You are on page 1of 24

RESIKO JATUH

A. Pengertian
Menurut Reuben (1996) dalam Nugroho (2000), jatuh adalah suatu
kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang
mengakibatkan seseorang mendadak terbaring atau terduduk di lantai atau
tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.
Roboh atau tiba-tiba jatuh merupakan kejadian yang sering dialami dan
dikeluhkan oleh para lanjut usia ( lansia ). Mereka tidak sadar bahwa hal itu
tiba-tiba saja datang tanpa merasakan gejala sebelumnya. Biasanya lansia yang
roboh terjerembab (tergeletak di tanah atau pada tingkat yang lebih rendah)
secara tidak disengaja (Probosuseno, 2006).
Jatuh terjadi ketika sistem kontrol postural tubuh gagal mendeteksi
pergeseran dan tidak mereposisi pusat gravitasi terhadap landasan penopang
pada waktu yang tepat untuk menghindari hilangnya keseimbangan. Kegagalan
ini antara lain disebabkan oleh pergeseran pusat gravitasi tubuh yang besar,
cepat, dan terjadi tiba-tiba; gangguan lingkungan; serta faktor intrinsik seperti
hilangnya fungsi yang esensial untuk mendeteksi gerakan pusat gravitasi tubuh,
gangguan kemampuan sistem saraf pusat untuk mengorganisasi dan
menghantarkan respon postural yang tidak efektif akibat terganggunya sistem
neuromuskular, gaya berjalan abnormal, refleks postural tidak memadai,
instabilitas sendi, dan kelemahan otot (Sudoyo, 2006).


a. Keseimbangan
Keseimbangan merupakan proses kompleks yang melibatkan
penerimaan dan integrasi input sensorik serta perencanaan dan pelaksanan
gerakan untuk mencapai tujuan yang membutuhkan postur tegak; suatu
kemampuan untuk megontrol pusat gravitasi tetap berada di atas landasan
penopang.
Menurut Sudoyo (2006), derajat stabilitas tubuh tergantung pada
empat faktor yaitu; tinggi pusat gravitasi di atas landasan penopang,
besarnya ukuran landasan penopang, lokasi garis gravitasi pada landasan
penopang, dan berat badan. Stabilitas lebih baik bila pusat gravitasi
rendah, landasan penopang yang lebar, garis gravitasi berada di tengah
landasan, dan berat badan yang besar.
Untuk mempertahankan keseimbangan, tubuh secara konstan
mengubah dan mengkoreksi posisi pusat gravitasi terhadap landasan
penopang, yang disebut sebagai ayunan postural (postural sway). Kontrol
ayunan postural berasal dari input visual, vestibular, preprioseptif, dan
organ eksteroseptif.
b. Kontrol Postural
Kontrol postural meliputi kontrol posisi tubuh untuk stabilitas
sehingga keseimbangan tubuh dapat dipertahankan dan untuk orientasi
agar hubungan yang tepat antar segmen tubuh serta antara tubuh dan
lingkungan saat melakukan kegiatan dapat dipertahankan. Kemampuan
untuk mengontrol posisi tubuh dalam ruang merupakan suatu interaksi
kompleks dari sistem saraf dan muskuloskeletal yang kesemuanya dikenal
sebagai sistem kontrol postural. Yang termasuk dalam kompenen saraf
adalah proses motorik (neuromuskular), proses sensorik (sistem visual,
vestibular, dan somatosensorik), dan proses integratif sistem saraf pusat.
Sedangkan komponen muskuloskeletal antara lain meliputi lingkup gerak
sendi, fleksibelitas tulang belakang, otot dan, hubungan biomekanik antar
segmen tubuh (Sudoyo, 2006).
B. Perubahan Akibat Proses Menua Yang Berkaitan dengan Instabilitas dan
Jatuh
Menurut Sudoyo (2006), perubahan-perubahan terkait penuaan
terhadap instabilitas dan jatuh antara lain:
1. Latensi mioelektik atau waktu pramotor lebih lambat
Latensi mioelektik atau waktu pramotor adalah keterlambatan antara
stimulus yang diberikan hingga timbulnya perubahan pertama dari aktivitas
mioelektik otot yang dapat diukur. Aktivitas mioelektik berkaitan dengan
sinyal elektik yang dikirim melalui saraf untuk memulai atau
memodifikasikan proses kontraksi otot. Pada usia lanjut latensi mioelektrik,
10-20 milidetik lebih lama dibandingkan pada dewasa muda, tanpa ada
perbedaan antara jenis kelamin.
2. Menurunnya proprioseptif
Proprioseptif berkaitan dengan kesadaran mengenai orientasi dan
posisi segmen tubuh. Sistem proprioseptif yang memberikan informasi ke
saraf pusat mengenai posisi tubuh melalui sendi, tendon, otot, ligamen, dan
kulit, mengalami gangguan akibat penuaan sehingga turut berperan pada
terjadinya gangguan keseimbangan.
3. Menurunnya lingkup gerak sendi
Lingkup gerak sendi menurun dengan bertambahnya usia. Penurunan
lingkup gerak sendi tersebut akan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
melaksanakan aktivitas tertentu yang memang membutuhkan lingkup gerak
sendi yang baik.
4. Melemahnya kekuatan otot
Pada lansia cenderung kehilangan puntiran sendi (torque) pada
kecepatan tinggi untuk menghasilkan kekuatan otot yang besar, karena
hilangnya motor unit secara ireversible sejalan dengan bertambahnya usia.
5. Menurunnya massa otot
Penurunan massa otot merupakan penyebab langsung menurunnya
kekuatan otot. Perubahan massa otot terjadi karena gangguan pada sintesis dan
degradasi protein. Pada lansia proses ini dipengaruhi oleh wasting yaitu proses
pemecahan protein sel (hiperkatabolisme) untuk memenuhi kebutuhan asam
amino bagi sisntesis protein dan metabolisme energi pada kondisi asupan
kalori yang tidak adekuat dan kondisi sakit, serta sarkopenia yakni penurunan
massa otot dan kekuatan otot yang berjalan paralel pada lansia yang sehat.
6. Defisiensi vitamin D
Vitamin D akan mencegah terjadinya fraktur melalui 2 cara; dengan
memperbaiki fungsi muskuloskeletal dan dengan meningkatkan homeostasis
kalsium. Beberapa penelitian memunjukkan bahwa vitamin D berperan dalam
meningkatkan kekuatan otot, fungsi otot, koordinasi neuromuskular, dan
vitalita secara umum sehingga kecenderungan untuk jatuh menurun.
7. Perubahan postur tubuh
Tubuh menjadi lebih pendek dan kepala lebih maju ke depan.
Perubahan tersebut berkaitan dengan proses penuaan pada sistem
muskuloskeletal, yang antara lain berupa berkurangnya densitas massa tulang,
degenerasi diskus vertebra, dan hilangnya kekuatan ligamentum spinal.
8. Perubahan gaya berjalan
Perubahan gaya berjalan terjadi seiring dengan meningkatnya usia.
Kendati perubahan tersebut tidak terlalu menonjol untuk dianggap patologis,
kondisi perubahan gaya berjalan tersebut dapat meningkatkan kejadian jatuh.
Pada umumnya lansia tidak dapat mengangkat atau menarik kakinya cukup
tinggi sehingga cenderung mudah terantuk (trip). Lansia laki-laki cenderung
memiliki gaya berjalan dengan kedua kaki melebar dan langkah pendek-
pendek, sedangkan lansia perempuan seringkali berjalan dengan kedua kaki
menyempit dan gaya jalan bergoyang-goyang.
9. Gangguan visual
Gangguan keseimbangan akan terjadi bila informasi visual terganggu.
Stabilitas orang berusia lebih dari 60 tahun berkurang 50% pada saat kedua
mata ditutup. Ketajaman penglihatan yang kurang pada lansia berkorelasi
secara bermakna dengan peningkatan insidens jatuh dan ayunan postural pada
pijakan yang lunak.

10. Gangguan sistem vestibular
Sistem vestibular juga mengalami gangguan seiring dengan penuaan
berupa proses degeneratif pada utrikulus dan sakulus sehingga terjadi
penurunan kemampuan bereaksi terhadap gravitasi dan percepatan linier.
11. Hipotensi ortostatik
Hipotensi ortostatik adalah menurunnya tekanan darah sistolik 20
mmHg atau lebih ketika berubah posisi dari berbaring ke berdiri, terjadi pada
11-30% orang usia lanjut. Walaupun tidak semua hipotensi ortostatik
bergejala, respon fisiologis yang terganggu tersebut dapat berperan dalam
gangguan keseimbangan dan memicu terjadinya jatuh.
12. Meningkatnya kondisi patologis
Beberapa kondisi patologis yang meningkatnya prevalensi sejalan
dengan meningkatnya usia turut berperan terhadap terjadinya instabilitas dan
jatuh. Kondisi patologis tersebut antara lain; penyakit sendi degeneratif, patah
tulang panggul dan femur, stroke dengan gejala sisa, kelemahan otot akibat
tidak digunakan, neuropati perifer, penyakit atau deformitas kaki, gangguan
penglihatan, gangguan pendengaran, demensi, proses penyakit lain (penyakit
kardiovaskular, parkinsonisme, dan lain-lain).

C. Komplikasi
Menurut Nugroho (2000), komplikasi yang sering terjadi, antar lain:
a. Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau
tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena.
b. Patah tulang (fraktur)
Fraktur yang sering terjadi yaitu patah tulang panggul, vertebra, lengan
bawah, pelvis, dan persendian kaki. Patah tulang tersebut merupakan
penyebab utama, kesakitan, kematian, dan pengeluaran biaya untuk pelayanan
kesehatan dan sosial orang usia lanjut yang bersangkutan. Hampir 50% pasien
pasca tulang panggul menjadi lebih tergantung pada bantuan pendamping,
orang lain atau keluarga dan biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit
(Sudoyo, 2006)
c. Hematoma atau kumpulan dari darah diluar pembuluh darah.
d. Disabilitas/kecacatan
1) Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik.
2) Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan
pembatasan gerak
e. Kematian dan kesakitan
Kematian dan kesakitan yang terjadi akibat patah tulang umumnya disebabkan
oleh komplikasi akibat patah tulang dan imobilisasi yang ditimbulkan .
Beberapa diantara komplikasi tersebut adalah timbulnya dekubitus akibat tirah
baring berkepanjangan, perdarahan, trombosis vena dalam dan emboli paru,
infeksi pneumonia atau infeksi saluran kemih akibat tirah baring lama,
gangguan nutrisi dan sebagainya (Sudoyo,2006)

D. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Jatuh
Terdapat banyak faktor yang berperan untuk terjadi instabilitas dan jatuh
pada lansia. Nugroho (2000), faktor penyebab jatuh diklasifikasikan menjadi dua
yaitu;
1. Faktor instrinsik (faktor resiko yang ada pada pasien)
Menurut Sudoyo (2006), yang termasuk dalam faktor instrinsik antara lain:
1) Sinkop, hilangnya kesadaran mendadak. Beberapa penyebab sinkop pada
lansia yang perlu dikenali antara lain; respon vasovagal, gangguan
kardiovaskuler (bradi dan takiaritmia, stenosis aorta), gangguan neurologis
akut (stroke atau kejang), emboli paru dan gangguan metabolik.
2) Drop attacks, merupakan kelemahan tungkai bawah mendadak yang
menyebabkan jatuh tanpa kehilangan kesadaran. Kondisi tersebut sering
kali dikaitkan dengan insufisiensi vertebrobasiler yang dipicu oleh
perubahan posisi kepala.
3) Dizziness atau rasa tidak stabil, merupakan keluhan yang sering diutarakan
oleh lansia yang mengalami jatuh. Kondisi ini dikaitkan dengan kelainan
pada telinga bagian dalam seperti; labirinitis, penyakit Meniere, dan
benign paroxysmal positional vertigo (BPPV). Iskemia dan infark
vertebrobasiler serta infark serebelum juga dapat menyebabkan vertigo.
Kebanyakan pasien usia lanjut dengan gejala dizziness merasa cemas,
depresi, sangat takut jatuh, sehingga evaluasi gejala mereka menjadi sulit.
4) Hipotensi ortostatik, beberapa kondisi dapat menyebabkan hipotensi
ortostatik yang dapat memicu timbulnya jatuh. Kondisi-kondisi tersebut
antara lain curah jantung rendah akibat gagal jantung atau hipovolemia,
disfungsi otonom (sebagai akibat diabetes melitus), gangguan aliran balik
vena, tirah baring yang lama dengan deconditioning otot dan reflek serta
beberapa obat. Hubungan hipotensi ortostatik dengan hipertensi perlu
dipahami sehingga tatalaksana hipertensi yang baik amat diperlukan untuk
mencegah timbulnya hipotensi ortostatik tersebut.
5) Berbagai penyakit, terutama penyakit kardiovaskuler dan neurologis.
Penyakit kardiovaskuler seperti; artmia, penyakit katup jantung (stenosis
aorta), sinkop sinus karotid. Sedangkan penyakit neurologis seperti; strok
akut, gangguan kejang, penyakit Parkinson, spondilosis lumbar atau
cabang saraf), penyakit serebelum, hidrosefalus tekanan normal (gangguan
gaya berjalan), lesi sistem saraf pusat (tumor, hematom subdural).
2. Faktor ekstrinsik (faktor yang terdapat di lingkungan)
Menurut Nugroho (2000), ada berbagai faktor ekstrinsik antara lain:
1) Cahaya ruangan
Pencahayaan yang adekuat akan mengurangi bahaya fisik dengan
cara menerangi tempat klien bergerak dan bekerja. Di luar rumah harus
ada pencahayan yang adekuat misalnya di trotoar. Pencahayaan di luar
ruangan juga akan membantu melindungi rumah dan lingkungan disekitar
dari kejahatan. Di dalam rumah, gang, tangga, dan ruangan individu harus
diberikan pencahayaan yang adekut sehingga penghuninya dapat
melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dengan aman. Pencahayaan
buatan harus berupa cahaya cahaya yang lembut dan tidak menyilaukan
mata, karena cahaya yang menyilaukan adalah salah satu masalah utama
yang dihadapi lansia (Potter dan Perry, 2005).
Untuk mendapatkan nuansa relaksasi yang maksimal maka
penggunaan pencahayaan alami sangat dominan terutama untuk area santai
(Desi, 2009).
Menurut Kuswardhani (2008), penggunaan cahaya alami lebih
dianjurkan untuk mengurangi fenomena silau. diantaranya tidak ada
permukaan yg memantulkan cahaya sehingga menyebabkan silau atau
bayangan, tinggi lokasi penempatan jendela ≥ 1,70 m dari permukaan
lantai, penyediaan sistem tabir sinar matahari pada jendela yg menghadap
ke timur maupun ke barat, menggunakan penerangan yang seragam di
dalam kamar dan koridor ruangan. Penerangan sebaiknya menggunakan
lampu pijar bukan lampu neon karena efeknya kurang baik. Jika
menggunakan lampu tidur sebaiknya sinar dari belakang, sehingga pada
saat pasien melek tidak silau dan tidak terkejut.
Penerangan dalam ruang harus cukup kuat, sekitar 200-300 watt.
Bila memungkinkan, dianjurkan memasang lampu baca di dekat meja
telepon dan tempat tidur. Jadi, bila sewaktu-waktu ingin melihat nomor
telepon atau alamat di meja, lansia tak perlu minta tolong. Sebab, dengan
lampu baca tersebut, lansia bisa membacanya dengan jelas. Penerangan di
kamar sebaiknya dua, yaitu penerangan utama dan lampu baca. Posisi
lampu baca dianjurkan dekat tempat tidur. Jadi, lansia tidak sulit
menyalakan dan mematikan lampu (Satyawati, 2010).
Umumnya lansia berkaitan dengan penurunan ketajaman
penglihatan, adaptasi gelap yang lambat dan persepsi yang menurun.
Rekomendasinya adalah tidak boleh ada permukaan yang memantulkan
cahaya sehingga menyebabkan silau atau bayangan. Mengurangi
perbedaan antara dalam dan luar ruangan serta menggunakan penerangan
yang seragam antara di dalam kamar dan koridor (Kuswardhani, 2008).
2) Keadaan lantai
Lantai yang licin dan tidak rata adalah salah satu penyebab jatuh
pada lansia. Permukaan lantai tidak boleh basah atau licin. Jika ada cairan,
minyak, atau makanan yang tercecer di lantai segera di bersihkan. Lantai
rumah juga dibersihkan dengan cairan pembersih yang tidak licin
(Suwarsa, 2006).
Mempertimbangkan pengguna kursi roda pada lansia sehingga
perbedaan ketinggian lantai dilengkapi dengan ramp, lantai cenderung
datar dan mengikuti eksisting yang sudah ada. Pola : Cenderung
memberikan tanda dalam hal perbatasan area sehingga membantu lansia
mengenali daerah dimana ia berada. Bahan : menggunakan keramik
bermotif batu batuan untuk memberikan nuansa yang dekat dengan alam.
Untuk area ramp dipilih rubber sheet yang bertekstur dan aman bagi
lansia.
Warna : untuk menghasilkan sebuah ruangan yang terkesan ringan, maka
lantai sebagai bidang paling bawah diberi warna yang dapat menimbulkan
kesan kuat untuk dipijak (Desi, 2009).
Pemakaian keramik sebagai penutup lantai merupakan terapan
pemakaian keramik yang paling dominan. Ada tiga aspek yang menjadi
pertimbangan ketika memutuskan pilihan keramik sebagai penutup lantai,
yaitu fungsi ruangan, benda apa saja yang akan diletakkan diatasnya dan
perlakuan apa saja yang dialami lantai tersebut.
Untuk rumah tinggal kita bisa membedakan area ruangan
berdasarkan fungsinya. Misalnya di dapur,tidak menghambat gerak ketika
beraktivitas. Kamar mandi merupakan area yang paling basah dan lembab.
Keramik penutup lantai yang memiliki tingkat porisitas 0 % merupakan
pilihan terbaik untuk area ini.
Dalam proses pemeliharaannya, lantai yang sering diberi perlakuan
khusus untuk membersihkan lantai cenderung lebih mudah menjadi licin.
Itu sebabnya untuk area-area yang tingkat aktivitasnya tinggi perlu
diimbangi dengan pemakaian keramik lantai yang berstruktur sehingga
membantu mengurangi tingkat kelicinannya (Arjon, 2007).
Menurut Annisa (2009), beberapa material yang sering digunakan
sebagai lantai antara lain:
i. Keramik, soal harga material keramik relatif terjangkau. Selain itu
ketersediaannya di pasar pun banyak. Kelebihannya antara lain, kedap
air dan mudah dibersihkan.
ii. Marmer, jika menginginkan tampilan yang mewah, anda bisa memilih
marmer. Urat pada marmer memberikan tampilan yang menarik. Jika
memutuskan untuk menggunakan marmer, pilihlah yang berwarna
gelap. Karena marmer memiliki pori-pori yang dapat menyerap noda
akibat tumpahan kopi atau bahan kimia. Kelemahan dari material ini
adalah tidak tahan terhadap goresan.
iii. Granit, pori-pori granit lebih kecil dibandingkan pori-pori pada
marmer. Permukaannya mengilap dan berbintik-bintik kecil. Granit
juga lebih tahan terhadap benturan. Ikatan molekulnya yang padat
membuat granit tahan terhadap goresan. Harganya pun lebih mahal
dibandingkan keramik dan marmer.
iv. Batu sabak (slate), batu ini lebih populer dengan sebutan batu templek
atau batu kali. Permukaannya berwarna gelap. Batu sabak memiliki
daya porositas (daya serap air) yang cukup tinggi. Batu ini cocok bagi
yang menginginkan tampilan dapur yang alami. Namun hati-hati,
karena permukaannya cenderung licin jika terkena minyak.
3) Kamar Mandi
Lantai kamar mandi perlu dibuat bertekstur untuk mengurangi licin.
Terutama jika di rumah ada anak kecil atau orang tua. Yang membuat
terpeleset, yaitu jika berjalan di lantai yang licin. Maka, permukaan lantai
yang kasar seperti keramik bertekstur atau batu alam seringkali dijadikan
pilihan. Namun, setiap material selalu memiliki kelebihan dan kekurangan
(Dwimirnani, 2010).
Syarat mutlak untuk lantai kamar mandi adalah material dengan
permukaan kasar atau kesat agar mengurangi risiko terpeleset. Umumnya,
pilihan jenis lantai, jatuh pada keramik bertekstur, batu kali, karet. Karet
yang juga dikenal sebagai rubber. Sifatnya yang elastis dan lunak lebih
ramah di kaki. Pola ini antara lain berfungsi sebagai anti selip. Keramik
bertekstur memerlukan tenaga lebih dalam pembersihannya.
Permukaannya yang tidak rata membuat kotoran yang menempel lebih
banyak dan lebih lekat. Apalagi, jika menggunakan batu alam. Tak hanya
repot membersihkan, kita pun perlu menjaga agar tak tumbuh jamur atau
lumut. Terutama, jika kamar mandi banyak tersorot sinar matahari
langsung (Dwimirnani, 2010).
Bentuk kamar mandi khusus sebaiknya dibuat untuk keperluan
lansia, misalnya bak kamar mandi tidak terlalu dalam, tidak menggunakan
tangga atau tanjakan. Demikian pula jamban dibuatkan sehinga mudah
digunakan mereka dan pada dinding sebaiknya ada pegangan. Bila fasilitas
terpenuhi mereka akan merasa aman dan bahaya pun akan berkurang
(Kuntjoro, 2002).
Kloset yang baik digunakan adalah jenis kloset duduk untuk
mengurangi tingkat kelelahan bila berjongkok. Kran yang digunakan
merupakan kran dengan handel bergagang dan terbuat dari logam
bertekstur. Yang paling penting adalah pegangan tangan. Adapun
pemasangan hand railing berguna jika lantai kamar mandi dalam keadaan
licin, maka para lansia tidak akan kehilangan keseimbangan tubuhnya dan
terjatuh. Lantai yang cocok digunakan dalam kamar mandi merupakan
keramik jenis mozaik (Puspita dan Putra, 2008).
Banyak jenis noda yang bisa melekat di keramik kamar mandi. Hal
ini mengakibatkan keramik menjadi licin, kusam atau bahkan berubah
warna. Menurut Latief (2007), solusi membersihkan kamar mandi antara
lain:
a) Sebaiknya merawat keramik kamar mandi dengan berskala atau rutin.
Perawatan kamar mandi yang rutin bisa menghindari noda bahkan
jamur melekat di keramik. Noda atau jamur yang tidak terlalu lama
menempel pada keramik, akan mudah untuk membersihkannya.
b) Pilih alat pembersih yang sesuai dengan jenis keramik dan jenis noda
melekat pada keramik. Gunakan spons untuk keramik yang tidak
berstruktur atau sikat yang lembut untuk material keramik yang
berstruktur. Jangan menggunakan sikat yang bahannya terlalu kaku,
sehingga malah bisa menyebabkan goresan pada keramik. Goresan-
goresan pada keramik inilah yang membuat keramik terlihat kusam.
c) Pilih bahan pembersih yang tepat yang sesuai dengan noda yang akan
dihilangkan. Gunakanlah bahan ini sesuai dengan takaran yang sudah
ditentukan. Soalnya ada beberapa bahan kimia pembersih yang
memiliki kadar kimia yang tinggi yang bisa merusak warna dan glazur
keramik. Ini bisa membuat keramik tidak bertahan lama.
d) Keringkan kamar mandi setalah digunakan. Ini adalah langkah yang
paling tepat untuk merawat keramik kamar mandi, karena jamur
ataupun noda tidak cepat melekat pada keramik.
4) Tersandung benda-benda
Jatuh yang terjadi di rumah seringkali disebabkan oleh berbagai
benda, tersandung pinggiran karpet dan pintu, termasuk keset yang ada di
tangga dan lantai, kain yang kusut di samping meja,dan lain-lain. Jika
menggunakan keset, maka keset itu harus di lindungi dengan alas yang
tidak licin atau bahan perekat yang tahan licin. Keset dan alasnya tidak
boleh digunakan di tangga. Penggunaan karpet pada tangga harus
dilindungi dengan paku karpet, direkatkan dengan lem atau isolasi yang
erat.
Untuk mengurangi resiko cedera, seluruh penghalang fisik harus
dipindahkan dari gang dan tempat lalu lalang lainnya. Benda-benda yang
dibutuhkan, misalnya kacamata harus diletakkan di meja samping tempat
tidur dalam jangkauan klien. Perawatan juga harus dilakukan untuk
memastikan bahwa ujung meja telah aman dan meja mempunyai kaki meja
yang stabil dan lurus. Benda-benda yang tidak penting harus diletakkan
dalam laci untuk mengeliminasi kekacauan (Potter dan Perry, 2005).
5) Alas kaki
Salah satu alas kaki yang baik untuk usia lanjut adalah alas kaki
yang bahannya terbuat dari karet atau antiselip dan lentur sehingga
memudahkan lansia dalam beraktivitasndan kepada lansia dianjurkan agar
tidak menggunakan lagi sandal yang sudah lapuk atau aus yang terasa
tidak nyaman lagi sewaktu dipakai untuk berjalan. Hal tersebut sangat
beresiko terhadap terpeleset dan jatuh. Oleh karena itu pilihlah alas kaki
yang sesuai dan nyaman digunakan (Warrior, 2009).
Menurut Suwarsa (2006), alas kaki yang sesuai untuk lansia adalah
antara lain sebagai berikut: alas kaki yang terbuat dari kulit. Bahan kulit
cenderung mengikuti bentuk kaki dan memberikan kesempatan kaki untuk
bernafas, alas kaki yang bersol kuat dan fleksibel dan tidak licin
permukaannya, hindari menggunakan alas kaki yang berhak tinggi,
sebaiknya coba setiap alas kaki yang akan dibeli, apakah nyaman
digunakan, hindari alas kaki yang terlalu sempit, harus dapat
menggerakkan jari kaki pada bagian depan alas kaki, bagian depan kaki
tidak boleh jauh lebih lebar dibandingkan alas kaki, tumit harus dapat
masuk dengan nyaman. Bagian kaki (yang melengkung) tidak boleh
terlihat dari luar.
6) Turun tangga
Tangga merupakan elemen yang berfungsi sebagai tumpuan untuk
naik turun atau tumpuan memanjat. Karena fungsinya untuk ditapaki maka
desain tangga harus dibuat dengan struktur dan material yang kuat
(Pratomo, 2008).
Kebutuhan akan tangga rumah tingkat tidak akan lepas dari
kebutuhan akan tangga yang berfungsi sebagai sarana yang
menghubungkan bagian rumah di lantai bawah dan lantai atas. Tangga
yang ideal untuk tangga rumah bertingkat, harus memenuhi syarat
keamanan, kenyamanan dan estetika. Memenuhi syarat keamanan berarti
memiliki konstruksi yang kokoh sehingga mampu menampung beban
manusia yang menggunakan tangga. Sebuah tangga dikatakan aman, juga
bila dapat meminimalisir kecelakaan pengguna saat menapakinya.
Secara umum, aspek kenyamanan diukur dari kemudahan dan rasa
nyaman saat menaiki atau menuruni tangga. Tangga yang tidak nyaman
akan membuat lebih cepat lelah, karena membutuhkan energi banyak saat
naik dan turun. Selain itu, tangga yang terlalu sempit juga akan
mengganggu sirkulasi gerak. (Fardhani, 2010).
Menurut Nugroho (2000), mudah lelah adalah masalah fisik sehari-
hari yang sering ditemukan pada lansia. Hal ini disebabkan oleh antara
lain:
a) Faktor psikologis (perasaan bosan, keletihan, atau perasaan depresi).
b) Gangguan organis, misalnya: Anemia, kekurangan vitamin, perubahan
pada tulang (osteomalasia), gangguan pencernaan, kelainan
metabolisme (diabetes melitus, hipertiroid), gangguan ginjal dengan
uremia/gangguan faal hati dan gangguan sistem peredaran darah dan
jantung.
c) Pengaruh obat-obatan, misalnya: obat penenang, obat jantung dan obat
yang melelahkan daya kerja otot.
Kenyamanan menapaki tangga ditentukan dari kemiringannya.
Besar kecil kemiringan dipengaruhi oleh tinggi dan lebar anak tangga.
Tangga akan curam bila ketinggian anak tangganya besar. Demikian juga
tangga yang landai bila lebar anak tangganya besar. Ketinggian anak
tangga yang ideal berkisar 14 cm-22 cm dan lebar anak tangga 20 cm-33
cm. Sedangkan lebar tangga harus bisa dilalui minimal dua orang atau
lebarnya kurang 1 meter (Pratomo, 2008).
Menurut Pratomo (2008) secara umum ada 4 bentuk anak tangga
yaitu:

a) Tangga lurus
Tangga lurus adalah bentuk tangga yang anak tangganya menumpuk di
atas anak tangga yang lain dan lurus tanpa ada belokan. Bentuk tangga
ini cocok jika ruang tangganya luas.
b) Tangga putar
Tanga putar adalah bentuk tangga yang anak tangganya memutar pada
poros/tiang/kolom. Anak tangga menempel dan terikat pada kolom
yang terdapat di tengah-tengah lingkaran tangga. Dari sisi
kenyamanan, bentuk tangga ini, bentuk tangga ini terlihat kurang
karena ketika menaiki atau menuruni tangga harus berputar. Namun
dari sisi efisiensi, bentuk tangga putar sangat hemat ruang tangga.
c) Tangga bentuk L dan U
Untuk tangga bentuk L dan U pada dasarnya bentuknya hampir sama
yaitu memiliki belokan. Kedua bentuk ini umumnya diletakkan
berdekatan dengan dinding dan memiliki bordes. Fungsi bordes adalah
tempat berbelok dan tempat beristirahat ketika menapaki tangga.
Menurut Johanna Erly W dari redaksi Serial Rumah (Gramedia), ada
beberapa elemen yang perlu di perhatikan sebelum merencanakan
membuat tangga yaitu :
a) Jumlah atau berat beban yang dipikul
Beban tangga dapat dihitung dari dua hal yaitu beban mati dan
beban hidup. Beban mati yaitu berat dari material tangga dan
finishingnya (beban konstruksi). Beban hidup yaitu beban yang
dihitung dari semua yang akan melewati tangga. Adapun syarat beban
yang ideal untuk tangga adalah 300 kg/m2 (meliputi beban konstruksi
dan beban orang).
b) Jenis tangga berdasarkan fungsi
Kebutuhan akan fungsi tangga rumah tingkat akan optimal jika kita
memiliki desain yang tepat. Karena itu, penting sekali jika kita
memiliki data kebutuhan sebagai berikut :
Siapa saja yang akan menggunakan tangga.
Tangga yang digunakan untuk anak-anak dan manula membutuhkan
pengamanan khusus. Seperti halnya pada rumah perawatan usia lanjut,
anak tangga mempunyai pegangan tangan di pinggir tangganya, anak
tangga juga diberikan tanda (diberi warna) atau diberi penerangan yang
jelas atau cukup sehingga memudahkan usia lanjut dalam mengakses
tangga-tangga yang ada di rumahnya (Potter dan Perry, 2005).
Apa saja yang dibawa saat menaiki tangga.
Hal ini untuk mengetahui lebar tangga yang dibutuhkan sehingga dapat
memuaskan aktivitas anda.
Seberapa sering tangga itu digunakan. Jika merupakan satu-satunya
akses menuju lantai atas maka harus diletakkan di tempat yang mudah
dijangkau untuk semua.
c) Jenis material yang akan digunakan, misalnya: kayu, beton, besi dan
baja.
Ketika memilih menggunakan kayu sebagai material utama tangga
sebaiknya perhatikan jenis kayu dan ukuran kayu yang dipakai. Jenis
ini akan berpengaruh terhadap kekuatan tangga. Jika kayu tidak kuat
menahan beban maka bisa membahayakan orang ketika menapaki
tangga. Idealnya, jenis kayu yang digunakan adalah jenis kayu dari
kelas kayu pertamaseperti kayu jati, atau kelas dibawahnya seperti
kayu kamper.
Detail tangga kayu akan berbeda dengan tangga dari beton maupun
baja. Salah satu detil yang membedakan adalah pada bagian
sambungan. Sambungan pada tangga kayu menggunakan paku. Untuk
merekatkan sambungan, biasanya kayu yang akan disambung
dibuatkan dilubang penjepit. Dengan sambungan seperti ini,
sebenarnya kekuatan sambungan menjadi terbatas sehingga tak sekuat
seperti tangga beton atau baja. Sambungan pada tangga beton
umumnya tidak terlihat karena sambungan-sambungan tersebut dicor
menjadi satu dan diperkuat dengan adanya tulangan baja. Sedangkan
pada tangga baja, sambungan antar elemen tangga menggunakan las
(Pratomo, 2008).
6) Obat-obatan juga dapat mejadi penyebab jatuh pada lansia, misalnya obat
diuretik yang dapat menyebabkan seseorang berulang kali ke kamar mandi
untuk buang air kecil atau efek mengantuk dari obat sedatif sehingga
seseorang menjadi kurang waspada saat berjalan.


E. Pencegahan
Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila
sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.
Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : (Tinetti, 1992; Van-
der-Cammen, 1991; Reuben, 1996):
1. Identifikasi faktor resiko
Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya
faktor intrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik,
neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering
mendasari/menyebabkan jatuh.
Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan
jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak
menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil
yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk,
dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya
diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalannya aktifitas
lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada
dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk
dan diberi pegangan di dinding.
Obat-obatan yang menyebabkan hipotensi postural, hipoglikemik atau
penurunan kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan dengan penjelasan
yang komprehensif pada lansia dan keluargannya tentang risiko terjadinya
jatuh akibat minum obat tertentu.
Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod,
kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak
mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.
Olahraga seimbang sesuai dengan kemampuan dapat memperbaiki
stamina dan ketahanan otot. Kebiasaan baik ini tidak hanya mencegah, tapi
juga menghindarkan resiko cedera berat bila terjatuh (Suwarsa, 2006).
b. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan (gait)
Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya
dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural
sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila
goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan
bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan (gait) juga
harus dilakukan dengan cermat apakah penderita mengangkat kaki dengan
benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita
cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila
terdapat kelainan/penurunan.
c. Mengatasi faktor situasional
Faktor situasional yang bersifat serangan akut/eksaserbasi akut,
penyakit yang diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin
kesehatan lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat
dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas.
Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan
kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik
seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh
melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan
kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka
dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik sangat melelahkan atau
beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.