You are on page 1of 25

PENGENDALIAN GULMA PADA

TANAMAN PADI
1. PENDAHULUAN
ulma merupakan tumbuhan pengganggu yang dapat menurunkan hasil
padi bila tidak dikendalikan secara efektif. Di negara yang padat
penduduk dan upah tenaga kerja relatif murah, pengendalian gulma
biasanya dilakukan secara manual (penyiangan dengan tangan) dan pengaturan
air. Saat ini penyiangan dengan tangan sudah mulai ditinggalkan dengan adanya
keterbatasan tenaga kerja. Perkembangan selanjutnya, gulma dikendalikan
dengan alat sederhana seperti kored dan landok, lalu secara mekanis,
menggunakan alat mesin. Teknologi pengendalian gulma berkembang semakin
maju dengan dikembangkannya bahan kimia yang disebut “herbisida.
Penggunaan bahan kimia tersebut dinilai jauh lebih efisien, murah dan cepat
karena hemat tenaga kerja.
De Datta dan !erdt ("#$%) melaporkan bah&a di daerah pertanian di
mana tenaga kerja mahal dan pengendalian air irigasi baik seperi di 'epang,
(orea dan Tai&an, sekitar )*+",,- petani sudah menggunakan herbisida.
Perkembangan terakhir menunjukan bah&a pengendalian gulma dengan
herbisida yang dikombinasikan dengan kultur teknik (metode pengendalian
gulma tidak langsung) terbukti lebih efektif dari penyiangan dengan tangan saja
(.hisaka, "##*).
2. KERUGIAN OLEH GULMA
/ulma merupakan salah satu faktor biotik yang menyebabkan
kehilangan hasil panen. /ulma menyaingi tanaman dalam pengambilan unsur
hara, air, ruang dan cahaya. Di lahan irigasi, persaingan gulma dengan padi
dapat menurunkan hasil padi ",+0,-, tergantung pada spesies dan kepadatan
gulma, jenis tanah, pasokan air dan keadaan iklim (1antasomsaran dan 2oody,
"##%). Pada tingkat pengelolaan petani, kehilangan hasil padi akibat persaingan
dengan gulma berkisar antara ",+"*- (1yarko dan De Datta, "##"3 4alta5ar
dan De Datta, "##6) sementara di (ara&ang tingkat kehilangan hasil tersebut
sebesar $+"6- (Pane et al., 6,,6). 7ni menandakan bah&a penyiangan yang
dilakukan petani belum tuntas, karena se&aktu penyiangan, petani sukar
/
membedakan antara bibit padi dengan gulma, yang sangat mirip padi seperti
gulma jajagoan (Echinochloa cr!"#alli) dan jampang pi8it leutik
(Le$tochloa
chinen!i!)3
2enurut 9orld 4ank ("##:) pada tahun "##*, gulma menyebabkan
kehilangan hasil panen padi di ;sia *, juta ton, dengan nilai lebih dari <S=",
milliar. Sedangkan menurut >u Pu >hang dalam ?abrada (6,,%), kompetitif
gulma di .ina menyebabkan kehilangan produksi padi sebesar ", juta ton setiap
tahun.
2adrid ("#))) dan /upta ("#$0) mengatakan bah&a dalam sistem
produksi padi, gulma merugikan petani melalui@ (") peranannya sebagai
tumbuhan inang hama dan penyakit tanaman. Tumbuhan inang &ereng coklat
(Nila$ar%ata l#en!) dan kerdil rumpun (#ra!!& !tnt) ialah '&$er!
iria ?.
(dekeng)( Di#itaria ad!cenden! !enr. (jalamparan)( Echinochloa cr!"#alli
(?.)
4eauA. (jajagoan), Ele!ine indica (?.) /aertn. (lulangan)( Leer!ia he)andra
S&.
(benta). Spesies '&nodon dact&lon (?.) Pers. (grintingan) merupakan tumbuhan
inang hama ganjur padi, (6) penyumbatan saluran irigasi sehingga pengelolaan
air tidak efisien, misalnya Eichornia cra!!i$e! (2art.) Solms. (eceng gondok)3
(%) mengurangi kualitas hasil panen3 (0) bersaing dengan tanaman untuk
mendapatkan cahaya, air, hara dan kebutuhan pertumbuhan lainnya3 (*)
mengganggu kelancaran pekerjaan petani, misalnya gulma berduri seperti
A*aranth! !$ino!! ?. (bayam duri)( Mi*o!a in%i!a (?.) (sikejut)3
dan (:) menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen.
(ehilangan hasil oleh persaingan gulma adalah sekitar %0- pada padi
tanam pindah, 0*- pada padi “tabela (tanam benih langsung) di lahan sa&ah
irigasi dan tadah hujan, dan :)- pada padi gogo (De Datta, "#$").
Tingkat persaingan tergantung pada curah hujan, Aarietas, kondisi
tanah, kerapatan gulma, lamanya tanaman dan gulma bersaing, umur
tanaman saat gulma mulai bersaing. Bleh sebab itu secara ekonomi gulma
sangat merugikan usaha pertanian karena di antara komponen produksi, biaya
untuk pengendalian gulma cukup besar, sering lebih mahal dari biaya
pengendalian hama dan penyakit (/upta, "#$0). Tanpa program pengendalian
gulma yang baik petani mustahil memperoleh hasil panen yang tinggi dan
menguntungkan (2oody, "##,).
+. PERIODE KRITI, PER,AINGAN GULMA
Setiap jenis bahkan setiap Aarietas tanaman mempunyai periode kritis
yang berbeda dalam persaingannya dengan gulma. 2enurut 9oolley et al.
("##%) bah&a a&al periode kritis persaingan gulma dapat ditentukan
berdasarkan fase pertumbuhan tanaman yaitu pada saat tingkat kerugian hasil
akibat “persaingan dengan gulma sebesar *-. ;khir periode kritis persaingan
ditandai oleh batas lamanya tanaman “bebas dari persaingan gulma untuk
mencegah penurunan hasil sebesar *-. <mumnya periode kritis persaingan
gulma dimulai sejak tanam tumbuh sampai sekitar "C0+"C% pertama dari siklus
hidup tanaman. Pada padi misalnya, periode kritis persaingan gulma umumnya
terjadi sampai umur 0, hari pertama dari siklus hidupnya. Pada fase ini kanopi
tanaman padi belum menutup, intensitas cahaya ke permukaan tanah masih
tinggi karena kanopi masih terbuka. 4iji+biji gulma berkecambah dan tumbuh
lebih cepat dari tanaman padi. Pertumbuhan gulma setelah periode tersebut,
biasanya tidak menyebabkan tingkat persaingan dan penurunan hasil yang nyata.
2enurut 1yarko dan De Datta ("##") gulma jajagoan sangat peka naungan.
(alau tanaman padi ditanam lebih rapat atau tanaman tumbuh cepat setelah
pemupukan, khususnya pemupukan nitrogen sehingga kanopi padi menutupi
permukaan tanah, maka gulma jajagoan yang sangat peka naungan akan kalah
bersaing dengan tanaman padi.
-. KLA,I.IKA,I GULMA
Pengenalan gulma di lapang sangat penting untuk menentukan cara
pengendalian yang efektif. (alau dapat sebaiknya gulma diidentifikasi per
spesies, kalau tidak minimal diidentifikasi berdasarkan morfologi bentuk dan
gulma yaitu gulma rumput, teki dan berdaun lebar.
-.1 Gl*a R*$t (Gra!!e!)
<mumnya gulma ini termasuk ke dalam famili /ramineaeCPoaceae.
Tumbuhan tersebut memiliki batang berbentuk bulat kadang+kadang agak pipih,
dan kebanyakan berongga. Pada batang menjalar biasanya terjadi pembengkakan
batang yang disebut “buku. 4uku akan muncul secara reguler pada panjang
ruasan tertentu. !elai daun akan muncul berselang+seling dari kedua sisi batang
pada setiap buku. Daun terdiri dari pelepah daun dan helai daun. !elai daun
biasanya tipis, sempit dan memanjang. Tepi daun umumnya rata sedangkan urat+
urat daun sejajar dengan panjang daun. ?idahCligula yang berbulu muncul pada
batas antara pelepah dan helai daun. .ontoh@ Echinochloa cr!"#alli(
'&nodon
dact&lon( Le$tochloa chinen!i! dll.
-.2 Gl*a Teki (,ed#e!)
<mumnya termasuk golongan .yperacea. /ulma ini mirip dengan
gulma rumput. 4atang berbentuk segitiga, kadang+kadang bulat tak berongga.
?igula tidak ada. Pelepah daun menjadi satu membentuk pembuluh pada pangkal
batang. Daun+daun tersusun dalam tiga deretan. Teki yang tumbuh tahunan
mempunyai umbi atau ri5omCrimpang di dalam tanah seperti teki berumbi
('&$er! rotnd!). .ontoh lain@ '&$er! iria( '. di/or*i!(
.i*0ri!t&li!
*iliacea( dll.
-.+ Gl*a 1erdan Le0ar (1roadlea2 3eed!)
/ulma ini tidak tergolong gulma teki dan gulma rumput. ;da yang
monokotil dan banyak yang dikotil. Daun melebar sepenuhnya, berbentuk agak
bulat atau lonjong dengan urat daun seperti jala tidak teratur. .ontoh@
Monochoria %a#inali!( Li*nochari! 4a%a( Ld3i#ia octo%al%i!( dll.
2oody ("#$#) mengidentifikasi 6,0# species gulma padi di "* negara
;sia Selatan dan ;sia Tenggara. Dari jumlah ini, "#6 spesies terdapat pada padi
gogorancah (gora) dan *$$ spesies pada padi tapin (tanam pindah).
(ebanyakan gulma ini tidak menyebabkan kerugian ekonomi yang nyata. Di
lahan sa&ah, spesies gulma yang tumbuh paling banyak sekitar ", spesies, %+0
spesies di antaranya tumbuh dominan dan sangat merugikan hasil padi (2oody
dan Drost, "#$").
Dari 6:* spesies gulma padi di 7ndonesia, "6) spesies merupakan gulma
padi lahan basah, #, spesies gulma padi lahan kering, dan 0$ spesies gulma
umum yang terdapat di kedua ekosistem tersebut (Soerjani et al.( "#$)).
Sedangkan menurut Sastroutomo ("##0) terdapat %% jenis gulma yang sering
dijumpai tumbuh pada pertanaman padi sa&ah dengan perincian ", jenis dari
golongan rerumputan, ) teki+tekian, dan ": jenis dari golongan gulma berdaun
lebar.
Di lahan sa&ah tadah hujan, keragaman spesies gulma yang tinggi
tergantung pada curah hujan, intensitas genangan air, tingkat intensitas pola
tanam atau pengelolaan lahannya (1antasomsaran dan 2oody, "##%). (urang
lebih %*, spesies gulma dari "*, genus dan :, famili (keluarga) dilaporkan
sebagai gulma padi. Dari jumlah ini, Poaceae spp. lebih dari $, species, dan
.yperaceae spp, lebih dari *, species. /ulma berdaun lebar terdiri dari
;lismataceae, ;steraceae, Dabaceae, ?ythraceae, dan Scrophulariaceae (Smith,
"#$").
Pada padi sa&ah, gulma yang tumbuh ada yang tergolong tumbuhan .0
seperti Echinochloa sp., L. chinen!i!. Sedangkan padi termasuk golongan
tumbuhan .%. Tumbuhan .0 mempunyai keunggulan toleran terhadap kondisi
panas, arid, intesitas cahaya tinggi, efisiensi konsumsi air tinggi dan efisiensi
konsumsi nitrogen tinggi bila dibanding tumbuhan .% (1yarko dan De Datta,
"##"). 2enurut 2atsunaka ("#)#) gulma .% tumbuh dominan pada kondisi air
tergenang sedangkan gulma .0 tumbuh dominan pada kondisi tanah
lembapCkering. Dominasi gulma .0 dan .% tersebut mencerminkan tingkat
penurunan hasil padi. Di lahan sa&ah irigasi umumnya gulma didominasi oleh
gulma .%, karena itu kehilangan hasil lebih kecil dari hasil padi di sa&ah tadah
hujan atau padi gogo yang umumnya didominasi oleh gulma .0.
5. PENGENDALIAN GULMA
2etode pengendalian gulma berbeda dengan pengendalian hama dan
penyakit tanaman karena@ (") komunitas gulma lebih beragam, (6) merugikan
tanaman sejak a&al sampai panen, (%) gulma berasosiasi dengan hama, patogen dan
musuh alami, dan (0) gulma tumbuh berasosiasi dengan tanaman.
Bleh sebab itu pengendalian gulma bertujuan untuk@ (") membentuk
gulma yang kaya spesies tetapi miskin populasi sehingga pengendalian cara
mekanis maupun dengan cara pergiliran tanaman lebih mudah, dan (6) eradikasi
total diarahkan pada gulma jahat. 2emfasilitasi adanya interaksi antara faktor
biologi, lingkungan, dan cara pengendalian sedemikian rupa agar lingkungan
tumbuh lebih menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman dibandingkan
pertumbuhan gulma.
Suatu teknik pengendalain gulma harus efisien, ekonomis dan
berkelanjutan, serta berbasis ekologi. Prinsip dasar pengendalian gulma
“berbasis ekologi di antaranya@ (a) mempertahankan diAersitas spesies gulma
tetap tinggi, (b) menerapkan rotasi tanaman yang sesuai, (c) penerapan olah
tanah minimum, (d) meningkatkan pengendalian gulma secara mekanis, (e) jenis
tanaman yang diusahakan disesuaikan dengan kesuburan tanah, (f) pengomposan
pupuk organik yang sempurna agar biji+biji gulma mati, (g) menanam padi yang
berdaya saing tinggi, (h) menanam benih murni, dan (i) menciptakan kondisi
yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman (ED;B, 6,,$). De&asa ini pemakaian
herbisida cenderung menyederhanakan makna dari P/T (Pengendalian /ulma
Terpadu) menjadi pengendalian gulma sederhana. !al itu berarti bertentangan
dengan pengendalian gulma berbasis ekologi.
Teknik pengendalian gulma yang diuraikan berikut dapat diterapkan
sesuai dengan kondisi masing+masing ekosistem tempat padi tumbuh. 2isalnya, air
pengairan dan cara tanam pindah jelas tidak mungkin pada lahan kering,
Pengendalian lain yang mungkin diterapkan misalnya pengolahan tanah,
pemilihan Aarietas, cara pemupukan, dan lain+lainnya, merupakan teknologi
pengendalian gulma padi yang dapat diterapkan pada ekosistem irigasi, pasangsurut,
lahan kering, dan lahan sa&ah tadah hujan.
Dalam implementasinya, tidak ada satu metode pengendalian pun yang
mampu menekan infestasi semua spesies gulma. Suatu teknik pengendalian yang
efektif sangat terkait erat dengan spesies gulma sasaran. Pengetahuan tentang
biologi atau habitat gulma sangat diperlukan dalam usaha pengendaliannya.
Suatu pengamatan yang cermat diperlukan untuk dapat menentukan teknik
pengendalian yang paling sesuai karena satu teknologi tidak hanya terbatas
untuk satu ekosistem saja.
6. PENGENDALIAN GULMA DI EKO,I,TEM PADI ,A7AH
!asil inAentarisasi jenis gulma yang terdapat di lahan sa&ah
menunjukkan sekitar "* jenis (Tabel ").
Ta0el 1. Daftar Spesies /ulma yang <mum Tumbuh di ?ahan Sa&ah 7rigasi
No ,$e!ie! Na*a Lokal .a*ili
Gl*a R*$t
1. Echinochloa ssp.* Jajagoan; gagajahan; jawan Poaceae/
Gramineae
2. Le$tochloa chinen!i! Bebontengan; timunan; jampang pi’it Poaceae/
leutik Gramineae
. Pa!$al* di!tich* !amhani; grintingan Poaceae/
Gramineae
". I!chae** r#o!*Jukut ran#an; bkembem; lalang air Poaceae/
Gramineae
Gl*a Teki
$ .i*0ri!t&li! *ilacea Babawangan; bulu mata mun#ing; a#as% &'peraceae
a#asan; riwit; sun#uk welut; tumbaran
( '&$er! di/or*i! Jukut pen#ul; jebungan; ramon bren#elan &'peraceae
) '&$er! iria *umput men#erong; #ekeng wangin; &'peraceae
rumput jekeng kun'it; umbung
+ ,cir$! 8ncoide! ,ambo mancik; babawangan; kuca'a; &'peraceae
wawalingian
Gl*a 1erdan Le0ar
1- Monochoria %a#inali!.ceng; eceng pa#i; eceng lembut; eceng Ponte#eriaceae
leutik; bengok; wewehan; wewe'an
11 Li*nochari! 4a%a Genjer; berek; bengkrok; centongan Butomaceae
12 Ld3i#ia octo%al%i! &acabean; lakum air; salah n'owo /nagraceae
1 Ld3i#ia adcenden! Pangeor; rubah sila; tapak #oro; rubahsila /nagraceae
1" ,al%inia *ole!ta ,a'ambang; kiambang 0al1iniaceae
12 Mar!ilea crenata 0emanggi 3arsileaceae
*4 Echinochloa cr!"#alli 5!.6 Beau1. ssp. hi!$idla 5*et7.6 8on#a
E. #la0re!cen! 3unro e9 8ook.:.
E. or&9oide! 5;r#.6 <ritsch
E. colona
Pengendalian gulma padi di lahan sa&ah irigasi biasanya merupakan
kombinasi antara (a) teknik pengendalian gulma yang tidak langsung seperti
pengolahan tanah, pengelolaan air irigasi, cara pemupukan, pengaturan populasi
tanaman, dan (b) teknik pengendalian gulma yang langsung seperti cara
penyiangan tangan, mekanis dan penggunaan herbisida.
6.1 Pen#endalian Gl*a Tidak Lan#!n# :Indirect Method;
.ara pengendalian ini disebut juga pengendalian secara ekologis, oleh
karena menggunakan prinsip+prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan
sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertumbuhan
tanaman yang diusahakan tetapi tidak menguntungkan untuk perkembangan
infestasi gulma.
Pengendalian gulma tidak langsung merupakan bagian dari komponen
teknologi budi dayaCkultur teknis yang diterapkan pada tanaman padi.
Pengendalian secara kultur teknis adalah cara meningkatkan daya saing padi yang
memungkinkan tanaman padi mampu menekan pertumbuhan gulma dengan
memodifikasi teknologi tersebut sehingga gulma tumbuh tertekan. Di antaranya
teknologi sebagai berikut.
6.1.1 Pence#ahan
Pencegahan merupakan prinsip utama di dalam pengendalian gulma. Di
dalam prakteknya petani harus mengusahakan menanam padi dengan
menggunakan bahan tanaman yang berupa benih murni dan benih bersertifikat
(berlabel). Sanitasi lingkungan sangat penting dilakukan dengan cara tidak
membiarkan sumber gulma berada terus di lapangan. Pembuatan pintu air di
saluran irigasi sangat berperan mencegah gulma+gulma terapung seperti
kiambang, kiapu, eceng gondok, dan lain lain untuk masuk ke dalam petak
pertanaman. ;lat+alat pertanian yang akan digunakan harus diusahakan tidak
memba&a organ perbanyakan gulma tahunan seperti rimpang karena akan
menginfestasi lahan berikutnya. 9alaupun demikian, penyebaran biji+biji gulma
sukar dicegah melalui proses sanitasi alat+alat pertanian karena ukurannya sangat
kecil. Petani dianjurkan untuk melakukan eradikasi gulma sebelum gulma yang
bersangkutan berbunga. !al tersebut penting untuk dilakukan karena banyak
gulma yang mampu menghasilkan biji yang melimpah, dari satu biji menjadi
puluhan bahkan ratusan biji. 2enurut !o dan >uki ("#$$) pemotongan bunga
gulma dengan sabit atau gunting sebelum menjadi biji mampu menekan
kepadatan gulma dari lebih dari ",, malaiCm
6
pada a&al pertanaman, lalu
berkurang menjadi "* malaiCm
6
pada musim berikutnya.
6.1.2 Pen#olahan tanah
Pengolahan tanah sering kurang sempurna karena dilakukan dengan
sistem borongan. (edalaman olah tanah dangkal, perataan tanah di dalam petak
kurang sempurna sehingga rimpang gulma tidak mati dan tumbuh kembali. ;ir
irigasi tidak bisa tergenang secara merata, sehingga biji+biji gulma yang tidak
terendam air segera berkecambah. Bleh sebab itu pengolahan tanah sempurna
sangat diperlukan, terutama apabila mempraktekkan sistem tanam tabela
(tanam benih langsung).
Pada umumnya traktor petani tidak dilengkapi dengan alat bajak
sehingga tanah hanya diolah ringan dengan rotari. !asil penelitian menunjukkan
bah&a pengolahan tanah dengan menggunakan traktor tangan baik yang
dilengkapi dengan alat bajak atau rotari terbukti bisa berpengaruh nyata terhadap
pertumbuhan dan hasil padi. Pengolahan tanah yang biasa dilakukan petani yaitu
dengan 6 kali dirotari masih memberikan hasil gabah kering tertinggi dari hasil
panen padi yang dibajak " kali ditambah 6 kali rotari. Pengolahan tanah pada
musim kemarau (2T 77) mempunyai infestasi gulma rendah, berkisar antara ",,+
",6 tCha gulma kering. Tetapi pengolahan tanah di musim hujan, infestasi gulma
meningkat % kali terutama jika diolah ringan, sedangkan bila pada tanah diolah
sempurna dapat menurunkan infestasi gulma sehingga berat kering gulma sekitar
",: tCha. 4erdasarkan komposisi flora komunitas gulma yang tumbuh, masing+
masing sistem pengolahan tanah mempunyai tipe komunitas tersendiri. Di
musim kemarau pada tanah yang diolah sempurna (dibajak 6 kali, 6, dan ",
!4T (hari sebelum tanam), dan rotari " kali, " !4T) mempunyai tipe komunitas
flora gulma seperti .yperus difformis, 2onochoria Aaginalis dan Mar!il ea
crenata. Tipe flora komunitas gulma ini ternyata mampu menurunkan hasil
panen padi sebanyak 6:-. Tanah yang diolah ringan (dibajak " kali, 6, !4T,
rotari 6 kali, 6, dan " !4T) mempunyai tipe flora komunitas gulma P. di!tich*(
<. li ni2 ol ia( '. di2 2or*i !, M. %a#i nali s dan M. 'renata. Tipe
komunitas
tersebut dapat menyebabkan hilangnya hasil panen sekitar %"-.
Drekuensi pembajakan dan rotari tidak berpengaruh nyata terhadap hasil padi
di musim kemarau (0,:+0,$ tCha). Sebaliknya di musim penghujan,
perlakuan bajak 6, dan ", !4T, yang diikuti rotari " !4T, telah memberikan hasil
panen )," tCha yang berbeda nyata dibanding dengan perlakuan bajak 6, dan ",
!4T, yang diikuti rotari 6, dan " !4T yang hanya menghasilkan /(/ sebesar :,0
tCha (Pane dan Fochmat, "##,).
Penerapan olah tanah konserAasi (BT() pada lahan sa&ah dengan
menggunakan herbisida tergolong teknologi baru. Blah tanah konserAasi pada
dasarnya sebagai upaya dalam sistem pertanian berkelanjutan dengan sedikit
mungkin mengganggu tanah. Sistem ini meliputi TBT (tanpa olah tanah) dan
BTF (olah tanah ringan). (euntungan lain sistem BT( dapat menghemat biaya
olah tanah, hemat air dan energi bahan bakar, serta mempercepat &aktu tanam.
(endala utama yang dihadapi dalam menerapkan BT( pada budi daya padi
ialah memberantas gulma dan singgang (ratoon padi) musim sebelumnya. <ntuk
itu Sembodo dkk., ("##*) menyarankan untuk mengendalikan gulma setelah
bera atau singgang dengan cara menyemprotkan herbisida isopropilamina
glifosat ":, gCl dengan takaran ", lCha atau isopropilamina glifosat 60, gCl
dengan takaran $ lCha. Sedangkan untuk mengendalikan gulma yang tumbuh
setelah tanam diaplikasi dengan oGadiason, butachlor dan 6,0+D.
6.1.+ Pen#atran air iri#a!i
Pada padi tanam pindah, air irigasi harus tergenang terus+menerus
sampai kanopi tanaman menutup untuk mencegah biji+biji gulma berkecambah.
(alau ada pengairan berkala (inter*itten iri#ation), harus menggunakan
herbisida pratumbuh yang efektif dan selektif, sehingga masalah gulma tidak
perlu dikaha&atirkan. Sedangkan pada padi tabela (tanam benih langsung) air
irigasi di drainase sampai )+", hari setelah tabur benih, baru petakan boleh
digenangi air. 7ni dilakukan supaya cro$ e!ta0li!h*ent padi bagus, karena benih
berkecambah rata.
/enangan air irigasi cukup efektif untuk menekan persentase
perkecambahan beberapa spesies gulma .. littorali!( '. iria( M. %a#inali! dan
'. di/or*i!. /ulma '&$er! di/or*i! tak dapat berkecambah di
ba&ah kondisi tergenang. ?aporan 1akkae& ("##") dalam Hongsaroj ("##%)
terbukti Echinochloa colona yang berumur ", hari telah mati ",,- pada
kondisi genangan air %,, *, dan ), cm selama dua minggu.
Ta0el 2. Pengaruh ,e#alaman ;ir =erha#ap Bobot Gulmaa
1o0ot #l*a :#=*2;
Kedala*an air 1>650 1>66c
- 11">2 2$>)
2>2 2)>- 2->-
(>2 2>1 11>2
12>2 22>" )>-
1(>2 1>2 ">-
22>2 ">$ %
2(>2 2>2 %
a
*erata #ari sembilan kulti1ar.
b
Pa#a saat panen.
c
Pa#a - hari setelah sebar.
0umber? 3abba'a# #alam 3oo#' 1++2
/enangan air dapat menurunkan bobot gulma dan jumlah spesies
gulma yang tumbuh (Tabel 6). Pada genangan air yang dalam, spesies gulma
yang masih banyak tumbuh ialah M. %a#inali! (4urm. D.) Presl., sedangkan
pada kondisi tanah jenuh air atau lembap, gulma yang dominan tumbuh adalah
rumput Echinochloa spp dan teki .. *iliacea (?.) Hahl.
6.1.- Pen#elolaan $$k
Prinsip dalam pemberian pupuk adalah pupuk yang diaplikasikan harus
lebih tersedia bagi tanaman padi daripada untuk tumbuhan gulma. 4iasanya
pupuk tersebut, khususnya urea, kalau dibenamkan ke dalam tanah akan lebih
efektif daripada ditabur di atas permukaan tanah. <rea yang ditabur di
permukaan petakan akan cepat menguap, hanyut terlarut di dalam air dan
lebih mudah tersedia bagi gulma. 2isalnya urea tablet atau urea butiran yang
dibenamkan ke dalam tanah lebih tersedia bagi tanaman padi daripada urea
prill yang diaplikasikan dengan sistem tabur ke permukaan tanah.
(esenjangan hasil di lahan tadah hujan Pati dan Fembang sangat nyata
dipengaruhi oleh faktor pemupukan dan pengendalian gulma. Pemupukan
tanpa penyiangan menyebabkan peningkatan infestasi dan daya saing gulma
sehingga produktiAitas padi gogorancah rendah.
6.1.5 ?arieta!
Pergantian Aarietas padi berbatang tinggi ke Aarietas baru berbatang
pendek menciptakan masalah gulma semakin serius terutama terhadap gulma
rumput setahun. Spesies gulma ini lebih kuat menyaingi padi dibanding
dengan gulma berdaun lebar dan teki. Harietas padi berbatang tinggi lebih
kompetitif dari Aarietas berbatang pendek, !e*i"d3ar2. Harietas padi umur
dalam, daun merunduk lebih kompetitif dari Aarietas padi umur genjah, dengan
daun tegak (Smith, "#$").
Padi Aarietas modern yang pendek, penetrasi cahaya ke permukaan
tanah tinggi dan memacu perkecambahan biji+biji gulma dan tumbuh lebih
cepat dari padi. ;palagi setelah pupuk diaplikasi maka pertumbuhan gulma
semakin padat. 2isalnya padi 7F$ mempunyai anakan banyak hanya mampu
berkompetisi dengan gulma yang tumbuh lebih rendah. Sebaliknya galur
7F006+6+*$ yang berbatang sedang mempunyai daya saing lebih tinggi
terhadap gulma (De Datta, "#$"). (emudian 4angun dan Syam ("#$#) juga
melaporkan bah&a Aarietas .ipunegara lebih kuat berkompetisi dengan gulma
dibanding P4 %:, karena distribusi dan sistem perakaran yang dalam dan indek
luas daun yang lebih besar. P4 %: menekan populasi '. di/or*i! dan E.
$elcida masing+masing 6 dan : kali lebih besar daripada padi Aarietas Semeru.
6.1.6 Po$la!i tana*an=<arak tana*
Populasi tanam atau pengaturan jarak tanam yang lebih rapat bertujuan
untuk memberi ruang yang lebih sempit bagi pertumbuhan gulma, sehingga daya
saing tanaman padi lebih tinggi. 1amun kepadatan tersebut perlu dikontrol agar
jangan terjadi persaingan spesifik di dalam populasi gulma (inter !$eci@c 3eed
co*$etition). Persaingan yang tinggi antar tanaman padi sendiri terjadi apabila
padi ditanam sangat rapat seperti halnya pada padi yang ditanam dengan sistem
hambur rata (0roadca!t !eedin#).
2oody ("##6) melaporkan bah&a dengan takaran benih padi pada
hambur rata yang tinggi mampu menekan infestasi gulma. Takaran tinggi
tersebut juga sekaligus bertujuan untuk mengimbangi kerusakan tanaman
oleh tikus dan burung, ataupun yang rusak se&aktu aplikasi herbisida.
Peningkatan takaran benih dari *,+6*, kgCha dapat menurunkan bobot gulma
dari 6:$6 kgCha menjadi :,6 kgCha (Tabel %). Tapi Fothnis et al. dalam
?abrada (6,,%) mengungkapkan bah&a beberapa gulma seperti Monochoria
%a#inali! dan ,$henoclea 9e&lanica tidak terpengaruh oleh takaran
benih
6,,+%,, kgCha. Sementara itu beberapa penelitian lain juga menunjukkan
bah&a peningkatan takaran benih dapat meningkatkan masalah penyakit dan
saling menaungi antar rumpun padi (*tal !hadin#) (?abrada, 6,,%).
Ta0el +. Pengaruh =akaran Benih =erha#ap Bobot Gulma pa#a Pa#i =abela 8ambur *ata
Takaran 1enih 1o0ot Kerin# Gl*a :k#=ha;
:k#=ha; Dan le0ar R*$t Teki Total
2- 2" 2-+" 2" 2$)2
1-- 122 1$2$ )" 1)2
12- 11) 1-(2 - 122-
2-- 1-- 2+$ 1$ (12
22- 2) 21$ 2) $-2
0umber? 3oo#' 1++2
6.1.A 'ara tana*
Padi dapat ditanam dengan sistem tanam pindah (tapin) dan tanam benih
langsung (tabela). Sistem tapin biasanya pada tanah yang sudah melumpur, bibit
sudah berumur "*+6" hari, dan dapat langsung diairi. .ara tersebut akan menekan
infestasi gulma apalagi kalau pengolahan tanahnya baik dan air irigasi tergenang
secara merata.
Pada sistem tabela, benih yang sudah direndam $re #er*inated seed
ditabur langsung dalam petakan baik secara larikan (ro3 !eedin#) maupun
secara hambur rata (0roadca!t !eedin#) pada tanah yang sudah rata melumpur.
Dengan sistem ini petakan harus didrainase sejak tanam sampai umur )+", hari
agar benih tumbuh serempak. ;kibatnya gulmapun tumbuh cepat menyaingi
tanaman padi. .ara tanam yang sama bisa juga diterapkan pada tanah kering
yang sudah diolah sempurna seperti pada padi gogorancah atau padi gogo.
;kan tetapi dengan absennya air irigasi menyebabkan gulma tetap saja menjadi
masalah serius.
Ta0el -. Persentase 5@6 ,ehilangan 8asil Panen Pa#i pa#a Beberapa &ara =anam oleh
Persaingan Gulma 50ukaman#i 3, 2--2 % 2--$6
'ara tana* MK 2BB5 MH 2BB5 MK 2BB6 Rata"rata
=apin 2" "1 (1 "2
=abela basah "- (+ +" (1
=abela kering 1" +" )2 $"
Dari hasil penelitian tiga musim berturut+turut dari 2( 6,,*+2(6,,:
diketahui bah&a pertanaman padi tanam pindah, tabela basah, dan tabela kering
masing+masing dapat mengalami penurunan hasil akibat persaingan gulma
berturut+turut 0*-, )"- dan :0-. Data ini menunjukkan bah&a kehilangan hasil
padi akibat persaingan dengan gulma pada pertanaman padi lebih parah daripada
padi tanam pindah (Tabel 0).
Di Sula&esi Selatan, atabela (alat tanam benih langsung) telah
dimodifikasi oleh PT 4ayer. Tabung benih yang terbuat dari paralon, dilengkapi
dengan alat pembuat larikan. (alau alat ditarik, larikan terjadi, lalu benih jatuh,
dan selanjutnya benih tertutup oleh lumpur. (unci keberhasilan untuk
memperoleh cro$ e!t0li!h*ent yang bagus adalah kesempurnaan pelumpuran
yang ditentukan oleh perbandingan antara air dan lumpur sekitar "@". Pada
kondisi demikian, maka lumpur yang dibelah oleh alat larikan tadi akan bersatu
dengan sendirinya untuk menutupi benih yang ditanam. (alau kondisi tersebut
tidak tercapai, benih hanya terletak di permukaan tanah, sehingga apabila hujan
datang, benih akan berserakan di luar larikan atau dimakan oleh tikus dan
burung.
Sistem tabela sangat efisien tenaga, biaya dan &aktu tanam bila
dibanding dengan sistim tanam pindah. 2enurut Pandey dan Helasco (6,,6),
curahan tenaga kerja untuk sistem tanam pindah memerlukan biaya terbesar,
<S=),.+Cha, sedangkan pada sistem tabela hanya 6%+60- dari biaya tanam
pindah. Sebaliknya biaya penyiangan dengan tangan, tabela kering memerlukan
biaya tinggi, <S=*".+Cha, sedangkan masing+masing tabela basah dan tanam
pindah hanya memerlukan biaya %#- dan 6,- dari tabela kering. !al ini dapat
dimengerti karena kehadiran air irigasi, terutama di a&al fase pertumbuhan padi,
berfungsi untuk menekan infestasi gulma.
6.1.C Rota!i tana*an dan %arieta! $adi
?abrada (6,,%) menyatakan bah&a tanaman seperti sorgum dan jagung
dapat menekan populasi gulma. 2emasukkan tanaman ini dalam pola tanam padi
sa&ah dapat mengurangi masalah gulma pada ekosistem padi. !al yang sama
tampaknya berlaku untuk lahan kering, terutama bila padi gogo
ditumpangsarikan dengan jagung.
Penelitian tentang alelopati padi telah dilakukan oleh 7FF7 dan hasilnya
menunjukkan bah&a terdapat keragaman yang lebar antar Aarietas padi dalam
menghambat pertumbuhan gulma. 4eberapa Aarietas dilaporkan berpotensi
menekan pertumbuhan jajagoan (E. cr!"#alli) sampai 0,- (?abrada, 6,,%).
6.1.> Pen#endalian !ecara 0iolo#i!
Pengendalian secara biologis didefinisikan sebagai upaya pengendalian
gulma dengan menggunakan organisme hidup, seperti serangga, ikan pemakan
tanaman dan he&an lainnya, organisme penyakit, dan tanaman pesaing untuk
membatasi infestasi gulma (/upta, "#$0). ;da tiga pendekatan dalam
pengendalian biologi gulma, yaitu@ (") penggunaan organisme selektif, yaitu
organisme yang menyerang satu atau hanya beberapa spesies gulma, (6)
penggunaan organisme nonselektif, yaitu organisme yang menyerang semua
spesies gulma, dan (%) penggunaan spesies tanaman pesaing, yaitu tanaman yang
bersaing dengan spesies gulma untuk satu faktor atau lebih, misalnya tanaman ubi
jalar untuk mengurangi pertumbuhan teki berumbi ('. rotnd!) atau alangalang
(I*$erata c&lindrica) yang peka naungan (Fijn, 6,,,).
4eberapa contoh pengendalian gulma secara biologis di antaranya ialah
penggunaan kumbang penggerek (3ee%il) ('&rto0a#o! !al%iniae) dan
'&rto0a#o! !in#lari! untuk mengendalikan ,al%inia *ole!ta D.S.
2itchell
(kayambang) di ;ustralia, Papua 1e& /uines, dan 7ndia3 pengendalian kaktus
O$ntia spp. di ;ustralia dengan menggunakan 'acto0la!ti! cactor*
dan
kumbang penggerek Neochetina eichorniae dan Neochetina 0rchi
untuk
mengendalikan gulma Eichhornia cra!!i$e! (2art.) Solms. (eceng gondok),
kumbang kutu A#a!icle! h&#ro$hila untuk menekan pertumbuhan
Alternanthera
$hilo)eroide! (2art.) /riseb. (bayam kremah), kumbang Neoh&drono*!
aDni! untuk mengendalikan Pi!tia !tratiote! (?.) (apu+apu).
'amur 'olletotrich* #loeo!$orioide! yang diperbanyak secara in
%itro
efektif digunakan sebagai bioherbisida menekan gulma Ae!ch&no*ene
%ir#inica
(?.) 4ritton (katisan) pada padi3 penggunaan benih udang (benur) (tad$ole
!hri*$) (Trio$! lon#icandat!; untuk mengendalikan gulma muda padi
tanam
pindah di 'epang (2atsunaka, "#)#). Sedangkan jamur Uredo eichhorniae
berpotensi sebagai pengendali gulma secara biologis untuk eceng gondok,
demikian pula jamur M&rothe!i* rorid* untuk kiambang, dan 'ero!$ora
sp. untuk kayu apu.
Pengendalian gulma secara biologis ini masih terbatas dikarenakan
risiko tinggi merusak tanaman pokok yang diusahakan.

A. PENGENDALIAN GULMA LANG,UNG :DIRE'T METHOD;
A.1 Pen&ian#an Gl*a den#an Tan#an
<mumnya petani menyiang gulma dengan tangan (*anal 3eedin#)
dengan atau tanpa alat bantu seperti kored, atau menginjak+injak gulma dengan
kaki. .ara ini banyak membutuhkan &aktu, biaya, tenaga, dan cukup
membosankan. Padahal setelah padi ditanam, petani juga ingin santai, tidak
harus terus+menerus berpanas dan berlumpur di sa&ah. ;palagi petani muda
lebih menyukai bekerja di pabrik, buruh bangunan, berdagang, dan usaha
lainnya dengan hasil yang lebih pasti dengan risiko rendah. 9aktu tanam
serempak menyebabkan terjadinya peningkatan tenaga kerja pada periode yang
sama sehingga terjadi persaingan dalam pemenuhan tenaga kerja. (arena tenaga
kerja terbatas, atau karena hujan lebat datang terus+menerus, sering penyiangan
tertunda.
.urahan tenaga kerja untuk penyiangan pertama dan kedua tergantung
dari kepadatan gulma di petakan masing+masing berkisar antara 6*+%* dan "*+
6* hari kerja. Sedangkan total curahan tenaga kerja satu musim tanam berkisar
antara 0,+:, orang. ;pabila upah kerja menyiang Fp"*.,,,,+ per+hari berarti
selama satu musim tanam diperlukan biaya penyiangan antara Fp:,,.,,,,+ +
Fp#,,.,,,,+ per ha (Pane dan 1oor, "###).
Penyiangan tangan memungkinkan gulma yang mempunyai kesamaan
morfologi dengan padi akan tertinggal tidak tersiangi, misalnya gulma jahat
timunan (Le$tochloa chinen!i!), dan gulma jajagoan (E. cr!"#alli).
Spesies gulma ini dianjurkan untuk disiangi dan bunganya dipotong dengan sabit
supaya tidak berkembang biak.
Pencabutan rumpun+rumpun gulma dengan tangan, efektif untuk gulma+
gulma semusim atau dua musim. Sebaliknya untuk gulma tahunan pencabutan
dengan tangan mengakibatkan terpotongnya bagian tanaman (rhi5oma, stolon
dan umbi akar) yang tertinggal di dalam tanah. Sisa organ tumbuhan tersebut
efektif sebagai sumber perbanyakan Aegetatif untuk tumbuh lagi. Penyiangan
dengan tangan menjadi sulit bila dilakukan pada spesies gulma yang daunnya
dapat melukai anggota badan seperti, Leer!ia he)andra atau ,cleria spp., atau
gulma yang dapat menyebabkan iritasi, seperti Rott0oellia e)altata.
A.2 'ara Mekani!
Penyiangan gulma secara mekanis bisa menggunakan gasrok, landak,
atau alat penyiang bermesin atau alat yang ditarik dengan ternak, dan diterapkan
apabila areal padi ditanam dalam barisan yang teratur dan lurus. <mumnya
petani tidak mampu membeli alat penyiang tersebut karena harganya relatif
mahal. .ara penyiangan mekanis membutuhkan &aktu pengerjaan yang relatif
lebih cepat dibandingkan dengan cara penyiangan dengan tangan. Penggunaan
alat penyiang mekanis beresiko merugikan pertumbuhan tanaman, karena alat
tersebut sering menimbulkan kerusakan mekanis pada akar maupun batang
tanaman padi, terutama kalau jarak tanam padi tidak teratur.
A.+ Her0i!ida
Di luar pulau 'a&a di lahan sa&ah irigasi tenaga penyiang langka dan
mahal. Di 'a&a 4arat, khususnya ka&asan irigasi 'atiluhur, karena tanam
serempak kebutuhan tenaga kerja langka dan bersaing. Demikian juga sa&ah
yang dekat dengan kota, tenaga kerja terbatas. Petani muda cenderung bekerja
di bangunan, pabrik, perkantoran, dan lain+lainnya. Bleh sebab itu, de&asa ini
banyak petani yang menggunakan herbisida untuk mengendalikan gulma.
!asil surAei Tim SP 4imas dan Dirjen Tanaman Pangan pada tahun
"#$6 menunjukkan bah&a petani di daerah Deli Serdang (Sumatra <tara), 2usi
4anyuasin (Sumatra Selatan), Sidrap (Sula&esi Selatan), dan (ara&ang dan
7ndramayu ('a&a 4arat) masing+masing secara berturut+turut telah memakai
herbisida sebesar 6"-, %),*-, ",,- dan "),*-. 'enis herbisida yang
digunakan umumnya herbisida yang berbahan aktif 6,0 D. Pengamatan di lapang
di sepanjang persa&ahan Pantura, didapatkan gejala pergeseran dominasi gulma
yaitu gulma berdaun lebar dan teki digantikan oleh gulma rumput dan teki yang
tidak merupakan gulma sasaran herbisida tersebut. !al ini mengindikasikan
bah&a terjadi ledakan gulma yang bukan sasaran, atau ada gejala pembentukan
spesies gulma biotipe baru yang resisten terhadap herbisida 6,0 D.
(riteria penting dalam memilih herbisida yang baik adalah@ (") daya
bunuhnya terhadap gulma sasaran efektif, terutama selama periode kritis
persaingan gulma, (6) mempunyai selektiAitas tinggi terhadap tanaman pokok,
(%) murah, aman terhadap lingkungan termasuk terhadap manusia dan he&an,
dan persistensinya pendek sampai medium sehingga tidak merugikan tanaman
pada pola tanam berikutnya, (0) tidak berisifat antagonis (bertentangan) bila
dicampur dengan herbisida lain, dan (*) tahan terhadap perubahan kondisi cuaca
dalam jangka &aktu terbatas.
Penggunaan herbisida menimbulkan masalah baru. Petani cenderung
membeli herbisida yang harganya murah, seperti 6,0 D. !al tersebut
menyebabkan tidak ada pergiliran pemakaian bahan aktif herbisida yang
berbeda. Prinsip pergiliran tersebut perlu diperhatikan untuk mencegah dominasi
dan peledakan spesies gulma tertentu, atau terjadinya resurjensi dan munculnya
biotipe spesies gulma baru. Setiap herbisida mempunyai gulma sasaran,
misalnya herbisida molinat hanya mampu mengendalikan gulma rumput,
sedangkan herbisida fenoksi efektif mengendalikan gulma sasaran, yaitu gulma
berdaun lebar dan teki,
'enis+jenis herbisida tersebut banyak di pasarkan di 7ndonesia dengan
berbagai macam bahan aktif dan formulasi, seperti larut airCbubuk larut air3
formulasi emulsi, pasta, cairan dapat alir, butiran maupun tepung. .ara
aplikasinyapun berbeda+beda, ada yang disemprotkan, diteteskan atau ditaburkan.
9aktu aplikasi juga berAariasi sebelum tanam (pratanam), pada tanaman utama
telah ditanam tetapi gulma belum tumbuh (pratumbuh) atau sesudah gulma dan
tanaman tumbuh (purnatumbuh).
Salah satu aturan yang harus diikuti sebelum herbisida diaplikasi di
lapangan ialah melakukan kalibrasi. (alibrasi bertujuan untuk memeriksa
apakah peralatan yang digunakan bekerja sempurna, sekaligus untuk
menentukan kecepatan berjalan &aktu menyemprot. Terlampau cepat berjalan,
berarti jumlah herbisida yang keluar per satuan luas berkurang, akibatnya efikasi
herbisida rendah. Terlampau lambat berjalan akan menyebabkan takaran
herbisida yang disemprotkan per satuan luas melebihi dosis yang ditentukan,
sehingga tanaman keracunan. Presisi kecepatan jalan harus sesuai ketentuan agar
dosis yang diaplikasi juga benar.
Daktor+faktor penting yang harus diperhatikan pada saat akan
mengaplikasi herbisida di lapang ialah @
 'enis herbisida yang akan dipakai sesuai dengan gulma sasaran3
 Dosis pemberian herbisida benar sesuai dengan kalibrasi yang sudah
dilakukan3
 9aktu aplikasi tepat dan benar sesuai dengan pola aksi (mode of
action) herbisida (pratanam, pratumbuh, a&al pascatumbuh, dan
pascatumbuh)3
 9aktu menyemprot sebaiknya di pagi hari, pada saat angin belum
bertiup kencang dan hujan tidak datang.
/ulma rumput adalah spesies gulma yang paling sulit dikendalikan pada
pertanaman padi karena terjadinya selektiAitas herbisida yang sangat sempit di
antara tanaman padi dan gulma rumput di mana kedua+duanya sama+sama famili
/ramineae ((hodayati et al., "#$# dan .arey 777 et al., "##6) 'enis herbisida
yang efektif mengendalikan gulma rumput tanpa meracuni tanaman padi di
antaranya ialah butaklor, oksadiason, oksifluorfen, pendimetalin, tiobenkarb,
siketrin, molinate, propanil, klometoksinil, pretilaklor, dan kuinklorak. Daftar
herbisida dengan spesies gulma sasaran dicantumkan dalam ?ampiran ". Daftar
herbisida yang direkomendasikan untuk berbagai tanaman dapat dilihat dalam
buku hijau yang diterbitkan oleh (omisi Pestisida.
C. PENGENDALIAN GULMA DI EKO,I,TEM ,A7AH TADAH HU<AN
C.1 Pertana*an Padi Go#o Rancah dan 7alik <era*i
Pada tahun "##) telah dilakukan inAentarisasi gulma yang terdapat di
lahan sa&ah tadah hujan (Pane et al.( 6,,,). Dari kegiatan tersebut didapatkan
kenyataan bah&a pada pertanaman padi gogorancah ditemukan *: spesies gulma
dari "$ famili. 4erdasarkan nilai SDF (Summed Dominance Fatio) ternyata

bagian posisi atas bukit (to$o!eEence) di dominasi oleh Lindernia spp.,
Echinochloa colona( .i*0ri!t&li! *iliacea( '&$er! teni!$ica(
Mrdania
nodi4ora( A**ania spp., '&$er! iria( Ld3i#ia octo%al%i!( dan
Le$tochloa
chinen!i!3 di &ilayah tengah lereng bukit didominasi oleh Lindernia spp., E.
colona( .. *iliacea( '. teni!$ica( '. iria( M. nodi4ora( dan
Ph&llanth! nirri3
kemudian di &ilayah ba&ah lereng bukit banyak ditumbuhi oleh Lindernia spp.,
A**anio spp.( E. colono( L. chinen!i!( .. *iliacea( '. teni!$ica( dan
'&$er!
di/or*i!. Sedangkan pada pertanaman padi &alik jerami ditemukan *" spesies
gulma dari ": famili. 4erdasarkan nilai SDF (,**ed Do*inance
Ratio)
ternyata pertanaman di &ilayah puncak bukit di dominasi oleh Lindernia spp.,
Mar!ilea crenata( .. *iliacea( ,. lateri4or!( '. teni!$ica( '.
hal$an( M. ?a#inali!( L. octo%al%i!( dan L. chinen!i!F di &ilayah
tengah lereng bukit didominasi oleh Lindernia spp.( .. *iliacea( M.
%a#inali!( ,. lateri4or!( '. teni!$ica( '. di/or*i!( E. colona( L.
chinen!i!( dan M. crenataF kemudian di &ilayah ba&ah lereng bukit
didominasi oleh .. *iliacea( ,. lateri4or!( '. teni!$ica( '.
di/or*i!( M. crenata( Lindernia spp.( M. %a#inali!( L. chinen!i!( L.
octo%al%i! dan '&$er! hal$an. Dari seluruh spesies gulma yang diobserAasi
ternyata para petani menganggap bah&a gulma L. chinen!i! dan E. cr!"#alli
adalah gulma baru di lahan sa&ah tadah hujan.
!asil penelitian pada petak kontrol (tidak dilakukan penyiangan)
menunjukkan adanya pergeseran dominasi gulma bilamana terjadi perubahan
lengas tanah pada pertanaman padi. Perubahan lengas tanah tersebut terjadi dari
kondisi kering (a&al pertumbuhan padi gogorancah) ke kondisi basah selama
pertumbuhan padi &alik jerami. 'ika lengas tanah dalam kondisi kering, bobot
kering gulma dalam petak gogorancah adalah 0,6 gCm6 dengan infestasi gulma
dominasi golongan teki, sebaliknya pada lengas tanah yang lembap, dalam
kondisi pertanaman &alik jerami 6*6,) gCm6 dengan infestasi gulma didominasi
oleh golongan rumput (Pane et al., "##%) (Tabel *). 4obot kering gulma yang
besar pada pertanaman padi gogorancah mengindikasikan bah&a masalah gulma
sangat serius karena kondisinya kering di a&al fase pertumbuhan. Padi &alik
jerami justru sisa air hujan masih tersisa di dalam petakan sehingga mampu
menekan infestasi gulma yang akan tumbuh.

C.2 Pen#endalian Gl*a $ada Pertana*an Padi Go#o
Dalam budi daya padi gogo, genangan air tidak pernah ada sehingga
infestasi gulma padat. (ondisi demikian akan menyebabkan semua jenis gulma
yang tumbuh akan bersaing kuat dengan tanaman padi. 7nfestasi gulma
merupakan faktor determinan kedua setelah cekaman kekeringan yang
menyebabkan penurunan hasil dan kualitas padi gogo. Pada ekosistem tersebut
infestasi gulma mampu menyebabkan kehilangan hasil padi gogo sebesar #:-.
;da sekitar :, spesies gulma dijumpai tumbuh pada pertanaman padi
gogo, terdiri dari "0 spesies gulma rumput, ", spesies gulma teki, dan 06 jenis
gulma berdaun lebar. Spesies gulma penting pada padi gogo di antaranya ialah
Digitaria ciliaris, 4orreria alata, Phyllanthus niruri, ;geratum cony5oides,
Echinochloa colona, Eleusine indica, .yperus rotundus, Eragrostis pilosa,
.yperus compressus, !eliotropium indicum, ;maranthus spinosus, Trianthema
portulacastrum, Portulaca oleracea, Euphorbin hirta, dan 7mperata cylindrica
(Sastroutomo, "##,3 1yarko dan De Datta, "##").
4eberapa usaha dapat dijalankan untuk mengendalikan gulma pada
tanaman padi gogo. Di antaranya dengan cara olah tanah dalam (6* cm atau
lebih) pada akhir musim hujan agar biji+biji gulma terkubur lebih dalam
sehingga tidak berkecambah. Harietas yang ditanam harus kuat bersaing dengan
gulma, tahan kekeringan, tahan penyakit blast, toleran kekahatan besi dan
keracunan ;l.
Di lahan kering, gulma dapat dipergunakan sebagai bahan mulsa.
Pemberian mulsa berfungsi untuk menghalangi sampainya cahaya matahari ke
biji+biji gulma sehingga perkecambahannya terhambat atau menghalangi gulma
tumbuh bertunas.
Sisa+sisa tumbuhan atau hasil buangan kota seperti plastik dapat juga
dimanfaatkan sebagai mulsa untuk mengendalikan gulma. 2ulsa alang+alang
atau plastik hitam, serbuk gergaji dapat digunakan untuk menekan pertumbuhan
gulma. Tetapi perlakuan mulsa dengan jerami, dan lain+lain pada pertanaman
padi gogo, hanya dapat dipergunakan dalam areal yang sempit serta pada kondisi
lahan yang tidak mengandung banyak air.
Padi gogo umumnya ditanam dengan sistem tabela kering (dry seeding)
dengan cara ditugal atau dilarik. 4erkaitan dengan hal tersebut pemakaian
herbisida pada pertanaman tersebut dapat dilakukan seperti pada sistem tabela di
lahan sa&ah. <ntuk maksud tersebut herbisida+herbisida penoksulam, sihalofop,
fenoksaprop+P+etil, oksadyagril, oksadiason, dan lain+lain dapat dipakai dalam
pengendalian gulma. 1amun di dalam pemakaiannya perlu diperhatikan dosis,
&aktu aplikasi, dan cara aplikasinya.
C.+ Pen#endalian Gl*a di Eko!i!te* ,a3ah Pa!an# ,rt
Di lahan pasang surut ditemukan "$6 spesies gulma yang terdiri dari
"6* genera dalam *" famili, gulma berdaun lebar """ spesies, golongan teki
%" spesies dan golongan rumput 0, spesies (4udiman dkk., "#$$). /ulma
tersebut mempunyai daya adaptasi dan daya saing yang tinggi sehingga dapat
memenyebabkan kehilangan hasil panen padi yang tinggi. 'enis+jenis gulma
yang dominan ialah Panic* re$en!( .. *illiacea( '&$er!
0re%i2oli!(
<!!iea an#!ti2olia( 'o**elina nodi4ora( Ld3i#ia $ro!trata(
Leer!ia
he)andra( '&$er! iria( '. di/or*i!( dan I$o*oea aEatica
(Sastroutomo,
"##,). Spesies H&*enachne ssp. juga cukup padat tumbuh di saluran+
saluran air maupun di sepanjang pematang, bahkan di dalam petakan.
Tingkat perkembangan gulma di lahan pasang surut sangat cepat,
terutama apabila tanah dalam keadaan macak+macak. Pada tanah yang
masam, jenis gulma yang dominan adalah Eleochari! dlci!(
Eleochari! retro4a)a( Eleochari! con#e!ta( '&$er! hal$an(
.i*0ri!t&li! *iliacea, sedangkan pada lahan potensial spesies
H&drocera tri4ora( P!edora$hi! !$ine!cen!( Mar!ilea
crenata( ,al%inia *ole!ta( L&*nochari! 4a%a( Monochoria
%a#inali!( dan Leer!ia he)andra.
2asalah penyiangan gulma di lahan padi pasang surut tidak terlalu
serius, namun penyiapan lahan memerlukan &aktu yang realtif lama. ?ahan
dipersiapkan dengan cara menebas gulma, dua minggu kemudian gulma
digumpal. Setelah dua minggu kemudian gumpalan gulma dibalik, lalu setelah
dua minggu terakhir gulma tersebut disebar merata di dalam petakan. /ulma
yang membusuk akan berguna sebagai bahan organik. .ara persiapan lahan
tradisional seperti itu kurang efisien karena memerlukan &aktu hampir dua
bulan.
<ntuk mempersingkat &aktu dan biaya, dapat digunakan herbisida.
;real yang sebelumnya ditanami padi disemprot terlebih dahulu dengan
herbisida yang kemudian tanahnya diolah dengan tajak dan cangkul. Di areal
yang ditajak tanpa disemprot herbisida, tingkat penutupan gulma mencapai ::-,
sedangkan pada areal yang disemprot dengan herbisida penutupan gulma **-.
Pada areal yang dicangkul atau dirotari kemudian disemprot herbisida menekan
pertumbuhan gulma sampai ",-.
Pada petak yang tidak disiang menyebabkan tingkat kehilangan hasil
padi semakin besar. Pengendalian dengan cara disiang (manual) memerlukan
tenaga sekitar 6,+6* !B( untuk satu kali penyiangan sedangkan untuk sekali
aplikasi herbisida diperlukan tenaga hanya "+6 !B(. .ara manual, selain
kurang efisien, juga kurang efektif karena gulma masih dapat tumbuh lagi.
2enurut Simatupang dkk. ("##%) herbisida yang berbahan aktif 6,0+D dimetil
amina dengan takaran ",,+6,, lCha lebih efektif di dalam mengendalikan gulma
dibandingkan dengan herbisida berbahan aktif lainnya maupun secara manual
(disiang 6 kali) terutama dalam mengendalian gulma dominan Monochoria
%a#inali!( ,al%inia *ole!ta( dan L&*nochari! 4a%a( dan
Eleochari! dlci!.
Pengendalian gulma dengan herbisida 6,0+D dapat menekan perkembangan
gulma sebesar **- dan meningkatkan hasil padi sampai )0- dibandingkan
dengan tanpa pengendalian gulma. Pada pertanaman padi dengan cara sebar
langsung, penggunaan herbisida 6,0+D dimetil amina juga mampu
mengendalikan gulma dibandingkan dengan jenis herbisida yang berbahan aktif
lain.
>. PENGENDALIAN GULMA TERPADU
Di dalam implementasinya, pengendalian gulma berbasis teknologi
harus menerapkan beberapa komponen teknologi pengendalian secara
terintegrasi dan terpadu sehingga mampu meningkatkan efektiAitas dan
efisiensi pengendalian. (omponen teknologinya harus menggabungkan
teknologi yang bersifat sinergi, kompatibel dan aplikabel untuk dilakukan
petani sehingga produktiAitas lahan tetap lestari. Pendekatan ini lebih dikenal
dengan Pengendalian /ulma Terpadu (P/T). 2enurut 'aniya (6,,6),
penerapan kultur teknik seperti pengolahan tanah, pengelolaan air irigasi, dan
pemilihan Aarietas yang kompetitif, merupakan suatu usaha untuk menciptakan
pertumbuhan tanaman yang lebih kondusif. 2etode pengendalian P/T lebih
berbasis ekologi sehingga efektiAitasnya diharapkan lebih baik.
Fao et al. (6,,)) berpendapat bah&a P/T mempunyai definisi yang
paling umum, yaitu@ (a) taktik dengan penggunaan banyak teknologi
pengendalian gulma3 (b) memadukan pengetahuan biologi gulma ke dalam
sistem manajemennya. ;tau P/T digambarkan sebagai pemakaian “banyak
palu kecil yang dikombinasikan untuk memproteksi tanaman dari persaingan
gulma dan menekan komunitas gulma. 'adi untuk P/T jangka panjang
pengelolaan komunitas gulma tanpa mengandalkan pada satu metode saja
adalah kunci utama dari strategi P/T.
1oda ("#))) memberikan contoh bah&a pada dominansi gulma
jajagoan bisa dikendalikan dengan menanam benih murni, irigasi teratur,
pengelolaan pupuk khususnya nitrogen dan fosfor, dan aplikasi herbisida
molinate dan propanil dengan benar. 2enurut 1eAill ("##)), P/T pada sistem
“tabela meliputi kultur teknik, rotasi tanaman, stale seedbed techniIue, yaitu
peningkatan frekuensi pengolahan tanah guna mematikan gulma yang baru
tumbuh, menanam Aarietas padi yang kompetitif, dan pemakaian herbisida
yang efektif.
!erbisida sebagai salah satu teknologi pengendalian gulma harus
diimplementasikan secara proporsional dengan cara memilih jenis herbisida
yang sesuai dengan gulma sasaran, cara dan &aktu aplikasi harus benar, dan
tidak sembarang membuang sisa larutan penyemprotan. !indari pemakaian
herbisida sejenis dalam jangka panjang. Daktor ini sangat penting agar
kelestarian produktiAitas dari ekosistem dapat lebih lestari dan berkelanjutan.
Pemakaian herbisida sejenis secara terus+menerus pada lahan yang
sama dapat menimbulkan terjadinya resistensi herbisida oleh spesies gulma
tertentu. Pada tahun "#$# di 2uda ;rea, 2alaysia, biotipe Dimbristylis
miliacea ditemukan resisten terhadap 6,0 D setelah herbisida tersebut dipakai
terus+menerus sejak tahun "#)*. Spesies ini dapat dikendalikan apabila
diaplikasi dengan 6,0 D amine dosis ": kali dari dosis rekomendasi. Fesistensi
tersebut juga termasuk herbisida fenoksi lainnya seperti 6,0 D isobutyl ester,
6,0 D garam sodium dan 2.P; (!o, "##63 9atanabe et al., "##0). 4ukan
hanya itu, tapi juga muncul padi liar (&ild rice) yang lebih sukar dikendalikan.
Di 2alaysia, petani dianjurkan untuk melaksanakan P/T sejak musim
tanam "#$#. 7nfestasi spesies Echinochloa cr!#alli dan Echinochloa
colona,
gulma rumput yang tumbuh dominan menurun ::-, sedangkan hasil panen
meningkat 6)- bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dilaporkan
bah&a pemakaian herbisida berkurang apabila pengolahan tanah lebih
sempurna. !erbisida diaplikasi hanya satu kali pada tanah+tanah yang diolah
sempurna, tetapi aplikasi herbisida dilakukan %+0 kali pada tanah+tanah yang
diolah tidak sempurna.
;plikasi herbisida tertentu secara terus+menerus dalam jangka &aktu lama
berpeluang menimbulkan gejala resistensi gulma terhadap herbisida yang
bersangkutan. <ntuk mencegah terjadinya resistensi gulma terhadap herbisida
tertentu, (im ("##:) menyarakan hal+hal berikut.
+ Fotasi tanaman, ini berarti pemakaian herbisida juga berlainan sesuai
dengan komoditas tanamannya sehingga menghambat resistensi.
+ Fotasi herbisida, karena setiap herbisida mempunyai mode of action yang
berbeda.
+ Penggunaan herbisida yang mempunyai lebih dari satu bahan aktif.

+ Penggunaan dosis herbisida yang rendah sampai sedang bergantian untuk
menunda eAolusi resistensi.
+ Penggantian cara tanam antara tabela (tanam benih langsung) dan tapin
(tanam pindah) setiap tahun.
+ 7ntegrasi sistem “pengendalian gulma tidak langsung yang saling
kompatibel dengan sistem “pengendalian gulma langsung akan mempunyai
daya berantas yang semakin tuntas.
Pengalaman terjadinya ledakan infestasi gulma, termasuk padi liar
(3ild rice) yang dialami oleh ;merika Serikat, 2alaysia, Srilanka,
Hietnam, dan Thailand berkaitan dengan penerapan sistem tabela dapat
dijadikan pelajaran. !al tersebut antara lain adalah perlunya suatu rencana
pengendalian gulma sea&al mungkin pada tanaman yang diusahakan.
Penundaan pelaksanaan penyiangan sering menjadikan masalah gulma semakin
serius. ;kibatnya, pengendalian gulma tidak perlu dilakukan karena secara
ekonomis tidak lagi menguntungkan. Bleh sebab itu, suatu pengetahuan
mendalam tentang gulma dapat dilakukan dengan mensurAei dan mencatat
spesies gulma yang tumbuh sebelum tanam, di saat padi berkecambah, pada
&aktu pertengahan musim tanam dan pada saat panen. .atatan ini perlu untuk
mengeAaluasi efikasi dari komponen teknologi pengendalian gulma yang
diterapkan. Selanjutnya suatu perencanaan yang lebih matang tentang rencana
teknik pengendalian gulma, termasuk rotasi tanaman pada musim tanam
berikutnya perlu dimatangkan supaya lebih sinergi, kompatibel dan efektif
(1yarko dan De Datta, "##").