You are on page 1of 14

2.

2 Nutrisi dan Elektrolit
2.2.1 Nutrisi
Vitamin
Vitamin dibagi menjadi 2 golongan: larut lemak : vit A, D, E dan K dan
larut air : vit B kompleks dan vit C. Pemberian vitamin hanya dibutuhkan
bila: pasokan vitamin yang tidak mencukupi, peningkatan kebutuhan vitamin
(misalnya selama hamil dan menyusui), dan kurangnya absorbsi vitamin.
Tiamin (vitamin B1)
Defisiensi :
Penyakit beri-beri yang gejalanya terutama tampak pada sistem saraf dan
kardiovaskuler. Pada sistem saraf : neuritis, pada kardiovaskuler : insufisiensi
jantung, pada saluran cerna : konstipasi dan nafsu makan berkurang.
Kebutuhan sehari :
Kebutuhan minimum 0,3 mg/1000 kcal, sedangkan AKG di Indonesia 0,3-0,4
mg/hariuntuk bayi; 1,0 mg/hari untuk orang dewasa dan 1,2 mg/hari untuk
wanita hamil.
Farmakokinetik :
Pemberian parenteral, absorbsinya cepat dan sempurna. Absorbsi per oral
maksimum 8-15 mg/hr dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg.
Dalam satu hari sebanyak 1 mg tiamin mengalami degradasi di jaringan
tubuh.
Efek samping :
Meskipun jarang, reaksi anafilaktoid terjadi setelah pemberian IV dosis besar.
Sediaan :
Tiamin HCl (vit B1, aneurin HCl) tersedia dalam bentuk tablet 5-500 mg,
larutan steril100-200 mg (parenteral) dan eliksir 2-25 mg/ml. Dosis 2-5
mg/hari (pencegahan) dan 5-10 mg tiga kali sehari (pengobatan).
Indikasi :
Neuritis alkoholik, wanita hamil yang kurang gizi, dan penderita emesis
gravidarum.
Riboflavin (vitamin B2) :
Defisiensi :
Gejala sakit tenggorokan dan radang di sudut mulut (stomatitis angularis),
keilosis, glositis, lidah berwarna merah dan licin.
Kebutuhan sehari :
Minimum 0,3 mg/1000 kcal.
Farmakokinetik :
Pemberian secara oral atau parenteral akan diabsorbsi dengan baik dan
distribusi merata di seluruh jaringan.
Indikasi :
Untuk pencegahan dan terapi defisiensi vitamin B2 yang sering menyertai
pellagra atau defisiensi vitamin B-kompleks lainnya, sehingga riboflavin
diberikan bersama vitamin lainnya. Dosis untuk pengobatan adalah 5-10
mg/hari.
Asam Nikotinat (Niasin)
Defisiensi :
Terjadi pellagra (kelainan pada kulit, saluran cerna, dan SSP).
Kebutuhan sehari :
Kebutuhan minimal asam nikotinat untuk mencegah pellagra rata-rata 4,4
mg/1000 kcal, pada dewasa asupan minimal 13 mg.
Farmakokinetik :
Niasin dan niasinamid mudah diabsorbsi. Ekskresinya melalui urin, sebagian
kecil dalam bentuk utuh dan sebagian lainnya dalam bentuk berbagai
metabolitnya.
Sediaan dan posologi :
Tablet niasin mengandung 25-750 mg. Sediaan untuk injeksi mengandung 50
atau 100 mg niasin/ml. Tablet niasinamid 50-1000 mg, dan larutan untuk
injeksi mengandung 100 mg/ml. Untuk pengobatan pellagra pada keadaan
akut dianjurkan dosis oral 50 mg diberikan sampai 10 kali sehari, atau 25 mg
niasin 2-3 kali sehari secara intravena.
Piridoksin (vitamin B6)
Defisiensi :
Kelainan kulit berupa dermatitis seboroik dan peradangan pada selaput lendir,
mulut dan lidah. Kelainan SSP berupa perangsangan sampai timbulnya
kejang. Gangguan sistem eritropoietik berupa anemia hipokrom mikrositik.
Kebutuhan sehari :
Kira-kira 2 mg/100 mg protein.
Farmakokinetik :
Piridoksin, piridoksal dan piridoksamin mudah diabsorbsi melalui saluran
cerna. Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksat dan
piridoksal.
Efek samping :
Dapat menyebabkan neuropati sensorik atau sindrom neuropati dalam dosis
antara 50 mg-2 g per hari untuk jangka panjang.
Sediaan dan indikasi :
Tablet piridoksin HCl 10-100 mg dan sebagai larutan steril 100 mg/ml
piridoksin HCl untuk injeksi. Untuk mencegah dan mengobati defisiensi
vitamin B6 diberikan bersama vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin
untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B-kompleks. Indikasi
lain untuk mencegah atau mengobati neuritis perifer oleh obat, misalnya
setelah pemberian obat isoniazid.
Asam Pantotenat
Kebutuhan sehari :
Kebutuhan sehari 5-10 mg.
Farmakokinetik :
Pada pemberian oral, absorbsinya baik dan distribusinya ke seluruh tubuh
dengan kadar 2-45 mcg/g. Ekskresi dalam bentuk utuh 70% melalui urin dan
30% melalui tinja.
Sediaan :
Dalam bentuk Ca-pantotenat 10 atau 30 mg dan dalam bentuk larutan steril
untuk injeksi dengan kadar 50 mg/ml.



Biotin
Gejala defisiensi biotin: dermatitis, sakit otot, rasa lemah, anoreksia, anemia
ringan. Berfungsi sebagai koenzim pada berbagai reaksi karboksilasi. Jumlah
biotin yang diperlukan sehari berkisar antara 150-300 μg.
Kolin
Fungsinya :
Sebagai prekursor asetilkolin. Dalam metabolisme lemak, kolin berkhasiat
lipotropik (dapat menurunkan kadar lemak dalam hati) dalam pengobatan
penyakit hati seperti sirosis hepatis, hepatitis. Dalam metabolisme
intermedier, sebagai donor metil dalam pembentukan berbagai asam amino
esensial.
Kebutuhan :
Kebutuhan tubuh sehari-hari belum dapat ditentukan, tetapi dalam makanan
sehari-hari rata-rata terdapat 500-900 mg. Penggunaan per oral cukup aman
dengan LD50 200-400 g
Inositol
Penderita diabetes mengekskresi inositol dalam urine dengan kadar tinggi.
Inositol merupakan isomer glukosa dan dalam badan mudah berubah menjadi
inositol.
Gejala defisiensi inositol pada hewan coba adalah gangguan pertumbuhan,
alopesia dan gangguan laktasi.
Vitamin C (Asam Askorbat)
Defisiensi :
Defisiensi dicegah dengan pemberian sayur-mayur atau buah-buahan segar.
Bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan
reduktor dan antioksidan. Gejala awal malaise, mudah tersinggung, gangguan
emosi, artralgia, hiperkeratosis folikel rambut, perdarahan hidung dan
petekie. Skorbut terlihat bila kadar vitamin C pada leukosit dan trombosit < 2
mg/dl dan terjadi setelah mendapat diet tanpa vitamin C selama 3-5 bulan.
Orang tua, alkoholisme, penderita penyakit menahun sangat peka terhadap
timbulnya skorbut.

Farmakokinetik :
Mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Ekskresi melalui urine dalam bentuk
utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati
ambang rangsang ginjal 1,4 mg%.
Kebutuhan sehari :
AKG vitamin C ialah 35 mg untuk bayi dan meningkat sampai kira-kira 60
mg pada dewasa. Kebutuhan akan vitamin C meningkat 300-500% pada
penyakit infeksi, tuberkulosis, tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca bedah
atau trauma, pada hipertiroid, kehamilan dan laktasi. Pada masa hamil dan
laktasi diperlukan tambahan vitamin C 10-25 mg/hari.
Efek samping :
Dosis lebih dari 1 g/hari dapat menyebabkan diare dan dapat meningkatkan
bahaya terbentuknya batu ginjal, karena sebagian vit C dimetabolisme dan
diekskresi sebagai oksalat.
Sediaan dan indikasi :
Dalam bentuk tablet & larutan mengandung 50-1500 mg. Untuk sediaan
suntik mengandung vitamin C 100-500 mg. Vitamin C diindikasikan untuk
pencegahan dan pengobatan skorbut.
Vitamin A
Sumber :
Berasal dari karoten (provitamin A) terdapat pada mentega, telur, hati dan
daging terdapat dalam beberapa bentuk, misalnya retinol (vitamin A1) dan 3-
dehidroretinol (vitamin A2). Asam retinoat (tretinoin, isotretinoin) merupakan
hasil oksidasi group alkohol dari retinol.
Farmakodinamik :
Untuk regenerasi pigmen retina mata dalam proses adaptasi gelap. Retinol
(vitamin A1) memegang peranan penting pada kesempurnaan fungsi dan
struktur sel epitel, karena retinol berperan dalam diferensiasi sel dan
proliferasi epitel.Vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat
reproduksi dan perkembangan embrio.


Defisiensi :
Terjadi bila :
Kesanggupan tubuh untuk menyimpan vitamin A terganggu (sirosis hati),
terdapat defisiensi protein (transport), absorpsi di usus terganggu asupan
vitamin A yang kurang. Gejala yang paling dini berupa buta senja. Defisiensi
lebih berat menyebabkan gangguan pada mata yang berupa xeroftalmia,
timbulnya bercak Bitot, keratomalasia, dan akhirnya kebutaan.
Hipervitaminosis A
Terjadi akibat penggunaan vitamin A lebih dari 700-3000 IU/kg/hari untuk
beberapa bulan sampai beberapa tahun. Kerusakan hati pada anak dapat
timbul karena penggunaan vitamin A dengandosis yang sesuai AKG untuk
orang dewasa selama beberapa tahun dan dengan dosis 5 kali AKG selama 7-
10 tahun pada orang dewasa.
Kebutuhan manusia :
Wanita 500 RE dan pria 600 RE. Dosis karoten yang diperlukan kurang lebih
2 kali dosis vitamin A.
Farmakokinetik :
Diabsorpsi sempurna melalui saluran cerna dan kadar puncak dalam plasma
setelah 4 jam. Absorpsi berkurang bila diet kurang mengandung protein, atau
pada penyakit infeksi tertentu, dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis
hati atau obstruksi biliaris. Disimpan di dalam hati sebagai palmitat, dalam
jumlah kecil ditemukan juga di ginjal, adrenal, paru, lemak intraperitoneal
dan retina.
Indikasi :
untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin A. Tetapi retinol
sejumlah 20.000 IU/hari selama 1 atau 2 bulan pada bayi atau anak sehat
dengan makanan yang baik dapat menimbulkan gejala keracunan. Gejala
defisiensi vitamin A pada anak diberikan secara suntikan sebanyak 100.000
unit untuk satu kali pemberian dan dilanjutkan dengan pemberian oral.
Tambahan suntikan 20.000 unit tiap minggu dapat dianjurkan. Pemberian
vitamin E bersama dengan vitamin A dapat meningkatkan efektivitas vitamin
A dan mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya hipervitaminosis
A. Vitamin A juga digunakan untuk pengobatan penyakit kulit tertentu seperti
akne, psoriasis, dan iktiosis.
Posologi :
Tersedia secara oral, suntikan dan topikal. Vitamin A kapsul mengandung 3-
15 mg retinol (10.000-50.000 IU) per kapsul. Pada defisiensi berat, dosis
pemberian IM pada orang dewasa dan anak berusia lebih dari 8 tahun :
50.000-100.000 IU/hari selama 3 hari diikuti dengan 50.000 IU/hari untuk 2
minggu. Pada anak 1-8 tahun diberikan dosis 5.000-15.000 IU/hari untuk 10
hari dan bayi 5.000-10.000 IU/hari untuk 10 hari. Dosis oral pada orang
dewasa dan anak lebih dari 8 tahun ialah 100.000 IU/hari selama 3 hari
diikuti dengan 50.000 IU/hari selama 2 minggu, dilanjutkan dengan 10.000-
20.000 IU/hari untuk 2 bulan.
Vitamin D
Berguna untuk mencegah dan mengobati rakitis (dicegah ataupun diobati
dengan minyak ikan atau dengan sinar matahari yang cukup).
Farmakodinamik :
Pengatur homeostatik kalsium plasma. Meningkatkan absorpsi kalsium dan
fosfat melalui usus halus. Pengaturan kadar kalsium plasma dipengaruhi juga
oleh hormon paratiroid (HPT) dan kalsitonin.
Defisiensi :
Terjadi penurunan kadar kalsium plasma, selanjutnya merangsang sekresi
HPT yang berakibat meningkatnya reabsorpsi tulang. Pada bayi dan anak
mengakibatkan gangguan pertumbuhan tulang (penyakit rakitis).
Berkurangnya kalsifikasi menyebabkan deformitas tulang seperti kifosis,
skoliosis, tulang tasbeh pada dada, kraniotabes pada anak usia dibawah 1
tahun dan genu varus atau genu valgus pada anak yang sudah dapat berjalan.
Hipervitaminosis D :
Gejalanya berupa hiperkalsemia, kalsifikasi ektopik pada jaringan lunak
(ginjal, pembuluh darah, jantung dan paru), anoreksia, mual, diare, sakit
kepala, hipertensi dan hiperkolesterolemia.Kebutuhan sehari 400 unit/hari.


Farmakokinetik :
Absorpsi melalui saluran cerna cukup baik. Vitamin D3 diabsorpsi lebih cepat
dan sempurna. Gangguan fungsi hati, kandung empedu dan saluran cerna
seperti steatore akan mengganggu absorpsi vitamin D. Disimpan dalam
bentuk inert di dalam tubuh, untuk menjadi bentuk aktif harus dimetabolisme
lebih dahulu melalui serangkaian proses hidroksilasi di ginjal dan hati.
Ekskresi melalui empedu dan dalam jumlah kecil ditemukan dalam urine.
Sediaan dan indikasi :
Tersedia dalam beberapa macam bentuk sediaan. Selain untuk pencegahan
dan pengobatan rakitis, vitamin D antara lain digunakan untuk osteomalasia,
hipoparatiroidisme dan tetani infantil, dan untuk keadaan lain dengan alasan
penggunaan yang belum atau tidak diketahui misalnya pada psoriasis, artritis,
dan hay fever. Pada rakitis, dosis 1.000 unit/hari akan mengembalikan kadar
kalsium dan fosfat plasma menjadi normal setelah ±10 hari, sedangkan hasil
pemeriksaan radiologik akan menunjukkan penyembuhan dalam waktu 3
minggu. Hipoparatiroidisme diperlukan 50.000-250.000 unit (dosis
penunjang). Tambahan vitamin D diperlukan pada masa hamil, laktasi dan
pada orang tua agar asupan vitamin D per hari 400 IU. Pada bayi prematur
atau bayi yang mendapat ASI dalam jumlah yang tidak cukup diperlukan
dosis pencegahan 400 IU/hari. Bayi yang kemungkinan besar mengalami
rakitis (sindrom malabsorpsi, lahir dari ibu yang mengalami defisiensi
vitamin D) memerlukan sampai 30.000 IU/hari.
Vitamin E
Terdapat pada telur, susu, daging, buah-buahan, kacang-kacangan dan sayur-
sayuran, misalnya selada dan bayam.
Farmakodinamik :
Sebagai antioksidan, mencegah oksidasi bagian sel yang penting atau
mencegah terbentuknya hasil oksidasi yang toksik (hasil peroksidasi asam
lemak tidak jenuh). Defisiensi biasanya lebih sering disebabkan oleh
gangguan absorpsi, misalnya steatore, obstruksi biliaris dan penyakit
pankreas. Bayi prematur dengan makanan yang kaya asam lemak tidak jenuh
ganda dan kurang vitamin E akan mengalami lesi kulit, anemia hemolitik dan
udem.
Kebutuhan sehari :
Asupan 10-30 mg cukup untuk mempertahankan kadar normal di dalam
darah.
Farmakokinetik :
Diabsorpsi baik melalui saluran cerna. Dalam darah terutama terikat dengan
beta-lipoprotein dan didistribusi ke semua jaringan. Kebanyakan diekskresi
secara lambat ke dalam empedu, sedangkan sisanya diekskresi melalui urine
sebagai glukuronida dari asam tokoferonat atau metabolit lain.
Sediaan dan indikasi :
Terdapat dalam bentuk d atau campuran d dan I isomer dari tokoferol, α-
tokoferol asetat, α-tokoferol suksinat. Sediaan oral (tablet dan kapsul)
mengandung 30-1.000 IU. Suntikan (larutan) mengandung 100 atau 200
IU/ml. Indikasi pada keadaan defisiensi yang dapat terlihat dari kadar serum
yang rendah dan atau peningkatan fragilitas eritrosit terhadap
hidrogenperoksida (pada bayi prematur dengan berat badan yang rendah,
pada penderita-penderita dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan
penyakit dengan gangguan absorpsi lemak).
Vitamin K
Vitamin K alam :
1. Vitamin K1 (filokuinon=fitonadion). Digunakan untuk pengobatan.
Terdapat pada kloroplas sayuran berwarna hijau dan buah-buahan.
2. Vitamin K2 (senyawa menakuinon). Disintesis oleh bakteri usus terutama
oleh bakteri gram-positif. Vitamin K sintesis. Vitamin K2.
Farmakodinamik :
Berguna untuk meningkatkan biosintesis beberapa faktor pembekuan darah
yaitu protrombin, faktor VII (prokonvertin), farktor IX (faktor Christmas)
dan faktor X (faktor Stuart) yang berlangsung di hati.
Kebutuhan manusia :
Sintesis vitamin K oleh bakteri usus sekitar 50% dari kebutuhan vitamin K
per hari.
Defisiensi :
Menyebabkan hipoprotrombinemia dan menurunnya kadar beberapa faktor
pembekuan darah. Defisiensi vitamin K terjadi karena:
1. Gangguan absorbsi vitamin K
2. Berkurangnya bakteri yang mensintesis
3. Pemakaian antikoagulan
Farmakokinetik :
Absorpsi melalui usus sangat tergantung dari kelarutannya. Absorpsi
filokuinon dan menakuinon berlangsung baikbila ada garam-garam empedu,
sedangkan menadion dan derivatnya yang larut air dapat diabsorpsi
walaupun tidak ada empedu.
Sediaan dan indikasi :
Tablet fitonadion 5 mg. Emulsi fitonadion mengandung 2 atau 10
mg/ml(parenteral). Tablet menadion 2,5 dan 10 mg. Larutan menadion
dalam minyak yang mengandung 2, 10, dan 25 mg/ml (IM). Tablet
menadion natrium bisulfit 5 mg. Larutan menadion natrium bisulfit
mengandung 5 dan 10 mg/ml (parenteral). Tablet menadiol natrium difosfat
5 mg. Larutan menadiol natrium difosfat yang mengandung 5 dan 10 mg/ml
(parenteral). Berguna untuk mencegah atau mengatasi perdarahan akibat
defisiensi vitamin K. Pada bayi baru lahir hiprotrombinemia terjadi karena
belum adanya bakteri yang mensintesis vitamin K dan tidak adanya depot
vitamin K. Filokuinon merupakan obat terpilih untuk tindakan pencegahan
tersebut dan diberikan sejumlah 0,5-1 mg IM atau IV segera setelah bayi
dilahirkan. Dilakukan juga pada bayi prematur atau bayi aterm yang
dilahirkan dengan bantuan forseps atau ekstraksi vakum, dan diberikan
dengan dosis 2,5 mg untuk 3 hari berturut-turut. Untuk pengobatan
perdarahan pada bayi dapat diberikan 1 mg IM atau IV dan bila perlu dapat
diulangi setelah 8 jam.




2.2.2 Elektrolit
Elektrolit ialah molekul yang pecah menjadi partikel bermuatan listrik
yang terdiri dari kation dan anion.Kadar (konsentrasi) setiap elektrolit dalam
larutan dari garam terlarut dapat diukur dan biasanya dihitung dalam satuan
miliekuivalen dalam setiap volume larutan (mEq/L).
Elektrolit bermanfaat untuk :
Mengionkan konduktor dari arus listrik yg diperlukan oleh tubuh (sistem
saraf ) bekerja secara sinergistik dengan zat-zat bergizi lain (sbg penggerak
& katalisator) untmenjaga proses pencernaan dan proses asimilasi lainnya.
Membangun kelompok enzim,hormon,dan bahan-bahan kimiawi tubuh
lainnya. Menjaga keseimbangan cairan tubuh , tekanan cairan tubuh dan pH.
Elektrolit terlarut dalam tiga bagian utama dari cairan tubuh :
 Cairan dalam sel
 Cairan dalam ruang di sekeliling sel
 Darah (elektrolit terlarut dalam serum, yang merupakan bagian cair dari
darah).
Elektrolit utama dalam darah :
Ion positif (kation)
 Natrium
 Kalium
 Kalsium
 Magnesium
Ion negatif (Anion)
 Klorida
 Fosfat
 Bikarbonat

Kalsium
Untuk absorpsi diperlukan vitamin D. Kebutuhan kalsium meningkat pada
masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada wanita pascamenopause. Bayi
yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan kalsium. Pemeliharaan
konsentrasi kalsium yang normal dalam darah tergantung kepada :
 Asupan lewat mulut sedikitnya 500-1.000 mgr/hari
 Penyerapan dalam jumlah yang memadai dari saluran pencernaan
 Pengeluaran kelebihan kalsium dalam air kemih.

Pemindahan kalsium dari tulang dalam jumlah yang terlalu banyak, pada
akhirnya dapat menyebabkan tulang menjadi lemah dan terjadi
osteoporosis. Gejala hiperkalsemia :
1. Awal : lemas, sakit kepala, mengantuk, mual, muntah, mulut kering,
konstipasi, nyeri otot, sakit tulang dan metalic taste.
2. Lanjut : poliuria, polidipsi, anorexia, penurunan berat badan, nokturia,
konjuntivitis (klasifikasi), pankreatitis, fotofobia, rinore, pruritus,
hipertermia, libido berkurang, kenaikan BUN, albuminuria,
hiperkolesterolemia, kenaikan SGOT dan SGPT, kalsifikasi ektopik,
nefrokalsinosis, hipertensi, aritmia jantung.
3. Hipokalsemia : otot tidak dapat rileks setelah kontraksi, sehingga tubuh
memperlihatkan gejala kejang-kejang (titani) dan kematian.
Fosfor
Terdapat pada semua jaringan tubuh dan di dalam tulang dan gigi dalam
jumlah yang hampir sama dengan kalsium. Fosfor penting sebagai buffer
cairan tubuh. Perbandingan kandungan kalsium dan fosfor dalam makanan
dianjurkan 1 : 1.
Magnesium
Magnesium mengaktivasi banyak sistem enzim (misalnya alkali fosfatase,
leusin aminopeptidase) dan merupakan kofaktor yang penting pada
fosforilasi oksidatif, pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan
kepekaan saraf. Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan saraf dan
transmisi neuromuskuler. Pada keadaan defisiensi berat mengakibatkan
tetani dan konvulsi.
Kalium
Perbedaan kadar kalium (kation utama dalam cairan intrasel) dan natrium
(kation utama dalam cairan ekstrasel) mengatur kepekaan sel, konduksi
impuls saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh. Hipokalemia
dapat terjadi pada anak-anak yang makanannya tidak mengandung protein.
Penyebab hipokalemia yang paling sering adalah terapi diuretik terutama
tiazid. Penyebab hipokalemia lain adalah diare yang berkepanjangan
terutama pada anak, hiperaldosteronisme, terapi cairan parenteral yang
tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid atau laksan
jangka lama. Hiperkalemia disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh
ginjal yang dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi korteks adrenal,
gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal, suplementasi vitamin K
yang tidak sesuai dosis atau indikasinya, atau penggunaan antagonis
aldosteron.
Gejala hipokalemia: lemah otot, aritmia, ileus paralitik. Gejala
hiperkalemia umumnya tidak jelas, tetapi pasien biasanya akan mengeluh
palpitasi jantung atau jantung berdebar-debar. Konsentrasi kalium yang
terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan masalah yang serius,
seperti irama jantung yang abnormal atau henti jantung. Sumber kalium:
Tambahan kalium, garam potasium, pisang, tomat , jeruk, melon, kentang,
kacang-kacangan, bayam dan sayuran berdaun hijau lainnya.
Natrium
Natrium penting untuk membantu mempertahankan volume dan
keseimbangan cairan tubuh. Kadarnya dalam cairan tubuh diatur oleh
mekanisme homeostatik. Pembatasan natrium seringkali dianjurkan pada
pasien gagal jantung kongestif, sirosis hati dan hipertensi. Kehilangan
natrium tubuh tdk menyebabkan hiponatremia tetapi volume darah
menurun. Jika volume darah menurun, tekanan darah akan turun, denyut
jantung akan meningkat, pusing dan kadang-kadang terjadi syok.
Sebaliknya, volume darah dapat meningkat jika terlalu banyak natrium
(hipernatremia). Cairan yang berlebihan akan terkumpul dalam ruang di
sekeliling sel dan menyebabkan edema. Salah satu tandanya yaitu
pembengkakan kaki, pergelangan kaki dan tungkai bawah. Tubuh secara
teratur akan mengontrol kadar natrium dalam darah dengan bantuan
kelenjar :
1. Adrenal mengeluarkan hormon aldosteron sehingga ginjal menahan
natrium.
2. Hipofisa mengeluarkan hormon antidiuretik sehingga ginjal menahan
air.

Klorida
Klorida merupakan anion yang paling penting dalam mempertahankan
keseimbangan elektrolit. Alkalosis metabolik hipokloremik dapat terjadi
setelah muntah yang lama atau penggunaan diuretik berlebihan. Kehilangan
klorida berlebihan dapat menyertai kehilangan berlebihan natrium.
Kalium Klorida dan Intravena
Kalium klorida digunakan pada pasien yang mengalami hipokalemia yang
berhubungan dengan hipokloriaemik alkalosis. Diberikan melalui oral
dengan menggunakan larutan encer, tablet salut enterik atau tablet lepas
lambat. Pada pasien yang kekurangan kalium akut, larutan dari kalium
klorida dapat diberikan secara intravena. Pemberiannya secara perlahan dan
dibawah kontrol ECG. Bila kalium klorida pekat dicampurkan dengan
cairan infus maka harus hati-hati dalam mencampurkannya. Efek
sampingnya luka pada saluran cerna, haemorrhage serta dilaporkan terjadi
hiperkalaemia pada 179 dari 4921 pasien yang diberi tambahan kalium
klorida.
Implikasi Keperawatan
Pada pasien yang mengalami kelebihan atau kekurangan nutrisi dan
elektrolit diharapkan membantu pasien mengatasi masalahnya dengan
membantu mengawasi pemasukan dan pengeluaran nutrisi dan elektrolit
yang diberikan serta mengawasi infus intravena yang diberikan, serta
membantu pasien dalam mengatasi efek samping yang mungkin timbul.