EPISTEMOLOGI

:
PROSES PEMBENTUKAN ILMU

Oleh:
ALIFIAN NUGRAHA 140920101007
ENNY ROSEITA HADI 140920101007
RATIH OCTAVIRI YOSITA 140920101007
1. KONSTRUKTIVISME INDIVIDUAL DAN
SOSIAL
Epistemologi fokus pada telaah tentang bagaimana cara ilmu pengetahuan
memperoleh kebenarannya atau bagaimana cara mendapatkan pengetahuan yang
benar atau bagaimana seseorang itu tahu apa yang mereka ketahui dengan
“How” sebagai kata kuncinya.
a. Pendekatan konstruktivisme
 - Konstruktivisme individual ( individual constructivism )
 - Konstruktivisme sosial
b. Pendekatan Memetik
2. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI

- Berasal dari bahasa yunani yaitu episteme artinya pengetahuan dan logos
dipakai untuk menunjukan pengetahuan yang sistematik.
- Epistemologi adalah pengetahuan sitematik tentang pengetahuan. Epistemologi
merupakan disiplin filsafat yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan
tentang pengetahuan.
- Pengetahuan ada pengetahuan ilmiah dan pengetahuan pra-ilmiah:
 a. Pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif, sistematis.
 b. Pengetahuan pra-ilmiah diperoleh secara sadar dan aktif namun bersifat
acak.
Epistemologi secara sederhana dapat didefinisukan
sebagai cabang filsafat yang mengkaji asal mula, struktur,
metode, dan validity pengetahuan. Epistemology berkaitan
dengan masalah-masalah yang meliputi :
 a. Filsafat, yaitu sebagai cabang filsafat yang berusaha
mencari hakikat dan kebenaran pengetahuan.
 b. Metode, sebagai metode bertujuan untuk mengatur
manusia untuk memperoleh pengetahuan.
 c. Sistem, sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh
realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri.

3. METODE UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN

a. Empirisme,
b. Rasionalisme,
c. Fenomenalisme,
d. Intusionisme,
4. PROBLEM KEBENARAN DALAM INTUISI

Titus mencatat tiga persoalan pokok
epistemology :
a. Watak Pengetahuan ;
b. Sumber Pengetahuan ;
c. Kebenaran Pengetahuan.

5. JUSTIFIKASI EPISTEMOLOGI

 a. Evidensi
 b. Kepastian,
 c. Keraguan.
- - Aliran Skeptisisme-Doktriner
- - Aliran Skepetisisme-Metodik,
6. EPISTEMOLOG RASIONAL-KRITIS POPPER

 Epistemologi telah membentuk tata cara berfikir dan melahirkan ilmu
pengetahuan, sehingga epistemologi yang menjadi titik tolak maju mundurnya
ilmu pengetahuan.
 Filsuf Karl Raimund Popper mengemukakan solusi ilmu dengan epistemologi
yang dikenal dengan Konjektur dan falsifikasi yang mengkritisi budaya induksi
dan neo-positivisme.
 a. Induksi dan Verifikasi
Induksi dikembangkan oleh filsuf Francis Bacon (1561-1626) dan dikemas
ulang oleh Jhon Stuart Mill (1806-1873), teori apa saja akan dianggap benar
dengan cara penarikan kesimpulan berdasarkan metode induksi atau metode
proses generalisasi. Induksi dipahami sebagai metode pengetahuan yang bertitik
pangkal pada pemeriksaan (eksperimen) yang teliti dan telaten mengenai data-
data particular, selanjutnya rasio bergerak menuju suatu penafsiran atas alam

 Verifikasi telah memploklamirkan diri sebagai satu-satunya metode untuk menguji
ilmiah atau tidak suatu teori, artinya apabila suatu pernyataan atau dugaan dapat
diverifikasi, maka ia berarti bermakna dan sebaliknya. Prinsip verifikasi
menyatakan bahwa suatu proposisi akan bermakna jika ia dapat diuji dengan
pengalaman dan dapat diverifikasi dengan pengamatan atau observasi. Metode
verifikasi memudahkan manusia untuk memperoleh jawaban dan solusi terhadap
persoalan yang dihadapi dalam kehidupan manusia.
 Popper mengungkapkan kelemahan dalam metode induksi dan verifikasi
 1). Prinsip verifikasi tidak pernah mungkin digunakan untuk menyatakan kebenaran
hukum-hukum umum.
 2). Prinsip verifikasi menyatakan metafisika disebut tidak bermakna, padahal dala
sejarah dapat disaksikan bahwa acap kali ilmu pengetahuan lahir dari pandangan-
pandangan metafisis atau bahkan mistis tentang dunia.
 3). Untuk menyelidiki bermakna tidaknya suatu ungkapan atau teori, lebih dulu
harus bisa dimengerti, sebab bagaimana bisa dimengerti jika tidak bermakna.
 Verifikasi dianggap hanya menunjukan sisi baik sebuah teori saja, sehingga
mengkaburkan sisi negative atau kekurangan dan kesalahan yang dikandung teori
tersebut.

 b. Konjektur : Membangun Hipotesis untuk objektifitas
Konjektur secara bahasa berarti dugaan, pra-konsepsi atau asumsi. Popper
bernggapan bahwa konjektur harus ada sebelum sesorang melakukan analisa
terhadap suatu objek permasalahan.
Popper menyusun dua asas dalam teorinya yakni : (1). Asas penyelidikan
tidak boleh dimulai dengan usaha observasi yang tidak memihak tapi justru harus
focus terhadap satu persoalan. (2). Asas usaha untuk menemukan sebuah solusi
tidak boleh menghindari fakta yang ada dan harus berpegangan pada prinsip
penggabungan antara dugaan dan kritisme.
 c. Demarkasi antara True Science dan Pseudo Science.
Pemisahan antara kedua macam sains dikenal dengan istilah demarkasi atau
garis batas. Persoalan demarkasi merupakan titik tolak Popper untuk membangun
metodologi pengetahuannya. Popper memandang bahwa ungkapan yang tidak
bersifat ilmiah- tidak dapat dibuktikan dengan observasi dan eksperimen-
memiliki kemungkinan sangat bermakna. Popper lebih menyetujui metode
deduksi yang sejatinya merupakan metode dalam mendapatkan ilmu
pengetahuan.

7. PARADIGMA GERAKAN ZAMAN BARU CAPRA

 Capra menyoroti sains, khususnya sains modern bukan lagi sebagai suatu
permasalahan rasional, seperti paradigma yang dipegang selama ini oleh
dikalangan ilmuwan, tetapi lebih melihatnya sebagai suatu “jalur hati”.
Paradigma pengetahuan kita harus diubah, dari pengetahuan konseptual menuju
kepengetahuan eksperimental. Pengetahuan eksperimental ini melampaui
pengetahuan intelektual dan juga persepsi inderawi.
 a. Kesamaan pendekatan
Capra mengatakan bahwa wawasan intuitif tidak terpakai di dunia fisika, kecuali
ia bisa diformulasikan didalam kerangka kerja matematis, yang didukung dengan
suatu penafsiran dalam bahasa yang gamblang. Pada tingkat lanjut, Capra
memasukkan konsep Panteisme dari Mistinisme Timur sebagai paradigm sains, yaitu
memandang seluruh keberadaan sebagai tunggal, yang menyatu dan tidak perlu dan
tidak bisa diperbedakan lagi.

 b. Penerimaan Paradigma Capra
- Dukungan hipotesa Relativitas Einstein
 - Manusia sebagai pusat : Paradigma Capra memungkinkan manusia
memperkembangkan sains sambil mencapai tujuan humanism-nya, dimana manusia tidak
perlu mengakui Tuhan sebagai pencipta alam semesta ataupun pengatur pergerakan sejarah
manusia.
 Masyarakat modern menuduh keyakinan akan kemutlakkan yang menyebabkan timbulnya
peperangan. Sebaliknya, semngat relativitas dan pragmatis akan menolong manusia lebih
luwes dan bersahabat.
 - Kehidupan Materi: Sejak manusia meninggalkan Tuhan dan menuju Ateisme, maka
tanpa sadar manusia mengalami kekeringan rohani, namun manusia tidak rela kembali pada
Tuhan sehingga mereka lebih cenderung untuk mengadopsi Mistisisme Timur yang memberikan
kepuasan metafisika.
 - Rusaknya Definisi dan Metodologi Sains : Capra telah mencampur dunia fisika
dengan dunia metafisika, dan ia telah mencampur antara hasil pengujian empiris dengan
dugaan-dugaan metafisika (antara ilmiah sejati dengan ilmiah semu).
 - Rusaknya batasan Sains : Didalam paradigm sains-mistis Capra, batasan menjadi
kabur, Capra seolah berusaha menghapus sama sekali semua paradigm lama. Disini Capra
sendiri mengalami dualisme yang ia tidak akui. Pola sains yang dualistik dan kontradiktif
seperti ini akan merusak pola sains sendiri dan pada akhirnya akan merusak seluruh
perkembangan ilmiah dimasa yang akan datang.

8. PARADIGMA THOMAS KUHN
Kalangan ilmuan meyakini bahwa mereka menjunjung dan berbagi nilai-nilai
kebenaran yang sama ketika meneliti sesuatu, sebab itu hasilnya yang berupa
ilmu pengetahuan adalah sebuah kebenaran.
Thomas Kuhn mencecar dunia ilmiah dengan pandangannya yang tak lazim
yakni tentang bias dan subyektivisme yang pasti terjadi dalam proses
menghasilkan ilmu pengetahuan, ia menuntut pula sebuah paradigm shift-
perubahan paradigm yang nantinya akan berujung pada revolusi ilmu
pengetahuan. Dalam karya besarnya “ The Structure of Scientific Revolution”

Alasan Kuhn tentang alternatif yang bisa
dilakukan beserta argumentasinya antara lain :

 a. Ide tentang paradigma : Kuhn menekankan bahwa paradigm tidak dapat
disederhanakan menjadi sekelompok kepercayaan atau daftar peraturan saja.
Kuhn juga melawan pandangan umum bahwa masa Renaissance Eropa adalah
cikal bakal munculnya sebagai revolusi ilmu pengetahuan, Kuhn justru
menjumpai revolusi yang terjadi berkali-kali pada sejarah ilmu pengetahuan
yaitu kejadian dimana sebuah paradigma yang baru mengganti paradigma
ilmu pengetahuan sebelumnya.
 Kuhn mempunyai ide bahwa paradigma adalah pola yang akan diikuti oleh
pikiran ketika ia menjelaskan pandangan-pandangannya. Aspek kunci dari
paradigm adalah bagaimana menghadapi masalah dan bagaimana
menyelesaikannya.

 b. Kritik atas Abiguitas terma Paradigma
 - Ide tentang Revolusi Ilmu pengetahuan : Kuhn melawan konsepsi yang
lebih umum, bahwa ilmuan sesungguhnya adalah sosok pemikir yang tidak
objektif dan tidak independen. Bahkan mereka adalah individu konservatif
yang menerima apa yang telah mereka pelajari dan menggunakan apa yang
mereka ketahui untuk menyelesaikan suatu persoalan sesuai apa yang
dituntun oleh teori.
 Menurut Kuhn, paradigm sangat penting dalam penelitian ilmiah, karena
dasar kenyataan bahwa secara alamiah tidak ada sejarah yang dapat
diinterpreyasi tanpa kehadiran, setidaknya beberapa ikatan implicit yang
terjalin dari kepercayaan teoritis dan metodologis yang memungkinkan
seleksi, evaluasi, dan kritik.
 Argumen-argumen Kuhn dapat disimpulakan bahwa pola khas perkembangan
ilmu pengetahuan dewasa ini melalui transisi yang berurutan dari satu
paradigm ke paradigma lain secara revolusioner.
 - Kritik atas ide tentang revolusi ilmu pengetahuan : Steven Toulmin
berpendapat bahwa perubahan pada ilmu pengetahuan secara praktis dan
realistis adalah revisi secara bertahap dan berkali-kali, buka seperti yang
dicontohkan di karya Kuhn berupa revolusi yang dramatis dan radikal.

 Ide tentang Incommensurability : Kuhn memberikan argument bagaimana
sangat dimungkinkan seorang ilmuwan melihat dunia dengan pandangan yang
begitu berbeda setelah mengganti paradigma. Sesungguhnya para ilmuan
bekerja pada paradigma yang berbeda dan mengumpulkan data yang berbeda
serta bekerja di ranah yang berbeda. Tanpa paradigm maka tidak ada ilmu
pengetahuan sama sekali, yang ada hanyalah kebingungan.
 - Kritik tentang Incommensurability : Pada awal 70-an C.R. Kordig
mengkritik Kuhn menyatakan bahwa tesis Kuhn tentang Incommensurability
sangat radikal hingga hal ini tidak mungkin untuk menjelaskan konfrontasi
atas teori-teori ilmiah yang seringkali muncul.

c. Kritik-kritik lain atas The Structure
 - Simposium mengenai The Structure
 - The Structure sangat Eropasentris : sebagai sebuah karya keilmuan sangat
kental dengan nuansa Eropasentris walaupun disisi tertentu membuka pintu
untuk peran multicultural dalam studi sejarah keilmuan.

 d. Dukungan atas ide-ide Kuhn
 - Massimiano Bucchi : Munculnya paradigm menjadi sinyal bahwa sektor
penelitian yang bersifat konsolidatif perlu menjadi sebuah disiplin ilmiah.
 - Peter Dear : Sejarah ilmu selalu menghindari prasangka.
 - Alexader Bird : pikiran Kuhn merupakan teori asli. Pemikiran Kuhn yang
revolusioner sangat mempengaruhi perkembangan filsafat ilmu dimasa-masa
setelahnya. Dengan dampak (1). Perubahan pada diri ilmu sosial-persepsi. (2).
Saran peran baru untuk ilmu-ilmu sosial.



EPISTEMOLOGI ADMINISTRASI
 Ilmu administrasi merupakan hasil pemikiran dan
penalaran manusia yang disusun berdasarkan dengan
rasionalitas dan sistematika yang mengunkapkan kejelasan
tentang objek formal, yaitu pemikiran untuk menciptakan
suatu keteraturan dari berbagai aksi dan reaksi yang
dilakoni oleh manusia dan objek material, yaitu manusia
yang melakukan aktivitas administrasi dalam bentuk kerja
sama menuju terwujudnya tujuan tertentu.

 1. Kajian Epistemologi Administrasi
Epistemologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempelajari dan
menetapkan kodrat suatu jenis ilmu pengetahuan serta dasar pembentukannya.
Di samping itu, menjelaskan pertanggungjawaban atas pertanyaan-pertanyaan
yang muncul akibat ilmu pengetahuan itu sendiri. Sasaran utama materi/content
epistemologi sebenarnya dapat dikatakan berorientasi pada pertanyaan
bagaimana sesuatu itu datang, bagaimana untuk mengetahuinya, dan bagaimana
membedakan antara satu dengan yang lainnya.
 1.1 Objektivisme Administrasi
Berpikir opriori dalam ilmu administrasi merupakan salah satu kajian dari
konsep objektivisme, dengan bermuara kepada rasionalisme yang dalam
perkembangannya mengalami tiga tahapan proses berpikir manusia dalam bidang
ilmu administrasi.
 Pertama, kesadaran objek administrasi itu sendiri.
 Kedua, kesadaran bahwa adanya perbedaan penalaran terhadap objek
administrasi.
 Ketiga, penahanan terhadap hubungan yang terjadi antar berbagai entitas,
baik perbedaan maupun persamaannya.

 C. Subjektivisme Administrasi
Cara memandang kebenaran yang dikandung dalam nilai-nilai administrasi
senantiasa dilihat secara subjektif, apabila tidak meresapi dan mendalami
administrasi itu sesungguhnya
 D. Skeptisisme Administrasi
Administrasi adalah suatu proses pemikiran yang rasional dengan
andalan utamanya diletakkan pada pembenaran empiris. Ilmu administrasi
otomatis menjadi salah satu kajian dari filsafat ilmu yang menspesialisasikan
diri kepada:
(1) pemikiran bersifat spekulatif yang dijadikan dasar dalam menyusun sistematika
pemikiran dan tindakan administrasi,
(2) melukiskan hakikat realita secara lengkap terhadap kondisi objektif administrasi,
(3) menentukan batas-batas jangkauan dan keabsahan proses pemikiran dan aktivitas
bidang administrasi,
(4) melakukan penyelidikan tentang kondisi krisis akibat dari pengandaian atau
pernyataan yang diajukan oleh berbagai pemikir ilmu lainnya,
(5) administrasi merupakan salah satu bidang disiplin ilmu yang dapat membantu
melihat apa yang dapat dikatakan dan mengatakan apa yang dapat dilihat.
Skeptisisme adalah suatu kondisi atau perasaan yang dialami oleh seseorang
akibat tidak terpenuhinya sesuai yang diinginkan.