Hadits merupakan sumber berita yang datang dari Nabi dalam segala bentuk baik
berupa perkataan, perbuatan, maupun sikap persetujuan.[3] Definisi di atas memberikan
kesimpulan, bahwa Hadits mempunyai tiga macam yakni:
1. Hadits Qawliyah yaitu Hadits Nabi yang hanya berupa perkataannya saja baik dalam bentuk
pernyataan, anjuran, perintah cegahan maupun larangan. Yang disebut pernyataan Nabi disini
adalah sabda Nabi dalam merespon keadaan yang berlaku pada masa lalu, masa kininya dan masa
depannya, kadang-kadang dalam bentuk dialog dengan para sahabat atau jawaban atas pertanyaan
yang diajukan oleh sahabat atau bentuk-bentuk lain seperti khutbah.[4]
2. Hadits Fi’liyah yaitu Hadits Nabi yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para sahabat
mengenai soal-soal ibadah dan lain-lain seperti melaksanakan haji, manasik haji dan lain-lain.[5]
3. Hadits Taqririyah, yaitu Hadits Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para sahabat
yang diketahui Nabi tidak menegurnya atau melarangnya bahkan Nabi cenderung
mendiamkannya.[6]
C. Sinonim Hadits Dan Pengertiannya
Adapun sinonim dari Hadits adalah: As-Sunah, Al-Khabar, dan Al-Atsar dengan pengertian
sebagai berikut:
1. As-Sunah
Sunah menurut bahasa berarti jalan yang ditempuh, adat istiadat, suatu kebiasaan, dan cara yang
diadakan.[7] Makna sunah yang lain adalah tradisi yang kontinu (berkelanjutan).[8] Sedangkan sunah
menurut istilah terdapat beberapa perbedaan di kalangan ulama’, diantaranya adalah sebagai
berikut:
a. Menurut ulama’ ahli Hadits (muhadditsin), sunah sama dengan hadits. Diantara ulama ada yang
mendefinisikan dengan ungkapan yang singkat yaitu segala perkataan Nabi, perbuatannya dan
segala tingkah lakunya.[9]
b. Menurut ulama’ Ushul Fikih adalah sesuatu yang yang diriwayatkan dari Nabi baik yang bukan
berupa Al-Quran yang berupa segala perkataan, perbuatan, dan pengakuan yang patut dijadikan
dalil hukum syara’.[10]
Sunah menurut ulama ushul fikih hanya perbuatan yang dapat dijadikan dasar hukum Islam. Jika
suatu perbuatan Nabi tidak dijadikan dasar hukum seperti makan, minum, tidur dan lain-lain maka
pekerjaan biasa sehari-hari tersebut tidak dikatakan sunah.
c. Menurut ulama Fikih adalah sesuatu ketetapan yang datang dari Rasulullah dan tidak termasuk
kategori fardhu dan wajib, maka sunah menurut mereka adalah sifat syara’ yang menuntut
pekerjaan tapi tidak wajib dan tidak disisksa bagi yang meninggalkan.[11]
Menurut ulama Fikih, sunah dilihat dari segi hukum sesuatu yang datang dari Nabi tetapi hukumnya
tidak wajib, diberi pahala bagi yang megerjakannya dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya.
Contohnya: shalat sunah, puasa sunah, dan lain-lain.
2. Al-Atsar
Atsar menurut bahasa adalah bekas sesuatu. Al-Zarkasyi mengartikan Al-Atsar sebagai sesuatu
yang disandarkan kepada sahabat semata. Dengan demikian atsar tidak mempunyai hubungan
langsung ataupun tidak langsung dengan Nabi.[12] Menurut istilah ada dua pendapat, pertama,
atsar adalah sinonim dari hadits. Kedua, atsar adalah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat
dan tabi’in baik perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama’ mendefinisikan: sesuatu yang
datang dari selain Nabi yaitu dari para sahabat, tabi’in dan atau orang-orang setelahnya.[13]
3. Al-Khabar
Menurut bahasa khabar adalah berita, pemberitahuan, laporan, ha mengenai peristiwa, kejadian,
dan keadaan.[14] Sedangkan dari segi istilah khabar berarti sesuatu yang disandarkan kepada Nabi,
sahabat dan tabi’in.[15] dengan demikian sumber atau sandaran dari Al-Khabar dapat dari bebagai
macam atau beberapa orang termasuk Nabi, seperti sahabat dan tabi’in.
Mayoritas ulama melihat Hadits lebih khusus yang datang dari Nabi, sedang khabar sesuatu yang
datang darinya dan dari yang lain, termasuk berita umat terdahulu, para Nabi, dan lain-lain. Misalnya
Nabi Isa berkata:…, Nabi Ibrahim berkata:… dan lain-lain, termasuk khabar bukan hadits.
D. Perbedaan Hadits dengan sinonimnya
Ulama’hadits menyatakan bahwasanya hadits, sunah, atsar dan khabar adalah berarti sama dan
mereka tidak memandang ada perbedaan antara hadits dan sinonimnya sedangkan Ulama Fikih dan
Ulama Ushul Fikih memandang bahwa hadits dan sinonimnya mempunyai beberapa perbedaan
antara lain:
1. hadits sandarannya Nabi, aspek dan spesifikasinya meliputi perkataan, perbuatan dan persetujuan
dan sifatnya khusus sekalipun dilakukan Cuma satu kali;
2. sunah sandarannya Nabi dan sahabat, aspek dan spesifikasinya hanya pada perbuatan saja dan
sifatnya menjadi tradisi;
3. khabar sandaranya Nabi dan selainnya, aspek dan spesifikasinya meliputi perkataan dan oerbuatan
dan bersifat lebih umum; dan
4. atsar sandarannya sahabat dan abi’in, aspek dan spesifikasinya meliputi perkataan dan perbuatan
dan bersifat umum.
E. Unsur-Unsur Hadits
Adapun unsur-unsur hadits adalah sebagai berikut:
1. Sanad
Menurut bahasa sanad adalah sandaran, hubungan atau rangkaian perkara yang dapat dipercaya,
dan rentetan rawi hadits sampai pada Nabi Muhammad.[16] Sedangkan menurut istilah adalah mata
rantai para perawi hadits yang menghubungkan sampai kepada perawi hadits.[17]

2. Matan
Kata matan menurut bahasa berarti keras, kuat, sesuatu yang nampak dan yang asli. Dalam
perkembangan karya tulis ada matan dan ada syarah. Matan di sini diartikan karya atau karangan
asal seseorang yang pada umumnya menggunakan bahasa yang universal, padat, dan singkat.
Sedangkan syarahnya dimaksudkan penjelasan yang lebih terurai dan terperinci. Menurut istilah
matan adalah sesuatu kalimat setelah berakhirnya sanad. Definisi lain menyebutkan matan adalah
beberapa lafal hadits yang membentuk beberapa makna.[18]
Berbagai redaksi definisi matan yang diberikan ulama’, tetapi intinya sma yaitu materi atau berita
hadits itu sendiri yang datang dari Nabi. Matan hadits ini sangat penting karena yang menjadi topik
kajian dan kandungan syariat Islam untuk dijadikan petunjuk dalam beragama.
Contoh:
َ ق
ُ
ل
ُ
خ
ْ
مُ ه
ُ
ن ْ سَ م
ْ
ل
َ
ا ا
ً
نا َ مْ يِ ا َ نْ يِ ن ِ م ْ ؤُ م
ْ
لا ُ لَ م
ْ
ك
َ
ا
3. Rawi
Kata rawi dalam bahasa Arab berasal dari kata riwayah yang berarti memindahkan dan
menukilkan. Yakni memindahkan atau menukilkan suatu berita dari seseorang kepada orang lain.
Dalam istilah Ar-rawi adalah orang yang meriwayatkan atau orang yang menyampaikan periwayatan
hadits dari seorang guru kepada orang lain yang terhimpun kedalam buku hadits.[19] Untuk
menyatakan perawi hadits dikatakan dengan kata “hadits diriwayatkan oleh”.
Sebenarnya antara sanad dan rawi merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan karena
sanad hadits pada setiap generasi terdiri dari perawi. Mereka adalah orang-orang yang menerima
dan meriwayatkan atau memindahkan hadits dari seorang guru kepada muridnya atau teman-
temannya.
F. Kesimpulan
Ringkasnya pengertian Hadits adalah Sesuatu yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW. baik
itu perbuatan, perkataan, ataupun persetujuan Nabi. Sedangkan ada beberapa istilah yang
merupakan sinonim dari Hadits yaitu ; As-Sunnah, Atsar, dan Al-Khabar, yang penjelasannya telah
disebutkan di depan.
Adapun unsur-unsur penyusun Hadits ada tiga yaitu ; Sanad, Matan, Rawi, dan
penjelasannyapun juga telah disebutkan diatas, yang ringkasnya Sanad adalah orang yang
meriwayatkan hadits yang sampai pada Rasululah SAW. sedangkan Matan adalah isi hadits atau
dengan bahasa lain bisa disebut dengan Dawuhnya Rasulullah yang telah diriwayatkan oleh
beberapa sanad (orang), dan adapun Rawi adalah orang yang terakhir dalam periwayatan Hadits dan
menulisnya sehingga sampai kepada kita.


DAFTAR PUSTAKA
Khon, Abdul Majid. Ulumul Hadits, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Ramdani, Sofiah, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Karya Agung, tt.
Tim Studi Islam IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam, Surabaya: Sunan Ampel Pers, 2010.



[1] Tim Studi Islam IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam (Surabaya: Sunan Ampel Pers, 2010), 50.
[2] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 2.
[3] Ibid, 3.
[4]Tim IAIN, PSI, 52.
[5] Ibid.
[6] Ibid, 53
[7] Ibid, 50.
[8] Majid, Hadits, 5.
[9] Ibid, 6.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Tim IAIN, PSI, 51.
[13] Majid, Hadits, 10.
[14] Sofiah Ramdani, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: Karya Agung, tt)
[15] Tim IAIN, PSI, 51.
[16] Ramdani, kamus, 489.
[17] Majid, Hadits, 97.
[18] Ibid, 103.
[19] Ibid, 105.
Diposkan oleh EL- IZZAH di 23.05
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest


BAB II
PEMBAHASAN

A. Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an
Al-q‟
antara satu dengan yang lainnya. Keduanya merupakan satu kesatuan. Al-q‟
sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global.
Oleh karena itu kehadiran hadits, sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan
(bayan) keumuman isi al-q‟
Hal tersebut sesuai dengan firman Alloh SWT:
نوركفتي مهلعلو مهيلإ لزنام نيبتل ركذلا كيلإ انلزن
ً
او
Artinya:
“ -Q‟
” QS -Nahl(16):44)
Alloh SWT menurunkan Al-Q‟ -Q‟
dipahami oleh manusia , maka Rosul SAW di perintahkan untuk menjelaskan kandungan dan
cara-cara melaksanakan ajarannya kepada mereka melalui hadits-haditsnya. seperti contoh
Al-q‟
menyebutkan bilangan rakaatnya, maupun cara-caranya dan syarat rukunnya.
Lebih dari itu , ada beberapa kejadian atau peristiwa yang tidak di jelaskan hukumnya
oleh nas-nas l-q‟ SW
yang telah di akui sebagai Rosululloh untuk menyampaikan syariat kepada manusia. Oleh
karena itu, hadits Nabi SAW. merupakan penafsiran ajaran islam secara factual dan ideal, dan
berkedudukan sebagai sumber hukum kedua setelah al-q‟
Alloh berfirman:
اوهتناف هنع مكاهنامو هوذخف لوسرلا مكا
َ
تأ ا َ م َ و
“ R
R ” QS , Al- Hasyr. 7)
Oleh karena itu, fungsi hadits Rosul sebagai penjelas (bayan) Al-Q‟ -
macam.
Berikut pembahasannya satu-persatu :
1. Bayan at-Taqrir
Di sebut juga dengan bayan at-‟ -itsbat Yang dimaksud dengan bayan ini
ialah menetapkan dan memperkuat apa yang telah di terangkan di dalam Al-Q‟
hadits dalam hal ini hanya memperkokoh isi kandungan Al-Q‟
Suatu contoh hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Umar, yang berbunyi;
( ل لهلا متيأر اذإف ملسم هاور( اورطفأف هومتيأر اذإو اوموصف
” ‟ ‟
” R
Hadits ini men taqrir ayat Al-Q‟ ;
همصيلف ره
ّ
شلا مكنم دهش نمف
Maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa... (QS.
AL-Baqarah(2): 185)[16]
2. Bayan al-Tafsir
Adalah kehadiran hadits yang berfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadap
ayat-ayat Al-qur-an yang masih bersifat global (mujmal) , memberikan persyaratan /batasan
ayat-ayat Al-q‟ -ayat Al-q‟
yang masih bersifat umum.
Ayat-ayat Al-q‟
mengerjakan, syarat-syarat, sebb-sebabnya, atau halangan-halangannya. Oleh karena itu,
Rasululloh SAW, melalui haditsnya menafsirkan dan menjelaskan masalah-masalah tersebut.
berikut contoh haditsnya;
(ىراخبلا هاور( ي
ّ
لصأ ينومتيأر امك او
ّ
لص
„S ” R
Hadits menjelaskan bagaimana mendirikan sholat . Sebab dalam Al-q‟
secara rinci. salah satu ayat yang memerintahkan sholat adalah:
نيعكا ّ رلا عم وعكراو ةاك
ّ
زلا وتاو ةلّ صلااوميقأو
“Dan ‟ - ‟
(QS.Al-Baqarah (2): 43)
Sedangkan contoh hadits yang membatasi ayat-ayat Al-q‟
ا ىلص ا لوسر يتوأ ّ فهكلا لصفم نم هدي عطقف قراسب م
ّ
لسو هيلع
Rasululloh SAW. di datangi seseorang dengan membawa pencuri , maka beliau memotong

Hadits tersebut men-taqyid/ membatasi QS. Al-Maidah (5) : 38 yang berbunyi:
سلاو قراسلاو ميكح زيزع او ا نم لاكن ابسك امب ءازج امهيديأ اوعطق اف ةقرا
“-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagian) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan siksa dari Alloh.
3. Bayan Tasyri’
Yang di ‟ -
ajaran yang tidak di dapati dalam Al-Q‟ -pokoknya saja. Hadits-
hadits Rasululloh yang termasuk dalam kelompok ini di antaranya hadits tentang penetapan
haramnya mengumpulkan dua orang wanita bersaudara , hukum merajam pezina wanita yang
masih perawan, dan hukum tentang hak waris bagi seorang anak

B. Macam-macam Hadits
Ditinjau dari segi nilai sanad, hadits dikelompokkan dalam tiga macam, shohih,
hasan, dan dhoif.

1. Hadits Shohih,
yaitu hadits yang cukup sanadnya dari awal sampai akhir dan oleh orang-orang yang
sempurna hafalannya. Syarat hadits shohih adalah:
a. Sanadnya bersambung;
b. Perawinya adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga kehormatan
dirinya (muruah);
c. Dhobit, yakni memiliki ingatan dan hafalan yang sempurna serta mampu menyampaikan
hafalan itu kapan saja dikehendaki; dan
d. Hadits yang diriwayatkannya tidak bertentangan dengan hadits mutawatir atau dengan ayat
al-Qur`an.
Hadits shohih dibagi dua:
a. Shohih Lizatihi, yakni hadits yang shohih dengan sendirinya tanpa diperkuat dengan
keterangan lainnya. Contohnya adalah sabda Nabi Muhammad saw., ``Tangan di atas (yang
memberi) lebih baik dari tangan di baivah (yang menerima). `` (HR. Bukhori dan Muslim)
b. Shohih Lighoirihi, yakni hadits yang keshohihannya diperkuat dengan keterangan lainnya.
Contohnya sabda Nabi Muhammad saw., ``Kalau sekiranya tidak terlalu menyusahkan
umatku untuk mengerjakannya, maka aku perintahkan bersiwak (gosok gigi) setiap akan
sholat.`` (HR. Hasan)
Dilihat dari sanadnya, semata-mata hadits Hasan Lizatihi, namun karena dikuatkan dengan
riwayat Bukhori, maka jadilah ia shohih lighoirihi.
2. Hadits Hasan,
adalah hadits yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil, namun tidak
sempurna hafalannya. Hadits hasan dibagi dua:
a. Hasan Lizatihi, yakni hadits yang dengan sendirinya dikatakan hasan. Hadits ini ada yang
sampai ke tingkat lighoirihi;
b. Hasan Lighoirihi, yakni hadits yang derajat hasannya dibantu dengan keterangan lainnya.
Contohnya sabda Nabi Muhammad saw., ``Sembelihan bagi bayi hezvan yang berada dalam
perut ibunya, cukuplah dengan sembelihan ibunya saja.`` (HR. Tirmidzi, Hakim, dan Darimi)
Hadits di atas jika kita ambil sanad dari Imam Darimi, adalah Darimi menerima dari
1) Ishak bin Ibrohim, dari 2) Itab bin Bashir, dari 3) Ubaidillah bin Abu Ziyad, dari 4) Abu
Zubair, dari 5) Jabir, dari Nabi Muhammad saw. Nama yang tercela dalam sanad di atas
adalah nomor 3 (Ubaidillah bin Abu Ziyad). Sebab menurut Abu Yatim ia bukanlah seorang
yang kuat hafalannya dan tidak teguh pendiriannya.:
3. Hadits Dhoif (lemah)
adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih dan hasan. Contohnya, ``Barangsiapa
berkata kepada orang miskin: `bergembiralah`, maka luajib baginya surga``. (HR. Ibnu A`di)
Di antara perawi hadits tersebut ialah Abdul Mali bin Harun. Menurut Imam Yahya, ia
seorang pendusta. Sedangkan Ibnu Hiban memvonisnya sebagai pemalsu hadits.
Dari segi keterputusan sanad, hadits dhoif terbagi menjadi lima macam:
a. hadits mursal, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tabi`in dengan menyebutkan ia
menerimanya langsung dari Nabi Muhammad saw., padahal tabi`in (generasi setelah sahabat)
tidaklah mungkin bertemu dengan nabi.
b. Hadits munqothi` yaitu hadits yang salah seorang rawinya gugur (tidak disebutkan namanya)
tidak saja pada sahabat, namun bisa terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir;
c. Hadits al-mu`adhdhol, yaitu hadits yang dua orang atau lebih dari perawinya setelah sahabat
secara berurutan tidak disebutkan dalam rangkaian sanad;
d. Hadits mudallas, yaitu hadits yang rawinya meriwayatkan hadits tersebut dari orang yang
sezaman dengannya, tetapi tidak menerimanya secara langsung dari yang bersangkutan;
e. Hadits mu`allal, yaitu hadits yang kelihatannya selamat, tetapi sesungguhnya memiliki cacat
yang tersembunyi, baik pada sanad maupun pada matannya.
Ditinjau dari segi lain-lainnya, hadits dhoif terbagi dalam enam macam:
a. hadits mudhthorib, yaitu hadits yang kemampuan ingatan dan pemahaman periwayatnya
kurang;
b. hadits maqluub, yaitu hadits yang terjadi pembalikan di dalamnya, baik pada sanad, nama
periwayat, maupun matannya;
c. hadits mudho`af, yaitu hadits yang lemah matan dan sanadnya sehingga diperselisihkan oleh
para `ulama. Contohnya, ``asal segala penyakit adalah dingin.`` (HR. Anas dengan sanad
yang lemah)
d. hadits syaaz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang shiqoh,namun
menyalahi riwayat orang banyak yang shiqoh juga;
e. hadits mungkar, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang lemah dan riwayatnya
berbeda dengan riwayat yang shiqoh;
f. hadits matruuk, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seseorang yang dituduh suka berdusta,
nyata kefasikannya, ragu dalam periwayatan, atau pelupa.